alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5461e19ca09a39cb748b456e/sudjiwo-tedjo---ngawur-karena-benar
Sudjiwo Tedjo - Ngawur Karena Benar
Sudjiwo Tedjo - Ngawur Karena Benar

Saya mau sharing sedikit hasil wawancara saya untuk Buletin Seni UI Bernama "Payung" (Tempat Seni Bernaung) edisi pertama bersama mbah Sudjiwo Tedjo di tahun 2012. Ini merupakan tulisan pertama saya. Jadi cukup berkesan buat saya, selamat membaca emoticon-Smilie

Kemacetan melanda Jakarta lagi malam itu, hari Sabtu tepatnya tanggal 3 Maret 2012 Ojek Payung tetep bersemangat nyambangin markas seniman besar yang nyentrik sekaligus kharismatik, Sujiwo Tejo. Pas nyampe di studionya di daerah Lebak Bulus tim ojek payung rada gugup soalnya Mbah Tejo yang juga menjabat sebagai presiden Jancukers malam itu berpenampilan santai tapi tetap berwibawa. Luar biasa… Hingga akhirnya Kami berbincang-bincang tentang kesibukan sehari-hari mbah Tejo, bukunya yang baru aja diterbitin, Jancukers, Wayang pasir sampe jejaring sosial bernama Twitter. Berikut ini hasil wawancaranya…

Ojek Payung : Mbah lagi sibuk apasih sekarang ?

Mbah Tejo : Aku dari kemarin lagi nyiapin buat tampil di Java Jazz hari Minggu tanggal 3 Maret 2012 besok jam 3 di Kemayoran. Beberapa hari ini lagi latihan buat tampil di sana. Tetapi beberapa bulan belakangan ini Aku konsen ngerjain buku-buku yang akan diterbitkan bulan Mei.Satu Bukuku yang baru aja terbit di toko-toko buku judulnya “Ngawur Karena Benar”. Selain itu Aku juga lagi ngerjain albumku yang kelima yang rencananya akan selesai awal April.Selain itu aku juga sering mengisi seminar-seminar dan tampil sebagai dalang di berbagai acara.

Ojek Payung : Mbah kenapa sih milih Wayang sebagai konsen Mbah di bidang seni?

Mbah tejo : Karena bapakku dalang. Jadi aku enam bersaudara, Cuma aku yang satu-satunya nerusin jadi dalang. Tejo itu sebenernya bukan namaku tapi nama Bapakku. Waktu aku kecil aku sering bantu-bantu Bapak kalo mau pentas dalang, jadi sebenernya aku ga milih karena dari kecil aku gede di lingkungan wayang. Pilihan-pilihan baru ada setelah itu seperti main film, nulis buku, dll. Yang dalang bukan pilihan Cuma memang aku vakum beberapa lama dan sekarang aktif lagi.

Ojek payung : Kenapa jadi suka nulis Mbah ?

Mbah Tejo : aku tertarik catatan pinggirnya Goenawan Mohammad di Tempo, Mahbub Djunaedi di Kompas dan M.Awi Brauer. Sehingga setelah itu Aku mulai nulis di Buletin ITB yang terbit 2 minggu sekali. terus tiba-tiba tulisanku dimuat di Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Kompas, cerpenku juga terbitin di Anita Cemerlang, Gadis, gitu-gitu loh. Setelah dari Bandung aku 8 tahun kerja di Kompas. Dulu aku juga sempet jadi penyiar baca-bacain surat cinta, ikut UKM Persatuan Seni tari dan Karawitan Jawa, aku ketua bidang pedalangan saat itu. Setelah itu aku sadar orang-orang sekelilingku tuh orang-orang seni bukan ke enginer. Semuanya bergulir dari sebuah pilihan itu…

Ojek payung : Beralih ke fenomena yang Mbah tampilin nih yaitu Wayang Pasir, apakah itu terobosan baru atau emang kesenian asli Indonesia atau mungkin adaptasi dari luar?gimana tuh Mbah?

