alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Rusuh di Paniai, Empat Warga Tewas
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54867e42d675d491408b4575/rusuh-di-paniai-empat-warga-tewas

Rusuh di Paniai, Empat Warga Tewas

Selasa, 09 Desember 2014 ,
Rusuh di Paniai, Empat Warga Tewas

JAYAPURA - Situasi Kabupaten Paniai tegang pascapembakaran Kantor KPU Paniai dan penyerangan Kantor Koramil Enarotali serta Polsek Kota Paniai Timur yang berjarak 200 meter dari Koramil. Penyerangan dan pembakaran itu sendiri dilakukan oleh ratusan masyarakat yang muncul dari Gunung Merah, Paniai, Senin (8/12) kemarin.
Dari kerusuhan itu, empat warga sipil dikabarkan tewas. Sedangkan enam aparat keamanan, tiga dari anggota Polsek Kota Paniai Timur dan tiga anggota Koramil mengalami luka-luka.
Tak hanya itu, satu mobil milik Koramil dan tiga mobil milik warga yang diparkir di depan Koramil juga turut dibakar massa.
Sampai saat ini pihak kepolisian masih belum dapat mengidentifikasi motif penyerangan dan pembakaran, maupun siapa yang bertanggung jawab terhadap kerusuhan tersebut. Alasannya, kepolisian belum bisa masuk ke Paniai dan baru hari ini (Selasa,9/12) Kabidpropam dan Direskrimum rencananya akan ke Paniai untuk mengamankan situasi.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono kepada wartawan membeberkan kronologi peristiwa di Paniai itu, yaitu bermula dari pada Minggu (7/12) pukul 20.00 WIT terjadi kesalahpahaman antar dua kelompok masyarakat di Pondok Natal Gunung Merah, Paniai. Dari pertengkaran dua kelompok warga ini, sempat terdengar suara tembakan oleh salah satu kelompok masyarakat yang belum dapat diidentifikasi.
“Awalnya ada seorang masyarakat berkendara motor, kemudian lampu mati dan melintas di Pondok Natal. Nah orang itu diteriaki oleh masyarakat yang ada di Pondok Natal sehingga mengancam akan balik ke Pondok Natal bersama temen-temannya. Tak lama, 8 orang datang lalu baku pukul, lalu di antara 8 orang itu satu orang mengeluarkan tembakan,”jelas Pudjo, Senin (8/12).
Beberapa jam kemudian, Senin (8/12) dini hari sekitar pukul 02.00 WIT terjadi kebakaran Gedung KPU Paniai dan berhasil dipadamkan meskipun sudah rusak parah.
Pudjo menjelaskan bahwa sebetulnya gedung KPU tersebut telah dipalang oleh masyarakat waktu itu, diduga gara-gara persoalan Pileg yang masih belum selesai.
“Kemudian pukul 08.00 WIT pemalangan di Jalan Medi Enarotali oleh polisi dibuka dengan negosiasi. Tetapi saat negosiasi terdengar rentetan tembakan dari atas Gunung Merah sekitar 2-3 km. Setelah terjadi rentetan tembakan itu, masyarakat sekitar 400 hingga 600 orang turun dari gunung dan melakukan penyerangan ke Koramil Enarotali,” lanjut Kabidhumas.
Dikatakannya, penyerbuan itu bermula dari Koramil Enarotali dengan menggunakan batu, panah, parang dan tombak, disusul menyerang Polsek Kota Paniai Timur yang jaraknya sekitar 200 meter.
Sementara anggota hanya bertahan di Polsek dan Koramil untuk meminimalisir jatuhnya korban. Karena jika anggota keluar maka akan berbahaya karena melawan ratusan masyarakat.
