alexa-tracking

Claudya.

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54c00c6c902cfe3a2e8b4568/claudya
Claudya.
haloo.. kali ini ane mau nulis cerita baru, dan dengan gaya tulisan yang baruemoticon-Big Grin setelah sebelumnya dengan cerita DIALOGUE (DIA, LO, GUE) yang nggak kelar, karena ada sesuatu, bukan bermasalah sama tokohnya tapi karena ane udah agak lupa cerita dan kisahnya, makanya nggak ane terusinemoticon-Ngakak (S) insyaAllah, kali ane tulis sampe kelar sambil ngisi liburan kuliah dan belajar nulis. Heheemoticon-Big Grin

PROLOG:

Spoiler for :


INDEX

Spoiler for :

Momen di Sekolah (Part 1)

Banyak orang bilang masa sma adalah masa-masa paling indah, tapi bagiku masa sma adalah masa yang sangat membosankan. Dimana anak-anak seusiaku sedang senang-senangnya nongkrong dengan teman-teman seangkatan atau kakak kelas, aku nongkrong hanya dengan orang-orang tertentu dan hanya teman-teman sekelasku, karena bagiku hanya teman sekelas yang paling asik untuk di ajak nongkrong. Aku pribadi adalah seorang introvert, aku termasuk orang yang susah bersosialisasi dengan orang baru karena kupikir mereka adalah orang-orang munafik yang ada ketika kita senang lalu pergi ketika kita sedang membutuhkan. Apakah itu pantas disebut “teman”? bagiku tidak. Orang seperti itu hanyalah seorang penjilat sejati, ia tak tahu kemana ia ingin berlabu, yang ia pikirkan hanyalah kesenangan.



Pagi itu..aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor kesayangan yang diturunkan dari ayahku. Motor ini adalah motor yang dibeli ayahku dari temannya saat aku masih duduk di bangku kelas 2 smp, saat itu aku belum boleh membawa motor dan memang waktu itu motor hanya satu, yaitu motor yang dibeli dari teman ayahku. Kupacu motor Nouvo kesayanganku yang selama ini selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Waktu menunjukkan pukul 06.15, dan jalanan begitu padat aku harus cepat sampai ke sekolah karena disekolahku masuk pukul 06.30. antara kesal karena macetnya Jakarta dan para pengendara bodoh yang melanggar lalu lintas saat lampu mau merah mereka masih memaksa untuk melewati lampu lalu lintas dan dikejar waktu karena aku harus cepat sampai ke sekolah.

“kevinn.. kevinn.. kamu kenapa telat?” tanya seorang guru ekonomi sambil menggelengkan kepalanya berdiri di depan gerbang sekolah yang kebetulan memang sudah sangat akrab denganku.

“rumah saya kan jauh bu, ditambah lagi macetnya bukan main.” Jawabku.

Memang jarak rumahku dengan sekolah lumayan jauh, kalau pagi bisa menghabiskan waktu sekitar satu jam kalau naik motor itu pun karena macet. Kalau tidak, hanya membutuhkan waktu setengah jam.

“makanya, berangkat agak pagian biar nggak telat!”

“saya berangkat udah dari jam setengah enam bu, tapi yaa emang dasarnya aja…” jawabku memelas.

“yaa..dasarnya aja kamu, emang sengaja dilama-lamain jalannya!” belum sempat aku meneruskan pembicaraan, sudah dipotong duluan.

“yaudah, sekarang kamu masuk sana cepet!” ucap guru ekonomi.

“oke dehh.. gitu dong bu! Hehe” ledekku.

Pagi ini benar-benar membosankan, karena mata pelajaran pertama adalah matematika. Bagi sebagian orang, mata pelajaran pertama matematika adalah mimpi buruk. Aku bukannya tidak suka dengan pelajaran matematika, tapi karena gurunya menjelaskan rumus selalu membuat bingung muridnya. Hampir 80 persen murid di kelasku sering tidak mengerti apa yang ia jelaskan, maka tidak jarang guru matematika mengulang materi yang diajarkan bisa sampai tiga atau empat kali hanya untuk satu materi.

“selamat pagi anak-anak” ucap seorang guru matematika.

“pagi bu..” jawab anak-anak.

“hari ini kita ulangan, kalian ibu kasih waktu belajar dulu satu jam pelajaran setelah itu baru kalian ulangan.”

“yaelah bu.. kenapa mendadak sih, nggak bilang dari minggu sebelumnya.” Ucap seorang temanku yang memang suka membalikkan ucapan guru.

“yaa kan itu ibu kasih waktu sejam dulu buat kalian belajar, setelah itu baru kalian ulangan.” Ucap guru yang masih tetap ingin hari ini ulangan.

“yahh..” ucap anak-anak.

Dengan sangat terpaksa akhirnya kita semua menuruti apa kata guru matematika, kita semua membuka buku paket dan LKS matematika untuk mengingat pelajaran apa yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tapi apa yang diharapkan oleh guru matematika benar-benar beda dengan kenyataan, guru matematika ingin kita belajar sedangkan anak-anak kelasku hanya awalnya saja membaca seterusnya malah bercanda dan mengobrol di kelas, sampai-sampai terdengar sampai ruang guru, yang kebetulan memang kelasku bersebelahan dengan ruang guru.


“sstttt!! Braakk.. Brakk.. brakk..” ucap guruku sambil menggebrak meja.

“…….” Kami pun semua hening tanpa suara sedikit pun.

“kalian ini! Disuruh belajar malah ngobrol! Barusan ibu dapat sms dari ruang guru, suaranya kedengeran sampai sana.”

“……” anak-anak di kelas masih hening tanpa suara.

“yaudah, daripada kalian berisik. Ulangan ditunda minggu depan, hari ini ibu bakal kasih materi baru sekalian untuk ulangan minggu depan.”

“yahhh..” ucap anak-anak.

Memang benar-benar anak-anak dikelasku selalu saja mengeluh, ulangan diundur menjadi minggu depan masih saja menggerutu. Mungkin karena ditambah dengan materi baru yang diajarkan hari ini, mereka berpikir akan bertambah banyak pula soal yang akan diajukan untuk ulangan minggu depan.

Momen di Sekolah (Part 2)

Kringg.. Kringg.. Kringg..


Akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Setelah 3 jam berkutat dengan mata pelajaran matematika, rasanya terlalu pait pagi-pagi dijejali dengan rumus dan angka. Tapi biar gimanapun, pelajaran matematika akan terpakai sampai kita tua nanti. Aku berjalan menuju ke kantin bersama dua orang teman sekelasku yang memang dia berdua adalah orang yang paling enak untuk diajak bercanda dan selalu buatku ketawa.

“vinn.. lo makan apaan?” tanya fajar.

“hmm.. makan apaan yaa yang enak, lo makan apaan? Haha” tanyaku kembali pada fajar sambil melihat-lihat makanan apa yang enak untuk dimakan hari ini.

“kamprett.. nanya sama lo mah percuma, ditanya malah nanya balik. No, lo makan apaan?” tanya fajar kepada rino.

“gue kayaknya makan nasi goreng deh, tapi gue lagi pengen soto nih. Tapi kentang goreng juga enak nih.” Jawab rino yang sedang bingung.

“ngomong sama lo sama aja kayak ngomong sama kevin, nggak ada yang jelas!”
fajar menggerutu.

“HAHAHA” Aku dengan Rino tertawa lepas melihat satu sama lain sambil memberi isyarat bahwa Fajar salah tanya orang.

“ahh.. udah ahh. nggak jelas lo berdua, gue makan soto aja ah!” ucap Fajar.

“makan nasi goreng aja, jar!” ucapku.

“makan kentang aja, jar!” ucap Rino.

“ahh..gue lagi pengen soto.” Ucap Fajar.

“enakan juga makan nasi goreng jar pagi-pagi.” Aku coba memanas-manasi Fajar agar makan nasi goreng juga.

“enakan makan kentang goreng jar pagi gini.” Rino pun ikut memanas-manasi.

Terlihat disini Fajar benar-benar bingung, dimana pilihan makanan apa yang aku dan Rino ajukan dan makanan yang dia inginkan. Kita bertiga berdebat dengan pilihan masing-masing. aku ingin nasi goreng, Rino ingin kentang goreng, Fajar ingin soto. Setelah begitu lama kita bertiga berdebat tentang apa yang ingin kita makan, sampai akhirnya kita bertiga akhirnya makan KETOPRAK! Sungguh-sungguh jauh dari apa yang kita debatkan bertiga daritadi.


“kenapa ujung-ujungnya jadi makan ketoprak!” aku menggerutu sambil mengaduk-aduk ketoprak yang ada ditanganku.

“auu.. nih kok kenapa kita jadi makan ketoprak yaa?” tanya Rino.

“iyaa, ya. Gue juga bingung, kenapa kita jadi makan ketoprak.” Ucap Fajar heran.

“lo sih jar!” ucap Rino.

“kok gue? lo tuh!” gerutu Fajar.

“kenapa jadi gue? Kan lo yang ngajak kita ke tukang ketoprak!” gerutu Rino.

“nggak! Gue nggak ngajak kan.” Fajar masih dengan pendiriannya.

Aku masih sibuk mengaduk bumbu ketoprak yang aku pegang daritadi, sedangkan mereka masih berdebat tentang siapa yang mengajak makan ketoprak. Setelah selesai mengaduk bumbu, dan mulutku sudah terbuka ingin memakan ketoprak yang sudah ada di sendok. Tiba-tiba Rino dan Fajar berkata berbarengan.

“nahh...” ucap mereka berdua mengangkat tangan sambil berlirik ke arahku.

“kenapa lo berdua ngeliatin gue?!” tanyaku sinis ke mereka berdua.

“nggak, nggak” mereka berdua terlihat takut olehku.

Selesai makan dan tidak lupa bayar, kami bertiga menuju kembali ke kelas. Kami bertiga duduk di bangku paling belakang, sebenarnya ini bukan tempat favoritku duduk, tapi karena di kelasku prinsipnya siapa yang dating duluan ke kelas pagi-pagi itulah tempat yang pertama ia duduki. Jam demi jam berlalu, hingga akhirnya waktu pulang sekolah tiba pukul setengah satu siang, aku berdua Fajar pulang bareng karena kebetulan rumahku dengan Fajar tidak begitu jauh, tidak jarang aku sering menumpang pada Fajar kalau aku sedang malas membawa motor. Di jalan aku mengajak Fajar untuk nongkrong sebentar di warung dekat rumahku dan itu memang tempat favorit kita untuk sekadar jajan di daerah Kemang. Tidak terasa kami berdua sudah menghabiskan waktu lumayan lama dan waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.

“balik yok!” ajakku ke Fajar.

“yok! Pengen tidur gue, ngantuk.” Sahut Fajar.

“idihh.. kayak anak bocah luh tidur siang. Haha” ledekku.

“ngantuk lay, semalem tidur jam satu.” Fajar mengenakan jaket.

“siapa suruh tidur jam segitu. ehh tapi, gue juga tidur jam segitu sih semalem. Haha” jawabku sambil memakai helm dan memanaskan motor.

