alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52ed2760148b46a3708b458c/galau-kuliah-----mendingan-lanjut-paralel-atau-ekstensi
Galau kuliah ---> Mendingan lanjut paralel atau ekstensi?
Wakwaww emoticon-Najis
ekstension jadi kerja lo ga keganggu
kerja trus kuliah juga emoticon-Recommended Seller
follow your heart aja dah klo kasus seperti ini
Quote:Original Posted By valexander95
ekstension jadi kerja lo ga keganggu
kerja trus kuliah juga emoticon-Recommended Seller


emang kalo kelas paralel gak bisa sambilan kerja ya gan?
emoticon-Sundul emoticon-Sundul emoticon-Sundul
beasiswa ke luar negeri itu ya tergantung otak lo lah. mau kuliah di UI sekalipun kl emg otak lo ga mampu ya ga bisa
emoticon-Sundul emoticon-Sundul emoticon-Sundul
Quote:Original Posted By verazuckerberg
Misi agan2 dan sista2..
Ane baru tamat dari d3 politeknik jurusan farmasi. Ane sekarang udah kerja, tapi berencana tahun ini mau ngelanjutin kuliah s1 ane.

Ane bingung gan, pengen ngambil kelas paralel di UI, tapi takut kuliahnya kelamaan. Di sisi lain, ortu nyuruh ane ngambil ekstensi aja di univ swasta di jakarta (ISTN), sementara ane belum tau reputasinya gimana. Dan apakah kalau ngambil program ekstensi di univ swasta tsb, ane masih bisa berkesempatan dapet beasiswa s2 di luar negeri seperti AMINEF, monbukagakusho, dll?

Apakah jika kuliah kelas paralel UI, ane bisa tamat kurang dari 3 tahun mengingat ane punya latar belakang d3 sebelumnya?

Mohon pendapatnya gitu emoticon-Matabelo

Jgn ngomong kejauhan beasiswa di LN kalo reputasi lo sebelomnya biasa" aja. Jgn berharap banyak nanti jatohnya sakit.

Resiko org kerja sambil kuliah lo ngak akan bisa fokus, kecuali lo pilih mao fokus kuliah doang atau mao sambil kerja.

Kalo mao sambil kerja cari yang rada santai jadi lo bisa maksimal. Kalo lo mao kuliah doang ya lo cari univ yg bonafid trs lo fokus total dan berharap dpt beasiswa.
bahasanya berat...
SMA aja gw ga lulus.
kl dah kerja yg penting tekun.
Quote:Original Posted By b6800phs

Jgn ngomong kejauhan beasiswa di LN kalo reputasi lo sebelomnya biasa" aja. Jgn berharap banyak nanti jatohnya sakit.

Resiko org kerja sambil kuliah lo ngak akan bisa fokus, kecuali lo pilih mao fokus kuliah doang atau mao sambil kerja.

Kalo mao sambil kerja cari yang rada santai jadi lo bisa maksimal. Kalo lo mao kuliah doang ya lo cari univ yg bonafid trs lo fokus total dan berharap dpt beasiswa.


Menurut gw omongan gw biasa aja, gak kejauhan kok. Gw yakin bisa dapetin beasiswa LN dan akan gw buktikan ke elo kalo gw bukan sekedar ngomong.

Memang kalo pengen berprestasi secara maksimal susah untuk orang yang kuliah sambilan kerja. Tapi bukan berarti gak mungkin bagi orang yang nyambi kayak gini untuk bisa dapetin beasiswa LN.

Quote:Original Posted By verazuckerberg
Misi agan2 dan sista2..
Ane baru tamat dari d3 politeknik jurusan farmasi. Ane sekarang udah kerja, tapi berencana tahun ini mau ngelanjutin kuliah s1 ane.

