alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/533388e519cb178d6f8b481b/saya-tidak-terima-negara-saya-dibilang-kere-miskin-dan-peminjam-uang
SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Quote:Halo mod, ijin buka thread kebetulan saya penggemar pak prabowo, saya bukan bagian dari gerindra saya mau share artikel yg cukup bagus untuk dibaca mungkin di sela-sela kesibukan agan, mohon bimbingannya... emoticon-I Love Indonesia (S)

Presiden versi Survey. Tidak diragukan, Prabowo Subianto akan maju mencalonkan diri jadi presiden pada Pilpres 2014 mendatang dari Partai Gerindra. Bahkan sejumlah survey yang dilakukan beberapa waktu lalu, menempatkan namanya pada posisi teratas. Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) dalam survei terbarunya menempatkan Prabowo Subianto dalam urutan teratas Capres dengan 28 persen, disusul Mahfud MD 10,6 persen, Sri Mulyani Indrawati 7,4 persen, Aburizal Bakrie 6,8 persen, KH Said Agil Siradj 6 persen dan Din Syamsuddin 5,2 persen. Dahlan Iskan (0,4 persen), Megawati 0,3 persen, dan Chairul Tanjung (0,2 persen).

Pada pekan yang sama, survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) menempatkan Megawati pada urutan teratas dengan 23,8 persen, disusul Prabowo Subianto 17,6 persen, kemudian Aburizal Bakrie 13,7 persen. Sebelumnya Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menempatkan Megawati, Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie mendapat dukungan di atas 10 persen jika ikut Pilpres. Sementara nama lainnya seperti Ani Yudhoyono, Pramono Edi Wibowo, Anas Urbaningrum dan Marzuki Ali masih berada di bawah 10 persen.

Menanggapi hasil beberapa survey yang berbeda-beda cukup signifikan tersebut di atas, menimbukan keraguan akan validitas metodologi survey yang dilakukan oleh banyak kalangan masyarakat. Bahkan, kecurigaan adanya ‘pesanan’ dari beberapa kepentingan tidak terelakkan. Sukardi Rinakit dari Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) membantah keras ketika The Politic mensinyalir lembaga survey SSS ‘dibayar’ oleh pihak tertentu untuk menempatkan capres ‘X’ pada urutan teratas.

Terlepas dari hasil survey, pertanyaan mendasar tentang sosok seorang Prabowo adalah benarkah ia yang diinginkan rakyat? Masih kuat dalam ingatan masyarakat tentang penculikan para aktivis demokrasi, tragedi Trisakti, dan peristiwa Mei 1998 yang melibatkan Prabowo sebagai pelaku pelanggaran HAM sehingga ia kemudian dipecat dari militer.Tak hanya itu, kurang pandainya mengelola bisnis membuat lilitan utang yang tidak sedikit pada perusahaan-perusahaan miliknya. Gaya kepemimpinannya yang sangat militeristik, karakter pribadi yang temperamental, dan kehidupan rumah tangganya yang retak, merupakan poin-poin yang terakumulasi ke dalam sosok seorang Prabowo Subianto. Benarkah sosok seperti ini yang diinginkan rakyat?

Spoiler for Masa Kecil:

Spoiler for Jatuh Cinta:

Spoiler for Gaya Militer:

Spoiler for Habiskan 37 Handphone:
SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Spoiler for Terjun ke Bisnis:

Spoiler for Didukung Sang Adik:

Spoiler for Terbelit Utang:

Spoiler for Masalah Psikologis:

Spoiler for Program Perubahan:

***

Miliki Puluhan Kuda Harga Miliaran Rupiah

SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Istana Prabowo berpadu dengan hijaunya Bukit Hambalang, sangat megah dan asri dengan rerumputan dan pepohonan pinus. Selain di depan, di bagian belakang rumah juga terdapat satu pos penjagaan. Menurut sumber The Politic, rumah petinggi Gerindra ini berfasilitas sangat lengkap. Tak hanya itu, dua buah istal kandang kuda sebanyak 17 ekor kuda milik Prabowo berjenis Lusiano turut melengkapi fasilitas di rumah itu. Kuda-kuda tersebut didatangkan langsung dari Portugal. Tak tanggung-tanggung, konon harga per ekornya mencapai miliaran rupiah!


Prabowo memang begitu hobi berkuda. Sehingga untuk melengkapi hobinya, tersedia lapangan terbuka untuk latihan berkuda. Selain itu ada satu arena pacuan tertutup yang dialasi pasir putih. Lapangan terbuka terdapat di bagian depan dan belakang rumah. Sementara, arena pacuan tertutup berada di samping taman depan. Menurut para petugas keamanan rumah, Prabowo selalu menyempatkan diri berkuda di seputaran kediamannya.
Spoiler for Berenang Sebelum Berkuda:

Spoiler for Diklat Kader Muda Gerindra:

Sumber: tabloid The Politic Edisi 4 copas by TS
Akun resmi pak prabowo FB.com/PrabowoSubianto

Sepenggal Kabar mantan pasukan Kopassus Dari Medan Tempur

“Tunduk Mas, Jangan bergerak dulu!” suara lantang Sersan La Ode Ilham terdengar.
“Tidak, ini pertempuran Ilham! Bentak Prabowo.
“Jangan Mas, Saya dulu yang mati! Balas La Ode
“Tetap konsent Ilham” perintah Prabowo
“Prajurit akan bersemangat jika melihat komandannya bersemangat” balas Kapten Prabowo di tengah desingan peluru tentara fretelin Timor yang seolah di arahkan padanya.