“yaudah, yuk!” fajar memasukkan gigi motornya tanda bahwa ia sudah siap untuk pulang kerumah.

Akhirnya kami berdua pulang kerumah masing-masing. sesampainya dirumah, aku langsung mengganti baju karena aku bukanlah pribadi yang suka berlama-lama memakai seragam sekolah. Saat aku mengecek handphone, aku lihat ada bbm dari seorang teman lamaku bernama Audrey yang entah kapan terakhir aku ketemu dengan dia.

BBM:

“vinn, hari sabtu besok dateng yaa, ke cafe di daerah kemang. Nanti gue bbm lagi jam berapanya. Bisa kan lo?” begitulah isi bbm dari Audrey. Langsung aku balas bbm dari Audrey karena kebetulan cafenya tidak begitu jauh dari rumahku.

“bisa terus gue. Haha ada acara apaan sih emang?” balasku.

“udahh..nanti dateng aja, lo ajak anak-anak yaa sekalian. Tadi sih udah gue bbmin juga yang lain.”

“okee..siap!”

setelah bbm dengan teman lamaku, aku membuka laptop untuk sekadar melihat foto-fotoku dengan anak-anak lain yang sudah jarang sekali ketemu ataupun nongkrong yang biasa kami lakukan setiap malam minggu, karena sekarang sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Aku tak sabar untuk bertemu mereka hari sabtu esok, kangen dengan kelakuan-kelakuan konyol mereka yang membuat orang melihatnya tertawa terbahak-bahak, tak jarang karena kelakuan konyol mereka ditegur oleh orang lain. pernah kejadian saat temanku si Putri sedang ulang tahun dan dirayakan di tempat yang labelnya “rasa bintang lima, harga kaki lima” di daerah Kemang, mereka diusir karena menyanyi dan berisik di tempat itu. Aku yang saat itu lagi duduk dan berjarak dua bangku dari mereka hanya tertawa melihat mereka diusir, karena menurutku pribadi, itu memang mengganggu orang sekitar.
KASKUS Ads

Pertemuan di Cafe

Hari sabtu pukul tujuh malam, aku sudah sampai di sebuah café tempat aku dan Audrey janjian. Aku mencoba untuk BBM Audrey “dreyy.. dimana? Gue udah sampe nih. Lagi di parkiran” begitulah isi BBMku ke Audrey, sambil menunggu Audrey aku ambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang ada di saku celanaku. Aku memang perokok, apalagi kalau lagi menunggu seperti ini, yang aku lakukan hanya merokok sambil menunggu temanku datang. Selagi menunggu balasan bbm dari Audrey, salah seorang temanku Adi datang dan memarkirkan motornya disebelahku.

“udah lama lu vin?” tanya Adi sambil melepas helm.

“nggak, belom lama sampe gue.” jawabku yang masih duduk diatas motor.

“yang lain pada kemana di? Pada dateng nggak?” sambungku.

“ada tuh di belakang, bentar lagi juga sampe.” Jawab adi yang kini berdiri disamping motorku.


Wett.. wett..

Terdengar suara khas Ninja 2 Tak menggeber-geber di parkiran, sudah bisa kutebak bahwa ini adalah temanku si Yoka di susul Dimas dan Rendi di belakangnya. “Anak-anak ini masih belum berubah dari dulu, masih aja kelakuannya kayak gitu.” Ucapku dalam hati.


“weyy.. vin, kemana aja lu? Kampret banget.” tanya yoka sambil bersalaman disusul oleh temanku yang lain menyalamiku.

“haha ada gue, lo tuh yang kemana? Pacaran mulu. Haha” ledekku pada yoka.

“haha sialann!” jawab Yoka sambil tertawa.

Yoka adalah pacarnya si Audrey, maka tak heran kalau dia pun juga datang kesini. Sedikit gambaran tentang Yoka, tingginya kira-kira 165cm tak jauh beda denganku. Bedanya, aku kurus dan dia badannya berisi. Bisa dibilang, dia itu bapaknya anak-anak. Bukan tanpa sebab aku menyebutnya bapaknya anak-anak, karena yang selalu mengepalai anak-anak untuk pergi ke suatu tempat pasti dia.

“lu udah dari tadi vin?” tanya Dimas.

“dibilang belom lama gue disini, nih lu nggak liat rokok gue masih panjang gini. Haha” Jawabku sambil menunjukkan rokok yang ada di tanganku.

“Audrey mana lagi nih, masa kita kayak orang bego di parkiran gini. Haha” celetuk Yoka sambil memainkan handphone dan mencari-cari Audrey.

“tuh dia..” ucap Dimas sambil menunjuk ke arah Audrey yang baru keluar dari café sedang menghampiri kita.

“Hai..” sapa Audrey.

“kayak nggak punya dosa yaa yok, dateng-dateng bilang Hai.. udah gitu kita disuruh nunggu diparkiran lagi.” Celetukku sambil tertawa.

“Haha. Lagian bukannya masuk aja.” Ucap Audrey.

“gimana mau masuk, tau juga nggak gue lo dimana. Haha gue BBM juga pake acara nggak dibales lagi, kampret banget.” Jawabku menggerutu.

“Haha. Gue nggak tau ada bbm, ini aja gue baru liat. Makanya gue langsung nyamperin lu ke depan.” Jawab Audrey.

“yaudah yuk masuk!” sambungnya sambil mengajak kita ke dalam.

Akhirnya aku dan yang lain masuk di sebuah café yang ternyata tempat di dalamnya lumayan besar, dilihat dari luar terlihat kecil tapi begitu masuk ternyata lumayan besar. Aku bersama anak-anak duduk di pojok café, karena yang tersisa dan bangkunya banyak memang tinggal itu. Saat aku dan teman lagi asik ngobrol dating salah seorang teman Audrey yang lumayan cantik, putih, tingginya kira-kira 160cm dan bagiku asing, sepertinya aku baru pertama kali melihatnya.

“heii!! Sini.” sapa Audrey kepada temannya yang saat itu baru dateng.

“ehh.. kenalin nih temen gue Claudya” ucap Audrey memperkenalkan temannya.

Claudya jalan menghampiri kita yang daritadi masih asik mengobrol.

“ahh.. sama lu mah ngapain gue kenalan lagi. Haha” ucap yoka pada Claudya.

Claudya menyalami kita satu-satu, untuk memperkenalkan diri.

“Rendi”

“Dimas”

“Adi”

“Kevin”

ketika aku salaman dengannya, terasa lembut sekali tangan Claudya. “ini orang nggak pernah cuci piring apa yaa?” ucapku dalam hati. Benar-benar lembut tangan Claudya, aku yang jarang sekali salaman dengan wanita selain ibuku baru kali ini merasakan tangan selembut itu. Setelah salaman dengan semuanya, Claudya duduk di sebelahku. Tercium sekali aroma rambutnya, bagaimana tidak? Dia dekat sekali denganku. Sesekali aku melirik ke arah dia, sambil mencuri-curi pandang. Hihihi

“ehh.. pada mau mesen apa?” tanya Audrey ke anak-anak.

“gue Moccacino” jawab Rendi.

“ada kopi item nggak? Haha” jawab Dimas sambil meledek.

“hett..” jawabku singkat.

“haha. Gue samain aja kayak Rendi.” Jawab Dimas.

“gue juga samain kayak Rendi” ucap Adi.

“kamu mau mesen apa?” tanya Audrey pada Yoka.

“aku pesen, Hot Chocolate aja.” Jawab Yoka.

“ehh.. kalian mau mesen apaan?” tanya Audrey padaku dan Claudya.

“Orange Juice!!” jawabku berbarengan dengan Claudya.

Aku dengan Claudya sama-sama melirik satu sama lain setelah mengucapkan apa yang tadi kita pesan.

“CIYEEE..” ledek Yoka padaku dan Claudya.

“ehh,, apaansih.” jawabku.

“auu.. apaansih yoka!” jawab Claudya tersipu malu.

“udahhh.. nanti pulang anterin vin. Haha” Yoka masih meledek.

“apaansih luh. Ehh.. gue Ice Vanilla Chocolate aja deh.” Ucapku pada Audrey.

“kok ganti vin? Padahal tadi udah sama loh, sama Claudya.” Ledek Audrey sambil melirik ke arah Claudya.

“haha enggak, gapapa. gue Ice Vanilla Chocolate aja yaa.” Jawabku sambil melirik ke arah Claudya yang mukanya memerah tersipu malu.


Cukup lama aku tidak merasakan ngumpul seperti dengan anak-anak, kangen dengan kelakuan mereka yang selalu ada-ada saja. Setelah kita cukup lama nongkrong di café, kita semua memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nggak enak juga dengan orang tua perempuan kalau pula hingga larut malam, takut dibilang nanti yang aneh-aneh. Sebelum menuju parkiran, aku memberanikan diri untuk meminta nomor Claudya. Aku sengaja mengobrol dengan Claudya agak berjarak dengan anak-anak, karena aku takut mereka meledekku lagi.

“claudya, boleh minta nomer lo nggak?” tanyaku malu-malu.

“ehh.. kevin. boleh, gue missed call aja yaa.” Jawab Claudya begitu ramah.

“inii..” aku memberikan handphoneku pada Claudya.

Claudya sibuk memencet nomor di handphoneku, aku melihat anak-anak yang lain agar tidak ketahuan kalau aku meminta nomor Claudya. setelah Claudya selesai memencet nomor dan missed call ke handphonenya, kita menuju ke parkiran untuk mengambil motor masing-masing dan segera menuju kerumah.

Pesan Singkat

Pertemuan dengan Claudya semalam begitu singkat, aku merasa ingin bertemu lagi, aku ingin mengobrol lebih lama dengan dia. Baru kali ini aku sampai segininya sama perempuan, biasanya aku cuek saja dengan orang yang baru kenal, paling hanya sebatas say “hello” and “goodbye”. Aku baru ingat kalau Claudya semalam menyimpan nomornya di handphoneku, segera aku coba untuk sms dia.

Sent To Claudya: “hai..”

Aku sengaja sms dia singkat, karena aku tak mau dibilang sok kenal atau pun sok dekat, kalau kata anak jaman sekarang SKSD. Cukup lama aku menunggu balasan pesan dari Claudya, sambil menunggu balasan dari Claudya, segera aku turun ke bawah aku merasa perutku lapar sekali saat itu. Entah, karena menunggu balasan dari Claudya atau memang aku sedari tadi pagi belum makan. Setelah aku ingat-ingat, tadi pagi memang aku belum makan, aku hanya makan makanan ringan yang kubeli di warung.

“mahh.. masak apa?” tanyaku pada ibuku tercinta.

“tuhh..liat aja sendiri” jawab ibuku.

Tak perlu berlama-lama aku langsung menuju ke dapur, ku lihat ibuku memasak masakan favoritku. Yaitu, sayur sop dan tempe mendoan, tak lupa sambal. Untuk urusan memasak aku memang sangat suka masakan ibuku, walaupun terkadang dia memasak masakan yang tidak aku suka, seperti terong, cumi, ataupun labu siam.

