alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54533d7d620881796a8b456d/ternyata-nafkah-untuk-istri-itu-bukan-uang-belanja-sehari2-itu-gan-ane-baru-tahu
Ternyata Nafkah Untuk Istri itu bukan Uang Belanja Sehari2 itu gan (Ane baru tahu)
Selama ini di masyarakat berlaku kebiasaan, jika seorang suami meninggal, semua harta otomatis dalam penguasaan istri. Barulah nanti jika si ibu sudah tua, baru difikirkan akan dibagi untuk anak anaknya. Apalagi jika anak anak masih kecil, ya udah berlalu begitu saja. Seolah-olah langsung diteruskan ibunya tanpa ada perhitungan yang jelas. Apalagi tradisi jawa yang menganggap itu adalah masalah yang "saru". Nggak sopan.

Setelah membaca buku fiqh, ternyata tertulis bahwa harta seorang istri hanyalah 1/8 (jika punya anak) dan 1/4 (jika tak punya anak). sangat berbeda dengan yang diterapkan di masyarakat.

Tetapi tadi pagi, saya membaca share seorang teman tentang HARTA ISTRI. Yaitu uang nafkah (di luar belanja) yang diberikan suami kepada istri. Jleb ! Ternyata juga banyak bangets. Coba misalnya kita ngasih nafkah istri 500 ribu saja per bulan. Pukul rata! (sebetulnya sekarang 500 ribu dapat apa :P). Maka jika kita sudah menikah 15 tahun, istri akan dapat uang 500.000 x15x12 = 90 juta. Beh... besar juga yah.......

Oke deh, saya nggak akan membahas masalah hukum yang barangkali akan multi tafsir, di bawah ini saya copas kan tentang srtikel tersebut, berikut link nya.....

Terus terang, jadi mikir nafkah istri........................
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------____________________________________________________________________________________________________________________________

KHUSUS MUSLIMAH

ANTARA NAFKAH ISTRI DAN UANG BELANJA Harta isteri adalah harta milik isteri, baik yang dimiliki sejak sebelum menikah, atau pun setelah menikah. Harta istri setelah menikah yang terutama adalah dari suami dalam bentuk nafaqah (nafkah), selain juga mungkin bila isteri itu bekerja atau melakukan usaha yang bersifat bisnis.

Khusus masalah nafkah, sebenarnya nafkah sendiri merupakan kewajiban suami dalam bentuk harta benda untuk diberikan kepada isteri. Segala kebutuhan hidup istri mulai dari makanan, pakaian dan tempat tinggal, menjadi tanggungan suami. Dengan adanya nafkah inilah kemudian seorang suami memiliki posisi qawam (pemimpin) bagi istrinya, sebagaimana firman Allah SWT:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa': 34)

Namun yang seringkali terjadi, sebagian kalangan beranggapan bahwa nafkah suami kepada istri adalah biaya kehidupan rumah tangga atau uang belanja saja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan kepada isterinya.

Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. TInggallah si istri pusing tujuh keliling, bagaimana mengatur dan menyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau istri adalah orang yang hemat dan pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran, suami tentu senang.

Yang celaka, kalau istri justru kacau balau dalam memanaje keuangan. Alih-alih mengatur keuangan, yang terjadi justru besar pasak dari pada tiang. Ujung-ujungnya, suami yang pusing tujuh keliling mendapati istrinya pandai membelanjakan uang, plus hobi mengambil kredit, aktif di arisan dan berbagai pemborosan lainnnya.

Padahal kalau kita kembalikan kepada aturan asalnya, yang namanya nafkah itu lebih merupakan ‘gaji’ atau honor dari seorang suami kepada istrinya. Sebagaimana ‘uang jajan’ yang diberikan oleh seorang ayah kepada anaknya.

Adapun kebutuhan rumah tangga, baik untuk makan, pakaian, rumah, listrik, air, sampah dan semuanya, sebenarnya di luar dari nafkah suami kepada istri. Kewajiban mengeluarkan semua biaya itu bukan kewajiban istri, melainkan kewajiban suami.

Kalau suami menitipkan amanah kepada isterinya untuk membayarkan semua biaya itu, boleh-boleh saja. Tetapi tetap saja semua biaya itu belum bisa dikatakan sebagai nafkah buat istri. Sebab yang namanya nafkah buat isteri adalah harta yang sepenuhnya menjadi milik istri.

Kira-kira persis dengan nafkah di awal sebelum terjadinya akad nikah, yaitu mahar atau maskimpoi. Kita tahu bahwa sebuah pernikahan diawali dengan pemberian mahar atau maskimpoi. Dan kita tahu bahwa mahar itu setelah diserahkan akan menjadi sepenuhnya milik istri.

Suami sudah tidak boleh lagi meminta mahar itu, karena mahar itu statusnya sudah jadi milik istri. Kalau seandainya istri dengan murah hati lalu memberi sebagian atau seluruhnya harta mahar yang sudah 100% menjadi miliknya kepada suaminya, itu terserah kepada dirinya. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa mahar itu milik istri.

