alexa-tracking

PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52d784ecfdca173a798b497b/pns-golongan-iii-a-dengan-ipk-375-jadi-pembersih-lantai
PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai
PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai

Kasus ini mungkin belum terlalu lama, soalnya kejadiannya 3 tahun lalu atau 2010, tapi sampe thread ini di posting TS belom dapet update terbaru soal nasib kasus ini. Kalo ada agan yang punya ane masupin ke pageone

Kalo ngeliat dari judulnya mungkin sebagian dari agan-agan ada yang komentar gini, “Ah, biasa aja, jaman sekarang gelar sarjana dan IPK tinggi nggak jadi jaminan, orang banyak yang nganggur koq.“

Ane si sependapat juga, cuma yang bikin miris kasus ini mungkin karena pemuda itu sudah berstatus PNS golongan 3A dengan gelar S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau (Unri) dengan indeks prestasi kumulatif 3,75.

Nih lengkapnya:
PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai

Mengepel inilah pekerjaan sehari-hari Jack Lord. Meski golongan kepegawaiannya III A, namun dia tetap ditempatkan sebagai pengepel lantai.

Matahari sudah semakin tinggi di atas Gedung Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Riau di Jalan Gajah, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

Beberapa orang lalu-lalang di kantor tersebut, namun seseorang berseragam dinas yang akhirnya diketahui bernama Jack Lord (30) masih tetap berkutat dengan tangkai sapu dan kain lap untuk membersihkan beberapa lantai ruangan di kantor tersebut.

WARGA Jalan Genteng Perumahan Tampan Permai, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, ini, sebenarnya adalah seorang PNS golongan III A, namun saat bercerita,di kantor tersebut dia terkesan malu dan hampir tidak mau mengakui bahwa dia adalah PNS yang pernah menamatkan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau (Unri) dengan indeks prestasi kumulatif 3,75.

Kenyataan tentang dirinya adalah seorang sarjana tersebut hampir tenggelam dan tidak terlacak jika sekilas melihatnya, namun Riau Pos terus bertanya tentang siapa diri Jack sebenarnya. Jack Lord kemudian memulai ceritanya bahwa dia sudah menjadi PNS tahun 2002 dalam kualifikasi tamatan SMU pada golongan IIB sebagai pengatur muda tingkat satu.

Pada tingkat ini, Jack mulai bekerja sebagai tenaga cleaning service. Dia setiap harinya harus menyapu lantai dan membersihkan ruangan, mengepel, membersihkan kaca, bahkan membersihkan kakus di kantor tersebut. Namun resminya tercatat pekerjaannya adalah sebagai pengelola kebersihan ruang belajar dan aula kecil.

Jack mengaku, sambil bekerja, dia berusaha untuk kuliah karena dia juga punya cita-cita menjadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh orang tua dan keluarganya. Namun sampai Rabu (21/4) kemarin, nasibnya tetap saja sebagai tukang pel lantai LPMP.

Walaupun Jack telah berhasil menamatkan kuliah dan lulus hampir dengan nilai cum laude di universitas negeri terbesar di Riau serta telah melewati proses penyesuaian ijazah, tapi tak ada perubahan dalam pekerjaannya.

‘’Saya sudah pernah protes dan sampai ke Jakarta, namun tetap tidak ada perubahan. Sepertinya mungkin inilah takdir saya, menjadi tukang sapu saja. Saudara saya juga jadi tukang sapu jalan. Berdua bersaudara kami laki-laki yang lulus kuliah seperti dipermainkan nasib, anak yang seharusnya sudah bisa membanggakan orang tuanya, tapi sampai kini hanya jadi tukang sapu,’’ ujar Jack berlinang air mata.

PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai

Dia merasa dipermainkan dan ditindas, protes kepada atasannya terus dilakukannya. Malah pernah dia bertanya, apakah memang ada pegawai negeri golongan IIIA sebagai penyapu lantai dalam SK yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tapi waktu terus berlalu, pekerjaan harus tetap dilakukannya, dan tetap tidak ada perubahan.

Dulu saat dia protes ke Jakarta, ditanggapi oleh Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang ditandatangani Ir Giri Suryatmana. Oleh Giri, atasannya yang di Pekanbaru disuruh untuk memperbaiki SK sesuai dengan golongan yang ditempati Jack. Atasannya mengakui ada kesalahan dalam pengetikan. Tapi kondisi masih tetap saja sama setelah protes tersebut.

‘’Dengan golongan yang sama, teman-teman duduk dalam ruangan bekerja dengan kertas dan pulpen tapi saya memegang sapu membersihkan lantai. Saya tidak keberatan dengan pekerjaan ini, karena dari dulupun inilah pekerjaan saya tapi apa sesuai dengan yang sudah saya tempuh, percuma saja rasanya saya pernah kuliah,’’ ujar Jack sambil terisak.