Setelah selesai makan, aku kembali ke kamarku untuk melihat apakah sudah ada balasan dari Claudya atau belum.

Message:

Claudya : “hai, ini kevin yaa?”

Tak perlu berlama-lama, langsung aku balas pesan dari Claudya.

Kevin : “hehe iya, ini gue kevin. Yang semalem minta nomor lo.”

Claudya : “Oalahh..kenapa kev?”

Hzzz..sebenarnya aku kurang suka kalau dipanggil dengan panggilan “kev”, rasanya sangat aneh bagiku.

Kevin : “enggak gapapa kok. Hehe jangan panggil kev, panggil vin aja. Hehe”

Claudya : “ohh.. kirain kenapa. Haha emang kenapa kalo gue panggil kev?”

Kevin : “yaa, gapapa sih. Tapi gue ngerasa aneh aja gitu dipanggil kev. Haha”

Claudya : “yaa terus panggil apa dong? Tapi gue enakan panggil lo kev. Haha”

Kevin : “yaa nggak usah bingung-bingung mau panggil apa, kalo nggak keberatan panggil aja sayang. Haha”

Claudya : “haha gombal banget sih lo vin!”

Kevin : “gapapa lahh daripada gembel. Hehe ehh, lo bukannya megang BB yaa?”

Claudya : “iya, kenapa vin?”

Kevin : “kamprett.. kenapa ngga bbm aja, kenapa malah smsan-__-“

Claudya : “haha. kemaren kan lo minta nomer gue vin, bukan pin gue.”

Kevin : “lahh.. iyaa jugaa yaah, kenapa gue kemaren ngga minta pin lo. Yaudah, kirimin pin lo deh. Hehe”


Begitu bodoh aku smsan dengan Claudya, aku lupa saat minta nomor handphone semalam bahwa dia memegang handphone BB. Mungkin karena semalam efek takut ketahuan oleh teman-temanku sampai aku tidak sadar bahwa Claudya ternyata megang handphone BB juga. Obrolan kami pun pindah dari yang tadinya via sms, sekarang menjadi via BBM.

Baru kali ini lagi aku merasakan begitu nyaman mengobrol dengan perempuan yang baru aku kenal, biasanya aku tak begitu tertarik walaupun menurut dia itu asik. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini, apakah ini karena hatiku tersentuh kembali? Aku tidak tahu juga. Saat aku sedang asik BBMan dengan Claudya, tiba-tiba dari bawah ibuku memanggil.

“vinn.. vinn..” teriak ibuku dari arah bawah.

“iyaa.. kenapa mah?” jawabku sambil berjalan kearah bawah.

“jagain bawah nih, jangan diatas mulu. Mamah sama bapak mau pergi.” Ucapnya.

“emang adek kemana?” tanyaku sambil mencari-cari adik perempuanku.

“kayak nggak tau adik kamu aja, kemana lagi kalo bukan main.”

“ishh.. main mulu perasaan.” kataku menggerutu.

“yaa orang tadi disamper, gimana nggak main. Kalo nggak disamper juga nggak bakal main.” Ucap ibuku sambil memakai jaket.

“yaudah, mamah mau pergi dulu. Nanti pintu jangan lupa di kunci-kunciin, adik kamu juga pulangnya paling masih lama. Gerbang sama pintu samping jangan dikunci, takut nanti dia pulang.”

“yaudah iya.”

“assalamu’alaikumm..” ucap ibuku sebelum pergi.

“wa’allaikum salam..” jawabku.


Ibu pergi, bapak juga pergi. Daripada aku bingung mau ngapain, aku langsung mengambil kabel ject dari kamarku untuk dicolokkan di speaker aktif. Memang dibawah dan kamarku masing-masing ada speaker, hanya bedanya kalau speaker di kamarku kecil, sedangkan dibawah yang terletak diruang tv lumayan besar. Bagaimana tidak? Speaker home teather, jelas kamarku kalah untuk suara. Sambil menunggu dan menjaga bawah, aku putar lagu dari Santa Emerelda – You’re My Everything, kalau dilihat dari lagunya memang sangat jauh dari usiaku yang kini baru berusia 16 tahun, sedangkan lagu tersebut waktu ayahku masih sma. Aku pun bingung, mengapa aku lebih senang dengan lagu-lagu jaman dulu ketimbang lagu-lagu jaman sekarang. Mungkin karena ayahku sering memutarnya saat aku masih kecil sampai sekarang, untuk urusan musik memang ayahku selalu menilai apa yang aku dengar, ia tahu mana musik yang bagus dan tidak. Selain mengerti musik, yang aku suka dari ayahku dan sampai sekarang membuatku iri adalah, ia sangat jago menggambar. Sayangnya, bakat ia menggambar tidak digunakan baik-baik, padahal dulu saat ia masih SMA ia mendapatkan beasiswa untuk dikirim dan meneruskan ke Universitas Negeri di daerah Bandung untuk mengambil jurusan seni, tapi ayah memilih untuk tidak mengambilnya.
image-url-apps
Seru nih cerita, lanjut lagi gan emoticon-I Love Kaskus (S)
image-url-apps
Ada cinta yang mulai bersemi dengan indah hehe. Lanjutkan deh, gan.

Btw, ane juga sama kayak agan kalo lagi sendirian di rumah. Langsung nyetel speaker utama di rumah biar ga sepi. emoticon-Malu (S)
Quote:

lagi tahap penulisan gan yang selanjutnyaemoticon-Ngakak secepatnya bakal di update. hehe

Quote:


cintanya baru tumbuh gan. Hahaemoticon-Ngakak (S) wahh.. sama dong kitaemoticon-shakehand: nyetelnya lagu EDM apa nihh kalo di speaker? Haha

Malam Minggu Bersama Claudya

Hari demi hari terus berlalu, tapi aku dan Claudya belum pernah bertemu lagi, terakhir kita bertemu saat awal perkenalan di sebuah café itu. Tapi bbm masih terus berjalan, semenjak aku sms dia pertama kali, makin lama pun kita makin terasa dekat. Aku tak ingin terlalu cepat untuk mengatakan bahwa aku suka dengannya, terlebih lagi aku tidak tahu apakah dia sudah ada yang punya atau belum.

Aku mencoba untuk mengajaknya keluar malam minggu besok untuk nongkrong bareng lagi dengan anak-anak, yang kebetulan anak-anak sekarang sudah tidak begitu sibuk seperti sebelumnya yang kala untuk bertemu saja susah.

BBM:

Kevin : “claudya, besok malam minggu ada acara nggak?”

Claudya : “hmm.. kayaknya nggak ada, emang kenapa vin?”

Kevin : “malam minggu nongkrong lagi yuk, btw rumah lo dimana deh?”

Claudya : “di deket tongkrongan lo kan.”

Aku begitu kaget, bahwa ternyata rumah Claudya dekat dengan tongkrongan yang selama ini kita kumpul, yang selalu aku bingung, kenapa aku tidak pernah melihat dia.

Kevin : “seriuss?? Kok gue nggak pernah liat lo ya?!”

Claudya : “benerann.. gue suka ngeliat yoka sama rendi tuh disitu kalo lagi lewat situ, tapi kok gue juga nggak pernah liat lo kalo lagi lewat situ yaa?”

Kevin : “yekali? Gilak. Ternyata Jakarta sempit banget yaa.”

Claudya : “haha. Bukan Jakarta yang sempit, tapi pergaulan kita yang terlalu luas vin.”

Kevin : “yaudah, besok malem minggu ketemuan disana yaa. Hehe”

Claudya : “yaudah iya, vin.”


Benar-benar tak pernah ku duga sebelumnya, bahwa rumah Claudya ternyata dekat tempat biasa aku dan teman-teman berkumpul. Yang membuatku heran, kenapa aku tidak pernah melihat dia, atau memang karena aku dan anak-anak yang lain mengumpul hanya malam saja jadi tidak tahu. Tapi kalau pun aku tahu rumah Claudya dekat dengan tempat biasa aku berkumpul, aku tidak tahu juga namanya jika tidak dikenalkan oleh Audrey.



Malam minggu pun telah tiba, ini berarti ini waktu aku akan bertemu dengan Claudya (lagi). Aku menyiapkan sepeda motorku untuk berangkat ke tempat tongkrongan, aku berpakaian rapi dan tak lupa pakai sepatu. aku sangat jarang sekali memakai sepatu kalau hanya untuk sekadar berkumpul saja, biasanya aku lebih sering hanya memakai sandal. Kalaupun aku pakai sepatu, mungkin karena dingin bukan karena untuk gaya seperti teman-temanku. Sepatu ku pun bukan bermerk yang harganya mencapai angka satu jutaan keatas seperti yang lain, aku hanya memakai sepatu Converse buluk dengan sobek disamping.

“mau kemana vin?” tanya ibuku yang sedang menonton tv.

“mau main mah sebentar” jawabku.

“yaudah, pulangnya jangan malem-malem.” Ucap ayahku.

“iya. Yaudah kevin berangkat dulu pak, mah.” Ucapku sambil mencium tangan ayah dan ibuku.

Setelah mencium kedua tangan orang tuaku, aku menjalankan motorku yang daritadi sudah kusiapkan dan kupanaskan. Tidak sabar aku ingin cepat sampai ke tempat anak-anak berkumpul, tidak sabar ingin bertemu Claudya.

Sesampainya disana aku belum melihat sesosok Claudya, yang kulihat hanya ada beberapa teman-temanku yang laki, dan ada Audrey juga disana. Saat aku baru duduk dibangku panjang tempat anak-anak yang lain duduk daritadi, Audrey menanya.

“vinn.. udah sejauh mana sama Claudya? Ciyee.” Tanya Audrey padaku yang membuatku bingung dan membuat anak-anak semuanya melihat padaku.

“hmm.. sejauh mana apanya?” tanyaku berpura-pura.

“halahh.. nggak usah pura-pura gitu, gue tau kali. Lo minta nomor Claudya pas balik juga gue tau. Haha” ledek Audrey.

“……” aku hanya diam tidak bisa berkata apa-apa dan menjadi salah tingkah.

“wahh.. kevin diem-diem udah nyolong start duluan yaa dibelakang kita. Haha” ledek rendi padaku.

Tak lama anak-anak tongkronganku meledek dan membullyku karena aku diam-diam mendekati Claudya, ada sebuah motor matic berwarna putih pink dikendarai seorang perempuan datang ke arah kita. Dan kalau dilihat dari lekuk tubuhnya, aku tahu siapa orang yang membawa motor matic ini. Ya! Dia adalah Claudya, wanita yang dari kemarin membuatku tak bisa tidur dan selalu memikirkannya.

“haii..” ucap Claudya sesampainya di depan kita.

Anak-anak yang tadinya lagi sibuk mengobrol dan memainkan gadgetnya masing-masing berlirik kearahku dan senyum-senyum pertanda mereka meledekku.

“haii.. claudya.” Sapa Audrey.

“vinn.. tuh Claudya, tadi katanya nyariinn.” Ledek yoka.

