alexa-tracking

Dokter Negara Maju Pelit Memberikan Obat, Ternyata ini Alasannya...

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52e0862d40cb17974d8b45d7/dokter-negara-maju-pelit-memberikan-obat-ternyata-ini-alasannya
Thumbs up 
Dokter Negara Maju Pelit Memberikan Obat, Ternyata ini Alasannya...
Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
Quote:Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.

"Ha? Just wait and see?" batinku meradang.
Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,
"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!

Setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
"Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"

Sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.

"Just drink a lot," katanya ringan.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak."
Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.

Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?"

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,"

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.

Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
"Batuk - pilek beserta demam yang terjadi 6 - 12 bulan masih wajar.observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
Di Belanda 'dipaksa' tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.

Aku tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!
Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat,dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan,penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar,cukup berduit,melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?
Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya.Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Gak seperti di Indonesia, kalau ke dokter pasti bawa oleh-oleh obat emoticon-Big Grin
Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua
Terimakasih
Quote:Original Posted By pierera
bahkan ane pernah baca gan sebenernya pilek sama batuk itu reaksi kekebalan alami tubuh untuk melawan benda atau organisme asing di tubuh. kalo sakitnya itu cuma 1-3 hari menurut ane masih wajar kok, gak perlu kasi obat. biarin aja tubuh melakukan tugasnya emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By Rstyle
antibiotik kata dokter dikasih untuk bunuh kumat2 penyakit, karena baru 3 hari lalu sy ke dokter karna batuk flu, eh dikasih obat untuk 3 hari, dan alhasil masih gak sembuh malahan batuknya jadi tambahh parah...
setelah baca thread ini sih keknya ada msuk akal nya juga sih, kebanykan obat juga tidak baik, jd lebih bagus banyakin mnum air putih aja emoticon-Malu (S)emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By jugil69
anehnya yang katanya "antibiotik itu maksimal 2kali dalam setahun" tapi tiap kedokter, mau sakit panas, mencret, kecelakaan tetep aja dikasih antibiotik emoticon-Bingung (S) emoticon-Cape d... (S)

Quote:Original Posted By KuroukiKaze
Setuju gan, ane praktek jg kya gt, tp blakangan malah pasiennya yg marah bilang saya kan sakit n bayar masa ga dpt obat.. emoticon-Mewek jdnya ya mau ga mau d. soalnya banyak kasus kya flu yg aslinya infeksi virus n ga bs disembuhin pake antibiotik.
Bahkan.smp skrng ga ada obt yg bs bunuh virus, cm daya tahan tbh doang yg bs.
Jdnya mau ga mau kita dokter pasti ks anti biotik / vitamin2 buat obat. Jd ngasih sugesti jg ke pasien biar merasa berobat. Sebenernya balik lg ke pasien2 tiap negara apakah sudah mengerti atau belum tentang penyakitnya

Quote:Original Posted By wongblesak
ini mah konspirasi lama antara dokter n perusahaan farmasi.. dokter dpt komisi dari farmasi kalo targetnya kena, bukan cuma duit tp misalnya liburan dibayarin, kongres / pelatihan dll. jd banyak dokter ksh resep obat yg kaga perlu2 amat, pasien yg jd korban kalo begini... kalo minta resep generik kadang dijutekin, kasih resep obat cuma ada di apotek tertentu, itu jg modus gan..

Quote:Original Posted By hardimahardika
bener banget gan, entah kenapa sekarang dokter Indonesia sudah lebih mikirin komersil ketimbang kesehatan pasiennya.
Ane pernah kedokter dan sakit diare disana ane dikasin 4 macam resep obat dan ane gak tebus itu obat.
Bsoknya ane sembuh dan gak pernah kambuh. emoticon-Cape d... (S)
Ane baru tau klo kita nebus obat ke apotek dokter juga bakal dapet komisi dari sana emoticon-Cape d... (S)

