alexa-tracking

Istriku [ BUKAN ] Idamanku

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54b637a1507410a5658b456c/istriku--bukan--idamanku
Istriku [ BUKAN ] Idamanku
Sebut saja saya Dee, usia 27 th, di sini pengen nyoba nulis mengenai kisah nyata yang bener-bener ku alami dalam hidup ini. Gak usah panjang lebar langsung ccccuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussssssssssss

Indeks Cerita... Monggoemoticon-Blue Guy Peace :

#1
#2
#3
#4
#5
#6

**************************************************************

Siang itu, suasana kelas masih cukup ramai, ada beberapa anak yang masih ada di dalam kelas meski jam pelajaran telah berakhir. Karena nanti siang adalah waktunya les di sekolah, pelajaran bahasa Indonesia, maka beberapa siswa memutuskan tidak pulang kerumah, melainkan tetap di sekolah. Beberapa siswa tetap di dalam kelas, dan siswa yang lain ada yang di kantin, dihalaman sekolah, atau di depan pagar sekolah buat jajan. Oh iya, kami kelas 3 SMP, sehingga mendekati EBTANAS (*UAN jaman dulu) maka kami dirutinkan les di sekolah 3x dalam seminggu. Suasana sekolah tinggal beberapa saja anak kelas 1 dan 2, kebanyakan anak kelas 3 dan beberapa guru saja. Waktu itu di lantai atas, kelas 1 dan 2 udah mulai kosong. Tepat di atas ruang kelas kami adalah kelas 1A sudah sepi, kursi sudah ditumpuk di atas meja kelas, tanda piket siang telah selesai dilaksanakan. Aku memasuki kelas kosong itu yang memang tidak terkunci dan menurunkan salah satu kursi, dan duduk diam di dalam kelas itu, selang beberapa lama, ada beberapa anak putri naik dan memasuki kelas. Lalu mereka berlarian keluar kelas kembali sambil teriak dan tertawa-tawa meninggalkan salah satu teman mereka di dalam kelas. Sehingga kini aku berdua dengan seorang anak putri, sebut saja namanya Vanesa.
“Katanya mau ngomong sesuatu sama aku?”, tanya Vanesa dengan sedikit ketus
“Iya, aku…..”, jawabku dengan sangat gugup, hingga kami sama-sama terdiam cukup lama.
“Memangnya ada apa? Mau ngomong apa? Kok malah diam?”, tanyanya memecahkan kesunyian.
“Anu Van…mmmm… kamu marah ya? Kok ketus gitu?”, jawabku asalemoticon-Bingung (S)
“Ya udah, kalau kamu gak mau ngomong, aku keluar”, jawabnya singkat sambil berjalan mendekati pintu
“Oke tunggu Van, mmmm… ya udahlah kalau kamu mau keluar, kayaknya kamu gak nyaman”, jawabku semakin ngasal
“Oke aku keluar, mau persiapan buat les, aku juga belum shalat ini, ya udah turun yuk, terus shalat”, jawabnya dengan nada yang lebih lembut.
Akhirnya kami pun berjalan beriring, dengan dia keluar kelas duluan sambil senyum menatapku dengan tatapan yang selalu membuatku enggak tenang.
“Van, kamu cantik, dengan rambut yang kamu ikat dengan tali warna biru itu”, ujarku tiba-tiba sambil berhenti berjalan takut Vanesa marah.
“Ah, kamu ngasal aja klo ngomong, udah shalat dulu yuk, atau kamu mau makan dulu?”, jawabnya
“Oke, yuuk,” jawabku singkat
Dan kami pun turun menuju mushala, namun sampai di mushala aku memutuskan untuk masuk ke kantin yang memang berada di bawah mushala, sedang dia menuju kamar mandi untuk wudhu, dan kemudian shalat. Sedang aku memutuskan untuk pesan soto dan jeruk panas tanpa gula. Waktu itu memang aku sengaja pesan soto bukan langsung shalat, karena ku lihat tidak ada sandal atau sepatu lain di mushala, secara tidak langsung klo aku shalat, berarti tar aku jadi imamnya, dan Vanesa jadi makmumnya. Aku belum siap.
“Lho kok belum wudhu malah makan soto? Ya udah aku shalat duluan ya?, tanya nya padaku
“Iya, aku lapar banget, kata guru SD ku klo shalat pas lapar bisa ganggu shalatnya, nanti malah gak khusuk”, jelasku padanya yang disambut anggukan dan senyuman.
Tiba ada segerombol anak putri yang teriak dari kejauhan sambil berlarian menuju tempat kami. Dan mereka sebagian tertawa-tawa melihat kami seakan mengejek.
“Vaaaaan, mau shalat? Tunggu kita barengan aja”, tanya Khusna sambil teriak dan berlari mendekat.
“Iya, mau shalat”, jawab Vanesa dari pintu mushola
“Cie, cie, cie, udah jadian nih? Kok gak shalat bareng? Eh Khusna, kita jangan gangguin mereka yukk”, ejek Tri kepada kami.

