alexa-tracking

Testimoni Peserta BPJS Kesehatan [... dan Akan Terus Di-Update]

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5388521fa2cb17423d8b4780/testimoni-peserta-bpjs-kesehatan--dan-akan-terus-di-update
Testimoni Peserta BPJS Kesehatan [... dan Akan Terus Di-Update]
Halo agan dan sista sekalian.. Kali ini kami sajikan berbagai testimoni dari masyarakat peserta BPJS Kesehatan yang telah merasakan manfaat terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Semoga bisa bermanfaat buat agan sista semua ya.. emoticon-Shakehand2


Penderita Hydrocepallus Berobat Gratis Pakai Kartu BPJS
Lampung: Warga Labuhan Maringgai, Lampung Timur, Supriana, merasa terbantu dengan kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sebab, dia tidak perlu mengeluarkan biaya selama bayinya yang mengidap penyakit hydrocepallus (kepala membesar akibat cairan) dirawat di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM).

“Saya berobat dengan menggunakan (kartu) BPJS. Saya terbantu karena biaya pengobatan anak saya gratis,” kata Supriana di RSUAM, Bandar Lampung, Rabu, 26 Februari 2014.

Supriana merupakan ibu dari Caca Handika. Bayi laki-laki yang berusia 40 hari itu menjalani perawatan di RSUAM karena menderita penyakit hydrocepallus. Selama berobat, pasien pemegang kartu BPJS tersebut menempati ruang perawatan kelas III.

“Saya pakai (ruang perawatan) kelas III dengan iuran Rp25 ribu per bulan. Kalau tidak pakai BPJS saya tidak tahu harus membayar biaya pengobatan anak saya dengan apa,” ujar Supriana.

Supriana pun berpendapat, bahwa program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan adalah program yang mulia. Dengan semangat gotong royong, biaya pelayanan kesehatan yang sangat mahal bisa diatasi. Priana pun ikhlas membayar premi seumur hidup. “Apabila tidak digunaka, kan bisa dipakai oleh orang lain yang membutuhkan” ujarnya.


Daftarnya Mudah, Kemoterapi pun Gratis
Jakarta: HA, seorang warga asal Pulogadung, Jakarta Timur, menuturkan bahwa untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan tidaklah serumit yang dikira. Pada 7 Februari 2014, ia mengunjungi Kantor BPJS Kesehatan di Cempaka Putih untuk mendaftar sebagai peserta mandiri BPJS Kesehatan. “Saya bawa semua berkas yang diperlukan, mulai dari KTP, KK, dan pasfoto ukuran 3×4. Prosesnya cepet kok, satu jam langsung jadi, nggak ribet,” katanya.

Selain proses pendaftaran yang mudah, HA juga mengakui pelayanan yang ia peroleh saat berobat menggunakan kartu BPJS Kesehatan terbilang memuaskan. Sebelumnya, ia dirujuk oleh Puskesmas Pulogadung ke RSPAD Gatot Subroto karena terdapat indikasi medis yang memerlukan penanganan dokter spesialis. Saat itulah ia mengetahui bahwa dirinya menderita tumor.

“Di sana saya dirujuk ke dokter spesialis saraf. Penanganannya juga baik dan cepat. Mulai dari cek laboratorium, MRI, sampai kemoterapi, semuanya nggak dikenai biaya sama sekali,” paparnya.

Saat ini HA masih melakukan kemoterapi secara rutin. Peserta BPJS Kesehatan kelas I itu pun menyarankan agar BPJS Kesehatan terus meningkatkan pelayanan dan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk para tenaga medis yang bekerja di rumah sakit agar pelaksanaan program JKN bisa berjalan semakin baik.


Cuci Darah 2 kali Seminggu Tasrini Warga Indramayu Terbantu BPJS Kesehatan
Indramayu: Sebelum program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan beroperasi 1 Januari 2014, Tasrini (37), seorang warga Desa Eretankulon, Kecamatan Kandanghaur harus cukup sulit memperoleh biaya untuk penyakit yang diderita suaminya, yaitu gagal ginjal. Suami Tasrini harus menjalani cuci darah minimal 2 kali dalam seminggu untuk menyambung hidup. Tasrini pun mengaku meminjam/menghutang ke kerabat maupun orang lain untuk biaya cuci darah.

Tasrini (37) mengaku sangat terbantu dengan program BPJS Kesehatan. Dengan hanya membayar Rp 25.500 per bulan, dia bisa membiayai pengobatan suaminya, Tarmin (42) untuk cuci darah dua kali dalam seminggu.