Sersan La Ode tak mau ambil resiko. Ia segera membekap badan Kapten Bowo, menggulingkannya ke tanah, menekan dengan separuh badan, lalu melepaskan rentetan peluru ke arah musuh. Di benaknya, Kapten Prabowo tidak boleh gugur di medan tempur. Seberani apapun komandannya itu, ia adalah obor yang menghangatkan mereka di kala gundah, dan menjadi penyemangat pasukan di segala waktu.

Sersan La Ode tak habis pikir, pemuda gagah yang menjadi komandan kompi-nya itu seolah memiliki ‘nyali’ yang berlapis-lapis. Keberaniannya di medan tempur sama sekali tak mengisyaratkan jika ia adalah putera seorang Begawan Ekonomi dan mantu dari seorang Presiden yang amat di segani dunia internasional kala itu.

“Duarrr!! Letupan senjata api berkali-kali menghantam pasukan Kapten Prabowo, nyaris saja nyawa mereka melayang. Tapi Prabowo mampu mengatur strategi jitu buat anak buahnya hingga tak satupun peluru-peluru milisi fretelin mengenai sasaran. Membaca situasi itu, Prabowo tak ciut, ia terus membakar semangat pasukannya untuk memukul mundur pasukan musuh. Strategi itu membuahkan hasil, beberapa musuh tertembak mati dan yang lainnya kocar-kacir melarikan diri ke hutan-hutan. Situasi mereda, target untuk menguasai medan lawan terpenuhi. Sayangnya, radio penghubung milik pasukan Prabowo hancur terkena peluru dan bom musuh. Sehingga hubungan komunikasi pasukan Prabowo dengan Jakarta menjadi terputus.

Malam mulai senyap, yang terdengar hanya jengkrik dan suara burung hantu malam di belantara tanah berkapur dan hutan-hutan Timor. “Segera kembali ke markas, istirahat dan tetap waspada, radio penghubung yang rusak segera dibenahi” begitu perintah Kapten Prabowo. “Siapp!!” jawab pasukan.

Rusaknya radio penghubung pasukan baret merah yang dipimpin langsung Kapten Prabowo Subianto ini ternyata menimbulkan ‘situasi baru’ di Jakarta. Prabowo diisukan telah gugur di medan tempur. Tentu hal ini meresahkan Istana Negara. Bagaimanapun Prabowo telah menjadi ‘anak’ Presiden Soeharto, karena Prabowo menikah dengan Titik Soeharto,.

“Hampir sepekan lamanya isu berseliweran termasuk di Jakarta, bahwa Kapten Prabowo Subianto telah meninggal dunia di medan tempur. Kami juga sempat resah dengan isu dan situasi seperti itu, padahal Mas Bowo sehat walafiat. bagaimanapun Mas Bowo adalah ‘nyawa’ dari pasukan, kalau dibiarkan isu ini berlangsung lama, dapat menurunkan semangat tempur pasukan, ini hanya gara-gara radio penghubung rusak,” kenang La Ode Ilham akan peristiwa sebuah pertempuran di Timor-Timur di era tahun 1980-an.

Karenanya, pasukan berusaha keras agar radio penghubung itu dapat diperbaiki, atau mendapatkan radio baru. “Alhamdulillah radio kami bisa berfungsi kembali” kata La Ode Ilham, yang kini pensiun dini dari TNI dengan pangkat terakhir ‘Mayor TNI’. Ilham sendiri dikenal sebagai Kopassus yang amat dekat dengan Prabowo Subianto di pasukan.

“Kring..” Radio penghubung berhasil menghubungi Istana Negara. Seorang telah menerima telepon itu. Menurut La Ode Ilham, itu seperti suara dari Presiden Soeharto, sehingga kemudian ia dengan sigap melaporkan situasi terakhir pasukan termasuk kondisi komandannya, Prabowo Subianto yang sehat-walafiat dan membantah isu gugurnya Pak Prabowo. “Siap Jenderal!, Mas Bowo kondisinya sehat-walafiat,” jelas La Ode Ilham, kemudian menyerahkan telepon itu kepada Prabowo untuk berbicara langsung dengan istana.

La Ode Ilham tak bisa melupakan peristiwa itu. Termasuk kedekatannya dengan Prabowo Subianto yang disapanya ‘Mas Bowo’.
“Mas Bowo itu sangat pemberani, tegas dan selalu tepat dalam mengambil keputusan”
“Karenanya kami anak buahnya, jika berada di tengah-tengah Mas Bowo merasa sangat terlindungi, kamipun sangat melindungi Mas Bowo, bagaimanapun Mas Bowo bukan sekedar komandan kami, tapi beliau juga anak Presiden” kata Ilham.

Lain lagi cerita Letkol (Purn) Petrus Sunyoto, Kopassus yang pernah meraih penghargaan dari Presiden RI sebagai ‘Prajurit Terberani TNI’ punya kisah lain tentang sosok Prabowo Subianto. “Pak Prabowo itu adalah prajurit yang tidak sekedar pemberani di medan tempur, atau tegas dalam mengambil keputusan, tetapi juga memiliki sikap ‘ngemong’ dengan rakyat,” kata Petrus.