Ane bingung gan, pengen ngambil kelas paralel di UI, tapi takut kuliahnya kelamaan. Di sisi lain, ortu nyuruh ane ngambil ekstensi aja di univ swasta di jakarta (ISTN), sementara ane belum tau reputasinya gimana. Dan apakah kalau ngambil program ekstensi di univ swasta tsb, ane masih bisa berkesempatan dapet beasiswa s2 di luar negeri seperti AMINEF, monbukagakusho, dll?

Apakah jika kuliah kelas paralel UI, ane bisa tamat kurang dari 3 tahun mengingat ane punya latar belakang d3 sebelumnya?

Mohon pendapatnya gitu emoticon-Matabelo


Quote:Original Posted By verazuckerberg


Menurut gw omongan gw biasa aja, gak kejauhan kok. Gw yakin bisa dapetin beasiswa LN dan akan gw buktikan ke elo kalo gw bukan sekedar ngomong.

Memang kalo pengen berprestasi secara maksimal susah untuk orang yang kuliah sambilan kerja. Tapi bukan berarti gak mungkin bagi orang yang nyambi kayak gini untuk bisa dapetin beasiswa LN.



Halo, boleh tau kelas paralel apakah yang dimaksud? Kalau memungkinkan menurut saran saya, kuliah S1 biasa saja agar bisa fokus dengan lebih mendalam karena tentunya tidak semua dosen itu menyampaikan mata kuliahnya dengan baik, sehingga ada kemungkinan kita tersendat karena faktor x, kuliah paralel artinya menyesuaikan jadwal yang lebih pelik dan rumit lagi secara umum gambarannya kurang lebih saya analogikan dengan satu orang punya dua pacar sekaligus ... pas dua-duanya mau ngapel ya susah ..

lalu biaya yang keluar juga jadi dobel, walau memang biaya faktor kesekian, tetapi waktu kita untuk mendalami suatu bidang jadi berkurang.

Kalau bisa pula S1 yang sejalur dengan D3 dan kalau bisa ambillah perspektif bahwa agan / sis di dunia kuliah itu sama dengan agan diterima kerja, artinya dosen adalah atasan anda ... dengan prinsip seperti itu agan / sis akan lebih terpacu untuk bertanggung jawab secara profesional tidak hanya mengikuti alur yang ditentukan atasan tetapi berkreasi memberi lebih pada jalannya perkuliahan di kelas. Tidak banyak mahasiswa yang punya pemikiran out of the box yang bisa berkomunikasi dan bergaul secara luwes kepada rekan sesama mahasiswa dan yang terpenting lagi kepada seluruh dosen / atasan.

Beasiswa S2 di luar negeri akan sangat mudah dicapai apabila agan / sis sudah memenuhi syarat biasanya bekerja selama 2 tahun di suatu institusi dan ada dorongan dari institusi tersebut untuk agan / sis meraih kredibilitas akademis yang lebih tinggi lagi untuk menunjang performa kerja agan / sis di masa depan.

Selanjutnya, masa S1 hendaknya diluangkan juga untuk terlibat di kegiatan luar kampus seperti sukarela dan aktif di organisasi yang memang bonafid dan kredibel, dan tidak hanya pasif (ikut-ikutan) di sana tetapi mengasah naluri leadership dalam proyek-proyek yang digarap.

Pada waktu yang bersamaan, bila masih ada waktu luang manfaatkan dengan mulailah membaca jurnal-jurnal yang akan menjadi santapan harian ketika agan / sis duduk di jenjang S2 dan berlatih mempresentasikannya, sehingga ketika sudah tiba saatnya, semua itu hanya akan jadi permasalahan yang sudah agan / sis kuasai benar dan dapat diselesaikan dengan sempurna.

Perjalanan 1000 kilometer, dimulai dengan langkah pertama, tekad kuat, dan keterbukaan hati.

