alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53228386bfcb1744118b458f/kisah-sahabat-sahabat-rasulullah-shalallahu-alaihi-wa-salam
Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam

Para sahabat Nabi, bukanlah malaikat yang tidak punya dosa dan juga bukan para nabi, namun hanya manusia biasa. Akan tetapi mereka mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki manusia selainnya, yakni keimanan yang kokoh, ketaatan yang mutlak, keikhlasan yang jernih dan kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya, yang melebihi kecintaan terhadap apapun di dunia ini, termasuk terhadap diri mereka sendiri.

Para sahabat adalah manusia terbaik setelah para Nabi, dan generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi. Mereka adalah manusia yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling baik keadaannya. Mereka telah dipilih Allah untuk mendampingi Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Mencintai mereka termasuk bagian dari agama, dan membencinya termasuk kekufuran, kemunafikan dan kejahatan.

Thread ini membahas kisah-kisah para sahabat Nabi agar dapat lebih mengenal dekat. Kita akan dibuat terkagum-kagum dan terheran-heran, bagaimana mereka dapat mencapai tingat keimanan sedemikian tinggi? Dunia tidak berarti dan berharga sedikitpun di mata mereka. Sehingga mereka lebih memilih kehidupan yang sulit dan perjuangan yang keras, demi meraih kehidupan yang sesungguhnya dan kebahagiaan hakiki, kelak di negeri akhirat. Dengan demikian, kita dapat menimba keteladanan dari mereka dan dapat mengukur kualitas keimanan kita kepada Allah, sehingga memotivasi kita untuk lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya.

Semoga kita semua bisa mengambil manfaat darinya.

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam

Quote:Sumber kisah ini diambil :
Buku karangan Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya
dan beberapa sumber referensi lain


Untuk kisahnya silahkan baca di post dibawah :
Abu Ubaidah Ibnu Al Jarrah
(‘Amir bin Abdullah bin Al Jarrah)


Quote:“Setiap Ummat Memiliki Orang yang Amin (Terpercaya), dan Amin Ummat ini Adalah Abu Ubadah” (Muhammad Rasulullah)

Dia memiliki wajah yang tenang. Paras yang berwibawa. Badan yang kurus. Postur yang tinggi. Alis yang tipis... Sedap dipandang mata. Enak untuk dilihat. Damai terasa di hati.

Dia juga adalah orang yang ramah. Suka rendah hati. Pemalu. Akan tetapi dalam situasi serius ia bagai seekor singa yang menerkam. Dia serupa dengan mata pedang yang begitu indah dan berkarisma, dan juga tajam dan dapat membabat layaknya pedang.

Dialah Amin ummat Muhammad, ‘Amir bin Abdullah bin Al Jarrah Al Fihry Al Qurasy yang dipanggil dengan nama Abu Ubaidah.

Abdullah bin Umar ra pernah mendeskripsikan sosoknya dengan ucapannya: Tiga orang dari suku Quraisy yang paling terkemuka. Memiliki akhlak yang paling baik. Paling pemalu. Jika mereka berbicara denganmu maka mereka tidak akan berdusta. Dan jika engkau berbicara dengan mereka, mereka tak akan mendustaimu. Ketiganya adalah: Abu Bakar As Shiddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

***
Abu Ubaidah adalah termasuk orang pertama yang masuk ke dalam Islam. Ia masuk Islam sehari setelah Abu Bakar. Ia memeluk Islam karena jasa Abu Bakar. Abu Bakar mengajak Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un*1) dan Al Arqam bin Abi Al Arqam datang menghadap Nabi Saw dan menyatakan dihadapan Beliau kalimat kebenaran. Dan mereka semua menjadi pilar pertama tempat dibangunnya kerajaan Islam yang agung.

***
Abu Ubaidah mengalami pengalaman keras yang dirasakan kaum muslimin selagi berada di Mekkah sejak pertama hingga akhir. Dia juga merasakan penderitaan kaum muslimin pada masa-masa awal atas segala penderitaan, sakit dan kesedihan yang tidak pernah dirasakan oleh para pengikut agama di muka bumi ini. Namun ia tetap teguh menghadapi ujian ini, dan senantiasa mentaati dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya dalam segala kondisi.

Akan tetapi ujian yang diderita oleh Abu Ubaidah pada perang Badr adalah sebuah penderitaan yang tidak dapat digambarkan oleh siapapun.

***
Ketika perang Badr, Abu Ubaidah menyerang di antara barisan dengan begitu berani dan tak memiliki kegentaran sedikitpun. Kaum musyrikin jadi takut dibuatnya. Ia berputar-putar di medan laga seolah tidak takut mati. Para penunggang kuda suku Quraisy menjadi gentar dibuatnya dan mereka berusaha menjauhi diri dari Abu Ubaidah setiap kali bertemu.

Akan tetapi ada seorang di antara mereka yang senantiasa mengajak duel Abu Ubaidah ke mana saja ia pergi, dan Abu Ubaidah senidiri selalu menjauhkan diri darinya.

Orang tersebut terus mendesak dan menyerang, sementara Abu Ubaidah selalu menjauh darinya. Orang tersebut akhirnya menutup semua jalan bagi Abu Ubaidah, dan berdiri membatasi ruang gerak Abu Ubaidah sehingga tidak dapat membunuh musuh Allah lainnya.

Saat Abu Ubaidah sudah merasa geram, maka Abu Ubaidah melayangkan pedangnya ke arah kepala orang tadi sehingga terbelah dua; dan akhirnya orang itu tewas dihadapan Abu Ubaidah.

Tidak usah Anda –wahai pembaca yang budiman- menebak siapakah orang yang tewas ini.

Bukankah sudah aku katakan bahwa pengalaman keras yang dirasakannya sudah tak terbayangkan lagi? Engkau akan pusing dibuatnya jika engkau mengetahui bahwa orang yang tewasw adalah Abdullah bin Al Jarrah ayah dari Abu Ubaidah.

***
Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, akan tetapi ia membunuh kemusyrikan yang berada dalam diri ayahnya.

Maka Allah Swt menurunkan sebuah ayat tentang Abu Ubaidah dan ayahnya yang berbunyi:

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58] : 22)

***
Bagi Abu Ubaidah ini bukanlah sebuah hal yang menakjubkan. Kekuatan imannya kepada Allah dan pembelaannya kepada agama, dan amanah kepada ummat Muhammad telah mencapai sebuah posisi yang dicita-citakan oleh sebuah jiwa yang besar di sisi Allah.

Muhammad bin Ja’far berkisah: Sebuah rombongan Nasrani datang kepada Nabi Saw dan mereka berkata: “Wahai Abu Qasim, utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang kau sukai untuk memutuskan sebuah perkara tentang harta kami yang membuat kami menjadi berselisih, karena kalian wahai kaum muslimin adalah orang-orang yang kami sukai.”Rasulullah Saw langsung menjawab: “Datanglah kepadaku malam hari, nanti aku akan mengirimkan seorang yang kuat dan terpercaya kepada kalian.” Umar bin Khattab berkata: “Maka aku pergi berangkat shalat Zhuhur lebih awal. Dan aku tidak pernah berharap mendapatkan jabatan pada hari itu kecuali pada hari itu agar aku menjadi orang yang ditunjuk untuk menyelesaikan perkara ini. Begitu Rasulullah Saw menyelesaikan shalat Zhuhurnya, Beliau melihat ke kanan dan ke kiri. Aku berusaha meninggikan badanku agar terlihat olehnya. Ia tetap saja menyisirkan pandangannya kepada kami sehingga Beliau melihat ke arah Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Beliau langsung memanggilnya seraya bersabda: ‘Pergilah kepada mereka. Putuskanlah perkara yang tengah mereka perselisihkan dengan benar!’ dan akhirnya Abu Ubaidah pergi ke tempat mereka.”

***
Abu Ubaidah bukan saja merupakan orang yang amanah, akan tetapi ia juga merupakan orang yang sanggup mengkombinasikan kekuatan dengan amanah. Kekuatan yang dimilikinya ini sering kali muncul dalam banyak kesempatan:

Suatu hari Rasulullah Saw mengutus sekelompok orang dari para sahabatnya untuk mencegat sebuah kafilah suku Quraisy. Dan Rasulullah Saw menunjuk sebagai Amir (pemimpin) mereka adalah Abu Ubaidah ra. Rasulullah membekali mereka dengan sekantong kurma saja. Abu Ubaidah memberikan hanya satu kurma saja kepada masing-masing sahabatnya dalam sehari. Maka setiap orang menghisap kurma tersebut sebagaimana seorang bayi menghisap payudara ibunya, kemudian mereka meminum air. Dan semuanya merasa cukup dengan makanan seperti itu hingga malam hari.

***
Dalam perang Uhud saat kaum muslimin mengalami kekalahan dan kaum musyrikin mulai meneriakkan: “Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad! Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad! Saat itu Abu Ubaidah adalah salah seorang dari jamaah yang melindungi Rasulullah Saw dengan dada mereka dari serangan tombok musyrikin.

Saat perang sudah usai, gigi geraham Rasulullah pecah. Kening Beliau memar. Dan di pipi Beliau ada dua buah biji baja yang menempel. Maka Abu Bakar As Shiddiq datang menghampiri Rasulullah Saw untuk mencabut kedua biji bahwa tersebut dari pipi Beliau. Maka Abu Ubaidah berkata kepada Abu Bakar: “Aku bersumpah kepadamu, biarkan aku saja yang melakukannya.” Maka Abu Bakar pun membiarkan Abu Ubaidah melakukannya. Lalu Abu Ubaidah merasa khawatir jika ia mencabut dengan tangannya maka akan membuat Rasulullah Saw merasa sakit. Maka Abu Ubaidah menggigit salah satu biji baja tadi dengan gigi serinya dengan bergitu kuat. Ia berhasil mengeluarkan biji baja tersebut dan satu gigi serinya pun ikut tanggal… Kemudian ia menggigit biji baja yang kedua dengan gigi serinya yang lain, kali ini ia pun berhasil mengeluarkannya dan satu giginya lagi-lagi ikut tanggal.

Abu Bakar berkata: “Abu Ubaidah adalah manusia yang paling bagus dalam menanggalkan giginya.”

***
Abu Ubaidah turut serta bersama Rasulullah Saw semua peperangan sejak ia mengenal Rasul hingga Beliau wafat.

Saat hari Tsaqifah*2), Umar berkata kepada Abu Ubaidah: “Ulurkan tanganmu agar dapat aku bai’at, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Setiap ummat memiliki seorang Amin (orang yang dipercaya), dan engkau adalah Amin ummat ini).”

Abu Ubaidah menjawab: “Aku tidak akan maju di hadapan seorang pria yang diperintahkan Rasulullah Saw untuk menjadi imam kita dalam shalat, dan kita mempercayainya sehingga Rasulullah Saw wafat.”

Kemudian Abu Bakar pun di bai’at. Dan Abu Ubaidah adalah penasihat dan kawan Abu Bakar yang terbaik dalam masalah kebenaran.

Kemudian Abu Bakar menyerahkan khilafah setelahnya kepada Umar bin Khattab. Abu Ubaidah juga tunduk dan taat kepada Umar. Ia tidak pernah melanggar perintah Umar kecuali satu kali saja.

Apakah engkau tahu masalah apakah yang membuat Abu Ubaidah melanggar perintah khalifah?!

Hal itu terjadi saat Abu Ubaidah bin Al Jarrah sedang memimpin pasukan muslimin di negeri Syam dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain, sehingga Allah berkenan untuk menaklukkan semua daerah Syam di bawah komandonya.

Pasukan yang dipimpinnya berhasil menaklukkan sungai Eufrat di daerah timur dan Asia kecil di utara.

Pada saat itu di negeri Syam sedang mewabah penyakit Thaun yang belum pernah diketahui oleh manusia saat itu sebelumnya; Penyakit tersebut berhasil membunuh banyak manusia. Maka Umar bin Khattab berinisiatif untuk mengutus seorang utusan kepada Abu Ubaidah dengan membawa sebuah surat yang berbunyi: “Aku memerlukan bantuanmu tanpa interupsi sedikitpun darimu. Jika suratku ini datang kepadamu pada malam hari, maka dengan segera aku memintamu untuk datang kepadaku tanpa perlu menunggu datangnya shubuh. Jika suratku ini datang kepadamu pada waktu siang. Aku meminta segera kepadamu untuk datang kepadaku tanpa perlu menunggu hingga senja tiba.”

