alexa-tracking

pengorbanan dan keberanian

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52a5c89b19cb17102b8b4658/pengorbanan-dan-keberanian
pengorbanan dan keberanian (kisah cinta)
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak
dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang
Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh
memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya,
kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah
gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya
pulang dengan luka memercik darah dan
kepala yang dilumur isi perut unta. Ia
bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh
cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka
untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan
hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang
Tepercaya tak layak diperlakukan demikian
oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para
pemuka Quraisy yang semula saling tertawa
membanggakan tindakannya pada Sang Nabi
tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik
mereka dan seolah waktu berhenti, tak
memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan
untuk menimpali. Mengagumkan! Ali tak tahu
apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia
memang tersentak ketika suatu hari
mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah
dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan
paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan
jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman
dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash
Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku
rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia
dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena
ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada
Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah
bagaimana Abu Bakar menjadi kawan
perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali
bertugas menggantikan beliau untuk menanti
maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan
saudagar Makkah yang masuk Islam karena
sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman
ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi
Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin
dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan
seperti ‘Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang
dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu
Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir,
‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang
dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar
sang saudagar, insya Allah lebih bisa
membahagiakan Fathimah.
‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga
miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”,
gumam ‘Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku
mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas
cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia
mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah
menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya
yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus
menjaga semangatnya untuk mempersiapkan
diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar
Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan
perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk
Islamnya membuat kaum Muslimin berani
tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang
membuat syaithan berlari takut dan musuh-
musuh Allah bertekuk lutut.
‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang
pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga
datang melamar Fathimah. ‘Umar memang
masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun
setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang
menyangsikan ketulusannya? Siapa yang
menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar
pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua
pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan
Hamzah yang mampu memberikannya pada
kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali
mendengar sendiri betapa seringnya Nabi
berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan
‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan
‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan
‘Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di
sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan
bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar
melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan
sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh
yang frustasi karena tak menemukan beliau
Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya
berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di
siang hari dia mencari bayang-bayang
gundukan bukit pasir. Menanti dan
bersembunyi.
‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf
tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai
Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al
Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang
ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi
yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti,
silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar
adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang
banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah!
Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan
Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ‘Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki
Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah
yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar
Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah,
dua menantu Rasulullah itu sungguh
membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn
‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru
Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar
untuk mengeratkan kekerabatan dengan
mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin
Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn
‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh
semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba
kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu
membangunkan lamunan. “Mengapa engkau
tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya
firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu
Baginda Nabi.. “
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa
kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah
menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan
memberanikan diri, disampaikannya
keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya,
menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada
yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu
set baju besi di sana ditambah persediaan
tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta
waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah
menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala
dua sekarang.
“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu
nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap
bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang
siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata
itu meluncur tenang bersama senyum Sang
Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan
selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan
sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk
menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia
siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh
lebih ringan daripada menanggung beban
tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi
menyimpannya dalam hati sebagai bahtera
tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana
lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’
berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja
sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan
saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau
mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-
duanya berarti ya !”
Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan
menggadaikan baju besinya. Dengan rumah
yang semula ingin disumbangkan ke kawan-
kawannya tapi Nabi berkeras agar ia
membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan
cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau
pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa
‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah
jalan cinta para pejuang. Jalan yang
mempertemukan cinta dan semua perasaan
dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak
pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia
mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua
adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan
oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat
dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka
menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah
denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta
pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu
mengapa engkau mau manikah denganku? dan
Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya,
karena pemuda itu adalah Dirimu” ini
merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan
mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk
menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan
Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah
sesungguhnya aku telah menikahkannya
dengan maskimpoi empat ratus Fidhdhah
(dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima)
mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan
keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan
kalian berdua, membahagiakan kesungguhan
kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan
mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan
yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah
2:183, bab4)


sumber m3.eramuslim.com/oase-iman/kisah-cinta-ali-bin-abi-thalib-da-fathimah-az-zahra.htm
sory gan, ga maksud sara.
cuman td pas ane maghrib pulang, ujan2, naek motor, ban kempes, nuntun jauh sampe lecet2, ditambah nglamun, gara2 gadis idaman ane, udah 2 kali pacaran ma orla, yg trakhir ni kbrnya mau dilamar, trus ane baca2 ni cerita, hampir2 mirip ma ane.
yah lumayan menenangkan jiwa dan raga emoticon-Ngakak (S)
cuman pengen share aja buat jones2 diluar sana, masih ada secercah harapan kok. hehe
lumayan panjang dan menginspirasi kaum miskin...emoticon-Matabelo


trus pertanyaanya, kapan ente kimpoi...?emoticon-Big Grin
copas dari buku Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang ? Besok2 sertakan referensi ya..hhe
Quote:Original Posted By bhethoro.kolo
lumayan panjang dan menginspirasi kaum miskin...emoticon-Matabelo


trus pertanyaanya, kapan ente kimpoi...?emoticon-Big Grin


iya om, kaum tak berada macam ane ni jd sdikit terhibur hatinya, ternyata ada cinta yg tulus. hehe emoticon-Matabelo

ane masih belajar om, belum berani nikah, jd ya ane masih pengorbanan terus2an inih emoticon-Ngakak (S)
tp ntar misal pas ane udah sukses, dan doi masih single, langsung ane lamar (padahal blm tentu mau, banyakan nolaknya kynya) wkwkwkw
"ya karna lelaki itu adalah kamu"..

kamunya yg lg ga ada emoticon-Frown
Quote:Original Posted By asy.syifa
copas dari buku Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang ? Besok2 sertakan referensi ya..hhe


eh iya td baca2 dr web aja, ntar ane kasih sumbernya.
makasih udah diingetin :-)
Quote:Original Posted By di.......an
"ya karna lelaki itu adalah kamu"..

kamunya yg lg ga ada emoticon-Frown


kalau saja itu benar, alangkah bahagianya sayaemoticon-Frown