alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53884f7dd3c1e6c50b8b46fa/keganasan-pln-mengakali-meteran-memeras-rakyat-dan-anti-green-energy
Quote:Original Posted By kacoebiroe
Gan numpang belajar solar cell..
Aku lg mempelajari solar cell dan jujur aja belum pernah punya pengalaman nangani nya.
Ijin PM gan...


Maksudnya lagi belajar sc tapi blm punya sc sama sekali gan?
Mungkin karena kekurang tahuan petugas PLN dengan sistem GTI ini, mereka jadi curiga terjadi kecurangan dengan meteran agan yang angkanya mundur. Jadi mereka mengganti dengan meteran baru yg nggak bisa mundur gan..

Kalo saja mereka tau agan pakai sistem GTI, mungkin meraka tidak akan menggati meterannya.

Kalo bisa boleh dong di upload foto meteran yg baru nya gan...
Saya jg tertarik pengen pakai sistem GTI juga.. tapi takutnya meteran saya udah yg baru..

Bener gan seharusnya bisa diterapkan secara umum di masyarakat. Krn spt yg kita tahu tarif listrik selalu naik, aplg bentar lg sudah mau naik lagiemoticon-Cape deeehh
Otomatis semua jd ikut berpengaruh, semoga pln bisa berbenah lagi atau jika bs listrik dswastakan spy tdk tjd monopoli
Quote:Original Posted By rainbowlight8
saya ingin tau apakah PLN yang mensuplai energy ke masyarakat (ke seluruh indonesia) pemakaian batterai itu berapa % dari penggunaan langsung dari masyarakat? (misalnya

1. pemakaian energy masyarakat 100% -
2. lalu masyarakat memakai energy yang langsung dari pembangkit listrik itu misalnya 80% -
3. lalu dari batteray 20% dari PLN karena PLN kurang mampu mensuplai dengan stabil maka di gunakan energy dari batterai dari PLN yg sebelumnya sudah disuplai dari kelebihan energy.)


apakah kalau PLN yang mensupplai energy jikalau kelebihan akan di buang ke tanah atau di simpan di batteray raksasa?


PLN tidak pernah kelebihan produksi listrik. Secara fisika itu tidak mungkin. Generator itu kan mengkonversi energi dari satu bentuk ke listrik. PLTA misalnya konversi energi yang dimiliki aliran air menjadi listrik. Nah, misalnya ada waduk PLTA mensuplai listrik ke kota A dan kota B. Masing-masing 50 MW, jadi total 100 MW. Lalu karena ada bencana alam kabel listrik ke kota A putus. Seketika itu juga listrik yang dihasilkan PLTA bakal turun jadi 50 MW. Yang akan terjadi turbin airnya harusnya berat tiba-tiba jadi loss. Muternya harusnya berat tiba-tiba jadi cepat, karena bebannya berkurang separuh. Akibatnya potensi energi dari aliran air cuma dipakai separuh, sisanya tetap berupa derasnya arus air.

Insinyur di PLTA juga memantau 24 jam. Begitu itu terjadi mereka bakal kirim orang buat tutup pintu air. Masukan air dipotong separuh, sehingga hemat airnya. Nanti kalau kabel listrik ke kota A sudah disambung, baru pintu air dibuka lagi.

Tapi intinya, pembangkit listrik itu tidak bisa mensuplai listrik lebih dari kebutuhan. Kalau ada situasi kayak gitu, bahan bakunya mungkin bisa terbuang mubazir, tapi hasil listriknya bakal otomatis pas sesuai kebutuhan.