Mbah Tejo : kalo bicara tentang apapun termasuk kesenian kita ga bicara tentang keaslian, padi aja bukan asli kita tapi dari India. Kalo kita bicara tentang lukisan pasir memang bukan asli dari Indonesia. Yang penting di dalam kesenian adalah kreasi. Begitu juga wayang yang naskahnya dari India, Mahabrata dan Ramayana. Aku bertemu dengan Fauzan (alumni ITB) yang menggeluti lukisan pasir, aku bilang ke dia ini kan bisa buat cerita wayang juga.akhirnya kita kolaborasi dan menurut aku lukisan pasir tentang wayang baru kami yang pertama kali mainin.

Ojek Payung : Kenapa mbah tertarik dengan wayang pasir ?

Mbah Tejo : Karena kesunyiannya dapet, umumnya kan tentang cerita perang dunia, palang merah dan cerita tentang kesunyian lainnya kalo wayang kulit semalam suntuk kan yang ditunjukkan kemeriahannya dengan gamelan. yang kedua biaya pentas juga makin berkurang karena kita tampil Cuma berdua ga pake gamelan atau sinden.dan yang kita garap di sini adalah masalah-masalah psikologinya kaya masalah-masalah cinta, kesunyian, kecemburuan, kegetiran semua itu sangat muncul dalam bentuk-bentuk wayang pasir yang warnanya hitam putih kemerahan itu.Menurutku lebih dapet aja suasana kesunyiannya.gitu loh.. Saat ditampilkan di media TV ternyata respon masyarakat juga sangat bagus. Buat aku wayang pasir sangat tepat untuk melukiskan konflik-konflik batin di cerita wayang.

Ojek payung : Wah keren banget Mbah! oke Beralih ke Jancukers nih mbah, sebenernya dengan Jancukers ini apasih yang Mbah pengen tampilin ke masyarakat luas ?

Mbah Tejo : Aku capek dengan kemunafikan. Nah kata Jancuk itu menurutku yang paling pas buat keadaan sekarang.Kata Jancuk spektrumnya sangat luas bukan seperti kata-kata makian pada umumnya. Buat kami yang dari Jawa Timur kata itu biasa aja karena emang bahasa sehari-hari.suatu hari aku ngetwit “jancuk” tiba-tiba aja respon di twitter gila-gilaan. Orang banyak mengomentari dan nanyain apa itu jancuk? Menurutku banyak fenomena di Indonesia yang menurtku munafik. Seperti pemerintah ngomong “ayo cintai produk dalam negeri” tetapi seniman Indonesia yang ingin tampil di luar negeri dan emang berprestasi tidak dibiayai oleh pemerintah, pontang-panting termehek-mehek cari dana sendiri. Beras impor, garam impor padahal Indonesia negeri dengan garis pantai terpanjang dan salah satu Negara dengan tanah yang subur. Sangat kontradiktif, sampe timbul pertanyaan Sebenernya keseriusan kita ada gak sih?dugaanku ini munafik. Di situlah gunanya “jancuk”, setelah aku ngetwit aku sadar banyak orang yang merasa mumet juga sama keadaan Indonesia. Lalu ada yang ngusulin buat komunitas jancukers.semuanya ngalir gitu aja tanpa direncanain sampe sekarang.

Ojek Payung : Mbah menikmati ga sih komunikasi dengan masyarakat lewat Twitter?

Mbah Tejo : 50% menikmati 50% jengkel karena gini jengkelnya itu karena setiap hari ada follower baru yang nanya hal-hal yang udah aku jelasin di twit-twitku sebelumnya. Contohnya tentang jancuk itu.Padahal aku udah refer ke webku. Banyak juga yang menurutku “terjun bebas” yaitu orang-orang yang asal twit tanpa memiliki pengetahuan tentang diskusi dan tradisi baca tulis.Jadi asal kritik tanpa ilmu. Tapi 50% menurutku sangat efektif untuk melontarkan ide-ide.

Ojek payung : Beralih ke gaya hidup sesuai Tema Payung nih Mbah, sekarang ini kan banyak anak muda yang pengen keliatan gaya hidupnya nyeni karena ada anggapan bahwa makin nyeni makin keren.Kalo buat Mbah sendiri gimana sih mbah?

