alexa-tracking

[OriFic] Peluru Yang Membunuh Sunyi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52a5999cf8ca17e57a8b45d7/orific-peluru-yang-membunuh-sunyi
[OriFic] Peluru Yang Membunuh Sunyi
Quote:


Quote:


Sinopsis : Seorang perempuan bernama Lia suatu hari mendapat sebuah surat yang memintanya untuk datang kesuatu tempat. Lia yang memutuskan untuk pergi dan mencari tahu apa maksud dari surat itu pun bertemu dengan seorang gadis bernama Carza. Carza pun membuat sebuah penawaran, yang pada nantinya penawaran itu akan mengubah hidup Lia selamanya.

Genre : Fantasy, Action, Super-human, Psychological
Status : Ongoing

Quote:
Bagian 1 : Doppelgänger

Quote:
Bagian 2 : Sebuah Penawaran


Quote:
heheh cerita lanjutannya yaemoticon-Matabelo
ceritanya lumayan gaya bahasa nya juga bagus emoticon-Smilie

kalo menurutku sih seperti cerita yang dibuat puisi, walau gak biasa tetep mantep kok emoticon-Malu (S)
Quote:


wahhh, thank you. dipantau terus ya..
minggu depan saya update bagian 3 nya, plot nya nanti sedikit2 saya buka.. emoticon-Smilie
CTRL+D dan ninggalin jejak dulu gan..
biar gampang nyarinya, soalnya ane lagi ada keperluan...

keep posting gan...emoticon-Kiss

Bila...

Quote:
kapan lagi gan gw komen di thread FS, ah elah, sini sujud lu ma gw emoticon-Traveller

penulisan model 1 kalimat 1 baris, jujur aja gw suka dengan model kayak gini, lebih mudah gw cerna. maklum, gw rada lelet buat memproses sebuah bacaan emoticon-Embarrassment
cuman, ko tiap update beda font ma ukuran? sengaja? emoticon-Bingung
Wah, gaya penulisan yang menarik. Gabungan puisi, prosa dan fiksi fantasi mengingatkan aku pada gaya tulisan Herlinatiens. Cuma si Tiens lebih Gibran banget, sedangkan Nick ini lebih ringan diksinya, cuma tetap berupaya memperhatikan irama tiap kalimat. Plotnya kayaknya udah ditancep kukuh. Buntut-buntutnya kayaknya bakalan ada twist yang menghentak nih (paling enggak harapanku gitu).

Btw, Nick kayaknya banyak kegelisahan yang ingin disampaikan lewat fic ini deh. emoticon-Malu



Quote:


Sasuga Yang Mu4lay P0nos... \emoticon-Belo/
Keahliannya menangkap beda font dan ukuran selayaknya anak... emoticon-Shutup
Quote:


aaa, kk ceronox. thank you udah mampir emoticon-Kiss
iya, sengaja. tadinya malah pengen dikasih campuran angka dan huruf gede-huruf kecil, biar kayak anak alay... emoticon-Ngakak (S)

Quote:


wahh, suka baca puisi juga ya?? emoticon-Smilie
iya, ditunggu ya plot twist nya. semoga sesuai harapan... XD
sudah update nih, bagus gan gak mengecewakan emoticon-Matabelo emoticon-Kiss

Menunggu (apa?)

Siang itu, aku sangat ingin pelajaran cepat selesai
Mataku menatap kosong ke luar jendela
Mencoba menangkap dan mencoba berharap

Suara didepan kelas yang sedang bercerita
Entah mengapa, suara itu bagaikan lirih tanpa daya
Mungkin ia tahu kalau tak ada yang mendengarnya
“Lalu kenapa ia tetap bercerita panjang?”
“Ya, mungkin tidak ada yang mendengar.”
“Tapi apabila ruang diputar, apakah aku akan berhenti bercerita? Apakah aku akan menghentakkan kaki untuk pergi dari kelas ini”
“Bukankah itu sama saja dengan menyerah?”
Aku bergumam