“Dari peristiwa itu, tiga anggota Koramil Enarotali serta tiga anggota Polsek Kota Paniai Timur luka-luka. Tak hanya itu, satu unit mobil di Koramil dan tiga mobil milik masyarakat yang diparkir depan Koramil hancur,”sambung Pudjo.
Dari empat warga sipil yang diduga meninggal dunia, Kabidhumas mengatakan bahwa pihaknya masih belum bisa memastikan apakah keempat korban itu tewas dari penyerbuan atau perkelahiaan ketika di Pondok Natal.
“Kita masih menyelidiki kasus tersebut, termasuk ke rumah sakit. Penyelidikan itu dilakukan secara tertutup, mengingat takut menjadi sasaran pengeroyokan warga,” kata Pudjo.
Pada kesempatan itu, Kabidhumas berpesan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi, demikian juga kepada aparat kepolisian maupun TNI agar bertindak professional dan tidak terprovokasi balik.
“Ini masyarakat diprovokasi untuk menyerbu Koramil dan Polsek, namun masih belum kita ketahui siapa provokatornya. Maka itu, saya minta aparat bertindak profesional dan tidak salah langkah,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Deliaman TH Damanik saat dikonfirmasi terkait kerusuhan di Paniai itu mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidikinya, apakah prajuritnya terlibat atau tidak. “Sudah saya dengar tentang itu, tapi belum jelas informasinya bagaimana,” tegasnya didampingi Kapendam Kolonel Arh Rikas Hidayatullah, kemarin.
Di tempat terpisah, Ketua Dewan Adat Paniai, John N.R Gobay kepada wartawan menyampaikan bahwa kejadian kerusuhan di Paniai tersebut bermula pada 7 Desember pukul 24.00 WIT sebuah mobil Fortuner berwarna hitam melintasi perbukitan Togokotu Kampung Ipakiye Paniai Timur dengan kondisi lampu mobil yang dimatikan.
Di saat bersamaan di atas bukit tersebut terdapat sebuah pondok Natal yang di dalamnya terdapat beberapa anak muda. Karena mobil jalan dengan kondisi lampu mati membuat pemuda ini menegur dan meminta untuk menyalakan lampu. Namun permintaan tersebut berbuah pertengkaran mulut dan mobil tersebut melanjutkan perjalanan ke Posko Timsus 753 di Uwibutu kemudian kembali ke lokasi pondok tadi bersama beberapa anggota Batalyon 753.
“Saat itulah terjadi penganiayaan terhadap seorang anak yang berusia sekitar 12 tahun. Setelah penganiayaan tersebut pada pagi harinya atau Senin (8/12) kemarin rombongan masyarakat Kampung Ipakiye dengan jalan kaki menuju ke Kota Enarotali yang berjarak 5 KM untuk mempertanyakan pelaku dan mobil yang digunakan saat melakukan penganiayaan,” kata Jhon Gobay di Sekretariat ALDP, Padang Bulan, Waena, Kota Jayapura, Senin (8/12) kemarin.
Menurut Jhon, kedatangan masyarakat ini untuk meminta penjelasan. Lalu pukul jam 10.00 karena masyarakat marah akhirnya membakar mobil Fortuner tadi dan berkumpul di lapangan Karel Gobai, Enarotali sambil melakukan waita, menyanyi dan menari. Aksi ini kemudian ditanggapi aparat keamanan dengan melakukan pembubaran secara paksa hingga berbuntut pada penembakan yang menewaskan menewaskan 4 orang masyarakat sipil dan lainnya luka- luka.
Empat korban tewas yang disebutkan Jhon adalah Habakuk Degei, Neles Gobai, Bertus Gobai dan Apinus Gobai. Sementara 22 orang lainnya mengalami luka-luka dan 4 orang masih kritis.