Selamat mengarungi masa muda anda yang cerah!

emoticon-Shakehand2
Quote:Original Posted By rahan




Halo, boleh tau kelas paralel apakah yang dimaksud? Kalau memungkinkan menurut saran saya, kuliah S1 biasa saja agar bisa fokus dengan lebih mendalam karena tentunya tidak semua dosen itu menyampaikan mata kuliahnya dengan baik, sehingga ada kemungkinan kita tersendat karena faktor x, kuliah paralel artinya menyesuaikan jadwal yang lebih pelik dan rumit lagi secara umum gambarannya kurang lebih saya analogikan dengan satu orang punya dua pacar sekaligus ... pas dua-duanya mau ngapel ya susah ..

lalu biaya yang keluar juga jadi dobel, walau memang biaya faktor kesekian, tetapi waktu kita untuk mendalami suatu bidang jadi berkurang.

Kalau bisa pula S1 yang sejalur dengan D3 dan kalau bisa ambillah perspektif bahwa agan / sis di dunia kuliah itu sama dengan agan diterima kerja, artinya dosen adalah atasan anda ... dengan prinsip seperti itu agan / sis akan lebih terpacu untuk bertanggung jawab secara profesional tidak hanya mengikuti alur yang ditentukan atasan tetapi berkreasi memberi lebih pada jalannya perkuliahan di kelas. Tidak banyak mahasiswa yang punya pemikiran out of the box yang bisa berkomunikasi dan bergaul secara luwes kepada rekan sesama mahasiswa dan yang terpenting lagi kepada seluruh dosen / atasan.

Beasiswa S2 di luar negeri akan sangat mudah dicapai apabila agan / sis sudah memenuhi syarat biasanya bekerja selama 2 tahun di suatu institusi dan ada dorongan dari institusi tersebut untuk agan / sis meraih kredibilitas akademis yang lebih tinggi lagi untuk menunjang performa kerja agan / sis di masa depan.

Selanjutnya, masa S1 hendaknya diluangkan juga untuk terlibat di kegiatan luar kampus seperti sukarela dan aktif di organisasi yang memang bonafid dan kredibel, dan tidak hanya pasif (ikut-ikutan) di sana tetapi mengasah naluri leadership dalam proyek-proyek yang digarap.

Pada waktu yang bersamaan, bila masih ada waktu luang manfaatkan dengan mulailah membaca jurnal-jurnal yang akan menjadi santapan harian ketika agan / sis duduk di jenjang S2 dan berlatih mempresentasikannya, sehingga ketika sudah tiba saatnya, semua itu hanya akan jadi permasalahan yang sudah agan / sis kuasai benar dan dapat diselesaikan dengan sempurna.

Perjalanan 1000 kilometer, dimulai dengan langkah pertama, tekad kuat, dan keterbukaan hati.

Selamat mengarungi masa muda anda yang cerah!

emoticon-Shakehand2


Terima kasih gan atas pendapatnya. Tentunya saya akan mengambil kuliah s1 yang sesuai dengan bidang saya, yaitu farmasi. Dan kelas paralel (non reguler) yang saya maksud itu adalah perkuliahan yang jenjang kuliahnya sama seperti kelas reguler yaitu 4 tahun, hanya saja biayanya lebih mahal tapi waktu perkuliahan bisa disesuaikan serta bisa diikuti oleh karyawan.Itu artinya saya harus memulai kuliah dari awal lagi.
Maksud dan tujuan saya pengen kuliah farmasi program kelas paralel UI, karena saya berharap di UI saya bisa aktif berorganisasi, memperluas jaringan, dll yang bisa menunjang kualifikasi saya untuk mendapatkan beasiswa s2 LN.

Menurut agan, apakah jika saya mengambil s1 ekstensi di universitas swasta, kemungkinan untuk bisa dapet beasiswa s2 LN masih sama besarnya seperti jika kuliah di UI?