Begitu Abu Ubaidah menerima surat dari Umar Al Faruq, ia berkata: “Aku mengerti kepentingan Amirul Mukminin terhadap diriku. Ia menginginkan agar aku tetap hidup meski yang lainnya binasa.” Lalu ia menuliskan sebuah surat kepada Amirul Mukminin yang berbunyi: “Wahai Amirul Mukminin, Aku mengerti kepentinganmu terhadap diriku. Aku kini sedang bersama para tentara muslimin dan aku tidak ingin menjaga diriku agar terhindar dari penyakit yang mereka derita. Aku tidak ingin meninggalkan mereka sehingga Allah menentukan keputusannya bagi diriku dan mereka. Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka biarkanlah aku, dan izinkan aku untuk tetap tinggal di sini.”

Begitu Umar membaca surat Abu Ubaidah, maka ia langsung menangis dan matanya langsung sembab. Maka orang yang berada di sekelilingnya bertanya –karena merasa heran dengan tangis Umar yang begitu keras-: “Apakah Abu Ubaidah telah meninggal, wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi kematian telah mengintainya.”

Benar dugaan Umar, karena tidak lama kemudian Abu Ubaidah terkena Thaun. Begitu ia menjelang kematian ia berwasiat kepada tentaranya: “Aku berwasiat kepada kalian, jika kalian menerimanya kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan: Dirikanlah shalat, tunaikan zakat, jalankan puasa Ramadhan, bersedekahlah, berhaji dan berumrahlah, saling wasiat, dan taatlah kepada pemimpin kalian dan jangan kalian melanggarnya!

Janganlah dunia membuat kalian lalai. Karena meski seseorang diberi umur 1000 tahun maka pastilah ia akan merasakan kondisi seperti yang kalian lihat pada diriku ini.

Allah telah menetapkan kematian kepada anak Adam dan mereka semua akan mati. Yang paling bijak di antara mereka adalah yang paling taat kepada Tuhannya, dan yang paling mengerti akan hari pembalasan. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”

Kemudian ia menoleh ke arah Muadz bin Jabal seraya berkata: “Ya Muadz, imamilah manusia untuk shalat!”

Begitu ia menghembuskan nafas terakhirnya, maka Muadz pun berdiri dan berseru: “Wahai manusia, kalian telah dibuat kaget oleh seorang pria yang demi Allah aku tidak pernah tahu bahwa aku pernah melihat seorang pria yang begitu lapang dadanya, senantiasa menjauhi kedengkian, dan amat berpesan tentang ummat ini yang lebih baik darinya. Maka mohonlah rahmat Allah baginya dan semoga Allah merahmati kalian!”

************************************************************
*1) Utsman bin Mazh’un: dia adalah seorang ahli hikmah pada masa Jahiliyah. Ia pernah turut serta dalam perang Badr dan wafat pada tahun 2 H. Dia termasuk orang yang pertama dari kaum Muhajirin yang meninggal di Madinah, dan termasuk orang pertama yang dikuburkan di Baqi.

*2) Yang dimaksud dengan hari Tsaqifah adalah hari dimana Abu Bakar ra di baiat menjadi khalifah. Pembaiatan ini terjadi di Tsaqifah Bani Sa’idah

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Abdurrahman Bin Auf

Quote:“Semoga Allah Memberkahi Harta yang Kau Berikan. Semoga Allah Memberkahi Harta yang Kau Simpan.” (Salah Satu Do’a Rasulullah Kepadanya)

Dia adalah salah satu dari 8 orang yang pertama kali masuk ke dalam Islam. Ia juga termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga. Dia juga salah satu dari 6 orang ahli syura pada hari pemilihan khalifah setelah Umar Al Faruq.

Namanya pada masa jahiliah adalah Abdu Amrin. Saat ia masuk Islam Rasulullah Saw memanggilnya dengan Abdurrahman. Inilah Abdurrahman bin auf ra.

***
Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah Saw masuk ke rumah Al Arqam*1), dan itu terjadi setelah 2 hari Abu Bakar memeluk Islam.

Ia juga merasakan penyiksaan seperti yang dirasakan oleh kaum muslimin pada saat itu, dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan teguh. Ia menyelamatkan agamanya dengan melarikan diri ke Habasyah sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin lainnya.

Saat Rasul Saw diizinkan untuk berhijrah ke Madinah, Abdurrahman termasuk orang muhajirin pertama yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

Saat Rasulullah Saw menjadikan kaum Muhajirin dan Anshar bersaudara maka Beliau menjadikan Abdurrahman bin Auf sebagai saudara Sa’d bin Rabi’ Al Anshary ra *2). Sa’d berkata kepada saudara barunya Abdurrahman bin Auf: “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya. Aku memiliki 2 kebun, dan aku punya dua istri. Pilihlah kebun mana yang kau sukai sehingga aku memberikannya padamu. Dan pilihlah istriku yang mana yang kau sukai agar aku mentalaknya untukmu!”

Abdurrahman lalu berkata kepada saudara barunya yang berasal dari suku Anshar: “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tetapi, tunjukkan kepadaku di mana pasar!” Sa’d lalu menunjukkan Abdurahman, dan ia mulai berdagang sehingga mendapatkan keuntungan dan ia tabung keuntungan tersebut.

Tidak lama berselang, ia sudah dapat mengumpulkan uang sebagai mahar pengantin dan ia pun menikah. Maka datanglah Rasulullah Saw dengan membawa minyak wangi dan Beliau berkata: “Mahyam*3), ya Abdurrahman!” Ia menjawab: “Aku menikah.” Rasul bertanya: “Mahar apa yang kau berikan kepada istrimu?” Ia menjawab: “Emas seberat atom.” Rasul Saw bersabda: “Buatlah walimah meski hanya dengan seekor domba. Semoga Allah memberkahi hartamu!”

Abdurrahman berkata: Sepertinya dunia mendatangiku sehingga aku merasa bila aku mengangkat sebuah batu, maka aku menduga bahwa aku akan menemukan emas atau perak di bawahnya.

***
Pada peristiwa Badr, Abdurrahman bin Auf berjihad dengan sungguh-sungguh di jalan Allah Swt, dan ia berhasil membunuh musuh Allah yang bernama Umair bin Utsman bin Ka’b At Taimy.

Pada perang Uhud, ia termasuk orang yang teguh berjuang, dan tetap tak bergeming saat banyak orang yang lari takut kalah. Ia keluar dari perang dan pada tubuhnya terdapat lebih dari 20 luka. Sebagian dari luka tersebut amat dalam yang dapat dimasuki tangan seseorang.

Akan tetapi jihad Abdurrahman yang dilakukan dengan jiwa lebih sedikit dengan jihadnya yang ia lakukan dengan harta.

Suatu saat Rasulullah Saw hendak memberangkatkan sebuah pasukan. Ia berdiri dihadapan para sahabatnya dan bersabda: “Bersedekahlah kalian, sebab aku akan mengirimkan utusan!”

Abdurrahman lalu pulang ke rumah dan kembali lagi dengan segera. Ia berkata: “Ya Rasulullah, aku mempunyai 4000: Dua ribu aku pinjamkan kepada Tuhanku, dan dua ribu lagi aku sisakan untuk keluargaku.”

Rasulullah Saw lalu bersabda: “Semoga Allah memberkahi harta yang kau berikan dan semoga Ia memberkahi harta yang kau simpan!”

***
Saat Rasul saw berniat melakukan perang Tabuk –perang ini adalah perang terakhir yang Beliau lakukan dalam hidupnya- kebutuhan terhadap harta saat itu sama dengan kebutuhan jumlah pasukan. Pasukan Romawi saat itu berjumlah dan berbekal banyak. Padahal tahun itu di Madinah sedang paceklik. Perjalanan yang mereka lalui amat panjang. Biaya mereka sedikit. Kendaraan juga sedikit sehingga ada sekelompok mukminin datang kepada Rasulullah Saw yang meminta Beliau untuk mengadakan kendaraan yang dapat membawa mereka ikut serta dalam jihad. Namun Rasulullah Saw menolak permintaan mereka, sebab mereka tidak memiliki kendaraan untuk membawa mereka ke sana. Maka mereka pun kembali dengan mata berlinang karena merasa sedih sebab mereka tidak memiliki apapun juga yang bisa diinfaqkan. Mereka itu dikenal dengan orang-orang yang menangis. Dan pasukan inipun dikenal dengan pasukan ‘susah.’

Saat itu Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk berinfaq di jalan Allah dan memohon balasannya kepada Allah. Maka kaum muslimin bersegera dalam menjawab seruan Rasulullah Saw, dan salah satu orang yang melakukan sedekah saat itu adalah Abdurrahman bin Auf. Ia bersedekah dengan 200 awqiyah dari emas. Umar bin Khattab lalu berkata kepada Nabi Saw: “Menurutku, Abdurrahman bin Auf telah berbuat dosa, sebab ia tidak menyisakan apapun untuk keluarganya…” Rasulullah Saw lalu bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: “Apakah engkau telah menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abdurrahman?”

Ia menjawab: “Ya. Aku telah sisakan untuk mereka lebih dari apa yang telah aku infaqkan dan lebih baik.”

Rasul bertanya: “Berapa?” Ia menjawab: “Sebanyak apa yang telah Allah dan Rasul-Nya janjikan dari rizqi, kebaikan dan balasan.”

***
Pasukan ini lalu berangkat ke Tabuk… Di sana Allah Swt memberikan Abdurrahman bin Auf kemuliaan yang belum pernah diterima oleh muslimin lainnya. Waktu shalat sudah tiba, sedang Rasulullah Saw tidak ada. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi imam bagi kaum muslimin saat itu. Hampir saja mereka menyelesaikan raka’at pertama, maka Rasulullah Saw menyusul mereka dalam jamaah. Beliau mengikuti shalat Abdurrahman bin Auf dan berada dibelakangnya…

Apakah ada kemuliaan yang melebihi seseorang yang menjadi imam bagi pemimpin seluruh makhluk sekaligus pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad bin Abdullah?!!

***
Setelah Rasulullah Saw kembali ke pangkuan Tuhannya, Abdurrahman bin Auf mencukupi segala kebutuhan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah Saw)… Ia berangkat bersama mereka bila mereka bepergian. Berhaji, jika mereka melaksanakan haji. Ia membuat pada sekudup*4) mereka kain hijau untuk berteduh yang biasa dipakai oleh orang-orang tertentu. Ia akan menemani mereka berhenti di tempat yang mereka sukai. Itulah kisah hidup Abdurrahman bin Auf dan kepercayaan paraUmmahatul Mukminin kepadanya yang dapat ia banggakan.

***
Kebaikan Abdurrahman terhadap kaum muslimin dan Ummahatul Mukminin bahkan membuatnya menjual tanah miliknya seharga 1000 dinar. Ia bagikan semua uang itu kepada Bani Zuhra, orang-orang faqir dari golongan Muhajirin, dan para istri Nabi Saw. Saat ia mengirimkan bagian harta tersebut untuk Ummul Mukminin Aisyah ra. Aisyah bertanya: “Siapakah yang mengirimkan harta ini?” Ada yang mengatakan kepadanya: “Abdurrahman bin Auf.” Kemudian Aisyah berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda: “Tidak ada orang yang bersimpati kepada kalian setelah aku mati kecuali mereka orang-orang yang sabar.”

***
Do’a Nabi Saw dikabulkan sehingga Abdurrahman bin Auf mendapatkan keberkahan pada hartanya. Perdagangan Abdurrahman bin Auf terus berkembang dan bertambah. Kafilah miliknya terus-menerus pergi dan kembali ke Madinah dengan membawa gandum, tepung, minyak, pakaian, bejana, minyak wangi dan semua kebutuhan masyarakat Madinah.

***
Suatu hari datanglah kafilah Abdurrahman bin Auf ke Madinah yang terdiri dari 700 kendaraan. Ya, 700 kendaraan yang membawa makanan, barang-barang yang dibutuhkan oleh penduduk Madinah.

Begitu kafilah ini memasuki Madinah, maka bumi terasa bergoyang dan terdengar sorak-sorai manusia. Aisyah ra bertanya: “Ada apa ramai-ramai begini?” Ada orang yang menjawabnya: “Ini adalah kafilah Abdurrahman bin Auf… 700 unta yang membawa, gandum, tepung dan makanan.”

Aisyah ra berkata: “Semoga Allah memberkahi harta yang telah ia berikan di dunia demi ganjaran akhirat yang lebih besar.”