Bel Eskrim

Teeeeeet…teeeeeeeeet…teeeet. Akhirnya suara bel pun berbunyi, tanda waktu les segera di mulai. Kami yang tadi masih di luar kelas segera masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran tambahan yang akan diberikan guru kami. Bagiku sebenarnya pelajaran bahasa Indonesia itu termasuk favorit, tapi sore itu seakan malas untuk menyimak penuturan guru yang sedang membahas soal-soal dan mengupas tuntas jawabannya. Sore itu pandanganku kosong, sesekali melirik Vanessa yang duduknya ada di baris depan ku sebelah kiri.
“Woi, malah ngelamun!”, goda temen sebangkuku membuyarkan lamunanku
“Asyem, ngapain ganggu aja”, jawabku sewot
“Kalian ini malah ngapain, sekarang, coba kamu jawab nomer 2 essay itu!”, perintah guruku tiba-tiba, sambil menunjuk padaku
Dan akhirnya karena tidak siap dan dari tadi hanya bengong gak jelas, aku pun hanya garuk-garuk kepala, dan nendang kaki teman sebangkuku.
“Anu pak, bentar pak, saya baca dulu soalnya”, jawabkuemoticon-Bingung (S)
“Ah, kalian ini malah rame sendiri, nanti nilai kamu saya turunin, jangan mentang-mentang nilai kamu sudah bagus lalu seenaknya saja di kelas”, jawab guruku sedikit emosi.
Dan akhirnya riuhlah kelas karena teman-teman sekelas bersorak sambil teriak serempak,
“Pasti mikirin Vanessa itu pak”, kompak seisi kelas teriak gitu
“Huuuuuuuuuuuu,” teriak teman-temanku yang lain, yang akhirnya membuat seisi kelas tambah gaduh
“Sudah, sudah, cukup, itu sudah bel, berarti kita cukupkan kelas sore ini, sekarang semua berkemas, dan Dee kamu pimpin doa teman-temanmu ini sebelum pulang”, jawab Pak Guruku cepat dan segera memerintahku juga
Dan seisi kelas pun yang tadinya gaduh semua terdiam sesaat dan gaduh lagi, karena sebenarnya kami merasa aneh, pelajaran sore ini belum juga genap 30 menit, tapi kenapa sudah selesai. Dan seisi kelas pun saling bisik, membahas mengenai suara bel yang didengar Pak Guru.
“Ayo teman-teman kita semuanya diam, dan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai”, perintahku memotong kegaduhan kelas.
Dan hening beberapa saat kelas itu, sebelum akhirnya semua tertawa sebelum aku member aba-aba untuk berhenti berdoa. Keheningan sore itu di kelas kami hilang sekejap karena mendengar suara bel “Tolilet, tolileeet, tolililiet”, sebuah bel penjaja eskrim di sebelah utara sekolah kami yang terdengar jelas dari kelas kami yang memang cuma berbatasan dengan jalan kampong langsung. Dan kami pun tanpa diberi aba-aba memang tertawa cukup lama, karena kami yakin, bel yang di dengar guru kami itu adalah bel penjual eskrim itu.emoticon-Ngakak
“Sudah, sudah, sekarang baris pulang”, perintah guruku digaduhnya kelas kami
“Iya pak, siap”, jawabku menahan tawa.
Dan akhirnya kami pulang satu demi satu berurutan salaman dengan Guru kami tersebut dengan tetap menahan tawa atas kejadian itu. Dan Guru kami pun sebenarnya juga ikut menahan tertawa sepertinya.
Dan sesaat sebelum keluar pintu gerbang sekolah yang tidak jauh dari kelas kami, Vanessa mendekatiku, sambil bilang,
“Besok jangan diulangi lagi ya, aku lebih senang melihatmu seperti biasa yang tidak pernah neko-neko”, katanya sambil jalan menenteng tas dipunggungnya.
Belum sempat ku menjawab, ia sudah berlalu, dengan sedikit berlari menyusul teman-temannya yang lain. Yang nampak kini hanya ayunan rambut panjangnya yang diikat dengan tali berwarna biru motif bulu itu.
“Iya” akhirnya ku jawab dalam hati, dan terus melihat Vanessa yang sudah tampak menjauh.
Dan tiba-tiba aku dipanggil seorang teman wanita yang bernama Lyan dari atas sepedanya.
image-url-apps
Cerita Baru emoticon-Big Grin
ijin bangun warung remang remang emoticon-Hammer
mejeng pekiwan ah emoticon-Cool
jangan ngentang lho
KASKUS Ads
image-url-apps
Cerita baru emoticon-Big Grin buka lapak emoticon-Big Grin
Baru mulai dah kentang gan emoticon-Hammer
kayaknya cerita baru nih,,,

