alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/533367a1138b46d2438b48b0/kisah-nyata-ipar-itu-maut
[KISAH NYATA] Ipar itu Maut
[KISAH NYATA] Ipar itu Maut


Spoiler for bukti no repost gan:


kali ini ane mw berbagi sebuah cerita gan emoticon-Malu (S) kisah nyata lho (tertulisnya sih begitu)..hehe emoticon-Malu (S) tolong disimak ya, dibaca selengkap-lengkapnya, baru komentar emoticon-Smilie (silahkan utarakan pendapat agan sebebas-bebasnya, freedom of speech emoticon-I Love Kaskus (S) )

Quote:catatan: bukan ane yang ngalamin cerita ini ya, ane cuma ngeshare aja..hehe emoticon-Cendol (S) emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Kaskus (S)



Quote:Ipar Itu Maut

Quote:Khalid duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang diliputi kesedihan dan kegalauan. Shaleh, kawannya, memperhatikan kegalauan dan kesedihan itu di wajahnya. Ia berdiri dari mejanya dan mendekati Khalid, lalu berkata padanya:

"Khalid, kita ini berteman layaknya bersaudara sejak sebelum kita sama-sama bekerja. Aku perhatikan sejak seminggu ini engkau selalu termenung, tidak konsentrasi. Engkau kelihatan begitu galau dan bersedih"

Khalid terdiam sejenak. Kemudian ia berkata:

"Terima kasih atas kepedulianmu, Shaleh. Aku merasa memang membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan masalah dan kegelisahanku, barangkali itu bisa membantuku untuk mencari jalan keluarnya"

Khalid memperbaiki duduknya, lalu menuangkan segelas teh kepada kawannya, Shaleh. Kemudian ia berkata lagi:

"Masalahnya, wahai Shaleh, seperti yang engkau tahu aku sejak menikah 8 bulan lalu, aku dan istriku tinggal sendiri di sebuah rumah. Namun masalahnya adikku yang paling kecil, Hamd, yang berusia 20 tahun baru saja menyelesaikan SMA-nya dan diterima di salah satu universitas di sini. Dia akan datang satu atau dua minggu lagi untuk memulai kuliahnya. Ayah dan ibuku memintaku bahkan mendesakku agar Hamd dapat tinggal bersamaku di rumahku daripada ia harus tinggal di asrama mahasiswa bersama teman-temannya. Mereka takut nanti dia terseret mengikuti kawan-kawannya! Aku menolak hal itu, karena kamu tahu kan bagaimana seorang pemuda yang sedang puber seperti itu. Keberadaannya di rumahku akan menjadi bahaya besar. Kita semua sudah melewati masa remaja seperti itu. Kita tahu betul bagaimana kondisinya. Apalagi aku terkadang keluar dari rumah, sementara ia akan tetap berada di kamarnya. Mungkin juga aku pergi untuk beberapa hari untuk urusan pekerjaan dan banyak lagi. Aku harus pula sampaikan padamu bahwa aku sudah menanyakan kepada salah seorang Syekh terkait masalah ini, dan beliau mengingatkanku untuk tidak mengizinkan siapapun, meski itu saudaraku sendiri untuk tinggal bersamaku dan bersama istriku di rumah. Beliau mengingatkanku tentang sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Quote:Ipar itu adalah maut
Maksudnya bahwa hal paling berbahaya bagi seorang istri adalah kerabat-kerabat dekat sang suami, seperti saudara dan pamannya, karena mereka biasanya dengan mudah masuk ke dalam rumah. Dan tidak ada yang meragukan bahwa fitnah yang sangat besar dan berbahaya dapat terjadi di sini. Lagi pula, engkau pasti tahu, wahai Shaleh, kita seringkali ingin berdua saja dengan istri di rumah agar kita bisa beristirahat bersamanya dengan kaskusng-lapangnya. Dan ini sudah pasti tidak bisa terwujud jika adikku, Hamd, tinggal bersama kami di rumah"


Khalid terdiam sejenak. Ia meneguk teh yang ada di depannya. Kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya:

"Aku sudah menjelaskan semuanya kepada ayah dan ibuku. Bahkan aku bersumpah bahwa yang aku inginkan adalah kebaikan untuk adikku, Hamd. Namun mereka justru marah kepadaku, mereka menyerangku di depan semua keluarga, menganggapku sudah durhaka, bahkan menyebutku berprasangka buruk kepada adikku, padahal ia menganggap istriku seperti kakaknya sendiri. Mereka mengira aku dengki pada adikku karena aku tidak menghendaki ia melanjutkan pendidikan tingginya"