***
Sebelum unta-unta tersebut berhenti. Kabar tersebut telah sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Begitu telinganya mendengar apa yang dikatakan Ummul Mukminin Aisyah, Abdurrahman segera menemui Aisyah dan berkata: “Saksikanlah olehmu wahai Ummul Mukminin, bahwa kafilah ini dengan seluruh isi dan petugasnya aku berikan di jalan Allah.”

***
Do’a Rasulullah Saw kepada Abdurrahman bin Auf agar Allah berkenan memberkahi dirinya selagi hidup terus saja berlangsung, sehingga ia menjadi sahabat Rasul Saw yang paling kaya dan yang paling banyak memiliki harta… akan tetapi Abdurrahman bin Auf menjadikan seluruh harta tadi demi mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Ia senantiasa berinfaq dengan kedua tangannya baik yang kanan maupun kiri, dengan sembunyi ataupun terang-terangan… sebagaimana ia pernah bersedekah dengan 40 ribu dirham perak, kemudian ia bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar emas. Kemudian ia bersedekah lagi dengan 100 auqiyah emas. Ia juga membawa para mujahidin dengan 500 kuda yang ia berikan. Kemudian ia membekali 1500 mujahidin lainnya dengan kendaraan.

Saat Abdurrahman bin Auf menjelang wafat, ia membebaskan banyak sekali budak-budaknya.

Ia berpesan untuk memberikan 400 dinar emas kepada Ahlu Badr yang masih hidup. Maka mereka pun mengambil pemberian Abdurrahman ini dan jumlah mereka saat itu mencapai 100 orang.

Ia juga berpesan untuk memberikan setiap Ummul Mukminin harta yang banyak; sehingga Ummul Mukminin Aisyah ra seringkali berdo’a untuk Abdurrahman yang berbunyi: “Semoga Allah Swt memberikannya minuman dari air salsabil.”

Kemudian ia meninggalkan untuk ahli warisnya harta yang barangkali tidak bisa terhitung lagi… karena ia mewariskan 1000 unta, 100 kuda dan 3000 domba. Istrinya berjumlah 4 orang sehingga mereka mendapatkan seperempat dari seperdelapan*5) yang masing-masing mereka mendapatkan 80 ribu.

Ia meninggalkan emas dan perak yang bertumpuk-tumpuk dan dibagikan kepada seluruh ahli warisnya dengan cara memukulkannya dengan kapak sehingga tangan orang-orang yang memotongnya kelelahan. Semua itu terjadi karena do’a Rasulullah Saw agar Allah berkenan memberkahi harta Abdurrahman bin Auf.

***
Akan tetapi harta yang ia miliki tidak membuat dirinya tergoda bahkan tidak membuatnya berubah. Sehingga kebanyakan orang jika melihat Abdurrahman bin Auf sedang bersama para budaknya, mereka tidak dapat membedakan mana Abdurrahman dan mana para budaknya.

Suatu saat ia sedang mendapatkan makanan -padahal saat itu ia sedang berpuasa- ia lalu melihat orang yang membawakan makanan tadi sambil berkata: “Mus’ab bin Umair –yang lebih baik dariku- terbunuh, kami mendapatinya tidak memiliki apa-apa selain kain kafan yang menutupi kepalanya namun kakinya terlihat. Jika kedua kakinya ditutup, maka kepalanya akan muncul. Lalu Allah Swt membentangkan dunia kepadaku sehingga seperti ini. Aku khawatir bila pahalaku sudah didahulukan (diberikan di dunia).” Kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu sehingga makanan tersebut basi.

***
Beruntung sekali Abdurrahman bin Auf… Sebab Rasulullah Saw telah menjaminnya masuk ke dalam surga. Pembawa jenazahnya hingga ke peristirahatan terakhir adalah paman Rasul Saw yang bernama Sa’d bin Abi Waqash. Dzu Nuraini Ustman Bin Affan juga turut mensholatkan jenazahnya. Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib turut mengiringi jenazahnya sambil berkata: “Pergilah! Engkau telah menemukan kebenarannya dan engkau telah meninggalkan tipu dayanya. Semoga Allah merahmatimu!”

****************************************
1*) Darul Arqam adalah sebuah rumah tempat Rasul Saw menyampaikan Islam. Rumah ini milik Al Arqam bin Abdi Manaf Al Makhzumy dan rumah ini disebut juga dengan Darul Islam.
2*) Sa’d bin Rabi’ bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik Al Anshary Al Khajrajy adalah seorang sahabat terkemuka. Dia gugur dalam perang Uhud.
3*) Kalimat berasal dari bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub.
4*) Sekudup adalah sebuah tempat yang memiliki kubah dan diletakkan di atas punggung unta, dikhususkan bagi wanita.
5*) Pent. Tirkah (harta warisan untuk istri bila terdapat anak adalah seperdelapan. Karena istri beliau berjumlah 4 orang, maka masing-masing mendapatkan seperempat dari seperdelapan bagian mereka dari harta waris.)

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Salman Al Farisi

Quote:“Kalau Saja Iman Berada di Bintang, Pasti Akan Dicapai Oleh Orang-Orang Ini” (Diucapkan Rasulullah Saw Sambil Meletakkan Tangannya pada Tubuh Salman)

Kisah kita kali ini adalah kisah seseorang yang berusaha mencari hakikat, mencari Allah Swt. Ini adalah kisah Salman Al Farisi ra.

Kita akan membiarkan Salman Al Farisi bercerita tentang kisahnya sendiri. Sebab saat mengalami kisah tersebut, perasaannya begitu hidup dan penyampaiannya akan terasa lebih jujur dan lengkap.

Salman berkata: “Aku adalah seorang pemuda dari Persia penduduk Isfahan*1) dari sebuah kampung yang akrab dikenal dengan Jayyan. Ayahku adalah kepala kampung dan merupakan orang yang paling kaya dan
terhormat disana. Aku adalah manusia yang paling ia cintai sejak aku lahir. Kecintaannya semakin bertambah kepadaku hari demi hari sehingga ia mengurungku di dalam rumah karena merasa khawatir terhadapku. Aku dipingit seperti layaknya seorang gadis.

Dengan sungguh-sungguh aku menganut agama Majusi*2), sehingga aku ditunjuk sebagai penyala api yang kami sembah. Aku dipercaya untuk menyulutnya sehingga tidak boleh padam sesaat pun baik pada waktu malam maupun siang.

Ayahku memiliki sebuah lahan yang besar yang memberi kami hasil yang banyak. Ayah selalu mengawasinya, dan memetik hasilnya. Pada suatu ketika ayahku memiliki kesibukan lain sehingga ia tidak bisa datang ke lahannya. Ia berkata: “Wahai anakku, Aku ada kesibukan lain sehingga tidak bisa mengawasi perkebunan kita. Pergilah ke sana dan awasilah kebun kita hari ini sebagai penggantiku!” Aku pun berangkat untuk melihat kebun kami. Begitu aku sudah berada di sebuah jalan, aku melewati sebuah gereja kaum Nashrani. Aku mendengar suara mereka dari luar saat mereka sedang melakukan kebaktian. Hal itu telah menarik perhatianku.

***
Aku tidak pernah tahu sedikitpun tentang kaum Nashrani atau agama lainnya karena begitu lama ayah memingitku agar tidak berinteraksi sesama manusia. Saat aku mendengar mereka, aku pun masuk mendatangi mereka untuk melihat apa yang sedang mereka kerjakan.

Saat aku merenungi apa yang mereka lakukan, aku menjadi tertarik dengan kebaktian yang mereka laksanakan, dan aku ingin masuk ke dalam agama mereka. Aku berkata:

“Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kami anut. Demi Allah, aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam. Aku tidak jadi ke kebun milik ayah. Lalu aku bertanya kepada mereka: “Darimana asal agama ini?” Mereka menjawab: “Dari negeri Syam.”

Begitu malam tiba, aku kembali ke rumah dan aku berjumpa dengan ayah yang menanyakan apa yang telah aku lakukan seharian. Aku menjawab: “Ayah, aku berjumpa dengan sekelompok manusia yang sedang melakukan kebaktian di gereja. Aku merasa tertarik begitu mengenal agama mereka. Aku terus bersama mereka hingga matahari terbenam.”

Ayahku langsung sengit dengan apa yang telah aku lakukan sambil berkata: “Hai anakku, dalam agama itu sedikitpun tidak ada kebaikan. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik dari agama itu!”

Aku menjawab: “Tidak. Demi Allah, agama mereka lebih baik dari agama kita.” Maka ayah menjadi khawatir akan apa yang telah aku katakan. Ia khawatir bila aku keluar dari agamaku. Ia memingitku lagi di dalam rumah dengan membuat sebuah ikatan pada kakiku.

Begitu aku memiliki kesempatan, maka aku pergi kepada kaum Nashrani dan aku berkata kepada mereka: “Jika ada rombongan yang datang kepada kalian hendak melakukan perjalanan ke negeri Syam, beritahukanlah kepadaku!”

Tidak lama berselang, maka datanglah sebuah rombongan kepada mereka yang akan menuju ke negeri Syam. Mereka lalu memberitahukan kepadaku hal tersebut. Aku lalu berusaha membuka ikatan kakiku sehingga terlepas. Lalu aku berangkat bersama mereka dengan mengendap-endap hingga kami akhirnya tiba di negeri Syam.

Begitu kami tiba di sana, aku bertanya: “Siapa orang yang paling utama dalam urusan agama ini?” Mereka menjawab: “Dialah Uskup*3) yang memimpin gereja.” Lalu aku mendatanginya sambil berkata: “Aku tertarik dengan agama Nashrani. Aku ingin mendampingi dan membantumu. Aku mau belajar darimu dan melakukan kebaktian bersama penganut Nashrani yang lainnya.”

Ia menjawab: “Masuklah!” dan akupun masuk ke dalam gereja mulai saat itu aku menjadi pembantunya.

Masa terus berlalu, hingga aku mengetahui bahwa orang tersebut sebenarnya adalah orang yang buruk. Ia pernah menyuruh para pengikutnya untuk membayar sedekah dan menjanjikan kepada mereka pahala yang akan mereka dapat jika mereka membayar sedekah tersebut di jalan Allah. Uskup tadi malah menyimpan uang tersebut untuk dirinya sendiri dan tidak pernah diberikan kepada kaum fakir dan miskin sedikitpun juga. Sehingga ia berhasil mengumpulkan 7 bejana besar emas.

Aku menjadi benci sekali saat melihatnya. Tidak lama kemudian ia mati dan orang-orang Nashrani berkumpul untuk menguburnya. Aku katakan kepada mereka: “Sahabat kalian ini adalah orang yang jahat. Ia pernah memerintahkan kalian untuk membayar sedekah dan menjanjikan kepada kalian pahala yang akan diterima. Begitu kalian membayarkannya, ia malah menyimpannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia tidak memberikannya kepada kaum miskin sedikitpun dari harta tersebut.”

Mereka bertanya: “Dari mana engkau tahu hal tersebut?” Aku jawab: “Aku akan menunjukkan kalian tempat penyimpanannya!”

Mereka berkata: “Ya, tunjukkanlah kepada kami!” Maka aku tunjukkan kepada mereka tempat penyimpanannya dan dari tempat tersebut mereka mengeluarkan 7 bejana besar yang dipenuhi dengan emas dan perak. Begitu mereka melihatnya mereka berkata: “Demi Allah, kami tidak akan menguburkannya!” Lalu mereka mensalibnya lalu melemparnya dengan batu.

Tidak lama setelah itu, mereka mengangkat seseorang untuk menggantikan posisinya. Maka akupun menjadi pendamping dan pembantunya. Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih zuhud darinya. Tidak ada seorangpun yang mengalahkannya dalam urusan akhirat. Tidak ada yang melewatinya dalam masalah ibadah sepanjang malam dan siang. Aku amat mencintainya. Aku tinggal bersamanya untuk beberapa lama. Saat ia menjelang ajal, aku bertanya kepadanya: “Ya fulan, kepada siapa kau akan mewasiatkan aku. Berilah nasehat kepadaku akan orang yang perlu aku ikuti setelah kau tiada?”

Ia menjawab: “Anakku, Aku tidak mengenal orang yang kau cari kecuali ada seorang yang tinggal di Mosul*4). Dia adalah orang yang tidak pernah membuat-buat dan tidak pernah mengganti agama. Maka carilah ia!”

Begitu sahabatku meninggal, maka aku mencari orang yang berada di Mosul tadi. Begitu aku berjumpa dengannya, aku menceritakan kisahku kepadanya. Aku katakan: “Si fulan berwasiat kepadaku menjelang wafatnya bahwa aku disuruh mencarimu. Ia mengatakan bahwa engkau adalah orang yang berpegang teguh dengan kebenaran.” Ia menjawab: “Tinggallah bersamaku!” Aku pun tinggal bersamanya dan aku mengenalnya sebagai sosok yang selalu benar.

