alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
[THREAD PENGAKUAN] “Saya Pernah Merasakan Diskriminasi karena Lahir sebagai Tionghoa"
3 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/548c41fea2cb17373c8b4568/thread-pengakuan-saya-pernah-merasakan-diskriminasi-karena-lahir-sebagai-tionghoaquot

[THREAD PENGAKUAN] “Saya Pernah Merasakan Diskriminasi karena Lahir sebagai Tionghoa"

[THREAD PENGAKUAN] “Saya Pernah Merasakan Diskriminasi karena Lahir sebagai Tionghoa"
Foto Suciwati dalam salah satu Aksi Kamisan dalam Pameran Menolak Diam di Omah Munir, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu, 13 Desember 2014.

VIVAnews – Sejumlah orang terlihat bergelimpangan di lantai rumah Munir Said Thalib di Kota Batu, Jawa Timur. Tubuh mereka dibalut kain putih yang membelit serupa mumi.

Di dalam rumah yang kini menjadi Omah Munir, mereka hanya tidur telentang dengan diam meski mata mereka terbuka.

“Mereka sadar tetapi diam. Mereka tahu berbagai pelanggaran kemanusiaan di sekitar mereka tetapi memilih diam,” kata Yaya Sung, satu dari dua seniman yang berpartisipasi dalam Pameran 49-39=10th Menolak Diam di Kota Batu, Sabtu 13 Desember 2014.

Bersama fotografer Antara, Fanny Octavianus, karya mereka yang digelar untuk memperingati Hari HAM Internasional juga telah melewati proses kurasi oleh Seno Gumira Adjidarma. Rencananya, pameran yang terbuka untuk umum itu akan berlangsung hingga 30 Desember 2014.

Bagi Yaya, seniman berusia 28 tahun, ketertarikannya dengan tragedi kemanusiaan muncul dari pengalamannya sendiri yang lahir dari keluarga keturunan Tionghoa. Dia menyaksikan dan mengalami tragedi yang banyak menimpa warga keturunan Tionghoa di Jakarta pada 1998.

“Saat kerusuhan 1998, saya masih berusia 12 tahun. Oma saya rumahnya terbakar di pecinan, Glodok. Saya pernah merasakan diskriminasi sosial, karena lahir sebagai keturunan Tionghoa,” katanya.

Orang-orang tersebut, terus tidur telentang tanpa bergerak beberapa saat. Mereka tersebar di dalam rumah, di dekat meja kerja Munir, bahkan di dalam kamar Munir, yang kini berubah menjadi ruang publik bernama Omah Munir di Jalan Bukit Berbunga, Kota Batu.

Aksi teatrikal berjudul Semua Sadar Semua Diam, menurutnya, banyak terinspirasi sikap kebanyakan orang di lingkungannya yang memilih untuk melupakan tragedi kerusuhan 1998 dengan berbagai alasan.

Mulai dari trauman, takut, enggan hingga upaya untuk melupakan dosa yang lalu. “Mereka sadar, mereka tahu tentang kejahatan kemanusiaan, tetapi mereka memilih diam, tak berbuat apa pun,” katanya.

Sementara itu, di sudut lain Omah Munir terdapat layar televisi datar yang menyala, tanpa gambar. Layarnya menampilkan ribuan titik hitam serupa semut, seolah televisi sedang mencari saluran yang tepat. Suaranya terdengar jernih. Ada teriakan, tangisan dan riuh keributan terdengar, berulang-ulang dan selalu terputus, tak pernah terdengara tuntas. Perangkat dengan media audio visual itu berjudul 00:02:07.

“Itu adalah rekaman berbagai peristiwa tragedi kemanusiaan di Jakarta dan daerah lain di Indonesia, mulai kerusuhan 1998, kerusuhan Semanggi sampai aksi Kamisan di depan Istana Negara,“ katanya.

Tampilan televisi itu terus menampilkan titik-titik hitam, sedangkan suara televisi memperdengarkan aneka tuntutan, tangisan, potongan berita hingga nyanyian para pengunjuk rasa yang timbul dan tenggelam, terdistorsi dan tak pernah tuntas.

Inspirasi dari Tragedi 1998
Di ujung rekaman berdurasi dua menit terdengar kata masih hilang yang terus berulang. “Butuh upaya untuk fokus dan mendengar ke rekaman tanpa terpecah dengan visualisasi televisi. Ada banyak kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi dengan korban yang hilang dan tak pernah tuntas terselesaikan,” kata penyuka fotografi ini.