“ehh.. enggak, apaansih.” Jawabku sambil melirik kearah Claudya yang lagi senyum-senyum sendiri.

“udahh..ngaku aja vin.” Celetuk Audrey ikut meledekku.

“kamprettt.. kenapa ujung-ujungnya malah dilledekin abis-abisan gue.” Ucapku dalam hati.

“ehh..kesitu yuk, duduk disana aja. Nggak enak ganggu yang lagi pdkt.” Ucap Audrey.

Tak lama Audrey berkata seperti itu, anak-anak yang lain meninggalkan kami berdua satu persatu. Ada yang menuju ke warung, ada yang ke ayunan juga. Benar-benar salah tingkah aku saat itu, bagaimana tidak. Sebelumnya aku hanya berani mengobrol lewat bbm dan sms, tapi kali ini aku mengobrol langsung.

“abis darimana clau?” tanyaku malu-malu membuka pembicaraan.

“abis dari rumah temen vin. Lo udah daritadi disini?” Jawab Claudya.

“ohh.. pantes bawa motor, kirain dari rumah, perasaan rumah lu deket dari sini. Nggak, belum lama kok gue disini. hehe” jawabku.

“lo kenapasih vin?” tanya Claudya melihatku heran.

“kenapa apanya clau?” tanyaku balik.

“gue perhatiin daritadi lo kayak salah tingkah gitu, lo grogi yaa deket gue? Haha” ledek Claudya.

“nggak, gue nggak grogi kok.” Jawabku berbohong.

“halahh.. boong, keliatan kali vin. Lo daritadi nggak bisa diem gitu. Haha” claudya masih meledekku.

“ihh..enggak.”

Benar-benar grogi aku didekat Claudya, kenapa aku menjadi seperti ini di dekat Claudya. Padahal biasanya aku jika mengobrol, tak pernah sesalah tingkah ini. Memang beda jika kita di dekat orang yang benar-benar kita suka dengan orang yang kita hanya sekadar kenal saja. Cukup lama aku mengobrol dengan Claudya, untungnya semakin lama aku semakin terbiasa, tidak seperti sebelumnya yang sangat amat grogi.

Setelah dirasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Claudya izin pulang kepadaku karena daritadi ibunya sudah menghubunginya untuk segera pulang karena sudah larut malam.

“vinn.. gue pulang dulu yaa, gapapa kan?” ucap Claudya sambil bersiap-siap.

“iya Clau, gapapa kok. Gue juga ngerti kok, nggak baik juga pulang terlalu malem. Hehe”

“nahh iya. Itu lo paham. Haha”

“mau gue anterin nggak? Haha” tanyaku sambil bercanda.

“haha nggak usah, rumah gue deket ini.”

“haha iya, gue juga cuma bercanda. Haha” ledekku.

“yaudah, gue pulang dulu yaa vin.” Salam claudya.

“iyaa, hati-hati yaa. Kalo jatoh missed call. Haha”

“haha dasarr. Ehh.. semuanya balik dulu yaa.” Ucap claudya pada semuanya.


Sangat senang aku hari ini, selain bisa bertemu kembali dengan Claudya, aku juga mengobrol berdua dengan Claudya cukup lama dan pastinya tidak diganggu oleh teman-temanku. Aku saat itu belum pulang ke rumah, karena aku memang masih ingin agak lama disini. Masih ingin berkumpul dengan teman-temanku, lagi pula saat itu ada seorang temanku yang rumahnya searah denganku belum pulang juga. Jadi kupikir, lebih baik nanti aku pulang bareng dengannya saja.

New BBM:

Claudya : “kevinn.. maaf yaatadi pulang duluan, ternyata lo orangnya asik juga yaa kalo ngobrol langsung. Haha”

Kevin : “haha. Emang lo kira gue nggak asik yaa? Haha”

Claudya : “enggak bukan gitu, soalnya waktu pertama gue liat lo. Tampang lo jutek banget, senyum juga jarang.”

Kevin : “haha maklumin aja, efek muka jutek dari lahir yaa gini. Diem juga dibilang jutek. Haha”

Claudya : “haha iya. Lo masih disitu vin?”

Kevin : “masih nih. Mau pulang males, nanti aja bareng sama temen gue.”

Claudya : “yee..dasarr lu pemales.”

Kevin : “haha enak aja. Nggak tidur Clau?”

Claudya : “ini lagi mau tidur vin. Lo tuh, pulang sana.”

Kevin : “iya clau, ini gue lagi mau pulang kok.”

Claudya : “yaudah, gue tidur duluan yaa vin. Hehe”

Kevin : “iya clau, selamat tidur yaa. Hehe”

Mungkin lagu yang pas untuk saat ini, lagu Mocca – Sebelum Kau Tidur. Untuk yang belum tau lagunya seperti apa, coba dengerin dibawah ini..

image-url-apps
ceritanya bagus bang.. keep update ya

Kebodohan Kevin

Seperti biasa, hari ini aku menjalankan kewajibannku. Ya! Sekolah. Sabtu minggu kemarin kuhabiskan untuk bermain dan pastinya, bertemu orang yang aku suka, Claudya. Pagi ini aku tidak terlambat, karena hari ini kelasku kebagian menjadi petugas upacara.

“vinn.. lo paduan suara tuh disitu.” Ucap salah seorang temanku.

“yess.. untungnya gue bukan bagian petugas.” Ucapku dalam hati.

Memang semenjak sma aku sangat malas untuk menjadi petugas upacara, padahal waktu aku sd dan smp aku selalu jadi pemimpin upacara di barisanku. Pagi ini aku benar-benar bosan, berdiri di depan walaupun hanya sekadar paduan suara.

Saat upacara sudah dimulai, ada kejadian menarik dimana temanku yang mengibarkan bendera, terbalik memasangnya saat ingin dinaikan. Untungnya langsung diputar kembali, benar-benar kacau upacara kali ini. Sesaat setelah bendera di naikkan, temanku yang membawa Pancasila dan Janji Siswa bertabrakan, padahal yang disebut untuk dibacakan duluan adalah Pancasila, tapi mengapa malah temanku yang membawa Janji Siswa yang maju. “ini kenapa pada bloon-bloon banget sih yaa.” Ucapku dalam hati.

Benar-benar tidak diduga, ternyata upacara pagi ini sangat-sangat berantakan dan jelek, menurutku. Yang mengibarkan bendera terbalik, yang membawa Pancasila dan Janji Siswa juga bertabrakan.

Sepulang sekolah, aku main ke rumah dimas. Rumah dimas juga tidak begitu jauh dari rumahku, memang kadang aku suka main kerumah dimas, tidak jarang pula kalau aku terlambat sekolah dan dipulangkan oleh guru.

“weyy..vin. abis darimana luh?” tanya dimas bertelanjang dada keluar dari dalam rumahnya mendengar motorku.

“yaa abis dari sekolah, emang abis darimana.” Jawabku sambil melepas helm.

“haha. Gue kirain abis maen, biasanya kan lu kalo kerumah gue pas ngga masuk sekolah. Haha” ledek dimas.

“sialan.”

“bikin kopi dong dim, beli rokok nih sekalian.” Ucapku sambil mengeluarkan uang sepuluh ribuan.

“kampret banget, dateng-dateng langsung nyuruh.” Dimas menggerutu.

“haha. Males gue jalan ke warungnya, lagi juga disitu bocahnya pada songong. Tambah males gue.”

“yaudah mana duitnya, beli rokok berapa nih? Nanti dulu, gue pake baju dulu.” tanya dimas sambil memakai kaos.

“yaelah. Warung deket banget aja pake baju segala, kayak ada yang mau ngeliatin lu aja. Haha beli rokok separo sama kopi tuh, sisanya makanan atau apa gitu.”

“sialan juga luh! Gue ada kopi tuh di dalem, beli jajanan aja yaa?”

“yaudah. Atur aja enaknya gimana. Jalan sono lu, nanya mulu daritadi.” Celetukku.

“bangke.”

Selesai dimas dari warung dan menyeduh rokok, aku menuju ke kamar dimas. Ku lihat diruang tamu ada kedua adiknya, aku lihat ibu dan bapaknya dimas belum pulang kerja. Di kamar dimas, aku menyetel lagu di speakernya. Tidak dirumahku, tidak dirumah dimas memang kebiasaan aku menyetel lagu di speaker. Tapi kadang yang membuatku kesal saat lagi memutar lagu di speaker dimas suka direbut oleh dia, kalau direbutnya sih aku tidak masalah. Yang jadi masalah, dia memutar lagi cengeng dan lagu alay. Benar-benar membuatku bête dan kesal.

“vin.. lu lagi deket sama Claudya?” tanya dimas membuyarkan lamunanku.

“iya. Haha emang kenapa?” jawabku.

“emangnya lu udah ngga deket sama ade-adean gue, si Ananda?”

“……..”

sejenak aku terdiam mendengar nama Ananda, aku dan Ananda memang pernah dekat. Sudah sangat lama aku dekat dengan Ananda, tapi sampai saat ini aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan bahwa aku punya rasa dengan Ananda. Ananda kalau untuk seorang wanita memang bisa dibilang cantik dan mendekati sempurna. Kulitnya putih, berambut lurus panjang sebahu, tingginya sama denganku. Dia adalah sosok yang selalu membuatku salah tingkah dan tidak bisa bicara saat berada di dekatnya.

“hmm.. ananda? Hehe. Udah nggak dim, bbm juga udah jarang banget.”

“emangnya kenapa?” tanya dimas mengintrogasiku.

“yaa gapapa.” Jawabku berbohong.

“boong luh, pasti lu ada apa-apa nih. Haha”

“haha iyaiya, gue jujur. Dia udah punya cowok dim, makanya gue udah jarang banget bbman lagi. Haha” jawabku sambil tertawa palsu.

“HAHA. vinn.. vinn.. makanya, kan gue udah bilang sebelumnya. Buruan ungkapin, daripada kerebut orang. Bener kann..” dimas mengingatkanku apa yang pernah dia ucapkan padaku.

“haha. Ini bukan soal cepat atau lambat ungkapin perasaan dim, tapi ini soal nyali. Gue nggak pernah punya nyali buat ungkapin apa yang gue rasa ke Ananda. Lagi pula kan waktu itu dia baru putus sama cowoknya, jadi gue lebih baik nunggu dia sampe bener-bener udah move on.” Ucapku memelas.

“itu dia!! Itu yang selalu bikin gue kesel sama lu, lu tuh terlalu lemah buat bilang kalo lu ada rasa sama dia. Sekarang gue tanya, lu deket dan nunggu dia udah berapa lama?” dimas terlihat kesal melihat kebodohanku.

“udah setaunan dim gue deket, tapi sampe sekarang hubungan gue sama dia yaa gini-gini aja. Abis gue nggak ngerti perasaan dia ke gue gimana, gue takut dia nggak suka sama gue, tapi kalo gue liat sih kayaknya dia juga ada rasa sama gue dim.” Jawabku pasrah.

“yaa itu!! Itu kebodohan lu vin!”