Menurutnya, di sela-sela istirahat dari medan tempur, Pak Prabowo meluangkan waktunya untuk berbagi dengan rakyat kebanyakan. Bahkan tak sungkan-sungkan mengenalkan kepada rakyat Timor untuk berfikir lebih maju, menghilangkan perbedaan antar kelompok. “Maklumlah rakyat Timor kala itu dilanda ancaman perang saudara, sehingga Pak Prabowo mengajak mereka untuk bersatu. Bahkan pasukan ABRI kala itu diperintahkan Pak Prabowo untuk snntiasa melindungi warga sipil tak bersenjata. Apalagi kaum perempuan dan anak-anak. Hak-haknya juga harus dihormati,” tandas Petrus.

Ada dua pesan yang tak pernah lekang diingatan Pak Petrus soal Pak Prabowo Subianto, yakni, setiap prajurit ABRI di medan pertempuran pantang akan dua hal, yakni; tidak sekali-kali berlaku senonoh dengan perempuan, serta tidak mengambil hak yang bukan hak mereka. “Pesan ini saya teruskan pada pasukan lain, siapa yang melanggar, maka sanksinya sangat berat, itu juga menjadi pedoman saya takkala memimpin pasukan,” imbuhnya.

Satu hal yang dicermati Pak Petrus tentang sosok Prabowo Subianto, yakni meski sibuk mengurus pasukan di medan tempur, tetapi waktu jeda digunakan Pak Prabowo untuk membaca. “Buku-buku bacaan beliau yang paling digemari saat itu, adalah buku-buku ekonomi dan buku yang berkisah tentang patriotisme dan heroisme,.”tandasnya.

Malah, keinginan Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, sebenarnya adalah cita-cita lama Pak Prabowo, sejak masih berpangkat Kapten TNI. “Jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika Pak Prabowo mengatakan ingin jadi Presiden sekarang ini, itu sudah lama sekali, semenjak beliau masih berpangkat Kapten, dan anak buah beliau di pasukan saya yakin mereka masih mengingatnya,” jelas Petrus.

Meski begitu, cita-cita mulya itu tidak membuat jarak antara Prabowo dengan pasukannya. Malah semakin membuat mereka melebur menjadi satu. “Di pasukan, meski beliau adalah komandan kami, dan juga mantu Presiden, tetapi tak ada perbedaan, jika beliau makan nasi kotak, kami juga makan nasi kotak, semuanya harus sama. Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. “Saya sendiri berkata, inilah sosok Presiden masa depan itu” imbuh Petrus.


Demikian sepenggal cerita kisah Jenderal Prabowo Subianto yang merupakan hasil wawancara singkat penulis dengan beberapa mantan pasukan Kopassus mantan pasukan Prabowo Subianto yang disarikan dari waktu dan tempat yang berbeda. Semoga bermanfaat.
Uangnya banyak banget yah pensiunan tentara..


Yang Whatsappnya mau expired boleh mampir gan..

PRABOWO: DEMI ALLAH, SAYA TAK SERENDAH ITU

SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Bertemu seorang Prabowo, di saat kasus orang hilang ramai dibicarakan, merupakan angin segar bagi DETAK. Pasalnya, mantan Danjen Kopassus ini, belakangan tidak mudah ditemui, apalagi diajak bicara seputar dugaan keterlibatan sepuluh anggota Kopassus yang terkait dengan kedudukannya sebagai atasan mereka saat terjadinya peristiwa. Beruntung seorang kawan yang mengadakan pesta ulang tahun, Minggu, 19 Juli 1998, menghadirkan mantan Danjen Kopassus ini sebagai salah satu tamunya. Langsung saja kesernpatan emas ini tidak begitu saja dilewatkan DETAK tanpa kongko-kongko seputar dirinya dan kasus penculikan. Seperti biasa, penampilannya tetap cerah, penuh percaya diri dan hangat.



Halo, Jenderal, apa kabar?

Alhamdulillah saya tetap sehat, lahir batin.



Kabar keluarga?

Oh, alhamdulillah juga, semua sehat. Hanya istri dan anak saya nggak bisa ikut ke sini. Titiek lagi nganter anak saya yang mau sekolah.



Jadi Anda bebas merdeka dong?

Dalam hal itu saya selalu bebas.



Lho, memangnya dalam hal apa nggak bebas?

Yah…, kalau you nanya soal kasus penculikan, baru saya tidak bebas.

SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!

Mengapa begitu?

Saya ini militer, tidak seperti you, bisa bebas bicara sesuka kata hati. Setiap bicara masalah yang sensitif, harus terlebih dahulu melapor pada atasan.



Tapi Jumat kemarin, 17 Juli 1998, anda bicara terbuka di depan wartawan, ‘Saya siap bertanggung jawab bila anak buah saya ter­bukti bersalah…’?


Saya harus mengatakan itu. Saya ini seorang perwira. Moral sebagai komandan harus saya tegakkan. Saya waktu bicara itu karena ter­paksa. Soalnya teman-teman you (wartawan—Red.) sudah begitu gen­car menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan. Tapi, semua ini telah saya laporkan pada Pangab.



Jelasnya, apa yang Anda maksud dengan bertanggung jawab?

Lho, sebagai komandan harus mau bertanggung jawab.



Komentar Anda seputar kasus penculikan dan kedudukan Anda sebagai Danjen Kopassus saat itu?