Di sudut lain tersebar 47 foto mini berukuran 1,5 centimeter tertempel di dinding Omah Munir. Foto-foto yang diambil pada 2013 itu mengisahkan tentang keseharian keluarga Suciwati dan dua buah hatinya di Batu, dari balik lensa kamera Yaya Sung. Karya yang diambil di 2013 itu didapatnya, setelah tinggal selama tiga hari bersama keluarga Suciwati di Kota Batu.

Alumnus jurusan Desain Grafis dan Komunikasi Visual UPH Karawaci itu sengaja menyempatkan tinggal di Batu untuk mengenal lebih dekat penggagas aksi Kamisan itu. “Awalnya saya tidak kenal Suciwati, tapi sosok Munir Said Thalib dan perjuangannya mendorong saya untuk riset lebih dalam dengan keluarganya tahun 2013,” katanya.

Deret foto mini itu oleh Yaya Sung diberi judul Jalan Sepi. Seperti Suciwati dan Munir, jalan sepi bermakna jalan hidup yang tak banyak dipilih keluarga lain di dunia. “Saya mengajak pengunjung lebih dekat dengan kehidupan personal mereka lewat kaca pembesar,” ujarnya.

Korban diskriminasi etnis
Tepat di seberangnya, ada banyak merchandise yang mengingatkan tentang aksi Kamisan, Munir Said Thalib dan sejumlah aktivis kemanusiaan yang raib hingga kini. Ada kaos, topi, gelas dan berderet foto aksi Kamisan yang berlangsung sejak tahun 2007 hingga kini di depan Istana Negara. “Ini adalah miniatur memorial, sebuah museum yang seharusnya mendapat persetujuan dan didukung oleh Pemerintah, seperti lubang buaya, misalnya,” katanya.

Namun, nyatanya tak pernah ada kehadiran pemerintah dalam museum orang hilang. Kehadiran pemerintah, bahkan belum ada untuk mendukung pengusutan tuntas berbagai kasus kemanusiaan di Indonesia. “Ini seperti ironi, sebuah tiruan museum tanpa kehadiran pemerintah,” katanya.

Pameran serupa telah berlangsung di Jepang dalam Koganecho Bazaar, Agustus 2014, dengan judul Memorial Kamis Payung Hitam.

Wanita yang lahir dari keturunan Tionghoa itu mengaku banyak terinsipirasi dengan aksi Kamisan. Setiap hari Kamis, aktivis tak kenal lelah dan sukarela berdiri di depan Istana Negara menyuarakan berbagai kekejian kemanusiaan yang belum berujung. Sedangkan kerusuhan 1998 semakin terlupakan tanpa pernah diketahui siapa pelakunya.

“Aksi ini menjawab banyak pertanyaan saya, ketika saya pernah merasakan diskriminasi karena ras di Jakarta di suatu saat yang lalu, tapi merasa terasing ketika berada di negara China. Ketika banyak yang ingin melupakan kerusuhan 1998, karena berbagai alasan,” katanya.

Semua pemikirannya tentang suara dan harapan yang tidak terdengar itu terwujud dalam lima karya seni instalasi yang dipamerkan di Omah Munir hingga 30 Desember nanti. Karya tersebut, antara lain, Memorial Kamis Payung Hitam, Jalan Sepi terdiri dari 47 foto mini kehidupan pribadi keluarga Munir, aksi tetarikal berjudul Semua Sadar Semua Diam yang berlangsung satu hari saja pada 9 Desember, media audio visual berjudul 00:02:07 dan area partisipatif meniup balon berjudul Saya Meminjam, Mereka Berbagi, Sebuah Bentuk Jawab.

Pameran pertama di Omah Munir
Pameran yang juga diikuti fotografer Antara, Fanny Octavianus di Omah Munir adalah pameran pertama di ruang publik, bekas rumah Munir Said Thalib, yang baru berusia satu tahun itu. Karya dua seniman itu telah melewati masa kurasi oleh Seno Gumira Ajidarma selama satu bulan terakhir.

Menurut Seno, kesenian fotografi dan instalasi milik dua seniman bisa bergabung menjadi satu di Omah Munir lantaran dilandasi semangat yang sama meski dalam bentuk yang berbeda. “Pameran ini adalah ruang tempat keduanya bertemu dan terhubung dengan satu gerakan. Menjadi hak penonton sepenuhnya untuk menilai,” katanya.

Yaya Sung berharap, pameran pertama di Omah Munir itu bisa berlanjut setiap tahun di tempat yang sama. Pameran itu bisa menjadi wadah ekspresi sekaligus pertukaran informasi antara aktivis dan seniman yang fokus pada isu kemanusiaan.

“Saya bukan aktivis yang bisa berteriak nyaring di lapangan. Saya hanya bisa menyuarakan aspirasi saya lewat seni. Pameran ini bisa mewadahi kami berbagi informasi dengan aktivis kemanusiaan lain,” katanya.