Quote:Original Posted By rainbowlight8

1. masyarakat baiknya di beri meteran yang bisa membaca keluar-masuk listrik (ada meteran keluar dan meteran masuk listrik). tidak bisa me-rool-balik meteran -arus yang sudah keluar.

singkatnya :

- ada meteran arus keluar (meteran biasa yang sekarang)
- ada meteran arus masuk
- tidak bisa me-rool balik meteran arus keluar

- keuntungan ini memudahkan pihak PLN mencatat histori arus masuk dan keluar
- kerugian metode ini, tidak "sangat" merangsang masyarakat seperti metode ke 2 dan 3

2. ada meteran yang bisa Sistem Grid-Tie(seperti meteran lama) + bisa membaca listrik masuk ke PLN (meteran dari konsumen jual ke PLN). kelemahan ini, pln tidak bisa melihat berapa arus sudah di pakai oleh konsumen.

singkatnya :

- ada meteran arus keluar (meteran biasa yang sekarang)
- ada meteran arus masuk
- bisa me-rool balik meteran arus keluar

- kelemahan ini, pln tidak bisa melihat berapa arus sudah di pakai oleh konsumen dari arus PLN.
- keuntungan ini bisa otomatis, dapat di gunakan pada listrik prabayar.

3. gabungan dari metode meteran 1 dan ke 2 yaitu :

singkatnya

- ada meteran arus keluar (meteran biasa yang sekarang)
- ada meteran arus masuk
- tidak bisa me-rool balik meteran arus keluar tapi selisihnya di kurangin dengan hasil yang sama (nilai uang juga sama) - pencatatan sih manual ujung2nya

- keuntungan ini, PLN bisa melihat jumlah arus keluar dan arus masuk. 2. dan juga bisa merangsang masyarakat untuk menggunakan energi ramah lingkungan
-kerugian dari metode ini, menggunakan pencatatan manual untuk selisihnya

dari ketiga ini menurut saya yang paling baik adalah metode ke 3 (DENGAN SYARAT selisihnya di kurangin dengan hasil yang sama (nilai uang juga sama) dan metode 2, tapi harus di lihat dari segi teknis pembuatan arus listrik itu kaya gimana? dan peyimpanan energi yang berlebih gimana?.

saya kurang profesional sih soal gitu2an.


Kalau mau bikin buat insentif agar masyarakat mau pakai energi terbarukan, paling bagus itu no. 3. Datanya jelas. Secara psikologis masyarakat juga selalu ingin tahu berapa duit yang dihasilkan energi terbarukan.

Soal pencatatan manual, tidak masalah. Kalau mau sekarang di luar negeri sudah ada meteran yang bisa kirim data langsung secara online ke kantor. Tapi saya lihat PLN malah lebih suka kontrak karyawan buat keliling catat meteran. Harga tenaga kerja masih relatif murah dibandingkan luar negeri sih, lagian di mata pemerintah lumayan ngurangi angka pengangguran.
Quote:Original Posted By fiestamedic
Bener gan seharusnya bisa diterapkan secara umum di masyarakat. Krn spt yg kita tahu tarif listrik selalu naik, aplg bentar lg sudah mau naik lagiemoticon-Cape deeehh
Otomatis semua jd ikut berpengaruh, semoga pln bisa berbenah lagi atau jika bs listrik dswastakan spy tdk tjd monopoli


Ini ada salah persepsi. Harga TDL saat ini jauh di bawah harga keekonomian. Listrik harganya naik bukan karena monopoli, tapi karena pemerintah mau mengurangi subsidi listrik. Listrik kalau diswastakan jangan harap bisa dapat harga semurah harga subsidi lho. Ini ada sampel penawaran untuk daerah Houston, Texas di Amerika. Untuk perumahan. Valid untuk 14 Maret 2014.Keganasan PLN mengakali meteran, memeras rakyat dan anti green energy

Ini di Amerika lho. Texas. Kompetisi ketat. Tidak ada BUMN/BUMD listrik. Saya lihat sekilas ada 13 perusahaan swasta yang menawarkan listrik di daerah Houston, Texas. Saya ambil satu yang harganya di urutan 2 paling murah menurut situs Texas Energy Choice untuk daerah kota Houston dan sekitarnya.

Coba kita hitung-hitung sebentar. Rumah anda sebulan pakai berapa KWh? Kalau kira-kira kayak rumah saya ada AC 2 (sebenarnya 4, tapi yang sering dipakai cuma dua), kulkas 1, TV, dst, sekitar 400-500 KWh. Anggap saja 400 deh. Kalau di Amerika itu bayarnya 400 x 13,2 sen x 12000 (kurs rupiah) = Rp 633600. Kalau di rumah anda kena berapa?

