alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/537b3d936507e7281c8b456f/gus-dur-bisa-meramal-masa-depan
Gus Dur Bisa Meramal Masa Depan
trit ngungsi dari link


Gus Dur Bisa Meramal Masa Depan


Ada empat misteri di dunia ini, yakni kelahiran, jodoh, kematian, dan Gus Dur. Seluruh ucapan, perilaku dan manuver politik mantan Ketum NU tiga periode itu (1984-1998) itu benar-benar bak misteri. Pernyataan Gus Dur kerap disalahartikan dan mengundang kontroversi, bahkan oleh “kandang”nya sendiri, kalangan NU dan pesantren. Mungkinkah itu terjadi karena Gus Dur bisa meramal masa depan?

Sosok yang misterius. Predikat itu sangat lekat pada Gus Dur, selain banyak predikat lainnya seperti kontroversial, demokratis, dan lain-lain.

Bahkan almarhum Nurcholis Madjid atau Cak Nur setengah bercanda pernah mengatakan, “Hal yang misterius dan hanya Allah yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur”.

Gus Dur memang kerap membuat manuver politik yang sulit ditebak. Hal itu sering membuat orang salah sangka dan salah langkah menghadapi manuvernya.

Apa yang dilakukan Presiden ke-4 Indonesia itu selama hidupnya memang serba tak terduga dan misterius. Bahkan pemikirannya juga sering melampaui jaman. Pemikiran atau gagasannya baru terbukti kebenarannya kemudian. Artinya, Gus Dur bisa meramal masa depan.

Kisah-kisah supranatural yang dialami Gus Dur sebenarnya bukan hal aneh di kalangan para kiai NU, termasuk Gus Dur sendiri. Salah satu faktornya karena sebagian kiai nahdliyin menjalankan tradisi sufistik. Di lingkungan NU, para kiai yang tergabung dalam tarekat memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat luas di pesantren ataupun di luar wilayahnya. Pengaruh yang mereka dapatkan datang dari kepercayaan masyarakat terhadap bakat supranatural yang dimiliki kiai. Dalam istilah eskatologi pesantren, kemampuan supranatural ini disebut khariqul ‘adah. Sementara masyarakat awam memandang kemampuan semacam itu sebagai suatu keanehan, ganjil, paradoks atau kontroversial.

Ya, saat ini memang tidak ada kyai-kyai Nahdlatul Ulama (NU) yang mengikuti jejak almarhum Gus Dur. Pasalnya, sosok Gus Dur selain memiliki perspektif agama juga sangat kuat dalam perspektif kebudayaanya.

Pernyataan itu disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Ummah, Kota Gede, Yogyakarta KH Abdullah Muhaimin yang merupakan rekan dekat dan teman spiritual mendiang KH Abdurrahman Wahid, beberapa waktu lalu.

“Seperti saya katakan tadi kyai-kyai NU yang berkembang hanya perspektif keagamaan. Strategi budaya hampir tidak ada yang memiliki,” ungkapnya.

Sosok Gus Dur dalam hal spiritual, menurutnya, ada satu keterkaitan almarhum Gus Dur dengan sosok Mbah Liem. Mbah Liem adalah sosok kyai besar yang nyentrik. Sifat dan ideologi nasionalismenya sangat kuat dan teruji.

“Gus Dur ada benang merah spiritual dan langkah-langkah hampir sama dengan Mbah Liem. Satu ketika Mbah Liem gerah, tiba-tiba beliau ingat hari itu hari kemerdekaan, langsung bangun upacara 17-an. Nasionalisme Mbah liem lebih dari 100 persen. Demikian Gus Dur juga mengaktualisasikan nasionalime lewat gerakan populis kebudayaan dan cerdik,” tegasnya.

Dalam ilmu Islam kejawen, Gus Dur itu adalah sosok yang mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Orang jawa mengatakan ‘winarah’. Sering disebut dalam istilah barat yaitu sosok yang ‘beyond fenomenon’.

“Gus Dur itu nek wong jowo yah dia itu bisa membaca “beyond fenomenon” artinya waskito (tahu sebelum masanya terjadi). Gus Dur bisa menangkap yang akan terjadi seperti itu,” ungkapnya.

Selain beyond fenomenon, menyitir sebutan ulama NU KH Mukti Ali, Gus Dur itu diibaratkan sebagai sosok ‘Prematur 50 Tahun’. Gus Dur bisa menangkap fenomena dan gambaran yang akan terjadi sebelum datang masanya sehingga dia dengan sekuat tenaga bisa menciptakan upaya dan langkah apa yang harus diperjuangkanya supaya bisa mengantisipasi bahaya maupun kejadian itu.

“Seperti kata Kyai Mukti Ali, Gus Dur itu ibaratnya prematur 50 tahun. Di situlah Gus Dur sudah bisa menangkap fenomena bangsa itu. Saat ketika menangkap itu dia harus harus berbuat dan melakukan serta menyelamatkan dengan cara bagaimana langsung dia perjuangkan. Banyak yang saya tidak bisa katakan dan masih menjadi rahasia,” tuturnya.

