alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Militer /
[operasi seroja] Recon Taifib Comoro Dili 1975
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/531aae431bcb17f16c8b45c3/operasi-seroja-recon-taifib-comoro-dili-1975

[operasi seroja] Recon Taifib Comoro Dili 1975

Akhirnya, JTF operasi Seroja memutuskan bahwa Minggu pagi, 7 Desember 1975 sebagai D-Day untuk membebaskan Timor Timur dari Fretilin.
Untuk mengamankan pantai untuk pendaratan amfibi, Komando Tugas Amfibi mengirim satu tim dari Intai Amfibi dipimpin oleh Kapten Marinir Arthur Solang.

Dalam kegelapan pagi hari itu, Kapten Solang dengan lima anak buahnya meninggalkan KRI Sam Ratulangi dengan perahu karet dan kemudian berenang ke pantai untuk membersihkan ranjau dan memasang rambu-rambu di pantai dalam persiapan untuk pendaratan amfibi. Mereka seharusnya kembali ke kapal. Karena arus yang kuat pagi itu, Kapten Arthur Solang memutuskan untuk tetap di pantai bersama dengan satu orang timnya dan menunggu kedatangan batalyon pendarat. Mereka tidak memiliki pengetahuan sebelumnya bahwa satgasfib akan membombardir Landing Zone,
selama pemboman dari kapal-kapal perang keduanya bersembunyi di beberapa daerah yang aman di pantai Comoro.

Empat anggota lain dari tim Taifib yang berenang kembali ke KRI Ratulangi tersapu oleh arus kuat mengarah ke pulau Alor sekitar 40 km jauhnya.
pratu FHA Suyono berenang menuju Pulau Alor. Pada hari kedua, ia melihat sebuah Dakota dari Angkatan Udara Indonesia.
Sang prajurit yang telah mengambang di arus kuat dan gelombang laut terbuka selama lebih dari 20 jam mulai melambaikan tangannya untuk meminta bantuan. Tapi C-47 Dakota terbang untuk terlalu tinggi untuk dapat melihat dia.

Saat kembali berenang pergelangan kakinya diserang oleh ikan beberapa kali, menyebabkan luka. Untungnya luka-luka pada pergelangan kakinya tidak menarik perhatian hiu. Namun, tetap saja banyak ikan kecil menggigit kakinya, ketika ia mencoba untuk melawan mereka dan diterjang gelombang laut.

Dia akhirnya berhasil mencapai pantai Pulau Alor. Sementara dia benar2 kelelahan, energinya terkuras dan masih harus membela dirinya sendiri untuk bertahan hidup.
Penduduk setempat yang mengelilinginya dengan wajah curiga, prajurit Suyono dicurigai sebagai anggota Fretilin yang telah melarikan diri dari Timor Timur.
Melihat penampilan marah di wajah mereka, dan menyadari bahwa mereka berencana untuk menyakitinya, Suyono mengancam mereka dengan granat.
Akhirnya kesalahpahaman itu diselesaikan dengan cara damai ketika seorang anggota Taifib Marinir juga terdampar di Pantai tersebut.

Keduanya harus melakukan perjalanan empat hari berjalan kaki ke pos militer terdekat untuk melaporkan, sebelum ia dijemput oleh sebuah kapal perang Angkatan Laut yang berpatroli.

Dua anggota Taifib lainnya, yaitu Sersan Mayor Slamet Supriyadi dan Kopral Supardi, yang berenang dengan mereka, dinyatakan hilang di laut dalam tugas mereka.

Sementara di pantai Comoro, Kapten Solang dan salah satu anak buahnya kemudian bergabung dengan Yonif 5 Marinir yang mendarat di sana dan dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Sediono.
Setelah itu Marinir bergerak untuk beergabung dengan satuan Angkatan Darat di jalan Fatuhada di sebelah utara bandara Dili. Pasukan Marinir terus bertahan posisi ini.

Sumber : Hendro Subroto (Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur, Pustaka Sinar Harapan, 1997)

Letnan Kolonel Arthur Solang komandan Marinir Taifib (1977-1982) dan Komandan Denjaka (AL Pasukan Khusus) 1982-1985 meninggal dalam kecelakaan terjun payung di Serpong, Jawa Barat pada 22 November 1985.
Namanya di abadikan menjadi nama Ksatrian Denjaka Cilandak.

[kalo repost bisa dilaporkan untuk dihapus]

Jaman Ops Seroja ini kekacauan manajemen / koordinasi / komunikasi menjadi musuh terbesar sepertinya.
Thread sudah digembok
Urutan Terlama
apa ga ada yang bawa alkom?
amrik aja yg peralatanny serba canggih,...msh sring kejadian miss komunikasi di lapangan,....apalagi TNI yg waktu itu,..bisa dibilang dgn peralatan seadany,..hanya modal nekat n pengalaman aja,..masuk k timtim

