alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5450b9f9108b46ea4d8b456a/ketika-polisi-tentara-jualan-amunisi-di-papua
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
Quote:Ketika (OKNUM) Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
JAYAPURA, KOMPAS.com - "Saya sudah perintahkan untuk mengusut sejauh mana keterlibatan ketiga anggota TNI dalam penjualan amunisi itu," kata Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan seperti dikutip Antara.

Wajah jenderal berbintang dua itu agak memerah pertanda marah. Namun, ia berupaya sabar ketika berbincang-bincang dengan wartawan di Jayapura, Provinsi Papua, terkait oknum TNI yang terindikasi kuat sebagai "pedagang" amunisi.

Amunisi adalah bahan pengisi senjata api seperti mesiu, peluru, atau bahan peledak yang ditembakkan kepada musuh seperti bom, granat, dan roket.

Namun, amunisi yang dijual oknum TNI itu baru terdeteksi berupa peluru, dan pihak yang membeli peluru tersebut merupakan gerakan sipil bersenjata (GSB) versi TNI, atau kelompok krimimal bersenjata (KKB)/kelompok sipil bersenjata (KSB) versi Polri.

Bukan rahasia lagi kalau GSP/KKB/KSB itu merupakan bagian dari komunitas pendukung Operasi Papua Merdeka (OPM). Bahkan, ada pihak yang menyebut kelompok itu sebagai Tentara Pembebasan Nasional (TPN).

Sejauh ini, Pangdam Cenderawasih itu baru membenarkan tiga orang oknum TNI yang menjual amunisi kepada kelompok pendukung OPM itu, meski beredar isu masih banyak oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dua dari tiga oknum TNI itu masih dinas aktif, dan seorang telah memasuki usia pensiun, meskipun ketiganya masih bermukim di asrama Kodim Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Cukup ironis memang, karena di satu sisi negara mengucurkan anggaran setiap tahun kepada aparat TNI dan Polri untuk menjaga kedaulatan NKRI sekaligus menegakkan hukum di wilayah provinsi paling timur Indonesia, yang juga berbatasan langsung dengan Papua Nugini (PNG).

Namun, di sisi lain ada oknum TNI dan Polri yang menjual peluru atau dengan kata lain mendukung gerakan pengacau keamanan, terutama di kawasan pegunungan Papua.

Karena itu, tanpa menunggu waktu lama, Mayjen Siahaan memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas oknum TNI yang berjualan peluru itu.

"Dua anggota TNI yang masih aktif berpangkat bintara, keduanya segera dibawa ke Jayapura untuk diperiksa POM Kodam XVII/Cenderawasih. Pemeriksaan terhadap keduanya mengarah kepada keterlibatannya pada organisasi pendukung OPM itu," ujarnya.

Untuk anggota TNI yang sudah pensiun, akan "diusir" dari asrama TNI, dan yang bersangkutan juga akan diserahkan ke polisi untuk diperiksa lebih lanjut.

Siahaan mengakui, keterlibatan oknum prajurit TNI dalam mendukung gerakan sipil bersenjata itu mengindikasikan kelompok pengacau keamanan itu telah masuk ke lingkup TNI. Ia menyebut hal itu sebagai "duri dalam daging" yang dapat mengganggu kenyamanan di tubuh institusi TNI.

Oknum Polri

Selain tiga orang oknum TNI itu, seorang anggota Polri, yakni Briptu TJ, juga terindikasi kuat menjual amunisi kepada kelompok pendukung OPM itu. Karenanya, Briptu TJ terancam dipecat.

Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende mengaku, segera mengusulkan pemecatan oknum polisi yang berdinasi Polsek Nduga, Kabupaten Jayawijaya itu.

"Dalam waktu dekat, (Briptu TJ) akan disidang kode etik dan diusulkan untuk dipecat dari kepolisian," ucap Irjen Pol Mende.

Selain diusulkan untuk dipecat, Briptu TJ juga akan diajukan ke pengadilan sipil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Saat dilakukan penggeledahan di rumah Briptu JK diperoleh 231 butir amunisi, yang diduga akan dijual ke kelompok sipil bersenjata yang sering membuat keresahan di pegunungan tengah Papua.