“gatau lah dim, gue juga udah nggak terlalu berharap lagi sama dia. Udah punya cowok juga dia, gue nggak mau ganggu hubungan yang dia jalanin sekarang.”

“tapi lu masih ada rasa sama dia?”

“hmm.. gue udah nggak mikirin dim.”

“yaudah. sekarang kan lu lagi deket sama Claudya jadi yaa sekarang fokus ke dia aja vin, jangan sampe kebodohan lu keulang lagi.” Dimas menyemangatiku.

“iya dim, doain aja yaa! Haha”

salah apa aku hari ini. kerumah dimas malah habis diomel-omelin dan diceramahi olehnya karena kebodohanku. Memang kalau dipikir-dipikir aku terlalu bodoh, sampai untuk mengungkapkan rasa pun tak mampu. Tapi mau disesalkan seperti apapun sudah percuma, karena Ananda sekarang sudah mempunyai kekasih yang selalu ada disampingnya. Dan mungkin juga dia sudah bahagia dengan hubungan yang ia jalankan sekarang. Aku tak boleh mengganggu hubungan dia dengan pacar barunya, karena aku tak punya hak apa-apa. Lagi pula, semua itu memang salahku dari awal, mengapa aku tak mempunyai nyali sedikitpun.
Quote:


alhamdulillah kalo suka gan, jangan lupa rate yaa. emoticon-Smilie

Satnight Absurd

Seperti malam minggu sebelum-sebelumnya, hari ini aku nongkrong di tempat biasa aku dan anak-anak yang lain berkumpul. Malam minggu ini bagiku adalah malam minggu yang indah, bagaimana tidak, kali ini hadir sesosok wanita yang beberapa hari ini terus menganggu pikiranku. Ya, dia adalah Claudya. Tapi kali ini aku sudah tidak diledek oleh teman-temanku, karena mereka memang sudah tau kedekatanku dengan Claudya.

“lo setiap malem minggu disini mulu yaa vin?” tanya claudya.

“iya. Hehe lo malem minggu emang biasanya kemana Clau?” tanyaku kembali.

“nggak jelas sih, kadang ngumpul sama temen, kadang dirumah aja.” Jawabnya sambil tersenyum manis.

“hoo.. emang cowok lo kemana?” tanyaku sambil mencari tahu.

“hmm..” tiba-tiba wajah claudya berubah cemberut.

“eh, vin, jalan yuk!” ajak claudya mengalihkan pertanyaanku.

“mau kemana?”

“kemana aja, jalan yuk, kemana gitu. Bete banget nih gue.”

“hhh.. yaudah, yuk.” Jawabku terpaksa.

Dengan sangat terpaksa aku pergi dengan Claudya, antara senang dengan malas saat itu. Bukan tanpa sebab aku malas, karena claudya tidak menjelaskan kemana dia ingin pergi. Aku sendiri sangat malas dengan pergi tanpa tujuan, hanya membuang-buang waktu di jalan.

“ini mau kemana lagi sih claudya…” ucapku menggerutu, karena daritadi aku dengannya hanya jalan-jalan tidak jelas saja.

“beli bakso bakar yuk!” ajak claudya.

“yaudah, dimana tempatnya?” tanyaku yang masih sibuk mengendarai motor.

“di blok A vin.” Jawab claudya polos.

“hazz..kenapa nggak ngomong daritadi…..” ucapku sedikit kesal.

“kita kan nggak perlu muter-muter nggak jelas dulu clau.”

“hehe” jawab claudya sambil menyengir, yang kulihat dari kaca spion.

Setelah membeli bakso bakar di daerah Blok A, aku dan claudya kembali lagi ke tempat anak-anak berkumpul sambil membawakan bakso bakar yang tadi kubeli. Aku dan claudya memang tidak langsung makan disana, pikiranku dan claudya memang sama. Lebih baik bakso bakarnya dibungkus dan dimakan bersama-sama dengan anak-anak.

“abis darimana luh berdua?” tanya yoka.

“abis jalan-jalan donggg..” jawab claudya manja.

“ciyee.. makin deket aja nih, kapan diresmiinnya nih?” haha” Audrey datang dari belakang yoka.

“apasih drey..” ucapku sedikit malu-malu.

“ehh, kita bawa bakso bakar nih, mau nggak?” claudya membuka bungkusan yang tadi kita beli.

“mana.. mau dong.” Rendi berlari mengahampiri kita.

“giliran makanan aja luh, cepet banget.” Aku mencibir.

“udahh.. gapapa vin, biarin aja.” Claudya menenangkanku.

“ehh, gue mana? Masa gue nggak kebagian.” Tanyaku sambil melihat kantong plastik yang sudah tidak ada baksonya dan hanya tersisa sambal.

“makanya, jangan marah-marah mulu vin. Keabisan kan? Haha” ledek claudya.

“ihh.. kampret banget, gue yang jalan, gue juga yang ngga kedapetan. Malah disisain sambel doang lagi, emangnya gue burung beo.” Aku menggerutu.

“haha. Nihh, punya gue masih ada satu nih. Mau?” claudya menunjukkan yang ada di tangannya.

“mana? Gue cobain doang clau.” pintaku.

“HAHHH…”

“kenapa lo vin? Haha” tanya claudya tertawa melihat mukaku yang mulai memerah.

“PEDES BANGETTT!!! HAHHH…” jawabku singkat.

“Haha. Nihh.. nihh. Minum vin.” Claudya memberikanku air putih.

“mana, cepetannn..” jawabku kesal.

“makanya, tanya dulu vin. Pedes apa nggak. Haha” claudya masih menertawakanku.

“EDANNN!!! Kenapa punya lu pedes banget sih?”

“Haha. Sengaja, yang nggak pedes itu punya lu tuh. Tadi udah gue pisahin, tapi udah abis duluan. Haha”
“hazz.. kampret, pantes aja.” Kesalku.

“HAHA” Claudya tertawa senang melihatku menderita.

Benar-benar manis tawa claudya malam ini, walaupun aku jadi korban akibat bakso bakarnya. Andai saja aku mampu mengungkapkan rasaku mala mini padanya. Tapi rasanya mustahil, secara, aku kenal dengannya baru dua minggu. Aku juga tidak tahu apakah ia sudah punya cowok atau belum, aku tanyakan dia hanya berpura-pura dan tak menjawab pertanyaanku. Dari seberang jalan kulihat ada wanita berjalan kearah kita, aku tahu siapa orang ini. Tidak lain, tidak jauh, dia adalah kakak dari claudya.


“dy.. pulang, udah malem.” Ucap kakak claudya menyuruh claudya pulang tanpa menghentikan langkahnya.

“iya, sebentar lagi kak.” Jawab claudya.

“udah malem nih, cepet pulang.” Sahut kakak claudya yang mulai masuk ke gang.

“iyaa.” Claudya berteriak.

Tak lama kakak claudya menyuruhnya pulang, claudya pamit pada kita semua, dia juga sudah di telfon oleh ibunya yang kulihat di handphonenya. Sebagian anak-anak yang lain akhirnya memutuskan untuk pulang juga, yang tersisa hanyalah aku, yoka, Audrey dan dimas.

“tumben luh nggak ikut pulang?” tanya yoka sambil tertawa.

“kampret banget gue diusir.” Jawabku.

“biasanya kan kalo anak-anak bubar, lu ikut bubar juga. Haha” sambung yoka.

“kampret.” Ucapku singkat.

Kalo dibilang ngeselin, memang yoka rajanya bikin orang kesal, tapi dia juga selalu buat orang lain tertawa. Kelakuan bodoh dan usilnya dia yang selalu buat kita tertawa.

Plakk..

“aduhh.. ngapa banyak banget nyamuk yak.” Ucap yoka sambil menepuk kakinya.

“makanya mandii..” celetuk dimas.

“enak aja, gue mah udah mandi. Emangnya elu, mandi kalo mau pergi doang.” Yoka membalikkan kata-kata dimas.

“haha” aku dan Audrey tertawa.

“sialan luh.” Ucap dimas.

“beli lotion anti nyamuk sono dim, risih banget gue kalo digigitin gini.” Yoka menyuruh dimas.

“mana duitnya? Enak aja, nyuruh doang tapi pake duit gue.”

“HAHA” yoka tertawa lepas.

“yaudah nih duitnya, sekalian beli rokok. Tambahin sekalian, enak aja luh pada mau ngerokok doang nggak ngeluarin duit.” Suruh yoka sambil mengeluarkan uang sepuluh ribu.

“nihh..” aku mengeluarkan uang lima ribuan.

“elu mana? Enak aja kagak ngeluarin duit.” Tanya yoka pada dimas.

“kagak duit yok.” Ucap dimas memelas.

“alesan mulu luh, udah buruan sono jalan. Nih kunci motor luh.” suruh yoka.

Belum sampai lima menit, dimas sudah kembali membawa kantong plastik hitam berisi makanan, rokok, dan lotion anti nyamuk yang tadi kita suruh.

“tumben luh cepet, biasanya lama banget.” Tanya yoka heran.

“iyalah, gue.” Jawab dimas dengan tampang annoying.

“eh, gue punya kabar gembira.” Ucap dimas membuat kita penasaran.

“apaan?” tanyaku berbarengan dengan yoka.

“motor gue udah bisa di starter.” Ucap dimas serasa tak punya dosa.

“haha. bodo amat dim.” Jawab yoka sambil tertawa geli.

Ini yang membuatku senang berlama-lama kumpul dengan anak-anak, kebodohan dan kelakuan-kelakuan mereka yang kadang sampai membuat kita tidak mengenal waktu. Kadang aku berpikir, sampai kapan yaa kita bisa terus kumpul gini. apalagi mereka kuliah sudah semester enam, sementara aku sudah kelas dua sma, dan sebentar lagi naik kelas tiga, pasti nanti semuanya makin susah berkumpul akibat kesibukan masing-masing. Kemarin saja, anak-anak sudah mulai sibuk, apalagi nanti mendekati mereka lulus dan aku juga lulus sma, karena ku tau kelas 3 sma tidak lama, hanya beberapa bulan saja, belum lagi aku persiapan masuk perguruan tinggi. Aku selalu berharap kita selalu bisa berkumpul bersama, walaupun dengan kesibukan masing-masing.

Minggu di BSD (Part 1)

Hari minggu ini aku sangat bosan dirumah, yang kulakukan dari pagi hanya tiduran dikasur dan mendengarkan lagu di laptop yang kucolokkan di speaker kamarku. Segera aku sms dimas, menanyakan apakah anak-anak siang ini berkumpul.

Send message to Dimas: “dim, hari ini pada kemana anak-anak?”

Sambil menunggu balasan dimas, aku beranjak ke kamar mandi karena daritadi pagi aku belum mandi dan badan pun terasa sangat lengket. Lagipula kalau anak-anak pergi aku tidak perlu bersiap-siap lagi, langsung berangkat. Selesainya aku mandi, aku melihat handphoneku kembali dan sudah ada balasan dari dimas.

“anak-anak hari ini pada ke bsd vin, lo kesana nggak? Kalo kesana ayok bareng sama gue sama yoka juga.” balas dimas.