“Kalau biaya normal ya Rp 600.000 setiap cuci darah dan tentu saya tidak sanggup membayarnya. Tapi, karena ada program BPJS ini, suami saya bisa terus cuci darah,” katanya.


Ambil Obat di Puskesmas Lancar-lancar Saja
Ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak, artinya tak ada yang sempurna di dunia. Pepatah ini terjadi pada awal pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN). Banyak masyarakat yang belum paham, bahkan bagi sebagian peserta BPJS-Kesehatan eks peserta Askes. Namun, banyak juga yang merasa tetap mendapat pelayanan yang baik di era JKN.

Hal itu dimaklumi oleh Drs Samso HA, 68, warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Menurutnya, wajar jika pelaksanaannya belum sempurna dan banyak keluhan. Tetapi, menurutnya, program JKN manfaatnya lebih luas lagi dan dapat digunakan oleh seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya oleh pegawai negeri, dan peserta Askes lainnya.

Bagi Samso, pada bulan pertama saja, ada pembatasan obat-obatan untuk penderita penyakit kronis seperti dirinya. “Tetapi sekarang kan sudah tidak lagi, semua sudah baik kok. Kalau ada pelayanan yang tidak baik kita kan bisa mengadu ke layanan pengaduan BPJS-Kesehatan,” kata Samso didampingi istrinya, Sri Murni, saat mengantre obat di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat, belum lama ini.

Samso dan istrinya, adalah pasien di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita. Samso menderita diabetes melitus, sedangkan istrinya menderita hipertensi. Keduanya memiliki keluhan jantung. Setiap bulan, mereka mengambil obat di RSJPD Harapan Kita, namun sejak ada JKN, mengambil obat di Puskesmas.

“Tidak ada masalah, pelayanannya bagus. Kalau sakit biasa ya cukup periksa di Puskesmas saja, jika diperlukan baru dokter memberi rujukan ke RSJPD Harapan Kita, karena dokter spesialisnya di sana. Ya, hanya masalah antre saja, di Puskesmas penuh,” ujarnya.

Menurut pensiunan Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP) ini, BPJS Kesehatan perlu melakukan sosialisasi lebih gencar lagi, agar masyarakat khususnya peserta BPJS Kesehatan mengetahui dimana saja fasilitas kesehatan primer yang setara Puskesmas. “Saya cuma dengar saja, ada dokter keluarga, tetapi tidak tahu dimana. Padahal bisa loh, peserta yang berobat di Puskesmas dikasih leaflet yang mencantumkan fasilitas kesehatan mana saja yang sudah bekerjsama dengan BPJS,” usulnya. Samso menjelaskan, dia setiap bulan mendapat enam jenis obat, antara lain insulin, obat darah tinggi, dan kolesterol untuk kebutuhan 30 hari.

Sedangkan istrinya, mendapat tiga jenis obat untuk jantung, darah tinggi, dan asma. “Punya asuransi kesehatan sungguh bermanfaat. Oleh karena itu, saya juga sering menyarankan agar saudara-saudara saya segera mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sebelum jatuh sakit,” kata Samso.(pur)


Mudahnya Peroleh Kacamata Gratis
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah berjalan lebih dari dua bulan. Terlepas dari pro kontra yang terjadi tak dapat dipungkiri bahwa program ini telah membantu banyak jiwa untuk sembuh dari penyakit dan menolong banyak keluarga atas potensi gangguan ekonomi karena tingginya biaya kesehatan di negeri ini.

Saya cukup puas dengan pelayanan JKN, semoga banyak juga orang lain yang dilayani dengan baik. Pendaftaran cukup 90 menit dari mengisi formulir, bayar iuran di bank, sampai dapat kartunya. Daftar tanggal 7 Januari, hari Selasa tanggal 21 Januari 2014 sudah saya pakai berobat ke Spesialis Mata di RS Swasta di Medan, Martha Friska Hospital. Dapat kacamata pula dengan plafon Rp 300.000,- (kelas 1).

Pada saat ke RS, rujukan saya sempat ditolak BPJS Kesehatan Center gara-gara surat rujukan tidak memuat diagnosa. Memang sebelumnya, pada tanggal 20 Januari 2014, saya ke puskesmas untuk minta rujukan, sudah cukup sore sekitar jam 15.00, dokter sudah pulang sejak pukul satu siang tadi. Oleh perawat hanya ditulis keluhan seperti mata gatal, berair dan rabun. Nah, ini ternyata tidak diperbolehkan. Dijelaskan oleh petugas BPJS Kesehatan Center, di era JKN ini dokter primer harus sudah menegakkan diagnosa awal sekurangnya untuk 144 jenis penyakit.