Bahkan, dari pengakuan salah satu anggota KSB, yakni Rambo Wonda, terungkap kalau mereka membeli peluru dari aparat keamanan.

"Selain 231 butir peluru yang ditemukan di rumah kos oknum anggota polisi itu, juga ditemukan 29 butir peluru yang dibeli dengan harga Rp 3 juta," ungkap Mende.

Kapolda pun tidak menampik kemungkinan anggota polisi lainnya juga terlibat dalam kasus penjualan amunisi ke kelompok sipil bersenjata itu.

Untuk mengetahui, keterlibatan oknum polisi lainnya, penyidik Polda Papua intensif melakukan pemeriksaan terhadap lima orang yang terindikasi kuat sebagai bagian dari kelompok krimimal bersenjata di pegunungan tengah Papua.

Kelima anggota kelompok bersenjata itu, yakni Pinus Wonda alias Rambo Wonda alias Kolor alias Engaranggo Wonda (27), Derius Wanimbo alias Rambo Tolikara (30), AW (18), MW (20), NT (16) isteri Rambo Wonda.

Briptu TJ(27) akhirnya digolongkan sebagai bagian dari anggota kelompok kriminal bersenjata itu.

Enam orang anggota kelompok sipil bersenjata termasuk seorang anggota polri itu ditangkap di Wamena, Selasa (21/10) sekitar pukul 10.05 WIT, oleh tim khusus Polda Papua, dibantu satuan TNI.

Ancaman

Pascapenangkapan lima orang anggota KSB/GSB/KKB itu, mencuat ancaman mengerikan dari rekan-rekannya yang juga pentolan OPM yang masih berkeliaran bebas, seperti Purom Wenda dan Enden Wanimbo.

Dua orang pimpinan OPM itu mengancam akan menembaki semua orang yang dianggap pro-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ancaman tersebut disampaikan melalui media massa tertentu.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo mengatakan bahwa ancaman tersebut menggambarkan bahwa sikap kelompok pengancam itu jauh dari pejuang kemerdekaan, sekaligus membuktikan sebagai kelompok kriminal bersenjata.

"Mereka bukan pejuang kemerdekaan, tapi betul betul kelompok kriminal bersenjata yang kerjanya hanya main teror untuk mendapatkan uang dari pejabat pemerintah, rakyat kecil, pengusaha dan lainnya," ujarnya.

Apalagi, kata Pudjo, kelompok itu telah seringkali membunuh sembarang orang.

"Tentu kasus-kasus penembakan dan pembunuhan yang mereka lakukan harus di pertanggungjawabkan di muka hukum. Kami Polri dan TNI pasti akan menangkap mereka bukan seperti yang diklaim sebagai pejuang rakyat, tapi peneror rakyat, bukannya pembela rakyat tapi menekan rakyat," tuturnya.

Oleh karena itu, Pudjo memastikan bahwa TNI dan Polri akan menjamin keselamatan rakyat di Wamena, Tolikara, Lanny Jaya, Puncak, Puncak Jaya dan daerah lain di Papua, dari ancaman kelompok tersebut.

Jika Polri dan TNI telah bertekad memberi rasa aman bagi warga di Papua, maka jangan lagi ada oknum polisi maupun tentara yang berjualan amunisi. Penindakan hukum tentu berlaku bagi semua pihak yang terindikasi bersalah.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2014...campaign=Kknwp


BUAT MIMIN DAN MOMOD MAAF SAYA BUAT TRIT LAGI SEPERTI INI DENGAN TUJUAN AGAR BERITA BERIMBANG TENTANG KELAKUAN OKNUM DIKEDUA INSTANSI TERSEBUT

TOLONG JANGAN DIKOMEN DULU YA #2 DAN #3 BUAT UPDATE
Quote:(OKNUM) Polisi Penjual Amunisi ke OPM Bakal Dipecat
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
Pasukan OPM Pimpinan Goliath Tabuni. WPNLA
TEMPO.CO , Jayapura: Briptu Tanggam Jikwa (TJ), penjual amunisi ke kelompok sipil bersenjata seperti Purom Wenda dan kelompok Dua Rambo yang selama ini beroperasi di wilayah pegunungan tengah Papua, Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Lanny Jaya, akan menjalani sidang kode etik pemecatan dari kepolisian.



