alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54297546582b2eee338b4568/buku-bantahan-untuk-quotborobudur-peninggalan-nabi-sulaimanquot
Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"
Selamat Pagi, siang, sore, atau malam kapanpun anda membaca thread ini


Mungkin sudah banyak yang tahu isu klaim bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman oleh K.H. Fahmi Basya. Dia mengklaim mempunyai buktinya dan sudah menerbitkan buku untuk membahas klaim tersebut.

Untuk membalas klaim tersebut, kini telah terbit sebuah buku yang membantahnya.

Quote:Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

MISTERI BOROBUDUR (Terbit 10 September)!


Candi Borobudur semenjak lama diyakini sebagai peninggalan Dinasti Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8. Lalu ada seseorang bernama KH. Fahmi Basya yang mencetuskan sebuah teori bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman dan Indonesia adalah Negeri Saba. Ia mengklaim memiliki bukti-bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung teorinya. Benarkah demikian?

Teori bahwa Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman dikupas tuntas di buku ini. Bukti-bukti yang diajukannya diperiksa kebenarannya satu demi satu. Seno Panyadewa juga membandingkan bukti-bukti dari berbagai penelitian ilmiah apakah Candi Borobudur peninggalan Dinasti Sailendra ataukah Nabi Sulaiman. Bahkan bukti-bukti mengenai lokasi sebenarnya Negeri Saba juga dibahas.

Tak hanya mengupas tentang kejanggalan-kejanggalan dalam teori Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman, buku ini juga membahas secara mengesankan perihal sejarah Borobudur, sejarah agama Buddha dan Hindu pada saat itu, serta analisis tentang ikonografi, arsitektur, dan simbol-simbol pada Borobudur. Tak pelak, buku ini akan memampukan Anda untuk memberikan penilaian yang lebih akurat dan objektif mengenai sejarah dan misteri yang menyelimuti monumen agung bernama Borobudur.

-----------------------------------------------
ISBN: 978-979-1701-17-4
Harga Rp 60.000,- (256 hlm.)
Facebook Penerbit Dolphin
Email: penerbitdolphin@yahoo.com
-----------------------------------------------


Untuk melihat klaim K.H. Fahmi Basya bisa melihat ringkasnya
Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

Bukunya yang sudah terbit:
Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

lebih lengkap lagi dibahas di Negeri Saba' dan Istana Sulaiman ada di Jawa versi KH. Fahmi Basya


Trit Legendaris yang menjadi dasar pembuatan buku bantahan: (no SARA) Kelemahan teori 'Borobudur adalah peninggalan nabi Sulaiman


Beberapa komentar dan review:

Quote:1. Dari Penerbit

KENAPA KAMI MENERBITKAN BUKU INI?

Ada beberapa kawan Muslim yang mempertanyakan hal itu kepada saya: “Dalam Islam tidak dikenal perintah untuk membuat patung makhluk hidup, apalagi untuk bersembah di depannya. Jadi, kenapa harus susah-susah menerbitkan buku tandingan atas teori Borobudur peninggalan Sulaiman?” Demikian pula beberapa komentar dari kalangan akademik, utamanya sejarawan dan arkeolog. Mereka jelas-jelas paham bahwa patung-patung Buddha di Borobudur ciri-cirinya sangat gamblang; semuanya merujuk kepada Pertapa Siddharta dari India, tak beda dengan patung-patung Buddha di belahan dunia lainnya. Patung-patung itu bukanlah patung Nabi Sulaiman atau bidadara surga yang meniru model Nabi Sulaiman sebagaimana klaim KH. Fahmi Basya dalam bukunya.

Jawaban saya: Buku ini memang tidak semestinya terbit jika buku KH. Fahmi Basya tidak bertahan di pasar. Seharusnya buku KH. Fahmi Basya “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman” ditarik dari peredaran karena itu sebentuk pembodohan. Sebuah produk yang berbahaya bagi konsumen, baik terkait fisik ataupun mental, sudah seharusnya ditarik dari peredaran. Karena otoritas-otoritas yang seharusnya bisa menarik peredaran buku itu tinggal diam, dengan tentu saja melakukan uji materi atas teori KH. Fahmi Basya sebelumnya, maka saya dari Penerbit Dolphins meminta Seno Panyadewa untuk menulis buku sanggahan atasnya. Jangan salah, korban-korban KH. Fahmi Basya tidak sedikit, mencapai ribuan, utamanya umat Islam. Tidak semua Muslim bisa berpikir logis seperti beberapa kawan Muslim yang mengajukan pertanyaan seperti di atas. Buku KH. Fahmi Basya yang ada di tangan saya adalah cetakan ke-5. Jika setiap cetakan 4 ribu eksemplar, maka kesesatan itu telah dibaca oleh hampir 20 ribu orang. Siapa yang harus bertanggung jawab? Inilah yang kami bisa lakukan. Semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan klarifikasi terkait teori Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman.

