alexa-tracking

[part 2]

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54b5cd6ac2cb1724208b457d/part-2
Love 
[part 2]
Aku ingat pertama kali bertegur sapa dengannya. Disebuah ruang kelas yang hampir setengahnya terisi. Aku datang kesana hanya berkunjung ke tempat itu. Yang pernah menciptakan banyak kenangan didalamnya. Aku datang bersama sahabat lamaku, Laras. Aku datang ke sana disambut baik dengan teman teman lamaku. Tidak sedikit yang menanyakan kabarku. Hingga menanyakan apa yang membawaku kesana, setelah sekian lama aku tidak lagi berkunjung. Menemani pacar kataku.
Kemudian dia datang dengan senyum yang mengembang sangat lebar diwajahnya. Sungguh aku ingat senyuman itu, senyuman damai. Aku ingat betul dia menggunakan kemeja bunga bunga, khas bali, tempatnya berasal. Dia menanyakan kabarku, seperti yang lain. Dia menanyakan sedang apa aku disini, seperti yang lain. Sebuah kejadian yang biasanya dilupakan, namun akan memberikan makna. Kemudian kami tidak bertemu lagi. Si pria penuh senyuman yang membawakan kedamaian.

***


Aku sempat menduga kami cocok karena kami mempunyai suku yang sama. Sehingga kami mempunyai habbit yang sama. Untuk satu tahun pertama aku masih menganggapnya begitu. Namun berubah ketika memasuki tahun berikutnya, 11 bulan setelah kami menjalani hubungan yang mulus. Dia mulai mengatur hidupku. Dia mulai memberikan aturan-aturan yang tidak boleh aku langgar. Katanya ini untuk kebaikanku. Untuk bulan-bulan awal setelah adanya aturan itu, aku masih menganggap itu baik dan benar. Benar untuk kebaikanku. Namun ketika aku dilarang bermain bersama teman-teman dekatku, aku merasa ini tidak lagi benar.
Dengan tabiatku semakin dilarang semakin dilakukan, aku tentu melanggarnya. Aku ingat itu hari kelulusannya. Dia bilang kepadaku maaf tidak bisa menemaniku sepulang hari kelulusannya itu (aku datang ke acara kelulusannya. Dan setelah sebelas bulan menjalin hubungan sepasang kekasih, aku akhirnya kenal dengan keluarganya yang tidak pernah dia bahas selama kami menjalani hubungan.) . Dia akan pulang ke rumahnya berkumpul dengan keluarganya.
Sepulang datang ke acara hari kelulusannya, aku mengiyakan ajakan Laras untuk keluar hingga dini hari. Mumpung aku disana katanya. Aku mengiyakan juga karena dia tidak dapat menemaniku dikota itu. Ada 7 orang yang ikut, termasuk aku didalamnya. Kami akan menyewa mobil. Semua sudah direncanakan sedemikian rupa. Tinggal menunggu waktu saja.
Dia marah kepadaku. Saat aku berkata tidak bisa menemaninya malam itu. Dia membatalkan pulang kerumah untuk berkumpul dengan keluarganya agar bisa menemaniku. Namun aku tidak bisa begitu saja membatalkan acaraku dengan teman-temanku. Bukan karena ada pria yang membuat pandanganku selalu terpusat kepadanya, dia yang memiliki senyuman damai itu. Tetapi karena aku membutuhkan kebebasan. Aku lelah dikekang.
ninggal jejak
gan sorry, jangan bikin 1 thread per post. Bikin post nya di 1 thread aja, emoticon-Malu (S)
Quote:



hehehe kenapa emangnya gan?
maap yaa sist, klo mau buat trit jadi satu aja ya ...
jangan pisah-pisah ... emoticon-Smilie

keep update ...
Masalah itu kemudian perlahan hilang. Seperti hilang ditelan bumi. Lenyap seketika. Mungkin karena aku tidak pernah ingin kekampusnya (tepatnya selalu mengurungkan niat untuk ke kampus fadly. Fyi, dulu aku sekampus dengannya. Dia seniorku selama setahun. Kemudian aku pindah ke universitas lain.)
Kemudian bulan-bulan berikutnya aku merasakan hubungan kami terlampau indah. Sampai aku mengurungkan niat untuk kehati yang lain. Karena menurutku ini sudah pas. Sangat pas. Tapi ini hanya berlangsung sebentar. Sampai dia diterima kerja disebuah perusahaan swasta. Komunikasi kami terhalang.
Aku ingat saat dia awal masuk kerja. Dia pulang malam. Dia saat itu tinggal dirumah orang tuanya. Tidak ngekos lagi. Dengan jarak yang lumayan jauh dari kantornya ke rumahnya, dia pulang sangat larut. Apalagi kebiasaannya yang tidak mau meninggalkan temannya untuk pulang duluan.
Kebiasaan baruku saat itu adalah menunggunya pulang. Walaupun kami berjauhan, tapi aku tetap menunggu. Setelah dia pulang, mengobrol sebentar, lalu kami akan beranjak tidur. Karena menurutku, waktu untuk mengobrol dengannya adalah precious time. Saat itu dia pulang larut malam. Jam 11 malam dia baru sampai rumah dan menghubungiku. Dia mengajakku untuk video call. Kangen katanya. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, karena kondisi kami sedang seperti ini. Kata-kata yang dia ucapkan sungguh membuatku tersentuh, walaupun hanya kalimat sederhana, “Kita biarin aja ya video call nya nyala, sampe kita ketiduran. Aku capek pengen tidur. Tapi kangenku ke kamu, setelah seharian jarang komunikasi , bikin aku pengen lihat wajah kamu lebih lama. Apalagi kita beda kota gini. Makin susah buat ketemunya.” The sweetest tense I’ve ever hear from him.