Segera saya kembali ke puskesmas dan menemui dokter, kemudian dokter menuliskan surat rujukan yang baru dan menulis diagnosa “kelainan refraksi”. Setelah dapat rujukan baru, saya kembali ke RS dan langsung menuju BPJSKes Center, lokasinya bersebelahan dengan admission pasien. Saya serahkan rujukan, kartu dan ktp, semua harus asli. Petugas mengecek di komputer, tak lama kemudian petugas mencetak Surat Eligibilitas Peserta (SEP). Surat ini dan surat rujukan saya bawa ke admission. Saya diberikan nomor antri di Poli Mata. Sampai disini saya cukup terkesan dengan pelayanan JKN dan petugas rumah sakit.

Tiba giliran saya diperiksa, dokter memeriksa saya dengan baik dan sangat ramah. Tidak ada keraguan meski saya pasien JKN. Sekitar 15 menit saya diperiksa, dokter menuliskan resep, dokter bilang, ”Pakai kacamata ya mas, saya buatkan resepnya. Obatnya diambil di apotik, resep kacamata nanti diantar mbak perawat ini,” kata dr. Ayu N. Qomaryati, Sp.M dengan sangat ramah.

Kemudian saya menunggu obat di depan apotik. Seorang perawat keluar dari ruang poli mata dan menghampiri saya, memberikan beberapa jenis surat dan resep kacamata. Surat-surat itu masih berlogo Askes, ”Ini semua dibawa ke kantor BPJS ya bang,” katanya. Tak lama saya dipanggil petugas apotik. Saya diberikan 1 salep dan 1 obat tetes berlogo “khusus Askes”, 1 strip Vitamin C, 12 kapsul Vitamin A, semuanya gratis tanpa biaya.

Esoknya saya ke kantor BPJS Kesehatan, saya utarakan maksud ke security mengenai resep kacamata. Tanpa perlu antri saya diarahkan ke satu meja, disana saya diterima dengan ramah. Saya serahkan semua surat-surat dari RS kemarin, KTP dan kartu BPJS Kesehatan, kemudian petugas menuliskan satu surat yang ditujukan ke optik rekanan BPJS Kesehatan, di pojok surat ditulis kode “Kelas 1″.

Kemudian saya menuju ke optik yang dimaksud, mungkin karena optik ini mayoritas melayani peserta Askes (BPJS Kesehatan – red) maka koleksi kacamata tidak terlalu bervariasi. Kacamata disana sudah dibagi menjadi 3 kelas. Kelas I dengan pilihan merk-merk kw dari rayban, oakley, porsche design, dan lain-lain. Kelas II di bawah itu, dan kelas III di bawahnya lagi. Saya tidak bisa upgrade ke kacamata yang lebih bagus meski nambah biaya karena kelas 1 sudah yang paling bagus di optik itu. Tapi tak apalah, mutu frame dan lensanya juga cukup bagus.

Mengurai pengalaman dengan JKN, memberi contoh yang kebetulan saya alami sendiri semata untuk menunjukkan realita pelaksanaan di lapangan, tidak ada maksud untuk promosi dokter atau rumah sakit, dan juga tidak ada maksud meremehkan peserta lain yang mungkin mengalami pengalaman yang kurang baik dengan program ini, karena tugas kita jualah untuk senantiasa mengawasi setiap ketidaksesuaian program ini. Semoga JKN memberi harapan baru bagi segenap bangsa ini, seperti niat awalnya memberikan jaminan kesehatan semesta bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dikutip dari Artikel Kompasiana Selasa, 4 Maret 2014 pukul 16:53 WIB berjudul “Pengalaman dengan JKN, dari Kacamata ‘Gratis’ sampai Operasi Abses Liver” atas ijin penulis, M. Ricky Rivai.

Update Testimoni 3 Juni 2014

Pria Ini Tanggung Warga Miskin Jadi Peserta BPJS Kesehatan
Jakarta: Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sekarang ini, terdapat sejumlah masyarakat yang secara sukarela berpartisipasi membantu BPJS Kesehatan dalam mensosialisasikan pentingnya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan untuk mendapat manfaat jaminan kesehatan. Bahkan, ada sejumlah relawan yang bersedia mendaftarkan dan menanggung biaya iuran bulanan peserta BPJS Kesehatan yang berasal dari masyarakat miskin.

Salah satunya adalah Muhammad Ricky Rivai, seorang warga asal Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Hatinya terketuk melihat para tetangganya yang kurang mampu belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Pasalnya, mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk mendaftar ke BPJS Kesehatan. Jangankan untuk membayar iuran bulanan, untuk makan dan kebutuhan sehari-harinya pun mereka harus banting tulang.