KH Abdullah Muhaimin menolak jika dikatakan Gus Dur dalam memperoleh kemampuan menerawang masa depan itu melalui sosok makhluk gaib yang bernama jin.

“Nggak…nggak…nggaak…nggak!” ungkap KH Abdullah Muhaimin saat ditanya apakah Gus Dur punya jin atau pengikut seperti yang diungkapkan masyarakat awam sehingga bisa menangkap fenomena sebelum terjadi.

“Saya masih punya tinggalan yang sampai kini belum terungkap. Tinggalan itu belum terungkap dan saya belum berani ngomong. Bentuknya? Barang, pusaka. Yah saya merasa mendapatkan semacam kekuatan yang akhirnya saya menjadi seperti ini. Karena kebetulan saya dekat dengan beliau semasa hidupnya dan saya dekat dengan semua keluarga dan kenal baik dengan semua keluarganya,” jelasnya.

Sepeninggal Gus Dur, KH Abdullah Muhaimin mengaku mendapatkan isyarat terkait fenomena global di Indonesia. Namun, KH Abdullah Muhaimin menolak menjelaskan fenomena apakah yang terjadi di Indonesia secara global nanti.

“Isyarat yang sampai sekarang belum terungkap saya dikasih sesuatu yang sampai saat ini belum terungkap. Le ku mikir koyok Nabi Qidir ro Nabi Musa (Caraku mikir seperti Nabi Qidir dan Nabi Musa). Sesuatu itu berupa persoalan global dan macam-macam terkait kebangsaan dan donyo dan tidak bisa dibuka. Dan itu saat sekarang masih rahasia,” pungkas KH Abdullah Muhaimin mengakiri pernyataanya.

Misteri Tidur Gus Dur
Memang tak mudah untuk membaca seorang Gus Dur. Hal itu diakui oleh Bisri Effendy saat memberi kata pengantar dalam buku “Tuhan Tak Perlu Dibela” cetakan 1999. Bagi lawannya, Gus Dur adalah musuh Islam nomer satu. Ia dianggap sebagai tokoh yang “meracuni” pemikiran anak muda NU, sekaligus penyebar ideologi sekuler-liberal. Tak heran, konon, jika berpulangnya Gus Dur dianggap sebagai bentuk “pertolongan” Tuhan bagi umat Islam oleh seorang tokoh.

Namun, bagi kawan-kawannya, sosok Gus Dur sebagai “ad-dakhil” alias pendobrak. Sesuai namanya, Abdurrahman Ad-Dakhil, Gus Dur memang “mendobrak” mainstream konservatif kalangan muslim Indonesia melalui berbagai kebijakkan, tulisan dan pernyataannya.

Jika Cak Nur dianggap sebagai tokoh yang mengenalkan Islam ke kalangan masyarakat perkotaan, maka Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang mengenalkan jargon “Mempribumikan Islam dan Meng-Islamkan Pribumi”.

Sementara untuk kalangan umat NU, Gus Dur dianggap lebih dari sekedar manusia biasa. Semasa hidup, Gus Dur dipandang sebagai sosok manusia luar biasa, sosok seorang “Wali Allah”. Tak heran jika berbagai pernyataan kontroversialnya sering di-amin-kan oleh kalangan Nahdhiyin. Mereka memandangnya sebagai wujud dari “sak durunge winarah”, salah satu kecirian seorang wali yang bisa mengetahui sesuatu sebelum terjadi.

Bagi bangsa Indonesia, terutama kalangan minoritas, Gus Dur dilantik secara tak resmi sebagai guru bangsa. Pun ketika “naik pangkat” menjadi Presiden, banyak kalangan justru menganggap Gus Dur sejatinya “turun pangkat”. Istilahnya “Semar Dadi Ratu”. Gus Dur seakan sudi untuk “disangkar emaskan”. Sementara Semar tak cocok menjadi Ratu. Semar melebihi seorang Ratu. Demikian pula dengan Gus Dur.

Buktinya, saat Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan, dia keluar hanya memakai celana pendek dan memakai kaos oblong. Beliau melambaikan tangan ke pada para wartawan, bukankah ini sebuah misteri.

Istana Negara yang dulunya tertutup dan hanya bisa dimasuki orang yang berpakaian jas, Gus Dur hadir dan mengubah formalisasi di dalam istana tersebut. Gus Dur mengembalikkan Istana Negara kepada rakyat.

Siapapun bisa memasukinya, bahkan hanya dengan memakai sandal jepit dan bajo kaos oblong. Bukankah hal ini juga menjadi misteri bagi bangsa ini sebab pasca lengsernya Gus Dur, Istana Negara kembali menjadi menjadi milik kaum elite.