Sekarang bagaimana dengan nafkah buat istri? Kalau kita mau sedikit cermat, sebenarnya dan pada hakikatnya, yang disebut dengan nafkah buat istri adalah harta yang sepenuhnya diberikan buat istri. Dan kalau sudah menjadi harta milik istri, maka istri tidak punya kewajiban untuk membiayai penyelenggaraan rumah tangga. Nafkah itu ‘bersih’ menjadi hak istri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga.

Mungkin Anda heran, kok segitunya ya? Kok matre’ banget sih konsep seorang istri dalam Islam? Jangan heran dulu, kalau kita selama ini melihat para isteri tidak menuntut nafkah ‘eksklusif’ yang menjadi haknya, jawabnya adalah karena para isteri di negeri kita ini umumnya telah dididik secara baik dan ditekankan untuk punya sifat qana’ah.

Saking mantabnya penanaman sifat qana’ah itu dalam pola pendidikan rumah tangga kita, sampai-sampai mereka, para isteri itu, justru tidak tahu hak-haknya. Sehingga mereka sama sekali tidak mengotak-atik hak-haknya.

Memandang fenomena ini, salah seorang murid di pengajian nyeletuk, “Wah, ustadz, kalau begitu hal ini perlu tetap kita rahasiakan. Jangan sampai istri-istri kita sampai tahu kalau mereka punya hak nafkah seperti itu.”

Yang lain menimpali, “Setuju stadz, kalau sampai istri-istri kita tahu bahwa mereka punya hak seperti itu, kita juga ntar yang repot nih ustadz. Jangan-jangan nanti mereka tidak mau masak, ngepel, nyapu, ngurus rumah dan lainnya, sebab mereka bilang bahwa itu kan tugas dan kewajiban suami. Wah bisa rusak nih kita-kita, ustadz.”

Yang lain lagi menambahi, “Benar ustadz, bini ane malahan sudah tahu tuh masalah ini. Itu semua kesalahan ane juga sih awalnya. Sebab bini ane tuh, ane suruh kuliah di Ma’had A-Hikmah di Jalan Bangka. Rupanya materi pelajarannya memang sama ame nyang ustadz bilang sekarang ini. Cuman bini ane emang nggak tiap hari sih begitu, kalo lagi angot doang.”

“Tapi kalo lagi angot, stadz, bah, ane jadi repot sendiri. Tuh bini kagak mao masak, ane juga nyang musti masak. Juga kagak mau nyuci baju, ya udah terpaksa ane yang nyuciin baju semua anggota keluarga.Wii, pokoknya ane jadi pusing sendiri karena punya bini ngarti syariah.”

Menjawab ‘keluhan’ para suami yang selama ini sudah terlanjur menikmati ketidak-tahuan para isteri atas hak-haknya, kami hanya mengatakan bahwa sebenarnya kita sebagai suami tidak perlu takut. Sebab aturan ini datangnya dari Allah juga. Tidak mungkin Allah berlaku berat sebelah.

Sebab Allah SWT selain menyebutkan tentang hak-hak seorang isteri atas nafkah ‘eksklusif’, juga menyebutkan tentang kewajiban seorang isteri kepada suami. Kewajiban untuk mentaati suami yang boleh dibilang bisa melebihi kewajibannya kepada orang tuanya sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, seorang anak perempuan yang kita nikahi itu sejak kecil telah dibiayai oleh kedua orang tuanya. Pastilah orang tua itu sudah keluar biaya besar sampai anak perawannya siap dinikahi. Lalu tiba-tiba kita kita datang melamar si anak perawan itu begitu saja, bahkan kadang mas kimpoinya cuma seperangkat alat sholat tidak lebih dari nilai seratus ribu perak.

Sudah begitu, dia diwajibkan mengerjakan semua pekerjaan kasar layaknya seorang pembantu rumah tangga, mulai dari shubuh sudah bangun dan memulai semua kegiatan, urusan anak-anak kita serahkan kepada mereka semua, sampai urusan genteng bocor. Sudah capek kerja seharian, eh malamnya masih pula ‘dipakai’ oleh para suaminya.

Jadi sebenarnya wajar dan masuk akal kalau untuk para isteri ada nafkah ‘eksklusif’ di mana mereka dapat hak atas ‘honor’ atau gaji dari semua jasa yang sudah mereka lakukan sehari-hari, di mana uang itu memang sepenuhnya milik isteri. Suami tidak bisa meminta dari uang itu untuk bayar listrik, kontrakan, uang sekolah anak, atau keperluan lainnya.

Dan kalau isteri itu pandai menabung, anggaplah tiap bulan isteri menerima ‘gaji’ sebesar Rp 1 juta yang utuh tidak diotak-atik, maka pada usia 20 tahun perkimpoian, isteri sudah punya harta yang lumayan 20 x 12 = 240 juta rupiah. Lumayan kan?