"Yang lebih berat dari itu semua, wahai Shaleh, adalah karena ayahku telah mengancamku dengan mengatakan bahwa ini akan menjadi citra buruk dan aib besar di tengah keluarga, karena bagaimana adikku bisa tinggal bersama orang lain sementara rumahku ada. Ayahku mengatakan: “Demi Allah, jika Hamd tidak tinggal bersamamu, aku dan ibumu akan marah padamu hingga kami mati. Kami tidak pernah mengenalmu sejak hari ini, dan kami akan berlepas diri darimu di dunia sebelum di akhirat"

Khalid menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali berujar:

"Sekarang aku sungguh bingung tidak tahu berbuat apa. Dari satu sisi, aku ingin menyenangkan hati ayah dan ibuku, tapi di sisi lain aku tidak ingin mengorbankan kebahagiaan keluargaku. Nah, sekarang bagaimana pandanganmu, wahai Shaleh, terhadap masalah yang sangat berat ini?"

Shaleh memperbaiki duduknya. Ia kemudian mengatakan:

"Tentu engkau ingin mendengarkan pendapatku sejelas-jelasnya dalam masalah ini, bukan? Karenanya izinkan aku untuk mengatakan kepadamu, wahai Khalid, bahwa engkau benar-benar seorang peragu dan bimbang. Sebab jika tidak begitu, untuk apa semua persoalan dan masalah ini terjadi bersama kedua orang tuamu? Bukankah engkau tahu bahwa ridha Allah itu bergantung pada ridha kedua orang tua, begitu pula kemurkaan-Nya bergantung pada kemurkaan mereka berdua? Lagi pula jika adikmu tinggal serumah denganmu, ia akan membantumu menyelesaikan urusan rumah. Dan ketika engkau tidak ada di rumah untuk suatu urusan, ia akan menjaga rumahmu selama engkau pergi"

Shaleh sengaja diam sebentar. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Khalid terhadap apa yang diucapkannya. Kemudian ia melanjutkan dengan mengatakan:

"Lagi pula aku ingin bertanya padamu: mengapa engkau berburuk sangka pada adikmu sendiri? Apa kamu lupa Allah melarang kita berburuk sangka kepada orang lain? Coba katakan padaku: bukankah engkau percaya dengan istrimu? Bukankah engkau percaya kepada adikmu?"

Khalid segera memotongnya:

"Aku percaya kepada istriku dan juga adikku, tapi. . ."

"Kita kembali lagi menjadi ragu dan percaya pada praduga-praduga," potong Shaleh.

"Percayalah, wahai Khalid, adikmu Hamd akan menjadi penjaga yang amanah untuk rumahmu, baik ketika engkau ada ataupun tidak. Ia tidak mungkin akan mengganggu istri kakaknya karena ia sudah menganggapnya seperti kakaknya. Dan coba tanyakan pada dirimu sendiri, wahai Khalid, jika adikmu Hamd kelak menikah, apakah engkau sempat berpikir untuk mengganggu istrinya? Aku yakin jawabnya tidak, bukan? Lalu kenapa engkau harus kehilangan ayahmu, ibumu dan saudaramu? Keluargamu akan berpecah hanya karena praduga-praduga seperti itu? Gunakanlah akal sehatmu. Buatlah ayah dan ibumu ridha agar Allah juga ridha pada-Mu. Dan jika engkau setuju, biarlah adikmu Hamd, tinggal di bagian depan dari rumahmu, kemudian kuncilah pintu pemisah antara bagian depan rumahmu dengan ruangan-ruangan lain."

Khalid akhirnya bisa menerima penjelasan kawannya, Shaleh. Di hadapannya, ia tidak punya pilihan selain menerima adiknya, Hamd untuk tinggal bersamanya di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Hamd pun tiba. Khalid menjemputnya di bandara. Mereka kemudian meluncur menuju rumah Khalid di mana Hamd akan menempati bagian depannya. Dan seperti itulah yang terjadi selanjutnya.

Hari demi hari terus berganti. Ia bergulit mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan kini kita telah berada di empat tahun setelah perisitiwa itu.