Wah, saya milih no comment! Karena semua persoalan menyangkut diri saya, sudah saya laporkan pada Pangab. Saya memilih diam.



Dengan diam, apakah Anda mengakui semua tuduhan yang bergulir?

Tuduhan apa? Kan proses sedang berjalan. Kita lihat saja nanti.



Proses yang bagaimana?


Seperti kata saya tadi…, sesuai prosedur semua sudah saya laporkan pada atasan.



Jadi Anda melapor bahwa benar Anda yang mengotaki penculikan..?

Heran saya, kenapa sih kalian senang betul menempatkan saya sebagai biang keladi penculikan. Pokoknya, no comment!

SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!

Tapi masyarakat telanjur dibuat berpikir bahwa Anda dalang utama peristiwa penculikan?


Saya seorang yang beragama. Tuhan maha tahu. Saya cinta negeri ini. Saya orang yang menghargai kemanusiaan. Demi Allah, saya tidak serendah itu.



Jadi akan tetap diam dan membiarkan seluruh prasangka berkembang?


Biarkan saja orang berburuk sangka pada saya. Bersikap pasrah pada Sang Pencipta membuat saya tenang. Apalah arti pangkat dan jabatan? Saya seorang prajurit yang mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. Bila harus, nyawa saya pun siap saya serahkan untuk Ibu Pertiwi.



Harapan Anda ke depan?

Harapan saya agar masyarakat tahu; saya ini seorang prajurit TNI. Saya rasa itu saja!



*) Wawancara ini dimuat dalam Tabloid DETAK No. 2/I, 21-27 Juli 1998.

PRABOWO: TAK ADA PRAJURIT YANG MAU MATI KARENA UANG

SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Namanya berkibar tak hanya di kalangan prajurit baret merah. Rakyat Timor Timur pun sangat kagum pada komandan yang selalu memperhatikan kesejahteraan anak buahnya itu. Tapi ia menolak kalau dianggap sering royal demi loyalitas anggota pasukannya. Soalnya, di mata Brigjen TNI Prabowo Subianto, tak seorang pun tentara yang mau mati demi uang.

Atau dengan kata lain, nyawa tentara hanya layak ditu­kar dengan kesetiaan kepada negara. Banyak ragam pendapat memang, tentang pangkat dan jabatannya yang cepat meroket. Pandangan yang positif menyebutkan, Komandan Kopassus yang baru diangkat menggantikan Brigjen TNI Subagio itu memang sangat layak menjadi jenderal karena kemampuannya. Tapi, ada juga suara minor yang menghu­bungkan karier Prabowo karena ia menantu Presiden.

Tahun demi tahun terus berlalu. Bersama itu pula, satu demi satu lahir jenderal baru. Seperti yang terjadi pada 1 Desember 1995, lahir seorang jenderal yang selama ini menjadi perbincangan banyak kalangan. Dialah Brigjen Prabowo Subianto, lulusan Akabri tahun 1974 yang dipromosikan menjadi Komandan Pasukan Khusus ke-15, menggantikan pendahulunya, Brigjen TNI Subagio Hadisiswoyo.

Menjadi Komandan Kopassus, yang rata-rata berlangsung satu sampai lima tahun, memang bukan hal luar biasa. Tapi, ketika Prabowo hadir di puncak pimpinan Pasukan Baret Merah, terasa ada nuansa “lain”. Itu bukan hanya karena lelaki kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951, itu meru­pakan salah satu putra “Begawan Ekonomi” Profesor Sumitro Djojohadikusumo. Juga bukan lantaran ia menikahi Siti Hediyati Heriyadi Soeharto, salah seorang putri Presiden Soeharto.
Quote:
Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Lebih dari itu, karena Prabowo memang memiliki “nilai lebih” dibandingkan dengan para perwira seangkatannya. Perkara kelebihannya itu bukan hanya diungkapkan oleh para prajurit yang menjadi anak buahnya, tapi juga oleh banyak perwira tinggi yang pernah menjadi komandannya. Bahkan, pujian sebagai prajurit yang berani dan cerdas pun banyak mengalir dari kalangan sipil. “Prabowo itu prajurit yang meyakinkan,” ujar Komandan Kodiklat AD, Mayjen Hendro Priyono. Alasannya, pada diri Prabowo terintegritas unsur intelektual, ketangkasan, dan mental yang kualitasnya tinggi. Dedikasinya 100. “Sudah deh, untuk saat ini tak ada yang lebih pantas selain dia,” kata Hendro, yang mengaku kenal Prabowo sejak taruna.

“Puja-puji” semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru. Hal itu sudah berlangsung ketika ayah satu putra ini menyandang pangkat letnan dua dan bertugas dalam aksi penumpasan Fretilin di Timor Timur. Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Begitupun ketika baru menikah empat bulan, saat pasukannya dikepung Fretilin. Prabowo sempat menghilang selama 14 jam. Selidik punya selidik, ternyata ia bersembunyi di sebuah lubang, karena ilalang tempatnya bersembunyi dikepung musuh dan dibakar. “Dari segi intelektual dan keprajuritan, dia memang bagus. Syukurlah kalau dia yang jadi komandan,” komentar Letjen (Pur.) Dading Kabualdi, salah seorang bekas komandan Prabowo. Sayang, ia tak mengenal Prabowo lebih dekat karena jauhnya perbedaan pangkat di antara mereka berdua. Yang diingat Dading, ia beberapa kali memberikan perintah langsung kepada perwira muda Prabowo melalui radio.