Tak hanya itu, jarak antara tempat tinggal Ricky dengan kantor BPJS Kesehatan terdekat terbilang cukup jauh, yaitu 35 kilometer. “Kondisi jalannya rusak, angkot pun jarang lewat. Kalaupun ada, harus dioper dua kali. Wajar jika masyarakat enggan ke sana untuk mengurus pendaftaran karena akses dari tempat kami susah,” kata Ricky.

Ricky pun berinisiatif mendaftarkan masyarakat di tempatnya melalui jalur online. Bekerjasama dengan Ketua RT setempat, ia mendata dan mendaftarkan tetangga-tetangganya yang belum memiliki jaminan kesehatan. Ia juga menanggung biaya iuran bulanan sejumlah tetangganya yang kurang mampu.

“Total ada 80 warga yang kami bantu daftarkan tanpa dipungut biaya macam-macam selain biaya pendaftaran. Ada tujuh orang warga miskin yang saya daftarkan di kelas III dan sudah dua bulan ini saya tanggung secara pribadi iuran per bulannya. Saya bilang sama mereka, kalau perekonomiannya sudah membaik, nanti iuran bulanannya agar ditanggung yang bersangkutan,” ujar pria kelahiran 29 Agustus 1992 ini.

Sebagai tour agent yang memiliki kendaraan travel, ia juga mempersilakan masyarakat yang sakit, termasuk yang kurang mampu, menggunakan mobilnya untuk berobat ke fasilitas kesehatan. “Ya itu tadi, sarana transportasi di sini susah. Kita tidak membeda-bedakan siapa yang sakit, kalau butuh langsung kita antar ke rumah sakit secepatnya,” tegasnya.

Ia pun bercerita, dulu pernah mengantarkan salah satu peserta BPJS Kesehatan tanggungannya ke rumah sakit tengah malam karena kondisinya sudah mengkhawatirkan. Di RS Imelda Pekerja Indonesia Medan, dokter mengatakan bahwa ada penumpukan cairan di bagian dalam liver dan harus segera dioperasi.

“Total lama perawatan pasca operasi adalah 14 hari; 2 hari di ICU dan 12 hari di ruang perawatan biasa. Seluruh biayanya ditanggung biaya BPJS Kesehatan, tidak ada kutipan biaya apapun, termasuk obat yang harus dibeli sendiri ataupun sekedar biaya administrasi,” tutur Ricky.

Ke depannya ia berharap agar JKN bisa memberi harapan baru bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam penjaminan kesehatan yang baik dan berkualitas, tanpa membeda-bedakan si kaya dan si miskin.


Sosialisasikan Manfaat BPJS Kesehatan pada Masyarakat Desa
Jakarta: Masih ada masyarakat di daerah pelosok yang belum mengenal program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan BPJS Kesehatan selaku pengelola program tersebut. Melihat kondisi tersebut, seorang dokter umum asal Jambi, Aryo Valianto, berupaya melakukan sosialisasi pada pasien-pasiennya pentingnya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

“Masyarakat di sini banyak yang belum tahu apa itu JKN, apa itu BPJS Kesehatan, pegang handphone saja sudah dibilang ‘wah’,” ungkap pria kelahiran 2 Juni 1980 ini.

Selain itu, karena lokasinya berada jauh di pedesaan, tambahnya, banyak masyarakat yang malas pergi ke Kantor BPJS Kesehatan untuk melakukan pendaftaran. Mengakali hal tersebut, perangkat desa pun berkoordinasi dengan bidan-bidan desa untuk mendata masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, untuk selanjutnya didaftarkan secara kolektif.

“Iya, pendaftarannya diurus secara kolektif. Sebenarnya lebih mudah daftar online, tapi SDM di sini belum memadai. Masyarakat juga masih banyak yang belum mahir menggunakan internet untuk melakukan pendaftaran online sendiri,” jelasnya.

Aryo sendiri sudah bekerja selama tiga tahun di Puskesmas Tempino, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Pada bulan April 2014, ada 17 pasien BPJS Kesehatan yang dirawat di puskesmas tersebut, sementara pada bulan Mei 2014, jumlahnya meningkat menjadi 34 pasien.

“Semakin banyak masyarakat yang sadar pentingnya memiliki jaminan kesehatan dengan terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Kalau dulu sehari kartunya bisa jadi, sekarang karena makin banyak peminat, untuk buat kartu perlu waktu dua hari,” kata Aryo.

Menurutnya, dengan adanya BPJS Kesehatan, pasien yang sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan tidak dipungut biaya sama sekali dalam berobat, sehingga dapat meringkankan beban pasien itu sendiri. “Kami tidak pernah menarik biaya sepeser pun dari pasien BPJS Kesehatan yang datang berobat kemari,” tegasnya.