--*-*--


Sore itu pukul empat
Aku pun bersiap-siap
Dan disaat aku akan beranjak, keluar dari gedung ini
Sinar matahari sore telah menjingga, memberi warna indah pada dinding sekolah
Terdengar helaan nafas para pria yang tengah mengejar bola
Dan juga gurauan muda-mudi yang ingin berkaraoke
Tersisip nada kecewa tengah membahas jawaban ulangan fisika
Dihibur gemulai daun gugur yang menari bersama angin sore
Kanvas penuh warna, yang sebagian orang katakan sebagai “masa muda”

Angin sore yang berhembus itu menerbangkan debu pasir ke mataku
Aku pun mencoba menguceknya, pandangan ku pun terasa kabur
Dan disaat kedua mataku kembali bekerja
Aku melihat sesosok perempuan di ujung gerbang sana
Entahlah, tapi aku seperti ingin lari darinya
“Ahh, aku sudah menunggumu dari tadi.” Carza mengatakannya dengan senyum ramah
“Bagaimana, apa kau sudah memikirkan apa yang aku tawarkan kemarin?”

Sebuah pertanyaan yang tidak ingin aku jawab
Aku ingin lari, namun rasanya percuma

“Berikan aku waktu seminggu untuk menjawabnya?” Aku mencoba memberikan alasan
“Apakah kau yakin? Apabila aku memberimu waktu seminggu apakah aku akan mendapatkan jawabannya? Atau saat seminggu telah usai kau akan meminta seminggu yang lain?”
“Aku bukan tipe orang yang mengingkari janji, lagipula bertukar tempat itu ide yang gila!” sekali lagi, aku mencoba memberikan alasan
“Itu bukan hal yang gila, apa kau pernah membaca cerita tentang seorang putri yang bertukar tempat dengan seorang rakyat biasa dari kerajaannya? Kedua putri itu mempunyai ciri fisik yang sama, seperti kita. Kau tidak perlu khawatir.”
“T-tapii, aku belum siap” untuk ketiga kalinya, aku memberikan alasan
“Baiklah, aku menganggap kau tertarik dengan penawaranku. Hanya saja kau belum siap, apa begitu?”
“Ya, kurang lebih”



--*-*--


“Ahh, sebuah pesan.”

Spoiler for Anda mendapat 1 pesan baru:


“Kerja kelompok? ahhh. Apa nanti tugas ini akan benar-benar dikerjakan berkelompok?”
Aku membuang tubuh ku keatas kasur
Merenggangkan tangan dan kaki ku sambil menggeliat
Menatap kosong ke dinding-dinding penuh corak
Mataku terasa berair dan berat
Mulutku menguap hebat
“haaaaaaa”
Saat bibirku kembali beradu, aku bisa merasakan sedikit rasa jeruk
Sisa-sisa lipbalm yang kupakai tadi pagi
Itu membuatku merasa sensual dan seksi

Aku meraih guling dan bantal
Mencoba mencari posisi yang nyaman
Seragam ku yang berantakan
Membuat pinggul ku sedikit menyembul keluar

Mataku pun terasa semakin berat…


“Tok, tok, tok”

Mataku terasa berbayang berusaha mencari fokus
Pintu diketuk sekali lagi, kali ini sedikit lebih kencang
“Lia, ayo makan bareng nenek. Jangan Tidur terus”
“Iya sebentar lagi” sahut ku


--*-*--


“Bagaimana sekolahmu?”
“Ya, begitulah. Baik-baik aja kok”
“oh iya, surat yang kemarin itu dari siapa? Dari pacarmu ya?”
“ahh, bukan kok nek”


Aku tidak ingin membicarakan ini

“oh iya, besok aku akan ada tugas kelompok, mungkin akan menginap” aku berusaha mengalihkan pembicaraan
"oh baiklah kalau begitu, hati-hati. kalau ditempat orang jasa sopan santun ya"
"iya donk" jawabku


--*-*--


Pancuran air hangat jatuh diatas kepala
Mengalir lembut membasahi bibir yang kering
Menuju leher yang ramping dan membasahi klavikula

Aku menyisir rambutku kebelakang dengan jari-jari tangan
Airnya pun jatuh menuju punggung
Dan menari-nari kecil disekitar pinggul
Berbelok meliuk menuju kaki yang satu