Gus Dur juga penggagas pertama pengadilan Soeharto. Menurutnya hartanya disita lalu dimaafkan. Dia juga dikenal sebagai kiai yang humoris yang kadang membuat pidato persiden menjadi pidato yang jenaka.

Untuk kalangan minoritas sosoknya demikian dikenang dan dihormati. Kalangan Tionghoa memberinya gelar “Bapak Tionghoa Indonesia”. Bukan tanpa alasan, Gus Dur-lah yang menghilangkan diskriminasi terhadap etnis yang menyudutkan mereka.

Gus Dur juga dinilai layak menyandang gelar “Bapak Demokrasi Indonesia”. Pada era kepemimpinannya, Gus Dur membubarkan Bakortranas–lembaga ekstra yudisial penerus Kopkamtib–yang memiliki kewenangan luas untuk menindas. Gus Dur pula, dengan kebesaran hatinya, meminta maaf kepada korban pembantaian PKI sekaligus mengusulkan untuk mencabut TAP MPRS No. 27/1966. Gus Dur juga membuka ruang dialog antar (umat) agama. Ia ingin setiap orang diperlakukan setara dalam hukum, tanpa membeda-bedakan warna kulit, etnis, agama atau ideologi.

Begitu juga saat Gus Dur mengungkapkan gagasan, caci maki muncul. Namun, dia tetap bersikeras dan tak pernah mudur selangkah pun. Tetapi seiring berjalannya waktu orang baru sadar apa yang dikatakannya adalah benar adanya.
Misalnya, ketika dia berurusan dengan DPR. Kala itu Gus Dur sebagai presiden dengan gagah berani menghadiri undangan hak interpelasi DPR. Mungkin hanya Gus Dur (satu-satunya) presiden yang berani menghadapi dewan secara langsung tanpa takut.

Dalam pidato jawabannya di hadapan wakil rakyat, Gus Dur dengan lantang menyebut DPR seperti taman kanak-kanak. Hal itu kontan memancing banyak reaksi. Ada yang marah, ada yang menilai dia gila dan asal berbicara. Intinya kala itu pendapatnya disalahkan, walau mungkin banyak yang membenarkan.

Waktu berjalan, Gus Dur sudah lengser dan DPR berganti. Ternyata DPR baru kemudian menunjukkan tingkah polah mirip taman kanak-kanak dengan nyaris berbaku pukul. Ini membuat sebagian orang mengatakan Gus Dur adalah orang gila.

Dalam konteks kegilaan benar apa yang dikatakan Khalil Gibran, “Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras”.

Gus Dur dikatakan “gila” oleh masyarakat gila yang merasa waras. Dia disebut sebagai paling waras di tengah-tengah orang-orang “gila” yang tidak ingin waras. Kebudayaan “gila” dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan slogan sebagai orang paling gila.

“Kegilaan” Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila kegilaan sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami “keterasingan” di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah-tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga Nahdhiyin-nya.

Dan, saat itu hampir semua televisi memutar adegan memalukan itu sembari memutar rekaman saat Gus Dur menyebut DPR taman kanak-kanak. Banyak yang lantas berkata, “Benar juga ya Gus Dur dulu bilang gitu”. Ternyata Gus Dur memang sudah mengetahui apa-apa yang belum diketahui masyarakat.

Hal misterius lainnya yang dikenal dari Gus Dur adalah misteri tidurnya. Gus Dur selama ini sering terlihat tidur saat menjadi pembicara diskusi atau saat memimpin rapat kabinet di Istana.

Namun anehnya, meski tertidur Gus Dur tahu apa yang dibicarakan orang di sekitarnya selama dia tidur mendengkur. Saat bangun dia akan menjawab semua dan tahu apa yang dibicarakan seolah dia sedang terjaga saat pembicaraan dan pertanyaan itu diajukan, sehingga mengejutkan mereka yang hadir.

Misteri tidur Gus Dur ini sudah banyak disaksikan orang. Sahabat Gus Dur yang juga penulis terkenal Mohammad Sobari pernah menulis kesaksiannya soal hal itu. Sobari mengatakan banyak menteri yang terheran-heran dengan apa yang dilakukan presidennya.

Hal yang sama juga dikemukakan Pakar Komunikasi Politik UI Effendy Ghazali. Effendy mengatakan dalam sebuah diskusi Gus Dur tertidur pulas, saat itu banyak orang yang bertanya pada Gus Dur.

“Saya sampai mencatat lengkap semua pertanyaan mereka,” kata Effendy yang takut Gus Dur tidak tahu ada yang tanya.
Namun dugaan Effendy meleset, saat bangun Gus Dur tahu semua pertanyaan dan siapa yang bertanya. Mulai saat itu Effendy percaya tentang cerita misteri tidur Gus Dur.

Bagi yang tidak melihat langsung, biasanya tidak percaya dan menilai misteri tidur itu bualan semata. Namun banyak pula yang keheranan melihat hal itu. Bagi santri kampung bahkan menilai hal itu sebagai karomah atau kelebihan khusus Gus Dur semacam indra keenam.