Namun tidak lama kemudian, ajalnya tiba. Akupun berkata kepadanya: “Ya fulan, engkau mengetahui bahwa ketentuan Allah akan berlaku pada dirimu dan engkau mengetahui kondisi diriku. Kepada siapa kau mewasiatkan aku? Siapakah yang harus aku ikuti nanti?”

Ia menjawab: “Wahai anakku, Demi Allah aku tidak mengetahui manusia yang beragama seperti kita ini kecuali ada seseorang di Nasibin*5). Dia adalah fulan, maka carilah dia!”

Begitu ia dikuburkan, aku pergi mencari orang yang tinggal di Nasibin. Kepadanya aku ceritakan kisahku dan apa yang diperintahkan sahabatku tadi kepadaku. Lalu ia berkata: “Tinggalah bersama kami!” Maka akupun tinggal bersamanya. Dia adalah orang baik seperti kedua sahabatnya tadi. Demi Allah, kematian akhirnya berlaku juga pada dirinya. Begitu ajalnya tiba aku bertanya kepadanya: “Engkau tahu bagaimana kondisiku. Kepada siapa engkau hendak mewasiatkan aku?”

Ia menjawab: “Hai Anakku, Demi Allah aku tidak mengetahui manusia yang beragama seperti kita ini kecuali ada seseorang di Amuriyah. Dia adalah fulan, maka carilah dia!” Aku pun mencarinya dan aku ceritakan padanya kisahku. Ia pun berkata: “Tinggallah bersamaku... Aku pun tinggal bersama seorang pria yang demi Allah menganut agama yang sama dengan para sahabatnya tadi. Selama aku tinggal bersamanya aku berhasil memiliki banyak sapi dan kambing.

Lalu ia pun wafat menyusul para sahabatnya. Begitu ajal tiba, aku bertanya kepadanya: “Engkau tahu kondisiku, lalu kepada siapa kau mewasiatkan aku? Apa yang ingin aku perbuat?”

Ia menjawab: “Anakku, demi Allah aku tidak mengetahui adanya seseorang yang masih menganut agama yang kita ikuti. Akan tetapi sebentar lagi akan muncul di tanah Arab seorang Nabi yang di utus dengan membawa agama Ibrahim. Kemudian ia berhijrah dari negerinya ke sebuah negeri yang memiliki banyak pohon kurma di antar dua buah lembah berbatu. Dia memiliki tanda-tanda yang jelas. Ia menerima hadiah dan menolak sedekah. Di antara kedua pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika kau mampu datang ke negeri tersebut, maka lakukanlah!”

Kemudian ajal menjemputnya. Setelah ia wafat, aku masih tinggal di Amuriyah beberapa lama hingga sekelompok pedagang Arab dari kabilah Kalb datang.

Aku katakan kepada mereka: “Jika kau membawaku ke tanah Arab, maka aku akan memberikan semua sapi dan kambingku ini!” Mereka menjawab: “Baik, kami akan membawamu!” Maka aku berikan semua hewan ternakku kepada mereka, dan mereka membawaku hingga kami tiba di Wadi Al Qura*6). Sesampai di sana mereka mengkhianatiku dan menjualku kepada seorang Yahudi. Maka akupun menjadi pembantunya.

Tidak lama kemudian ada sepupu majikanku dari Bani Quraidzah yang mengunjunginya dan ia pun membeliku darinya. Ia membawaku ke Yatsrib, dan aku melihat di sana pepohonan kurma seperti yang diceritakan oleh sahabatku di Amuriyah. Aku tersadar bahwa ini adalah Madinah yang ia gambarkan itu. Lalu aku pun tinggal di sana bersamanya.

Saat itu, Nabi Saw sedang berdakwah kepada kaumnya di Mekkah. Akan tetapi aku tidak pernah mengetahui kabar Beliau karena aku sibuk dengan tugasku sebagai seorang budak.

.........Bersambung di POST 6

*******************************
*1) Isfahan adalah sebuah kota di Iran tengah. Terletak di antara Teheran dan Syairaz
*2) Sebuah agama dimana para penganutnya menyembah api atau matahari
*3) Sebuah jabatan bagi tokoh agama Nashrani di atas pendeta dan di bawah Paus.
*4) Sebuah kota tua yang terletak dekat sungai Dajlah di Irak.
*5) Sebuah kota yang sering dilintasi oleh para kafilah dari kota Mosul menuju Syam. Jaraknya 6 hari perjalanan dari Mosul
*6) Sebuah lembah yang terletak antara Madinah dan Syam, dan dia lebih dekat ke Madinah
Sambungan dari kisah Salman Al Farisi

Sesudah lama berselang maka Nabi Saw berhijrah ke Yatsrib. Demi Allah saat itu aku sedang berada di atas pohon kurma tuanku sambil mengerjakan beberapa tugas. Tuanku saat itu sedang duduk di bawahnya ketika seorang sepupunya datang sambil mengatakan: “Semoga Allah membinasakan Bani Qailah*1). Demi Allah, mereka kini sedang berkumpul di Quba*2) untuk menyambut seorang pria yang datang dari mereka dan mengaku sebagai Nabi.

Begitu aku mendengar apa yang diucapkannya, maka aku seperti langsung demam dan aku menjadi terguncang. Sehingga aku khawatir akan jatuh menimpa tuanku. Aku segera turun dari pohon kurma, dan aku berkata kepada pria tadi: “Apa yang kau ucapkan?! Ceritakan kembali berita tadi kepadaku!!” Maka tuanku langsung emosi dan meninjuku dengan begitu keras. Ia berkata kepadaku: “Apa urusanmu dengan berita ini?! Kembalilah lagi untuk meneruskan pekerjaanmu!”

***
Begitu hari menjelang petang. Aku mengambil beberapa kurma yang aku kumpulkan dan aku bawa ke tempat Rasulullah Saw menginap. Aku masuk menghadapnya dan aku berkata: “Aku mendengar bahwa engkau adalah orang yang shalih, dan kau membawa para sahabat yang membutuhkan bantuan. Ini adalah sedikit barang yang dapat aku sedekahkan. Menurutku kalian lebih pantas untuk menerima ini dari lainnya.” Kemudian aku mendekat ke arah Beliau. Beliau lalu bersabda kepada para sahabatnya: “Makanlah oleh kalian!” Ia tidak menggerakkan tangannya dan memakan kurma bawaanku. Aku berkata dalam hati: “Inilah sebuah tandanya!” Kemudian aku kembali ke rumah dan aku kumpulkan beberapa buah kurma. Begitu Rasulullah Saw berangkat dari Quba menuju Madinah aku menghampiri Beliau sambil berkata: “Aku perhatikan bahwa engkau tidak makan harta sedekah dan ini adalah hadiah yang aku bawakan buatmu.” Lalu Beliau memakannya dan menyuruh para sahabatnya untuk makan bersama Beliau. Lalu aku berkata dalam diri: “Inilah tanda yang kedua!”

Lalu aku mendatangi Rasulullah Saw yang saat itu sedang berada di Baqi Al Gharqad*3) untuk menguburkan para sahabatnya. Aku dapati Beliau sedang duduk dengan memakai dua buah kain kasar. Aku memberikan salam kepadanya, kemudian aku berputar untuk melihat punggung Beliau. Dan benar, aku melihat tanda seperti yang diceritakan oleh sahabatku yang berada di Amuriyah.

Begitu Rasulullah Saw melihatku sedang memperhatikan punggungnya, Beliau mengetahui maksudku. Kemudian Beliau melepaskan selendang dari punggungnya. Maka aku memperhatikan dan aku melihat tanda itu. Aku semakin yakin dan akupun langsung tersungkur, mencium tangannya dan aku menangis.

Maka Rasulullah Saw bertanya kepadaku: “Apakah ceritamu ini?”

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya dan Beliau merasa kagum mendengarnya. Beliau kemudian berkeinginan agar para sahabatnya juga mendengar kisahku ini. Maka aku pun menceritakan kepada mereka. Mereka begitu kagum mendengarnya. Mereka semua menjadi begitu bahagia.

*****************************
*1) Bani Qailah adalah suku Aus dan Khajraj
*2) Nama sebuah sumur dekat Madinah
*3) Sebuah tempat di Madinah yang dijadikan pekuburan.

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
kasihan amat ini trit sepi, ane bantu ramein deh emoticon-Big Grin

Khalid bin Walid belum ada ya?
Quote:Utsman bin Mazh’un*1)

ane rekues yang ini aja. baru dengar kali ini (muslim apa aku ini emoticon-Hammer (S) )
di wiki juga sedikit infonya, bahkan di wiki bahasa arab juga cuma beberapa paragraf
keren nih thread. makasih TS....

lumanyan buat pengetahuan daripada lumanyun..... emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By permberontak98
kasihan amat ini trit sepi, ane bantu ramein deh emoticon-Big Grin

Khalid bin Walid belum ada ya?


thanks udah mampir gan, Insya Allah Khalid bin Walid RA. nanti ditampilkan gan.... emoticon-2 Jempol

Quote:Original Posted By paraparadox


ane rekues yang ini aja. baru dengar kali ini (muslim apa aku ini emoticon-Hammer (S) )
di wiki juga sedikit infonya, bahkan di wiki bahasa arab juga cuma beberapa paragraf


Untuk kisah Utsman bin Mazh'un ra. informasinya memang sedikit gan, padahal beliau kan salah satu orang pertama yang masuk Islam. Nanti akan ane cari lagi informasinya gan, kali aja ada yang lebih komplit lagi...

Quote:Original Posted By qiudee
keren nih thread. makasih TS....

lumanyan buat pengetahuan daripada lumanyun..... emoticon-Ngakak


thanks cendolnya gan.....
lumayan buat seger2....emoticon-Ngakak
Gan di update terus ya trit ini...keren uuy...buat ane ceritain sama anak ane...
UTSMAN bin MAZH'UN

Quote:"Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu". (Doa Rasulullah SAW saat Utsman bin Mazh'un meninggal).

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaum Muhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan di Baqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri ('Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip "Uzlah" untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu'min.

Paling tidak, ada "dua" pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan "Manhaj"(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan "Uzlah". Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan "Uzlah" seperti itu.

Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh'un adalah "Mujahadah"nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya.

Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu'min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka "muak" melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh'un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, "Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar" (QS. Ali Imran, 3:19;85)

Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur'an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap "buronan" menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap "buronan".

Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh'un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh'un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya.

Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh'un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri. Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: "Ketika Utsman bin Mazh'un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: "Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: "Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: "Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT.

Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: "Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT".

Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi'ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi'ah berkata: "Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?". Kata Utsman:"Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: "Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna". Utsman menimpali pernyataan Lubaid:"Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: "Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?". Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:"Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya".

Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A'raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh'un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman. Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :"demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: "Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: "Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: "Tidak, tidak untuk selama-lamanya!".

Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi orang suci yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.

Utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-"Zuhud", hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: "Istrimu punya hak darimu".

Keinginan beliau senantiasa ber-"Mujahadah" inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh'un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; "Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu".

Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:"Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh'un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT".

***********************************


Cerita ini di ambil dari :
SUMBER

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Abdullah bin Ummi Maktum

Quote:“Manusia Buta yang Allah Turunkan 16 Ayat yang Berkenaan tentang Dirinya. Ayat-Ayat Tersebut Senantiasa Dibaca dan Diulang-Ulang Terus” (Para Ahli Tafsir)

Siapakah orang yang telah membuat Nabi mendapatkan kecaman dari langit dan telah membuat Beliau gelisah?!

Siapakah orang yang telah membuat Jibril al Amin turun dari langit untuk menyampaikan kepada hati Nabi Saw tentang sebuah wahyu yang berkenan dengan dirinya?!

Dialah Abdullah bin Ummi Maktum yang menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) Rasulullah Saw.

****
Abdullah bin Ummi Maktum adalah penduduk asli Mekkah berkebangsaan Quraisy yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Rasulullah Saw. Dia adalah sepupu Ummul Mukminini Khadijah binti Khuwailid ra. Ayahnya bernama Qais bin Zaidah. Ibunya bernama ‘Atikah binti Abdullah. Ia dipanggil dengan sebutan Ummu Maktum sebab saat ibunya melahirkan ia sebagai anak yang buta, ibunya melahirkannya dengan sembunyi-bunyi agar tidak diketahui orang.