ijin deprok ah,,,
image-url-apps
Bukak angkringan dulu ah...
yah..kentang lagi... emoticon-Cape d...
barusan mau gelar tikar.. emoticon-Ngakak
image-url-apps
Nah ada yg baru semangat nulisnya Gan

Ijin buat tenda disini
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


monggo mawon mas boss dan mbak boss..matur nuwun mau nyimak dimari... lanjut dibawah ini ya...oh iya...klo saya lihat cerita lain itu dibikin index..mang bikin index itu gimana caranya?
image-url-apps
Quote:



nih caranya


http://www.kaskus.co.id/show_post/53...59/bikin-index




sekalian ikut ndeprok di mari gan.. emoticon-Big Grin
image-url-apps
gelqr tiker dulu ah...
sekalian mejeng dipejwan..
image-url-apps
sorry dopost gan..
internet lelet emoticon-Sorry

Akhir SMP

Lyan pun hanya diam beberapa saat dan akhirnya berlalu dengan sepedanya sambil senyum karena keburu ada teman yang lain. Berlalulah Lyan dari hadapanku dengan meninggalkan senyumnya, dan akhirnya aku melanjutkan perjalanan pulang jalan kaki karena rumah memang dekat dengan sekolah.
Dan hari-hariku terisi sudah dengan keanehanku yang semakin menjadi, semakin terobsesi dengan Vanessa. Aku selalu ingin bener-bener menjadi orang istimewa Vanessa, hingga waktu itu tanggal 14 Februari 2002. Biasanya aku menjadi orang yang pertama datang di kelas itu, atau minimal nomer dual ah, tapi tidak hari itu, kelasku sudah sedikit ramai dengan beberapa siswa putrid di kelas sedang ngobrol. Dan sudah ada beberapa tas di kursi kelas kami tapi manusia-manusianya tidak nampak batang hidungnya. Akhirnya aku letakkan tasku di atas meja tengah paling kanan. Saat akan memasukkan beberapa buku paket ke dalam laci, ku menyentuh sesuatu yang asing, ku lihat ada cokelat batangan yang bagiku cukup mewah, merk Toble***. Aku langsung tanya Khusna,
“eh ini cokelat sapa? Kok dikasih pita segala?”, tanyaku pada Khusna yang saat itu sedang ngobrol dengan Amalia.
“Gak tau, mungkin punya anak yang kemarin duduk disitu” jawab Khusna datar.
Jadi kelas kami menerapkan duduk muter, tiap hari geser gitu, jadi mungkin ada benarnya, dan aku percaya saja apa yang dia katakana, tinggal nunggu si empunya aja, nanti ku tanya. Tapi belum habis penasaranku, tanganku menyentuh benda lain lagi bentuk pesawat dengan kertas warna biru muda.

Akhirnya ku buka dan akhirnya aku tau siapa pengirim itu dan untuk siapa kertas itu dan juga cokelat itu setelah aku baca baris paling atas, dan akhirnya ku putuskan buat menyimpan cokelat itu dan juga kertasnya ke dalam tasku.
Kurang lebih isinya surat itu (gabungan beberapa lagu yang ngehits jaman itu)

“ caci maki saja diriku, bila itu bisa membuatmu kembali seperti dulu kala…dan bla bla bla..”