Perjalanannya pun berhenti diatas keramik yang putih
Mengalir deras menuju lubang dimensi
Entah kemana tetesan air itu akan pergi
Mungkin suatu saat ia akan menjadi secangkir kopi
Membantu menenangkan seseorang dengan aromanya
Perjalanan yang sangat jauh, untuk mencari sebuah arti
“Terima kasih…”

Aku bersyukur dalam helaan nafas
Aliran air pun semakin deras
Aku bisa merasakan beberapa tetes air mencoba masuk kedalam mulutku
Mencoba menundukkan kepala agar air-air itu jatuh
Menggoyangkan kepalaku ke atas dan kebawah
Dan membuang air itu dengan sedikit meludah

Seketika aku mengingat kejadian sore ini
Seorang gadis yang entah dari mana
Tiba-tiba ingin bertukar posisi
Rasanya seperti film saja, dan kurasa semua film tentang bertukar ini selalu berakhir bahagia
Tapi sebagian diriku merasa takut, walau sebagian lagi merasa tertarik
Sebuah keluarga baru yang utuh
Lingkungan yang baru
Dan mungkin juga teman

Ahh, kedua mataku terasa sedikit perih
Aku berusaha menguceknya sekali lagi
Namun setelah aku berhenti
Semua terasa hitam, semuanya gelap
Aku menguceknya sekali lagi, dan hal yang sama terjadi
Aku tidak bisa melihat apa-apa
Aku mencoba meraba-raba

“Wah, lampunya mati”

Aku bisa merasakan suara genangan air terinjak dibawah kakiku
Aku berhasil meraih handuk, dan mengeringkan wajahku
Dan ketika mataku telah terbiasa dengan gelap
Aku merasa sesuatu memelukku erat
Dari arah belakang dan mencoba menutup mulutku
Aku berusaha untuk memberontak
Tapi aku terjatuh karena licin
Nafasku semakin sesak
Mataku menjadi berat


--*-*--


“Aku tidak bisa menunggu lagi, kita harus melakukannya sekarang”
“Baiklah”



--*-*--


“Menunggu? Menunggu apa?” Gumamku
Aku bisa melihat cahaya-cahaya yang bergerak cepat dan searah
Sangat cepat dan terlihat indah
Berwarna kuning, putih dengan sedikit merah dan biru
Semuanya bergerak searah seperti meninggalkanku
Terlalu cepat, mataku terlalu berat untuk melihat


--*-*--


"Bangunlah, waktunya sarapan!”
Suara yang kasar dan menakutkan
Bayangan besar yang seperti tidak tahu bagaimana bersenang-senang
Aku mencoba berdiri, dan kemudian jatuh lunglai
Pergelangan kaki dan tanganku terasa dingin dan berat
Aku seperti mendengar suara gesekan rantai
Telapak tanganku gemetar dan berkeringat

“Aku dimana?”
btw, mengucek itu bahasa bakunya apa sih??
gw udah muter otak dari tadi pagi gak dapet2, emoticon-Ngakak
Quote:


Menggosok kayaknya Gan, btw keren ini tulisannya kaya baca puisi yang panjangnya se kertas dobel folio, jadi gampang bacanya. emoticon-Jempol

Awal Yang Menyakitkan

Aku berdiri di depan sebuah pintu
Yang selanjutnya akan mengutuki diriku
Mengetuknya, menunggu jawaban dari tuan rumah

“hei Lia, cepat sekali kau datang, ayo masuk
Yang lain belum datang, duduk di ruang tamu dulu aja ya”
Sahut si pria
“…”
Aku hanya tersenyum


--*-*--


Aku menunggu mereka untuk datang
Dengan sedikit rasa tidak sabar
DIa terlalu banyak diam
Namun aku menemukan itu sebagai sebuah keanggunan
Matanya yang terlihat lelah, dan pandangan kosong nya kearah jendela
Aku ingin pandangan itu
Melihatku

“Norman, ada tamu. Tolong dibukakan, ibu sedang memasak”
“Ya, baik bu.”