Pembangkit listrik itu industri padat modal, bukan padat karya. Jadi jangan dikira mahal karena ongkos gaji di sana lebih tinggi daripada di sini. Justru teknologi di sana lebih maju bisa saja ongkos produksi lebih murah dari sini. Cuma karena di sini disubsidi makanya tidak kelihatan.

Cepat atau lambat penjualan listrik juga bakal diswastakan, tapi jangan kira harga listrik swasta lalu bisa di bawah harga keekonomian. Tidak seperti PLN yang bisa disuruh rugi oleh pemerintah, swasta tidak mau rugi.
terimaksih gan infonya emoticon-2 Jempol

bukti kecurangan PLN lewat meterannya emoticon-Najis

ikut nimbrung agan2 sepuh2 suhu2,

ane mau tanya,
emang bisa ya kita ngirim balik energi ke PLN dengan cara kita punya pembangkit sendiri sperti sistem solar cell itu ?

Bagaimana dengan ini gan,

1. Tegangan dari PLN 380V/220V atau 400V/240V yang keluarnya dari sekunder trafo PLN dengan sumber primernya Tegangan Menengah dan kapasitas trafonya di sesuaikan dengan pelanggan2 PLN yang ada di daerah tersebut.

2. Katanya koneksi antar pembangkit PLN juga musti sesuai urutan fasa ( R,S,T + N ) atau apa namanya vektor group atau apa ya lupa lagi emoticon-Big Grin ,



Kalo Kwh meter yang angkanya bisa mundur ane pernah denger dan katanya masih di gunakan di PLN kalo gk salah di jaringan PLN Tegangan Menengah buat transaksi antar kantor PLN, misal begini gan :
1. ada PLN A dan PLN B,
2. pada saat PLN A kekurangan suplay energi maka akan meminta bantuan ke PLN B melalui jaringan Tegangan Menengahnya,
3. PLN B memberi suplay sesuai permintaan PLN A selama PLN B mampu,
4. Nah di titik pertemuan antara jaringan PLN A dan PLN B itu di pasang Kwh meter yang bisa naik turun angkanya.


Untuk saat ini permintaan ane buat PLN jangan sering mati lampu dong , mudah2n aja ada orang PLN yang baca trit agan emoticon-Big Grin ,,
Quote:Original Posted By anangshu
ane mau tanya,
emang bisa ya kita ngirim balik energi ke PLN dengan cara kita punya pembangkit sendiri sperti sistem solar cell itu ?

Bagaimana dengan ini gan,

1. Tegangan dari PLN 380V/220V atau 400V/240V yang keluarnya dari sekunder trafo PLN dengan sumber primernya Tegangan Menengah dan kapasitas trafonya di sesuaikan dengan pelanggan2 PLN yang ada di daerah tersebut.

2. Katanya koneksi antar pembangkit PLN juga musti sesuai urutan fasa ( R,S,T + N ) atau apa namanya vektor group atau apa ya lupa lagi emoticon-Big Grin ,


Sebenarnya mengirim kembali listrik ke PLN itu tidak mungkin. Itu cuma ungkapan. Itu listrik yang "dikirim-balik ke PLN" bukan sungguhan dikirim-balik ke PLTA dan PLTU, tapi langsung dipakai tetangga sebelah. Dengan demikian PLN tidak perlu produksi listrik sebanyak sebelumnya, jadi penggunaan bahan bakar bisa dikurangi.

Kalau cuma satu-dua orang kayak di Indonesia saat ini, ya tidak terasa, tapi kalau sudah banyak maka efek kumulatifnya besar juga. Kalau sudah umum dipakai seperti misalnya di Jerman, kalau siang beberapa PLTU/Gas dimatikan, nanti kalau sudah malam dinyalakan lagi. Kan lumayan tuh hemat gas setengah hari. Kalau di Indonesia, yang masih pakai diesel itu yang dimatikan dulu. Solar mahal.

