alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/53215329faca17561b0001e0/hot-catatan-harian-anas-urbaningrum-bag-8---12
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)
Bagian 8
Quote:
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)

14 Januari 2014
Hari ini Akmal, Nawal, Najih, dan Najma belum bisa ketemu menjenguk saya. Sebaiknya memang tidak usah dulu untuk sementara waktu. Alhamdulillah, mereka diwakili oleh surat masing-masing. Surat tertutup untuk ayahnya di tahanan. Saya dengar bahkan ibunya tidak boleh mengintip apa isi surat-surat itu. Menulis surat adalah perjuangan tersendiri buat anak-anak seusia mereka, terutama Najih dan Najma. Akmal dan Nawal sudah lumayan kemampuan menulisnya.
​Akmal menulis suratnya di kertas merah. Judul depannya "SEPERTI WARNA SURAT INI, ABAH HARUS BERANI!" Isi suratnya meminta saya tetap semangat, tetap tegar, apa pun yang terjadi. Bapaknya harus punya keyakinan yang teguh atas apa pun yang dilakukan orang. Kalau bapaknya tidak apa-apa, Akmal tidak apa-apa. Akmal juga menulis bahwa suratnya adalah pengganti kehadirannya, karena tidak bisa menemui dan menemani.
​Surat Nawal agak berbeda. Di sampulnya ditulis "Kalau amplopnya sudah dibuka, tidak boleh diterima. Karena kalau sudah terbuka berarti kurirnya yangsalah." Tersenyum saya membaca tulisan Nawal di amplop surat. Ternyata benar adanya. Surat Nawal ada di dalam amplop rangkap tiga! Isi suratnya bagian awal menanyakan kabar. Lalu menceritakan bahwa pada tanggal 10 Januari 2014 melihat abahnya datang ke KPK. Dia menulis bahwa dia suka gaya saya ketika datang dengan guyonan. Tetapi, protes karena lama menunggu di TV. Nawal menceritakan, ia menunggu berita di TV sambil bikin candaan singkatan: KPK = Komisi Paling Kepo. Dalam suratnya, Nawal juga protes kenapa kasih hadiah tahun baru ke SBY, tetapi belum ada hadiah untuk Nawal. Sama dengan Akmal, Nawal minta abahnya tetap semangat dan pantang menyerah, sambil terus berdoa dari Yogya.
​Memang, ketika sampai di KPK, saya bikin kelakar ringan. Saya bilang, benar informasi yang menyebutkan Anas tidak mau dipanggil KPK. Nama saya Anas, kok dipanggil KPK? Ya, jelas tidak mau. Istri dan anak-anak saya memanggil Abah. Teman-teman ada yang memanggil Mas dan Cak. Jadi, jangan dipanggil KPK, begitu canda saya. Mengapa bercanda? Karena, hal-hal yang lebih serius sudah saya sampaikan kepada teman-teman wartawan di Durensawit, sebelum salat Jumat. Ketika datang setelah Jumat, saya merasa tak perlu lagi bikin pernyataan serius. Tetapi, karena wartawan sudah menunggu dari pagi dan jumlahnya sangat banyak, tak tega rasanya tidak member statement yang bisa mereka setor ke redaktur masing-masing. Ya, sudah, bikin guyonan saja, biar ada berita untuk teman-teman wartawan di KPK.
Mungkin Akmal dan Nawal menunggu saya lewat berita di TV sama dengan para wartawan yang menunggu sejak pagi. Surat panggilan memang menyebut jam 10.00 pagi. Karena harus menemui wartawan yang sudah beberapa hari menunggu di Durensawit terlebih dulu, saya baru berangkat ke KPK setelah salat Jumat di Masjid Matraman dan makan siangdi Restoran Sederhana, Pasar Rumput, langganan lama yang cukup lama tidak disambangi. Saya bergerak dari Pasar Rumput persis jam 13.30 dan tiba di Gedung KPK sekitar 13.45.
​Lain halnya dengan Najih. Isinya singkat saja: “Abah, aku akan support Abah sampai Najih meninggal.” Ditutup dengan, “OK. Cuman ini yang bisa Najih tulis.” Di bawah tertulis: “Your Son, Najih.” Sedangkan Najma lebih singkat lagi: “Abah, semoga berhasil, ya, dan tetap sehat.” Dari Najma, dengan tanda tangan. Najih kelas 5 SD dan Najma kelas 3 SD. Suratnya singkat, padat, dan jelas.
​Tetapi, Najih punya titipan spesial, yaitu sebuah bantal-guling. Sejak kecil, Najih tak bisa lepas dari bantal-gulingnya. Guling itulah yang dibawa ke mana pun dia pergi, baik ke luar kota atau luar negeri. Kalau tanpa guling itu, tidurnya gelisah. Guling itu sejak lama diberi nama Bambang untuk menggambarkan kedekatan dan sudah dianggap semacam “teman”. Hari ini, guling itu diserahkan kepada saya untuk menjadi teman di tahanan.
Saya membayangkan betapa berat dia melepaskan Bambang. Tetapi, hari ini, Bambang dilepaskan dan diserahkan kepada abahnya. Sungguh saya merasa Najih telah mengorbankan apa yang dianggapnya berharga. Saya pun bertanya-tanya, apakah nanti malam Najih bisa tidur pulas. Jangan-jangan gelisah karena ditinggal Bambang-nya. Malah, jadi saya yang gelisah, sambil merasa bangga bahwa Najih rela berkorban. Sudah harus menerima beban, ia masih mau merelakan “teman tidur”-nya. (Bersambung) | ES/ASN-022