Dan apakah yang agan maksud untuk bisa mendapatkan beasiswa s2 LN dengan syarat harus bekerja di instansi minimal 2 tahun itu artinya saya harus jadi dosen dulu?
Quote:Original Posted By verazuckerberg


Terima kasih gan atas pendapatnya. Tentunya saya akan mengambil kuliah s1 yang sesuai dengan bidang saya, yaitu farmasi. Dan kelas paralel (non reguler) yang saya maksud itu adalah perkuliahan yang jenjang kuliahnya sama seperti kelas reguler yaitu 4 tahun, hanya saja biayanya lebih mahal tapi waktu perkuliahan bisa disesuaikan serta bisa diikuti oleh karyawan.Itu artinya saya harus memulai kuliah dari awal lagi.
Maksud dan tujuan saya pengen kuliah farmasi program kelas paralel UI, karena saya berharap di UI saya bisa aktif berorganisasi, memperluas jaringan, dll yang bisa menunjang kualifikasi saya untuk mendapatkan beasiswa s2 LN.

Menurut agan, apakah jika saya mengambil s1 ekstensi di universitas swasta, kemungkinan untuk bisa dapet beasiswa s2 LN masih sama besarnya seperti jika kuliah di UI?

Dan apakah yang agan maksud untuk bisa mendapatkan beasiswa s2 LN dengan syarat harus bekerja di instansi minimal 2 tahun itu artinya saya harus jadi dosen dulu?


Ada dua hal yang wajib diperhatikan dari tahun-tahun kita berkuliah. Yang pertama adalah pengembangan diri kita sebagai individu barulah kedua pengembangan diri kita dari sisi akademis.

Dari sisi akademis disini tentulah ukurannya adalah nilai perkuliahan, dan dari sisi pengembangan diri adalah hal-hal kecil yang kita kuasai dengan baik, apakah itu menunjang profesi kita atau tidak bukanlah masalah.

Ilustrasinya adalah begini, ketika kita memutuskan untuk berprofesi sebagai ahli farmasi, kita tidak dikurung oleh wadah bernama UI atau Swasta. Tempat hanyalah katalis, pemicu. Yang menjadi menyenangkan adalah luasnya informasi yang tersedia tentang profesi kita yang bisa kita dapat dgn mudah karena internet.

Apabila saya dapat tugas mengajar anak SMP atau SMA .. mereka tidak saya kurung dgn materi SMP atau SMA .. saya tanya mau belajar minat apa? Dia bilang biologi misalnya .. maka kami akan membaca buku-buku biologi dari oxford dan penerbit buku bagus lainnya, yang didalami adalah soal-soal UN Internasional namanya A level atau O level (IGCSE) utk SMP. Sehingga spektrum si anak ini tidak terkurung di tataran sekolah dia, tapi sudah terbuka luas .. oh ternyata ini lho biologi yang sesungguhnya.

Nah, bila kita tidak membatasi diri, maka kita pun akan berkembang tanpa batas. Menyenangkan bukan? Ketika kecemerlangan kompetensi kita melebihi wadah kita, bukan tidak mungkin anda di swasta lalu dipinang menjadi asisten dosen, dan lalu mendapat tawaran untuk bekerja di almamater itu. Intinya kita tidak bisa mengatakan jalan hidup saya gagal karena saya tidak bisa masuk ke satu tempat yang lebih difavoritkan oleh para employer. (baca staff HRD yang malas, kalau staff HRD yang rajin melihat dari wawancara bukan dari lulusan mana)

Bisa kita simpulkan bahwa setelah kuliah tantangan selanjutnya adalah kerja. Tapi kerja yang seperti apa? Lingkup pekerjaan yang prospektif mendapat beasiswa adalah lingkup pekerjaan yang bersifat kontributif terhadap bangsa dan negara secara umum. Tidak menutup kemungkinan kita dari sektor swasta mendapat beasiswa, selama yang kita kerjakan, bukanlah sesuatu yang hanya bersifat memperkaya diri sendiri. Dosen dari universitas swasta atau negeri manapun lebih berpeluang untuk mendapat beasiswa karena mereka dipandang lebih bisa memberi kontribusi pasca beasiswa.