Aku berjalan ke pintu depan yang diapit oleh dua jendela disampingnya
Tirai jendela itu terbuka dan membiarkan matahari masuk menghangatkan ruang
Dan disaat pintu kecoklatan itu aku buka
Aku menemukan sesosok siluet indah, hatiku berdegup kencang
“hei Lia, cepat sekali kau datang, ayo masuk
Yang lain belum datang, duduk di ruang tamu dulu aja ya”
Sambut ku

Mata nya terlihat berbeda
Senyumnya indah seperti biasa


--*-*--


Dua puluh lima maret, disisi lain kota ini
Tepat di depan sebuah kantor polisi
Dua motor yang masing-masing nya terdapat dua orang berhenti
Mereka bergegas masuk, menuju sebuah ruangan diujung kiri lorong panjang
Mendobrak masuk, namun ruangan itu kosong tiada isi
Dari belakang mereka mendengar suara tembakan
Dan disaat moncong laras ditinggalkan para gotri
Bola-bola kecil itu menyebar menghantam
Orang yang seharusnya mereka habisi dengan keji
Kini tersenyum dengan puas dan kejam

Pria yang berdiri di depan tiga pria yang lain kini kepayahan
Darah mengalir dari lehernya yang kekar
Dengan sisa tenaga ia berkata “kami akan menang”
Keheningan malam mengantarkan mereka tertidur

Penembak itu pun tertawa, merasa senang untuk terakhir kalinya
Sebelum isi perut mayat pria itu berserakan keluar
Bersamaan dengan tenaga maha dahsyat yang menghancurkan tulang
Jilatan api besar menampar pipi yang tertawa, menghancurkan bibir tebalnya

Ledakan semakin besar
Api nya semakin tebal dan bengis
Jendela-jendela kaca pecah, berserakan
Merobek kain hitam yang membutakan Themis


--*-*--


“Aku dimana?”
“Kau ada di penjara ambang karena percobaan pembunuhan”
“Haaa, kapan? Apa maksudmu? Aku tidak pernah melakukan itu”

Tiba-tiba telingaku berdengung kencang
Sepatu hitamnya menghantam ku dengan keras
Aku terjatuh, menangis, menjerit kesakitan
“Diam!”
Tubuh besar itu meneriakiku
Ia meludah ke wajahku dan bergegas pergi dari ruang sempit ini

Aku mencoba mengambil piring yang tadi ia lempar
Aku bersandar di dinding dan duduk, perutku lapar
Aku mencoba mengunyah makanan ini
Sesekali aku mendengar suara rantai yang beradu
Suara kepala yang dibenturkan ke tembok
Suara tua yang bersenandung merdu
Dan teriakan keras yang mengolok

Disaat makanan di atas piring telah habis
Dengungan di telingaku pun berhenti
Sakitnya hilang ditelan bumi
Akal sehatku pun telah kembali
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi
“kenapa aku bisa ada disini?”
Pikiranku panjang dan disaat aku hampir menemukan jawaban
Aku mendengar sebuah ledakan besar
Suara tembakan yang berseling
Selongsong kosong yang jatuh menggelinding
Suara besar yang tadi kini meneriakan rasa sakit
Aku menyembunyikan wajahku ke lantai
Dan disaat pintu kayu ruangan kembali berderit
Tubuhku makin gemetar

“Maaf Lia, bangunlah. Aku akan menjelaskan ini semua”

Suara itu…

Anak Kecil Di Ujung Meja

Aku terbangun disebuah ruangan yang temaram
Terbaring tepat di tengah-tengah ruangan
Ada seorang lagi yang sedang terbaring kehilangan kesadaran
Namun sepertinya dia belum juga siuman
Dikepalanya ada perban yang melingkar
Di sisi lain ruangan ini ada dua manusia yang tak kukenal sedang bersandar
Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan

Wanita berambut pirang itu sungguh cantik
Matanya biru indah dan wajahnya tirus
Disampingnya ada seorang lelaki bertubuh tinggi sedikit kurus
Mereka memakai setelan baju yang sama
Dan sepertinya setelan itu pernah aku lihat sebelumnya

