alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53ea23daa09a399a048b4579/farida-amp-kampung-janda-desa-cot-keng--panajournal
Peringatan! 
Farida & Kampung Janda (Desa Cot Keng)- PanaJournal
Farida & Kampung Janda

PanaJournal - Seorang insinyur mengumpulkan bukti serta mencatat pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia di Desa Cot Keng, Aceh. Temuannya mengegerkan khalayak ramai. Satu per satu kasus pelanggaran HAM yang sebelumnya ditutupi, terkuak.

PEREMPUAN itu mengenakan pakaian dan jilbab serba hitam. Dia adalah Farida Hariyani, 48 tahun, seorang insinyur pertanian yang memilih menjadi aktivis perempuan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Farida mengawali perjalanannya dengan melakukan advokasi terhadap Desa Cot Keng, yang dikenal dengan sebutan Kampung Janda karena aksi tentara menghabisi para lelaki di sana. Peristiwa ini terjadi pada awal tahun 1990. Minggu, 7 Juni 2014 lalu, kami bicara panjang lebar di ruang tamu rumahnya di Kompleks Perumnas Rawa, Kecamatan Pidie.

“Saya melihat kekerasan terhadap masyarakat dilakukan oleh negara. Manusia, kan, punya hak hidup. Tiap pulang kampung, selalu ada bunyi senjata menyalak. Pagi-pagi orang berbisik-bisik: Semalam ada yang dipukul? Ada yang ditembak?” kata Farida, mengenang serangkaian kejadian di kampung halamannya. “Saya tergugah. Rasa-rasanya ayam mati saja tidak begitu.”

Farida lahir di Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya pada 15 Januari 1966. Sebelum pemekaran pada tahun 2007, Pidie Jaya merupakan bagian dari Kabupaten Pidie. Lulus SMA Mugayatsyah Banda Aceh tahun 1985, Farida meneruskan studinya di Universitas Iskandar Muda Banda Aceh, Fakultas Pertanian, Jurusan Budidaya Pertanahan. Menjelang kelulusan, Farida sering pulang kampung ke Pulo Ulee Glee karena harus mengerjakan praktik lapangan sekaligus menyusun skripsi. Saat itulah, dia melihat segala bentuk kesewenang-wenangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap masyarakat.

Saat itu, desa-desa diberi kode: putih, merah, dan hitam. “Putih artinya tidak ada GPK, merah banyak GPK, sedangkan hitam adalah desa yang harus diawasi terus. Desa tempat saya tinggal kebetulan putih,” kata dia.

GPK alias Gerakan Pengacau Keamanan adalah sebutan yang diberikan kepada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh TNI. Julukan tersebut dimaksudkan sebagai label buruk untuk GAM. Tapi, nyatanya, GAM tetap popular di tengah-tengah masyarakat.

Farida membenarkan letak jilbabnya, lalu meraih toples di depannya. Sesaat kemudian, ditingkahi suara renyah kue kering, dia menuturkan hal yang melatarbelakanginya menyuarakan HAM dan mendampingi korban pemerkosaan serta tindak kekerasan.

***

Pada tahun 1992, seorang keponakan laki-laki Farida yang tinggal di Medan, Sumatera Utara, pulang kampung. Berkali-kali Farida mengingatkan keponakannya itu untuk tidak keluar rumah lantaran keadaan rawan.

“Kamu baru pulang, tidak boleh keluar sembarangan dulu.”
“Suntuk di rumah. Memangnya kalau tidak salah, akan dipukul?”

Farida tak mampu menahan niat keponakan laki-lakinya itu untuk pergi ke pos jaga, sekadar nongkrong dengan para pemuda desa. Sekitar pukul 20.00 WIB, melintas tiga tentara. Saat itu, setiap ada tentara yang lewat, masyarakat harus menyapa atau menegur tentara-tentara tersebut. Namun, malam itu, keponakan Farida dan kawan-kawannya lalai, barangkali karena terlalu asyik main catur. Tiga tentara lalu memanggil kawan-kawan mereka. Para pemuda desa dan keponakan Farida disuruh masuk parit ukuran tiga meter, lalu ditarik ramai-ramai.

Read More: http://www.panajournal.com/2014/08/f...ung-janda.html