Dengan suara lirih sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya, Jack mengatakan, dia mengerti dengan berbagai birokrasi pemerintahan dan berbagai disiplin ilmu pemerintahan serta bagaimana manajemen kepegawaian. Menurutnya, apa yang sedang dijalaninya sekarang ini sangat bertetangan dengan hatinya yang memahami pekerjaan pemerintahan.

Lalu dengan suara lirih dan parau, Jack kemudian bertanya, ‘’Apakah nasib saya ini karena ada kesalahan dari nenek moyang atau orang tua saya dulu sebelum melahirkan saya? Tak sanggup rasanya ditahankan hati tapi saya harus hidup menjalani nasib ini,’’ tanya Jack.

Jack mengaku sedikit kehilangan percaya diri, memasuki umur kepala tiga, dirinya belum menikah. Pernah terpikir dan terasa di hatinya untuk menikahi seorang gadis, tapi kondisinya sebagai seorang tukang sapu membuatnya tidak pernah berani mengungkapkan perasaan pada perempuan pujaan hatinya. ‘’Saya ini tukang sapu, siapa yang akan mau bersuamikan saya ini. Sepertinya tak ada orang tua seorang anak gadis yang mau melepaskan anak gadisnya hidup bersama saya,’’ ujar Jack dalam dialek Melayunya yang kental.

Jack juga menjelaskan, bukan tidak bisa menerima pekerjaan sebagai petugas kebersihan, namun lebih kepada kompetensi keilmuan dan kelaziman di dunia kerja.

‘’Bukan dikarenakan tidak menghargai pekerjaan tersebut. Hanya saja, naif rasanya bila melihat orang dengan golongan yang sama, bisa bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Saya sarjana Ilmu Pemerintahan, saya mengerti tugas pokok dan pekerjaan aparatur pemerintahan, etika birokrasi, pembagian kerja dan kewenangan, kebijakan publik, membuat undang-undang, bahkan ilmu politik dalam pemerintahan. Saya ini mungkin tidak kalah dibandingkan dengan para alumni Sekolah tinggi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang membedakan kami sepertinya hanya nasib saya yang menjadi tukang bersih-bersih ini,’’ ucap salah satu mahasiswa terbaik Unri tahun kelulusan 2003 tersebut dengan mata kembali berkaca-kaca.

‘’Bila dalam ketentuannya memang ada hal yang membenarkan PNS dengan golongan III A bekerja sebagai tenaga kebersihan, bisa saja tugas itu tetap akan diterima sebagai konsekuensi tugas. Hanya saja, jelas hal tersebut bukan sebuah kelaziman di lingkungan pemerintah. Apalagi bila dikaitkan dengan fakta bahwa saat ini pemerintah lebih banyak menggunakan tenaga outsourching untuk mengerjakan tugas pembantu umum perkantoran,’’ sebut Budi Astoto, salah seorang mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan ketik diminta tanggapannya tentang nasib Jack.

Dia mengaku kecewa, karena, secara kualitas, sumber daya manusia seperti Jack Lord harusnya mendapatkan job description yang jelas sesuai dengan kualifikasi ilmu dan kepangkatan yang dimilikinya.

‘’Saya bahkan baru sekali ini mendengar pegawai golongan IIIA bekerja sebagai pembersih ruangan kantor. Karena selama ini tugas itu hanya diberikan pada tenaga tidak terdidik dan tidak terlatih,’’ sebut dia.

Penjelasan tersebut juga dikuatkan oleh staf pengajar Ilmu Pemerintahan Unri, Saiman Pakpahan SIP MSi yang menyebutkan bahwa hal tersebut pasti terjadi dikarenakan penyusunan Struktur Organisasi Tata Pemerintahan (SOTK) yang tidak clear. Bila penempatan tersebut didasari oleh alasan bahwa tidak ada posisi untuk penempatan pegawai dengan golongan yang setara, harusnya, antar-satuan kerja bisa saling berkoordinasi. Dengan demikian, potensi jajaran tetap sesuai dengan golongan dan tugas pokoknya.

‘’Saya malah melihat hal ini menunjukkan lemahnya sensififitas pimpinan, karena, idealnya, pimpinan bisa melihat potensi bawahan sesuai dengan golongan. Ini baru pertama sekali saya dengar, PNS golongan III A bertahun-tahun menjadi pekerja kasar yang tugasnya membersihkan ruangan. Bisa jadi ini banyak terjadi, tapi, itu merupakan bentuk tidak pekanya pimpinan terhadap potensi yang ada di wilayah kerjanya,’’ sebut dia.