Soal tegangan sekunder dan teknis trafo, itu bisa diatur. Persisnya bagaimana saya juga tidak tahu, tapi di beberapa negara lain sudah dilakukan, plus insinyurnya PLN tidak goblok. Kalau birokrasinya sih emang o'on, tapi kalau insinyurnya sungguhan ngerti kelistrikan. Dan lagian masih jauh di depan itu. Kita mulai saja masih belum. Masalah tersebut baru akan muncul kalau satu distrik sudah overkapasitas tenaga suryanya. Misalnya satu perumahan pasang panel surya semua padahal siang ditinggal kerja/sekolah, sehingga hasil listrik banyak tapi penggunaan sedikit. Idealnya itu bisa disalurkan ke kawasan industri di pinggiran kota yang perlu listrik banyak. Tebakan saya itu baru akan terjadi 15-20 tahun setelah Feed In Tarif dimulai. Sebab dari nol sampai bisa satu kompleks pasang panel surya semua bakal butuh waktu.

Buat info meteran KWh antar wilayah, trims buat infonya.
Ane Kaga Nggerti Gan emoticon-Ngakak
Akhirnya nemu topik menarik yang berhubungan banget ama kuliah wahaha

emoticon-Ngakak

Kalo masang solar cell emang tipenya dua, bisa diharapkan ON-Grid atau OFF-Grid (tidak tersambung dengan infinite bus dimana dikasus ini adalah jaringan PLN). Kalo kasusnya ON-Grid, mutlak butuh Grid-Tied Inverter, Dilema di sisi pelanggan adalah mau pasang sistem PLTS, tapi nggak bisa jual. Inget menurut ane cuma nggak bisa jual, bukan nggak bisa nginjeksi daya ke jaringan. Kalo nggak bisa jual, pusing dong, itungan dari sisi ekonomis pengadaan sistem solarcell mahal dan lama nggak mbalik.

Nah biar bisa ngejual, harusnya disediakan suatu kWh meter dengan kemampuan bidirectional power flow. Dan ada regulasi terkait kompensasi pada pelanggan apabila total dayanya minus, atau dengan kata lain meteran muter balik seperti yang dibilang momod di awal. Dan di sisi PLN harus juga ada sistem monitoring ke setiap power meter pelanggan terkait state penggunaannya (inilah mengapa ada ide kabel power dan komunikasi harusnya diintegrasikan) kalo di luar namanya sistem Smart Grid.

Singkat cerita beli PLTS skala rumahan dan dapat kompensasi dari PLN itu hampir nggak mungkin. Kecuali bikin IPP PLTS skala besar, saya yakin pasti dibeli PLN. Terkait meteran yang aneh, sabar-sabar aja agan, kasian PLN dari dulu masih rugi mulu


Ah udalah ngomong apa gue ini
halo bung Joel.
topik yang sangat menarik nih..
kalo boleh tau merk dari grid tie inverternya apa?
boleh sedikit diskusi ya (meskipun belum pernah utak atik meteran sih).. punya multimeter ga? pernah ukur tegangannya? mungkin kalau tang ampere seperti itu kan hanya baca arus yang mengalir ya.. coba dong ukur tegangan keluaran dari inverter grid tie nya, sama ukur tegangan jala-jala/pln yang keluar dari kwh meter nya.
kalau analisa saya sih, ga tau bener ato kaga, harus dipraktekkan. tegangan keluaran inverter lebih rendah dibanding tegangan PLN. jadi inverter grid tie (system solar cell) itu dianggap sebagai beban..
kalau benar seperti itu ya berarti bukan salah PLN, tapi ya kesalahan dari teknologi yang bung Joel gunakan,.
walaoeh.. ada trit yg berhubungan dengan colar cell..
berguna bgt nih wat w, soalnya kebetulan kantor w pake sistem solcell+PLN tapi blom ngerti apakah offgrid atw ngga hhe

dijelaskan dong gan di trit terpisah supaya detil hhe..