sumber: http://www.asatunews.com/berita-2116...ningrum-8.html


Quote:Makna sebuah pengorbanan, seorang anak kecil saja bisa semengerti itu akan makna sebuah pengorbanan. Bukan arti dari pemberian sebuah guling, tapi makna dari sebuah keikhlasan yg tulus dari hati seorang anak kepada Ayahnya (Anas Urbaningrum). Guling bernama Bambang itu hanyalah simbol.
Bagian 9
Quote:
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)

Rabu, 15 Januari 2014

Kembali pagi ini saya bangun jam 03.30 pagi. Setelah wudu, dilanjutkan tahajud dan salat hajat, menunggu panggilan azan subuh. Di sela-sela, saya makan tempe goreng dan minum air putih cukup banyak. Ada niat berpuasa saja hari ini.

Selesai salat subuh dan mengaji, saya baca-baca buku dan tanpa terasa kemudian tertidur lagi. Baru bangun sekitar jam tujuh, ketika ada pergantian petugas jaga.

Setelah mata melek sempurna, terdengar suara panggilan dari Prof Rudi Rubiandini, mengajak saya sarapan pagi. "Sudah disiapkan, Mas," begitu katanya. Saya sempat mikir-mikir apakah ikut sarapan pagi atau jadi berpuasa saja hari ini. Akhirnya, saya memutuskan tidak jadi berpuasa dan kemudian sarapan berempat dengan Prof Rudi, Mas Budi, dan Kang Wawan. Sambil sarapan, kami berdiskusi dan ngobrol ngalor-ngidul, termasuk membahas isu-isu yang dimuat media. Tadi malam, Prof Rudi membisikan bahwa acara ILC di TV One sedang membahas tema tentang saya. Entah dari mana Prof Rudi mendapat informasi itu. Yang jelas, memang benar adanya, acara bincang klub para pengacara di TV One itu membahas ucapan terima kasih saya ketika keluar dari gedung KPK menuju ruang tahanan.

Beberapa hari, Prof Rudi tengah mempersiapkan diri untuk sidang hari Kamis. Saya lihat bahannya dipelajari dengan sungguh-sungguh, mulai dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para saksi hingga dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) KPK. Semua BAP itu dibaca teliti oleh Prof Rudi. Diberi tanda, mana keterangan di BAP saksi yang merugikan dan mana yang menguntungkan. Sebagai Guru Besar ITB, persiapan yang baik agaknya telah menjadi kebiasaannya. Kesiapan akademis.