Dicoba mengkonfirmasi status Jack ini kepada Kepala LPMP Riau, Zainal, namun dalam keterangan singkatnya Zainal mengaku sedang mengikuti acara dan minta tidak diganggu dahulu.

Kasubag Umum LPMP Riau, Drs Syukhmide Hendri saat ditemui secara terpisah tidak menafikan adanya pekerja dengan tamatan sarjana dipekerjakan sebagai tenaga cleaning service di kantornya. Hanya saja, saat ditanyakan apa dasar penempatan dan pembagian kerja yang digunakan, Syukhmide Hendri berusaha menghindar dengan pergi begitu saja meninggalkan Riau Pos, padahal sebelumnya dia sempat hendak bercerita panjang seputar tugas di LPMP. Sembari berpura-pura memanggil salah seorang pegawai, Syukhmide langsung lari begitu saja.

Jack Lord sendiri, mempunyai latar belakang keluarga yang cukup lekat dengan birokrasi. Ayahnya, Syamsir, adalah mantan pegawai di lingkungan Departemen Dalam negeri. Ayahnya pernah bertugas di beberapa kabupaten di Provinsi Riau, di antaranya Tanjungpinang, Bengkalis, Siak serta Pekanbaru. Terakhir sang ayah pensiun sebagai pegawai dengan golongan III D di Dinas Kebersihan Pertamanan Kota Pekanbaru. (RIAU POST)
Spoiler for Sumber Awal Ane baca dari Sini:


KATA MEDIA:

Spoiler for Kata Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Riau:

Spoiler for Mendiknas Minta Kasus Jack Lord Diteliti Lebih Lanjut:

Spoiler for Sarjana Terbaik Dipaksa Jadi Tukang Sapu:
PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai
BUAT NEMPATIN UPDATE AGAN-AGAN
gile IPK gede jadi tukang bersih2..

emoticon-Sorry

itulah hidup gan....

kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki
IPK ane cm 2,85 emoticon-Turut Berduka
makanya banyak orang BEGO jadi caleg
lah yg pinter" aja di simpen buat bersih" emoticon-Ngakak
Padahal golongannya udah lllA, ini kayak semacam diskriminasi. Sabar ya om jack emoticon-Sorry mending pindah gawean ke tempat lebih baik. Kan lumayan IPKnya gede
miris banget, yg berpotensi malah tidak dimanfaatkan ckck
yah begitulah realita indon, saran saya bung gak usah jadi PNS a.k.a kacung pemerintah emoticon-Matabelo
mungkinkah ada bakwan di balik udang
wah ane curiga jangan2 dia orangnya idealis gak ikut yg "neko neko" lalu dikucilkan dengan disuruh jd tukang bersih2? emoticon-Bingung (S)

itu hanya pendapat ane aja lho ya emoticon-Cool

PNS Golongan III A, dengan IPK 3,75 Jadi Pembersih Lantai

optimusbaywas here emoticon-Cool
mungkin orientasi dia untuk dapat gelar PNS saja gan,
tau sendiri gan Tunjangan PNS kek gimana, gak urus sama jabatana yang penting PNS sudah di tangan emoticon-Ngakak
agak bego menurut gw, cum laude kok bertahan jadi tukang pel di pns? ngarep gaji buta? napa ga pindah ke swasta aja
itu mungkin krn prinsip keluarganya ...
apapun gawenya yg penting jd pegawai negri ...
mental spt ini msh byk beredar di indo
emoticon-Berduka (S)
klo menurut ane wajar klo dia masih menjadi seorang petugas kebersihan, alasan pertama, beliau melamar dengan ijasah sma yg formasinya sudah beliau setujui, kedua ane yakin tidak ada ijin belajar untuk kuliah saudara jack, karena beliau kuliah sebelum diangkat sebagai cpns, sedangkan klo setau ane, syarat penyesuaian adalah untuk golongan 2a harus 2a plus 2th br mengajukan ijin dan setelah selesai baru melakukan penyesuaian, dalam hal ini seharusnya beliau tahu konsekuensi masuk dr gol 2a, jd beritanya agak ngga pas klo menyebut zack dizholimi, ane jg masuk pns mulai dr 2a gan, dan semua memang hrs ada proses2nya, semoga berkenan
Iya gan, pns dianggep gitu emang menurut orangtua emoticon-norose
Quote:


emoticon-Big Grin ane gak tau gan, mungkin bawah ane tau emoticon-Malu


yg penting gaji sama browh emoticon-Ngakak
Kalo ane jd dia mending ane keluar trs cari kerja di tempat lain..
Apalagi dia pernah lulus kuliah a.k.a sarjana
Apa lagi yg mau dia pertahanin disono?
Yang ada lama2 bakal bikin tumpul niat & usaha dia buat belajar lebih lagi..

Ane turut prihatin.. Miris..
emoticon-No Hope
×