Review #2

Tahun 2011 lalu saya pernah berbicara dengan seorang petugas di Museum Borobudur, Candi Borobudur. Setelah berbicara panjang-lebar, bapak tersebut mengungkapkan kekesalannya kepada pemerintah yang tidak memberikan izin terhadap pembangunan 5 wihara yang mengelilingi Borobudur. Dia juga kesal terhadap KH. Fahmi Basya yang mengklaim bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Si bapak juga sangat menyayangkan kenapa tidak ada pihak yang membantah dan meluruskan sejarah bahwa Borobudur bukanlah ciptaan Nabi Sulaiman. Dia juga mengatakan bahwa pemerintah seperti tidak pernah serius merawat Borobudur, hingga suatu waktu UNESCO memberikan ancaman jika pemerintah tidak tegas dalam mengurus dan merawat Borobudur maka dana untuk perawatan Borobudur akan diberhentikan. Barulah kemudian pemerintah merasa takut dan mengambil sikap (yang lebih baik) terkait pemeliharaan Candi Borobudur. Konon, akan diberlakukan peraturan untuk pengunjung, yaitu mereka tidak diperbolehkan naik lagi ke Candi Borobudur. Bagi yang mau naik, mereka harus membayar mahal. Karena menurut mereka, yang berani membayar mahal jauh lebih menghargai candi tersebut daripada yang membayar murah. Demikianlah ujung dari pembicaraan saya selama 2 jam bersama petugas tersebut.

Bulan ini, apa yang diharapkan oleh petugas museum atau mungkin juga para pemerhati dan petugas di Candi Borobudur tersebut terjawab dengan terbitnya buku sanggahan terhadap teori KH. Fahmi Basya yang mengatakan Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Di buku ini dijelaskan dengan rinci sanggahan demi sanggahan bahwa Borobudur bukan peninggalan Nabi Sulaiman

Review #3 (goodreads.com)
Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

Quote:Original Posted By zenigame14
Ane udah baca gan, bener2 buku yg bagus emoticon-Blue Guy Cendol (S)emoticon-Blue Guy Cendol (S)emoticon-Blue Guy Cendol (S)
lucu jg masa candi buddha diaku2 sbg peninggalan Sulaiman.
kl gitu berarti Sulaiman itu umat Buddhist emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)emoticon-Ngakak (S)
di buku agan ane plg suka bagian ikonografinya, itu ga terbantahkan krn agama samawi yg menganut tauhid sama sekali ga mengenal simbol dlm bentuk apapun jadi ga mungkin ada perwujudan nabi, makhluk surgawi bahkan hewan dalam bentuk patung.
bisa dilihat di masjid2 kuno peninggalan kerajaan islam ga ada sama sekali relief & pahatan kayu yg menggambarkan suatu bentuk makhluk hidup, yg ada cm motif2 bunga krn

saran ane sih lebih baik bukunya lebih banyak disebar krn sekarang hampir semua org percaya kl borobudur itu peninggalan sulaiman


Quote:MISTERI BOROBUDUR [REVIEW]

Masih ingat soal klaim bahwa Borobudur adalah peninggalan nabi Sulaiman? Kemudian ada yang menghubungkannya lagi dengan Atlantis? Memang saya sudah sempat menanggapinya, jadi tulisan saya yang laris di blog inih. Tapi bila sekedar blog tentu tidak cukup. Fahmi Basya sudah menerbitkan buku, maka harus ada buku yang menjawab klaim Fahmi Basya.

