alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/54261a0e31e2e63a748b456e/sebuah-tamsil-cermin-jiwa-dan-suluh-cahaya
Sebuah Tamsil: Cermin Jiwa dan Suluh Cahaya
Mencari sebab-sebab kemunduran kaum Muslimin saat ini tentunya menjadi suatu keharusan. Bila ada akibat tentunya ada sebab. Mengetahui sebab-sebab kemunduran itu sama halnya memperoleh separuh daripada keberhasilan memecahkan masalah. Begitu menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas di dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin (selanjutnya disingkat menjadi RUKM). Sebab utama yang mengakibatkan berbagai kemunduran di tubuh kaum Muslimin menurut al-Attas adalah kejahilan mengenai Islam sebagai agama yang benar dan peradaban yang luhur lagi agung yang telah berjaya melahirkan ilmu-ilmu keislaman yang berdaya menayangkan pandangan alamnya sendiri. (Al-Attas, 2014: viii)

Kamu Muslimin saat ini sudahlah tidak faham dengan agamanya sendiri, kemudian salah pula dalam mengambil ilmu. Terkadang kaum Muslimin lebih bangga mengambil ilmu daripada golongan orientalis yang sok tahu akan Islam. Dalam menggambarkan persoalan ini, pada tahun 1959 Syed M. Naquib al-Attas telah mengubah dua bait syair yang termaktub dalam RUKM.

Muslim tergenggam belenggu kafir,
Akhirat luput, dunia tercicir,
Budaya jahil luas membanjir,
Banyak yang karam tiada tertaksir.

Barus dan Singkel, Pasai dan Ranir
Silam ditelan masa nan mungkir,
Lupa jawaban dihafal mahir,
Bagi menyangkal Munkar dan Nakir. (Al-Attas, 2014: viii)

Pada awal-awal perenggan buku RUKM ini, al-Attas menayangkan beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan sebab-sebab persoalan kaum Muslimin, di antaranya; Apakah makna Islam dewasa ini? Adakah ia sesuai dengan zaman sekarang? Tidakkah ia menempuh suatu perubahan agar tetap relevan seperti yang telah terjadi pada agama-agama lain di dunia ini? Perlukan kita menafsirkan kembali Islam dengan penafsiran yang lama, atau bahkan tafsiran baru? Sudahkah cukup dengan kembali pada al-Quran dan as-Sunnah begitu saja tanpa merujuk pada sumber-sumber lain dalam perbendaharaan ilmu-ilmu Islam yakni yang telah ditorehkan oleh para ulama kita? Mengapa harus Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Mengapakah kita terhempas jauh ke belakang sedangkan bangsa-bangsa lain, khususnya orang-orang Kristen Barat begitu majunya? Apakah hujjah-hujjah ilmu pengetahuan sains saat ini telah menggugat kepercayaan-kepercayaan dasar Islam kita? dan sebagainya. Itulah di antara pertanyaan yang diajukan. (Al-Attas, 2014: 4)

Dalam pandangan al-Attas, itu semua menggambarkan betapa merebaknya penyakit kekeliruan akal dan kesesatan qolbu yang kini sedang meradang dan menyerang Umat Islam dengan hebatnya. Lantas apakah jawab serta jalan keluar agar dapat mengheningkan sesuatu yang telah membisingkan, menjelaskan yang samar dan keliru, merapikan yang kusut, meluruskan yang bengkok dan menentramkan jiwa yang menegang dan gemetar ini?. Bahwa sesungguhnya persoalan-persoalan yang ada dan kerumitan jiwa yang melanda sebenarnya disebabkan karena kejatuhan maruah dan izzah diri kita serta kekurangan akan ilmu yang akhirnya menghasilkan kekurangan iman. (Al-Attas, 2014: 5)

Pada kesempatan ini, hendak kita perbincangkan persoalan maruah atau martabat dan izzah Islam dan kaum muslimin. Islam dan Kaum Muslimin laksana suluh cahaya yang menyinari cermin, dan dari cermin itu terpantullah sinaran terang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Pada perenggan ke-3 dan ke-4, al-Attas memberikan tamsil (analogi) berkaitan dengan Islam dan Kaum Muslimin, yakni antara sinaran surya (An-Nur) Islam dengan cermin kaum Muslimin (al-Mir’ah). Namun sebelum itu, untuk menambah wawasan cakrawala kita, dan agar mudah kita manangkap maksud yang al-Attas paparkan, ada baiknya pada tulisan kali ini disampaikan terlebih dahulu berkenaan dengan tamsil cermin yang begitu akrab dalam wacana para sufi.