Gus Dur sendiri pernah ditanya seputar misteri tidurnya, dan dia menjawab dengan santai, “Biasa aja, saya ingat saja topik terakhir sebelum ketiduran, paling nanti pembicaraannya tak jauh dari situ,” jawabnya enteng.

Bagi mereka yang tidak percaya hal gaib seputar misteri tidur Gus Dur akan puas dan maklum dengan jawaban itu. Namun bagi mereka yang menyaksikan sendiri misteri tidur Gus Dur tentu tak percaya dengan jawaban itu. Misteri tidur Gus Dur sampai sekarang masih misterius.

Mengetahui Kematiannya Sendiri
Beberapa hari sebelum meninggal, Gus Dur meminta Pak Acun, panggilan Akrab KH Abdul Wahid Maryanto, untuk membelikannya karpet berukuran 2 x 1 meter yang lumayan empuk dan dengan harga sekitar Rp 300.000,- Pak Acun adalah salah seorang murid sekaligus teman akrab yang menemani Gus Dur saat dirawat di rumah sakit.

Tanpa banyak bertanya Pak Acun langsung berangkat. Ia bergegas ke bebarapa pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, tapi karpet dengan ukuran 2 x 1 meter itu tidak ditemukan. Pak Acun kembali menghadap Gus Dur.

“Tidak ada karpet yang seukuran itu Gus. Ada sih tapi harus dipotong beberapa senti (cm),” kata Pak Acun. Namun Gus Dur tetap memintanya untuk mencari karpet dengan ukuran itu, harus pas dengan ukuran yang dipesan dan tidak bisa dipotong.

Sampai-sampai uang Rp 300.000,- itu pun habis hanya untuk berkeliling pusat perbelanjaan dan menelpon orang kesana-kemari untuk menayakan perihal karpet 2 x 1. Pak Acun akhirnya menyerah, dan kembali menghadap Gus Dur. Ia bertanya, “Sebenarnya untuk apa karpet itu Gus?”.

Dengan sedikit kesal Gus Dur menjawab, karpet itu akan dibeber di bawah ranjang Gus Dur, dan Pak Acun akan disuruhnya tidur di karpet itu sambil menemani Gus Dur yang sedang sakit. Biasanya Pak Acun diminta Gus Dur untuk membacakan bebarapa buku dan kitab kuning, lalu Gus Dur bercerita atau berkomentar tentang buku atau kitab kuning yang dibaca. Pak Acun mengenang saat ia diminta Gus Dur membacakan Serat Centhini, lalu Gus Dur bercerita soal Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar.

Setelah menyampaikan laporan, Pak Acun keluar rumah sakit, dan ia tetap berusaha mencari karpet yang dipesan Gus Dur. Dan… Sampai Gus Dur meninggal ia belum mendapatkan karpet dengan ukuran itu. Bahkan Pak Acun tidak ada bersama Gus Dur pada saat Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya.

Pak Acun juga tidak bisa berada di dekat makam pada saat pemakaman Gus Dur, karena saking banyaknya orang yang ingin mengikuti prosesi pemakaman itu. Namun sesaat setelah pemakaman ia berada di samping makam Gus Dur, dan dia baru menemukan misteri 2 x 1 itu.

“Ternyata, 2 x 1 meter itu adalah liang lahat,” katanya sambil berdoa di samping makam Gus Dur.

Pak Acun sendiri adalah salah seorang pengasuh Pondok Pesantern Al-Kenaniyah Jakarta Timur yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur. Pada saat Gus Dur mengaji di bulan Ramadhan di Masjid Al-Munawwarah bersama para santri Ciganjur, Pak Acun selalu berada disamping Gus Dur. Ia juga yang bertugas membangunkan Gus Dur saat tertidur di sela-sela pembacaan kitab kuning.

Cerita lainnya juga hampir sama. Sebelum meninggal pukul 18.45 WIB, Gus Dur sempat bercerita kepada salah satu orang dekatnya soal pengalaman spiritual yang dialami. Menurut Gus Dur, saat berziarah ke makam kakeknya KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang, Gus Dur sempat bertemu dan berkomunikasi dengan Mbah Hasyim.

Saat itu Gus Dur bercerita saat ziarah ke makam Mbah Hasyim, dia ditemui Mbah Hasyim. Gus Dur bercerita soal pengalamannya dengan tenang dan senang wajahnya. Menurut orang yang selalu menemani Gus Dur ini, dalam percakapannya dengan Mbah Hasyim, Gus Dur mengaku dikasihani. Gus Dur pun hanya tersenyum saat dibilangi kakeknya tersebut. Gus Dur bilang, “Mbah Hasyim kasian sama saya, Mas. Mbah Hasyim mengatakan, Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo? (Nak, kok tugasmu bersih-bersih terus ya? Yang sabar ya?),” kata Gus Dur waktu itu.