Quote:Original Posted By anangshu
ikut nimbrung agan2 sepuh2 suhu2,

ane mau tanya,
emang bisa ya kita ngirim balik energi ke PLN dengan cara kita punya pembangkit sendiri sperti sistem solar cell itu ?

Bagaimana dengan ini gan,

1. Tegangan dari PLN 380V/220V atau 400V/240V yang keluarnya dari sekunder trafo PLN dengan sumber primernya Tegangan Menengah dan kapasitas trafonya di sesuaikan dengan pelanggan2 PLN yang ada di daerah tersebut.

2. Katanya koneksi antar pembangkit PLN juga musti sesuai urutan fasa ( R,S,T + N ) atau apa namanya vektor group atau apa ya lupa lagi emoticon-Big Grin ,



Kalo Kwh meter yang angkanya bisa mundur ane pernah denger dan katanya masih di gunakan di PLN kalo gk salah di jaringan PLN Tegangan Menengah buat transaksi antar kantor PLN, misal begini gan :
1. ada PLN A dan PLN B,
2. pada saat PLN A kekurangan suplay energi maka akan meminta bantuan ke PLN B melalui jaringan Tegangan Menengahnya,
3. PLN B memberi suplay sesuai permintaan PLN A selama PLN B mampu,
4. Nah di titik pertemuan antara jaringan PLN A dan PLN B itu di pasang Kwh meter yang bisa naik turun angkanya.


Untuk saat ini permintaan ane buat PLN jangan sering mati lampu dong , mudah2n aja ada orang PLN yang baca trit agan emoticon-Big Grin ,,


ane nimbrung jawab juga ya gan

ane mau tanya,
emang bisa ya kita ngirim balik energi ke PLN dengan cara kita punya pembangkit sendiri sperti sistem solar cell itu ?
sangat bisa gan, cuma sistem ketenagalistrikan kita belum menerapkan sistem feed in tarif untuk skala rumahan. jadi listrik yang kita "sumbangkan" belum dihargai dalam bentuk uang. prinsip pembangkit itu bisa dengan cara memparalelkan generator/pembangkit. ada 3 parameter secara umum untuk memparalelkan generator itu, diantaranya tegangan harus sama dengan jala-jala (lebih tinggi sedikit sebenarnya), frekuensi sama dengan jala-jala, dan sudut fasa yang sama. kalau di 3 fasa berarti urutan fasa harus sama juga.

1. Tegangan dari PLN 380V/220V atau 400V/240V yang keluarnya dari sekunder trafo PLN dengan sumber primernya Tegangan Menengah dan kapasitas trafonya di sesuaikan dengan pelanggan2 PLN yang ada di daerah tersebut.
ini pertanyaan gan? hehe.. 380V itu tegangan 3 fasanya atau sama dengan 220 akar 2. untuk sistem solar cell berarti masuk ke tegangan rendah, atau di 220 volt itu, jadi ga perlu pakai trafo lagi. cuma sekali lagi belum ada kebijakan untuk feed in tarif di tegangan rendah. sekarang baru di tegangan menengah, untuk IPP solar cell itu

2. Katanya koneksi antar pembangkit PLN juga musti sesuai urutan fasa ( R,S,T + N ) atau apa namanya vektor group atau apa ya lupa lagi emoticon-Big Grin
betul banget gan. kembali ke prinsip paralel generator. urutan fasa harus sama. kalau di rumah kita umumnya 1 fasa, jadi R+N atau S+N atau T+N aja, di tegangan 220 volt itu. tapi kalo rumah/industri/kantor kita pakai 3 fasa, ya paralelnya mesti ikutin fasa yang benar.