Nah hartai tu milik isteri 100%, karena itu adalah nafkah dari suami. Kalau suami meninggal dunia dan ada pembagian harta warisan, harta itu tidak boleh ikut dibagi waris. Karena harta itu bukan harta milik suami, tapi harta milik isteri sepenuhnya. Bahkan isteri malah mendapat bagian harta dari milik almarhum suaminya lewat pembagian waris. (eramuslim)

sumber:

www.facebook.com/khusus.muslimah/photos/a.163166863704628.32071.108919785796003/852070518147589/?type=1&fref=nf&pnref=story
setau gue nih , kalo suami meninggal itu harta suami ga jatuh ke istri (kalo ga punya anak) tapi jatuhnya ke keluarga suami ,dan istri tetep dikasih tp dalam jumlah yg ga banyak

tau deh nih bener apa ga , bokap gue juga udh gada sih tapi harta peninggalan buat gue ama adek gue , keluarga bokap ga dapet apa apa malah . ya mgkn karena ada anak jadi jatuhnya di gue .
Quote:Original Posted By dellahurahura
setau gue nih , kalo suami meninggal itu harta suami ga jatuh ke istri (kalo ga punya anak) tapi jatuhnya ke keluarga suami ,dan istri tetep dikasih tp dalam jumlah yg ga banyak

tau deh nih bener apa ga , bokap gue juga udh gada sih tapi harta peninggalan buat gue ama adek gue , keluarga bokap ga dapet apa apa malah . ya mgkn karena ada anak jadi jatuhnya di gue .


Kalau ada anak, dapat 1/8. Kalau nggak ada anak dapat 1/4. Demikian hukumnya.

ijin nyimak gan..
buat tambah2 ilmu..
Enaknya jadi cewe...
ngak semua hidupnya gini gan... mala ada suami yah yg belanja....
thanks gan....nambah ilmu baru nih....insyaallah jadi lebih siap buat nikah karena sudah semakin tahu ilmunya
oh begitu gan, nice inpoh emoticon-I Love Kaskus
Jadi untuk tabungan gt ya gan? Trs peruntukannya buat apaan?
Baru tau ane gan masalah nafkah ini. Thnx infonya gan.. bermanfaat bagi ane sbg istri haaha
belom punya istri gan emoticon-Sorry
Nice info gan

Dah lama nih pengen nyari artikel tentang ini yg ringkas.dan mudah d pahami
kewajiban suami salah satu nya malem2 gini hunting tiket kereta buay mudik gan, naudzubillah susah nya..malah nyalahin hp yg belum forji lagi..kampretto..
Quote:Original Posted By z3tri
kewajiban suami salah satu nya malem2 gini hunting tiket kereta buay mudik gan, naudzubillah susah nya..malah nyalahin hp yg belum forji lagi..kampretto..


Wkwkwkw...mudik lebaran gan?
emoticon-Ngakak
Suami ane entah udh tau soal ini apa ga.tp dari semenjak nikah dy udh duluan terapi soal nafkah "ekslusif" ini buat ane.
Kalau dy udh gajian lg,ane slalu dkse uang jajan khusus buat ane sndri.dan dy tdk akan menyentuhnya sdktpun.katanya "ini uang jajan buatmu utk beli keperluanmu,bajumu,makeupmu.simpan di rekening pribadimu.terserah mau dbelikan apa emoticon-Smilie"
Tp krn yg dkse tiap bln n lumayan jg sih gedenya,jd ane nabung2 sj buat mendadak.ane pake seperlunya sj.soalnya takutnya tiba2 suami ga punya duit,tnggal pake deh duit pemberiannya yg slama ini ane tabung
Meski itu hak istri,tp kyknya syg jg klo hrs dhabiskan sendiri.aplg klo udh punya anak.yg dpkiran mah cm kprluan anak doank
thx gan ilmu nya. ane bookmark ya...
Gak jauh" dr film idn
Drama nya agama
*edit .. takut ada yg tersungging

ane masih nganggur ..
belum bisa menafkahi ..
Jadi sebenarnya wajar klo istri cuma dpt 1/4 ato 1/8 klo memang setiap ada rejeki suami selalu memberi nafkah eksklusif istri.
Baru ngeh. Dulu suka protes kok cuma 1/8 bagiannya? emoticon-Smilie
Pernah nemu kasus ada kakak temen yg akhirnya minta bagian warisan alm.ayahnya tp ibunya malah marah dan berkata: aku ini masih hidup kau malah minta bagi2 warisan. Sy nanya ke temen (songong jg ngapain nanya) memang knp gak dibagi. Temen agak emosi, mengulang jawaban ibunya.
Kasus lain tetangga ane meninggal, seminggu ssd nya keluarga kumpul bersama org yg ngerti hukum waris. Selesai deh harta dibagi. Selain sesuai dg hitungan jatah msg2 jg disesuaikan dg kebutuhan. Misalnya Istri alm dpt rumah sewa,spd motor utk anak yg mobile.