KH Maman dari Jamaah Akar Jati juga menceritakan pengalaman bersama mantan Presiden RI ke 4 ini hingga meneteskan air mata saat menceritakan pengalaman dirinya dengan Gus Dur.

“Beberapa hari sebelum meninggal, saya sempat bertemu dengan beliau. Saat itu Gus Dur sempat mengisyaratkan kepada saya bahwa dalam waktu dekat ini akan ada satu tokoh nasional yang sering sakit-sakitan bakal meninggal. Dia menceritakan hal itu saat berada di kantor PB NU di Jakarta,” papar Maman.

Saat Gus Dur menyampaikan bakal adanya tokoh nasional yang meninggal, Maman tidak menaruh curiga bahwa hal itu bakal terjadi pada Gus Dur sendiri. Tapi, setelah Gus Dur meninggal pada malam tadi dia mulai tersadar jika pernyataan yang disampaikan Gus Dur tersebut merupakan salah satu isyarat. Dari kisah ini kemudian banyak orang yang menganggap Gus Dur merupakan sosok yang luar biasa. Sampai-sampai dia dianggap mengetahui kapan maut menjemputnya, yang mana orang lain belum tentu bisa melakukan apa yang dilakukan Gus Dur.

Gus Dur meninggal dunia pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama.

Gus Dur memang menderita banyak penyakit, bahkan sejak dia mulai menjabat sebagai presiden. Dia menderita gangguan penglihatan sehingga seringkali surat dan buku yang harus dibaca atau ditulisnya harus dibacakan atau dituliskan oleh orang lain. Beberapa kali dia mengalami serangan stroke. Diabetes dan gangguan ginjal juga dideritanya.

Sebelum wafat dia harus menjalani hemodialisis (cuci darah) rutin. Gus Dur wafat akibat sumbatan pada arteri. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Jombang seusai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, pukul 18.45 WIB, sebelumnya kesehatan mantan Presiden Abdurrahman Wahid merosot pada pukul 11.00 WIB. Dokter Aris Wibudi dari Tim Dokter Kepresidenan kepada wartawan di RSCM, Rabu 30 Desember 2009 menuturkan kronologi detik-detik terakhir wafatnya Gus Dur. Sabtu 26 Desember 2009, kesehatan menurun, namun kondisinya sempat membaik Rabu 30 Desember 2009 pukul 11.00 WIB. Kondisinya kembali memburuk akibat komplikasi penyakit diabetes dan ginjal. Setelah dilakukan pengobatan intensif, kondisinya tetap memburuk. Pukul 18.15 WIB, Gus Dur kritis dan pukul 18.45 WIB, Gus Dur dinyatakan wafat.

Gus Dur meninggal dunia di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba di RSCM sekitar pukul 18.00 WIB. Setelah sekitar satu jam berada di dalam ruangan tempat Gus Dur dirawat, SBY keluar.

Dengan segala rekam jejak positif Gus Dur, maka tak heran jika kepergiannya ditangisi oleh banyak pihak dan diantarkan oleh lautan manusia. Kehadiran puluhan ribu orang dan maraknya acara haul Gus Dur di seluruh pelosok Indonesia menjadi pertanda bahwa masyarakat Indonesia sangat merindukan kehadiran kembali sosok layaknya Gus Dur, dimana belum satu pun presiden sekelas dengannya.

Bagi kalangan santri, lautan manusia yang memadati acara haul-haul Gus Dur semakin menegaskan indikasi bahwa Gus Dur adalah “wali” kesepuluh setelah Walisanga. Setiap hari makamnya selalu penuh sesak oleh orang-orang yang berziarah untuk sekedar mendoakan atau “ngalap” berkah pada tokoh penggemar cerita silat “Kho Ping Hoo” ini.

next


Bahkan rute ziarah Walisanga kini tidak sembilan, melainkan sepuluh, yaitu dengan ditambahkannya makam Gus Dur sebagai rute ziarah wisata wali Allah.

Akhirnya, kini, mata dan raga Gus Dur memang “tertidur” panjang, namun hati, jiwa, semangat dan buah pikirnya senantiasa ada untuk diestafet-kan kepada generasi-generasi muda NU dan bangsa selanjutnya. Atau benar ucapan KH Muchit Muzadi, bahwa 100 tahun lagi baru-lah Indonesia melahirkan sosok seperti Gus Dur kembali. Semoga saja.

Misteri Angka 9
Angka sembilan adalah angka kesempurnaan bagi semua kelompok dan kalangan. Tak terkecuali di lingkungan warga Nahdliyin. Angka sembilan juga menjadi misteri yang melingkupi kehidupan Gus Dur hingga akhir hayatnya.

Seperti dijelaskan oleh keluarga, Gus Dur meninggal pukul 18.45 WIB. Angka ini dijumlah dengan hitungan apapun ketemu angka 9. 1 plus 8 adalah 9, demikian juga dengan penjumlahan 4 dan 5 menjadi 9.