CMIIW

ganasnya pln

Quote:Original Posted By bunaf
Tahun-tahun belakangan saya banyak otak-atik mengenai solar cell, baik sistem off-grid dimana sistem ini setidaknya memerlukan Solar cell dan Charge controller dan Baterai dan Inverter (jika memerlukan output 220VAC) atau dengan kata lain sistemnya independen…

Dan mulai tahun 2013 saya tertarik dengan sistem yang banyak dipakai di Eropa dan USA (perkotaan) yaitu sistem Grid-Tie (terkoneksi dengan pln), umumnya peralatan yang dibutuhkan lebih sederhana, efesiensi yang tinggi, dan tentunya jauh lebih murah daripada sistem off-grid…
Grid-Tie hanya memerlukan Solar cell dan Grid Tie Inverter, jadi cuma 2 komponen utama.

Masalah keganasan meteran PLN nanti saya ceritakan, tapi pahami dulu perbandingan off-grid dan grid-tie dan betapa meruginya rakyat karena manipulasi sistem meteran PLN yang dilakukan oleh oknum PLN ini, dan kenapa saya memutuskan memakai sistem grid-tie.

Video penjelasan Grid Tie dan Meteran Gila dibawah ini
youtube-thumbnail


Sistem off-grid:
Paling mendasar mengenai sistem ini adalah tidak terkoneksi dengan listrik pln, atau sistem yg berdiri sendiri.
Dari solar cell yang menghasilkan energi listrik, lalu diolah dahulu pada solar charge controller lalu disalurkan ke baterai sebagai waduk energi, dan terlebih lagi baterai butuh perawatan yang cukup intensif, butuh diganti atau setidaknya daya baterai akan berkurang setelah 1-2 tahun, harga baterai yang sangat mahal.
Contoh Kerugian lain: Saya punya solar cell dengan output max 220VAC dan kapasitas baterai dan inverter 1000Watt, dan saat itu baru 50 persen terisi dayanya pada baterai, jika saya menghidupkan peralatan yang membutuhkan daya 1000W maka hanya dapat dihidupkan sekitar 30 menit.
Jika baru ¼ daya yang tersimpan ke baterai tentunya peralatan yang 1000W tersebut hanya mampu dihidupkan selama 15 menit.
Inilah salah satu kelemahan off-grid, 1 terpisah (tidak bisa bergabung dengan daya PLN), sehingga daya yang tersedia pada baterai yang 15 menit untuk peralatan 1000W tadi hanya bisa dipakai 15 menit, setelah itu kita harus stop dan mengisi lagi melalui solar cell dan solar charge controller. Ingin tetap menghidupkan alatnya yaa cabut listrik dari solar cell, dan hubungkan dengan listrik PLN.

Sistem Grid-Tie.(Grid Tie Inverter atau GTI):
Ini adalah system yg terkoneksi dengan listrik PLN, saling bekerjasama, sinkronisasi daya dan frequency, dan power dari solarcell sebagai prioritas.
Tidak butuh baterai, sehingga hanya diperlukan Solar cell dan grid tie inverter (GTI), artinya hanya ada 2 komponen utama.
Input dari GTI ke solar cell dan output GTI langsung tertancap ke Jala-jala listrik (PLN) dan bekerjasama saling mengisi power yang dibutuhkan dirumah kita, dan posisi output GTI secara otomatis menjadi prioritas.
Contoh skenario:
Meteran PLN 1300W, siang hari waktu GTI menghasilkan 1300W dan peralatan dirumah hanya butuh 100W, maka meteran PLN akan mundur karena ada kelebihan daya dari GTI dan daya tersebut disumbangkan keluar rumah dan dihitung oleh meteran PLN atau meteran PLN nya mundur sesuai KWH yang lagi disumbangkan keluar.
Berapapun yang dihasilkan oleh GTI pada hari terang jika tidak dipakai atau dipakai sedikit atau dipakai 1300W dirumah maka akan berefek pada meteran PLN.

Contoh lain, GTI menghasilkan 1300W dan dirumah tidak ada pemakaian maka meteran akan mundur 1300W (1.3kwh) jika GTI menghasilkan 10jam sebanyak 1300W maka akan menghasilkan 13KWH, artinya meteran PLN akan mundur 13KWH.
Lalu pada waktu malam dirumah mulai dipakai 1300W selama 10jam maka meteran PLN akan maju lagi sebanyak 13KWH (Impas).

