alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53268d7320cb17ea728b463d/razia-mega-fakta-nyata-pengkhianatan-ideologi
Razia Mega: Fakta Nyata Pengkhianatan Ideologi
Razia Mega: Fakta Nyata Pengkhianatan Ideologi

Oleh: Ragil Nugroho (Mantan Aktivis PRD dan LMND)

Suatu hari Alexander Agung menemui Diogenes. Pada zamannya, Diogenes dikenal sebagai filsuf yang gemar mencomooh. Tata krama dan tata hidup yang telah dianggap baku ia goncang dengan cemooh cemoohan. Ia hidup dalam peti jenasah, tak pernah mandi, berpakaian compang camping, makan dari tempat sampah. Ia dikenal hidup seperti anjing. Maka orang orang menjulukinya “sinis”. Kata “sinis” berasal dari bahasa Yunani: kynikos. Artinya: seperti seekor anjing.

Alexander Agung, sang kaisar yang hampir menyatukan seluruh dunia itu memang bersahabat dengan Diogenes. Dia mendatangi si filsuf di lubangnya yang kumuh. Di depan pintu masuk Alexander bertanya: “Ada yang bisa aku bantu?” Diogenes menjawab: “Ya, ada. Tolong bung kaisar menyingkirlah agar tak menghalangi cahaya masuk.”

Bagaimana Diogenes mengusir begitu saja kaisar yang ditakuti dan dikagumi dunia itu? Hanya filsuf yang sinis semacam Diogenes yang bisa melakukan. Sekarang orang menjauhi pandangan sinisme ala Diogenes. Orang lebih suka berbasa basi. Akibatnya, daya kritis menjadi tumbul. Akal waras dipuja (artinya memberhalakan sesuatu yang mapan dan menjadi konvensi, dan suara umum). Orang malu menjadi gila (artinya berbeda dengan pendapat umum).

Ketika suara umum menganggap PDIP dan Jokowi bisa membawa perubahan, maka ramai ramai didukung. Mereka tak mampu bersikap sinis terhadap kondisi itu. Tak mengherankan kalau orang orang Kiri berdiri di altar memuja PDIP dan Jokowi. Bahkan ada orang Kiri yang waras amat ketakutan PDIP akan akan dihukum oleh rakyat untuk kedua kalinya bila tak mencapreskan Jokowi. Tak ada sikap sinis sedikitpun terhadap Jokowi dan PDIP.

Dan, sekarang Jokowi telah menjadi dicapreskan oleh PDIP. Tepuk tangan dari orang-orang Kiri membelah andaian: tentang munculnya orang yang diandaikan bisa sebagai pembebas. Hingga lupa PDIP, partai yang mencapreskan Jokowi, pernah menjadi jagal tanpa belas kasihan terhadap gerakan Kiri.

PDIP pernah menjadi partai penguasa dengan nenusuk Gus Dur dari belakang. Dengan riba kekuasaan itu, kapak maut ditebaskan terhadap gerakan Kiri yang menentang kekuasaan Mega. Kita lihat saja apa yang terjadi ketika Mega dan PDIP berkuasa:

Ignatius Mahendra, ketua LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) Yogyakarta, divonis 3 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sleman karena membakar foto Megawati dalam aksi menolak kenaikan BBM. Tak berselang lama, Paulus Suryanta Ginting, aktivis LMND Yogyakarta, dibacok kepalanya oleh preman PDIP selepas aksi menentang kenaikan harga BBM. Berselang sebentar, sekretariat PRD Yogyakarta dilempar bom molotov oleh preman preman PDIP.

Penangkapan dan teror tak hanya di Yogyakarta. Di Surabaya, Ignas Kleruk Mao, mahasiswa Filsafat UGM (aktivis LMND Yogyakarta), dipenjara dalam razia Mega. Di Palu, Bahar Mustofa dan 5 aktivis PRD, dipenjara selama 6 bulan. Di Jakarta, Kiastomo juga dijebloskan dalam penjara. Silakan tambah sendiri kebengisan kekuasaan Mega.