Buku karangan Seno Panyadewa ini adalah tanggapan atas klaim Fahmi Basya tersebut. Ia mencatat bahwa teori ini muncul ke umum dimulai dari thread di kaskus pada tahun 2009, kemudian presentasi Fahmi Basya yang terserak diinternet pun dibahas dalam thread tandingan. Sayangnya migrasi kaskus ke sistem baru membuat diskusi ini sulit dilacak, namun justru pada 2012 Fahmi Basya menerbitkan bukunya.

Dari situlah Seno Panyadewa menyusun buku ini. Memang buku ini bukanlah penelitian primer dan hanya menggunakan sumber-sumber sekunder mengenai Borobudur. Namu7n sajian mengenai segi arkeologis, ikonografis, dan arsitektur yang dikumpulkan dan dirangkum penulis dalam buku ini amatlah apik sebagai pengetahuan umum mengenai Borobudur.

Tanggapan saya terhadap presentasi Fahmi Basya adalah bahwa argumen Fahmi Basya terasa dangkal dan tidak didukung pengetahuan luas mengenai studi-studi yang sudah ada tentang Borobudur, semua dianggap konspirasi untuk mengaburkan sejarah. Sebaliknya, dalam buku ini justru penulisnya tidak hanya membahas penelitian arkeologis dan Buddhisme namun juga membahas terjemahan Al-Quran yang digunakan Fahmi Basya janggal bila dibandingkan dengan terjemahan dari Departemen Agama. Ia juga memperlihatkan bagaimana Fahmi Basya justru bertentangan dengan tradisi Islam.

Pada akhirnya saya merasa bahwa merelakan uang untuk membeli buku ini tidaklah sia-sia. Mungkin jika anda punya kesempatan, pelajari sendiri berbagai hal tentang Borobudur dari sumber-sumber yang digunakan Seno Panyadewa. Namun jika waktu tidak ada, sempatkan saja membaca buku ini.
http://ayatayatadit.wordpress.com/20...obudur-review/


Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

Quote:Tinjauan Buku Misteri Borobudur: Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman
OPINI | 01 November 2014 | 12:08 Dibaca: 33 Komentar: 0 0

Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman


Judul Buku : Misteri Borobudur
Pengarang : Seno Panyadewa
Penerbit : Dolphin
Tahun terbit : 2014
Cetakan : I, September 2014
Jumlah halaman : 249
ISBN : 978-979-1701-17-4

Siapa pun pasti tidak asing dengan Candi Borobudur yang merupakan peninggalan agama Buddha terbesar yang diakui secara internasional. Namun klaim ini dipertanyakan ketika KH. Fahmi Basya menulis buku Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman yang menyatakan teori terbaru bahwa Candi Borobudur sesungguhnya adalah karya Nabi Sulaiman yang dibangun oleh para jin dengan bukti-bukti yang didukung dari ayat-ayat Al-Quran. Teori Fahmi Basya ini sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai teori ilmiah, melainkan hanyalah suatu pseudoscience (ilmu pengetahuan semu). Oleh sebab itu, tidak ada cendikiawan dan para ahli sejarah yang tertarik membuat buku bantahan terhadap teori ini. Berangkat dari hal inilah, Seno Panyadewa menyusun buku yang berjudul Misteri Borobudur dari berbagai sumber literatur baik yang berbentuk media cetak maupun yang tersedia online di Internet ini untuk membantah teori “Borodubur Adalah Peninggalan Nabi Sulaiman” (disingkat sebagai BAPNS dalam buku ini).

Diawali dengan kutipan isi prasasti Kayumwungan yang merupakan bukti arkeologis tak terbantahkan bahwa Borobudur didirikan oleh Dinasti Sailendra yang beragama Buddha dari kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, buku ini disusun dalam 7 bab yang mengkaji teori BAPNS dari segi arkeologi, tinjauan ilmiah, ikonografi, arsitektur, dan bantahan umum lainnya. Dari segi arkeologi misalnya, selain bukti prasasti, penulis juga menyajikan analisis paleografis atas tulisan kuno yang terpahat pada Candi Borobudur, bukti dari kitab-kitab kuno yang menyatakan pembangunan Candi Borobudur, dan catatan perjalanan para bhiksu dari Cina seperti Fa-Hien dan I-Tsing, yang semuanya dengan sangat meyakinkan membuktikan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan agama Buddha Mahayana aliran Tantrayana yang dibangun pada sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi. Teori Fahmi sendiri mengandalkan prasasti emas yang ditemukan di situs Candi Ratu Boko (yang dianggap istana ratu negeri Saba) sebagai bukti arkeologis BAPNS dengan mengatakan bahwa prasasti tersebut mengandung kalimat dari ayat Al-Quran, namun sesungguhnya prasasti tersebut berisi tulisan mantra pujian untuk Rudra (nama lain Dewa Siwa yang dipuja dalam agama Hindu). Candi Ratu Boko sendiri adalah miniatur vihara Abhayagiri (pusat studi agama Buddha di Sri Lanka pada abad ke-2 SM s/d abad ke-12 M) yang didirikan pada abad ke-8 M, yang kemudian digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu ketika jatuh ke tangan raja yang beragama Hindu Siwaistis dalam perebutan tahta pada abad ke-9 M.