Prof Rudi bersemangat mematahkan dakwaan jaksa yang berdasarkan BAP para saksi yang sudah dipahaminya secara baik. Bagian-bagian yang dianggap penting di-stabilo dan diberi tanda merah dan hijau. Merah sebagai tanda merugikan dan hijau sebagai tanda menguntungkan. Pikir saya, boleh juga cara Profesor Rudi dalam mempersiapkan diri. Kami menggoda, jangan sampai lulus terlalu baik. Cukup Cum Laude saja. Beliau menjawab dengan tertawa, "Namanya juga ihktiar."(Bersambung) | ES/ASN-027

sumber: http://www.asatunews.com/berita-2224...ingrum--9.html
Bagian 10
Quote:
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)

Rabu, 15 Januari 2014

Beda halnya dengan Budi Santoso. Pengusaha asal Pontianak ini pada hari Kamis akan menghadapi vonis. Kasusnya terkait dengan Djoko Susilo. Dia tampak sudah pasrah dan siap apa pun putusan hakim. Yang dia protes adalah awalnya kasus ini sudah ditangani oleh polisi dan dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri. Atas kebijakan dan perintah presiden kepada Kapolri, seluruh kasus yang terkait simulator SIM harus diserahkan dan ditangani KPK. Selain itu, dia merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah ditipu 94 miliar kok malah jadi korban hukum di KPK? Sementara, yang menipu malah berada dalam perlindungan LPSK. Persisnya saya belum pernah mendalami kasusnya seperti apa. Yang jelas, sebagai kenalan baru, Budi sangat ramah dan mudah bergaul. Dia juga tampak sebagai tipe yang loyal kepada kawan-kawannya. Sebagai pengusaha, dia mengeluh atas iklim bisnis dan praktik penegakan hukum di Indonesia yang tidak pasti dan tidak adil. Dia banyak cerita tentang kondisi dan praktik-praktik di lapangan yang mengerikan. Budi Santoso dituntut 12 tahun dan besok menanti putusan hakim. Yang jelas, ia tampak sudah siap.

Beda, Prof Rudi, beda Budi Santoso, dan beda lagi dengan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Dia baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus alkes di Banten bersama Atut, kakaknya. Wawan yang tipenya lebih pendiam tidak mudah ditangkap reaksi dan sikapnya. Yang saya lihat dia juga tetap tenang. Tidak kelihatan gusar atau marah-marah.

Sama dengan saya, Wawan juga didampingi Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) dan timnya sebagai penasihat hukum. Ada juga Firman Wijaya di dalamnya. Tadi sore setelah Bang Buyung dkk bertemu saya di Posko Rutan, Wawan berkesempatan bertemu dan konsultasi. Pasalnya, besok Wawan akan diperiksa sebagai tersangka terkait Akil Mochtar. Tentu Wawan membutuhkan konsultasi dan juga pengacara yang besok akan mendampinginya. Saya sendiri tadi belum banyak bicara tentang langkah-langkah hukum dan strategi dalam menghadapi sangkaan dan nanti dakwaan dengan para penasihat hukum. Bang Buyung baru tanya-tanya informasi seputar penahanan dan bagaimana kondisi saya di tahanan. (Bersambung) | KH/ASN-012

sumber: http://www.asatunews.com/berita-2251...ingrum-10.html
Bagian 11
Quote:
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)

Rabu, 15 Januari 2014

Setelah saya terlepas dari isolasi, kami berempat banyak waktu untuk ngobrol dan diskusi, baik di meja makan maupun di kamar Rudi dan Wawan. Sebagai sesama tahanan, kompak dan perasaan senasib adalah pilihan satu satunya. Saling menyuguhkan dan bahkan saling bersih-bersih piring dan alat alat makan setelah selesai. Pokoknya, mirip kerjaaan anak kos.

Bahkan, saya mendapat pelajaran main gaple. Profesor memberi briefing bagaimana prinsip-prinsip permainan gaple.Ternyata, model permainannya sederhana saja sehinggga dengan cepat saya bisa mengerti. Untuk kali pertama, saya ikut main gaple dalam gang "empat sekawan". Siapa yang kalah? Ternyata semua berkesempatan kalah. Secanggih apa pun kemampuan mereka bertiga bermain kartu, selalu ada ruang misteri, karena kartunya tertutup. Sehebat apa pun orang merencanakan hidupnya, selalu ada misteri yang mengiringinya. Hidup mengandung elemen misteri sebagaimana alam terkembang di depan mata kita.