Razia Mega memang tak kenal ampun terhadap aktivis Kiri dan aktivis demokrasi. Pasca Suharto ambruk hingga sekarang, hanya pada masa Mega dan PDIP berkuasa, orang orang Kiri dirazia habis habisan. Dan, sekarang orang orang Kiri berikar mendukung PDIP dan Jokowi.

Orang orang Kiri yang mendukung PDIP (dan tentu saja partai pembantai dan pemenggal demokrasi yang lain), tak ubahnya perek (pelacur) tanpa martabat. Bila pelacur masih mempunyai harga diri melakukan semuanya demi mengganjal perut, aktivis aktivis Kiri yang melacurkan diri pada PDIP tak ada bedanya jongos dari partai yang telah menjagal kawannya sendiri.

Ada apologia yang dilontarkan: yang didukung Jokowi bukan PDIP. Tapi semua ini hanya pembenaran semata. Jokowi merupakan produk PDIP. Karakternya karakter PDIP (yang ketika berkuasa anti perbedaan dan dengan ringan tangan memenjarakan yang berseberangan), juga ketika berkuasa mengobral murah aset aset negara pada asing. Itukah yang diharapkan bisa mewujudkan Trisakti Sukarno?

Sebagai penutup, puisi Wiji Thukul ini sepertinya pas (judulnya “topeng ragil kuning”):

saudara
apa kaulihat di keayuanku ini
sinar mata sayu merayu
bibir elok senantiasa senyum

pipi merah jambu
atau kulit langsat ini!
saudara
engkau sudah melihat ngengat merapuhi pelupuk
mataku, daguku, pipiku, dan kulitku
pembungkusku akhirnya hanya mayat
saudara ingin kenal aku!
marilah kita buka topeng ini.


Wiji Thukul memang benar “keayuan” Jokowi telah membuat orang orang Kiri yang mendukungnya ngaceng (ereksi). Thukul juga benar, pipi Jokowi “merah jambu” karena dipoles oleh PDIP (warna dominannya merah, tapi karena merah KW, jadinya merah jambu). Lagi lagi Thukul benar, kulit Jokowi “kuning langsat” akibat digoreng oleh media media “kuning” sehingga namanya tanpa cacat dan cela. Thukul juga tak meleset, Jokowi “hanya mayat” yang ditutup “topeng” agar tampak menawan.

Memang orang jarang mau disebut “seperti seekor anjing” alias “sinis”. Tapi melihat jejak jejak berdarah dan kebengisan PDIP ketika berkuasa tak perlu sesinis Diogenes. Cukup tinggalkan otak waras lima sampai sepuluh menit saja.

Selamat menjadi perek, saudara saudaraku!

Sumber

comment dari gua !!!!

para pelacur politik yang mengaku kalangan kiri sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. Melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan pada kawan-kawan aktivisnya

para pelacur politik yang mengaku kalangan nasionalis dan sukarnois sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. Melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan, mengobral aset-aset negara ini kepada asing

para pelacur politik yang mengaku gusdurian sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan pada GusDur

Akhir kata untuk seluruh Panastak..selamat menjadi perek, saudara saudaraku !!!

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By illuminyu

Akhir kata untuk seluruh Panastak..selamat menjadi perek, saudara saudaraku !!![/FONT]
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak


emoticon-Ngakak...ya begitulah mereka memahami politik gan emoticon-Malu (S)
ini yang nulis bukan orang PKS, bukan kalangan Islamis, bukan Panasbung, bukan suruhan Prabowo dan Wiranto, tapi aktifis yang bersifat netral. jauh dari kepentingan politis dan elit politis, silahkan direnungkan bagi yang masih memiliki otak waras emoticon-Angkat Beer
Wuih... Jokowi emang strong.... Baru dicapreskan aja udah pada kaing kaing yang lainnya... emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By rabita.motor
Wuih... Jokowi emang strong.... Baru dicapreskan aja udah pada kaing kaing yang lainnya... emoticon-Matabelo

Hooh.....sampe opini dijadiin berita emoticon-Stick Out Tongue
Quote:Original Posted By luminusia