"Setelah pemecatan polisi, akan melimpahkan kasusnya dengan hukuman pidana. Proses sidang kode etik akan selesai paling lama dalam dua minggu ke depan. Setelah itu akan dilakukan proses pidana ke pengadilan dan Briptu TJ bisa dikenai hukuman tambahan 1/3 dari hukuman maksimal, sebab perbuatannya melawan hukum," kata Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende usai gelar barang bukti di ruang penyidikan, Polda Papua, Kota Jayapura, Papua, Selasa, 28 Oktober 2014.(Baca:Aparat Gabungan Papua Tangkap Kelompok Rambo)

Menurut Yotje, selain akan menggelar sidang kode etik pemecatan Briptu TJ yang selama ini bertugas di Polsek Nduga, Kapolsek Nduga, Ipda Pius Holahasan juga akan dicopot dari jabatannya karena dianggap lalai dan tidak bertanggung jawab terhadap anak buahnya. , Briptu Tanggam Jikwa yang diduga menjual amunisi 231 butir kaliber 5,56 mm, 12 butir kaliber 38 mm, 29 butir kaliber 7,62 mm yang biasa digunakan untuk senjata Arsenal dan Mouser.

Yotje mengatakan, Briptu TJ ini anggota Polsek Nduga. Selama ini dia kurang mendapat kontrol dari atasannya. "Buktinya si Briptu TJ ini sudah brewokan begitu tidak diketahui kapolseknya. Ini salah satu contoh saja. Berarti dia tidak pernah mengecek. Mana anggotanya dan sudah berapa lama tidak masuk. Kan anggota Polri tidak boleh memelihara cambang atau jenggot gitu," katanya.

Menurut Yotje, pihaknya mensinyalir masih banyak kapolsek di Papua yang sekedar jadi kapolsek. Pihaknya akan memerintahkan menginventarisirnya. Apabila terdapat pelanggaran, akan dicopot. "Lebih baik kekuatan sedikit tapi punya kualitas daripada banyak tapi hanya lambang. Mereka mendapatkan jabatan apalagi seorang kapolsek. Kesejahteraan mereka sudah dinaikkan uang insentifnya Rp 1,1. Tambahan dari gaji. Dari gaji dia pun sudah cukup memadai,"katanya.(Baca:OPM Ancam Perang Jika Polisi Tak Bebaskan Rambo)

Saat ini, kata Yotje, Briptu TJ sedang dalam proses penyelidikan intensif di Markas Komando Brimob Polda Papua. Pihaknya akan terus menelusuri dugaan pemasok amunisi bagi kelompok kriminal bersenjata. "Dalam penyelidikan sementara, Tanggam (Briptu TJ) mengaku baru sekali menjual amunisi tersebut kepada kelompok bersenjata," ungkapnya.

Briptu TJ membenarkan dirinya menjual megasen ke kelompok bersenjata karena saat itu dalam pengaruh minuman keras. "Saya jual megasen ke dorang (mereka) dalam keadaan mabuk. Saat itu saya menjual megasen dua buah dibayar dengan Rp 1 juta," katanya ketika ditemui wartawan di Polda Papua.

Briptu TJ juga menyebutkan dalam penjualan amunisi dan megasen itu, dia dibantu oleh satu pamannya yang pensiunan anggota Kodam Cenderawasih. "Iya, itu om saya dan dia sudah pensiun."
CUNDING LEVI
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/1...-Bakal-Dipecat


Quote:Oknum TNI Diduga Jual Amunisi ke Kelompok Sipil Bersenjata
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
JAYAPURA - Tiga orang prajurit TNI terindikasi menjual amunisi kepada kelompok sipil bersenjata (KSB) yang beraksi di kawasan pegunungan Papua.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan membenarkan hal itu.