Quote:Original Posted By www.forsal3.com
ane punya anak 2 gan yg pas pertama dulu juga ane gitu dikit2 panik trus ke dokter trus sering baca2 di internet kl anak panas belum 39drajat jangan panik dulu itu masih dalam batas normal kl sakit dan sebelum lebih 4 atau 7 hari panas jangan di bawa ke dokter atau di beri obat. ane terapin itu semua.dan alhamdulillah jarang ke dokter emoticon-Big Grin dan biasanya tepat 4 atau 7 hari udah sembuh
untuk anak yg ke 2 ane udah ane terapin dari kecil. gak terlalu sepanik seperti anak pertama dulu. contoh nya pas diare biasanya ane tunggu sampe 7 hari (biasanya kena rotavirus) dan kebetulan setelah 7hari langsung mampet karena masa inkubasi rotavirus emang 7 hari. dan gak perlu ke dokter paling butuh oralit ajah

pokok nya jangan sering sering deh anak di kasih obat2

Quote:Original Posted By batahidan
buat yg memeriksa,klo flu gk dikasih antibiotik,ada yg bilang gk afdol,selang 2 hari aja kadang ada pasien balik lagi protes gk manjur.padahal bila sudah minum obat teratur tp lebih 3 hari gk ada efeknya baru konsultasi lagi ke dokter.

masyarakat pengen sembuh instan sehari dua hari tapi minum obatnya gak teratur emoticon-Big Grin

minum antibiotik dah merasa baikan langsung stop minum padahal obat harus habis.efeknya si pasien kebal antibiotik jadi harus pake antibiotik yg lebih keras lagi emoticon-Big Grin

klo cuman dapet obat dikit protes.kadang malah gk perlu dikasih obat tapi pasiennya ngeyel emoticon-Big Grin

pasien protes klo dikasih obat berbeda dengan yg dulu dia pernah dapet jadinya protes.padahal sakitnya beda jadi obatnya juga beda dengan yg pernah pasien minum.tp gk mau tau emoticon-Big Grin

itu kenyataan di lapangan.karena ane sendiri kerja di puskesmas bagian obat pula jadi tau tabiat masyarakat dan dokter nya emoticon-Big Grin


emoticon-Salaman
beda sama di indonesia, kalau ke dokter pasti dikasih obat gan emoticon-Belo
ane dari kecil gak suka minum obat gan emoticon-Big Grin
sekarang baik-baik aja tuh emoticon-Big Grin
Sok-sokan sih ibunya,, mentang2 lulusan kedokteran emoticon-Ngakak (S)
anehnya yang katanya "antibiotik itu maksimal 2kali dalam setahun" tapi tiap kedokter, mau sakit panas, mencret, kecelakaan tetep aja dikasih antibiotik emoticon-Bingung (S) emoticon-Cape d... (S)
oh gitu ya gan baru tau ane
waduhh..ane disindir emoticon-Frown
sakit dikit pasti ane ngedrug emoticon-Frown
di indo sm di luar negri lbh plit mana gan ?emoticon-Bingung (S)

tapi tetep was was juga sih gan yah emoticon-Mewek

pengalaman sendiri soalnya walopun belom punya anak sih emoticon-Hammer2



Quote:




>>>

:rose::rose::malu::rose::rose:


thanks gan infonya,bwt shering ke bini ane
yg klo sakit,dikit2 k dokter,masa flu aja ke dokter
iya gan.. soalnya pan biar antibodi tubuh yg lawan sendiri.
klo obat kimia ga baik buat tubuh ginjal utamanya
bahkan ane pernah baca gan sebenernya pilek sama batuk itu reaksi kekebalan alami tubuh untuk melawan benda atau organisme asing di tubuh. kalo sakitnya itu cuma 1-3 hari menurut ane masih wajar kok, gak perlu kasi obat. biarin aja tubuh melakukan tugasnya emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By jiang.yuxi
di indo sm di luar negri lbh plit mana gan ?emoticon-Bingung (S)


makanya baca dulu gan baru komen, jadi gak bingung emoticon-Cape d... (S)
bener gan ane setuju sama agan
waw nais share gan, terima kasih infonya..
bener2 bermanfaat sekali emoticon-Big Grin
emoticon-Matabelo ane lebih suka JAMU gan, buat kesehatan emoticon-Matabelo
Jangan dikit2 mnm obat ya
Nice story gan...
antiobiotik membunuh bakteri baek..tp tidak menyingkirkan virus penyebab flu, bener juga ya.. emoticon-Matabelo
ijin nyimak yah gan