Hooh.....sampe opini dijadiin berita emoticon-Stick Out Tongue


kata bang rhooomaaaa

upooooriaaaaaaak

emoticon-Ngakak
bakal rame nih
emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By rabita.motor
Wuih... Jokowi emang strong.... Baru dicapreskan aja udah pada kaing kaing yang lainnya... emoticon-Matabelo


kaing-kaing karena peduli pada nasib negara dan bangsa ini
siapa yang mau sih negaranya dipimpin presiden boneka yang gak amanah emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By luminusia

Hooh.....sampe opini dijadiin berita emoticon-Stick Out Tongue


opini yang di dalamnya ada unsur berita (informasi) emoticon-Malu (S)
Ralat Diogenes tinggalnya di BAK MANDI bukan peti jenazah. Tambahan Diogenes sering sekali melakukan masturbasi di pasar sebagai bentuk kritik terhadap norma yang sangat kaku di Athena saat itu.









NB : Males ngomongin JKW tritnya udah banyak. Apalagi partai-partai sekarang ideologinya cuman 1 : KEKUASAAN. Nggak ada ideologi Nasionalis, Agamais, apalagi Sosialis-Komunis
Quote:Original Posted By illuminyu
ini yang nulis bukan orang PKS, bukan kalangan Islamis, bukan Panasbung, bukan suruhan Prabowo dan Wiranto, tapi aktifis yang bersifat netral. jauh dari kepentingan politis dan elit politis, silahkan direnungkan bagi yang masih memiliki otak waras emoticon-Angkat Beer


anak muda tidak kiri = tidak punya hati

sudah tua masih kiri = tidak punya otak

saya mendukung jokowi sebagai gubernur tapi kalau buat presiden entah knp saya ragu emoticon-Sorry
TS Bagaikan diogenes yang suka coli di pasar karena kakunya tradisi SF BP emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By fakirmersi


anak muda tidak kiri = tidak punya hati

sudah tua masih kiri = tidak punya otak



berarti Fidel Casto, Che dan Chavez tidak punya otak ?
asumsi juara emoticon-Angkat Beer

Quote:Original Posted By liberals
Wkwkwk, emang bener kalo neo komunisme sekarang udah beragama, liat aja demi black campaign si TS Panasbung rela melacurkan diri make sumber situs kiri untuk onani di BP. emoticon-Big Grin

Mengapa ga make situs barokah seperti Arrahmaho dan VoaIblis ya Akhi? emoticon-Big Grin


mencoba memberikan fakta yang sifatnya netral
tikusmerah.com sumber yang netral, jauh dari kepentingan (elit) politis. tidak seperti media mainstream kebanyakan emoticon-Angkat Beer
Diogenes dari Sinope adalah seorang filsuf yang termasuk ke dalam Mazhab Sinis. Mazhab Sinis adalah salah satu mazhab yang berakar pada ajaran Socrates seorang ahli filsafat yang sangat terkenal dari Athena, Yunani. Karena itu, Diogenes dari Sinope berpendapat, seperti Socrates, bahwa manusia haruslah memiliki keutamaan tentang sifat sifat yang baik.

Ada sebuah cerita, suatu hari, Socrates sedang menerima pengaduan seorang sahabatnya yang bernama illuminyu. Sahabatnya ini sedang mengadu kepada Socrates tentang gosip-gosip seputar partai PDIP dan Jokowi di Kaskus yang di sebarkan oleh golongan Panasbung dan isinya menjelekan nama baik Jokowi.

Menghadapi gosip ini, Socrates bertanya kepadanya, "Apakah gossip yang kau dengar dan laporkan kepadaku sudah kau uji melalui 3 saringan? "Dengan 3 saringan?" illuminyu itu heran sebab tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Socrates itu. "Ya tiga saringan" jawab Socrates lagi. "Marilah kita uji apa saja tiga saringan itu"

"Yang pertama adalah saringan kebenaran. Artinya apakah engkau sudah sungguh-sungguh menyelidiki bahwa gossip di Kaskus itu benar-benar demikian atau apa yang ditulis di Kaskus BP itu justru didapat pula dari sumber lain yang gak jelas asal usul linknya, macam link Tikus Merah? "Ya terus terang bahwa saya belum menyelidiki hal itu kata si illuminyu. Bahkan informasi itu juga cuma saya copy-paste dari link Tikus Merah mentah mentah, dan link Tikus Merah bersumber dari sumber lainnya lagi."