"Saya sudah perintahkan untuk mengusut sejauh mana keterlibatan ketiga anggota TNI dalam penjualan amunisi itu," kata Mayjen Siahaan, Selasa (28/10/2014).

Ia mengatakan, ketiga anggota TNI itu, seorang diantaranya telah memasuki usia pensiun, dan dua orang lainnya masih dinas aktif. Namun, ketiganya masih bermukim di asrama Kodim Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
"Untuk dua anggota TNI yang masih aktif berpangkat bintara, keduanya akan dibawa ke Jayapura untuk diperiksa POM Kodam XVII/Cenderawasih," ujar Fransen.

Pemeriksaan terhadap kedua anggota TNI itu, mengarah kepada keterlibatannya pada organisasi KSB.

Untuk anggota TNI yang sudah pensiun, kata dia, akan diminta keluar dari asrama dan yang bersangkutan juga akan diserahkan ke polisi untuk diperiksa lebih lanjut.

Jenderal TNI berbintang dua itu mengakui, keterlibatan oknum prajurit TNI dalam mendukung gerakan KSB itu, mengindikasikan kelompok pengacau keamanan itu telah masuk ke lingkup TNI.

Mayjen Fransen pun menyebut hal itu sebagai "duri dalam daging" yang dapat mengganggu kenyamanan di tubuh institusi TNI.

(crl)
Sumber: http://news.okezone.com/read/2014/10...pil-bersenjata
Quote:Tiga oknum TNI terindikasi jual amunisi ke KSB
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
KOQ GA BISA DICOPAS YA???
Sumber; http://papua.antaranews.com/berita/4...amunisi-ke-ksb



Begitulah kira kira gambaran oknum dari kedua instanti yg menjadi penyakit akut yang seharusnya diamputasi dari tubuh kedua intasi tersebut. Mengutip salah satu berita, mereka adalah DURI DALAM DAGING emoticon-Mad (S)

UPDATE GAN, OKNUM POLISINYA DIPECAT, GA TAU DEH KALO OKNUM TNI NYA

Quote:
Jual Amunisi dan Senjata, Anggota Polisi Papua Dipecat
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
Dalam keterangannya, Tanggap mengaku mendapat amunisi dari anggota Koramil Kurima, AW. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Liputan6.com, Jayapura - Anggota polisi Polsek Nduga, Papua Briptu Tanggap Jikwa dipecat dari kesatuannya. Ia terbukti melakukan penjualan amunisi dan senjata kepada kelompok kriminal bersenjata pimpinan Puron Wenda yang bermarkas di Kabupaten Lanny Jaya.

Tanggap Jikwa menjalani sidang kode etik secara maraton di Polda Papua. Sidang hanya dilakukan selama sehari, mulai dari dakwaan hingga pembacaan putusan.

Dalam sidang kode etik ini, Tanggam sebagai terduga pelanggar yang menjual amunisi dan senjata kepada kelompok kriminal bersenjata, terbukti melanggar Pasal 13 ayat (1) dan Pasal 14 ayat (1) huruf n Peraturan Pemerintah No 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri dan atau Pasal 6 huruf c dan e Pasal 7 ayat (1) huruf b dan Pasal 12 huruf a dan b Peraturan Kapolri No 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri.

Ketua Komisi Kode Etik Kompol Irwan Sunuddin menyebutkan, Tanggap mengakui perbuatannya yakni menjual amunisi kepada kelompok bersenjata dan uangnya digunakan untuk membeli minuman keras.

Tanggap yang masuk kepolisian pada 2008 melalui program Bintara polisi Otsus di Papua, juga tak menyangkal bahwa pernah melakukan 3 pelanggaran kode etik sepanjang 2011-2013. Di antaranya pada 2011, diproses sidang kode etik karena lalai menjalankan tugas hingga tahanan lari dari dalam sel.