Bila anda tumbuh menjadi seorang profesional, tak perlu risau dgn apapun almamater anda, karena dengan kompetensi (kemampuan nyata / real skill) mewah, pihak swasta pun tidak akan ragu merekrut anda. Selain menjadi dosen, karir sebagai peneliti juga layak anda pertimbangkan. Tidak tertutup hanya bekerja dengan plat merah, tetapi peluang dari swasta juga bisa asalkan ada niatan dari employer anda untuk menyekolahkan anda karena anda akan dapat berkontribusi lebih dengan ilmu yang anda miliki.

Anda juga bisa meneliti benar (survei dulu) posisi mana yang dalam dunia industri obat-obatan yang bekerja karena ilmunya bukan karena sertifikatnya?

Kalau dari sejak saat kuliah anda di semester-semester awal sudah mulai menelurkan tulisan-tulisan yang masuk ke jurnal lokal maupun internasional, (ini yang saya sebut kompetensi nyata), maka prospek anda tentunya sangat cerah.

Bandingkan dgn ribuan mahasiswa lain yang baru mau meneliti saat hidungnya sudah dicucuk dengan materi bernama SKRIPSI dan SEMINAR JUDUL.. Itupun kualitasnya mostly 11-12 dgn kakak tingkatnya dan hanya akan berdebu di rak perpustakaan.

emoticon-I Love Indonesia (S)
Quote:Original Posted By rahan


Ada dua hal yang wajib diperhatikan dari tahun-tahun kita berkuliah. Yang pertama adalah pengembangan diri kita sebagai individu barulah kedua pengembangan diri kita dari sisi akademis.

Dari sisi akademis disini tentulah ukurannya adalah nilai perkuliahan, dan dari sisi pengembangan diri adalah hal-hal kecil yang kita kuasai dengan baik, apakah itu menunjang profesi kita atau tidak bukanlah masalah.

Ilustrasinya adalah begini, ketika kita memutuskan untuk berprofesi sebagai ahli farmasi, kita tidak dikurung oleh wadah bernama UI atau Swasta. Tempat hanyalah katalis, pemicu. Yang menjadi menyenangkan adalah luasnya informasi yang tersedia tentang profesi kita yang bisa kita dapat dgn mudah karena internet.

Apabila saya dapat tugas mengajar anak SMP atau SMA .. mereka tidak saya kurung dgn materi SMP atau SMA .. saya tanya mau belajar minat apa? Dia bilang biologi misalnya .. maka kami akan membaca buku-buku biologi dari oxford dan penerbit buku bagus lainnya, yang didalami adalah soal-soal UN Internasional namanya A level atau O level (IGCSE) utk SMP. Sehingga spektrum si anak ini tidak terkurung di tataran sekolah dia, tapi sudah terbuka luas .. oh ternyata ini lho biologi yang sesungguhnya.

Nah, bila kita tidak membatasi diri, maka kita pun akan berkembang tanpa batas. Menyenangkan bukan? Ketika kecemerlangan kompetensi kita melebihi wadah kita, bukan tidak mungkin anda di swasta lalu dipinang menjadi asisten dosen, dan lalu mendapat tawaran untuk bekerja di almamater itu. Intinya kita tidak bisa mengatakan jalan hidup saya gagal karena saya tidak bisa masuk ke satu tempat yang lebih difavoritkan oleh para employer. (baca staff HRD yang malas, kalau staff HRD yang rajin melihat dari wawancara bukan dari lulusan mana)

Bisa kita simpulkan bahwa setelah kuliah tantangan selanjutnya adalah kerja. Tapi kerja yang seperti apa? Lingkup pekerjaan yang prospektif mendapat beasiswa adalah lingkup pekerjaan yang bersifat kontributif terhadap bangsa dan negara secara umum. Tidak menutup kemungkinan kita dari sektor swasta mendapat beasiswa, selama yang kita kerjakan, bukanlah sesuatu yang hanya bersifat memperkaya diri sendiri. Dosen dari universitas swasta atau negeri manapun lebih berpeluang untuk mendapat beasiswa karena mereka dipandang lebih bisa memberi kontribusi pasca beasiswa.