****
Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan terbitnya sebuah cahaya di Mekkah. Maka Allah Swt melapangkan dadanya untuk menerima iman. Dia termasuk orang pertama yang masuk Islam.

Ibnu Ummi Maktum menjalani segala ujian yang dirasakan dan diderita oleh kaum muslimin di Mekkah dengan segala pengorbanan, keteguhan dan kesabaran.

Ia merasakan siksaan bangsa Quraisy sebagaimana yang dialami oleh sahabatnya yang lain. Ia merasakan kebengisan dan kekejaman yang mereka lakukan. Meski demikian ia tidak pernah beringsut dan tidak pernah patah semangat. Imannya tidak akan goyah.

Imannya mampu sedemikian karena ia berpegang teguh dengan ajaran agama Allah, senantiasa berpegang dengan Kitabullah, mempelajari dengan baik syariat Allah dan selalu datang dan bergaul dengan Rasulullah Saw.

****
Ia begitu seringnya mendampingi Rasulullah dan begitu hapal akan Al Qur’an hingga ia tidak pernah melewatkan satu kesempatanpun untuk bersamanya, dan apabila ada kesempatan untuk melakukan itu, maka pasti dia menjadi yang pertama melakukannya.

Bahkan keinginannya untuk melakukan hal ini membuat ia berkeinginan untuk mendapatkan jatah bagiannya dan jatah orang lain untuk dirinya agar ia bisa mendampingi Rasul dan mempelajari Al Qur’an sebanyak-banyaknya.

Pada masa-masa itu Rasulullah Saw seringkali melakukan pertemuan dengan para pemuka Quraisy karena berharap mereka berkenan untuk masuk Islam. Suatu hari Beliau berjumpa dengan Utbah bin Rabiah dan saudaranya yang bernama Syaibah bin Rabiah. Turut bersama keduanya adalah ‘Amr bin Hisyam yang dikenal dengan Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Al Mughirah orang tua Khalid bin Walid. Rasul melakukan pembicaraan kepada mereka, mengajak mereka serta memperkenalkan Islam kepadanya. Rasul amat berharap agar mereka mau menerima penawaran Rasul, atau menghentikan penyiksaan yang mereka lakukan terhadap para sahabat Rasul Saw.

****
Saat Rasulullah Saw sedang mengadakan pembicaraan dengan mereka, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta Rasul Saw untuk membacakan ayat-ayat Kitabullah kepadanya. Ia berkata: “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!”

Rasul Saw lalu berpaling darinya, dan membuang wajahnya dari Ibnu Ummi Maktum. Ia lalu melanjutkan pembicaraan dengan para pembesar Quraisy tadi. Rasul masih berharap agar mereka mau menerima Islam, sehingga dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam maka agama ini akan semakin kokoh, dan dapat mendukung dakwah Rasulullah Saw.

Begitu Rasulullah Saw selesai mengadakan pembicaraan dengan mereka, Beliau hendak kembali ke rumah. Tiba-tiba Allah Swt membuat mata Beliau menjadi kabur sehingga Beliau merasa pusing. Lalu turunlah beberapa ayat kepada Beliau:

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam


“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfa'at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekalikali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (QS. Abasa [80] : 1-16)

16 ayat yang dibawa turun oleh Jibril ke hati Nabi Saw tentang Abdullah bin Ummi Maktum. Ke 16 ayat tersebut senantiasa dibaca sejak diturunkan hingga hari ini. Dan akan terus dibaca manusia sehingga Allah mengakhiri riwayat bumi ini.

............. Bersambung ke POST 14
.......Sambungan dari kisah Abdullah bin Umi Maktum

Sejak saat itu Rasulullah senantiasa memulyakan Abdullah bin Ummi Maktum ketika ia datang dan singgah di majlis Rasulullah. Beliau juga senantiasa menanyakan kondisi Abdullah dan memenuhi segala kebutuhannya.

Hal ini tidak mengherankan, sebab karena Abdullah bin Ummi Maktumlah Rasulullah Saw mendapat kecaman keras dari langit!

****
Begitu Quraisy semakin menggencarkan usaha mereka dalam menganiaya Rasul dan para pengikutnya, maka Rasulullah Saw mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah. Abdullah bin Ummi Maktum lah yang menjadi orang yang paling cepat meninggalkan tanah airnya dan berlari menyelamatkan agama.

Dia dan Mus’ab bin Umair adalah orang pertama dari para sahabat Rasulullah Saw yang tiba di Madinah.

Begitu Abdullah bin Ummi Maktum di di Yatsrib, ia dan sahabatnya selalu membacakan dan mengulang-ulang Al Qur’an kepada semua penduduk Madinah. Mereka berdua mengajarkan kepada penduduk Madinah ilmu tentang agama Allah.

****
Saat Rasulullah Saw tiba di Madinah, ia menjadikan Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah sebagai dua orang muadzin yang menyerukan kalimat setiap hari sebanyak lima kali. Keduanya diperintahkan untuk menyeru manusia mengerjakan amal terbaik dan meraih kemberuntungan.

Maka terkadang Bilal yang melakukan Adzan dan Ibnu Ummi Maktum yang membacakan Iqamat. Terkadang juga Ibnu Ummi Maktum yang Adzan, dan Bilal yang beriqamat.

Bilal dan Ibnu Ummu Maktum juga memiliki tugas lain saat bulan Ramadhan. Kaum muslimin Madinah akan melakukan sahur apabila salah seorang dari mereka melakukan adzan, dan mereka akan berimsak saat satunya lagi mengumandangkan adzan kedua.

Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari untuk membangunkan manusia. Sedangkan Ibnu Ummi Maktum bertugas untuk memperhatikan datangnya fajar, dan ia tidak pernah keliru melakukannya.

Rasulullah Saw begitu memulyakan Ibnu Ummi Maktum sehingga pernah Beliau mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya untuk menjaga Madinah lebih dari 10 kali, salah satunya adalah saat Rasulullah Saw berangkat untuk menaklukkan kota Mekkah.

****
Setelah usai perang Badr, Allah menurunkan beberapa ayat Al Qur’an yang memuji para mujahidin, dan memulyakan orang yang berjihad daripada orang yang tidak berangkat agar memberikan stimulasi kepada para mujahid tadi, dan mengecam orang yang tidak berangkat. Hal itu membuat Ibnu Ummi Maktum menjadi kecil hati karena tidak bisa mendapatkan kemulyaan ini. Ia pun berkata: “Ya Rasulullah, bila aku mampu berjihad, maka pasti aku akan melakukannya.” Kemudian Abdullah bin Ummi Maktum berdo’a kepada Allah dengan hati yang khusyuk agar Ia berkenan menurunkan ayat tentang orang sepertinya yang kekurangan dirinya menghalangi mereka untuk melakukan jihad. Ia berdo’a dengan begitu khusyuknya: “Ya Allah, turunkanlah ayat atas ketidakmampuanku… Ya Allah, turunkanlah ayat atas ketidakmampuanku!”

Maka Allah dengan begitu cepatnya langsung menjawab do’a Abdullah bin Ummi Maktum.”

****
Zaid bin Tsabit, penulis wahyu bagi Rasulullah Saw mengisahkan: “Saat itu aku sedang bersama Rasulullah Saw dan Beliau tiba-tiba hilang kesadaran. Maka paha Beliau di taruh di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan ada paha yang seberat paha Rasulullah Saw. Kemudian Beliau tersadarkan sebentar lalu bersabda: “Tuliskan, Ya Zaid!” Maka aku pun menuliskan: “Tidak sama orang mukmin yang duduk (tidak berangkat) dengan orang yang berjuang di jalan Allah.”

Lalu Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya berkata: “Bagaimana dengan orang yang tidak mampu berjihad?” Belum juga ia usai meneruskan ucapannya, maka Rasulullah Saw hilang kesadaran lagi. Lalu pahanya diletakkan di pahaku. Maka aku merasakan berat yang sama pada saat ketika pertama kali. Kemudian ia tersadarkan diri, lalu bersabda: “Bacakan apa yang telah kau tulis, ya Zaid!” Akupun membacakan: “Tidak sama orang mukmin yang duduk…” lalu Beliau bersabda: “Tuliskan ‘Selain orang yang memiliki uzur”


Maka turunlah pengecualian sebagaimana yang diharapkan oleh Abdullah bin Ummi Maktum.

Meski Allah Swt telah memberikan maaf kepada Abdullah bin Ummi Maktum dan kepada orang-orang yang sepertinya dalam berjihad, namun ia tidak rela membiarkan dirinya berdiam diri dengan orang-orang yang tidak berangkat. Ia malah bertekad untuk berjihad di jalan Allah Swt.

Hal itu dikarenakan jiwa yang besar tidak akan pernah puas kecuali apabila melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Sejak saat itu ia bertekad tidak akan pernah ketinggalan perang. Ia telah menentukan tugasnya sendiri di medan peperangan. Ia berseru: “Tempatkan aku diantara dua barisan dan berikan kepadaku panji agar aku yang membawanya dan menjaganya untuk kalian! Sebab aku buta dan tidak mampu berlari.”

****
Pada tahun 14 H, Umar bertekad untuk menyerang Persia dengan sebuah peperangan yang dapat mengalahkan mereka, meruntuhkan kerajaan Persia dan membuka jala bagi tentara muslimin. Ia menuliskan sebuah surat kepada para pembantunya yang berbunyi:

“Jika ada orang yang memiliki senjata, kuda, pertolongan atau pendapat maka pilihlah mereka dan bawalah mereka menghadapku! Segera!”

Maka kaum muslimin memenuhi panggilan Umar al Faruq, dan mereka berdatang ke Madinah sehingga memenuhi semua penjurunya. Salah seorang dari mereka adalah seorang buta yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum.

Umar ra menunjuk pemimpin pasukan besar ini adalah Sa’d bin Abi Waqash. Sebelum berangkat Umar memberikan wasiatnya kepada pasukan muslimin, kemudian melepas mereka.

Begitu pasukan ini tiba di Al Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum mengenakan baju besinya juga perlengkapan perang lainnya. Ia rela membawakan panji kaum muslimin dan berjanji untuk menjaganya hingga mati.

****
Kedua pasukan bertemu dan berperang selama 3 hari dengan begitu hebatnya. Keduanya saling menyerang dengan sangat dahsyat sehingga belum pernah ada sejarah penaklukan yang dialami kaum muslimin sehebat ini. Sehingga pada hari ketiga kaum muslimin mendapatkan kemenangan telak. Maka jatuhlah sebuah bangsa yang begitu besar saat itu, dan dikibarkanlah panji tauhid di negeri berhala. Dan sebagai harga pembelian kemenangan ini, gugurlah ratusan syahid dan salah satu dari para syuhada itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia ditemukan telah tewas dengan berlumuran darah dan ia masih menggenggam panji pasukan muslimin.

****************************************

Catatan: Ada perbedaan tentang nama Abdullah bin Ummi Maktum. Penduduk Madinah memanggilnya dengan Abdullah. Sedangkan penduduk Iraq memanggilnya dengan Umar. Sedangkan nama ayahnya adalah Qais bin Zaidah, dan tidak ada perbedaan pendapat tentang nama ayahnya.

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
Amr bin Al Ash

Quote:“Amr bin Al Ash Masuk Islam Setelah Ia Melakukan Perenungan dan Pemikiran yang Cukup Panjang. Rasulullah Saw Pernah Bersabda tentang Diri Amr: “Para Manusia telah Masuk Islam, dan Amr bin Al Ash telah Beriman.” *1)

“Ya Allah, Engkau dulu pernah memerintahkan kami, namun kami bermaksiat. Engkau dulu pernah melarang kami, namun kami masih saja tak berhenti melakukannya. Tidak ada daya upaya kami selain berharap ampunan-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang!”

Dengan do’a yang sarat dengan kerendahan hati dan harapan ini, Amr bin Ash menutup usia dan menjelang kematian.

****
Kisah hidup Amr bi Ash sarat dengan cerita berharga.
Dalam masa hidupnya, ia telah berhasil mempersembahkan untuk Islam dua daerah besar dan makmur. Keduanya adalah Palestina dan Mesir.

Ia berhasil meninggalkan sebuah riwayat berharga dan senantiasa dibaca oleh manusia sepanjang masa.

****
Kisah ini di mulai kira-kira setengah abad sebelum hijrah saat Amr dilahirkan, dan berakhir 43 tahun setelah hijrah saat ia menutup usia.

Ayahnya bernama Al Ash bin Wa’il yang menjadi salah seorang pemimpin dan tokoh Arab terpandang pada masa jahiliah. Ayahnya juga merupakan sosok yang memiliki kedudukan tinggi pada bangsa Quraisy.