Tamsil-Tamsil Cermin
Imam al-Ghazali di dalam karya monumentalnya Ihyā` ‘Ulūmuddin mengibaratkan hati dengan cermin dan ilmu serta hakikat (segala sesuatu sebagaimana adanya) sebagai cahaya atau gambar yang berdiri di hadapan cermin. Cermin adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Begitu pula ilmu dan hakikat segala sesuatu, keduanya adalah sesuatu yang dapat berdiri sendiri. Jadi semuanya terdiri dari tiga hal; ilmu yang diibaratkan sebagai gambar yang muncul pada cermin, hati yang diibaratkan sebagai cermin, dan hakikat dari sesuatu itu sendiri yang menjadi bagian ketiga (Al-Ghazali, 2013: 280)
Spoiler for Imam al-Ghazali:

Jika telah memahami konsep di atas, perlu dipahami bahwa ada lima hal yang menyebabkan suatu gambar (ilmu) tidak tampak pada cermin; pertama, bentuk gambarnya rusak dikarenakan pembuatan cermin yang tidak sempurna dan belum digosok sampai mengkilap. Kedua, cermin tersebut kotor dan berkarat. Ketiga, posisi cermin tidak tepat atau tidak sejajar dengan gambar. Keempat, terdapat tirai penghalang antara cermin dan gambar. Kelima, tidak mengetahui arah di mana gambar itu diletakkan. (Al-Ghazali, 2013: 280)

Perihal kasus yang pertama, kekurangan dan ketidaksempurnaan hati ini seperti hati orang-orang gila. Kasus kedua, cermin hati kotor lantaran dipenuhi debu-debu dosa, maksiat dan kotoran-kotoran akhlak, sedangkan apabila hati telah akrab dengan perbuatan baik maka cahaya hati akan semakin bertambah. Kasus ketiga, hati telah menyimpang dari perbuatan-perbuatan yang semestinya ia lakukan, padahal perhatian hati harusnya terfokus pada ketaatan kepada Allah. Situasi ini seperti yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim, “Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi” (QS. Al-An’am: 79). Kasus keempat, penyebab adanya hijab antara hati dengan gambar adalah berupa syahwat dan kerusakan akidah. Kasus kelima, tidak memahami ke mana arah yang dituju karena ia tidak mengimani sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra, yaitu beriman kepada Yang Ghaib. Jika ia tidak memiliki jenis keimanan berikut ini, lalu bagaimana mungkin ia dapat mencari sesuatu yang tidak diketahui keberadaannya. Melalaikan hal ini (beriman kepada Yang Ghaib) dapat menjadi penghalang bagi hati untuk memunculkan sesuatu dalam bentuk sebenarnya. Rasulullah Saw. Bersabda, “Jika saja setan tidak mengitari (menutupi) hati manusia, niscaya manusia dapat melihat kerajaan langit.” (Al-Ghazali, 2013: 281)

Hampir semisal dengan Imam al-Ghazali tentang cermin dan objek gambar di hadapannya, Jalaluddin Rumi menceritakan bahwa ada dua orang pelukis sedang diperlombakan oleh sang raja. Satu utusan dari Cina dan satu lagi dari Yunani. Utusan dari Cina telah mengerahkan semua pikiran dan tenaganya, termasuk dengan segala peralatan, bahan dan pernak-pernik yang mewah untuk menciptakan karya seninya, sedangkan utusan dari Yunani hanya menggunakan beberapa alat dan meminta agar dipasangkan tirai supaya tidak ada yang dapat melihatnya sampai karya seninya usai dikerjakan. Setelah selesai, karya seni buatan seniman Cina tersebut begitu dipuji oleh sang raja karna begitu menakjubkan. Sementara itu, selepas tirai milik seniman Yunani itu disibak, ternyata ia hanya memoles dinding itu dengan begitu sempurna sehingga mampu menangkap gambar yang ada di hadapannya yakni karya seni seniman Cina tersebut. Mungkin karena pengaruh cahaya dan karakter dasar dinding itu, pantulan karya seni milik seniman asal Cina tertangkap oleh dinding itu bahkan lebih indah dari aslinya. (Frager, 2013: 71-72)

Inilah kemudian mengapa kita dianjurkan untuk memoles dan membersihkan hati kita. Sejatinya hati kita adalah tempat bagi cahaya. Cahaya itu kemudian tertangkap cermin dan terpantulkan dengan baik. Hidayah dan ilmu adalah cahaya, dan hati adalah cerminnya. Allahlah sang pemilik cahaya (ilmu) dan Dialah Cahaya di atas Cahaya (Nūr ‘ala Nūr) (baca QS. An-Nūr: 35-36). Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani berpendapat bahwa hati adalah cermin yang sudah dipoles. Kita harus membersihkan lapisan debu yang menempel di atasnya hingga bening karena hati kita ditakdirkan untuk merefleksikan cahaya rahasia-rahasia Ilahi. (Frager, 2013: 71)

Tamsil Islam dan kaum Muslimin oleh Syed M. Naquib al-Attas
Telah kita ketahui tentang tamsil cermin, terutama yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali di atas. Kali ini, kita akan mencermati perumpamaan cermin tersebut yang digunakan untuk menggambarkan hakikat zahir dan batin daripada Islam.