Quote:


saya juga pernah membaca postingan orang kostrad di forum sebelah, katnya dlu ada kejadian saling tembak antara tim susi ( cikal bakal den 81) dengan Taifib, keduanya " rebutan" wilayah operasi karena sama2 merasa sudah jauh2 hari menempatkan intelijenya di sana, akhirnya di bukalah perundingan, tpi tak ada titik temu dan tretetet, anggota taifib d brondong dan menyababkan 7 orang meninggal sdgkan 2 anggota tim susi terluka, hal ini wajar karena tim susi baru belajar pertempuran jarak dekat ke GSG Jerman. tapi saya sndri tdk tahu kebenaranya. saya juga heran, ada pameo di kalangan Kostrad, katanya " untuk menjadi tentara beneran masuklah kostrad atau kopassus ".
Quote:


Tim Susi pernah belajar GSG9...?? kopassus ke GSG9 setelah kejadian don muang yg berarti taun 80an. Tim Susi beroperasi di Timtim taun 70an.. Ga valid tuh ceritanya...
Quote:


Tentara beneran apaan??Semua sama aja kok, sm2 TNI AD dan itu saling mendukung satu sama lain..klo kyk gitu mah mending tentara biasa aja kyk ajen ama keuangan..Segagah-gagahnya Kostrad ato kopassus klo kenaikan pangkat dan gajinya gak diurus ama ajen ato keuangan mah tetap aja memble..Makanya tidak ada tentara yang lebih "wah" dilingkungan TNI AD, satu sama lain saling membutuhkan..thanks
Setuju sama atas gua, intinya saling melengkapi, semua ada keahlian masing2.
ada yg handal di senjata kimia dan nuklir, ada yg handal di pertempuran, ada yang handal di transportasi.
Kl tentara benaran hanya kopassus dan kostrad, gimana mereka mau berangkat ke daerah pertempuran kalau tidak ada penerbangan angkatan darat (Penerbad).
Apalagi jaman sekarang, ada banyak Drone, sehebat-hebatnya Kopassus dan Kostrad kalau disikat dari atas pakai Drone, gugur juga. Makanya perlu semacam divisi IT juga. Belum lagi kalau diserang pakai senjata kimia atau nuklir, perlu satuan NUBIKA juga.
Dan masih banyak satuan lainnya yang diperlukan utk Indonesia. Termasuk juga AL dan AU.
Diubah oleh jurklen
Quote:


parasut tidak mengembang dengan sempurna
almarhum pada saat jatuh dalam keadaan masih hidup
luka parah karena tulang kaki/selangka masuk ke ruang perut
Quote:


Bukan ke GSG-9, namun ke SAS, belajar CQC
Itu beneran kalo ga salah yg nulis itu anggota kostrad dan perwira yg diterima dr jalur sarjana krn dia spertinya se maka ditempatkan di admin, nah uniknya saat kekurangan org utk opertasi yg bersangkutan ditarik juga ke lapangan

Situ blon pernah denger ya istilah yonif kelas 1 ama kelas 2

Yg membedakan adalah perlatan dan pelatihan mereka

Kalo skrg ini yonif kelas 1 : kostrad, kopassus, ama raiders
Quote:


Quote:

X-MEN yang di forum TNI-AU jadul ?
Saya kangen sama postingannya beliau, juga ngotot ngototannya kalo adu argumen. Apa beliau join di sini juga ga ya ?

Quote:


maksudnya bukan kelas2/strata dalam TNI merk..
itu maksudnya semua anggota TNI adalah sama-samaTentara..
gak ada tentara KW, bukan asli, beneran, dll.. semua sama.
mau sejago-jagonya Kopassus, kalo intelnya gak bagus, logistik gak bagus, yah memble juga kan.
Ibaratnya manusia, kalo semua nya jadi kepala, gak ada yang jadi tangan dll, bukan manusia kan namanya. gitu lho.

udah ah OOT nya
Quote:


ini tentara apa sekolah sih..ada kelas2an

itu kan penjurusan..setelah di didik jadi bapak tentara..klo punya skill khusus ya dijuruskan ke lanjutan spesialisasi..gak ada itu kelas2anemoticon-Malu (S)

klo ada kelas..berarti koramil kelas berapa yaemoticon-Malu (S)
Quote:


yang pasti si Rudy79 copas abis semua komen, data dan cerita yg x-men share di forum TNI-AU....saya pernah nanya apakah anda orang yg sama, juga danube (yg juga aktif di forum TNI AU) seingat saya pernah nanya senada...tdk ada jawaban jelas, tapi he implied that he was the same person...
Quote:


kenyataannya emang begitu gan, satu2 nya cara ya hilangkan pola pikir kyk gitu di tiap prajurit. kadang juga esprit de corps antar satuan juga keterlaluan gan

Quote:

Saya inget cerita ayah, jaman dulu taun 60 an, anggota RPKAD yang bukan di batalyon infantri, yang hanya sebagai banpur, dikatain sama RPKAD yg di batalyon, bahwa mereka itu tentara PRIYAYI ga bisa perang. Nyatanya ketika para banpur admin itu diikutkan dalam pendidikan Komando dan mampu lulus menyandang brevet Komando, dan mampu bertempur sama dengan mereka ( setelah sebelumnya dapet brevet PARA ) , baru mereka yg dibatalyon pada diem ga komeng PRIYAYI lagi.
emoticon-Ngakak

×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di