Sedangkan ibunya, memiliki nasib yang berbeda. Ibunya adalah seorang budak tawanan saja.

Oleh karenanya orang-orang yang merasa iri terhadap Amr bin Ash selalu mengungkit kisah ibunya saat Amr sudah menjabat posisi tertentu atau saat ia sedang menaiki tangga mimbar untuk memberikan khutbah.

Bahkan ada seseorang yang membujuk seorang lain untuk berdiri saat Amr bin Ash hendak naik ke atas mimbar lalu menanyakan Amr tentang kisah ibunya. Orang yang menyuruh tadi menjanjikan sejumlah uang kepada orang yang berani melakukan hal ini.

Orang yang disuruh itu bertanya: “Siapakah ibu dari pemimpin kita ini?” Amr langsung berusaha menekan emosinya dan menggunakan akal sehatnya. Ia menjawab: “Dia adalah Nabighah binti Abdullah. Ia pernah tertawan pada masa jahiliah kemudian ia dijual sebagai budak di pasar Ukadz. Kemudian ia dibeli oleh Abdullah bin Jad’an yang kemudian diberikan kepada Ash bin Wa’il (yaitu ayah Amr) sehingga membawa karunia seorang anak bagi Ash. Jika orang yang hatinya teracuni sifat dengki menjanjikan sejumlah uang kepadamu, maka ambillah!”

****
Saat kaum muslimin yang menderita berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan diri dari siksaan bangsa Quraisy dan tinggal di sana. Pada saat itu bangsa Quraisy bertekad untuk memulangkan mereka ke Mekkah lagi, kemudian menyiksa mereka dengan berbagai siksaan.

Bangsa Quraisy menunjuk Amr bin Ash untuk melakukan tugas ini, sebab ia memiliki hubungan lama yang baik dengan An Najasy.

Bangsa Quraisy juga membekali Amr dengan hadiah yang disenangi oleh An Najasy dan para pemuka agama di sana.

Begitu Amr bin Ash bertemu dengan An Najasy, Amr bin Ash memberikan penghormatan kepadanya dan berkata: “Ada sebuah kelompok dari kaum kami yang telah berpaling dari agama orang tua dan kakek moyang kami, mereka kini telah membuat agama baru untuk diri mereka. Bangsa Quraisy mengutusku untuk bertemu denganmu untuk mendapatkan izin darimu agar mereka dapat dikembalikan kepada kaumnya dan kembali kepada agama mereka.”

Maka An Najasy segera memanggil beberapa orang dari sahabat Nabi yang berhijrah. An Najasy bertanya kepada mereka tentang agama yang mereka anut, Tuhan yang mereka imani dan tentang Nabi mereka yang membawa ajaran agama ini.

An Najasy mendengarkan dari penuturan para sahabat tadi yang membuat hatinya menjadi yakin dan tenang. Akidah mereka telah membuat An Najasy menjadi suka dengan ajaran agama mereka dan beriman kepadanya.

Maka An Najasy menolak dengan keras permintaan Amr bin Ash. Kemudian An Najasy mengembalikan semua hadiah yang diberikan oleh Amr bin Ash.

****
Saat Amr bin Ash hendak berangkat menuju Mekkah, An Najasy berkata kepadanya: “Bagaimana bisa engkau menjauh dari urusan Muhammad, ya Amr padahal aku tahu bahwa engkau adalah orang yang berpikiran cerdas dan berwawasan luas?! Demi Allah dia adalah seorang utusan Allah kepada kalian khususnya dan kepada manusia secara umum.”

Amr lalu bertanya: “Apakah kau sungguh mengatakan hal demikian, wahai paduka raja?!”

An Najasy menjawab: “Demi Allah, taatilah titahku, ya Amr dan berimanlah kepada Muhammad dan kepada kebenaran yang ia bawa untuk kalian!”

****
Amr bin Ash meninggalkan Habasyah. Ia terus melanjutkan perjalanannya namun ia tidak mengerti apa yang ia lakukan. Kalimat yang telah diucapkan An Najasy meninggalkan bekas mendalam dan berhasil mengguncang hatinya.

Ucapan An Najasy tentang Muhammad membuat dirinya ingin segera menemui Muhammad, akan tetapi ia tidak memiliki kesempatan hingga pada tahun 8 hijriyah. Pada saat Allah Swt berkenan untuk melapangkan dadanya untuk menerima agama yang baru. Maka pada saat itulah Amr berangkat menyusuri jalan yang menuju ke Madinah Munawarah untuk menemui Rasulullah Saw dan menyatakan keislaman dirinya dihadapan Beliau.

Saat ia sedang di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan Khalid bin Al Walid dan Utsman bin Thalhah. Keduanya pun memiliki tujuan yang sama. Akhirnya ketiga orang itu pun berangkat bersama-sama.

Begitu mereka menjumpai Nabi Saw, Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah segera berbai’at (melakukan sumpah setia) kepada Nabi Saw.

Kemudian Rasulullah Saw membentangkan tangannya kepada Amr, lalu Amr memegang tangan Beliau.

Rasulullah Saw lalu bertanya kepada Amr: “Apa yang terjadi dengan dirimu, ya Amr?!” Ia menjawab: “Aku berbai’at kepadamu agar dosaku yang terdahulu diampuni.”

Nabi Saw langsung berujar: “Islam dan hijrah keduanya menghapuskan dosa yang terjadi sebelumnya.” Pada saat itu Amr langsung berbai’at kepada Rasul Saw.

Akan tetapi kejadian ini meninggalkan kesan pada diri Amr bin Ash yang sering ia ucapkan: “Demi Allah, mataku tidak pernah memandang Rasulullah Saw dan menatap wajah Beliau hingga Beliau kembali ke pangkuan Tuhannya.”

****
Dengan cahaya kenabian Rasulullah Saw melihat diri Amr bin Ash. Beliau mengetahui adanya potensi tertentu dalam dirinya. Maka Rasulullah Saw menunjuk Amr untuk menjadi pemimpin pasukan muslimin dalam perang Dzatus Salasil meski dalam pasukan tersebut banyak terdapat para tokoh Muhajirin dan Anshar yang lebih dahulu masuk Islam.

****
Saat Rasulullah Saw sudah wafat, dan kekhalifahan berada di tangan Abu Bakar As Shiddiq ra maka Amr bin Ash berjuang keras dalam peperangan melawan gerakan kemurtadan.

Amr bin Ash juga memberantas fitnah yang merebak saat itu bersama Abu Bakar As Shiddiq Ra.

Amr bin Ash pernah singgah di Bani Amir dan bertemu dengan pemimpin mereka yang bernama Qurrata bin Hubairaj yang berniat untuk murtad. Qurrata berkata kepada Amr: “Wahai Amr, Bangsa Arab tidak menyukai kewajiban pembayaran yang kalian tetapkan kepada semua orang (maksudnya adalah zakat). Jika kalian menghilangkan zakat tersebut, maka bangsa Arab akan patuh dan taat kepada kalian. Jika kalian menolak untuk menghapuskannya, maka mereka tidak akan bersatu lagi dengan kalian setelah hari ini.

Maka Amr pun langsung berseru kepada Bani Amir: “Celaka kamu!! Apakah engkau sudah menjadi kafir wahai Qurrata?! Apakah engkau mau menakutiku dengan murtadnya bangsa Arab?! Demi Allah, aku akan menjejakan kaki kuda di kemah ibumu!”

****
Saat Abu Bakar As Shiddiq kembali ke pangkuan Tuhannya, dan amanah kekuasaan diserahkan kepada Umar Al Faruq. Al Faruq memanfaatkan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh Amr bin Ash kemudian Umar menempatkan Amr untuk berkhidmat kepada Islam dan muslimin.

Maka lewat Amr bin Ash, Allah Swt berkenan menaklukan satu negeri demi negeri lainnya yang berada di tepi pantai Palestina. Pasukan Romawi satu demi satu menemukan kekalahan mereka. Kemudian Amr bin Ash bersama pasukannya berniat untuk memblokade Baitul Maqdis.

Amr bin Ash semakin memperketat blokade di sekeliling wilayah Baitul Maqdis sehingga Arthabun panglima pasukan Romawi merasa putus asa.

Blokade tersebut menyebabkan Arthabun melepaskan kota suci tersebut dan lebih memilih untuk melarikan diri. Maka Jerusalem pun kembali ke pangkuan kaum muslimin.

Pada saat itu, seorang pemuka agama Nashrani di sana berharap penyerahan kota suci ini dapat dihadiri oleh Khalifah sendiri.

Maka Amr bin Ash segera menuliskan sebuah surat kepada Umar Al Faruq yang mengundang khalifah untuk menerima secara langsung penyerahan Baitul Maqdis. Khalifah Umar pun hadir dalam penyerahan tersebut dan ia menandatangani perjanjian penyerahan kota Jerusalem.

Maka Jerusalem pun diserahkan kepada kaum muslimin pada tahun 15 hijriyah berkat usaha Amr bin Ash ra.

Umar Al Faruq jika diingatkan tentang peristiwa blokade Baitul Maqdis dan teringat akan kehebatan Amr bin Ash, ia akan berkata: “Kita telah berhasil mengusir Arthabun Romawi dengan Arthabun Arab.”

Amr bin Ash masih meneruskan kemenangan besarnya dengan menaklukan Mesir. Akhirnya negeri yang subur ini menjadi bagian dari wilayah Islam.

Di samping itu, Amr bin Ash berhasil menaklukan pintu-pintu benua Afrika, negeri Maroko lalu Spanyol.

Semua ini dilakukan oleh Amr bin Ash untuk kaum muslimin hanya dalam setengah abad saja.

****************************
*1) HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi. Barangkali yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang yang masuk Islam pada tahap-tahap akhir.


............... Bersambung di POST 16
.....Sambungan kisah Amr bin Al Ash

Kelebihan Amr bin Ash bukan hanya pada bidang ini saja. Ia juga salah seorang ahli makar dan tipu daya bangsa Arab. Ia juga termasuk salah seorang yang paling jenius di antara mereka.

Barangkali salah satu kisah kecerdikannya adalah saat ia menaklukkan Mesir. Amr bin Ash terus membujuk Umar Al Faruq agar diperbolehkan untuk menaklukkan Mesir, sehingga Umar pun mengizinkannya. Umar memberikan dukungan kepada Amr bin Ash dengan 4000 prajurit muslimin.

Maka berangkatlah Amr bin Ash dengan pasukannya dengan begitu gagah dan tanpa beban. Akan tetapi yang turut serta dalam rombongannya hanya sedikit prajurit saja, sehingga Utsman bin Affan pun menemui Umar dan berkata kepadanya:

“Wahai Amirul Mukminin, Amr bin Ash adalah orang yang gagah berani. Dalam dirinya terdapat kecintaan kepada jabatan. Aku khawatir ia pergi ke Mesir tanpa jumlah pasukan yang cukup dan logistik yang memadai, dan hal itu dapat membawa petaka bagi pasukan muslimin.

Umar langsung menyesal telah memberikan izin kepada Amr bin Ash untuk menaklukan Mesir. Maka ia langsung mengirimkan seorang utusan yang membawa surat dari khalifah untuk Amr tentang masalah ini.

****
Utusan yang dikirim Umar tadi menjumpai pasukan muslimin di daerah Rafah di bagian negeri Palestina. Ketika Amr bin Ash mengetahui kedatangan seorang utusan Umar Al Faruq yang membawa sebuah surat yang ditujukan kepadanya dari Khalifah, Amr langsung merasa khawatir akan isi surat tersebut.

Amr terus berpura-pura sibuk dan meneruskan perjalanannya sehingga ia masuk ke sebuah perkampungan Mesir.

Pada saat itu, Amr baru menemui utusan khalifah. Ia langsung mengambil surat tersebut dan membukanya. Di dalamnya tertulis: “Jika engkau menerima suratku ini sebelum memasuki daerah Mesir, maka kembalilah ke tempat asalmu! Jika kau telah menginjak tanah Mesir, maka teruskanlah perjalananmu!”

Kemudian Amr bin Ash menyeru semua prajurit muslimin dan membacakan surat dari Umar Al Faruq. Kemudian Amr bertanya: “Apakah kalian sudah tahu bahwa kita sekarangsudah berada di tanah Mesir?” Mereka menjawab: “Ya, kami tahu.” Amr berujar: “Kalau demikian, marilah kita meneruskan perjalanan ini di bawah keberkahan dan taufiq Allah Swt!”