"Sekarang dengarkanlah saringan kedua, yaitu kebaikan, artinya walaupun apa yang kau baca dari sumber Tikus Merah itu tidak semuanya benar tetapi toh ada sesuatu yang baik?" Kembali illuminyu itu menjawab, "Akh kukira Gossip tersebut bukan sesuatu yang baik, tetapi sebaliknya semua itu tidak mengandung kebaikan."

Socrates lalu tersenyum, "Sekarang dengarkan saringan ketiga, yaitu faedah. Apakah hal-hal yang kau ceritakan kepadaku itu berfaedah atau tidak?" Kawannya itu lalu menunduk dan dengan malu serta mengaku, "Ya memang harus kuakui apa yang kuadukan kepadamu mamang tidak ada faedahnya sama sekali, bahkan bisa merusak hubunganmu dengan Jokowi dan PDIP."

Kemudian Socrates menutup pembicaraan itu dengan berkata, "Kalau begitu lebih baik engkau pulang dan melupakannya sekarang ini sebab apa yang kau ceritakan kepadaku ternyata tidak benar, tidak baik dan tidak berfaedah!"



nih gan TS ada keterangan dari bagian belakang... yang jago berfilsafat bukan cuma TS seorang...

Quote:Original Posted By parkbench


Akar kata 'SINIS' adalah kata yunani KUNIKOS atau 'SEPERTI ANJING'. Diogenes percaya jalan menuju hidup yang luhur ditunjukkan ALAM dan bukan NORMA sosial. "Berbeda dengan binatang, tali kendali yang dibutuhkan manusia yang BIJAK utk mengendalikan tindakan dan ucapannya hanyalah NALARNYA sendiri" (Diogenes)

Kaum sinis mencemooh pemikiran filsafat ABSTRAK. Filsafat yang BERNILAI adalah filsafat yang DIPRAKTIKKAN dalam HIDUP. Dan kunci kehidupan yang baik adalah KESEDERHANAAN diogenes membebaskan dirinya dari segala KEPEMILIKAN. Setelah mengamati seekor TIKUS hanya membutuhkan tempat berteduh seadanya, diogenes memutuskan untuk tinggal di PITHOS (bak mandi) rusak.

Karena kebiasaan manusia membuat kehidupan alam menjadi BERANTAKAN, diogenes memutuskan utk MENGOLOK-OLOK tradisi dengan terus menerus melakukan sejumlah pelanggaran yang sama secara TERANG-TERANGAN. Melakukan SEGALANYA di muka umum termasuk makan, minum (kegiatan yg MELANGGAR etiket kesopanan pada masa athena kuno), bahkan melakukan MASTURBASI di pasar!

Dia juga tahu cara MENYALAKI kebodohan manusia. "Zeus, aku MOHON berikanlah aku KEKAYAAN dan KETENARAN" "Betapa LANCANGNYA kau MENGHINA para dewa dengan meminta hal-hal yang MENURUTMU membuatmu bahagia. Padahal para dewa TELAH memberimu segala hal yang kau BUTUHKAN untuk merasakan kebahagiaan. Kau dapat menangkal nasib jelek dengan KEBERANIAN, pergaulan jelek dengan KEPRIBADIAN, dan suasana hati yang jelek dengan NALAR".

Keimpulan dari cerita di atas, TS cuman manfaatin Diogenes. Kalau TS seorang SINIS sejati tentu semua bakal capresDIKRITIK
Quote:Original Posted By menu.hari.ini
Ntar ane nyimak dulu ya gan TS


silahkan gan, silahkan disimak dan direnungkan menggunakan hati dan pikiran yang jernih emoticon-Angkat Beer
Quote:Original Posted By rabita.motor
Wuih... Jokowi emang strong.... Baru dicapreskan aja udah pada kaing kaing yang lainnya... emoticon-Matabelo


emoticon-Ngakak emoticon-Shakehand2 semua ID2 aneh tiba2 bermunculan... Hebat ini JKW gak hny mengguncang dunia ekonomi, politik tp jg mengguncang dunia kaskus aka DUNMAY....emoticon-Ngakak