Kemudian pada 2013 diproses sidang kode etik karena mabuk dan melakukan pemukulan terhadap sesama anggota polisi, serta penyalahgunaan senjata api. Pada 2014, Tanggap juga melakukan penganiayaan dan pemukulan warga sipil Man Redi Pagawak.

"Selain menghilangkan senjata, terduga pelanggar juga menjual amunisi kepada kelompok bersenjata. Komisi sependapat dengan penuntut, akibat mabuk-mabukan, terduga pelanggar menghilangkan senjata api dan menjual amunisi kepada kelompok bersenjata," kata Irwan dalam sidang putusan sore tadi, Senin (10/11/2014).

"Pelanggaran terduga pelanggar dapat dibuktikan. Sanksi rekomendasi Pemberhentian Tetap sebagai anggota Polri," tegas dia.

Fakta dipersidangan terungkap bahwa Tanggap terbukti melakukan penjualan amunisi kepada Rambo Tolikara, sebanyak 17 butir dan dijual seharga Rp 2,5 juta. Kemudian kepada Rambo Wonda menjual 2 buah megazen seharga Rp 1 juta.

Dalam keterangan di sidang kode etik itu, Tanggap mengaku motivasinya menjual senjata dan amunisi kepada kelompok tersebut, adalah untuk mencari tahu keberadaan senjata api (senpi) laras pendek miliknya yang hilang dalam kecelakaan lalu lantas pada 2011 lalu.

"Saya berpikir dengan saya menjual amunisi kepada kelompok tersebut, mereka (kelompok bersenjata) pasti memberitahukan kepada dirinya di mana senpi miliknya berada dan saya juga berharap mereka mengembalikan senjata saya itu yang katanya sudah berada di Puncak Jaya. Tapi sejak April, saya masuk ke dalam kelompok ini, saya sudah salah jalan dan malahan terhalang oleh kelompok ini," klaim Tanggap.

Dalam keterangannya, Tanggap juga mengaku mendapatkan amunisi yang diduga dari oknum anggota Koramil Kurima, AW. "Amunisi yang ditemukan di rumah saya sebanyak 231 amunisi untuk senjata SS1 itu juga atas bantuan tentara," beber dia.

Briptu Tanggap Jikwa ditangkap bersama 6 anggota kelompok bersenjata, saat tengah melakukan transaksi pembelian peluru di salah satu hotel di Wamena, Papua, Minggu 26 Oktober lalu.
Sumber: http://news.liputan6.com/read/213210...-papua-dipecat


Quote:
Jual Amunisi untuk Mabuk-mabukan, Polisi di Papua Dipecat
Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua
Jayapura - Polda Papua menggelar sidang kode etik terhadap anggota polisi berpangkat Briptu Tanggap Jikwa atas dugaan penjualan amunisi kepada kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua. Briptu Tanggap Jikwa terbukti bersalah.

Sidang dipimpin Wakapolres Jayawijaya, Kompol Irawan, dan berlangsung di ruang Rasta Samara, Mapolda Papua di Jayapura, Senin (10/11/2014). Hasilnya, Tanggap Jikwa dinyatakan dipecat sebagai anggota Polri.

"Tanggap Jikwa mengakui telah menjual amunisi kepada KKB Papua untuk membeli minuman keras dan memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata penuntut Ipda Ferdy Bilolo.

Tanggap Jikwa tak menyangkal apa yang disampaikan penuntut. Ia juga mengakui keterangan saksi, Bripka Fadli yang merupakan anggota Provost Polres Jayawijaya. Dalam kesaksiannya, Fadli mengatakan, Tanggap Jikwa sudah beberapa kali melakukan tindakan indisipliner.

"Pada 5 Juli 2011, terduga pelanggar melakukan pelanggaran desersi. Dia meninggalkan tugas. Pada 2013, ia melakukan penganiayaan terhadap rekan kerja sesama anggota Polsek Nduga atas nama Briptu Rivai. Ia juga pernah menghilangkan senpi laras pendek ketika dia mengalami kecelakaan. Semua kasus itu sudah disidangkan," kata Fadli.