Ke depannya Aryo berharap agar pemerintah dapat melakukan sosialisasi lebih luas kepada masyarakat hingga menyentuh daerah-daerah pelosok di Indonesia. Ia juga berharap agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan jasa tenaga medis yang bekerja di daerah-daerah tersebut, mengingat mereka telah bekerja keras memberikan pelayanan yang berkualitas bagi pasien BPJS Kesehatan.

“Kami juga berharap agar pemerintah menyediakan peralatan medis yang lengkap di setiap daerah, sehingga pasien tidak perlu dirujuk ke daerah lain apalagi sampai ke luar pulau, misalnya dari Jambi ke Jakarta, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk berobat ke sana, seperti transportasi, ongkos pendamping, dan sebagainya,” tutupnya.

Update Testimoni 5 Juni 2014

BPJS Kesehatan Tanggung Transfusi Darah bagi Penderita Thalassemia

Tahukah Anda tentang penyakit thalassemia? Thalassemia adalah penyakit dimana tubuh penderitanya tidak dapat membuat sel darah merah dan hemoglobin secara normal, sehingga si penderita membutuhkan transfusi darah setiap bulan untuk bertahan hidup.

Kondisi inilah yang dialami oleh Fajrin Deswita Sari atau yang kerap disapa Ririn. Bersama kedua orangtuanya yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, mereka tinggal di Kecamatan Tegalsari, Surabaya. Setiap bulannya, Ririn harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 5 juta untuk biaya transfusi darah. Jika hemoglobinnya turun drastis, ia membutuhkan empat kantung darah untuk ditransfusi ke tubuhnya.

“Kalau ditotal dengan biaya administrasi dan perawatan, rata-rata biayanya bisa sampai Rp 7 – 10 juta per bulan,” ungkap remaja berusia 19 tahun itu.

Mengingat pengobatan untuk penderita thalassemia berlangsung seumur hidup, hal ini tentu cukup membebani dari segi finansial. Beruntung Ririn dan kedua orangtuanya, Muriono dan Mariamah, telah terdaftar sebagai Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) BPJS Kesehatan sejak 1 Januari 2014 lalu. Sehingga, otomatis semua biaya pengobatan penyakit Ririn pun dapat dicover oleh BPJS Kesehatan.

“Semoga ke depannya BPJS Kesehatan dapat terus berlanjut, agar bisa memberikan pelayanan kepada anak kami dan penderita thalassemia lainnya,” ujar Mariamah.

Demikianlah harapan Mariamah kepada pemerintah untuk memperhatikan penderita penyakit thalassemia yang memerlukan pegobatan seumur hidup seperti yang dialami putrinya. Muriono dan Mariamah tidak dapat membayangkan sebelumnya, bagaimana mereka dapat membiayai pengobatan anaknya jika tidak ada program yang dikelola BPJS Kesehatan ini. Kini, Ririn dapat kembali mengejar mimpi dan cita-citanya sebagaimana layaknya remaja normal sebayanya.


Harapan Baru bagi Peserta Hemofilia
Mengejar impian dan cita-cita mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan bagi anak-anak penderita hemofilia. Mereka tidak pernah meminta untuk dilahirkan menjadi penderita hemofilia, namun itulah kenyataan yang dihadapi oleh tiga kakak-beradik putra pasangan Sukariyah dan Hadi, warga asal Mulyorejo Utara, Surabaya.

Hemofilia adalah penyakit kelainan darah bawaan dimana darahnya tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal karena tubuh tidak dapat membuat faktor VIII. Faktor VIII ini sangat diperlukan untuk membantu proses pembekuan darah. Luka kecil sedikit saja dapat berakibat fatal karena darahnya tidak akan berhenti mengucur. Bahkan hal itu dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani. Untuk mengurangi terjadinya pendarahan, maka perlu dilakukan oksilasis dengan cara memberikan faktor VIII secara rutin.

Penyakit ini telah merenggut mata Fahim Rosyid Sandi (19), kakak tertua dari pasangan Sukariyah dan Hadi. Pendarahan dalam yang hebat di bola mata kiri Fahim membuat lensa matanya rusak dan akhirnya penglihatannya menghilang. Mata kiri Fahim pun menjadi buta selamanya.

Demikian halnya dengan putra kedua pasangan tersebut, Kashouti Rodin Dauda (18) yang hampir saja terenggut nyawanya karena penyakit hemofilia. Luka kecil sebutir beras di kepala Rodin menjadi membengkak seperti anak yang menderita hidrosefalus.