Teori BAPNS menyatakan bahwa Bobodubur dipindahkan dengan kecepatan 60.000 kali kecepatan cahaya, hal yang tidak mungkin secara ilmiah menurut teori relativitas Einstein karena dibutuhkan sejumlah energi tak terbatas untuk mempercepat objek dengan massa tertentu sampai mencapai kecepatan cahaya (300.000 km/detik). Selain itu, dalam teori relativitas khusus dikatakan jika benda bergerak lebih cepat daripada cahaya, ia akan berpindah ke masa lampau yang akan menyalahi prinsip kausalitas di mana “akibat” terjadi sebelum “sebab”. Dalam fiksi ilmiah, objek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya dapat digunakan untuk menciptakan teleportasi dan mesin waktu, namun sampai saat ini para ilmuwan belum berhasil menemukan objek yang demikian. Inilah salah satu bantahan dari segi ilmiah yang dikemukakan dalam buku ini.

Tentu saja, bantahan yang paling masuk akal menurut saya adalah dari segi ikonografi dan arsitektur Borobudur itu sendiri. Pada candi ini ditemukan sejumlah besar patung Buddha yang merupakan simbol khas agama Buddha dalam berbagai bentuk mudra (posisi tangan yang menyimbolkan makna spiritual tertentu dalam agama Hindu dan Buddha). Agama Islam justru melarang membuat patung dari makhluk-makhluk hidup karena dianggap sebagai berhala sehingga bagaimana mungkin Nabi Sulaiman mendirikan patung-patung tersebut? Bahkan relief-relief Candi Borobudur menceritakan kisah-kisah dari kitab Buddhis Mahayana seperti Karmavibhanga, Jatakamala, Lalitavistara, Avadana, dan Gandavyuha. Dari segi arsitektur, Borobudur dibangun berdasarkan bentuk stupa (monumen Buddhis yang berfungsi menyimpan relik atau objek peninggalan orang suci lainnya) yang merupakan suatu visualisasi dari mandala (diagram geometris yang menggambarkan kosmologi tempat kediaman makhluk suci Mahayana sebagai alat visualisasi praktisi meditasi). Mandala yang terkandung dalam Borobudur sendiri adalah gabungan dari Garbhadhatu Mandala dan Vajradhatu Mandala yang terdapat dalam kitab Maha Vairocana Sutra. Sebagai penutup bab tentang arsitektur, penulis juga menyajikan teori angka yang mendukung Borobudur sebagai bangunan peninggalan agama Buddha sebagai respon teori angka dari Fahmi Basya untuk menunjukkan bahwa teori angka mana pun dapat dicocokkan dengan makna simbolis Borobudur dan oleh karenanya bukan bukti yang menguatkan.

Bantahan umum lainnya disajikan dalam bab terakhir sebelum penutup buku ini, di antaranya tentang kapan Nabi Sulaiman hidup, kemungkinan beliau pernah menguasai Nusantara, dan letak negeri Saba sebenarnya. Diperkirakan Nabi Sulaiman hidup kira-kira antara tahun 1200-800 SM yang jika dikaitkan dengan pembangunan Candi Borobudur, terpaut minimal 16 abad. Jika dikatakan hal ini bisa saja terjadi dengan kekuasaan Allah seperti yang diklaim para pendukung teori BAPNS, maka ini tidak bisa dikatakan sebagai teori ilmiah sama sekali, melainkan pseudoscience karena hal-hal demikian bukan ranah sains lagi. Kerajaan Nabi Sulaiman yang diwarisi dari Nabi Daud terletak di daerah Timur Tengah dan sangat tidak mungkin menaklukkan Nusantara yang letaknya sangat jauh secara geografis, sedangkan negeri-negeri tetangga yang berdekatan tidak pernah dikuasainya. Secara arkeologis telah ditemukan bukti keberadaan kerajaan Saba di negara Yaman saat ini yang menjadi bantahan bahwa kerajaan Saba terletak di Indonesia. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa teori BAPNS hanyalah “cocokologi” ayat-ayat Al-Quran yang dikaitkan dengan sejarah pembangunan Borobudur. Hal ini justru berpotensi menghilangkan kesakralan Al-Quran itu sendiri sebagai panduan hidup umat Islam dengan hanya dijadikan semacam kitab primbon untuk meramal masa depan atau menebak-nebak masa lampau.