Atau berapapun sistem GTI lagi menghasilkan saat itu, anggaplah hanya 100W maka akan berefek pada meteran PLN yang akan melambat karena ada suplai listrik dari sistem GTI (dalam rumah), ini sebabnya kenapa saya memilih sistem Grid Tie.

Di luar negeri, malah orang ramai-ramai membuat sistem GTI secara besar, atau melebih kebutuhan rumah mereka, kenapa?
Karena kelebihan produksi GTI akan diganti oleh pemerintah.
Saya tidak begitu berharap seperti di luar negeri masalah GTI ini, tapi setidaknya meterannya akan berlaku seperti normalnya meteran listrik, atau meteran listrik saya dulu sebelum diganti dengan meteran baru.

Nah sekarang kita bicara mengenai Meteran PLN yang ganas menipu rakyat ini…
Dulu pada tahun 2013 saya mempunyai GTI sebesar 1000W, dan meteran listrik rumah saya masih model lama.
Saya mencoba GTI hasilnya memuaskan, pada waktu dihidupkan, peralatan dirumah jika tidak ada yang hidup maka meteran akan langsung mundur sesuai dengan kwh yang saat itu lagi dihasilkan oleh solar cell.
Pada tahun 2014 meteran pln saya diganti dan kebetulan saya sudah membeli Grid-Tie inverter yang berkapasitas besar dan mahal 11000W buatan Jerman.
Dan kebetulan juga saya memasang jaringan baru dengan meteran prabayar untuk di kantor sebesar 3600W.

Karena saya sakit beberapa bulan terakhir karena keseleo berat yang memaksa saya istirahat total selama 2 bulan lebih, maka saya tidak sempat mengecek peralatan saya dengan meteran baru, akhirnya hari ini saya walaupun memakai alat bantu jalan mencoba mengetest grid tie inverter saya ke meteran baru.

Hasilnya sangat mengejutkan, ternyata meteran PLN baik yang pasca ataupun prabayar yang semuanya tipe baru, jika dipasang GTI semua tidak ada gunanya.
Walaupun tidak ada pemakaian dirumah, dan GTI lagi memproduksi listrik secara penuh tetap saja meteran PLN berlaku seolah-olah sedang dipakai atau bergerak maju seolah daya yang diambil dari tiang PLN, padahal saya lagi menyumbang listrik keluar rumah….GILEEEEEE….

Kejadian ini jika pada meteran pascabayar normalnya (pada tampilan meteran) jika GTI sedang menghasilkan daya:
Nilai KWH yang terpakai menghitung mundur misalnya dari 99999.5 menjadi 99999.4 dst.
Saat ini yang terjadi pada meteran gila pln yang baru, meteran tetap bergerak maju, misalnya dari 99999.5 menjadi 99999.6 dst.

Kejadian ini jika pada meteran prabayar harusnya (pada tampilan meteran) jika GTI sedang menghasilkan daya:
Nilai stok KWH misalnya 98.4, maka harusnya nilai stok kwh akan bertambah menjadi 98.5 dst.
Saat ini yang terjadi pada meteran gila pln baru, meteran tetap bergerak maju atau Stok KWH berkurang, misalnya dari 98.4 menjadi 98.3 dst.

Meres rakyat ga tuh namanya? Saya yang nyuplai daya keluar meteran, tapi meterannya ngitung seolah-seolah saya lagi memakai daya dari tiang listrik pln….

Menurut saya ini meteran request dari Petinggi PLN agar dibuat seperti ini, dibuat seperti siap untuk membalikkan input dan output jika ada daya dari dalam rumah yang mensuplai keluar meteran….

Sedangkan “kepintaran” meteran yang diakali oleh PLN menurut saya:

Meteran lama: input meteran (dari tiang listrik) tetap sebagai input, dan output (beban di rumah) tetap sebagai output, sehingga jika ada arus yang mensuplai dari arah output, maka meteran akan mundur.