Kini Khalid telah genap berusia 30 tahun. Ia telah menjadi ayah bagi tiga orang anak. Sementara Hamd kini telah memasuki tahun terakhir perkuliahannya. Ia sudah hampir menyelesaikan kuliahnya di universitas. Kakaknya, Khalid telah berjanji untuk mengupayakan pekerjaan yang layak untuk adiknya di universitas itu, dan membolehkannya tetap tinggal di rumah itu hingga ia menikah dan pindah dengan istrinya ke rumah tersendiri.

Pada suatu malam, ketika Khalid baru saja pulang ke rumahnya dengan mengendarai mobilnya, ia melintas di jalan yang bertepian dengan rumahnya. Tiba-tiba dari jauh ia melihat seperti dua sosok hitam di pinggir jalan. Ketika ia mendekat, ternyata seorang ibu tua dengan seorang gadis yang terbaring di tanah menangis kesakitan. Sementara sang ibu tua itu terus berteriak meminta tolong:

"Tolong!! Toloooong kami!"

Khalid sungguh heran dengan pemandangan itu. Rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mendekat lebih dekat lagi dan bertanya mengapa mereka berdiri di pinggir jalan seperti itu.

Ibu tua itupun menceritakan padanya bahwa mereka bukanlah penduduk kota itu. Mereka baru sepekan saja berada di situ. Mereka tidak mengenal siapapun di sini, dan bahwa gadis itu adalah anaknya, suaminya sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dan sekarang si anak itu mengalami sakit melahirkan sebelum waktunya. Anaknya hampir mati karena rasa sakit yang luar biasa itu, sementara mereka tidak menemukan seorang pun yang dapat mengantar mereka ke rumah sakit.

Ibu tua itu meminta tolong dan memohon-mohon padanya sembari mengucurkan air mata: "Tolonglah, aku akan mencium kedua kakimu, bantulah aku dan anakku ke rumah sakit terdekat! Semoga Allah menjagamu, istrimu dan anak-anakmu dari semua musibah."

Air mata ibu tua dan erangan kesakitan gadis itu membuatnya terenyuh. Ia benar-benar merasa kasihan. Dan karena dorongan untuk membantu orang kesulitan, ia pun setuju untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Ia segera menaikkan mereka ke mobilnya, dan secepatnya meluncur ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, ibu tua itu tidak putus-putusnya mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Khalid dan keluarganya.

Tidak lama kemudian, mereka pun sampai ke rumah sakit. Setelah menyelesaikan urusan administrasinya, gadis itu kemudian dimasukkan ke dalam ruang operasi untuk menjalani operasi cesar, karena ia tidak mungkin melahirkan secara normal.

Karena ingin berbuat baik, Khalid merasa kurang enak jika segera pergi dan meninggalkan ibu tua itu bersama putrinya di sana sebelum ia merasa yakin betul akan keberhasilan operasi itu dan bayi yang dikandungnya keluar dengan selamat. Ia pun menyampaikan kepada ibu tua itu bahwa ia akan menunggunya di ruang tunggu pria. Ia meminta pada ibu itu untuk mengabarinya jika operasi itu selesai dan proses melahirkan itu berhasil dengan selamat. Khalid kemudian menghubungi istrinya dan menyampaikan bahwa ia akan sedikit terlambat pulang ke rumah. Ia menenangkan istri bahwa ia baik-baik saja.

Khalid pun duduk di ruang menunggu khusus pria. Ia menyandarkan punggungnya ke tembok, dan kelihatannya ia sangat mengantuk. Ia pun tertidur tanpa ia sadari. Khalid tidak pernah tahu berapa lama waktu berjalan selama ia tertidur. Namun yang ia ingat betul adalah pemandangan yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya. Ketika ia tiba-tiba terbangun oleh suara dokter jaga dan dua petugas keamanan yang mendekatinya, sementara si ibu tua tadi berteriak-teriak sambil menunjuk ke arahnya : "Itu dia! Itu dia!!"

Khalid sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan segera mendatangi ibu tua itu, lalu berkata: "Apakah proses kelahirannya berhasil, Bu?"

Dan sebelum ibu tua itu mengucapkan sesuatu, seorang petugas keamanan mendekatinya dan bertanya: "Anda Khalid?"

"Iya, benar," jawabnya.

"Kami ingin Anda datang sekarang juga ke ruang kepala keamanan!" ujar petugas itu.

Semuanya akhirnya masuk ke ruang kepala keamanan dan mengunci pintunya. Ketika itulah, ibu tua itu kembali berteriak dan memukul-mukul badannya sendiri. Ia mengatakan: "Inilah penjahat keji itu!! Aku harap kalian tidak melepaskan dan membiarkannya pergi! Duhai malangnya nasibmu, wahai putriku!"