Buku ini disajikan secara sistematis dan terstruktur sesuai dengan kaidah penulisan buku ilmiah (kecuali ketiadaan daftar pustaka yang menjadi referensi sumber buku ini, tetapi referensi sumber diberikan dalam catatan-catatan kaki), namun ia tetap membumi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembacanya. Dengan demikian, walaupun pembaca mungkin tidak tertarik dengan segala macam teori tentang Borobudur, isi buku ini memberikan informasi yang patut kita ketahui tentang sejarah, arkeologi, ikonografi, dan arsitektur Candi Borobudur yang dirangkum secara ringkas, padat, dan jelas dari berbagai sumber penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membaca buku ini para pembaca akan terbangkitkan minatnya untuk menggali lebih dalam sejarah leluhur bangsa Indonesia pada umumnya dan terinspirasi pada makna filosofis yang terkandung dalam Borobudur pada khususnya.

http://media.kompasiana.com/buku/201...an-684107.html



Jika ada yang ingin menanyakan apa saja tentang isi buku ini, silahkan. Jika ada gambar di buku yang kurang jelas, saya bisa upload disini gambar resolusi bagusnya
woooooooooooooooooow penomenon

reserved

Quote:Original Posted By anepenjualjujur
tpi itu semua sudah di jelaskan dalam al-qur'an tidak bisa di bantah karna ada surat dan ayat yg benar' jelas buku dan ilmia dia berpedoman pada al qur an sedangkqn anda menurut ilmuat yg landasannya bisa di buat' itu al-qur'an jelas dan tidak bisa di bantah semua serah hidup manusia dan bumi hingga lagit ada di sana klo gk percaya buka aja di surat yg sudah di jelaskan pasti bnr krn saya sudah buka ayat itudan bnr


Quote:Original Posted By anepenjualjujur




oke klo memang tafsiran salah di aman sisah kehilangan candi boko yang mirip dengan birigan brobudur...? bagai mana dengan gambar yang ada di brobudur apa kamu bisa jelaskan mengenai burung...? di kitap budan dan hindu yang saya baca tidak ada...? bahkan koin yang di anggap dari cina knp ada kali grafinya....? tolong di jelaskan...? bukan kah jaman sailendra menggunkan bahasa dari tibet itu sepenggetahuan saya....?emoticon-Matabelo




Berarti anda kurang membaca
Ini di kaskus sudah ada yg membuat thread bacaan relief sesuai kitab Buddha.
Lalitavistara di Borobudur

Quote:Original Posted By zenigame14


hanya krn pendapat Fahmi Basya seorang anda melupakan pelajaran sejarah di sekolah. beberapa relief2 dicandi brobudur adl cerita jataka, yaitu kisah sang Buddha sebelum menjadi lahir menjadi Sidharta. dikelahiran2 sebelumnya kadang dia menjelma sbg hewan, jd beberapa kisah jataka berbentuk fabel.
ada kan di pelajaran sejarah? atau jangan2 sewaktu pelajaran sejarah anda ga memperhatikan.

(kisah fabel sendiri jg udah ada sejak jaman hindu, salah satu fabel yg terkenal itu pancatantra berkisah persahabatan seekor lembu & singa, bisa agan cari sendiri di google)

nah, kisah2 fabel jataka ini sudah ditulis oleh agan Seno dibukunya, ada bbrp kisah bisa ane ceritakan sedikit disini, antara lain:

1. seorg brahmana diberi persembahan oleh beruang, serigala & kelinci. beruang & serigala mempersembahkan buah2an sedangkan kelinci yg ga punya apa2 memberikan dagingnya sendiri utk brahmana tsb

2. seekor anak burung puyuh yg welas asih, krn sifatnya dia ga mau menyantap makanan hewani (cacing, dsb) yg diberikan oleh induknya.

