alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Orang-Orang Luar Biasa (1)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54b386e4a2cb176a4b8b457a/orang-orang-luar-biasa-1

Orang-Orang Luar Biasa (1)

Link asli : fauziasifa.blogspot.com

Orang-Orang Luar Biasa (1)


Tulisan yang pernah saya baca menyebutkan "kehidupan adalah subsitem keteraturan dari desain holistik yang sempurna". Karena itu saya percaya bahwa tidak ada hal sekecil apa pun dalam hidup yang terjadi secara kebetulan. Saya yakin, bahwa setiap elemen yang terjadi dalam kehidupan memiliki makna tersendiri. Ternyata, jika Anda memaknai kehidupan ini secara lebih terbuka, hidup ini tidak terlalu sulit.

Hidup ini berjalan teratur sesuai dengan yang sudah digariskan. Segala sesuatu yang terjadi di dalam nya bisa saja berubah dengan pola sebab-akibat dari usaha yang dilakukan oleh si pemilik hidup. Kira-kira begitulah pemahaman saya tentang hidup dan begitulah cara saya menjalani hidup. Saya hanya melakukan usaha untuk mengubah nasib, berharap semua usaha saya dapat memutar balik garis nasib agar berpihak pada saya.

Terkadang garis nasib membawa kejutan-kejutan kecil dalam hidup. Tuhan maha adil, kawan. Di antara riak-riak nasib saya yang sering kali mengenaskan, Tuhan menyelipkan kisah-kisah lucu, dramatik, ataupun sarat makna agar saya lebih pandai bersyukur. Seperti yang saya alami saat SMA, saat garis nasib membawa saya bertemu dengan orang-orang luar biasa dengan berbagai kisah mereka yang juga luar biasa.

Saat SMA saya harus bangun paling lambat pukul 04.00, karena pukul 05.00 saya sudah harus berangkat sekolah. Bukan karena jam masuk sekolah saya sangat pagi, tapi karena saya harus menumpang angkot milik tetangga yang berangkat pukul 05.00. Telat sedikit saja, saya ditinggal.

Sebenarnya saya bisa saja tidak menumpang angkot milik tetangga untuk berangkat sekolah. Tetapi uang yang harus saya keluarkan tentu saja lebih besar. Lokasi rumah saya yang tidak strategis membuat saya harus naik ojek terlebih dulu sebelum sampai di jalan raya, barulah setelah nya saya naik angkot menuju sekolah. Dengan menumpang angkot tetangga, tentu saja saya dapat menekan pengeluaran dan menabungnya untuk keperluan lain. Saya memiliki tetangga yang baik. Ia tidak memperbolehkan saya untuk membayar angkotnya. Gratis. Karena itu, pilihan ini jauh lebih menguntungkan saya.

Berangkat pukul 05.00 pagi dari rumah artinya saya akan sampai di sekolah pukul 05.45. Terlalu pagi. Penjaga sekolah pun belum datang. Gerbang sekolah masih digembok. Ibu saya pernah menyemangati dengan mengatakan "tidak apa-apa, bukankah siswa yang datangnya lebih pagi tandanya lebih serius? siapa tau nilainya jadi lebih bagus". Saya meringis sambil mengangguk mendengarnya. Tidak berani saya bantah ucapan nya. Garis-garis lelah di wajahnya setelah bekerja keras mengurus saya dan adik-adik saya seharian membuat lidah saya kelu.

Pernah suatu hari saya tiba pukul 05.30. Langit nyaris masih gelap, hanya ada semburat merah jambu tipis-tipis di langit bagian timur. Udara pagi masih lembab. Bahkan saya masih bisa melihat bintang fajar. Bang Ujang, sopir angkot yang angkotnya biasa saya tumpangi, memberhentikan angkotnya di gang sekolah saya. Saya melongok melalui jendela. Sepi. "Masih sepi banget ya, neng?" Bang ujang ikut melongok keluar jendela. Saya mengangguk sambil menghela napas. "Kalo takut sendirian disini, ikut abang aja muter dulu, nyari sewa". Saya diam sebentar. Berpikir. Ya sudahlah. Menurut saya ide itu tidak terlalu buruk. Akhirnya, saya ikut bang ujang, menemaninya narik angkot.

Saya duduk di depan, di sebelah bang ujang. Kadang saya menawarkan jasa angkot ini pada penumpang yang sedang menunggu di pinggir jalan. Kadang saya membantu bang Ujang memberikan uang kembali pada penumpang yang membayar dengan uang lebih. Kadang saya digoda oleh teman-teman seprofesi bang ujang, karena mereka kira bang ujang membawa serta putrinya narik angkot.

Saat penumpang sedang sepi, sesekali bang ujang menceritakan tentang kehidupannya pada saya. Tentang kebutuhan hidup yang terus meningkat sementara penghasilannya sebagai sopir angkot segitu-segitu saja. Tentang anaknya yang baru saja menyelesaikan SD dan akan masuk SMP. Tentang sakit pinggangnya. Tentang istrinya yang baru saja melahirkan anak ketiga mereka dan sekarang masih di rumah sakit, belum bisa pulang karena biaya persalinannya belum dibayar. Tentang mertuanya yang tinggal serumah dengan bang ujang dan juga ikut menumpang hidup dengan bang ujang. Bang ujang menceritakan semua penggalan hidupnya itu dengan tawa khas sambil sesekali menawarkan jasa angkotnya pada orang-orang di pinggir jalan.

Padahal kalau saya pikir, hampir tidak ada hal menggembirakan dari cerita-cerita bang ujang yang dapat membuatnya tertawa. Saya sering tertegun sambil memandang bang ujang yang sedang bercerita. Nampak garis wajah bang ujang keras dan lelah. Ia masih mengenakan baju koko usang dan peci. Saya rasa ia langsung bergegas selepas subuh tadi. Bang ujang sudah cukup tua, mungkin seumuran dengan bapakku. Tapi matanya tetap jenaka. Sesekali tersenyum ramah pada penumpang yang turun dan membayar jasa angkot nya. Bang ujang menutup ceritanya dengan kalimat manis dan bijak bukan kepalang yang masih saya ingat hingga kini. "Hidup mungkin memang susah, tapi jangan di tambah susah. Hihihi..."

Hari itu, pagi itu, di dalam angkot dengan beberapa penumpang di dalamnya, saya menemukan pelajaran hidup pertama dari seorang sopir angkot yang memiliki problematika hidup sama seperti orang kebanyakan, tetapi menyikapinya dengan sangat bijak : hidup mungkin memang susah, tapi jangan di tambah susah.

Begitulah garis nasib mempertemukan saya dengan bang Ujang, salah satu orang luar biasa yang pernah saya temukan selain orang tua saya.

Link asli : fauziasifa.blogspot.com

Lain - lain :
Euforia Hari Pertama
Diubah oleh: fauziasifa
Urutan Terlama
emoticon-2 Jempol
pelajaran bagus
Quote:


Makasi, gan...


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di