Yang ku ingat lagu-lagu SO7, Base Jam, Es Nanas, sama Padi. Ada 4 lembar kertas, yang lagu-lagu itu halaman pertama, selebihnya halam 2-4 diisi curhatan hati Vanessa tentang diriku, yang sebenarnya diapun menaruh hati padaku, namun karena ujian Ebtanas tinggal beberapa bulan lagi, maka alangkah baiknya kami saling konsentrasi untuk mendapatkan nilai maksimal. Di dalam surat itu dia juga menuliskan kalau ingin seorang Dee ini mendapat nilai yang jauh lebih maksimal lagi, agar bisa sekolah di SMA favorit sesuai impian kluargaku. Secara dulu pernah cerita ke Vanessa kalau aku ini diwajibkan sekolah di SMA favorit dan kampus favorit oleh ortuku.
Akhirnya surat itu menjadi saksi bisu sayang kami berdua, yang hingga lulus SMP tak pernah lagi terkuak di muka umum, hanya kami yang saling memahami dan saling tahu.

"Sayangnya surat itu hangus dibakar seorang cewek yang mampir dikehidupanku berikutnya di tahun 2006, padahal waktu itu semua tentang Vanessa ku simpan dengan rapih, agar suatu saat waktu ku nulis semua tentang dia surat dll itu bisa ku foto dan abadikan dalam tulisanku juga"

Itu sudah cukup bagiku yang mengagumi seorang sekretaris I kelas kami, sedang aku adalah sekretaris II kelas kami. Dan dari situ kami saling tukar buku catatan ketika jam kosong dan suruh mencatat. Itulah awalnya ku suka dia, selain dia yang cerdas dan terkesan angkuh. Dan memang unik aku selalu suka dia saat dia terkesan angkuh di mata cowok-cowok sekolah kami. Dan ku suka dia juga karena dari kelas 1 dia selalu memakai baju rangkap di dalam baju sekolahnya, alasan dia karena untuk menjaga diri, dan itu juga merupakan alasanku suka dia.

Dan selalu ku suka dia, hingga akhirnya datanglah hari perpisahan sekolah kami yang di isi pentas band tiap kelas dan kesenian lainnya. Dan akhirnya ku tahu dia ditembak secara terbuka di deket perpus oleh seorang kawan dari kelas lain. emoticon-Sorry
Aku pun hanya bisa diam pura-pura tidak tahu kejadian itu dan tetap menikmati pentas seni di halaman sekolah kamiemoticon-Matabelo. Hingga akhirnya aku di panggil temenku dengan sangat kasarnya, katanya ada yang nyari aku di parkiran belakang. Dan ku lihat ada beberapa siswa SMP lain sudah menungguku di parkiran itu, beberapa ku ketahui adalah teman dari temanku. Ku tahu beberapa itu anak yang tergolong nakal di sekolahnya, tapi kenapa mereka di sini? Dan kenapa mereka memanggilku??emoticon-Bingung (S)
emoticon-Bingung (S)
Quote:


matur nuwun caranya nanti saya coba nggih boss... mau tanya lagi, klo upload foto gimana?? jadi nulis trus ada fotonya gitu, bisa bantu gak boss?? bener2 baru di dunia kaskus ini soalnya


Quote:


monggo boss..sugeng rawuh
image-url-apps
Salam kenal oms emoticon-Belo
keep up date yak ijin nongkrong dimari emoticon-linux2
image-url-apps
Quote:


oke shaapp! rodo ribet nek arep upload foto + neng SFTH ra oleh ketok e upload foto dab!


---------


wah.. di selip di tikungan akhir.
image-url-apps
Wuih ada yg maen belakang yo mas
image-url-apps
Lanjut gan emoticon-Big Grin
image-url-apps
Buat tenda dulu ahh, jgn kelamaan kentangnya

akulah sang preman [gadungan]