3. seorg raja menyelamatkan seekor merpati dari cengkraman burung elang, utk meyelamatkan nyawanya, raja tsb mengganti dagingnya sendiri utk diberikan ke elang agar tdk memakan burung merpati. si fahmi basya dng enaknya mengatakan relief ini sulaiman sdg ngobrol dng burung hud2 emoticon-Cape d... (S)emoticon-Cape d... (S)emoticon-Cape d... (S)

trus ada relief yg oleh fahmi basya dikatakan burung yg bisa berbicara yaitu burung berkepala manusia, sebenernya itu kinnara, makhluk surgawi dr mitologi hindu & buddha

makanya drpd penasaran, mending beli bukunya agan Seno, bukan utk promosi, tp buku itu emang dibikin utk dibaca org2 awam macem kita agar ga terjerumus cocoklogi dr fahmi basya

bangsa syailendra memakai bahasa sansekerta & jawa kuno, bukannya bahasa tibet emoticon-Bingung (S)



==========================================================
Quote:Original Posted By hondasuprafit
Kebetulan ane baca thread ini setelah melihat berita viral di Facebook tentang "kapal nabi nuh yang diduga dibuat di pulau jawa" dari situlah ane teringat tentang klaim bahwa borobudur adalah peninggalan nabi sulaiman yang sempat bikin heboh dimana berita ini sempat ane baca taun 2013 lalu.

Dari sinilah ane sebagai seorang muslim ikut komen juga.
Tahun 2007 waktu ane masih kuliah, ane mengunjungi tempat wisata "Candi Prambanan" saat libur lebaran. Di tempat wisata tersebut terdapat museum dimana disitu disimpan peninggalan-peninggalan lain yg ada di lokasi candi dan yang mau ane terangkan disini adalah, bahwa di tempat itu pula ada diorama dan keterangan bagaimana proses bangunan candi itu dibuat, dari bagaimana cara membuat relief yang diukir di bahan bangunan candi yang berupa batu andesit sampai bagaimana cara nyusun bebatuan candi yang udah ada reliefnya itu dengan cara ditumpuk dan dipasangkan sampai menjadi bangunan candi yang utuh. Ane nulis ini untuk menjelaskan pertanyaan bagaimana bisa membuat bangunan candi dengan ribuan relief zaman itu,padahal belum ada traktor belum ada Crane dsb.
Ya jelas adalah tehkniknya!!!
Setiap zaman punya tehkniknya sendiri-sendiri kalau mau bikin bangunan.

Yang ane mau jelaskan lagi yang kedua adalah, bahwa candi-candi yang dibangun pada saat itu ada "Aturan Standar" dimana aturan standarnya di sesuaikan dengan tata cara pembangunan candi yang ada di india. Dari bahan bangunan yang dipakai, sampai pada ketinggian berapa meter dari permukaan laut candi-candi ini dibangun sesuai dengan kepercayaan masyarakat penganut hindu-budha zaman itu.

Disini ane menjelaskan bahwa masyarakat kita sudah berinteraksi dengan masyarakat dari negeri india, dimana orang-orang india juga didatangkan kemari untuk terlibat dalam proses pembuatan candi-candi itu. Ada yang membantu merancang relief-relief dan patung-patungnya, ada yang menjadi arsitek bangunan candinya dan ada yang ikut jadi tukang bangunannya.

Dari sanalah ane hanya komen bahwa yang bikin candi-candi itu bukan bangsa jin atas perintah nabi sulaiman seperti yg dikemukakan pendukung teori KH.Fahmi Basha dimana mereka bawa-bawa Al-Quran yang merujuk pada surat Al Nahm tentang kisah nabi sulaiman dan negeri Saba,tapi para pekerja yang sebagiannya adalah para biksu dimana mereka terlibat dalam proses pembuatan relief candi dimana sebelum dipahat, batu andesit ini dilukis dulu dengan semacam cat untuk membuat polanya, baru dipahat dengan obyek gambar 3 dimensi di setiap batunya.