Khalid hanya bisa terkejut penuh kebingungan, tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia tidak sadar dari kebingungannya kecuali setelah polisi itu mengatakan:

"Ibu tua ini mengaku bahwa engkau telah berzina dengan putrinya. Engkau telah memperkosanya hingga hamil. Lalu ketika ia mengancammu untuk melaporkan ini pada polisi, engkau berjanji akan menikahinya. Namun setelah melahirkan, kalian akan meletakkan anak bayi itu di pintu salah satu mesjid agar ada orang baik yang mau mengambilnya untuk membawanya ke panti sosial!"

Khalid benar-benar terkejut mendengarkan ucapan itu. Dunia menjadi gelap di matanya. Ia tidak lagi bisa melihat apa yang ada di depannya. Kalimat-kalimatnya tertahan di kerongkongannya. Hingga tiba-tiba saja ia terjatuh, tidak sadarkan diri.

Tidak lama kemudian, Khalid tersadar dari pingsannya. Ia melihat dua orang petugas keamanan bersama di dalam ruangan itu. Seorang polisi khusus yang ada di situ segera mengajukan pertanyaan untuknya:

"Khalid, coba sampaikan yang sebenarnya. Karena kalau kami melihat sosokmu, nampaknya engkau adalah seorang yang terhormat. Penampilanmu menunjukkan bahwa engkau bukanlah pelaku yang melakukan kejahatan seperti ini."

Dengan hati yang sangat hancur, Khalid mengatakan:

"Tuan-tuan, apakah seperti ini balasan untuk sebuah kebaikan? Apakah seperti ini kebaikan itu dibalas? Aku adalah seorang pria terhormat dan baik-baik. Aku sudah menikah dan punya tiga orang anak: Sami, Su’ud dan Hanadi. Dan aku tinggal di lingkungan baik-baik"

Khalid tidak bisa menguasai dirinya. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Kemudian ketika ia mulai tenang, ia pun menceritakan kisahnya dengan ibu tua dan putrinya itu secara lengkap.

Dan ketika Khalid selesai menyampaikan informasinya, polisi itu berkata padanya:

"Tenanglah! Aku percaya bahwa engkau tidak bersalah. Tapi persoalannya adalah semuanya harus berjalan sesuai prosedur. Harus ada bukti yang menunjukkan ketidakbersalahanmu dalam masalah ini. Perkaranya sangat mudah dalam kasus ini. Kami hanya akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium medis khusus yang akan menyingkap hakikat sebenarnya."

"Hakikat apa?" potong Khalid. "Hakikat bahwa aku tidak bersalah dan seorang yang terhormat? Apakah kalian tidak mempercayaiku?"

Keesokan paginya, selesailah pengambilan sampel sperma milik Khalid untuk kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan diteliti. Khalid duduk bersama polisi khusus di sebuah ruangan lain. Ia tak putus-putusnya berdoa dan meminta kepada Allah agar menunjukkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kurang lebih dua jam kemudian, datanglah hasil pemeriksaan tersebut. Hasilnya sungguh mengejutkan. Pemeriksaan itu menunjukkan bahwa Khalid sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Itu sepenuhnya adalah tuduhan dusta. Khalid tak kuasa menahan rasa gembiranya. Ia bersujud kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukurnya karena Ia telah menunjukkan ketidakbersalahannya dalam kasus itu. Petugas polisi itupun meminta maaf atas gangguan yang mereka munculkan. Kemudian si ibu tua dan putrinya itupun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Khalid berusaha untuk berpamitan kepada dokter spesialis yang telah melakukan pemeriksaan tersebut, karena telah menjadi sebab kebebasannya dari tuduhan keji itu. Ia pun pergi menemui sang dokter di ruangannya untuk berpamitan dan berterima kasih. Namun dokter itu justru memberikan kabar kejutan padanya:

"Jika Anda berkenan, saya ingin berbicara dengan Anda secara khusus beberapa menit"

Dokter itu nampak agak gugup, lalu seperti berusaha mengumpulkan keberaniannya ia berkata:

"Khalid, sebenarnya dari hasil pemeriksaan yang telah saya lakukan, saya khawatir Anda mengidap sebuah penyakit! Tapi saya belum bisa memastikannya. Karena itu saya harap Anda berkenan untuk melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk istri dan anak-anak Anda agar saya bisa memastikannya dengan yakin"