Syed M. Naquib al-Attas mengatakan bahwa Islam memiliki hakikat batin dan hakikat zahir. Pada hakikat batinnya –dengan kesuciannya, kemurinian, keluhuran, dan keagungannya– tetap sama Islam juga. Ia tidak berubah karena perubahan zaman yang telah berlaku pada agama-agama dan faham-faham falsafah lain. Oleh karena itu Islam pada hakikatnya tidak akan dapat dipalsukan atau diubah-gantikan dan ditambah-dikurangi oleh manusia atau oleh gejala-gejala perjalanan masa dan sejarah. Sementara itu, pada hakikat zahirnya, Islam ditampakan pada dunia melalui penganutnya, umat Islam dan umat Islam tidak senantiasa suci dan murni, luhur dan agung. (Al-Attas, 2014: 5)

Kita Kaum Muslimin adalah rupa zahir yang mecerminkan hakikat batin Islam itu. Al-Attas mengibaratkan kaum Muslimin ibarat cermin bidal yang menangkap sinaran surya Islam yang terang benderang. Akan tetapi andai kata cermin itu kotor, berdebu, kusam dan berkarat (dan kasus-kasus lain sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali) maka sesungguhnya sia-sialah upaya cermin itu menangkap sinaran surya Islam dan memancarkannya ke segala arah. (Al-Attas, 2014: 6)

Akibat hal tersebut, orang-orang yang jahil dan yang senantiasa menilai yang tampak sambil mengabaikan yang tidak tampak akan melihat dan menganggap bahwa bukanlah cermin itu yang kotor atau kacanya yang kasar dan berkarat, tetapi bahwa mentari hakikat yang dibayangkan oleh cermin itulah yang kelam, kotor, penuh cacat, dan memiliki noda daripada sifat-sifat kesucian, kemurnian, keluhuran, dan keagungan sejati. Tentu anggapan demikian salah adanya. Akan tetapi anggapan demikian telah merebak yang dihembuskan dari para musuh-musuh Islam dan berjaya menciutkan hati kaum muslimin, menghilangkan kebanggaan mereka pada Islam dan melecehkan maruah, sementara itu mereka sedang dilanda oleh kegoncangan Iman. (Al-Attas, 2014: 6)

Dari tamsil yang dikemukakan oleh al-Attas di atas kita dapati beberapa kesimpulan; (1) bila merujuk pada teori cermin Imam al-Ghazali, bahwa cermin dan gambar (cahaya) adalah objek yang dapat berdiri sendiri, maka Islam kedudukannya (pada hakikat batin) berdiri dengan sendirinya. Ia akan senantiasa sebagaimana hakikat batinnya meski kaum muslimin tidak ada, atau tidak mampu menangkap cahaya, atau paling tidak membuat cahaya itu temaram; (2) kaum muslimin merupakan rupa zahir daripada Islam. Ia menjadi cerminan bagi Islam. Setiap aktivitasnya seolah menandakan bahwa itulah aktivitas Islam. Namun apabila ia jahil akan Islam, ia tidak mengasah cermin dirinya, atau tidak menghadapkan cermin dirinya kepada sinaran surya Islam yang semestinya ia hadapkan, atau terhijabi tirai-tirai syahwat, kekufuran dan kesyirikkan tentu ia tidak akan mampu menyerap cahaya dan memantulkannya ke segala arah; dan (3) Terdapat orang-orang bodoh yang kemudian menganggap bahwa rupa zahir Islam itu yakni kaum muslimin sepenuhnya merupakan ejawantah dari hakikat batin Islam itu sendiri. Lantas ia menganggap bahwa apa yang terjadi (misal dari gejala sosial) pada diri kaum muslimin adalah senantiasa mencerminkan Islam. Padahal kaum muslimin tidak senantiasa agung, luhur, murni, suci dan mulia. Dan padahal tidak semuanya kaum muslimin terpoles dan bersih cermin dirinya yang mampu menangkap sinaran surya Islam.

Sebagai penutup, mari kita sama-sama memoles dan membersihkan diri kita karena kita merupakan rupa zahir dari hakikat batin Islam. Mari kita bersihkan hati kita karena ia laksana cermin yang memantulkan cahaya ilmu dan hidayah. Bisa jadi, kejahilan yang meradang pada diri kita disebabkan hati sebagai tempat bagi ilmu itu dipadati oleh debu-debu dosa. Bagaimana mungkin Ilmu akan sampai kepada jiwa (hati), dan bagaimana mungkin hati akan datang menghampiri ilmu?

Rujukan
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2014. Risalah Untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: IBFIM
Al-Ghazali. 2013. Ihyā` ‘Ulūmuddin. Bekasi: Sahara
Frager, Ragip. 2013. Obrolan Para Sufi untuk Transformasi Jiwa dan Ruh (terj. Sufi Talks: Teaching of an American Sufi Sheikh). Jakarta: Zaman

Spoiler for Sumber:


Baca juga >> Biografi Intelektual Muslim: Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Depok Islamic Study Circle Masjid UI
Membangun Peradaban Dengan Ilmu


Facebook

Twitter