alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52df6a65bdcb17827c8b45ab/lembaga-survey-bisa-jadi-kendaraan-politik-cekidot-gan
Thumbs up 
Lembaga Survey Bisa Jadi Kendaraan Politik, cekidot Gan!

Lembaga Survey Bisa Jadi Kendaraan Politik, cekidot Gan!

Jakarta, PEMILU.com - Sekretaris Jenderal Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (Sekjen AROPI) Umar S Bakry mengatakan, jelan pemilihan legislatif (pileg) maupun pemilihan presiden (pilpres) banyak lembaga survey baru bermunculan.
Ironisnya, kelahiran lembaga survei baru tersebut kerap mengesampingkan
prinsip-prinsip profesionalitas dan independensi. Bahkan, diantara mereka banyak yang tidak memahami kode etik survei opini publik dan masih awam dalam penguasaan metodologi riset.
"Bahkan, sejumlah lembaga survei telah terjebak menjadi kendaraan politik kontestan Pemilu sehingga hasil-hasil survei yang dipublikasikannya pun di-design sedemikian rupa untuk menguntungkan kontestan tertentu dan mendiskriminasi kontestan lainnya," kata Umar dalam siaran persnya, Minggu (19/1).
Dia mencontohkan, hasil survei 'Institut Riset Indonesia' (Insis) yang dipublikasina beberapa waktu lalu. Dalam survei Insis tersebut, opini publik sengaja digiring untuk memilih calon presiden (capres) dengan kategori 'capres muda'.
Menurut akademisi Universitas Jayabaya itu, dikotomi capres muda dan capres tua adalah cara berfikir yang melawan demokrasi. Apalagi, menggalang opini agar publik agar lebih memilih capres muda daripada capres tua, merupakan tindakan diskriminatif yang bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.
"Selain melawan demokrasi, penggiringan opini publik untuk menolak capres yang sudah berumur juga tidak memiliki logika atau alasan yang mendasar. Tidak ada jaminan dan juga tidak ada statistik yang menunjukkan bahwa presiden berusia muda selalu lebih baik daripada yang berusia tua," urai dia.
Di banyak negara, kata Umar presiden atau pemimpin berusia lanjut justru dapat membuat sejumlah prestasi, seperti Ronald Reagan di AS atau Mahathir Muhammad di Malaysia. Sementara, Presiden Dmitry Medvedev di Rusia dan Perdana Menteri Yingluck Siwanatra di Thailand yang notabene masih berusia muda ternyata tidak sanggup berbuat banyak untuk mengatasi kesulitan negerinya.
"Di Indonesia sendiri belum ada trend bahwa pemimpin muda lebih baik dari tokoh-tokoh senior, yang ada justru tokoh-tokoh muda banyak yang masuk penjara akibat kasus korupsi yang dilakukannya. Selain integritasnya belum teruji, banyak politisi muda kita justru cenderung bersikap pragmatis dan gemar mempertontonkan gaya hidup hedonis di tengah masyarakat," ujarnya.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional (LSN) itu menambahkan, hasil survei Insis bertolak belakang dengan temuan Lembaga Survei Nasional (LSN) yang menunjukkan bahwa 61,2% publik tidak mempermasalahkan apakah Presiden RI mendatang berasal dari generasi muda atau generasi tua.
"Mayoritas publik justru tidak mempermasalahkan berapa umur capres yang ideal, karena di mata publik yang penting adalah kualitas kepemimpinan, bukan umurnya tua atau muda. cuma 15,9% publik yang mengharapkan capres berusia 50-55 tahun," pungkasnya.

SUMBER

Follow us on twitter: @PemiluCom

emoticon-I Love Indonesia
ane buta gan kalo soal politik

Emang dah

Lembaga atau apapun yg mengusung nilai sosial tapi ujung2nya bermain politik, ujung2nya menjadi busukk!
Awalnya mau ngambil simpati dr rakyat aja, akhirnya bisa ditebak kan.
Orang yg maen politik mending gak usah punya agama aja. Tergantung politiknya bagaimana. Karna politik itu kotor (menurut ane) dan sangat bertolak blakang dengan tujuan dari agama itu sendiri..


emoticon-Cool