Tak bisa disangkal lagi, memang di Timtim lah mula-mula Prabowo mendapat nama besar. Seperti yang pernah dituturkan salah seorang anak buahnya pada tahun 1976. Kendati baru berpangkat letnan dua, ia sudah memiliki pengaruh kuat di kalangan pasukan yang dipimpinnya. “Pak Prabowo itu beda dengan komandan lainnya. Dia bukan hanya sangat dekat dengan prajurit seperti kami, tapi juga mampu menenteramkan hati para anak buahnya,” kata seorang anggota Kopassus berpangkat prajurit dua.

Salah satu contohnya, ketika itu banyak prajurit yang frustrasi karena terlalu lama di Tim-tim, atau kesal lantaran pasukan yang akan menggantikannya terlambat datang. Saking kesalnya, tak jarang mereka menembakkan senjatanya ke berbagai arah sebagai pelampiasan. Nah, menurut sang prajurit tadi, Prabowo bisa dengan mudah menenangkan prajurit yang frustrasi. Ditambah lagi, “Bapak juga selalu memperhatikan kesejahteraan kami,” katanya.
SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Quote:Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.
Nah, perkara perhatian ekstranya terhadap kese­jahteraan anak buah itu ternyata tak hanya dirasakan para prajurit, tapi juga terlihat jelas oleh para komandannya pada masa lalu. “Prabowo memang orang yang tepat dan pantas menduduki jabatan itu,” komentar Mayjen Adang Ruhiatna, Asisten Teritorial Kasad. Ia menganggap begitu, bukan hanya karena Prabowo merupakan perwira tangguh dan berwawasan luas, tapi juga gila kerja. “Hidup orang itu, dari hari ke hari, dari jam ke jam, hanya untuk prajurit,”’ katanya.

Hanya untuk prajurit? Betul. Buktinya, kendati masih pengantin baru, ia tak menolak untuk kembali bertugas di Timtim. Bahkan, kata Adangl, bukan hanya sebagian besar waktu dan perhatiannya ditumpahkan untuk pasukan, tapi materi yang dimilikinya pun acap dialirkan buat anak buahnya. “Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.

Keistimewaan lain yang dilihat Adang pada Prabowo adalah kemampuannya membangkitkan motivasi anak buah. Misalnya, ketika Prabowo menjadi anak buahnya, dan diberi tugas memimpin Batalyon 328, kemudian menjadi Kepala Staf Brigade (Kasbrig). Sebelum ditangani Prabowo, batalyon itu dalam kondisi kacau. Moral para prajuritnya sedang jatuh. Tapi, setelah dipimpin Prabowo, “Semua prajurit seakan bangkit kembali. Sampai-sampai tak ada orang yang tak kagum pada batalyon itu. Dan sampai kini, semua orang di batalyon itu bangga menjadi anggota 328,” kata Adang mengenang.
Quote: “Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang,” kata Adang lagi.
Hanya, seperti digunjingkan banyak kalangan selama ini, kendati berprestasi, Prabowo termasuk prajurit yang dianggap terlalu cepat naik pangkat. Untuk mencapai pangkat brigadir jenderal (dari letnan dua), ia hanya membutuhkan waktu 11 tahun. Maka, dari lulusan Akabri 1974, ia menjadi salah satu perwira yang paling awal mendapat bintang.

Tapi, lain orang lain pula penglihatannya. Pandangan Adang Ruhiatna justru sebaliknya. “Cepat apa? Menurut saya, dia itu justru terlalu lama di lapangan. Jadi komandan batalyon saja empat tahun. Bayangkan,” katanya. Jadi, Adang melihat, kenaikan pangkat Prabowo terlalu lambat. Padahal, sudah lama ia memiliki berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi Komandan Kopassus. “Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang,” kata Adang lagi.

Memang, sebagai bekas komandannya, Adang juga tahu masih banyak teman seangkatan Prabowo yang “ketinggalan kereta”. Bahkan tak sedikit dari seniornya yang masih berpangkat letnan kolonel. “Tapi itu biasa. Dari semua angkatan, yang benar-benar dianggap ‘bintang’ bisa dihitung dengan jari,” katanya. Di angkatan 1973 (setahun di atas Prabowo), misalnya, hanya ada Bambang Yudhoyono, yang bulan lalu dinaikkan pangkatnya menjadi brigjen.

Tapi, ya itu tadi. Tak semua orang, memang, bisa mero­ket seperti Prabowo dan Bambang. Dan itu wajar. Apalagi Prabowo memiliki banyak nilai plus, misalnya kemam­puannya menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, serta pengetahuannya yang luas. ABRI di era globalisasi memang dibutuhkan orang seperti dia. Jadi, “Kalau promosi kenaikan pangkat harus urut kacang (maksudnya berdasarkan angkatan), kapan kita bisa maju?” tanya Adang.

Kalau diteliti secara seksama, sebenarnya karier Prabowo tak semulus yang dilihat orang. Ketika menjadi taruna Akabri, misalnya, ia kerap mendapat hukuman karena sering tidak memahami perintah komandan. Itu acapkali terjadi terutama ketika ia masih duduk di tingkat satu. Maklum, sebelumnya, pemuda Prabowo hidup di luar negeri, sehingga bukan hanya gaya kebarat-baratannya yang masih tampak waktu itu, kemampuan berbahasa Indonesianya pun masih “belepotan”.