“yaudah tunggu.”

Tak lama aku membalas sms dari dimas, aku langsung berangkat menuju rumah dimas. Karena yang ku tahu, memang selama ini sebelum berangkat ke suatu tempat, pasti lebih sering berkumpul dirumah dimas dahulu.

“mahh.. kevin mau pergi dulu, ke bsd.” Ucapku pada ibuku meminta izin.

“mau ngapain kesana?” tanya ibuku dari arah dapur.

“biasa. Hehe mau main dulu mahh.” Aku memakai sepatu.

“nggak makan dulu?”

“tadi pagi kan udah sarapan pake bubur, nanti kevin beli aja, lagi juga nggak sempet mah, buru-buru. Yaudah kevin berangkat dulu yaah.” aku mencium tangan ibuku dan bergegas keluar.

“mau kemana vin?” tanya ayahku yang sedang memandikan burung.

“mau ke BSD.” Jawabku singkat sambil menstarter motor.

“ohh.. yaudah, hati-hati.”

“minta uang dong. Hehe” aku menadangkan tangan.

“hzz.. yaudah nih.” Ayah mengeluarkan uang lima puluh ribu.

“kok banyak banget?” tanyaku heran.

“udah, pegang aja. Lagi juga nggak ada bensin kan itu, sekalian beli bensin.” Ucap ayahku sambil menunjuk jarum bensin motorku.

“yaudah, kevin berangkat dulu ya, pak.” Aku mencium tangan ayahku.

“assalamualaikum..” aku menjalankan motor.

“wallaikumsalam.” Jawab ayahku.


Sesampainya dirumah Dimas, aku heran, karena yang kulihat hanya Dimas sedang membersihkan sepatu. “perasaan tadi dia bilang ada yoka, mana dia yokanya” pikirku.


“yoka mana dim?” tanyaku sambil melepas helm.

“yoka lagi jemput Audrey dulu, nanti juga kesini.” Jawab dimas masih membersihkan sepatu.

“kita berempat doang kesana?” tanyaku lagi.

“yang lain pada nyusul kesana. nanti adi juga kesini, gue bonceng sama dia. Males gue bawa motor, kagak ada bensin. Haha” ucap dimas.

“gue ajak Claudya ahh.” Ucapku sambil mengeluarkan handphone.

“ajak aja kalo lu mau, tadi juga kata Audrey dia mau ikut, tapi nggak ada barengan. mumpung belom berangkat nih.”

“yaudah, gue coba bbm nihh.”


Aku segera BBM Claudya, untuk mengajaknya ke BSD. Kebetulan memang aku naik motor hanya sendiri, daripada aku naik motor sendiri layaknya orang kesepian, lebih baik aku mengajak Claudya.

BBM:

“claudyaaa… lagi dimana?”

“lagi dirumah vin, kenapa?”

“ikut ke bsd, yuk!”

“hmm.. yaudah iya, gue siap-siap nih yaa.”

“yaudah, cepet yaa. Mumpung belum berangkat nih.”

Sambil menunggu Claudya, aku membakar sebatang rokok dahulu. Karena ku tahu, perempuan pasti lama berdandannya. Ku lihat dimas daritadi belum selesai juga membersihkan sepatu. “ini orang bersihin sepatu apa bersihin lemari sih, lama bener.” Ucapku dalam hati.
Sudah setengah batang rokok ini terbakar, tapi claudya masih belum mengabarkan juga kalau dia sudah selesai.

Wett.. wettt..

Terdengar suara motor yoka mendekat.

“nahh.. ini dia nih yang gue cariin daritadi, ajak Claudya sono. Tadi katanya mau ikut tuh.” Ucap yoka menghampiriku senyum-senyum sendiri.

“lagi dangdan dulu yok, kayak nggak tau perempuan aja luh. Haha” jawabku tertawa.

“lahh.. emang lu udah kabarin dia?” tanya yoka heran.

“udah, barusan. Haha”

“ciyee.. kevin.” Ucap Audrey dari arah belakang yoka.

“auu amat.” Ucapku singkat.

Sampai sudah habis sebatang rokok yang ku hisap daritadi, Claudya belum selesai juga. Aku begitu heran mengapa lama sekali anak ini. Sementara aku, Yoka, Audrey dan Dimas hanya tinggal menunggu Adi datang, kita langsung berangkat.

BBM:

Claudya : “dimana vin?”

Kevin : “lagi dirumah dimas ini, udah selesai belum?”

Claudya : “udah nih vin.”

Kevin : “yaudah, gue kesana nih yaa. Jangan lupa bawa helm dy.”


Aku menuju ke tempat biasa aku berkumpul dengan anak-anak, yang kebetulan tidak begitu jauh dengan rumahnya. aku menunggu diwarung tempat biasa ku berkumpul, cukup lama aku menunggunya. Kira-kira 10 menitan aku menunggunya, kalau untuk menunggu, 10 menitpun terasa sejam. Selain menunggu, yang membuatku tambah bete menunggu Claudya, aku hanya seorang diri. Tak lama aku uring-uringan di warung, kulihat Claudya keluar dari gang rumahnya dengan helm di tangannya.

“lama yaa? Hehe” tanya Claudya serasa tak punya salah.

“enggak, nggak lama. Cuma sampe lumutan gue disini.” Sindirku.

“hehe. yaa maap.” Ucap Claudya sambil menyengir dengan giginya yang berbehel.

“lama banget sih dy, ngapain dulu sih lu?” tanyaku menggerutu.

“tadi gue mandi dulu vin. Hehe”

“hett.. lama banget mandi doang, kecebur WC luh yaa?” ledekku.

“haha. enak aja!”

“haha. yaudah, berangkat yuk! Udah pada nunggu tuh.” Ajakku pada Claudya untuk segera naik ke motor.

Aku menuju rumah Dimas, sepanjang jalan menuju rumah dimas, aku bertanya-tanya seputar kelakuan dia kalau di sekolah, ternyata dia orang yang sangat jahil kalau sedang di kelas. Tak ku sangka, orang secantik dia ternyata sangat iseng kepada teman-temannya. Padahal saat aku dengannya, dia sangat pendiam dan kalem.

Minggu di BSD (Part 2)

“lama banget luh berdua.” Ucap yoka sesampainya aku dirumah dimas.

“nihh.. si kamprett, lama banget. Malah gue nungguin sendirian kayak orang dongo.” Aku menggerutu menunjuk Claudya.

“Hehe. Haii..” Claudya menyengir seolah-seolah tak punya dosa.

“yaudah yuk berangkat, nih lagi dimas mana lagi orang udah mau berangkat masih aja ribet sendiri.” Yoka mencari-cari dimas.

“dim.. dim.. dimana sik luh?” yoka masih mencari dimas.

“apaan yok?? Gue dibelakang, lagi buang aer dulu bentar.” Teriak dimas dari arah kamar mandi.

“idihh.. kebiasaan banget luh, udah mau berangkat pasti ada aja.” Ucap yoka.

Dengan sangat terpaksa kita berlima harus menunggu dimas yang masih menyelesaikan masalah dengan perutnya di kamar mandi, kami berlima duduk dibangku teras rumahnya, dimas kelakuannya memang selalu begitu. Setiap mau pergi pasti ada saja kelakuannya yang kadang membuat kita menjadi ngaret cukup lama.

“aduhh.. enak banget.” Dimas keluar dari rumahnya sambil memegang perutnya.

“ayokk.. berangkat!” sambung dimas.

“pake tuh sepatu, mau pake sandal luh ke BSD? Gue sih malu kalo lu pake sandal, mending gue pura-pura nggak kenal disono. Haha” celetuk yoka.

“iya, bentar. Gara-gara nungguin luh pada nih kelamaan, jadi kebelet gue.”

“bodo amat. Cepetan pake sepatu kamprett, yang laen udah pada nungguin disana ini.” Ucapku.

Kita berenam berangkat menuju sebuah mall di daerah BSD, aku sebelumnya tidak tahu mall apa yang akan kita tuju, Claudya aku tanya juga tidak tahu kita ingin menuju mall apa. aku dan Claudya hanya mengikuti mereka saja dari belakang, kebetulan aku juga tidak begitu hafal jalan menuju BSD. Aku sebelumnya pernah dua kali ke BSD, tapi dua-duanya pun aku nyasar entah kemana. Pulang kerumah dengan selamat hanya bermodalkan melihat plang jalanan pun waktu itu aku sudah beruntung. Aku benar-benar bingung jalanan BSD, karena jalannya hampir sama semua.

Setelah memakan waktu perjalanan satu jam setengah, dan membuat pantatku cukup panas saat itu, karena hanya duduk di motor daritadi. Akhirnya kita sampai di sebuah mall yang lumayan besar dan mewah, di depannya bertuliskan Living World. aku layaknya orang norak yang baru masuk mall. Biasanya paling mentok aku hanya ke Pondok Indah Mall atau Kemang Village, sedangkan ini aku masuk mall yang mayoritas isinya chinese. aku memarkirkan motorku di mall tersebut.

“anak-anak dimana yok?” tanyaku sambil merapikan jacket.

“ada diatas, langsung kesana aja yuk.” Ajak yoka ke kita.


Kita berenam menuju ke atas, menghampiri anak-anak lain yang daritadi sudah menunggu kita. Aku menggandeng tangan Claudya, kulihat Claudya hanya tersenyum ke arahku melihat tangannya digandeng olehku. Yoka dan Audrey hanya melirikku meledek sambil senyam-senyum sendiri melihat aku menggandeng tangan Claudya. kulihat di tempat makan tersebut sudah ada Rendi, Danu, Aldi, Putri, dan yang lain lagi, cukup ramai saat itu membuatku heran.


“ini dia daritadi ditungguin, lama banget luh pada.” Ucap rendi.

“nihh.. nungguin si dongo dulu, kebiasaan! dia kan kelakuan banget sebelum berangkat, kayak nggak tau aja luh. Biasa, ritual dulu di kamar mandi. Haha” yoka menunjuk Dimas.

“ohh..si dimas? tinggal aja aturan. Haha” ledek rendi.

“enak aja luh.” Dimas menggerutu.

Claudya Aku membuka buku menu, melihat-lihat apa yang ingin aku pesan. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan ayam bakar dan orange juice saja, karena yang ku mengerti di menu hanya itu saja, Claudya pun sama mengikuti apa yang kupesan.
Sehabis makan kami tidak langsung pulang, kita mengobrol sebentar di tempat makan tersebut. Setelah dirasa makanan sudah turun ke perut, kita semua keluar dari mall tersebut untuk jalan-jalan di daerah tersebut, tanpa mengeluarkan motor. Kita semua hanya berjalan-jalan saja tanpa tahu kemana arah yang ingin kita tuju, tanpa terasa waktu sudah sore, aku bersama yang lain masuk kembali ke mall untuk mengambil motor.