Gus Dur wafat dalam usia 69 tahun. Ini adalah sepasang angka yang berbentuk simetris dan menunjukan angka 9. Jika dibalik angkanya tetap 69. Tahun wafat pun 2009, tahun kesembilan di abad ke 21 ini.

Nah, rupanya angka 9 selalu mewarnai hidupnya sejak muda, belajar berpolitik, dan akhirnya menjadi presiden. Gus Dur pertama kali melanglang buana ke luar negeri saat belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Tahun berapa? 1963. 6 Plus 3 adalah 9.

Pendidikan tuntas, Gus Dur pun memulai kiprahnya di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). NU adalah organisasi berlambang bintang 9. Bintang yang paling besar adalah simbol Nabi Muhammad SAW, kemudian bintang untuk 4 sahabat nabi dan bintang untuk 4 imam madzhab.

Gus Dur pun mulai dikenal sebagai tokoh yang kritis dan menjadi Ketua Umum PBNU selama 3 periode. Gus Dur bahkan berani berseberangan dengan ICMI yang dinilainya sektarian dan mendukung Presiden Soeharto. Dia lalu membentuk Forum Demokrasi dengan mengumpulkan intelektual dan berbagai tokoh komunitas religius. Ada 45 orang yang dihimpun Gus Dur. 4 Plus 5, kita kembali bertemu angka 9.

Kiprah politiknya kian cemerlang dengan membidani lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bahkan Gus Dur menjadi Ketua Dewan Syuro. Lambang PKB adalah bola dunia yang dilingkari 9 bintang. Saat Gus Dur wafat, PKB sedang memiliki 27 kursi di DPR RI untuk periode 2009-2014. 2 plus 7, lagi-lagi angka sembilan.

PKB juga yang kemudian menjadi kendaraan politis Gus Dur untuk menjadi Presiden RI. Tahunnya adalah 1999, kombinasi 2 angka 9. Tanpa diduga sebelumnya, Sidang Umum MPR meloloskan Gus Dur sebagai presiden keempat mengalahkan Megawati Soekarnoputri setelah pemilu pertama di era Reformasi. Jabatan presiden menjadi puncak karir politik Gus Dur.@

Gus Dur, Perjudian, dan Tabloid Monitor
Sesungguhnya Gus Dur berperan penting ditutupnya judi berkedok sumbangan SDSB. Siapapun tentu tidak akan pernah menduganya. Inilah kisahnya.

Pada Desember 1985, kupon berhadiah Porkas resmi dijual. Setahun kemudian (Oktober 1986), dana terkumpul mencapai Rp 11 miliar. Akhir 1987, Porkas berubah nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Dalam kurun 1987, KSOB menyedot dana masyarakat Rp 221,2 miliar.

Pada Juli 1988, Mensos menegaskan KSOB (dan TSSB) diperkirakan menyedot dana masyarakat Rp 962,4 miliar atau meningkat 4 kali dibandingkan tahun 1987.

Pada saat itu pula, sejumlah politisi DPR mulai menyatakan, KSOB dan TSSB (Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah) menimbulkan ekses negatif, yakni tersedotnya dana masyarakat desa ke Jakarta dan dengan sendirinya memengaruhi kehidupan perekonomian daerah.

Awal Januari 1989, KSOB dan TSSB bermetamorfosis menjadi Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Akhir 1990, Pemerintah menambah frekuensi penarikan SDSB menjadi 9 kali.

Gelombang protes pun berdatangan. Protes datang dari para Gubernur Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Timtim, Kalimantan Selatan, dan Bengkulu. Bahkan Pemda Aceh dan Timtim menolak total peredaran SDSB.

Gelombang protes tidak hanya dari gubernur, tapi juga para ulama dan kalangan mahasiswa di berbagai daerah menuntut agar SDSB dihapuskan. Kalangan agamawan menilai SDSB adalah judi yang diharamkan. Sementara yang lain menilai SDSB memberi harapan hampa atau angan-angan kosong. SDSB dinilai meresahkan masyarakat karena banyak yang keranjingan judi dan jatuh miskin. Di samping itu bermunculan dukun palsu yang mengaku dapat menebak nomor. Pada intinya, tema yang mengemuka dalam demonstrasi menentang SDSB lebih kepada faktor ekonomi dan psikologi semata.

Meskipun tokoh-tokoh agama berulangkali menghimbau agar SDSB ditutup, tetapi tidak digubris Pemerintah. SDSB tetap berjalan tanpa halangan. Maklumlah, salah seorang pengelola SDSB adalah putra presiden. Konon pula, dibekingi Sudomo (muncul plesetan: Sudomo Datang Semua Beres atau SDSB).