Dengan perasaan dan raut wajah penuh keterkejutan dan kekhawatiran, Khalid pun berkata:

"Dokter, tolong kabarkan pada apa yang sedang kuderita, aku rela menerima semua takdir Allah bagiku. Yang paling penting bagiku adalah anak-anakku yang masih kecil. Aku siap mengorbankan apa saja untuk mereka"

Lalu ia menangis tersedu-sedu. Dokter berusaha untuk menenangkannya dan berkata:

"Sebenarnya saya tidak bisa mengabari Anda sekarang sampai saya benar-benar yakin dengan hal itu. Boleh jadi keraguanku tidak pada tempatnya. Tapi segeralah bawa ketiga anakmu ke sini untuk pemeriksaan"

Beberapa jam kemudian, Khalid pun membawa istri dan anak-anaknya ke rumah sakit itu. Selanjutnya mereka diperiksa dan diambil sampel-sampelnya yang dibutuhkan untuk pemeriksaan laboratorium. Setelah itu, ia membawa mereka pulang lalu ia kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui dokter itu lagi. Ketika mereka berdua sedang mengobrol, tiba-tiba telepon genggam Khalid berbunyi. Ia mengangkatnya dan berbicara kepada orang yang menelponnya beberapa menit.

Kemudian setelah selesai, ia kembali melanjutkan pembicaraannya dengan dokter yang mendahuluinya dengan pertanyaan: "Siapa orang yang padanya kau sampaikan untuk tidak membongkar pintu apartemen itu?"

"Ia adikku, Hamd. Ia tinggal bersama kami dalam satu apartemen. Ia telah menghilangkan kuncinya dan memintaku untuk segera pulang agar dapat membuka kunci pintu yang tertutup itu," jawab Khalid.

"Sejak kapan ia tinggal bersama kalian?" tanya dokter heran.

"Sejak empat tahun yang lalu," jawab Khalid. "Saat ini, ia sedang menyelesaikan tahun terakhirnya di universitas."

"Bisakah engkau menghadirkannya pula besok untuk juga diperiksa? Kami ingin memastikan apakah penyakit ini keturunan atau bukan?" tanya dokter.

"Dengan senang hati, besok kami akan hadir ke sini bersama," jawab Khalid.

Pada waktu yang telah ditentukan, Khalid dan Hamd, adiknya, hadir di rumah sakit. Dan akhirnya selesai pula pemeriksaan laboratorium terhadap sang adik. Dokter kemudian meminta Khalid untuk menemuinya satu pekan dari sekarang untuk mengetahui hasil akhirnya.

Sepanjang pekan itu, Khalid hidup dalam kegalauan dan kegelisahan. Pada waktu yang dijanjikan, Khalid pun datang pada minggu berikutnya. Dokter menyambutnya dengan hangat. Ia juga memesankan segelas lemon untuknya agar ia lebih tenang. Dokter mengawali penjelasannya dengan mengingatkan Khalid betapa pentingnya bersabar menghadapi musibah, dan memang demikianlah dunia itu.

Khalid memotong pembicaraan dokter itu dengan mengatakan:

"Tolong, Dokter, Anda jangan membakar tubuhku lebih lama lagi. Aku sudah siap untuk menanggung penyakit apapun yang menimpaku. Ini telah menjadi takdir Allah untukku. Apa yang sebenarnya telah terjadi, Dokter?"

Dokter itu menganggukkan kepalanya lau berkata:

"Seringkali, hakikat yang sebenarnya itu begitu menyakitkan, keras dan pahit! Tapi harus diketahui dan dihadapi! Sebab lari dari masalah tidak akan menyelesaikannya dan tidak akan mengubah keadaan."

Dokter itu terdiam sebentar. Lalu ia pun menyampaikan yang sebenarnya. . . . .


Bersambung emoticon-Malu (S) lanjut ke post #2 ya gan..hehe emoticon-Malu (S)

Lanjutan cerita

Quote:Dokter itu terdiam sebentar. Lalu ia pun menyampaikan yang sebenarnya:

Spoiler for apa yang sebenarnya terjadi. . .:


Khalid tidak mampu mendengarkan kenyataan pahit itu. Ia berteriak histeris hingga teriakannya memenuhi penjuru rumah sakit. Lalu ia jatuh tak sadarkan diri.

Dua minggu kemudian, barulah ia sadar dari ketidaksadarannya yang panjang. Namun ketika ia sadar, ia telah menemukan hidupnya hancur berkeping-keping.