Profesor Rudi, Wawan, Budi Santoso, dan saya adalah bagian dari kekayaan Tuhan tentang misteri hidup itu. Begitu pula yang lain. Semua perjalanan hidup dipandu oleh dinamika antara rencana manusia dan misteri yang dikirim Tuhan. Hidup yang sesungguhnya adalah hari ini. Yang kemarin sudah menjadi sejarah, tak bisa diubah. Besok belum terjadi. Apa yang akan terjadi besok, kita tak pernah tahu. Definisi terkini tentang hidup adalah apa yang kita jalani hari ini. Hanya itu. Selebihnya adalah rencana-rencana dan ikhtiar-ikhtiar yang akan bertemu dengan garis batas ketentuan dan takdir Tuhan.

Panta Rei. Semua bergerak, semua berubah. Tak ada yang kekal, tiada yang abadi. Keabadian adalah wilayah prerogratif Tuhan. Perubahan terus-menerus adalah ruang ikhtiar yang disediakan Tuhan untuk manusia berada di dalamnya. Di situlah kita akan bertemu kadang kala rasa manis, kadang kala rasa getir. (Bersambung) | ES/ASN-016


sumber: http://www.asatunews.com/berita-2262...ingrum-11.html
Bagian 12
Quote:
[HOT...] Catatan Harian Anas Urbaningrum (bag. 8 - 12)

Kamis, 16 Januari 2014

Hari ini adalah jadwal dijenguk keluarga. Kamis jam 10-12adalah kesempatan bertemu wajah wajah lain diluar kami berempat dan penjaga. Khususnya keluarga, kerabat, handai taulan dan sahabat.

Waktunya diatur ketat dan pendek. Pasti ada alasannya. Kalau mau panjang ya jangan jadi tahanan begitu logikanya. Sama dengan ucapan Johan Budi, “kalo Anas mau nyaman, ya tidur aja di hotel”.

Bagi para petugas yang berkuasa di rutan makin ketat, makin tegas, makin bikin sulit tahanan dan keluarganya, mungkin dianggap sebagai prestasi. Itu kata beberapa tahanan lama yang saya dengar. Saya tidak peduli degan kesulitan kesulitan dan pembatasan pembatasan yang saya rasakan sebagai tahanan. Silahkan saja dilaksanakan, meski acap kali tidak rasional.

Selesai saya tulis surat balasan untuk Akmal, Nawal, Najih dan Najma, serta surat khusus untuk sahabat sahabat aktivis PPI, saya bersiap menuju ruang jengukan. Dalam pikiran saya pastilah banyak keluarga dan sahabat yang akan bertemu.Ternyata yang bisa masuk hanya istri saya Tia, Mbak Dina dan Aci.

Tiga perempuan yang lain lain terhalang di lobby KPK, menunggu ijin dari penyidik. Sampai selesai jam 12 siang, sahabat sahabattetap tidak bisa masuk. Alasan petugas karena penyidik tidak ada di tempat sedang ada penggeledahan. Semua ? Semua tidak ada di tempat, begitu kata petugas penjaga rutan. Padahal tim penyidik saya ada 10 orang. Apakah info petugas itu benar, saya tidak bisa mengkonfirmasi.

Tapi, ya sudahlah. Sebagai tahanan kategori "tapol" saya tak dalam posisi banyak menuntut, bahkan untuk hal hal yang biasanya diperbolehkan bagi tahanan yang lain. Itu konsekuensi biasa saja. Apalagi teman teman diluar terus melakukan usaha usaha untuk menjelaskan kepada public tentang apa yang terjadi. Meskipun itu inisiatif mandiri mereka, tetap saja akan dikaitkan dengan saya.

Wajar kalo ada persepsi bahwa itu atas perintah atau koordinasi dengan saya, walau kenyataannya tidak. Teman teman adalah orang orang yang merdeka dalam berpikir dan menyikapi perkembangan sesuai dengan informasi, pengetahuan dan pemahaman mereka. Mereka punya indera social, politik, dan hukum untuk dapat mencerna apa yang terjadi dan bagaimana memberikan respons.