Aku dan anak-anak yang lain masih ingin nongkrong di daerah BSD, kita semua memutuskan untuk nongkrong di Restorant Junk food yang berlambang M. “bisa tekor juga kalo lama-lama disini, jajan mulu daritadi.” ucapku dalam hati. Aku bersama anak-anak mencari tempat duduk yang masih kosong dan banyak tempat duduknya.

“makan apaa yaa yang enak?” yoka terlihat bingung.

“lo mau mesen apa vin?” tanya Audrey.

“gue kentang sama moccafloat aja.” Jawabku sambil memberikan uang.

“ehh..gue nitip sekalian drey, samain kayak kevin.” Ucap rendi.

“gue juga.” Sambung adi.

“gue juga dong.” Dimas ikut menyambung.

“kalo lu mah, ikut gue. Enak aja nitip, sekalian bawain juga.” Ucap yoka.

“ahh..sialan banget. Gue kan sengaja nitip biar nggak disuruh bawain.” Dimas menggerutu.

“HAHA.” Anak-anak tertawa.

“Claudya.. ikut gue, yuk!” Ajak Audrey pada Claudya.

“yuk!” Claudya mengikut Audrey dari belakang.

Memang benar-benar selalu menyusahkan kantong anak-anak ini, tapi kalau lagi susah nggak ada uang, semuanya pun tidak ada uang juga. Kalau dibilang senang bersama dan susah bersama yaa benar. Makanan yang kupesan tadi sudah sampai di meja di depan kita, makanan dan minuman yang aku pesan dibawakan oleh Claudya. langsung aku ambil makanan dan minuman dari tangan Claudya karena aku tidak enak, dengannya. Makanan sudah habis, aku mengajak Claudya untuk berjalan-jalan di sekitar situ, kulihat ada sebuah taman dan bangku.

“dy, ikut gue yuk.” Ajakku pada Claudya.

“mau kemana?” tanyanya heran.

“udah yuk ikut.” Aku menarik tangan Claudya.

“ehh.. gue ngajak jalan-jalan Claudya dulu yaa.” Izinku pada anak-anak.

“mau kemana luh?” tanya yoka.

“mau jalan-jalan sebentar, nggak jauh dari sini.” Jawabku singkat.

“yaudah jangan lama-lama luh, kalo lagi orang PDKT mah emang gitu. Haha” ledek yoka.

“iyaa.”

Aku berjalan berdua dengan Claudya, aku dan Claudya masih memegang minuman ditangan. Claudya terlihat sangat bingung melihat ajakanku, dia hanya mengikutiku dan mengenggam tanganku.

“dy, liat deh taman disitu. Kesana yuk.” Aku menunjuk sebuah taman yang lumayan ramai orang.

“yuk.” Claudya hanya menurutiku.

Sesampainya di taman, aku duduk dibangku berdua dengan Claudya layaknya orang pacaran. Banyak orang melihat kearah kami, aku tidak terlalu perduli, karena aku begitu menikmati suasana malam ini.

“keren yaa vin?” ucap Claudya sambil melihat ke arah pohon yang dipenuhi lampu.

“iya dy. Hehe” aku hanya tersenyum.

“dy, gue mau tanya sesuatu..” ucapku.

“apa?” Claudya memalingkan pandangannya kearahku.

“sebenernya lo udah punya cowok belum sih?” tanyaku memancing.

“hmm..belum vin.” Claudya tersenyum kearahku dengan behel khas di giginya yang membuatku selalu suka kalau ia tersenyum.

“emang kenapa?” sambungnya.

“ohh..gapapa kok. hehe” jawabku singkat.

“hoo..” Claudya kembali melihat ke arah pohon yang dipenuhi lampu.

“dy, gue pengen ngomong sesuatu.”

“apa?”

“lo mau nggak jadi…..” ucapku setengah terbata-bata..
ceritanya menarik gan, update terus yaa. ane cuma bisa bantu rate. emoticon-Big Grin
image-url-apps
nenda ganemoticon-linux2

Malam Yang Indah

sebelum baca ceritanya silahkan denger lagu ini dulu, sambil iringin baca..




“dy.. lu mau nggak jadi pacar gue?” ucapku setengah terbata-bata.

“sebenernya gue suka sama lo dari pertama kali ketemu lo di café.” Sambungku.

Claudya yang tadinya lagi asik melihat pemandangan sekitar, langsung menoleh ke arahku kaget.

“gue nggak salah denger vin? Coba diulang.” tanyanya heran.

“hmm.. aduhh. Kenapa pake diulang sih.” Ucapku malu memegang kepala.

“haha. Muka lo lucu banget vin, salah tingkah gitu. Haha” dia meledek.

“haha. apaansih dy, udah ah. Ngeledek mulu lo.” Aku masih salah tingkah.

“haha. Yaudah, coba diulang dong. Gue mau denger sekali lagi.” Claudya mendekatkan kupingnya.

“lo mau nggak jadi pacar gue.” Ucapku berbisik sambil mengeja kata satu persatu.

“haha. Geli vin, kuping gue. Lo bisikin gue kayak niup.” Claudya menggeliat memegang kupingnya.

“haha. Gimana?” tanyaku.

“hmm.. gimana yaa.” Claudya menaruh tangannya dibawah janggut seolah-olah berfikir.

“gimana?” tanyaku penasaran dibuatnya.

“hmm.. iya vin.” Claudya tersenyum ke arahku.

“YESS!!”

Mendengar jawaban dari Claudya, aku langsung loncat-loncat kegirangan. Entah apa yang memasukiku saat itu, aku benar-benar senang sekali. Sampai-sampai orang di sekeliling kita melihat aneh ke arahku, mungkin mereka berpikir “ini orang keserupan apa gila yaa?”. Aku tidak begitu memerdulikan sekelilingku, yang kurasakan hanyalah bahagia. Kulihat Claudya hanya menunduk malu melihat tingkahku seperti orang gila, aku langsung menghampiri Claudya kembali.

“kenapa dy? Hehe” aku menyengir.

“kayak orang gila lu, sana-sana jangan deket-deket gue lu kalo gila. Haha” Claudya mengusirku sambil tertawa.

“gapapa lahh, gila juga karena kamu. Haha” aku meledek.

“gombal mulu luhhh.” Claudya mencubit pinggangku.

“aduhh..aduhh. iya ampun dy, sakitt.” Aku memelas pada Claudya untuk melepaskan cubitannya.

“awas lu kalo kaya tadi lagi.” Ancam Claudya sambil bercanda.

“bodo. wlee” aku menjulurkan lidah.

“hehh.. dibilangi, malah bodo-bodo, yaa!” Claudya mencubit kembali pinggangku.

“ehh.. iyaiya dy, ampun.” Aku memelas kembali.

“yaudah, kita balik lagi kesana yuk. Anak-anak udah nungguin tuh.” Ucapku sambil memperlihatkan bbm dari yoka.

“yaudah, yuk.” Claudya berdiri.


Aku menggandeng kembali tangan Claudya, mengampiri anak-anak yang sudah menungguku daritadi. Aku bersama Claudya hanya tersenyum memandang satu sama lain, benar-benar tak di duga, malam ini benar-benar indah. Ketika aku sampai di tempat anak-anak berkumpul, kulihat mereka tidak ada di kursi yang tadi kita tempati. Aku dan Claudya bingung, melihat kursi yang tadi kita tempati sekarang kosong. Langsung aku berlari menuju parkiran, dan untungnya mereka belum pulang.


“kemana dah lu berdua? lama banget kayak orang pacaran.” Tanya yoka menggerutu.

“emang kita pacaran. wlee” tiba-tiba Claudya menyambar.

“aduhh..ini orang kenapa pake ngomong lagi, mati nih gue di ledekin sama dimintain traktiran.” Ucapku dalam hati.

“OHH..JADI ADA YANG BARU JADIAN NIH? TRAKTIRANNYA LAH, VIN.” ucap Audrey meninggikan nadanya.

“hehe” aku hanya tersenyum pasrah.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, akhirnya kita semua memutuskan untuk berkumpul sebentar di tempat biasa, sambil melepaskan lelah sejenak. Claudya kali ini tidak ragu untuk memelukku, mungkin karena hawanya saat itu terasa dingin karena sudah malam ditambah lagi banyak pohon-pohon besar, membuat badan semakin terasa dinginnya.

“Kamu kalo kedinginan, tangan kamu masukin ke jaket aku aja.” Ucapku sambil melihat kaca spion.

“iya, dingin banget yaa.” Ucapnya memasukkan tangannya ke kantong jaketku dan menempelkan kepalanya dipundakku.

“jangan tidur kamu, kalo tidur aku tinggal.”
“ishh..” di mencubit pinggangku.


Sesampainya di tempat biasa kita berkumpul, kulihat Audrey tertidur di pundak yoka. Beruntungnya Claudya tidak tidur selama jalan pulang, karena memang sepanjang jalan aku terus mengajaknya ngobrol agar ia tidak tidur.

“dreyy.. bangunn. Emangnya rumah nenek. Haha” ledekku pada Audrey sambil menepuk pundaknya.

“auu nihh.. bangun apa yank, udah sampe nih.” Yoka mengerakkan badannya agar Audrey bangun.

“hahh?? Emang udah sampe yaa?” tanya Audrey dengan muka mengantuk.

“yaa udah, makanya jangan tidur mulu.” Celetuk yoka.

“iya sayang iyaa.” Audrey turun dari motor dan duduk dibangku.

“lagi, orang ajak ngobrol malah ditinggal tidur. Pengen gue turunin aja rasanya.” Yoka menggerutu.

“ihh..jahat banget.” Audrey memelas.

“besok-besok kalo tidur lagi gue turunin dah. Haha” yoka meledek.

“ihh..gitu.” Audrey ngambek.


Aku dengan claudya hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Memang ini orang, pasangan yang selalu saja membuat orang tertawa melihat tingkahnya. Benar-benar ini orang berdua, tak dimana selalu saja begitu. Claudya memutuskan untuk pulang duluan, kulihat juga ibunya sudah menelfonnya daritadi.

“lo udah jadian vin sama claudya?” tanya Audrey mengingtrogasiku.

“hehe. udah drey.” Jawabku singkat.

“kapan? Tadi yaa?” Audrey masih penasaran.

“iya, yang tadi pas gue ajak jalan dia. Gue nembak dia di taman, malah gue sampe diliatin lagi sama orang-orang yang ada disitu.” Aku memberitahu.

“lahh.. emang lo ngapain?” tanya Audrey heran.

“jadi tadi pas diterima gue kegirangan, akhirnya pada ngeliatin gue. Disangka orang gila kali. Haha” ucapku sambil tertawa.

“haha. Dodol!! terus Claudya gimana?”

“claudya cuma nunduk malu, ngeliat kelakuan gue. Haha”

“HAHA. Dasar oon luh.” Audrey menoyor pelan.

“haha. Bodo amat, gue nggak mikirin.”