Tanggap Jikwa tertangkap bertransaksi dengan kelompok bersenjata. Di tempat kejadian perkara, disita sebanyak 29 butir amunisi.

"Di rumahnya didapati sebanyak 231 butir. Yang kami tahu dia dapat amunisi itu dari keluarganya. Tapi bukan anggota polisi. Kabarnya, dia dapat dari pamannya yang tugas di Kodim Wamena. Jenis amunisinya untuk senpi laras panjang. Tapi saya tidak tahu sudah berapa butir yang diperjualbelikan," ucap Fadli.

Kompol Irawan sependapat dengan penuntut. Briptu Tanggap Jikwa dinyatakan bersalah dan melanggar kode etik dan dipecat dari kesatuan.

"Ketua dan anggota sidang komisi memutuskan dan menetapkan Tanggap Jikwa terbukti sah dan melanggar. Menjatuhkan sanksi sesuai pasal 22 Perkap 14 tahun 2014. Sanksi rekomendasi Pemberhentian Tetap sebagai anggota Polri," kata Kompol Irawan.
Sumber: http://news.detik.com/read/2014/11/1...at?nd771104bcj
KOMEN INI SAYA TARIK / QUOTE DARI TRIT SATUNYA YANG MAU SAYA MINTA DI CLOSED KE MOMOD
Quote:Original Posted By qsnetwork


mungkin mksdnya dikarungin, dikepruk2 pake balok , dibikin saksang emoticon-Recommended Seller emoticon-Recommended Seller emoticon-Recommended Seller emoticon-Recommended Seller


Quote:Original Posted By bajier
Mana cukup dipecat. Hukum mati lebih pantas

kl hukuman mati agak susah, tapi kalau pas mau sidang tiba disanggong oleh kelompok bersenjata trus tertembak kepalanya.
Hmmm bisa ga ya?
Quote:Original Posted By BroNiez
gampang tinggal beli sama org ini aja, mau brp banyak?

Ketika Polisi-Tentara Jualan Amunisi di Papua

LORD OF WAR , mantapssss
Quote:Original Posted By elsazein
emoticon-fuck2 penghianat, pengecut, gak punya kesetiaan emoticon-fuck2


santet aja gan emoticon-Mad (S)
Bener bener kebangetan mereka ya ;mads
Repost
Hukum mati itu pengkhianat!!!!!!emoticon-Mad (S)
Mana pemuja plokis ?


Mana pemuja TAI ?



podo malinge toh ?

emoticon-Ngakak
mereka memelihara konflik...nanti anggaran nya dikorup...gampang nyari duit
busett
berarti sama aja mereka mengkhianati NKRI
memalukan emoticon-Mad
prihatin....
Quote:Original Posted By propsahetapi
Mana pemuja plokis ?


Mana pemuja TAI ?


podo malinge toh ?

emoticon-Ngakak


Polisi dan TNI ga salah gan, krn TNI dan Polri adalah lembaga/ instansi. Masih banyak koq yg dinesnya bener dan ga neko neko. Sayangnya mereka2 ini ga eksis bahkan media alergi kl sama berita prestasi baik anggota Polri dan TNI yg berprestasi. Media lebih suka memberitakan yg negatifnya. Mungkin bagi media "Bad News (TNI-Polri) is Good News"

Tapi semua onknum yg terlibat dikegiatan penjualan amunisi di berita di atas memang harus dikukum yg seberat beratnya
Quote:Original Posted By B40 80YS


Polisi dan TNI ga salah gan, krn TNI dan Polri adalah lembaga/ instansi. Masih banyak koq yg dinesnya bener dan ga neko neko. Sayangnya mereka2 ini ga eksis bahkan media alergi kl sama berita prestasi baik anggota Polri dan TNI yg berprestasi. Media lebih suka memberitakan yg negatifnya. Mungkin bagi media "Bad News (TNI-Polri) is Good News"

Tapi semua onknum yg terlibat dikegiatan penjualan amunisi di berita di atas memang harus dikukum yg seberat beratnya