Allah Swt pun berkenan menaklukkan Mesir lewat perjuangan Amr bin Ash.

****
Salah satu bukti kecerdasannya juga adalah saat ia sedang mengepung salah satu benteng negeri Mesir yang kuat, tokoh agama Romawi meminta panglima pasukan muslimin untuk mengirimkan seorang negosiator dan juru runding. Beberapa orang dari pasukan muslimin rela untuk melakukan tugas ini. Akan tetapi Amr bin Ash berkata: “Aku akan menjadi utusan kaumku untuk menemuinya.” Lalu Amr bin Ash menemui tokoh agama tadi, kemudian ia berhasil memasuki benteng tadi dengan berpura-pura bahwa dirinya adalah utusan panglima pasukan muslimin.

****
Tokoh agama itu bertemu dengan Amr dan tokoh agama tersebut tidak mengenalinya.

Maka terjadilah perundingan antara mereka berdua dan Amr bin Ash berhasil memperlihatkan kecerdasan dan pengalamannya. Maka tokoh agama Romawi ini berniat untuk mengkhianati Amr. Tokoh agama tersebut memberikan hadiah yang besar kepada Amr dan menyuruh para penjaga benteng untuk membunuh Amr sebelum ia melewati parit.

Akan tetapi Amr mengetahui niat jahat dari pancaran mata para penjaga tersebut. Lalu Amr kembali lagi menemui tokoh agama tadi dan berkata: “Wahai Tuan, pemberian yang engkau berikan kepadaku tidak bakal cukup untuk dibagi kepada seluruh sepupuku. Maukah engkau mengizinkan aku untuk mengajak sepuluh orang dari mereka untuk mendapatkan hadiah yang sama darimu?”

Tokoh agama tadi menjadi bahagia, dan ia berharap dapat membunuh sepuluh orang dari pihak muslim daripada hanya membunuh satu orang saja.”

Kemudian tokoh agama tadi memberi isyarat kepada para penjaga benteng untuk membiarkan Amr bin Ash pergi.

Maka selamatlah Amr bin Ash dari ancaman pembunuhan.

Ketika Mesir berhasil ditaklukan dan diserahkan kepada pihak muslimin, tokoh agama tadi berjumpa dengan Amr bin Ash dan bertanya dengan nada keheranan: “Apakah ini adalah kamu sebenarnya?” Amr menjawab: “Ya, seperti saat hendak kau khianati dulu.”

****
Amr bin Ash adalah manusia yang amat pandai berbicara dan berdialog. Sehingga Umar Al Faruq menganggap bahwa kepandaian Amr bin Ash dalam berbicara merupakan tanda kekuasaan Allah Swt.

Maka setiap kali Umar melihat ada orang yang gagap dalam berbicara, maka Umar berkata: “Sang Pencipta orang ini dan Sang Pencipta Amr bin Ash adalah Tunggal.”

Salah satu ucapan Amr bin Ash yang sarat dengan makna adalah: “Manusia itu terbagi tiga; Manusia yang sempurna, separuh manusia dan manusia yang tak bermakna.

Adapun manusia yang sempurna adalah manusia yang lengkap agama dan akalnya. Jika ia hendak memutuskan sebuah perkara, maka ia akan meminta pendapat orang-orang cerdas sehingga ia akan terus mendapatkan petunjuk.

Sedangkan separuh manusia adalah orang yang yang disempurnakan agama dan akalnya oleh Allah. Jika ia hendak meutuskan sebuah perkara, ia tidak meminta pendapat orang lain, dan ia akan berkata: “Manusia seperti apa yang mesti aku ikuti pendapatnya kemudian aku akan meninggalkan pendapatku dan mengikuti pendapatnya?” Maka terkadang ia benar, terkadang ia salah.

Adapun orang yang tak bermakna adalah orang yang tidak beragama dan tidak berakal. Maka ia akan selalu keliru dan terbelakang.

Demi Allah, aku senantiasa meminta pendapat orang lain, bahkan kepada pembantuku.

****
Saat Amr bin Ash jatuh sakit dan merasakan ajalnya telah tiba, ia meneteskan air mata dan berkata kepada anaknya: “Aku pernah menjalani tiga kondisi yang diketahui oleh diriku sendiri. Aku pernah menjadi orang kafir, kalau saja saat itu aku mati maka aku pasti akan masuk ke dalam neraka. Saat aku berbai’at kepada Rasulullah Saw, aku menjadi manusia yang amat malu terhadap Beliau, sehingga kedua mataku tak berani menatap Beliau. Kalau saja aku mati pada saat itu, pasti banyak orang yang mengatakan: ‘Selamat bagi Amr yang telah masuk Islam secara baik dan mati secara baik.’

Kemudian aku mengalami banyak kejadian setelah itu, dan aku tidak tahu bahwa semua itu akan memberi kebaikan kepadaku ataukah keburukan?”

Kemudian Amr bin Ash menghadapkan wajahnya ke arah dinding dan berkata: “Ya Allah, Engkau dulu pernah memerintahkan kami, namun kami bermaksiat. Engkau dulu pernah melarang kami, namun kami masih saja tak berhenti melakukannya. Tidak ada daya upaya kami selain berharap ampunan-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang!”

Kemudian ia meletakkan tangannya di bawah lehernya dan ia mengangkat pandangannya ke arah langit dan berdo’a: “Ya Allah tidak ada kekuatan yang aku miliki, maka menangkanlah aku! Tidak ada yang tidak memiliki kesalahan, maka maafkanlah! Aku bukanlah orang yang sombong akan tetapi orang yang memohon ampunan. Maka ampunilah aku, wahai Dzat Yang Maha Pengampun!”

Ia terus mengulangi do’a tersebut sehingga ruhnya berpisah dari badan.

************************************

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam
buat yg males baca bisa lihat filmnya nih
link

film ini menitik beratkan peran Umar ibn Khatab, tapi para sahabat yang lainnya jg ada semua.
bagus gan, ane sering nonton film ini berulang2
Quote:Original Posted By HendraputraXIXI
buat yg males baca bisa lihat filmnya nih
link

film ini menitik beratkan peran Umar ibn Khatab, tapi para sahabat yang lainnya jg ada semua.
bagus gan, ane sering nonton film ini berulang2


thanks infonya ya gan..... emoticon-Shakehand2

Abu Hurairah Al Dausy

Quote:“Abu Hurairah telah Menghapalkan Demi Ummat Islam Lebih 1600 Hadits Rasulullah Saw” (Para Ahli Sejarah)

Tidak diragukan bahwa Anda sudah mengetahui bintang kejora dari kalangan para sahabat Rasulullah Saw ini. Adakah orang dalam ummat Islam yang belum mengenal Abu Hurairah?

Orang-orang pada masa jahiliah memanggilnya dengan Abdu Syamsin (Hamba Matahari). Begitu Allah Swt memuliakan dirinya dengan Islam dan bertemu dengan Nabi Saw yang bertanya kepadanya: “Siapa namamu?” Ia menjawab: “Nama saya adalah Abdu Syamsin.” Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Bukan. Namamu sekarang adalah Abdurrahman.” Ia membalas: “Baik. Namaku mulai sekarang adalah Abdurrahman. Demi ibu dan ayahku, ya Rasulullah!”

Sedangkan ia dijuluki dengan nama Abu Hurairah (bapak kucing), karena saat ia masih kecil ia memiliki seekor kucing kecil yang selalu bermain dengannya. Oleh karenanya, para temannya memanggil dia dengan: Abu Hurairah.

Nama tersebut semakin terkenal sehingga nama aslinya kalah tenar oleh julukannya ini.

Begitu ia sudah sering akrab dengan Rasulullah Saw, maka Beliau memanggilnya dengan Abu Hirr agar lebih akrab dan terkesan sayang. Dan Abu Hurairah sendiri lebih suka dengan panggilan Abu Hirr daripada Abu Hurairah. Dan ia pernah berkata: “Kekasihku Rasulullah, memanggil diriku dengan nama tersebut! Sebab Hirr adalah kucing jantan sedangkan Hurairah adalah betina. Jantan lebih baik daripada betina!

****
Abu Hurairah masuk Islam lewat Al Thufail bin Amr Al Dausy. Ia menetap di Daus hingga tahun keenam hijriyah saat ia bersama utusan kaumnya datang menghadap Rasulullah Saw di Madinah.

****
Pemuda yang berasal dari Daus ini mendedikasikan waktunya untuk berkhidmat dan mendampingi Rasulullah Saw. Maka pemuda tadi lebih memilih untuk tinggal di masjid. Menjadikan Nabi sebagai pengajar dan imam dirinya. Sebab ia sendiri dalam hidupnya tidak beristri dan beranak. Dia hanya memiliki seorang ibu tua renta yang terus berusaha untuk mengajaknya kembali kepada kemusyrikan. Abu Hurairah tidak pernah jemu untuk mengajak ibunya untuk masuk ke dalam Islam, karena ia merasa kasihan dan ingin berbakti kepadanya. Akan tetapi ibunya selalu menolak dan membantah ajakannya.

Abu Hurairah pun meninggalkan ibunya. Dan ia merasa bersedih karena sikap ibunya sehingga kesedihan tersebut menguasai relung hatinya.

Pada suatu hari Abu Hurairah mengajak ibunya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian ibunya mengucapkan ungkapan yang buruk tentang Nabi Saw sehingga membuat Abu Hurairah bersedih.

Maka Abu Hurairah pergi menemui Rasulullah Saw sambil menangis.

Nabi Saw bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?!”

Ia menjawab: “Aku tidak pernah merasa bosan untuk mengajak ibuku masuk ke dalam Islam. Akan tetapi ia terus menolak ajakanku. Hari ini aku mengajaknya lagi, namun ia mengucapkan hal buruk tentang dirimu. Berdo’alah kepada Allah agar Ia mau mencondongkan hati ibu Abu Hurairah ke arah Islam!

Maka Nabi Saw pun langsung berdo’a untuk ibu Abu Hurairah.

Abu Hurairah berujar:

Aku pun segera kembali ke rumah. Ternyata pintu rumah telah terbuka Aku mendengar ada suara air dari dalam dan aku berniat masuk ke dalam, namun ibuku langsung berkata: “Diam di tempatmu, ya Abu Hurairah!”

Kemudian ia mengenakan bajunya dan berkata: “Masuklah!” Begitu aku masuk, ibuku langsung berkata: “Asyhadu an la ilaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa Rasuluhu.

Aku kembali menemui Rasulullah Saw dan aku menangis saking gembiranya persis seperti aku menangis karena aku merasa sedih sebelumnya. Aku berkata kepada Beliau: “Berita gembira, ya Rasulullah! Allah Swt telah mengabulkan do’amu dan memberikan petunjuk kepada Ummi Abu Hurairah agar masuk Islam.”

****
Abu Hurairah amat mencintai Rasulullah Saw dengan kecintaan yang mengalir ke seluruh daging dan darahnya. Ia tidak pernah jemu memandang Rasulullah Saw dan berkata: “Aku tidak pernah melihat apapun yang lebih indah dan ceria daripada Rasulullah Saw, bahkan seolah matahari beredar di wajah Beliau.”

Dia selalu memuji Allah Swt karena telah memberikan anugerah kepadanya untuk mendampingi dan mengikuti ajaran agamanya. Ia berkata: “Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan petunjuk kepada Abu Hurairah sehingga masuk Islam… Segala puji bagi Allah Yang telah mengajarkan Al Qur’an kepada Abu Hurairah… Segala puji bagi Allah Yang telah memberikan anugerah kepada Abu Hurairah untuk menjadi sahabat Muhammad Saw.”

****
Sebagaimana Abu Hurairah amat mencintai Rasulullah Saw, ia juga amat mencintai ilmu dan menjadikan ilmu tersebut sebagai kebiasaan serta cita-citanya.

Zaid bin Tsabit mengisahkan: “Saat aku, Abu Hurairah dan seorang sahabatku lainnya sedang berada di Masjid untuk berdo’a dan bedzikir kepada Allah Swt, lalu datanglah Rasulullah Saw ke arah kami dan duduk dihadapan kami. Lalu kami pun diam.”

Rasulullah Saw bersabda: “Lakukanlah lagi apa yang sedang kalian lakukan!”

Saya dan sahabatku berdo’a kepada Allah –sebelum Abu Hurairah- dan Rasul Saw mengaminkan do’a kami.

Kemudian Abu Hurairah berdo’a: “Ya Allah, aku meminta kepada-Mu seperti apa yang dipinta oleh kedua sahabatku. Aku minta kepada-Mu ilmu yang tidak pernah terlupa.” Kemudian Rasulullah Saw mengucapkan: “Amin.”