Untuk mengobati anaknya ke rumah sakit membuat keluarga itu berpikir ribuan kali karena mahalnya harga pengobatan. Maklum saja, injeksi satu vial untuk penyakit kelainan pembekuan darah tersebut berkisar antara Rp 2 – 3 juta. Padahal sekali injeksi bisa menghabiskan tujuh vial jika pendarahan yang terjadi tergolong kategori berat. Sukariyah mengatakan bahwa dirinya sampai mempunyai hutang sebesar Rp 14 juta, itupun dipinjamnya dari rentenir.

BPJS Kesehatan membawa harapan baru bagi keluargan ini, karena mereka tidak perlu lagi menimbang-nimbang apabila anaknya membutuhkan injeksi. Sebab, kini mereka sudah terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam skema kepesertaan BPJS Kesehatan.

“Saya berterima kasih dengan adanya program dari BPJS Kesehatan. Sebelum ada ini, kami tahu banget bagaimana susahnya orang tua kami membiayai kami berobat,” kata Fahmi.

Sukariyah dan Hadi tidak dapat membayangkan jika tidak dibantu biaya pengobatan putra-putranya oleh pemerintah melalui BPJS Kesehatan. Cakupan manfaat pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan sendiri memang melingkupi penyakit hemofilia, sebab pengobatan penyakit hemofilia sangatlah besar dan berlangsung seumur hidup.

Update 11 Juli 2014

Testimoni Peserta: Bersedekah Lewat BPJS Kesehatan

Jakarta: Semakin hari semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan. Ribut Anshori, warga asal Kabupaten Semarang, adalah salah satu dari sekian orang yang merasakan manfaat menjadi peserta BPJS Kesehatan.

“Awalnya, ibu mertua saya didiagnosa dokter ada masalah dengan sarafnya, semacam kejepit. Atas saran keluarga jauh, akhir Januari lalu saya mendaftarkan beliau menjadi peserta BPJS Kesehatan kelas I secara online, karena katanya biaya pengobatannya bisa ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” ceritanya.

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memvonis ibu mertua Ribut mengidap kanker paru-paru stadium IV. Dokter pun menyarankan agar ibu mertua Ribut menjalani opname dan fisioterapi. Biaya yang dibutuhkan untuk sekali terapi adalah sekitar Rp 300.000,- dan terapi tersebut harus dilakukan dua kali seminggu.

“Ibu mertua saya hampir 2 bulan menjalani terapi, sebelum akhirnya berpulang. Kalau dihitung habisnya sekitar Rp 4.800.000,-. Itu pun belum termasuk biaya lain-lain seperti administrasi, obat, opname, dan sebagainya. Di rumah sakit saya cuma dimintai Kartu BPJS Kesehatan dan KTP saja tanpa membayar biaya lagi,” kata Ribut.

Dari pengalaman tersebut, ia pun berinisiatif mendaftarkan anggota keluarga lainnya menjadi peserta BPJS Kesehatan sebelum sakit. Menurutnya, masyarakat harus tahu bahwa kartu BPJS Kesehatan itu banyak kegunaannya, terlebih jika membutuhkan pengobatan dalam kondisi mendesak.

“Selain itu, kita juga bisa sedekah kepada orang yang membutuhkan lewat iuran bulanan. Iuran itu bisa digunakan untuk biaya berobat masyarakat yang kurang mampu. Kita sehat, kita bantu yang lagi sakit, gantian seperti itu,” jelasnya.

Ke depannya ia berharap agar masyarakat semakin mudah memperoleh Surat Eligibilitas Peserta (SEP) di rumah sakit di daerahnya, sehingga masyarakat tidak perlu berlama-lama antri lagi di loket BPJS Kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

***

tanya

gan, klo pasien sudah masuk rumah sakit trus sudah dbayar,tapi dy punya kartu bpjs,,bisa gak uang yang sudah di bayar ke rumah sakit itu di rembes ke bpjs?
keren gratis ya
Quote:


Selamat pagi..
Menjawab pertanyaan agan, BPJS Kesehatan tidak menerima klaim perorangan. Adapun yang harus menagihkan klaim kepada BPJS Kesehatan adalah fasilitas kesehatan, bukan pasien peserta BPJS Kesehatan yang bersangkutan. Selain itu, biaya berobat sebelum menjadi peserta BPJS Kesehatan juga tidak dapat diklaimkan.