Meteran baru: input meteran (dari tiang listrik) bisa berubah sebagai output, dan output (beban di rumah) bisa sebagai input, sehingga jika ada arus yang mensuplai dari arah output (dari rumah), maka meteran menswitch proses ini, jadi angka pemakaian tetap BERGERAK MAJU.

Apakah PLN takut melihat rakyat mampu memakai solar cell mengingat harga solar cell yang tiap tahun menurun terus.
Saya membeli solar cell mungkin dari 7 tahun lalu, waktu itu kalau tidak salah harga /watt sekitar 75rb, saat ini harga perwatt setidaknya sudah menyentuh harga 12-15rb, jelas sepertinya ini akal-akalan Oknum petinggi PLN.
Mereka tidak bodoh, mereka pasti mempelajari nilai solar cell /watt yang setiap tahun semakin mengancam pendapatan PLN.

Terlebih masalah membangun solar cell itu bisa dicicil…hari ini kita beli 500W, besok bisa ditambah…sangat flexible…

Jika begini, PLN sama saja mengakali rakyat agar tidak terpicu untuk memakai solar cell, anti green energy, dan membuat negara justru merugi terus menerus, memeras uang rakyat.

Atau adakah cara menukar meteran PLN yang tidak support dengan sistem ini menjadi support dengan GTI?
Komplain ke PLN, kayaknya cpd… males…dari dulu kalo nanya pegawai pln yang melayani komplain biasanya jawabannya bikin kesel…

Pertanyaan besar saya, kenapa PLN ini mengganti Meteran berjenis seperti ini jika ada meteran lain yang normal seperti dulu?

Saat ini saya memakai 2 meteran, Pasca no id 141000054770 dan Prabayar no id 56400752889.

Mudah-mudan ada Pejabat PLN yang masih berhati nurani yang bersih yang memperhatikan video ini dan mengganti meteran-meteran pelanggan dengan yang support dengan Green Energy.

Salam

Joel
0816-384499
agan hebat, bisa analisis kayak gitu
jangan langsung menilai PLN buruk/ jelek gan. ane bukan orang PLN gan, bukan membela PLN juga emoticon-Malu (S) saya sangat tertarik tentang kelistrikan.. coba kita sama-sama belajar, kesalahan ada dimana dan sama2 diskusi dulu gan.
sama-sama memperbaiki sistem yang ada.. sama-sama memberikan masukan apabila itu bertujuan baik, jangan saling serang menyerang hehe *sokbijak
mari memperbaiki sistem yang kurang baik dan lebih memajukan yang sudah baik
Ini pernah dibahas gan reportasi investigasi, makin jelas ane gan emoticon-2 Jempol
mudah mudahan nanti presiden yg terpilih bisa memberantas oknum oknum yang tidak bertanggung jawab
Penasaran sih gue pas baca judul nya
Tapi pas buka trit nya, gue minta ampun
Ga ngerti mumet baca nya
--————

Baca lagi :linux:
Wah menarik juga buat dicobain...
ninggalin jejak dulu ah
Sepertinya kondisi negara Indonesia saat ini belum bisa diajak untuk bergerak maju dengan segala kecanggihan teknologi yang sudah semakin murah dan terjangkau oleh segenap lapisan...dari zaman Orde Baru,kerjaan Pemerintah mirip seperti PREMAN pasar...yang tahu permasalahan tapi malah mengambil keuntungan dari permasalahan tersebut, entah untuk kepentingan diri sendiri atau golongan tertentu...baiknya Indonesia benar2 me-REVOLUSI MENTAL para PEJABAT dan PETINGGI Negaranya dulu...baru bicara Teknologi terkini dan penerapannya untuk kemaslahatan Rakyat...
Pe-Er buat JOKOWI, saya kepengen liat Indonesia the NEXT 2014-2019....
Buat catatan .....
Pejabat2 Negara ini merasa Rakyat mudah dibodohi dan dimanipulasi...
Bicara Green Energy...malah para PETINGGI merasa terancam, aneh...
Saran buat Koruptor yang jelas2 tertangkap tangandan jelas bukti2nya....
SUNTIK MATI saja....atau negara Indonesia tidak akan pernah MAJU