Namun data lapangan yang diperoleh Cenderawasih Pos menyebutkan bahwa ada lima pemuda yang menjadi korban tewas tersebut adalah Abiai Gobai, Simon Degei, Otianus Gobai, Alvius Youw dan Yulian Yeimo. “Semuanya duduk di kelas 3 SMA dan ada kepala kampung Awabutu bernama Jerry Kayame yang juga masih dirawat di rumah sakit termasuk Yulian Tobai yang bekerja sebagai security di RSUD Paniai,” kata sumber Cenderawasih Pos yang berada di Paniai.
Menurut Jhon Gobay, kehadiran TPN/OPM selalu menjadi sasaran untuk menjustifikasi kekerasan yang dilakukan oleh aparat TNI/POLRI di Paniai. Seakan-akan semua masyarakat Paniai anggota TPN/OPM dan kekerasan di Paniai dilakukan oleh TPN/OPM. Padahal dalam kejadian ini tidak ada kaitan dengan TPN/OPM. “Ini murni masyarakat yang jadi korban kekerasan. Kejadian ini adalah bentuk pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan,” tegasnya.
Dari kejadian ini pihaknya meminta kepada Kapolda Papua dan Pangdam XVII/Cenderawasih untuk turun langsung ke Paniai, sebab masyarakat menuntut agar Kapolda dan Pangdam melihat langsung jenazah para korbannya. “Masyarakat menyatakan tidak akan mengubur jenazah para korban sebelum Kapolda dan Pangdam melihat langsung ke Paniai,” tuturnya.
Pihaknya juga meminta Kapolda dan Pangdam agar segera memeriksa Komandan Timsus 753 Enarotali, Kapolres Paniai dan Danpos Brimob untuk memastikan anggotanya yang terlibat dalam kejadian penembakan ini dan memproses secara hukum dan terbuka kepada masyarakat bahwa sebenarnya siapa yang telah melakukan penembakan. Pihaknya juga meminta agar Kapolda dan Pangdam tidak memutarbalikkan fakta dengan menuding TPN/OPM ikut terlibat atau melakukan intervensi terhadap kasus ini. Karena ini murni tuntutan keluarga korban penganiayaan. Pihaknya juga meminta agar Kapolri dan KASAD menarik semua pasukan baik Polres, Koramil, Timsus 753, Brimob, Kopasus termasuk BIN dari Paniai, karena tidak mengamankan masyarakat melainkan ikut melakukan kekerasan.
“Kami juga mengutuk tindakan Kapolres Paniai yang berupaya membangun opini dengan menyatakan tindakan penembakan ini dilakukan karena ada intervensi TPN/OPM dan telah mengganggu suasana kedamaian Natal di Paniai. Kami juga menuntut membayar denda kepala (denda adat), sebesar Rp 4 miliar, artinya 1 miliar/korban atas korban masyarakat sipil yang tidak berdosa karena selama ini aparat menembak orang tanpa merasa bersalah dan institusi tidak pernah secara transparan memproses pelaku dalam beberapa kasus penembakan di Paniai,” tegasnya.
Sementara salah satu anggota DPR Papua, Decky Nawipa juga membenarkan ada kejadian penembakan itu dan rencananya tim DPR Papua akan segera berangkat ke Paniai dengan didampingi Komnas HAM. “Semoga besok (hari ini,red) sudah bisa terbang langsung ke sana,” kata Decky.
Sumber lain di RSUD Paniai membenarkan bahwa ada satu pasien yang ditangani akhirnya meninggal. “Betul ada 1 pasien yang kami tangani akhirnya meninggal. Setelah dioperasi selama setengah jam akhirnya tak tertolong akibat pendarahan yang banyak sekali. Memang ada 13 orang yang dibawa (ke rumah sakit) setelah kejadian itu,” jelas salah satu pegawai RSUD Paniai.
Sementara Kapolres Paniai AKBP Daniel Prionggo yang dihubungi via telp ternyata Hpnya tak aktif. (rib/ade/fud)