Hal itu, misalnya, pernah dituturkan Mayor Poltak Manurung, salah seorang dosen Akabri, kepada majalah Tempo 12 tahun lalu. Ketika baru masuk, katanya, Prabowo sangat sulit memahami bahasa Indonesia. Apalagi kalau yang memerintah atau mengajaknya berbicara menggunakan istilah daerah. Maka, “Buat dia, sampai perlu diadakan les bahasa Indonesia,” tutur Manurung.

Quote:“Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.”

Namun, kesulitan komunikasi bukanlah satu-satunya hambatan yang dihadapi Prabowo di Akabri. Untuk mena­namkan disiplin pun, pemuda itu harus berjuang keras. Soalnya, ia pernah harus membayar mahal untuk sebuah pelanggaran. Tepatnya, ketika di Akabri, pangkatnya pernah diturunkan setingkat gara-gara ia keluar dari garnisun.

Ceritanya, pada suatu ketika, para taruna memperoleh cuti ke Yogya, tapi Prabowo malah menggunakan kesempatan itu untuk nyelonong ke Jakarta. Itulah sebabnya, ketika lulus, ia kalah cepat setahun dibanding Bambang Yudhoyono.

Penunjukan Anda sebagai Komandan Kopassus memperoleh perhatian besar dari berbagai kalangan.

Ya, benar. Saya juga melihatnya begitu. Tapi, kita tak boleh bilang itu karena saya Prabowo. Banyak yang lebih hebat dari saya. Saya sendiri hanyalah bagian kecil dari totalitas ABRI. Sangat kecil. Siapa pun, para komandan, pimpinan, bahkan Panglima ABRI sekalipun, itu hanya merupakan bagian kecil dari ABRI. Itu yang besar. Sehingga, ada pergantian komandan saja menimbulkan perhatian ekstra dari masyarakat.

Jadi …?

Saya ini tak perlu ditonjol-tonjolkan. Semua orang sudah tahu Prabowo. Yang perlu ditampilkan itu yang kecil-kecil. Itu tidak ada orang yang mau tahu. Padahal, mereka itulah yang bekerja mati-matian. Kalau tak ada mereka, saya bukan apa-apa.

Maksudnya?

Banyak teman saya yang mati terbunuh di Timtim. Bahkan ada teman saya yang mati sebelum sempat menjadi letnan. Saya sendiri sangat bersyukur karena sampai sekarang masih diberi hidup.

Pengangkatan Anda itu juga menuntut tanggung jawab yang besar. Dan merupakan beban…

Sekali lagi saya minta, tolonglah jangan dibesar­-besarkan. Saya belum berbuat apa-apa. Saya mau bekerja dulu. Bukannya saya sok, ya. Saya berterima kasih atas perhatian pers. Saya hanya mohon diberi kesempatan untuk berkonsentrasi.

Pengangkatan itu merupakan tantangan berat?

Ya. Saya ditantang untuk kerja berat. Tapi saya tidak takut. Bagi saya, posisi baru itu merupakan kesempatan untuk mengabdi. Pokoknya, apa saja yang saya kerjakan tidak untuk yang lain kecuali demi Merah-Putih, itu saja.

Selama ini, banyak gunjingan orang tentang Anda…

Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.


Soal mulusnya kenaikan pangkat Prabowo, yang banyak dikaitkan orang dengan keberadaannya sebagai orang yang dekat dengan puncak kekuasaan, dikomentari pula oleh Mayjen Hendro Priyono, bekas Pangdam Jaya itu. “Prabowo itu menantu Presiden sekaligus putra bekas menteri. Tapi dia tetap tentara tulen dengan segala kelebihannya,” kata Hendro.

Ada yang bilang, Anda sering memberi uang ke anak buah, sehingga mereka menjadi sangat loyal kepada Anda.


Ya, memang banyak yang menuduh saya begitu. Menurut saya, itu tuduhan orang gila.

Kenapa?

You pernah perang tidak? Tidak mungkin ada orang yang mau mati hanya untuk uang. Tidak ada prajurit yang mau mati seperti itu. Tentara itu baru mau mati kalau demi kesetiaannya kepada negara.

Lantas, apa rencana Anda di Kopassus?

Nantilah, kalian akan saya undang kalau Kopassus bikin kegiatan atau punya konsep baru. Bagi saya, pers merupakan mitra dialog. Tapi bukan hanya dengan Anda, dengan siapa pun saya siap berdialog, asal demi kemajuan. Saya terbuka.

Wajar, memang, jika Prabowo terlihat sebagai tentara yang menganut prinsip demokrasi. Soalnya, jauh sebelum memasuki dunia ABRI, ia hidup di lingkungan masya­rakat yang selalu bersikap blak-blakan. Sejak masa kanak­-kanak, ia menghabiskan waktunya di luar Indonesia, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, lalu Hongkong, Swiss, kemudian Inggris. Maklum, waktu itu, ayahnya dituduh bersekongkol dengan PRRI/Permesta dan berselisih paham dengan Bung Karno, sehingga Sumitro memutuskan untuk meninggalkan tanah air.

Di tempat-tempat yang menjadi “pertapaan” ayahandanya itulah, Prabowo kecil menempa dirinya menjadi seorang pemuda demokrat. Ia, misalnya, kuat berlama-lama menyimak perdebatan yang berlangsung di parlemen Inggris. Kegemaran lain putra ketiga dari empat bersaudara itu adalah membaca buku.
Quote:
Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.