Candi borobudur hanyalah salah satu, dari sekian banyak candi yang dibangun di wilayah itu.
Struktur bangunan dari bahan yang digunakan sama susunan relief ada beberapa persamaan dengan candi-candi yang dibangun di wilayah india.
Candi-candi ini ditinggalkan penduduk karena sering terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi, contohlah seperti gunung merapi yang sekali-sekali meletus, maka penguasa pemerintahan saat itu memindahkan pusat kekuasaannya ke jawa timur.

Analoginya kalau itu yang bangun nabi sulaiman walaupun dikerjakan oleh bangsa jin, jadi candi-candi sekitarnya sampai yang ada di india juga bikinan nabi sulaiman juga dong. Itu sama saja menandakan kalau nabi sulaiman itu bukan turunan bani israil melainkan orang hindu-budha yang berasal dari india...

Buku Bantahan untuk "Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman"

Contoh bangunan candi yang ada di india..


lagian aneh amat pemikirannya
nabi ga pernah bikin patung2an
ngarang klo peninggalan nabi sulaiman emoticon-Cape d...
malah baru tau gw kalau ada klaim Borobudur peninggalan nabi Sulaiman emoticon-Hammer
Yang sudah baca kalau mau kasih review juga boleh kok emoticon-Kiss
Quote:Original Posted By kirana.k
malah baru tau gw kalau ada klaim Borobudur peninggalan nabi Sulaiman emoticon-Hammer


Walah gan, sampe masuk TVRI dan TransTV kemarin

youtube-thumbnail


banyak videonya di yutub itu
pantas untuk diperdebatkan karena memang ada ayat yang membenarkan tapi sayangnya gak ada saksi hidup yang akan membenarkan secara langsung
mungkin ini akan ramai diperdebatkan melebihi perkalian 6 x 4 yang sempat ramai beberapa hari yang lalu
Quote:Original Posted By seno.panyadewa
Walah gan, sampe masuk TVRI dan TransTV kemarin
youtube-thumbnail


banyak videonya di yutub itu

Aduuh, jarang nonton tv...
paling metro ama tvone aja untuk berita, selain itu paling pilih NG, atau History Channel dah..
Males nyetel TV swasta isi sinetron dan acara busuk lainnya. emoticon-Hammer
review bantahanya dong gan, biar ga di anggap promo buku baru
emoticon-Recommended Seller

good book
hoax bisa jadi buku ya.... mampus dibantai emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By benmar
review bantahanya dong gan, biar ga di anggap promo buku baru


Lho, saya kan udah kasih tiga review? Mau saya tambah lagi?
ini thread bagus untuk di simak
3 bulan yang lalu ada teman saya yang membahas perihal candi borobudur adalah peninggalan nabi sulaiman dan itu semua di jelaskan berdasarkan kajian dari seorang ulama dan berlandaskan ayat-ayat AL-QURAN tetapi jujur saja saya tidak terlalu tertarik karena ada beberapa hal yang rasanya tidak masuk di akal
Finally, ada juga bantahannya..nambah wawasan.
Segitunya bikin buku tandingan... emoticon-Ngakak (S)


kira2 kl ada orang gila ngajak ente berantem diladenin gak, kalau iya berarti ente juga kurang waras..

itu sudah

tanpa buku itupun sudah terbantah emoticon-Cool
hah emoticon-Big Grin nyimak gan atas claim2
Quote:Original Posted By nashibi....
Segitunya bikin buku tandingan... emoticon-Ngakak (S)


kira2 kl ada orang gila ngajak ente berantem diladenin gak, kalau iya berarti ente juga kurang waras..

itu sudah



Quote:Original Posted By majhulah
tanpa buku itupun sudah terbantah emoticon-Cool


emoticon-Ngakak

gan, tadinya aku juga mikir begitu, didiemin juga paling hilang sendiri
Tapi ternyata malah makin gila dan pengikutnya yg gila jg makin banyak

Silahkan aja liat para pendukungnya mereka masih getol menyebarkan klaim ini

http://www.thesolomoncenter.org/
youtube-thumbnail


https://www.facebook.com/borobudursulaiman

https://www.facebook.com/pages/KH-Fa...608320?fref=ts

masuk TVRI
youtube-thumbnail


Agan mungkin gak percaya, tapi makin banyak orang tersesat di luar sana lho