JKW STLOOONG

Razia Mega: Fakta Nyata Pengkhianatan Ideologi

GUNCANGANNYA DAHSYAT MIRIP METALLICA Mengguncang PENGGEMARNYA...emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By illuminyu


kaing-kaing karena peduli pada nasib negara dan bangsa ini
siapa yang mau sih negaranya dipimpin presiden boneka yang gak amanah emoticon-Malu (S)


Lalu presiden yang tidak boneka dan amanah itu siapa gan ?
Quote:Original Posted By illuminyu


berarti Fidel Casto, Che dan Chavez tidak punya otak ?
asumsi juara emoticon-Angkat Beer



menjoba memberikan fakta yang sifatnya netral
tikusmerah.com sumber yang netral, jauh dari kepentingan (elit) politis. tidak seperti media mainstream kebanyakan emoticon-Angkat Beer


memang gak punya otak. kalo punya otak mereka tidak akan paranoid dan mengisolasi penduduknya dari dunia luar.

btw..aktivis2 yg kamu sebut namanya itu, jadi apa sekarang? sebagian jadi kacung politisi yg beruntung, sebagian menghabiskan hidupnya dengan meratapi nasib dan bangga mendongeng masa lalunya, tidak masa depannya.
Quote:Original Posted By illuminyu
Razia Mega: Fakta Nyata Pengkhianatan Ideologi

Oleh: Ragil Nugroho (Mantan Aktivis PRD dan LMND)

Suatu hari Alexander Agung menemui Diogenes. Pada zamannya, Diogenes dikenal sebagai filsuf yang gemar mencomooh. Tata krama dan tata hidup yang telah dianggap baku ia goncang dengan cemooh cemoohan. Ia hidup dalam peti jenasah, tak pernah mandi, berpakaian compang camping, makan dari tempat sampah. Ia dikenal hidup seperti anjing. Maka orang orang menjulukinya “sinis”. Kata “sinis” berasal dari bahasa Yunani: kynikos. Artinya: seperti seekor anjing.

Alexander Agung, sang kaisar yang hampir menyatukan seluruh dunia itu memang bersahabat dengan Diogenes. Dia mendatangi si filsuf di lubangnya yang kumuh. Di depan pintu masuk Alexander bertanya: “Ada yang bisa aku bantu?” Diogenes menjawab: “Ya, ada. Tolong bung kaisar menyingkirlah agar tak menghalangi cahaya masuk.”

Bagaimana Diogenes mengusir begitu saja kaisar yang ditakuti dan dikagumi dunia itu? Hanya filsuf yang sinis semacam Diogenes yang bisa melakukan. Sekarang orang menjauhi pandangan sinisme ala Diogenes. Orang lebih suka berbasa basi. Akibatnya, daya kritis menjadi tumbul. Akal waras dipuja (artinya memberhalakan sesuatu yang mapan dan menjadi konvensi, dan suara umum). Orang malu menjadi gila (artinya berbeda dengan pendapat umum).

Ketika suara umum menganggap PDIP dan Jokowi bisa membawa perubahan, maka ramai ramai didukung. Mereka tak mampu bersikap sinis terhadap kondisi itu. Tak mengherankan kalau orang orang Kiri berdiri di altar memuja PDIP dan Jokowi. Bahkan ada orang Kiri yang waras amat ketakutan PDIP akan akan dihukum oleh rakyat untuk kedua kalinya bila tak mencapreskan Jokowi. Tak ada sikap sinis sedikitpun terhadap Jokowi dan PDIP.

Dan, sekarang Jokowi telah menjadi dicapreskan oleh PDIP. Tepuk tangan dari orang-orang Kiri membelah andaian: tentang munculnya orang yang diandaikan bisa sebagai pembebas. Hingga lupa PDIP, partai yang mencapreskan Jokowi, pernah menjadi jagal tanpa belas kasihan terhadap gerakan Kiri.

PDIP pernah menjadi partai penguasa dengan nenusuk Gus Dur dari belakang. Dengan riba kekuasaan itu, kapak maut ditebaskan terhadap gerakan Kiri yang menentang kekuasaan Mega. Kita lihat saja apa yang terjadi ketika Mega dan PDIP berkuasa:

Ignatius Mahendra, ketua LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) Yogyakarta, divonis 3 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sleman karena membakar foto Megawati dalam aksi menolak kenaikan BBM. Tak berselang lama, Paulus Suryanta Ginting, aktivis LMND Yogyakarta, dibacok kepalanya oleh preman PDIP selepas aksi menentang kenaikan harga BBM. Berselang sebentar, sekretariat PRD Yogyakarta dilempar bom molotov oleh preman preman PDIP.