Lalu kami meminta kepada Allah ilmu yang tidak bakal terlupa. Namun Rasulullah Saw bersabda: “Kalian sudah didahului oleh pemuda Al Dausy ini.”

****
Sebagaimana Abu Hurairah mencintai ilmu untuk dirinya, ia pun menyukai apabila ilmu tersebut dapat bermanfaat buat orang lain.

Salah satunya adalah saat ia suatu hari sedang melewati pasar Madinah. Dia merasa aneh dengan manusia yang sibuk oleh urusan dunia, dan tenggelam dalam urusan jual-beli. Kemudian ia berdiri dihadapan mereka dan berkata: “Alangkah lemahnya kalian, wahai penduduk Madinah!!”

Mereka menjawab: “Apa yang membuat kamu mengira bahwa kami adalah lemah, wahai Abu Hurairah?!”

Ia menjawab: “Harta warisan Rasulullah Saw sedang dibagikan sedangkan kalian masih saja berada di sini!! Apakah kalian tidak mau pergi ke sana dan mengambil jatah kalian?!”

Mereka bertanya: “Dimana Beliau sekarang, wahai Abu Hurairah?!”

Ia menjawab: “Beliau berada di Masjid.”

Maka merekapun segera berlari terburu-buru. Sementara Abu Hurairah menunggu mereka sehingga mereka kembali. Begitu mereka melihat Abu Hurairah mereka berkata: “Wahai Abu Hurairah, kami sudah datang dan masuk ke dalam Masjid, akan tetapi kami tidak mendapati apapun dibagikan di sana.”

Abu Hurairah bertanya kepada mereka: “Apakah kalian tidak mendapati seorangpun berada di Masjid?!” Mereka menjawab: “Tentu kami melihat ada orang yang sedang shalat. Beberapa orang sedang membaca Al Qur’an dan beberapa orang sedang mempelajari halal dan haram (ilmu fiqih).”

Abu Hurairah langsung berkata: “Celaka kalian, itulah harta warisan Rasulullah Saw!”

****
Karena kecintaannya terhadap ilmu dan majlis ilmu Rasulullah, Abu Hurairah pernah merasa amat lapar dan hidup menderita untuk mendapatkannya.

Ia menceritakan tentang dirinya sendiri: Jika aku sudah merasa amat lapar, aku akan bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah Saw tentang sebuah ayat Al Qur’an –padahal aku sendiri telah mengetahuinya - agar ia mengajakku ke rumahnya dan memberi makan kepadaku.

Aku pernah merasa amat lapar sehingga aku mengganjal perutku dengan batu. Aku lalu duduk di jalan yang biasa di lalui oleh para sahabat. Lalu Abu Bakar mendapatiku dan aku bertanya kepadanya tentang sebuah ayat dalam Kitabullah. Aku tidak bertanya sesuatu kepadanya, kecuali agar ia mengundangku untuk datang ke rumahnya, namun ia tidak mengundangku.

Lalu lewatlah Umar bin Khattab, dan aku tanyakan kepadanya tentang sebuah ayat, dan ia juga tidak mengundangku ke rumahnya. Sehingga lewatlah Rasulullah Saw dan ia mengetahui bahwa aku lapar. Beliau bersabda: “Apakah engkau Abu Hurairah?” Aku menjawab: “Benar, ya Rasulullah!” Lalu aku mengikuti Beliau dan aku masuk ke rumah Beliau dan ia mendapati sebuah gelas berisikan susu. Beliau bertanya kepada keluarganya: “Dari mana kalian dapatkan susu ini?” Keluarganya menjawab: “Fulan mengirimkannya untukmu.” Rasul Saw lalu bersabda: “Ya Abu Hurairah, Pergilah engkau ke ahli suffah*1) dan undanglah mereka semua!”

Aku merasa kesal karena Rasul Saw menyuruhku untuk mengundang mereka semua. Aku berujar dalam hati: “Apa yang diberikan oleh susu tersebut kepada Ahli Suffah?!”

Dan aku amat berharap aku mendapat seteguk air susu terlebih dahulu untuk menguatkan tubuhku, lalu kemudian aku berangkat untuk mengundang mereka.

Aku lalu mendatangi Ahli Suffah lalu mengundang mereka. Dan mereka pun datang semuanya. Begitu mereka sudah duduk di dalam rumah Rasulullah Saw, Beliau bersabda: “Ambillah ini, ya Abu Hurairah dan bagikanlah kepada mereka!” Maka aku memberikan bejana tersebut kepada salah seorang dari mereka sehingga ia merasa puas dan semua orang sudah mendapatkan bagiannya. Kemudian aku memberikan gelas susu tersebut kepada Rasulullah Saw. Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arahku sambil tersenyum dan berkata: “Yang tersisa hanya engkau dan aku saja!” Aku menjawab: “Benar, ya Rasulullah!” Beliau bersabda: “Minumlah!” dan aku pun meminumnya. Kemudian ia bersabda: “Minumlah!” dan aku meminumnya lagi.

Ia terus mengatakan: “Minumlah!” dan aku pun selalu meminumnya, sehingga aku berkata: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, sudah tidak ada tempat dalam tubuhku untuk menampungnya lagi!” Kemudian Rasul Saw mengambil gelas tadi kemudian Beliau meminum susu yang tersisa.

************************************

*1) Mereka adalah tetamu Allah Swt dari kalangan muslim yang fakir, yang tiada memiliki istri, anak dan harta. Mereka menetap di sebuah Suffah di dalam Masjid Rasul Saw. Oleh karenanya, mereka dikenal sebagai Ahli Suffah.

............. Bersambung ke POST 20
..............Sambungan dari Abu Hurairah Al Dausy

Tidak berselang lama sejak itu, sehingga kaum muslimin mendapatkan kebaikan yang amat banyak. Mereka mendapatkan harta ghanimah yang melimpah dari penaklukan yang mereka lakukan. Sehingga Abu Hurairah pun memiliki harta, tempat tinggal & perabotan, istri & anak.

Akan tetapi itu semua tidak merubah apapun terhadap dirinya yang mulia. Ia tidak pernah lupa akan hari-hari susahnya dahulu. Ia sering kali berkata: “Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim. Aku berhijrah sebagai orang miskin. Aku pernah menjadi pegawai Busrah binti Ghazwan untuk sekedar memberiku makan. Aku melayani kaum jika mereka singgah. Dan aku menarikkan unta mereka bila mereka hendak berangkat. Dan kini Allah Swt telah menikahkah aku dengan Busrah. Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan agama sebagai pegangan dan menjadikan Abu Hurairah sebagai seorang imam.

****
Abu Hurairah pernah menjadi wali (gubernur) Madinah pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan lebih dari sekali. Jabatan tersebut sedikitpun tidak merubah watak dan sikapnya.

Ia pernah melintasi sebuah jalan di Madinah –pada saat itu ia menjadi wali di sana-. Ia membawa kayu bakar di atas punggung untuk dibawa kepada keluarganya. Kemudian ia berpapasan dengan Tsa’labah bin Malik. Kemudian Abu Hurairah berkata kepada Tsa’labah: “Tolong berikan jalan untuk Amir (pemimpin), ya Ibnu Malik!” Tsa’labah membalas: “Semoga Allah merahmatimu. Apakah engkau belum merasa cukup sehingga masih mengerjakan hal ini?”

Abu Hurairah membalas: “Berikan jalan untuk Amir dan kayu bakar yang ada di punggungnya!”

Selain terkenal sebagai orang yang luas ilmunya dan berbudi luhur, ia juga dikenal sebagai orang yang bertaqwa dan wara’. Ia selalu berpuasa di siang hari, dan pada seperti malam pertama ia sudah bangun untuk ibadah. Kemudian pada paruh kedua malam, ia membangunkan istrinya sehingga istrinya beribadah pada sepertiga kedua dari malam. Kemudian Istrinya pada separuh malam terakhir membangunkan putrinya untuk beribadah.

Maka ibadah kepada Allah Swt tidak pernah berhenti sepanjang malam di rumah Abu Hurairah.

****
Abu Hurairah pernah memiliki seorang budak wanita berasal dari Zinjy*1) yang pernah berlaku kasar kepada Abu Hurairah. Seluruh keluarga pun menjadi kesal. Abu Hurairah lalu mengambil cambuk untuk dipukulkan ke arah budak wanita tadi. Namun Abu Hurairah berhenti dan berkata: “Kalau saja tidak ada qishas di hari kiamat, aku pasti akan menyakitimu sebagaimana engkau menyakitiku. Akan tetapi aku akan menjualmu kepada siapa saja yang dapat membayar hargamu, dan aku lebih butuh terhadap uang tersebut. Sekarang, pergilah! Engkau aku bebaskan karena Allah Swt.”

****
Putrinya pernah berkata kepada Abu Hurairah: “Ayah, anak-anak gadis lain menyindirku dan berkata: ‘mengapa ayahmu tidak menghiasi dirimu dengan dzahab (emas)?!” Abu Hurairah menjawab: “Wahai anakku, katakan kepada mereka: ‘Ayahku takut bila aku terkena panasnya lahab (api neraka).”

****
Abu Hurairah tidak memberikan perhiasan kepada anaknya bukan karena pelit dan kikir akan harta,sebab dia adalah orang yang amat dermawan di jalan Allah Swt.

Marwan bin Al Hakam pernah mengirimkan kepadanya 100 dinar emas. Keesokan harinya Marwan mengirimkan seorang utusan yang menyampaikan kepada Abu Hurairah: “bahwa pembantuku keliru telah memberikan dinar-dinar tersebut kepadamu. Padahal yang aku tuju adalah orang lain selain kamu.” Abu Hurairah merasa kesal dan berkata: “Aku akan memberikannya di jalan Allah Swt dan tidak ada satu dinar pun yang tersisa padaku. Jika hakku di Baitul Mal telah keluar, maka ambillah saja uang tersebut!”

Marwan melakukan hal itu hanya untuk menguji Abu Hurairah. Begitu sudah terbukti, maka Marwan yakin bahwa Abu Hurairah adalah orang yang benar.

****
Abu Hurairah –semasa hidupnya- selalu berbakti kepada ibunya. Setiap kali ia hendak pergi meninggalkan rumah, ia akan berdiri di depan pintu kamar ibunya dan berkata: “Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah atasmu, wahai ibuku!”

Ibunya akan menjawab: “Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah juga atasmu, wahai anakku!”

Abu Hurairah kemudian berkata: “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah membesarkan aku di waktu kecil.”

Ibunya membalas: “Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau berbakti kepadaku saat aku sudah tua.”

Kemudian bila ia telah kembali ke rumah, ia akan melakukan hal yang sama terhadap ibunya.

****
Abu Hurairah amat menyerukan kepada manusia untuk senantiasa berbakti kepada orang tua dan menjaga hubungan kerabat (silaturahmi).

Suatu hari ia melihat ada dua orang pria sedang berjalan bersama, dimana salah satunya lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada orang yang lebih muda: “Siapakah orang ini bagi dirimu?” Orang tersebut menjawab: “Dia adalah ayahku.” Abu Hurairah berpesan kepadanya: “Janganlah engkau memanggil dia dengan namanya! Janganlah berjalan di depannya dan janganlah duduk sebelum ia duduk!”


****
Abu Hurairah menangis saat ajal akan datang kepadanya. Ada orang yang bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Hurairah?!” Ia menjawab: “Aku tidak menangisi dunia yang kalian huni ini. Akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikit bekal yang aku bawa. Aku kini berdiri di penghujung jalan yang dapat mengantarkan aku ke surga atau ke neraka. Dan aku sendiri tidak tahu hendak ke mana aku dibawa!!”

Marwan bin Hakam pernah menjenguknya dan ia mendo’akan: “Semoga Allah menyembuhkanmu, wahai Abu Hurairah!”

Abu Hurairah menjawab: “Ya Allah, aku menyukai perjumpaan dengan-Mu, maka jadikanlah perjumpaanku ini indah dan segerakanlah!”

Belum lagi Marwan meninggalkan tempat itu, namun Abu Hurairah telah meninggal dunia.

****
Semoga Allah merahmati Abu Hurairah dengan rahmat yang luas. Ia telah mampu menghapal demi ummat Islam lebih dari 1609 hadits Rasulullah Saw.

Dan semoga Allah Swt membalas jasanya atas Islam dan kaum muslimin.

***************************************
1*) Dari negeri Zinjy dan mereka adalah sebuah kaum dari Sudan.

Kisah Sahabat-Sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam