alexa-tracking

Pohon Pertemuan

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54b7a8ed925233c4438b4570/pohon-pertemuan
Pohon Pertemuan
Hallo agan sista semua... emoticon-Malu (S)

Sedikit perkenalan dari ane... Ane sebenernya udah lama nongkrongin kaskus, tapi baru pertama kali nemuin ini forum buat nulis. Ane punya cita-cita buat jadi penulis novel. Ane coba sedikit share salah satu cerita yang ane buat, moga semuanya menikmati, kalau bisa kasi kritik sarannya ya gan emoticon-Matabelo

Terimakasih, selamat membaca emoticon-Smilie


Cerita :

Spoiler for Pohon Pertemuan:

Anak Lelaki Menyeramkan

Hari yang panas di Bandung. Semua orang lalu lalang bepergian tanpa payung. Ini mungkin bukan zaman dulu dimana banyak orang memakai payung saat panas. Seorang lelaki, seorang anak SMA tidur bersantai di bawah pohon yang rindang, tepat diatas bukit dekat sekolahnya sendiri. Dia sengaja membolos pelajaran hanya untuk tidur dibawah pohon itu.

“Haah… Ini yang kusebut dengan hidup…” Dia menghela nafas dengan senyumannya.

Disaat semua orang sedang sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing, dia tertidur pulas disana. Suara daun yang terkena angin membuatnya nyaman, seakan sebuah nyanyian nina bobo untuknya… Sampai tiba-tiba nyanyian itu dihentikan oleh seseorang yang tak ingin ia lihat.

“Sedang apa kamu disini?! Ini sedang jam pelajaran!” Seorang wanita, masih satu kelas dengannya, memarahi dia.

Dia adalah ketua kelas dan dia sangat berhak untuk memarahinya. Meski cantik dan banyak yang menyukainya, dia sangat galak, membuat jarang para lelaki mendekatinya.

“Kau tak lihat? Aku sedang tidur…” Lelaki itu berbicara dengan setengah kantuk.

“Haaah?!” Sang ketua kelas terkejut dengan sikapnya itu.

“Cepat kembali kekelaasss!!!” Dia menarik-narik lengan lelaki yang tak mau pergi itu.

“Srrat!” Lelaki itu melepaskan paksa tangan ketua kelasnya dengan keras.

“Au! Apa yang kamu lakukan!” Ketua kelas itu memegangi tangannya yang kesakitan.

“Kamu ga apa-apa, Nisa?”

Seorang teman ketua kelas datang dari belakang. Anak lelaki itu baru menyadari ada orang lain disana.

“Pergi…”

Dengan memasang wajah marah yang menyeramkan anak lelaki itu membuat Nisa dan temannya pergi kembali ke kelas. Tak ada yang tau apa yang dipikirkan anak lelaki itu. Dia kembali berbaring dan tertidur kembali di tempatnya, dibawah pohon rindang yang nyaman, jauh dari keramaian.

Anak Perempuan Dari Negeri Sakura

Namanya Ryoko, dia adalah cewe yang tadi menemani Nisa keluar. Mereka kebetulan bertemu dengan anak lelaki temen sekelas mereka tadi, namannya Naufal, Naufal Moza. Nama yang cukup langka untuk orang Indonesia.

“Dakk!” Nisa memukul keras meja dikelasnya.

“Kesel lama-lama sama sikapnya itu! Mau sampai kapan dia kayak gitu?!” Nisa tak bisa menahan amarahnya lagi.

“Sabar Nis…” Ryoko coba menenangkan Nisa.

Ryoko adalah cewe pendiam keturunan campuran, Jepang dan Indonesia. Dengan style yang khas, kacamata, rambut diurai cukup pendek sebahu, baju yang cukup rapi, dan perawakannya yang ramping. Membuat dia mirip sekali dengan orang-orang culun yang jarang bersosialisasi. Dia baru saja pindah sekitar seminggu yang lalu ke sekolah ini. Dia pernah tinggal di Indonesia saat dia kecil, jadi dia bisa lancar berbahasa Indonesia. Tapi dia sama sekali tidak tahu menahu soal budaya di Indonesia ini, dimana sekolah dengan peraturan pakaian yang begitu ketat, kendaraan yang begitu banyak yang menyebabkan macet parah, dan lain-lain. Meski begitu, dia sangat senang, dimana banyak orang-orang ramah disini dan lagi makanannya sangat enak. Kecuali lelaki tadi… Ya, Naufal Moza, wajahnya sama sekali tidak ramah! Dia kebingungan sendiri dengan Naufal. Selalu datang terlambat, selalu tidur saat pelajaran, bahkan pergi keluar kelas lalu pergi entah kemana. Dan yang paling aneh, dia hanya melakukan itu sendirian… Contohnya tadi, dia pergi tidur diluar sendirian. Apa yang dia pikirkan? Naufal membuat begitu banyak pertanyaan di kepalanya.

“Kenapa sih dia gitu Nis?” Ryoko bertanya pada Nisa.

“Dia udah lama kayak gitu semenjak kelas 1 SMA! Siapa yang peduli! Dia cuman berandal yang pemalas!” Nisa masih saja emosi.

“Tapi kok dia bisa naik kelas?” Ryoko bertanya lagi.

“Nah itu yang bikin aku paling kesal! Meski dia selalu tidur dan kadang keluar kelas, dia ga pernah gagal dalam tes, dia juga ga pernah ketinggalan tugas!”

“Oh jadi dia pintar?!”

“Ngga! Nilainya masih dibawah aku, nilai dia benar-benar pas dengan rata-rata!”

“Oooh…” Ryoko berfikir heran.

“Teng, tong, teng…” Saat percakapan antara mereka berdua berlangsung, tiba-tiba bell tanda masuk berbunyi, istirahat pun usai.

Tak lama kemudian guru Bahasa Inggris pun datang. Ryoko dan anak kelas yang lain bergegas kembali ke bangkunya masing-masing.

“Aah… Tadi bolos pelajaran sejarah, sekarang bahasa Inggris…” Ryoko melamun tentang Naufal dibangkunya.

“Klak!” Suara pintu kelas yang dibuka.

“Ah!” Ryoko terkejut melihat orang itu datang.

Naufal tiba-tiba datang dari pintu lalu pergi menuju bangku paling belakang, bangku dimana Naufal duduk dan tidur.

Ryoko bisa tau semua yang dilakukan Naufal… Tentu saja, Naufal duduk tepat dibelakang dia. Ryoko duduk sendirian, karna hampir semua murid sudah memiliki pasangan tempat duduk. Tapi dia sangat akrab dengan Nisa juga Della yang berada tepat didepannya. Sedang Naufal… Dia sangat aneh, duduk paling belakang, sendirian. Melakukan segalanya sendirian… Ryoko selalu berfikir tentang itu, “Apa dia tidak kesepian?”

“Hei! Kau yang tadi sama Nisa!” Naufal menepuk pundak Ryoko tepat sebelum dia duduk ke bangkunya.

“Eh?! Apa?!” Ryoko terkejut, dia tidak menyangka Naufal akan memecah lamunannya.

“Habis pulang sekolah ikut aku! Dan jangan bilang sama siapapun!” Naufal memasang tampang yang sama seramnya dengan tadi.

“A..a…” Ryoko tak bisa berkata apapun.

Setelah berbicara pada Ryoko, Naufan kembali ke bangkunya tanpa merasa bersalah.

“Apa maksudnya ini?! Kenapa tiba-tiba!!!” Ryoko berbicara dalam hati.

Ryoko tidak bisa mengendalikan dirinya, jantungnya berdebar kencang, penuh kecurigaan ketakutan…

“Aaaah… Apa yang harus aku lakukan?”
KASKUS Ads
Dopost maaf emoticon-Malu (S)

Bagaimana Bisa?!

Sepanjang pelajaran Ryoko khawatir soal apa yang bakal dilakukan Naufal padanya. Dia gemetaran, tak bisa mengikuti pelajaran, rasanya ingin kabur saja! Dia tidak bisa melapor pada siapapun dia terlalu takut untuk itu.

“Kamu kenapa Ryoko? Gemeteran gitu?” Tanya Della.

“Ngga, hehe, ngga apa-apa.”

Ryoko beberapa kali coba menyembunyikan ketakutannya.

“Bu! Aku izin ke toilet.”

“Ya, silahkan Ryoko…”

Beberapa kali dia bulak-balik toilet. Cuci muka, atau apa lah, semua dia lakukan untuk menghilangkan rasa takutnya.

“Aaaahhh!! Gimana ini?!” Ryoko berbicara dalam hatinya.

Sampai tiba-tiba…

“Teng, tong, teng.” Bel tanda kelas berakhir berbunyi.

“Aaaah… “ Ryoko perlahan menoleh kebelakang, kepalanya sampe gemeteran.

“Tidur!!!” Hati Ryoko berteriak gembira.

“Ryoko mau pulang bareng?” Nisa bertanya.

“Ngga! Aku duluan ya!” Ryoko secepat kilat pergi keluar.