Sumber

---

Sudahi saja aksi SARA di negeri ini emoticon-Smilie

Gak ada orang yang mau terlahir jadi minoritas dari SARA tertentu di negeri ini emoticon-Smilie

Gak menjamin SARA yang mayoritas lebih baik atau unggul dari SARA yang minoritas emoticon-Smilie

emoticon-I Love Indonesia
Thread Sudah Digembok
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 3
yang suka nyulut api kan kaum 'itu' gan......... emoticon-Ngakak

liat aja gol panasbung yng klo komen 'jaka sembung', apalgi klo threadnya lagi baik2nya tttg jokowi emoticon-Ngakak

Quote:


Quote:


Kaum mana gan? emoticon-Bingung (S)
sudah sudah ga usah bahas sara2an lagiemoticon-Ngakak
Post ini telah di hapus oleh KomodoJogging
bahkan negara super power dan sedemokratis serta paling menjunjung tinggi HAM masih belum bisa menghilangkan SARA kok emoticon-Smilie


sekarang aja banyak demo terkait isu sara disana, akibat ulah polisi ke warga kulit berwarna



Quote:


Lama-lama di sini juga bakalan ada demo yang sama gan emoticon-Smilie
pokoknya kerusuhan 98 kudu tuntas.. kalo itu ane dukung emoticon-Smilie
Semuanya sama, sama sama anak bangsa emoticon-Cool
bikin trit ini sama aja ente buat jarak dengan suku yang lain
sampe ini hr msh bnyk org yg menggangap WNI thionghoa itu datang dr china (wna) emoticon-Cape d... (S)







btw itu berita ttg seni kan? emoticon-Bingung (S)
ya elah bukan hny di indo tong
hidup di amerika jg ada diskriminasi (kulit putih kulit hitam)
skrg kan udah engga, diungkit lagi, ah elah
Kagak ngefek. Mau lahir sebagai etnis manapun, kemungkinan diskriminasi tetap ada. Karena diskriminasi nggak berasal dari status yang kita bawa, tapi kebodohan, kebencian dan ketidaktahuan pelaku diskriminasi. Jadi nggak perlu mewek2 bilang etnisnya selalu didiskriminasi. Kalau merasa didiskriminasi, lawan. Dari manapun anda berasal. Diskriminasi itu terjadi karena kita membiarkan diri kita didiskriminasi. Thats my opinion. emoticon-Wink
Post ini telah di hapus oleh Kaskus Support 03
sepertinya masalah rasis masalah yg selalu jadi masalah di seluruh dunia,
yg penting kita nya yg harus bersikap menghargai perbedaan dan tidak "mengenarilisir "

CMIIW
Quote:


gak mungkin bray.. kalo demo, yg jaga toko siapa??
ga usah mewek lah malah kbnyakan minoritas itu menindas yg mayoritas lohemoticon-Embarrassment

alah minoritas playing victim emoticon-fuck3emoticon-fuck2
ane jg pernah jadi pelaku rasisme gan, wktu SMA tahun 2000 dulu, smp skr itu trus menghantui ane, gak tenang gan, nyesel trus, seandainya waktu bs diulang, ane pgn menghapus itu.
tp skr ane udah tobat dan trus mengkampanyekan anti terorisme, radikalisme, dan rasisme sembari trus memperbanyak kebaikan, semoga emoticon-Malu (S)
percayalah, hidup terlalu singkat jk hanya utk membenci tnp alasan
Quote:


sip gan...
jangankan antar etnis.. tuh antar suku juga banyak
diskriminasi antar agama lebih2 lagi
yang membenci suku/agama/etnis lain dan menghina2 suku/agama/etnis lain tanpa tahu apa yang sebenarnya adalah sebodoh2nya /sepicik2nya dan sesempit2 pikiran orang

emang dikate pribumi doang yang mendiskriminasi? tionghoa juga sering mendiskriminasi pribumi kok (sebetulnya apa sih yang disebut pribumi ane masih bingung, muka melayu juga pendatang kali :/)

----------------------------

oh... yang ngomong aktivis HAM2 gt yah..
pantasss.. emoticon-Malu (S)
Quote:


SARA itu senjata
saat minoritas dibawah mayoritas, SARA jadi senjata untuk menyerang mayoritas, contohnya:
- Nigga vs White
- Islam vs Russia

saat minoritas di atas mayoritas, SARA jadi senjata untuk menyerang minoritas, contohnya:
- "Aria" vs Jews (PD2)
- Indo vs "Cina" (1998)
- FPI vs Ahok (now)
Halaman 1 dari 3
×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di