alexa-tracking

Istri atau Pembantu? [Muslim masuk, yang lain boleh juga, NO SARA]

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52df2c5abdcb175f038b45a7/istri-atau-pembantu-muslim-masuk-yang-lain-boleh-juga-no-sara
Inspiratif 
Istri atau Pembantu? [Muslim masuk, yang lain boleh juga, NO SARA]
Istri atau Pembantu? [Muslim masuk, yang lain boleh juga, NO SARA]



ane mau berbagi artikel yang cukup mengganggu pikiran ane nih gan, tolong disimak ya, dibaca selengkap-lengkapnya, baru komentar emoticon-Smilie (silahkan utarakan pendapat agan sebebas-bebasnya, freedom of speech emoticon-I Love Kaskus (S) )

Quote:catatan: bukan ane yang bikin artikel ini, ane cuma ngeshare aja emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S)



Quote:Istri atau Pembantu Rumah Tangga??

Quote:Wed, 8 January 2014 07:07 - 50129 | wanita

Assalamu'alaikum ustadz,

Mohon maaf ustadz, saya bertanya terkait dengan masalah rumah tangga.

  1. Apakah seorang istri diwajibkan bekerja mencari uang untuk membantu suaminya dalam rumah tangganya? Ataukah semua itu merupakan beban suami tanpa ada kewajiban di pihak istri?

  2. Saya pernah mendengar ceramah ustadz tentang kewajiban seorang istri. Kalau tidak salah judulnya waktu itu adalah : Istri Bukan Pembantu. Terus terang saya baru paham bahwa ternyata syariah Islam begitu memuliakan para wanita. Selama ini yang saya tahu bahwa istri itu wajib mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga layaknya seorang PRT.


Namun sayangnya saya tidak punya rekaman ceramah ustadz saat itu. Karena hal itu penting sekali, mohon kiranya lewat rumahfiqih.com ini, ustadz memberikan sedikit catatan yang bisa saya jadikan pegangan.

Terima kasih banyak sebelumnya.

Wassalam


Spoiler for Jawaban dari sang ustadz:


bagaimana pendapat agan-agan sekalian? ane ga setuju sama artikel ini, terutama bagian ini: Bahkan kalau suami tidak mampu memberi nafkah dan membiayai kehidupan rumah tangga, istri berhak mengundurkan diri dari ikatan pernikahan, dengan jalan fasakh. Hak itu 100% dijamin oleh syariat Islam. emoticon-Berduka (S) jadi kalo suaminya dah tua, dah ga bisa apa2 lagi gpp ditinggal gitu?? atau suaminya sakit keras smp ga bisa ngasih nafkah lagi gpp ditinggal begitu saja?? emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S) emoticon-Berduka (S)

ane tunggu komen dari agan-agan emoticon-Smilie kalo agan ga bisa ngasih cendol emoticon-Cendol (S) tolong jangan ngasih ane bata emoticon-Blue Guy Bata (S) minimal di rate 5 emoticon-Rate 5 Star lah biar agan-agan yg lain bisa baca juga..hehe emoticon-Malu (S)

walaupun thread ini masih banyak kekurangannya, tapi ane tetap berharap thread ini bisa jadi Hot Thread..hehe aamiiin emoticon-I Love Kaskus (S)

sekian dari ane gan, kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh emoticon-Salaman emoticon-Salaman emoticon-Salaman


Quote:sumber: Istri atau Pembantu Rumah Tangga?


Quote:Original Posted By rega07
ane nggak berani berspekulasi lebih jauh. takut kesasar bid'ah. tapi coba agan2 semua dan TS, terutama aganwati baca tentang kisah ummu mutiah. silahkan cari di google. bagaimana pendapat agan semua


oke gan emoticon-Salaman

Quote:Ummu Mutiah, Perempuan Pertama Penghuni Surga

Quote:Fatimah Az-Zahra, walaupun putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tidak pernah manja. Pantang baginya meminta sesuatu kepada sang ayah. Hidupnya sederhana, dan taat beribadah.

Sebagai seorang istri, serta ibu dari Hasan dan Husein, Fatimah selalu sabar dan ikhlas. Tugas kesehariannya dijalani sendiri, seperti menggiling gandum sampai tangannya lecet. Tidak ragu mengangkut air untuk kebutuhan keluarga hingga alasnya berbekas di dadanya. Rumah Fatimah selalu bersih, dan rapi berkat keuletannya mengurus perabotan di rumah.

Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah? Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran. Karena tidak ada yang mengenal Mutiah. Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang. Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali. Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah. Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya mengunjungi kediaman Mutiah. Dia mengajak putranya Hasan. Setelah mengetuk pintu, memberi salam, terdengar suara dari dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya, “Ada keperluan apa?”

Fatimah menjawab, ingin bersilaturahim saja. Dari dalam rumah Mutiah kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”
“Saya bersama Hasan, putra saya,” jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah. Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya. Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.

Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya. Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein. Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.

Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan. “Dia seorang anak laki-laki.”

“Saya belum meminta izin kepada suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.

“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah, bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya. Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah. Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah. Namun, semuanya tertata rapi dan bersih. Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum. Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah. Hasan dan Husein pun merasa betah bermain di kediaman Ummu Mutiah.

Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang istimewa dilakukan Mutiah. Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan makanan untuk suami,” ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus untuk dikirim ke suaminya yang bekerja di ladang. Yang membuat Fatimah heran, selain makanan, Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah. Menurut Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.

Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya. Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya. “Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.

“Ini bukan kehendak suami. Suamiku orang yang penuh kasih sayang. Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri, agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.”

Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah. Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk.

“Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah.

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah.

Mutiah kini balik heran, “Maksudnya rahasia apa, Fatimah?”

Fatimah menjelaskan bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah) adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.

“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga. Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,” ujar Fatimah dalam hati.

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya. Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga.


Quote:sumber: Ummu Mutiah
bini juga bs jd babu gan..ga heran emoticon-Cool
emoticon-Matabelo
kalo gw y ttp istri donk gan emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By jiang.yuxi
bini juga bs jd babu gan..ga heran emoticon-Cool


Quote:Original Posted By compaccshop
kalo gw y ttp istri donk gan emoticon-Big Grin


ketauan nih 2 orang ga baca isinya emoticon-Cape d... (S) emoticon-Cape d... (S) emoticon-Cape d... (S)

ijin nyimak dulu gan
para isteri tetap membantu suaminya, dan para suami menghormati isterinya krn sesungguhnya isteri tdk wajib membantunya melainkan atas dasar suka rela.
mudah2an jadi keluarga yg baik emoticon-Salaman emoticon-Ngacir
Ane jadi bingung, jadi klo misalnya suami udh ga bs nafkahin istri, ato mungkin gajinya kurang, istri bs minta cerai gitu? Kenapa ajarannya jadi buat wanita islam matrialistis? Jadi kita sbg wanita hrs cari suami yg kaya gitu?
itu mungkin jaman sekarang ya kan gan, kalok suami ga menghasilkan ya gitu,

tapi dulu suami ma istri setia bgt, mw kek manapun ke adaan selalu berjuang , untuk menghidupin keluar mereka sendiri,
jangan berharap menjadi HT kalau membuat trit ada unsur agama di forum lounge.

kamu salah kamar, harusnya bahas agama disini http://www.kaskus.co.id/forum/173/spiritual
baca dulu gan emoticon-Angkat Beer
menarik gan..tpi walaupun bg2 kewajiban istri adalah patuh pada suaminya selama masih dalam jalur yg dibenarkan oleh agama.
kalo menurut ane sih para istri bukan menjadi pembatu gan, tp lebih kepada pembagian tugas dimana sang suami sebagai pencari nafkah bagi keluarga dan istri di bagian rumah tangga. kebanyakan pasangan di negara tercinta ini biasanya sudah membuat komitmen dulu sebelum mereka merrid. sedangkan pembatu rumah tangga lebih kepada "asisten" ketika keluarga tsb sudah terlalu repot dengan tugas mereka...

hmm hmm hmmm...nyimak dulu ahhhhh
Jadi bahasa'a kaya istri itu pelayan seks kita doang ya gan?
bener banget itu smuanya gan...cuma masalahnya ntar ada di pembantu.(http://alamandang.wordpress.com/2013...m-dalam-islam/)..karena islam melarang khalwat dan ikhtilat...

kan ga boleh tu satu rumah kalo pembantu cewek saoalnya ada majikan laki2/suami (bukan mahram) ato sebaliknya pembantunya cowok ada istrinya/perempuan.. ((http://ummulnurien.com/2012/10/01/be...-bukan-mahram/)) kaya di arab sono tuh TKI/TKW

jadi menurut ane sih yang bener ya kaya ali sama fatimah...waktu fatimah minta pembantu ke nabi kan ga dikabulkan...

ya intinya sih bagi2 tugas lah.....cuma proporsinya cewek tuh di rumah....cowok di luar rumah...maksudnya kerjaan di dalam rumah dikerjain istri...kerjaan diluar rumah dikerjain suami...karena repot kalo istri lagi nyapu halaman ada laki2 lewat(misal tukang sayur) kan harus nutup aurat tuh kalopun sudah ditutup tetep susah kayakna (masa nyapu pake sepatu) telapak kaki juga kan aurat..si tukang sayur pun ga boleh liat aurat perempuan tuh...


pembantu di ranjanga aja berati ya gan emoticon-Matabelo
ane ibu rumah tangga gan, pernah dengar dr pengajian sesungguhnya tugas istri itu cuma melayani suami (biologis), hamil, dan menyusui anak sampai 2 tahun. selepas anak disapih sebenarnya sudah tugas suami, bahkan suami berkewajiban memberi nafkah sampai (maaf) ke mulut istri alias sampai menyuapi. tapi walaupun begitu semua urusan rumah tangga dan tetek bengeknya sampai mengurus anak2 smua ane lakukan dng ikhlas tanpa bantuan pembantu. biarlah suami fokus mencari nafkah untuk sesuap nasi dan sebongkah berlian.. urusan pahala atau reward dari Allah, tentu Allah maha tau tentang semuanya gan.
Ouh jadi gitu ya gan..

Tapi biasanya suami lebih seneng kalo di masakin or di layanin selain sex dengan istri sendiri. Di banding dengan pembantu..

Mungkin istri juga ngerasa kalo semua pekerjaan rumah di kerjain pembantu. Takutnya suami malah kimpoi lagi sama pembantu itu..
Mau komen gimana yak... ane sih tidak bisa menyebut pembantu atau pelayan seks pada istri. karena Istri bukan pembantu dan bukan cuman pelayan seks. itu aja sih.

Yang jelas tugas utama SUami sebenarny Masak, Nyuci Baju Istri, Menafkahi, Dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya adalah tugas Suami yang bener.

CMIIW