Selain itu, ia juga cukup dikenal sebagai pelari dan perenang yang andal. Belakangan, hobinya bertambah dengan terjun payung dan panjat tebing. Yang menarik dari Prabowo, ia tak segan-segan belajar, bahkan dari orang yang usianya lebih muda. Dalam latihan panjat tebing, contohnya, Prabowo dan anak buahnya di Kopassus tidak “malu” belajar dari kelompok Skygers, sebuah perkumpulan panjat tebing yang dipimpin anak-anak muda dari Bandung.

Sekembalinya ke tanah air, bersama keluarga, 1967, sebentar ia sempat aktif dalam kegiatan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Dasar anak cerdas, setelah mengikuti penyesuaian SMA selama setahun, Prabowo langsung tes di Akabri (1970) dan langsung diterima. Tapi bukan hanya di sana ia bisa lolos. Pada saat yang sama, ia juga diterima di Universitas Colorado dan Berkeley, Amerika Serikat.

Tapi, tak seperti ayahnya, Prabowo tak hendak menjadi ekonom. Ia tetap teguh pada cita-citanya sejak kecil, yakni mengikuti jejak Letnan Sujono dan Sersan Subianto, yang gugur bersama Daan Mogot saat revolusi fisik di Tangerang. Di Akabri, kendati sempat turun pangkat, ia dikenal sebagai taruna yang tak mau menelan mentah-mentah setiap materi pelajaran yang diberikan para gurunya.

Dalam perkuliahan, Prabowo hampir selalu mendebat setiap materi yang dianggapnya tidak pas. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai mahasiswa yang tekun mendengar tapi jarang mencatat. “Tapi, pas ujian, hasilnya baik,” kata Mayor Poltak Manurung. Kelebihan lainnya sebagai taruna adalah, karena ia fasih berbahasa asing, Prabowo sering bertindak sebagai pemandu setiap ada tamu dari luar negeri.

Lulus dari Akabri, Letda Prabowo langsung terjun ke Timtim dengan bendera RPKAD (nama Kopassus saat itu). Baru setelah menjadi Wakil Komandan Detasemen 81, sebuah unit antiteroris di Kopassus, dengan pangkat mayor, ia dialih-tugaskan ke korps baret hijau, Kostrad. Di situlah ia menjadi anak buah Adang Ruhiatna, hingga menduduki jabatan Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17.

Pada 1993, ia pulang kandang ke Kopassus untuk menjadi Komandan Grup 3, yang menangani Pusat Pendidikan Pasukan Khusus. Selanjutnya, November 1994, ia naik menjadi Wakil Komandan Kopassus, hingga bulan November.

Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.

Seperti halnya Adang Ruhiatna, Sutiyoso pun menganggap Prabowo sebagai sosok tentara profesional yang sarat referensi. Perhitungan itu terbukti ketika ia diserahi tugas memimpin Grup 3. Ketika itu, Prabowo berhasil menyusun kurikulum pendidikan yang diselenggarakan di Batujajar, Bandung, sedemikian rupa, sehingga menarik minat tentara asing untuk ikut berlatih di situ.

Tentu, sebuah ajang pendidikan tak akan menarik jika tak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Sedangkan pemerintah, cerita Sutiyoso, tak memiliki dana yang cukup. Nah, “Untuk mengurus perkara dana yang kurang itu pun, Prabowo sanggup melakukannya,” kata Sutiyoso kepada Wahyu Muryadi dari FORUM.

Sudah bisa dipastikan, kemampuan Prabowo menyusun kurikulum pendidikan Kopassus itu tidak hanya diperolehnya dari buku-buku berbahasa asing yang dibacanya. Juga bukan hanya karena ia pernah mengikuti pendidikan militer di luar negeri. (Ia adalah lulusan terbaik dari US Army Special Force, US Army Infantry School, dan pendidikan antiteroris di Jerman Barat). Lebih dari itu, kurikulum tersebut disusun berdasarkan pengalaman langsungnya di medan tempur.

Memang, bukan hanya di Timtim Prabowo memperoleh pengalaman berperang. Ia juga terlibat dalam operasi di Irian Jaya (penumpasan Organisasi Papua Merdeka, OPM) dan di Kalimantan (PGRS/Paraku). Tapi, bintang terangnya tetap ada di Timtim.

Persis pada malam tahun baru 31 Desember 1978, misalnya, Tim Nanggala 18 yang dipimpinnya berhasil menembak mati Presiden Fretilin Nicolao Labato, dan seorang panglimanya, Guido Soares.
Quote:
Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.


Kedua tokoh Fretilin itu, menurut Lopes Da Cruz, salah seorang pemimpin fraksi prointegrasi di Timtim saat itu, memang sangat dicari ABRI. Dalam perburuan, kata Lopez, ABRI melancarkan “Operasi Betis” yang melibatkan puluhan batalyon. Ternyata, Prabowolah yang berhasil menembus markas Fretilin. “Saya tidak tahu, siapa yang menembak Labato. Tapi, sejak itu, nama Prabowo menjadi sangat terkenal di Timtim,” katanya.

Atas prestasi itulah, Prabowo dan seluruh pasukannya mendapat kenaikan pangkat luarbiasa, yang langsung disematkan oleh Pangab Jenderal M. Yusuf. “Kau harus menjadi orang besar seperti ayahmu,” pesan Pangab ketika itu.