Untuk tanya jawab lainnya, dapat agan lihat di http://www.kaskus.co.id/thread/53571...pjs-kesehatan/

Semoga membantu emoticon-Smilie
Sekedar saran, sebaiknya account ini minta diverified aja ke Kaskus officer. Kan ini akun official toh? Masa instansi sebesar BPJS ngga bisa verified.
Quote:


Selamat pagi..
Terima kasih atas perhatian dan masukan agan. Masukan agan akan segera kami teruskan ke bagian yang berwenang untuk menjadi bahan pertimbangan yang penting.

Salam emoticon-I Love Indonesia (S)
mau tanya mas,, saya peserta BPJS kelas I klo misalkan kondisi faskes kelas I, II dan III sedang penuh lalu dirawat di kelas VIP apa tetap dijamin biaya perawatannya?

terus kartu BPJS berlaku secara nasional apa tidak misal saya terdaftar di kota A namun saat berada di kota D saya menderita sakit dan harus di rawat inap hari itu juga, apakah saya masih terjamin di kota D tsb.

salam gotong royong emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:


Selamat pagi gan..
Jika agan terdaftar di kelas I, lalu ruang inap kelas I di RS tersebut penuh, maka agan bisa naik kelas ruang inap ke kelas VIP tanpa dipungut biaya selama maksimal 3 hari. Setelah itu, jika ruangan masih penuh, maka pihak RS harus bersedia merujuk agan ke RS lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan yang masih memiliki ketersediaan ruang inap sesuai dengan hak kelas agan, yaitu kelas I.

Sebagai info tambahan, jika ada peserta BPJS Kesehatan yang terdaftar di kelas II atau III, dan ruangan yang tersisa hanya ruang VIP, maka konsekuensinya adalah selisih biaya ruang inap tersebut dibebankan kepada peserta yang bersangkutan, kecuali ia bersedia dirujuk ke RS lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan yang masih memiliki ketersediaan ruang inap sesuai dengan hak kelasnya, yaitu kelas II atau kelas III.

Sebab, dalam kondisi ruang inap RS penuh, pasien peserta BPJS Kesehatan hanya boleh naik satu kelas dari hak kelas perawatannya selama maksimal 3 hari. Contoh, kelas I ke kelas VIP, kelas II ke kelas I, dan kelas III ke kelas II. Kalau sudah ada ruangan yang kosong, maka pasien bisa dipindahkan ke ruang tersebut yang memang menjadi haknya. Misalnya, pasien BPJS Kesehatan berhak dapat rawat inap di kelas I, tapi ruangan penuh, maka ia bisa dirawat inap di kelas VIP, lalu sehari atau dua hari kemudian ada ruangan kosong di ruang inap kelas I, maka pasien tersebut bisa dipindahkan ke sana.

Jika sampai batas waktu tersebut ruangan masih penuh, maka pihak RS harus merujuk pasien peserta BPJS Kesehatan ke RS lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan yang memiliki ketersediaan ruang inap sesuai dengan hak kelas peserta BPJS Kesehatan tersebut.

Menjawab pertanyaan kedua, bisa gan. Untuk prosedurnya bisa agan lihat di link tanya jawab kami ya.. Ada banyak pertanyaan serupa dengan pertanyaan agan http://www.kaskus.co.id/thread/53571...pjs-kesehatan/

Semoga membantu emoticon-I Love Indonesia (S)

:/

Sorry beribu ribu sorry gan. Ane sbg org indo teutama warga jkt ga setuju yg namanya Pengobatan gratis atau KjS, atau bpjs..
Knp? krn itu cm merugikan, Ngapain pemerintah make pngobatan gratis? Yg hrus dilakukan pemerintah itu bangun prusahan alat alat medis di indonesia biar kita bs beli alat alat itu lebi murah dr pd impor dr Jerman, atau negara barat. Coba skrg bs ga pemerintah melunasi hutang nua ke Rs yg ada kjs atau bpjs nya?
Quote:


waduh sis, negatif amat pemikirannya. sama kayak saya waktu diajak untuk ikutan bpjs dulu emoticon-Stick Out Tongue

saya sebagai orang yg mendapatkan banyak manfaat sangat mendukung program ini. saya ngeliatnya lebih ke sistem gotong royong. semoga saja ke depannya semua rakyat ikutan, jadi pemasukan pemerintah semakin bertambah dan gak ngutang ke rs emoticon-Smilie

bpjs ini gak gratis lho. kalo kjs sih kayaknya iya. yg itu saya juga gak setuju, karena ada tetangga saya yg lumayan berada malah ikutan kjs emoticon-Cape d... (S)
bpjs digratiskan cuma untuk rakyat miskin. sekarang saya ambil kelas 3 yg iuran per bulannya 25.500. udah berkali2 berobat ke puskesmas dengan modal kartu bpjs doang. dan bbrp waktu yg lalu sampai operasi yg biayanya jutaan, semuanya dicover bpjs emoticon-thumbsup

ke depannya saya mau pindah kelas 1 yg iurannya gak sampai 60rb. saya mikirnya, udah dibantu belasan juta jadi pengen give back gitu.
Quote:


Quote:


Selamat pagi..
Pertama kami ucapkan terima kasih atas perhatian sista kepada BPJS Kesehatan. Seperti yang telah dijawab sista di atas, BPJS Kesehatan bukan program jaminan kesehatan gratis. Adapun Penerima Bantuan Iuran (PBI) iurannya juga dibayarkan oleh pemerintah. Seperti yang telah diatur dalam perundang-undangan, setiap warga Indonesia wajib menjadi peserta BPJS Kesehatan pada tahun 2019 mendatang.

Program JKN yang dilaksanakan BPJS Kesehatan menganut sistem gotong royong dan subsidi silang. Yang sehat membiayai yang sakit, yang mampu membiayai yang tidak mampu.

Informasi lain yang ingin kami klarifikasi adalah bahwa BPJS Kesehatan akan dikenai denda apabila terlambat membayar klaim rumah sakit. Klaim rumah sakit akan dibayar maksimal 15 hari setelah berkas lengkap diajukan. Hingga hari ini, proses penyelesaian klaim rumah sakit oleh BPJS Kesehatan sendiri rata-rata diproses 4,7 hari sejak berkas lengkap dari rumah sakit diajukan. Sehingga, kelengkapan berkas dari rumah sakit tersebut yang menentukan seberapa lama klaim dapat diproses oleh BPJS Kesehatan.

Semoga mencerahkan emoticon-I Love Indonesia (S)

makasiiiih bpjs

mau bagi testi nih dari ane:mlm takbiran bini ane pendarahan hamil 7.5 bln langsung aja ane bw ke igd pmi bogor ga ke klinik tingkat 1 sesuai petunjuk di tread agan yg ane baca selama perawatan di kls 2 bini ane perlu transfusi darah akhirnya stlh 5 hari dokter mutusin bini ane harus di caesar karna hsl usg plasenta di bawah emoticon-Mewek awalnya ane bingung hrs siap brp duit nih buat biaya operasi ama perawatan anak ane yg di inkubator karena bbnya kurang emoticon-Bingung akhirnya stlh 8 hari bini ane ama anak ane di izinkan pulang betapa bahagianya kami tapi pas di kasir ane deg2an hrs bayar berapa nih secara uang cm megang 4 jt emoticon-Bingung pas giliran nama bini ane di panggil ama tuh kasir eimeijing ane cm di kasih nota lunas/(dibayar dengan nota) dan di persilakan pulang tanpa ngeluarin uang sepeserpun emoticon-Recommended Seller emoticon-Rate 5 Star thx bpjs
Quote:


ngebaca cerita agan seperti harapan ane gan, kebetulan bedanya faskes 1 ane di jkt, jd perlu ngurus data2 detail terlebih dahulu, secara cerita hampir sama kondisi plasenta di bawah

kebetulan tadi ngurus ke puskesmas jkt, tdk mengijinkan utk ane dpt rujukan utk pindah ke bogor, krn memang kebetulan ane baru usaha di bogor,

dari trit bpjs ini dpt saran utk meminta surat domisili setempat di bogor, baru di proses kembali ke bpjs yg di talang, mudah2an perjuangan ga sia2 gan, pengem kaya agan dan selamat sdh punya baby gan...aamin

Quote:


misal pasien bpjs kelas 1 tsb
setelah 3 hari di vip
ternyata kamar kelas 1 masih penuh dan yg kosong dikamar kelas 2-3,
daripada jauh2 dioper ke rs lain yg ada stok kamar kelas 1,
dia minta dipindah ke kamar kelas 2-3 aja boleh ga gan?
Quote:


mana bakalan kaskus mau bikin tag verified kecuali bayaaarrr bpjs ke kaskus.
sebaiknya jangan, budget bpjs hanya untuk membantu masyarakat dan pembiayaan kesehatan.
jangan buat budget promosi terlalu besar, apalagi sampe bayar ke kaskus untuk verified ID seperti brand lainnya yg punya budget besar.
Cara daftarnya tuh kemana gan terus kalo di kota2 kecil juga sudah bisa kah?
Mau daftarin ane n keluarga n ortu soalnya
Quote:


Selamat pagi..
Silakan cek FAQ kami di http://www.kaskus.co.id/thread/53571...bpjs-kesehatan

Semoga membantu gan emoticon-I Love Indonesia (S)