Dia kira dia akan selamat…

“Hei!” Suara dari Naufal yang memanggil seseorang.

Ryoko yang gugup dan ketakutan, tiba- tiba diam. Siapa lagi yang dia panggil kalau bukan dia?

“Ah kamu bangun juga! Lihat pulau yang kamu buat! Dan lagi lihat rambut ikal mu yang berantakan itu!” Nisa meneriaki Naufal.

“Ah? Si nenek cerewet…” Naufal terlihat masih setengah sadar.

“Aapa kamu bilaaaaanggg!!! Haaah?!!” Wajah yang sangat menyeramkan, siapa yang sangka, dia beneran mirip nenek lampir.

“Nisa… Sudah-sudah ayo pulang…” Della memegangi Nisa dan menariknya pulang.

“Kemari kau dasar berandal kelas teri! Jangan pikir kau bisa lari, akan ku-“ Nisa dan Della pergi dengan ocehan yang begitu panjang.

“Hei Ryoko… Kau mau pulang bareng?” Della bertanya sambil memegangi nenek lampir yang marah.

“Maaf… Aku ada urusan sebentar…” Ryoko masih tidak bisa melarikan diri.

“Oh begitu, kalau gitu aku duluan ya…” Della pergi dengan penuh senyuman bersama Nisa.

“Aaah… Aku juga ingin pulang… Huu…” Ryoko yang menangis dalam hatinya.

“Duk… “ Tiba-tiba Naufal menabrak pundak Ryoko dari belakang.

“Ah maaf… “ Naufal meminta maaf dan pergi dengan setengah mengantuk.

“I-iya…” Ryoko kebingungan, kenapa Naufal malah pergi?

“AH!!!” Naufal berteriak dan kembali menuju Ryoko.

“Kamu! Ayo ikut aku!”

“Tidak jangan…”

“Ayo!” Naufal menarik tangan Ryoko.

“Eh…” Ryoko kaget, baru kali ini ada seorang lelaki memegangi tangannya.

Dia mencoba membawanya ke suatu tempat.

“Tangannya yang kasar, berbeda sekali dengan tangan wanita…” Ryoko bergumam dalam hatinya.

Mereka berjalan dan terus berjalan, melewati lorong kelas, melewati lapangan sekolah, lalu sampailah mereka di taman sekolah.

“Oke disini.” Naufal berhenti lalu melepaskan tangan Ryoko.

Langit biru yang indah, cuaca yang sangat cerah. Kami berada di pohon ditengah taman sekolah ini.

“Ini…”

“Dengarkan aku, teman nenek cerewet!” Naufal mendekati Ryoko.

“Ke-kenapa?”

“Suruh nenek lampir itu berhenti menggangguku! Apalagi saat aku tidur ditempat kesukaanku!”

“Ta-tapi aku…”

“Tidak ada tapi-tapi! Aku tidak suka diganggu disaat penting seperti itu!”

“A-Aku…”

“Jangan sampai dia kembali kesana!”

“Aku tidak mau!” Ryoko tiba-tiba berteriak.

“Hah?”

“Aku tidak mau menurutimu…”

“Oh begitu…”

Ryoko yang ketakutan, tetap mencoba mempertahankan suatu hal yang benar baginya. Dia tidak mau menuruti apa kata Naufal.

“Katakan sekali lagi…” Naufal membuat tampang menyeramkan lagi.

“Tetap tidaaak bisaaaa!!” Ryoko hampir mengeluarkan air matanya.

“…” Naufal tiba-tiba diam.

“Tidak mau! Kamu tidak punya hak untuk memerintahku!” Ryoko menunduk, airmatanya sedikit keluar.

“Set…”

“Eh?”

Ryoko terkejut dengan apa yang Naufal lakukan. Dia mengelus kepala Ryoko dengan lembut. Ryoko terdiam, tak tau mengapa seperti ini. Lalu…

“Jadi begitu?” Wajah Naufal mendekat, sangat dekat dengan wajah Ryoko.

“Aku tidak punya hak untuk memerintahmu? Hmmm… Bagaimana kalau aku sebarkan bahwa kau adalah seorang penulis cerita romansa yang kesepian? Hmmm? Bagaimana?”

“A…A…Appppaaa??!!!! KENAPA KAU TAU DENGAN CERITA KARANGANKU?!!!!!!!”

Ryoko benar-benar shock! Dia kebingungan, bagaimana bisa cerita yang dia rahasiakan selama ini?!

“Hahahahaha! Sekarang aku berhak bukan? Hahahaha!” Naufal tertawa keras.
×