ASUmber

Banyak OPM yang ketembak mengaku sebagai warga sipil
Soalnya memang tidak bisa dibedakan mana OPM mana warga sipil
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
entah kenapa setiap bulan desember,tanah papua menjadi tambah rawan..dan itu bertepatan jg dgn ulang tahun OPM yg (kalau gak salah) jatuh tgl 1 Desember
emoticon-Takut (S)
OPM= separatis aja? biar ada legitimasi di DOM...atau diburu terus pakai BRIMOB
Quote:


susah mbedain yg mana OPM yg mana bukan OPM
baik salah tembak atau tidak komnasham pasti teriak2
Jejak “Asing” di Papua
Tim Riset Global Future Institute
Rincian manuver campur-tangan asing dalam ikut serta mengkondisikan sikap perlawanan berbagai kelompok separatis pro kemerdekaan Papua sepanjang rentang waktu antara 2002 hingga 2009.
29 Mei-4 Juni 2009
Digelar Kongres Papua yang dihadiri Sekretaris Kedutaan Besar Amerika, utusan Australia, Inggris dan negara asing lainnya. Kongres tersebut sepakat menggugat penyatuan Papua dalam NKRI yang dilakukan pemerintah Belanda-Indonesia dan PP pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.
7 Desember 2009
Terjadi penyerangan kantor Polsek Abepura oleh sekelompok orang bersenjata golok dan parang. KPP HAM Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi pelanggaran beat hak asasi manusia berupa kejahatan terhadap kemanusiaan.
31 Maret 2001
Sekelompok orang bersenjata menyerang PT Darma Mukti Persada(DMP) di kecamatan Wasior.
November 2001
Kerusuhan di Sentani pasca pembunuhan Ketua Presidium Dewan Papua(PDP) Theys Hiyo Eluay.
April 2003
Terjadi pembobolan gudang senjata api milik kodim Wamena.
31 Agustus 2002
Terjadi penembakan di Mile 62-63 jalan Timika Tembagapura yang menewaskan tiga karyawan Freeport Indonesia. Dua warga Amerika Serikat dan satu WNI. AS menggunakan momentum ini untuk mengangkat isu Papua ke dunia internasional. FBI dan CIA datang ke Papua untuk mengusut peristiwa itu. Persoalan Papua berhasil diangkat menjadi perhatian negara-negara di dunia maupun masyarakat internasional sebagai kasus pelanggaran HAM.
Maret 2004
Uskup Desmon Tutu, parlemen Irlandia, parlemen Eropa, LSM, mendesak PBB untuk meninjau ulang Pepera 1969.
28 Juni 2004
19 senator AS berkirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Kofi Anan, agar menempatkan perwakilan khusus untuk Indonesia guna memonitor kondisi hak asasi manusia di Papua Barat dan wilayah Aceh.
Juli 2005
Kongres AS membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) 2601 yang memuat masalah Papua, yang akhirnya disetujui oleh Kongres AS. RUU tersebut menyebutkan adanya kewajiban Menteri Luar Negeri AS untuk melaporkan kepada kongres tentang efektivitas otonomi khusus dan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat(Pepera) 1969.
Akhir 2005
Kongres AS mempermasalahkan proses bergabungnya Irian Barat(Papua) dengan Indonesia.
Maret 2006
Kepala Badan Intelijen Nasional(BIN) Syamsir Siregar mensinyalir ada upaya LSM yang didanai asing ikut memprovokasi kerusuhan di Abepura.
Maret 2006
Kementerian Imigrasi Australia memberikan visa sementara bagi 42 aktivis pro kemerdekaan Papua yang meminta suaka politik.
28 November 2007
Anggota Kongres AS, Eny Faleomavaega, kembali melakukan kunjungan ke Indonesia. Secara khusus Eny melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah Papua seperti Biak dan Manokwari, untuk melihat langsung kondisi Papua setelah enam tahun otonomi khusus(otsus).
16 Juni 2008
ICG(International Crisis Group) mengeluarkan laporan “Indonesia: Communal Tension in Papua.” Disimpulkan bahwa pemerintah mendukung aktivitas Islam untuk menganeksasi minoritas non Muslim di Papua.
Juli 2008
40 anggota Kongres AS mengirimkan surat ke Presiden SBY, mendesak untuk membebaskan segera dan tanpa syarat Filep Karma dan Yusak Pakage.
Diolah dari berbagai sumber.
Berantem n saling bunuh trus....kadang cuma hal sepele, ributnya jd satu kampung
uda,di closed aja nc tread,,jadi ladang para HAMburger berkoar2emoticon-Mad
alm. bapak pernah bilang HAM itu apa? gak jelas...
mereka prajurit, gak nembak mati..nembak kena pelanggaran HAM?

ah...mungkin sebab ini saya engga di berkahi masuk militer. kalau iya, mungkin saya sudah masuk televisi karena pelanggaran HAM 😌

saya tinggal di abepura 1991-2001 😎


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di