Mbah Tejo : Aku selalu bilang kalo ukuran kesenimanan seseorang itu bukan dari penampilan tapi dari karyanya.Tapi ada beberapa orang yang meniru permukaannya aja, yaitu penampilannya.Padahal banyak seniman yang rapi kaya Idris Sardi, Adi MS, dll. Kalo aku seperti ini ya karena aku nyaman kaya gini. Dari SMA aku gak pernah kuat pake sepatu karena gerah, aku seneng pake jaket sejak dari Bandung karena dari kecil aku suka Ko Ping Ho, mungkin juga aku dari kecil pangen jadi tentara tapi ga kesampean jadi begitu pake jaket ada rasa kependekaran gitu loh, jadi buat apa hidup kalo ga nyenengin diri sendiri.Aku pake Topi ini dari Australi karena aku tampil nyanyi di sana dan dikasih topi ini, jadi ini hasil kerja kerasku. Jadi kalo orang bilang aku nyentrik ya terserah. Aku juga ga suka ke mall karena aku langsung pusing ngeliat orang banyak, aku lebih suka di tempat di mana aku masih bisa ngeliat tanah.Tapi bukan terus membenci lalu apa, Cuma aku heran aja kalo ada laki-laki di Mall. Menurutku dunia Mall dunia perempuan karena perempuan kan daya saingnnya tinggi. heuheuheu...

Ojek Payung : Mbah punya ga sih cita-cita yang belum kesampean buat diri sendiri?

Mbah Tejo : Aku gak tau cita-citaku apa, tapi rasanya semua yang aku capai sekarang belum yang aku cita-citakan. Untuk pribadi aku gatau karena aku praktis ga mikirin diriku, dari semua karya-karyaku yang aku pikirkan adalah reaksi dan pikiran orang tentang tulisan atau karya-karyaku ini, bukan hal yang praktis. Aku berjuang memerangi ketidakadilan melalui karya-karyaku karena inilah yang aku bisa. Dari kecil bapakku ngajarin kalo kamu mikirin orang kamu akan dipikirin orang.Tuhan itu akan memikirkan hidup kita lewat orang-orang jadi jangan hanya memikirkan diri kamu sendiri. Tugasku adalah membalikan logika yang salah kaprah bahwa gimana kamu mau mikirin orang kalo kamu ngga mikirin diri kamu sendiri. Tetapi pikirankanlah orang lain otomatis alam akan mikirin hidupmu.

Ojek Payung : Mbah ada saran ga untuk anak-anak muda yang ingin memulai bergelut di bidang seni dan budaya?

Mbah Tejo : Tirulah nenek moyang, bukan meniru produknya seperti Borobudur, batik, keroncong, jaipongan karena semua itu adalah produk. Budaya itu ada hardware dan software.produk-produk tersebut adalah hardware. Tirulah sofwarenya yaitu kemampuan untuk mengunyah, kemampuan untuk mencerna metabolisme kreatif.itu yang menurutku mati sekarang.Kemampuan untuk mengolah budaya dari luar menjadi milik kita. Contohnya nenek moyang kita mencerna musik portugis menjadi keroncong, campuran musik india dengan afrika menjadi dangdut. Kita harus bisa mencerna semua pengetahuan kita menjadi musik khas kita.cerna semua budaya tapi keluarkan dan autentikan dengan cara khas kita.olah sumber-sumber yang ada lalu relevansikan dengan keadaan masyarakat kita.gitu loh..

Ojek payung : luar biasa Mbah! Makasih banyak buat waktunya Mbah, sukses ya buat Java Jazznya besok!

Mbah Tejo : sama-sama

"pikirankanlah orang lain otomatis alam akan mikirin hidupmu. " - Sudjiwo Tedjo

semoga bermanfaat artikel ini gan emoticon-Smilie
mantap skali gan emoticon-Matabelo
nice share...
membuka mindset ane yg baru emoticon-Matabelo