Lalu dimana peran Gus Dur dalam menghentikan judi SDSB? Di sinilah keanehannya. Gus Dur menggunakan strategi yang tergolong berani dan kontroversial. Sebagaimana diketahui, ketika itu Gus Dur menjabat Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNU. Rupanya, tanpa sepengetahuan pengurus PBNU lainnya, termasuk dari Dewan Syuriah NU, Gus Dur meminta sejumlah uang kepada Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS), penghimpun dana SDSB. Tentu saja tindakan ini tergolong berani, mengingat organisasinya mengharamkan SDSB.

Tindakan Gus Dur ini bocor setelah seorang pengurus YDBKS buka suara. Akibatnya sangat menggemparkan. Terjadi hiruk pikuk di tubuh ulama NU dan umat Islam. Bahkan Gus Dur seolah membela diri dengan mengatakan SDSB halal.
Akibat Gus Dur menerima uang judi tersebut, Kyai Ali Yafie yang duduk sebagai Rais Aam PB NU menyatakan mundur dari kepengurusan PBNU.

Inilah titik awal munculnya gelombang demonstrasi besar-besaran menentang SDSB. Ketika itu para demonstran menganggap SDSB telah memecah belah umat. SDSB dinilai berpotensi merusak kerukunan bangsa. Dengan kata lain, arus utama demonstrasi tidak lagi sebatas tema masalah ekonomi dan psikologi, melainkan perpecahan di masyarakat.
Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan Pemerintah. Perpecahan di masyarakat berpotensi menimbulkan huru hara atau kerusuhan yang lebih luas. Pada akhirnya, Pemerintah secara resmi mencabut dan membatalkan pemberian izin SDSB pada 25 November 1993.

Inilah paradoks paradigma Gus Dur. Kita baru menyadari sikap kontroversial Gus Dur ini setelah SDSB dibubarkan. Bisa dibilang saat itu Gus Dur menjalankan tradisi sufistik yang orang awam tidak mengetahuinya. Sebagian orang justru menganggap Gus Dur sepertinya sudah apa yang bakal terjadi pada perjudian di Indonesia. Biar pun saat itu banyak orang menentangnya, toh pada akhirnya perjudian SDSB berhasil ditutup.

Sama halnya ketika Indonesia digemparkan dengan kontroversi Tabloid Monitor pada 1990. Tabloid Monitor merupakan tabloid hiburan terbesar di negeri ini. Tabloid fenomenal ini laris karena menjual segala hal berbau ‘syur’. Mulai dari gosip artis sampai masalah seks. Sekwilda (sekitar wilayah dada), bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan kode buntut (Mbah Bejo) menjadi sajian utama. Tirasnya mencapai 600.000 eksemplar per minggu. Pemimpin Redaksi Monitor, Arswendo Atmowiloto, dinilai berhasil melahirkan jurnalisme Lheer (terbuka).

Di tengah kejayaannya, (konon katanya, ketika itu Arswendo bergaji 50 juta perbulan), dia terpeleset saat membuat polling. Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Hasil angket menunjukkan Nabi Muhammad SAW menempati urutan kesebelas sebagai tokoh paling dikagumi, satu tingkat dibawah Arswendo yang menempati peringkat kesepuluh. Sedangkan KH. Zainuddin MZ dan Iwan Fals berada di atas Arswendo. Nomor 1 dan 2 dipegang Suharto dan Habibie.

Publikasi itu menimbulkan kegemparan di kalangan umat Islam. Tabloid Monitor dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW dan membangkitkan kembali sentimen SARA. Protes pun gencar dilancarkan. Mulai dari MUI hingga organisaasi yang mengatas namakan Islam. KH. Zainuddin MZ sempat berkomentar sinis,” mana mungkin ada mubaligh lebih populer dari Nabinya.”

Masyarakat marah dan terjadi demonstrasi di berbagai kota. Sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, menteri, termasuk para wartawan media lain ikut mengutuk tindakan Arswendo yang dinilai melakukan penodaan agama.

Sebagian demonstran mendatangi kantor tabloid tersebut dan melemparinya dengan batu. Dikabarkan, Arswendo sempat terkurung beberapa hari di kantornya dan ketakutan setengah mati. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi. Andaikan saat itu dia keluar, mungkin massa akan mengeroyok hingga babak belur.

Dalam situasi keriuhan ini, tiba-tiba saja Gus Dur datang membela Arswendo. Tentu saja pembelaan ini menimbulkan hujatan terhadap dirinya. Tetapi pembelaan Gus Dur memang tidak mudah dipahami.

Saat itu Gus Dur mengemukakan agar umat Islam tidak mudah emosional dan menjadi pemarah. Namun yang pasti, Gus Dur menentang keras pembreidelan tabloid itu. Sebab dianggap bertentangan dengan hak kebebasan berpendapat.