Bila anda tumbuh menjadi seorang profesional, tak perlu risau dgn apapun almamater anda, karena dengan kompetensi (kemampuan nyata / real skill) mewah, pihak swasta pun tidak akan ragu merekrut anda. Selain menjadi dosen, karir sebagai peneliti juga layak anda pertimbangkan. Tidak tertutup hanya bekerja dengan plat merah, tetapi peluang dari swasta juga bisa asalkan ada niatan dari employer anda untuk menyekolahkan anda karena anda akan dapat berkontribusi lebih dengan ilmu yang anda miliki.

Anda juga bisa meneliti benar (survei dulu) posisi mana yang dalam dunia industri obat-obatan yang bekerja karena ilmunya bukan karena sertifikatnya?

Kalau dari sejak saat kuliah anda di semester-semester awal sudah mulai menelurkan tulisan-tulisan yang masuk ke jurnal lokal maupun internasional, (ini yang saya sebut kompetensi nyata), maka prospek anda tentunya sangat cerah.

Bandingkan dgn ribuan mahasiswa lain yang baru mau meneliti saat hidungnya sudah dicucuk dengan materi bernama SKRIPSI dan SEMINAR JUDUL.. Itupun kualitasnya mostly 11-12 dgn kakak tingkatnya dan hanya akan berdebu di rak perpustakaan.

emoticon-I Love Indonesia (S)


Penjelasannya sangat rinci gan. Jujur sebenarnya saya sangat tertarik ingin jadi peneliti / bagian research & development di industri farmasi atau di rumah sakit, tapi saya tidak terlalu tertarik untuk menjadi dosen. Walaupun begitu, saya ingin meneruskan pendidikan saya hingga jenjang s3 bahkan hingga mendapatkan gelar profesor. Kebetulan di jejaring sosial, saya mempunyai teman dengan latar belakang s1 apoteker, sekarang dia kerja di perusahaan danon* (Belanda), jadi saya pun terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Namun saya kurang percaya diri.

Setidaknya penjelasan agan sudah membuka mindset saya untuk mengambil sebuah keputusan. Lagipula, saya pernah membaca website beasiswa s2 dari pemerintah Australia, di situ mahasiswa latar belakang s1 ekstensi (dari d3) juga bisa mengajukan beasiswa tersebut, selama yang bersangkutan memenuhi persyaratan, terlebih memiliki skor TOEFL/TOEIC tinggi, s1 ekstensi tidak menjadi masalah. Karena membaca web tsb, saya menjadi sangat bersemangat untuk terus mengejar keinginan saya meraih beasiswa s2 LN. Yang jelas mulai dari sekarang, saya akan mempersiapkan diri saya sebaik mungkin agar bisa memenuhi kualifikasi.
Ekstensi itu apa yah emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By ChocoTop
Ekstensi itu apa yah emoticon-Matabelo


s1 ekstensi itu program lanjutan dari d3 dengan masa kuliah lebih singkat daripada s1 reguler (untuk tamatan SMA)
Quote:Original Posted By verazuckerberg


Penjelasannya sangat rinci gan. Jujur sebenarnya saya sangat tertarik ingin jadi peneliti / bagian research & development di industri farmasi atau di rumah sakit, tapi saya tidak terlalu tertarik untuk menjadi dosen. Walaupun begitu, saya ingin meneruskan pendidikan saya hingga jenjang s3 bahkan hingga mendapatkan gelar profesor. Kebetulan di jejaring sosial, saya mempunyai teman dengan latar belakang s1 apoteker, sekarang dia kerja di perusahaan danon* (Belanda), jadi saya pun terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Namun saya kurang percaya diri.