Betul sekali gan, ane cm pgn tahu bgmn komen para pemuja nya ttg kasus ini, krn klo ada good news dikiiit aja serasa jadi ksatria aja emoticon-Cool
ini sih bukan kenakalan remaja lagi, penghianat, hukumannya harus 2x lipat dr org biasa. polisi bagus udah d pecat d adili d pengadilan umum, tni juga sama donk biar ngerasain d sel bareng pengedar narkoba, pemerkosa, pembunuh sama pencuri
Quote:Original Posted By B40 80YS
Polisi dan TNI ga salah gan, krn TNI dan Polri adalah lembaga/ instansi. Masih banyak koq yg dinesnya bener dan ga neko neko. Sayangnya mereka2 ini ga eksis bahkan media alergi kl sama berita prestasi baik anggota Polri dan TNI yg berprestasi. Media lebih suka memberitakan yg negatifnya. Mungkin bagi media "Bad News (TNI-Polri) is Good News"

Tapi semua onknum yg terlibat dikegiatan penjualan amunisi di berita di atas memang harus dikukum yg seberat beratnya


setuju gan, yg mencoreng d pecat, apalagi bukannya menjaga kedaulatan malah mendukung musuh hukuman seberat-beratnya emoticon-Marah
kalo yg jual amunisi buat ISIS siapa ya kira2
Quote:Original Posted By recon..id
Repost
Hukum mati itu pengkhianat!!!!!!emoticon-Mad (S)

he he he setuju gan
Quote:Original Posted By NurdinHOMO
mereka memelihara konflik...nanti anggaran nya dikorup...gampang nyari duit

no coment dah
Quote:Original Posted By coco_marcoco
busett
berarti sama aja mereka mengkhianati NKRI
memalukan emoticon-Mad

hukum seberat beratnya ya gan
Quote:Original Posted By wmencoz
prihatin....


sama gan
jual amunisi untuk menembaki teman sendiri ? emoticon-Bingung (S)
cor di drum aja emoticon-Mad (S)
Quote:Original Posted By propsahetapi


Betul sekali gan, ane cm pgn tahu bgmn komen para pemuja nya ttg kasus ini, krn klo ada good news dikiiit aja serasa jadi ksatria aja emoticon-Cool

owh yang itu, kalo itu mah biasanya ya para oknum yg sama2 kelakuannya atau Milliter and Police wannabe gan emoticon-Malu (S)

Kalo ane pribadi lebih tertarik ketegasan hukuman / punishment ke para oknum tsbt
Quote:Original Posted By ragazzartd
ini sih bukan kenakalan remaja lagi, penghianat, hukumannya harus 2x lipat dr org biasa. polisi bagus udah d pecat d adili d pengadilan umum, tni juga sama donk biar ngerasain d sel bareng pengedar narkoba, pemerkosa, pembunuh sama pencuri

v
v
v
Quote:Original Posted By ragazzartd


setuju gan, yg mencoreng d pecat, apalagi bukannya menjaga kedaulatan malah mendukung musuh hukuman seberat-beratnya emoticon-Marah

Jadi maksud agan biasanya kan kl oknum TNI di proses oleh Penagdilan Militer. Jadi umtuk oknum TNI yg terlibat, dipecat dulu, setelah dipecat baru deh dituntut pidananya di Pidana Umum

Atau Pengadilan Koneksitas? Karena tindak pidana yg dilakukan bersama derngan orang sipil?
Quote:Original Posted By mbia
kalo yg jual amunisi buat ISIS siapa ya kira2


wahhhh kl isis mah dari rampasan perang sdh banyak duitnya. Belum lagi dari penjualan minyakdi pasar gelap
Quote:Original Posted By sealovershop
jual amunisi untuk menembaki teman sendiri ? emoticon-Bingung (S)

iya gan, sayangnya kenapa ybs ga ditembak aja sekalian ya
Quote:Original Posted By ito45
cor di drum aja emoticon-Mad (S)


hi hi hi, 'disekolahin' gan biar pinter