Tak lama kemudian, setelah berhasil menumpas sisa­-sisa Fretilin, Prabowo kembali memperoleh kenaikan pangkat luar biasa, dari mayor ke letnan kolonel. Bahkan, Yon 328 yang dipimpinnya dinobatkan menjadi batalyon terbaik. Nah, dengan dua kali kenaikan pangkat istimewa plus pengabdiannya yang habis-habisan, “Coba, siapa lagi yang pantas menjadi Komandan Kopassus kalau bukan dia,” kata Kasad Jenderal Hartono, yang mewakili Pangab dalam peryematan bintang pertama bagi Prabowo.

Cuma, bukan hanya di hati anak buah dan komandannya pamor Prabowo berbunga. Ia juga sukses dalam merebut hati masyarakat Timtim. “Dia itu punya perhatian yang luar biasa terhadap rakyat Timtim,” kata Lopez, yang mengenal Prabowo pada 1975, ketika kelompok prointegrasi bertemu dengan ABRI.

Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.

BERSAMBUNG POST BAWAH
Kurang lengkap vroh biografi nya. waktu 97/98 ketika aktifis banyak yang dihilangkan , saat itu dia jadi danjen kopassus, kemana aja beliau pada saat itu ? emoticon-Thinking

LANJUTAN LAST POST

Tapi, kepeduliannya itu tidak hanya terbatas pada anak-anak angkat semata. Ketika PON IX berlangsung di Jakarta, misalnya, Prabowo dengan senang hati membawa semua atlet Timtim berjalan-jalan dan berkunjung ke rumahnya. Kebetulan, ayahnya juga merestui langkah anak ketiganya itu. Bahkan mendukung. Karena, Prof. Sumitro pun menyediakan rumahnya untuk menampung anak-anak Timtim untuk disekolahkan sekaligus dicarikan pekerjaan.

Tak bisa disangkal lagi, bukan hanya Sumitro yang bangga terhadap putranya. Presiden Soeharto pun tampaknya terkesan pada menantunya itu. Ketika mempersiapkan pernikahan Prabowo dengan Siti Hediyati Heriyadi, misalnya, Pak Harto turun tangan langsung mengatur pelaksanaan pesta, dan turut memasang tarub di depan rumahnya di Jalan Cendana. Kenapa? Itu mungkin karena, “Bapak kan tentara. Tapi anak-anaknya tak ada yang jadi tentara. Ya, jadinya senang juga,” komentar Ny. Prabowo kepada Tempo, saat pernikahannya berlangsung.

Kini, setelah menjadi Komandan Kopassus, akankah perhatian Prabowo pada rakyat Timtim berubah? Mudah-mudahan tidak. Itulah harapan Lopes Da Cruz. Soalnya, menurut Lopes, perwira tinggi itu sudah kadung lekat di hati masyarakat Timtim. Dan Lopes pun berdoa, “Mudah-mudahan, dengan menjadi Komandan Kopassus, dia bisa melakukan pendekatan pada masyarakat dengan lebih intensif,” kata bekas Presiden UDT yang prointegrasi itu.

Lagi, sebuah tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipikirkan oleh sang brigadir jenderal. (Budi Kusumah, Karni Ilyas,Tony Hasyim dan Hanibal W.Y.W.)

*) Dimuat dalam Majalah FORUM No. 18/Th. IV, 18 Desember 1995, dengan judul asli “Banyak yang Lebih Hebat dari Saya”
[QUOTE=bmx_xxx;53[ sensor ]b71e0bc3d6508b47de]Kurang lengkap vroh biografi nya. waktu 97/98 ketika aktifis banyak yang dihilangkan , saat itu dia jadi danjen kopassus, kemana aja beliau pada saat itu ? emoticon-Thinking[/QUOTE]

coba buka forum capres di kaskus biar dijelaskan disana gan cz udah ada thread khusus tentang itu disini ane hanya share artikel saja, salam emoticon-Kiss
ane baca dulu gan emoticon-linux2




Quote:punya harapan Indonesia untuk maju?
yuk gunain hak suaramu di 9 April nanti emoticon-I Love Indonesia (S)


SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!SAYA TIDAK TERIMA NEGARA SAYA DIBILANG KERE, MISKIN DAN PEMINJAM UANG!!!
Quote:Original Posted By leader.regional
ane baca dulu gan emoticon-linux2






silahkan gan emoticon-I Love Indonesia
woooow presidenku nih !

sangat merah putih orangnya emoticon-I Love Indonesia (S)
skrg kan udah ga di militer lagi "katanya" bisa donk dibuka itu kasus 98, rakyat butuh kejelasan sebenernya apa yg terjadi
banyak banget sih trit politik di lounge makin jijik gw emoticon-Cape d...
Maju pak prab
Quote:Original Posted By jembeleyek


coba buka forum capres di kaskus biar dijelaskan disana gan cz udah ada thread khusus tentang itu disini ane hanya share artikel saja, salam emoticon-Kiss



lah udh ada forum capres bahas prabowo knp ente tetep mosting di lounge...Aneh lu ah...




ane masih nunggu kira2 siapa cawapersnya nie
mejeng di thread biografi
panjang bener ceritanya.....

tp memang ane juga dilema mau coblos siapa.....