Setidaknya penjelasan agan sudah membuka mindset saya untuk mengambil sebuah keputusan. Lagipula, saya pernah membaca website beasiswa s2 dari pemerintah Australia, di situ mahasiswa latar belakang s1 ekstensi (dari d3) juga bisa mengajukan beasiswa tersebut, selama yang bersangkutan memenuhi persyaratan, terlebih memiliki skor TOEFL/TOEIC tinggi, s1 ekstensi tidak menjadi masalah. Karena membaca web tsb, saya menjadi sangat bersemangat untuk terus mengejar keinginan saya meraih beasiswa s2 LN. Yang jelas mulai dari sekarang, saya akan mempersiapkan diri saya sebaik mungkin agar bisa memenuhi kualifikasi.


Tumbuhkan kecintaan luar biasa dan dedikasi terhadap apa yang anda jalankan. Dunia Farmasi adalah dunia teknis sehingga seperti dunia teknis lainnya, tidak mudah untuk mengintegrasikan diri ke dalamnya bila kita terbiasa bermain di kolam yang berbeda.

Apabila anda memang memiliki niatan untuk mendapatkan S2 dari luar negeri di bidang ini (saya sarankan anda mengambil Master of Clinical Pharmacy), maka anda perlu untuk menekuni S1 dengan gaya luar negeri juga. Akan terlalu banyak penyesuaian yang diperlukan kalau anda hanya menekuni S1 dalam negeri.

Jadi apapun S1 dalam negeri anda upayakan untuk mendidik diri sendiri dengan menempuh apa yang ditempuh oleh mahasiswa S1 internasional.

Hari rabu akan saya beri penjelasan tambahan bila menginginkan. Untuk saat ini saya masih ada pekerjaan lain.
Quote:Original Posted By rahan


Tumbuhkan kecintaan luar biasa dan dedikasi terhadap apa yang anda jalankan. Dunia Farmasi adalah dunia teknis sehingga seperti dunia teknis lainnya, tidak mudah untuk mengintegrasikan diri ke dalamnya bila kita terbiasa bermain di kolam yang berbeda.

Apabila anda memang memiliki niatan untuk mendapatkan S2 dari luar negeri di bidang ini (saya sarankan anda mengambil Master of Clinical Pharmacy), maka anda perlu untuk menekuni S1 dengan gaya luar negeri juga. Akan terlalu banyak penyesuaian yang diperlukan kalau anda hanya menekuni S1 dalam negeri.

Jadi apapun S1 dalam negeri anda upayakan untuk mendidik diri sendiri dengan menempuh apa yang ditempuh oleh mahasiswa S1 internasional.

Hari rabu akan saya beri penjelasan tambahan bila menginginkan. Untuk saat ini saya masih ada pekerjaan lain.


Dan tujuan saya memang s2 farmasi klinik.
Lalu bagaimana cara menekuni s1 dengan gaya luar negeri tersebut?
Saya berniat setelah saya memulai perkuliahan s1 ekstensi saya, saya ingin mempublikasi tulisan-tulisan ilmiah saya. Tapi bagaimana caranya? Apa nama website publikasi ilmiahnya?
Oke saya tunggu penjelasannya
ijin nyimak gan, ane juga lagi menempuh pendidikan d3 jurusan farmasi. dan sekarang udah mau semester 4. apa agan gak minat jadi PNS? soalnya rata rata dikampus saya cita2nya PNS gan, maka dari itu mereka ambil d3 farmasi.
ISTN apaan ya gan?? emoticon-Bingung (S)

Mending ngambil kuliah di tempat yang udah terkenal gan, walau lebih lama.. tapi kualitasnya gak diragukan lagi...

Daripada cepet lulus, tapi kualitas univ nya dipertanyakan... emoticon-Hammer (S)