Agar ada komunikasi, saya menulis surat pendek untuk teman teman yang dilarang masuk, seperti Saan Mustopa, Sudewo, Andy Soebjakto, Nur Iswan, Tridianto, Aidul Fitri dan yang lain lain. Beberapa di antara mereka sudah dating dua atau tiga kali untuk menjenguk, tetapi nasibnya belum cocok. Surat saya isinya sederhana : permohonan maaf, saran untuk bersabar dan informasi bahwa nama mereka sudah ada dalam daftar yang saya serahkan kepada penyidik, baik langsung maupun melalui penasihat hukum. Surat saya titipkan kepada Tia. Minimal ada komunikasi, meskipun hanya baca tulisan pendek.

Dari kelurga, selain dapat kiriman logistic, baju baju ganti dan beberapa peralatan lain, saya dapat banyak titipan bacaan,doa, amalan untuk memperkuat jalur spiritual. Spiritualitas adalah kekuatan dan jalur yang tak terbantahkan. Hal ini memang transenden, tetapi saya yakini nyata. | ES/022

sumber: http://www.asatunews.com/berita-2277...ian-ke-12.html
wow.. emoticon-Matabelo

Diary... emoticon-Hammer (S)
yg saba Mas Anas,
Mas Anas klo benar2 d fitnah jangan takut krn Allah swt melindungi anda n anda tdk akan jauh dr surganya Allah aminnn emoticon-Big Grin

tp klo Mas Anas salah ya hrs terima hukuman itu,tp dunia tuh hny sandiwara belaka,dunia itu bakal hancur,pangkat,kedudukan n harta hny titipan belaka,hny amal baiklah yg akan d bawa ke akherat emoticon-Smilie

Pengadilan Allah lah yg paling adil,klo pengadilan dunia bs d otak atik krn memiliki kekuasaan n uang,yg salah jd benar,yg benar jd salah emoticon-Matabelo

tetep lah istiqomah emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By rjrex8
yg saba Mas Anas,
Mas Anas klo benar2 d fitnah jangan takut krn Allah swt melindungi anda n anda tdk akan jauh dr surganya Allah aminnn emoticon-Big Grin

tp klo Mas Anas salah ya hrs terima hukuman itu,tp dunia tuh hny sandiwara belaka,dunia itu bakal hancur,pangkat,kedudukan n harta hny titipan belaka,hny amal baiklah yg akan d bawa ke akherat emoticon-Smilie

Pengadilan Allah lah yg paling adil,klo pengadilan dunia bs d otak atik krn memiliki kekuasaan n uang,yg salah jd benar,yg benar jd salah emoticon-Matabelo

tetep lah istiqomah emoticon-Big Grin

bijaksana sekali agan 1 ini emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By rjrex8
yg saba Mas Anas,
Mas Anas klo benar2 d fitnah jangan takut krn Allah swt melindungi anda n anda tdk akan jauh dr surganya Allah aminnn emoticon-Big Grin

tp klo Mas Anas salah ya hrs terima hukuman itu,tp dunia tuh hny sandiwara belaka,dunia itu bakal hancur,pangkat,kedudukan n harta hny titipan belaka,hny amal baiklah yg akan d bawa ke akherat emoticon-Smilie

Pengadilan Allah lah yg paling adil,klo pengadilan dunia bs d otak atik krn memiliki kekuasaan n uang,yg salah jd benar,yg benar jd salah emoticon-Matabelo

tetep lah istiqomah emoticon-Big Grin


bijak sekali gan emoticon-Matabelo

sebenarnya saya masih pusing sama kasusnya bang anas, saksi-saksi lain sudah dimintai keterangan. tapi giliran pak sby dan ibas dengan enaknya mereka menolak memberikan keterangan.
Bagian 1-7 nya mana gan? emoticon-Bingung (S)
wah perasaan mas anas gimana?? sudah siap digantung di monas jika terbukti korupsi hambalang?? emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By mr.hebring


bijak sekali gan emoticon-Matabelo

sebenarnya saya masih pusing sama kasusnya bang anas, saksi-saksi lain sudah dimintai keterangan. tapi giliran pak sby dan ibas dengan enaknya mereka menolak memberikan keterangan.


itulah hukum di Indonesia gan emoticon-Berduka (S)
Quote:Original Posted By kiki.koscielny
Bagian 1-7 nya mana gan? emoticon-Bingung (S)


idem sm agan ini
monas mana monas