Penangkapan dan teror tak hanya di Yogyakarta. Di Surabaya, Ignas Kleruk Mao, mahasiswa Filsafat UGM (aktivis LMND Yogyakarta), dipenjara dalam razia Mega. Di Palu, Bahar Mustofa dan 5 aktivis PRD, dipenjara selama 6 bulan. Di Jakarta, Kiastomo juga dijebloskan dalam penjara. Silakan tambah sendiri kebengisan kekuasaan Mega.

Razia Mega memang tak kenal ampun terhadap aktivis Kiri dan aktivis demokrasi. Pasca Suharto ambruk hingga sekarang, hanya pada masa Mega dan PDIP berkuasa, orang orang Kiri dirazia habis habisan. Dan, sekarang orang orang Kiri berikar mendukung PDIP dan Jokowi.

Orang orang Kiri yang mendukung PDIP (dan tentu saja partai pembantai dan pemenggal demokrasi yang lain), tak ubahnya perek (pelacur) tanpa martabat. Bila pelacur masih mempunyai harga diri melakukan semuanya demi mengganjal perut, aktivis aktivis Kiri yang melacurkan diri pada PDIP tak ada bedanya jongos dari partai yang telah menjagal kawannya sendiri.

Ada apologia yang dilontarkan: yang didukung Jokowi bukan PDIP. Tapi semua ini hanya pembenaran semata. Jokowi merupakan produk PDIP. Karakternya karakter PDIP (yang ketika berkuasa anti perbedaan dan dengan ringan tangan memenjarakan yang berseberangan), juga ketika berkuasa mengobral murah aset aset negara pada asing. Itukah yang diharapkan bisa mewujudkan Trisakti Sukarno?

Sebagai penutup, puisi Wiji Thukul ini sepertinya pas (judulnya “topeng ragil kuning”):

saudara
apa kaulihat di keayuanku ini
sinar mata sayu merayu
bibir elok senantiasa senyum

pipi merah jambu
atau kulit langsat ini!
saudara
engkau sudah melihat ngengat merapuhi pelupuk
mataku, daguku, pipiku, dan kulitku
pembungkusku akhirnya hanya mayat
saudara ingin kenal aku!
marilah kita buka topeng ini.


Wiji Thukul memang benar “keayuan” Jokowi telah membuat orang orang Kiri yang mendukungnya ngaceng (ereksi). Thukul juga benar, pipi Jokowi “merah jambu” karena dipoles oleh PDIP (warna dominannya merah, tapi karena merah KW, jadinya merah jambu). Lagi lagi Thukul benar, kulit Jokowi “kuning langsat” akibat digoreng oleh media media “kuning” sehingga namanya tanpa cacat dan cela. Thukul juga tak meleset, Jokowi “hanya mayat” yang ditutup “topeng” agar tampak menawan.

Memang orang jarang mau disebut “seperti seekor anjing” alias “sinis”. Tapi melihat jejak jejak berdarah dan kebengisan PDIP ketika berkuasa tak perlu sesinis Diogenes. Cukup tinggalkan otak waras lima sampai sepuluh menit saja.

Selamat menjadi perek, saudara saudaraku!

Sumber

comment dari gua !!!!

para pelacur politik yang mengaku kalangan kiri sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. Melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan pada kawan-kawan aktivisnya

para pelacur politik yang mengaku kalangan nasionalis dan sukarnois sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. Melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan, mengobral aset-aset negara ini kepada asing

para pelacur politik yang mengaku gusdurian sekarang beramai-ramai menjadi perek, caper ke PDIP dan Jokowi demi kekuasaan. melupakan apa yang pernah Rezim PDIP lakukan pada GusDur

Akhir kata untuk seluruh Panastak..selamat menjadi perek, saudara saudaraku !!!

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak


adiknya wiji thukul malah dukung jokowi jadi presiden