Tetapi tuntutan massa tidak dapat dicegah. Dengan makin gencarnya protes, Pemerintah membreidel Tabloid Monitor pada 23 Oktober 1990. Tak lama kemudian, PWI Jakarta memecat Arswendo dari keanggotaan PWI dan mencabut rekomendasi jabatan Pemred. Tidak hanya Tabloid Monitor, tapi juga Majalah Hai. Arswendo pun dijebloskan ke penjara selama 5 tahun. (Belakangan saya dapat info, kasus Tabloid Monitor memang sudah di skenario oleh pesaing bisnis tabloid itu).
Hingga saat itu, tidak ada yang menduga sikap Gus Dur menentang pembreidelanTabloid Monitor memiliki makna penting di kemudian hari.

Pada 21 Juni 1994, beberapa media massa seperti Tempo, Detik dan Editor dicabut surat izin penerbitannya, atau dengan kata lain dibreidel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai masalah penyelewengan negara oleh pejabat negara.

Demonstrasi bermunculan di berbagai tempat, khususnya mahasiswa, LSM dan para wartawan. Mereka menentang pembreidelan itu. Tetapi Pemerintah tidak menggubrisnya.

Ketika itu Gus Dur mengatakan bahwa pembreidelan Tabloid Monitor dijadikan uji coba pemerintah untuk menyiapkan pembreidelan media lainnya. Tetapi tidak seorangpun menyadarinya. Andaikan saat itu pembreidelan Monitor dicegah, tentu masyarakat akan menentang pembreidelan Tempo, Detik dan Editor. Tetapi, lagi-lagi tidak ada yang faham tindakan Gus Dur.

Inilah sekelumit pandangan Gus Dur yang bagi sebagian masyarakat dianggap kontroversial dan aneh. Gus Dur sungguh memahami apa yang bakalan terjadi dan beliau memang melakukan tindakan yang melompat jauh kedepan sehingga sulit dipahami orang awam.nesia

sumber : http://www.siagaindonesia.com/2014/0...mal-masa-depan
dirapihin dikit gan emoticon-Hammer2
Quote:Original Posted By badibad
dirapihin dikit gan emoticon-Hammer2

sepurane gan, wakeh gan hehe...
Tokoh yg berjasa di Negara Indonesia emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Ngakak

masak sih gan, bisa ramal, percaya sama ramalan ntu dosa gan, kecuali ramalan cuaca dengan data sains emoticon-Ngakak

tapi GUS DUR adalah anak bangsa indonesia yang berjasa emoticon-I Love Kaskus (S)

pusing bacanya emoticon-Cape d...

Panjang bener critanye gan,, kesel aq mocoe,, tapi untungnya udah kholas kang emoticon-Malu
buset dah gan. panjang bener emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By dhobaelll
Tokoh yg berjasa di Negara Indonesia emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia (S)


stuju gan..
perasaan tadi ane ngepostnya di forbud dah emoticon-Bingung
cocok logi
emoticon-Ngakak


klo bisa ngeramal masa depan
masa gk bisa tau bakal di kerjain amin rais
masa gk bisa tau bakal di tikam si imin
masa gk bisa tau tukang pijetnya penipu

yg logis ajalah
Islam itu agama pengetahuan
bukan agama takhayul
emoticon-Kiss
Quote:Original Posted By pargom
cocok logi
emoticon-Ngakak


klo bisa ngeramal masa depan
masa gk bisa tau bakal di kerjain amin rais
masa gk bisa tau bakal di tikam si imin
masa gk bisa tau tukang pijetnya penipu

yg logis ajalah
Islam itu agama pengetahuan
bukan agama takhayul
emoticon-Kiss


Gak ada hubunganyya dengan agama gan...
banyak orang yg diberi kelebihan oleh Allah SWT gk beragama islam...
Salam GUSDURIAN...emoticon-Kiss
Udah baca sampai habis bingung mau berkomentar apa,,
Yang jelas setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan,,,
Quote:Original Posted By Tzeaww
Udah baca sampai habis bingung mau berkomentar apa,,
Yang jelas setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan,,,


Betul puh tzeaww
Ane setuju dengan pendapat ente...
Bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya
Tiada ada seorangpun manusia yang terlahir sempurna....
Quote:Original Posted By MasterOfHorror


Betul puh tzeaww
Ane setuju dengan pendapat ente...
Bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya
Tiada ada seorangpun manusia yang terlahir sempurna....


emoticon-Sundul Gan (S) ane setuju sama sepuh diatas.. ( ngarep cendol dikirim lagi ke kulkas ane emoticon-Malu (S) )
Quote:Original Posted By agung03


Gak ada hubunganyya dengan agama gan...
banyak orang yg diberi kelebihan oleh Allah SWT gk beragama islam...
Salam GUSDURIAN...emoticon-Kiss


jelas adalah
kecuali agama situ bukan Islam
emoticon-Kiss
Wuidih panjang bener ceritanya emoticon-Belo

Lanjut ntar aja ahh emoticon-Traveller
Ane baru tau gan tentang gusdur
Quote:Original Posted By caliho
Wuidih panjang bener ceritanya emoticon-Belo

Lanjut ntar aja ahh emoticon-Traveller


Kejang nih emoticon-army