Kami semua memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing, kulihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, lagi pula Claudya juga sudah pulang duluan karena sudah di telfon oleh ibunya tadi. Memang benar-benar tidak terasa kalau orang sedang jatuh cinta, waktu pun terasa begitu cepat berlalu. Andai aku bisa terus bersamamu lebih lama Claudya. Kulihat tanggal, hari ini tanggal 4 Juni 2012, langsung ku catat hari terindahku di handphone. Agar aku terus ingat ini tanggal yang penting untukku dan juga Claudya.
Quote:


itu udah ada update baru gan, thanks yaa! emoticon-Smilie

Quote:


silahkan gann.. emoticon-Big Grin

Menemani Claudya

Hari ini aku hari pertamaku berangkat ke sekolah dengan status yang tidak lagi sendiri. setelah sebelumnya aku menyendiri cukup lama, hampir 8 bulan lamanya, karena aku pribadi bukan termasuk orang yang mudah untuk membuka hati dan terbuka dengan orang lain kecuali aku aku sudah benar-benar kenal dekat dengan orang itu.

“sayangg.. nanti pulang sekolah temenin aku yaa.”

Begitulah isi bbm dari Claudya, aku memang beda sekolah dengannya. Tapi kebetulan sekolahku dengan sekolahnya tidak terlalu jauh.

BBM:

Kevin : “mau kemana?”

Claudya : “mau kerumah temen aku sebentar. temenin yaa? hehe”

Kevin : “yaudah, iya sayang.”

Aku hanya mengiyakan apa yang di inginkan Claudya, ku pikir, hari ini juga aku tidak ada acara. daripada dia minta temani oleh orang lain, lebih baik aku saja yang menemaninya.


“vin, pinjem hape lu.” Pinta fajar.

“mau ngapain?” tanyaku.

“pinjem doang bentar, mau nyari lagu yang enak.”

“yaudah, nihh..” aku memberikan handphoneku.

“vin, siapa Claudya nih?” tanya fajar mengagetkanku yang lagi mengobrol dengan rino.

“kenapa?” tanyaku.

“bbm nih, nanti katanya dia tunggu di depan sekolah. siapa sih? Ganggu aja, gue baru mau Bluetooth lagu juga.” Ucap fajar.

“lu bales yaa?” aku merebut handphoneku.

“enggak. Cuma dikit doang tadi.”

“idih..kampret banget luh.” Aku menggerutu.

Saat kulihat handphoneku, ternyata benar, bbm dari claudya dibalas oleh fajar. Dan balasan bbm fajar membuatku gelisah, bagaimana tidak, isi balasan bbm dari claudya berisi “iya. Jangan ganggu dulu yaa, kevin lagi pacaran sama gue nih.”

Pasti claudya akan berpikir yang aneh-aneh, sebelum claudya membalas, langsung aku mengirim bbm lagi kepada claudya.

Kevin : “maaf, tadi hape aku dipegang sama temen aku. Yang bales juga temen aku.”

Claudya : “ohh.. pantesan. Aku pertama baca kaget, kirain beneran. Baru mau marah aku, kalo beneran liat aja kamu!”

Kevin : “hehe. jangan marah dong, nanti kan mau ketemuu.”

Claudya : “iya sayangg. Aku udah ada guru nih, sampai ketemu yaa.”

Kevin : “iyaa.”

Singkat cerita, jam pulang sekolah pun tiba. Aku menyempatkan diri menongkrong sebentar di dekat sekolah dengan teman-temanku, sambil menunggu kabar dari claudya. tiba-tiba handphoneku bergetar, dan bisa kutebak bahwa ini adalah claudya.

Claudya : “vinn.. kamu dimana?”

Kevin : “aku baru keluar sekolah nih. Kamu dimana?”

Claudya : “aku disekolah nih, aku tunggu di perempatan aja yaa, nanti aku kasih tau perempatannya, aku tau pasti kamu gatau masuk kedalam komplek sekolah aku.”

Kevin : “yaudah iya, kabarin yaa kalo udah diperempatan. Biar aku langsung kesana.”

Claudya : “iya.”

Aku membakar rokok yang daritadi hanya kupegang-pegang saja, bukan karena aku takut ketauan oleh guru, tapi karena aku lagi kurang mood untuk merokok. Aturan disekolahku memang boleh merokok dengan syarat, jarak dengan sekolah harus lebih dari 100 meter. Sementara aku tempat aku menongkrong, jaraknya 1km dari sekolah.

BBM:

Claudya : “sayang, kamu dimana?”

Kevin : “kamu udah sampe?”

Claudya : “udah nih. Kamu kesini sekarang, aku kirim Voice Note yaa petunjuk arah perempatannya.”

Kevin : “iya.”

Setelah mendengar Voice Note dari Claudya, aku langsung menuju ketempat yang dia maksud. Kulihat ia sedang berdiri dipinggir jalan sendiri.

“kamu kok sendirian disini?” tanyaku heran sambil melihat sekeliling.

“tadi temen aku udah naik angkot, jadi yaa aku sendiri. Hehe” jawabnya polos.

“yaampun dy, temen kamu udah daritadi apa belum lama?”

“belum lama kok.”

“yaudah, yuk sekarang naik. Dimana rumah temen kamu?” ajakku untuk segera naik ke motor.

“nanti aku kasih tau, sekarang jalan duluu.” Ucapnya manja.

Claudya memberikan arah jalan rumah temannya, aku hanya mengikuti saja apa yang ia ucap. Benar-benar seperti tukang ojek yang di arahkan oleh penumpangnya, tapi yaa kalau dipikir-pikir, lebih baik aku dibilang seperti tukang ojek daripada ia kenapa-kenapa.

“ehh..masa tadi aku ketemu mantan aku pas aku lagi temenin temen aku nunggu angkot.” Claudya memberitahuku.

brgghh..

sontak aku kaget mendengar claudya berbicara seperti itu.

“hmm.. terus?” tanyaku penasaran sambil melihatnya dari kaca spion.

“dia ngajakin aku pulang bareng.”

“terus gimana?” tanyaku masih penasaran.

“yaa aku nggak mau lah. Aku kan udah janji minta temenin sama kamu buat kerumah temen aku.”

“ohh..terus, kalo tadi nggak minta temenin sama aku. Kamu pergi sama dia gitu? Sekalian pulang bareng? Hmm..” ucapku memancing.

“enggak, enak aja! Mana mau aku jalan sama dia. Ihh.” Ucapnya menggerutu.

“ohh.” Jawabku singkat.

“ishh..kamu daritadi ngeselin banget jawabnya!” Claudya mengomel.

“haha. Yaa abis aku mau jawab apalagi? Yaudah, sekarang mana nih rumah temen kamu? Daritadi perasaan kita cuma muter-muter doang, tapi nggak sampe-sampe.”

“sabar ihh.. sedikit lagi juga sampe.”

“daritadi sedikit lagi mulu, tapi nggak sampe-sampe.”

“kamu diem ihh..gerutu mulu daritadi.”

“iya sayang iyaa. Salah mulu perasaaan.”


Akhirnya kita berdua sampai dirumah teman Claudya, rumahnya memang tidak begitu jauh. Tapi yang membuat menjadi jauh karena jalannya yang banyak belokan dan beberapa blok yang rumahnya hampir sama semua, kalau aku disuruh pulang sendiripun aku juga tidak akan tahu arah jalan pulang.


“ehh..claudya, sama siapa lagi nih?” tanya teman claudya membuka gerbang.

“ini cowok gue, kenalin nihh.” Claudya mengenalkanku pada temannya.

“Mira.”

“Kevin.”

“yaudah, masuk ke dalem yuk dy. Yang lain udah pada nunggu tuh di dalem.” Ajak mira kepadaku dan claudya.

aku hanya melirik dan menaikkan alis ke arah claudya dengan tatapan “kok masuk sih?”. Claudya hanya tersenyum polos ke arahku menjawab tatapanku tadi. aku masuk ke dalam rumah mira dan bersalaman dengan ibunya mira, kulihat ada 4 orang teman claudya yang sudah menunggunya. Aku diperkenalkan satu persatu dengan teman claudya, setelah bersalaman dengan ibunya mira dan berkenalan dengan temannya, aku lebih memilih untuk duduk di bangku teras, aku tidak terlalu suka dengan orang baru apalagi aku baru kenal. Lagipula temannya cewek semua, semakin membuatku tambah bete dibuatnya. Aku membakar rokok yang tadi kubeli di warung tempat aku nongkrong sepulang sekolah. seperti biasa, untuk menghilangkan iseng dan bete karena harus menunggu.

“dy, itu cowok lo nggak lo kasih minum?” ucap salah seorang teman claudya yang terdengar samar-samar olehku.

“ehh..iya, gue lupa.” Ucap claudya.

“lu mah bukannya lupa, tapi emang sengaja.” ucapku menggerutu dalam hati.

“kamu mau minum apa?” tanya claudya keluar dari dalam rumah mira.

“apa aja, yang penting seger.” Jawabku singkat.

“yaudah, aku ambilin dulu yaa.” Ucap claudya berjalan kearah dalam.

“iya.”

Tak lama, claudya keluar membawa satu buah botol besar berisi air putih dingin dan gelas.

“hett..aer putih lagi, dimotor gue juga ada-___-” ucapku menggerutu.

“ohh..dimotor kamu ada yaa? Haha” tanya claudya polos.

“auu amatt.” Jawabku singkat.


Waktu yang ku tunggu-tunggu datang juga. Claudya mengajakku pulang, karena waktu sudah mulai sore. Aku sangat bahagia ketika claudya mengajakku untuk pulang, hampir 3 jam yang aku lakukan hanya merokok didepan rumah mira dan sendirian. Sementara claudya, hanya sesekali menghampiriku, setelah itu, ia kembali lagi sibuk dengan teman-temannya.

“kok lama banget sih? Tadi katanya bentar.” Ucapku yang lagi mengendarai motor.

“hehe. kamu kaya nggak tau cewek aja kamu.” Claudya menyengir kulihat dari kaca spion.

“besok-besok jangan gitu lagi ah, bete tau. Malah aku ditinggal sendirian di teras.” Aku mulai menggerutu.

“siapa suruh kamu diajak masuk kedalem nggak mau, malah di depan aja.”

“males, orang cewek mulu. Mau ngapain juga aku di dalem, paling nanti ujung-ujungnya kayak orang bego, cuma melongo.”

“hehe. maaf yaa.” Claudya merayuku.

“iyaiya.” Ucapku singkat.

“ehh..tadi kamu diomongin tau, sama temen-temen aku.” Claudya memberitahu.

“iya apa? Terus mereka ngomong apa?” tanyaku melihat wajah claudya dari kaca spion.

“iya, temen aku pada bilang, kamu pendiem banget. Kalem lagi. Padahal mereka gatau aja, kamu aslinya gimana...”

“emang aku gimana aslinya? Haha” aku tertawa.

“bawel!”

“enak aja!”

Sampai juga aku di depan rumah claudya, kulihat ibunya baru pulang. Segera aku menghampiri ibu claudya untuk izin pulang, ibu claudya sempat menyuruhku untuk mampir sebentar, tapi aku menolak, dikarenakan waktu yang sangat tidak memungkinkan. Sudah pukul lima sore juga, jadi lebih baik aku langsung pulang kerumah sebelum di sms oleh ayahku.
×