“Hey, kamu Dee ya?” tanya salah satu dari mereka yang anaknya terlihat lebih kurus dibandingkan yang lain.
“Iya,” jawabku singkat sambil mendekat
“Eh, kamu kan anak yang di tangkap POLSEK dulu itu kan?”, tanya anak yang badannya lebih tinggi dan besar yang akhirnya ku tahu namanya Anto
“eh… kapan? Aku gak pernah berurusan dengan polisi!” bantahku segera
“Oh, bentar-bentar yang karena urusan sama SMP mu itu ya? Yang waktu mau tawuran, terus SMP mu datang ke sini mau nyerang SMP ku gak jadi, dan akhirnya bubar karena ada polisi dan aku tertangkap basah sedang ngobrol dengan pimpinan tawuran SMP mu ya?” jawabku segera menyambung bantahanku tadi.
“Iya,” jawab anto singkat
“oh klo waktu itu…” jawabku terpotong, karena dengan segera Anto narik teman-temannya kemudian mengajak salaman denganku.
“eh sorry bro, gak tau klo yang namanya Dee itu kamu”, jawab segera cowok kurus yang bernama Sandi itu.
Dan itu akhirnya diikuti oleh beberapa temannya menjabat tanganku, sambil narik aku duduk di kursi panjang di parkiran sekolah itu. Kami akhirnya ngobrol tentang masalah mereka datang ke sekolah ini. Ternyata lagi-lagi ini masalah cewek, di mana ada cewek yang ditaksir Sandi ini ternyata nolak cinta Sandi, dan akhirnya mereka tahu klo cewek yang namanya Septi itu naksir sama aku. Nah, dari situ mereka gak terima, makanya mencari aku, rencananya mau membuat perhitungan dengan melalui perantara temanku sendiri. Dan lagi-lagi ternyata temanku ini juga dendam denganku karena Lyan cewek yang dia taksir juga suka sama aku.
“Oalah, ternyata gini to, tenang aja, ku tahu si Septi itu manis, si Lyan itu baik dan pintar, sempat ku suka sama mereka kelas 1 dulu, tapi ku sadar diri, ku bukan orang berpunya yang pantas untuk sayang sama mereka, jadi tenang saja”, jelasku pada mereka yang diikuti anggukan mereka
“Iya bro, maaf ya, kami juga gak tahu klo Dee itu kamu, kirain anak lain”, jawab Anto segera menyusul jawabanku.

”Soal berurusan dengan pihak kepolisian ini sebenarnya salah paham, aku bukan anak nakal yang pandai melobi sekolah lain yang mau menyerang sekolah kami, yang jelas-jelas sekolah kami sudah dikepung dari semua arah, tentu jika ku melobi pasti sangat konyol. Bukan damai yang ku dapat, bonyok yang ku dapat itu pasti, karena anak SMP susah untuk di lobi, gitu teorinya. Tapi kejadian waktu itu akhirnya benar-benar membuatku tertawa karena akhirnya ku ditangkap polisi untuk pertama kalinya bahkan sampai diinterogasi dengan banyak pertanyaan. Kisah sebenarnya adalah, ada adik kelas ku, dengan beberapa kakak kelas menyerang salah satu sekolah yang masih 1 kecamatan dengan sekolah kami, nah saat itu ada satu anak yang ketahuan, dan akhirnya info bahwa yang menyerang SMP itu adalah SMP kami. Maka berselang 3 hari, sekolah kami diserang. Untung saja sebelum kejadian lebih parah, kami sudah dapat info terlebih dahulu, sehingga siswa yang sudah pulang sekolah segera bergegas pulang, sedangkan yang lainnya berdiam diri di dalam sekolah menjauhi pintu gerbang sekolah. Sedang kami para pengurus OSIS masih bingung, Karena waktu itu kami sedang rapat di ruang yang paling dekat dengan pintu gerbang depan. Saat nampak puluhan dan mungkin ratusan siswa sekolah lain di seputaran sekolah kami, siswa putri yang menjadi pengurus OSIS semakin panik dan menangis, hingga aku tanpa sengaja mengenal beberapa wajah anak penyerang itu. Dan ku amati mereka ini motor penyerangan, segera saja ku katakan siswa putri itu untuk tenang karena aku kenal semua pimpinan penyerang itu. Akhirnya aku keluar kelas sambil teriak nama temanku “EDI dan ADI”, yang akhirnya di sambut kepalan tangan ke atas oleh mereka tanda menahan serangan. Dan siswa penyerang itu pun diam, tidak menyerangku padahal mereka bawa batu, yang mungkin bisa dengan mudah dilemparkan ke muka ku. Akhirnya ku ngobrol dengan santainya dengan mereka dari pagar, dan mereka bilang sedang mencari siswa kelas 1 dan 3 yang menyerang sekolah mereka. Dan saat itu tanpa ku sadari kami di amati ibu kepala sekolahku. Dan saat polisi datang akhirnya bubar, dan berkat info Kepala Sekolah itulah aku dan 2 orang temanku itu yang ditangkap. Sejak saat itu beredarlah isu bahwa aku ini anak yang berasal dari kampong preman, yang membuat siswa penyerang pun tidak menyerangku. Padahal kalau mereka tahu, sebenarnya kami ini kawan dari TK sampai SD sehingga kenal dekat, bukan soal aku yang dari desa preman di kota itu. Tapi hal itu akhirnya membuatku disegani di sekolah maupun di luar sekolah, seorang DEE yang juga preman SMP. Padahal aku ini tetap aja anak cengeng yang tidak bisa kelahi”
×