Khalid mengalami stroke di setengah bagian tubuhnya. Kewarasannya hilang akibat berita yang menyakitkan itu. Ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk melewati hari-harinya yang tersisa. Adapun istrinya, ia telah diserahkan kepada Mahkamah Syariat untuk membenarkan pengakuannya lalu dihukum dengan hukum rajam hingga mati. Sedangkan adiknya, Hamd, ia sekarang berada di dalam penjara menunggu keputusan hukum yang sesuai dengan kejahatannya. Sedangkan ketiga anak itu, mereka dipindahkan ke panti sosial untuk akhirnya hidup bersama anak-anak yatim dan mereka yang dipungut dari jalanan. Begitulah, Sunnatullah berlaku: "Ipar itu adalah maut."


Quote:THE END

buat yang pengen tau haditsnya nih emoticon-Smilie

Quote:Imam Bukhari di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shahih-Nya (16/257) meriwayatkan hadits dari Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Quote:إِياكُمْ وَالدخُوْلَ عَلَى النسَاءِ ! فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ ؟ قَالَ : اَلْحَمْوُ الْمَوْتُ

Artinya:

Quote:Janganlah salah seorang dari kalian masuk menemui seorang wanita! Mendengar itu seorang lelaki Anshar bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana jika lelaki itu adalah saudara ipar wanita tadi?" Rasul menjawab, "(menemui dan menyendiri dengan) ipar bisa membawa pada kematian."


nah gmn pendapat agan dan aganwati setelah membaca cerita di atas? mungkin ada yg pernah dngr kejadian seperti itu? tp mudah2n kita smw dijauhkan ya dr kejadian seperti kisah di atas..aamiiin emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S)

Makasih buat agan dan aganwati yang udah baca sampe tuntas tas tas emoticon-I Love Indonesia (S)

ane tunggu komennya ya emoticon-Smilie kalo agan ga bisa ngasih cendol emoticon-Cendol (S) tolong jangan ngasih ane bata emoticon-Blue Guy Bata (S) emoticon-Berduka (S) minimal di rate 5 emoticon-Rate 5 Star lah biar agan-agan yg lain bisa baca juga..hehe emoticon-Malu (S)

ane ga berharap thread ini jadi HT (ane tw untuk jd HT itu susah buanget, dan biasanya yg ada unsur agamanya ga bakal jadi HT, kl emg nanti jd HT ya Alhamdulillah..hehe emoticon-Malu (S) ) emoticon-I Love Kaskus (S)

sekian dari ane gan, kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh emoticon-Salaman emoticon-Salaman emoticon-Salaman

Quote:Sumber: Buku Chicken Soup for Muslim, Penerbit: Sukses Publishing, Halaman 105-122
Spoiler for Penampakan bukunya nih gan:


Sumber Hadits: Mutiara Hadits Nabi: Al-Hamwu Al-Mautu


kalo agan berkenan silahkan berkunjung ke Thread ane yang lain ya..hehe emoticon-Malu (S)
Quote:Istri atau Pembantu?
Alasan Penting Kenapa Bu Risma Rela Mati Demi Menutup Lokalisasi

Reserved for best comments

Quote:Quote:Original Posted By ladolcevita789
Astaghfirullahaladzhim. Naudzubillah min dzalik. Sumpah ane merinding baca kisah ini.
Betapa teganya dan sampai hati berbuat seperti istri dan adik khalid itu. Pelajaran yg bagus bgtspy kita lebih berhati2 lagi jgn smp berduaan sm selain suami kita (bagi yg sdh menikah) atau berduaan sama selain muhrim.
x_x


Quote:Original Posted By CbL.us
Bagus gan isi ceritanya, maksud dan tujuan nya tersampaikan dengan baik


Quote:Original Posted By dckdck
Gaya bahasanya agak lebay lebay gimana gitu
Tapi nice info lah, buat pelajaran kalo sudah berumah tangga emoticon-Ngacirkimpoi


Quote:Original Posted By Paparazi
Bagus gan ceritanya..bisa menjadi Ibroh


Quote:Original Posted By ombengindah
Ane baca sampai bait terakhir......ko ane yg dag dig dug ya.....


Quote:Original Posted By PunyaSiBoss
Memang begitu hukumnya istri baik bapak mertua, adik ipar laki-laki kandung suami pun seharusnya tidak bisa atau diperbolehkan tinggal bersama kecuali dalam keadaan uzur dan sakit. Begitu juga hal sebaiknya sang suami ibu mertua, adik ipar perempuan kandung istri tidak boleh karena namanya setan itu bisa mempengaruhi dan menyesatkan termasuk dalam keluarga baik-baik. untuk menghindarkan fitnah lebih baik

dari cerita di atas yang harus dipersalahkan adalah ayah dan ibu nya, mesti nya kalau masih hidup digorok tuh

Quote:Original Posted By Gauq
Terus hikmah cerita ini apa Gan...?

- Khalid orang baik, yang berusaha menuruti orang tua dan tidak berprasangka pada adiknya sendiri, lha kok dia malah bernasib buruk...??? Jadi gila keluarganya berantakan... Anak2nya yang ga bersalah malah jadi bernasib sial?

- Yang jahat siapa? Orang tuanya yang memaksanya tinggal sama adiknya??? Atau sahabatnya yang meyakinkannya tinggal sama adiknya??? Merekalah penyebab semuanya terjadi...

- Dari awal si Khalid Apes ini cuma punya dua pilihan: (1) Menuruti orang tua = jadi gila keluarga berantakan (2) Tidak menuruti orang tua = Dimurkai orang tua dan dimurkai Allah...???

Menurut Ane ceritanya menyesatkan... Orang baik itu menderita dan berujung tragis nasibnya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu seperti yg terdpt pada surat Al-Ankabut ayat 8 . “Arti : Dan Kami berwasiat kpd manusia agar berbakti kpd orang tua dgn baik, dan apabila kedua memaksa untuk menyekutukan Aku yg kamu tdk ada ilmu, maka janganlah taat kpd keduanya” Sedangkan wahyu yg kedua dalam surat Luqman ayat 15. “Arti : Dan apabila kedua memaksamu untuk menyekutukan Aku dgn apa-apa yg tdk ada ilmu padanya, jangan taati kedua dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dgn peruntukan yg ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yg kembali kpd-Ku kemudian ha kpd-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kpdmu apa-apa yg telah kamu kerjakan“.


Quote:Original Posted By dwikinero
untung aja ane ga punya adik lelaki cuma punya kakak cewe. jangan percaya deh ama adik sendiri suruh tinggal satu rumah. sama aja membagi istri .ujung2nya pidio 3gp pas ditinggal suami emoticon-Big Grin. nice story gan.


Quote:Original Posted By Reyca
Dari awal si Khalid Apes ini cuma punya dua pilihan: (1) Menuruti orang tua = jadi gila keluarga berantakan (2) Tidak menuruti orang tua = Dimurkai orang tua dan dimurkai Allah...???

Bner nih kata si agan...
Jd harusnya ga ush diturutin itu orgtua... krn yg diperintahkan orgtuanya bertentangan dgn hadits rasul..
Klo ane sih gan... dr jaman kuliah udh hidup mandiri n misah dr kluarga... ampe dah nikah kyk skrg.. ga ada satupun sodara ane yh numpang tinggal... krn numpang itu hal memalukan..


Quote:Original Posted By dhanarahadyan
Astaghfirullah halladzim, sampai segitunya emoticon-Frown Merinding ane bacanya, dan juga makin merinding pas baca hadist yg membenarkan emoticon-Takut


Quote:Original Posted By bradda182
astagfirullah.. emoticon-Matabelo ga nyangka banget ya itu adik ipar tega bgt..
kadang memang jadi serba salah gan jika kita di hadapi dengan situasi seperti itu. di satu sisi kita ingin rumah tangga kita tetap terjaga tp di sisi lain kita juga ingin membahagiakan orang tua. emoticon-Cape d... (S)



Quote:Original Posted By udoridwan


Quote:Original Posted By ramon1979
Ceritain dong NASIB ORANG TUA DAN TEMANNYA YG BIJAK ITU???!!!

emoticon-Angkat Beer


setuju gan, tolong ceritain juga tentang orang tuanya yang bijak beserta temannya, saking bijaknya sampai menghancurkan kehidupan rumah tangga anak sama temannya.
kalau si khlaid bisa gila, kalo ane gan, walaupun adik dan istri pasti ane mutilasi dua duanya gan biar mamp*s.
Intinya kalau ga punya ilmunya jangan sok bijak nasehatin orang (silent is gold),
dan kalau di nasehatin jangan terima bulet bulet( mentah2) tanya sama orang yg lebih dalam ilmu agamanya


Quote:Original Posted By mansteein


Quote:Original Posted By rumahrara.com
ane seorang suami
tinggal di rumah kaka ipar cewe

gmna nih gan


hmmm...kyk nya ceritany bakalan ada tp dgn versi yang beda nih gan... emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
kidding gan.... piss

segeralah pindah gan demi kebaikan semua...kata si agan "yang penting kan ane g ngapai2n y wis lah wot eper lah kata org" ya terserah sih gan.. hadist ny jg ada jd alangkah baiknya berpikir kembali buat tinggal bareng ipar...saran aja sih...


Quote:Original Posted By pararelepipedum
Khalid masuk RSJ

Ketiga anaknya masuk panti asuhan

Istrinya dihukum mati

Adiknya masuk penjara menanti hukuman

Sementara kedua orang tuanya: emoticon-Berduka (S) silahkan bagi para orang tua isi sendiri. Karena orang tua Khalid sekarang sedang menjerit-jerit meratapi kesalahannya memaksakan keputusannya terkait Hamd bersama keluarganya. Tidakmbisa dihubungi.
nyimak dulu gan emoticon-Malu (S)
ninggalin jejak dlu,ditunggu apdetnya gan emoticon-Big Grin emoticon-Toast
Si TS malah bikin cerber.... cepek deh
Kayaknya bakal seru gan.. Numpang duduk ah..
Kalo udh pangkat tggi gni.
Pande bget buat orgnasaran
Jiiaaahhh...... lg seru2 nya.... gregetan neh bacanya.... lanjooot gan??? emoticon-Matabelo
ahh... kenapa harus di potong ceritanya gan. bikin penasaran aja nih.
Lah nanggung bgt gan

Ini real apa cerita doang gan?

Ditunggu apdetannya
Hadoohjh...
Lagi musimnye cerita brsmbung terusss nihhh
emoticon-Cape d...
ditunggu kelanjutannya gan
udah pernah baca cerita ini sih...
sebenernya si Khalid ini orangnya mandul..
ters anak2 nya dia itu sebenernya anaknya adiknya yaitu si Hamid..
menyimak emoticon-Takut
nyimak gan panjang amat ceritanya emoticon-Shakehand2
belom nikah ane gan emoticon-Malu (S)


===========================================================================

emoticon-roseemoticon-roseemoticon-rose


Originally posted by : Astericx
Ah .. Cerita copas aja pake bersambung. Kaya sinetron tukang bubur naik tukang jamu aja.
ceritanya setelah di cek sperma, ternyata si Khalid mandul gan.
Tp kok punya anak 3 ?
yaitu hasil hubungan istrinya sama adik nya itu emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By mr1gram
nyimak dulu gan emoticon-Malu (S)


Quote:Original Posted By arickomaulidar
ninggalin jejak dlu,ditunggu apdetnya gan emoticon-Big Grin emoticon-Toast


Quote:Original Posted By SunshineEmpire
Si TS malah bikin cerber.... cepek deh


Quote:Original Posted By elhafizo
Kayaknya bakal seru gan.. Numpang duduk ah..


Quote:Original Posted By yakil
Kalo udh pangkat tggi gni.
Pande bget buat orgnasaran


Quote:Original Posted By bangmodern
Jiiaaahhh...... lg seru2 nya.... gregetan neh bacanya.... lanjooot gan??? emoticon-Matabelo


Quote:Original Posted By fixcell27
ahh... kenapa harus di potong ceritanya gan. bikin penasaran aja nih.


Quote:Original Posted By bunnynguik
Lah nanggung bgt gan

Ini real apa cerita doang gan?

Ditunggu apdetannya


Quote:Original Posted By emcete
Hadoohjh...
Lagi musimnye cerita brsmbung terusss nihhh
emoticon-Cape d...


Quote:Original Posted By bisriunited
ditunggu kelanjutannya gan


udah selesai tuh gan..hehe emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)
dibaca smw ya, kl ada yg pengen mengutarakan pendapatnya silahkan, best comment nanti ane pajang di post #3 emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S) emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By bocah_dablek
udah pernah baca cerita ini sih...
sebenernya si Khalid ini orangnya mandul..
ters anak2 nya dia itu sebenernya anaknya adiknya yaitu si Hamid..


udah pernah baca bukunya ya gan? emoticon-Malu (S) kl ada pendapat silahkan dishare gan emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:Original Posted By Alvaro2
menyimak emoticon-Takut


dibaca smp tuntas tas tas ya gan..hehe emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S) emoticon-I Love Indonesia (S)