“aaa, jangan merokok terus donk Fiq!” seru si wanita itu sambil mencoba merampas kretek yang baru saja dinyalakan
“ya aku akan berhenti merokok kalau kau sudah tambah tinggi” goda si lelaki
“ayo coba ambil rokoknya, kalau bisa nanti aku berhenti deh” lelaki itu kembali menggoda

Wanita itu melompat-lompat mencoba meraih rokok dari tangan lelaki itu, lelaki itu pun tidak mau kalah dan mengangkat tangannya keatas sambil berjinjit. Wanita itu pun lelah dan berhenti melompat, memandang wajah si lelaki dengan sebal. Lelaki itu kemudian tersenyum dan ketika ia menurunkan tangannya dan menempelkan bibirnya ke ujung kretek, tiba-tiba wanita itu langsung melompat dan merebutnya.

“aaa, kembalikan” si lelaki merengek

Mereka berdua pun berlarian di sekeliling ruangan, sepertinya mereka tidak sadar kalau mataku sudah terbuka lebar.

“aku tidak akan mengembalikannya, weee” wanita itu terus berlari sambil melihat ke belakang, dan menjulurkan lidahnya.

Ia terus melihat kebelakang karna takut akan terkejar, hingga ia lupa melihat kedepan dan jatuh terpental. Kretek yang dipegangnya terjatuh ke atas lantai, si wanita itu mencoba menjaga keseimbangan namun ia gagal. Paha putihnya menindih ujung kretek yang menyala, ia meringis dan segera bangkit menghindar.

“fiq…” wanita itu mengiba, berharap si lelaki memaafkannya

Lelaki itu pun duduk mendekati si wanita yang sedang meniupi paha nya. Ia mengepalkan tangan kirinya diatas jidat si wanita dan memukul lembut kepalan tangan kirinya dengan kanannya. Seperti gerakan sebuah palu yang memukulkan paku ke dinding putih, namun dilakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.

“dasar bodoh” kata pria itu halus

Lelaki itu meletakan kedua telapak tangannya di atas paha wanita itu dengan lembut, wanita itu memejamkan matanya menahan rasa perih dan pipinya memerah. Lelaki itu pun tersenyum dan berkata:

“gak apa-apa kan se….”
“a-a ada orang cabul” potongku

Mereka pun terkejut dan si lelaki langsung berdiri sambil menggeleng-gelenggkan kepalanya dan menyilang-nyilangkan kedua tangannya. Wanita itu langsung menatapku dengan sinis, membuang wajahnya dan langsung berjalan keluar ruangan.

--*-*--

“hei, aku ini ada dimana?”
“kau sedang ada di markas kami” ia memungut kretek yang terjatuh di lantai itu dan kembali menyalakannya.
“haaa, markas?? Dan kau ini siapa? Kenapa aku disini? Dan apa kau kenal dengan perempuan bernama Carza?”
“hei, jangan membombardir ku dengan banyak pertanyaan sekaligus. Aku akan membawa mu langsung ke Carza, aku takut salah ngomong, ayo ikut aku” ajaknya

--*-*--

Kami berdua pun berjalan di lorong yang hitam
Tempat ini sepertinya tidak terawat sama sekali
Lorongnya terlihat seperti dibuat dari lempengan-lempengan besi
Yang ditempelkan begitu saja diatas permukaan tanah
Beberapa lempengan besi itu terlihat berkarat dan berlumut
Kau bisa melihat beberapa ekor semut sedang berjalan di antara dua lempengan besi yang tidak menutup dengan presisi
Berbaris dengan rapih dan masuk kedalam lubang sarang untuk beristirahat melepas letih

Kami pun sampai ke sebuah ruangan, ada beberapa orang disana
Di ujung jauh meja persegi ini ada seorang anak kecil yang sedang menengadah
Ia duduk diatas kursi kayu, matanya menutup seperti memikirkan sesuatu

“oii, apa Carza masih ada disini?” tanya si lelaki tinggi
“dia sudah pergi” jawab anak itu
"aah, sayang sekali" jawab si lelaki tinggi
“kalian semua bisa keluar sekarang” lanjut anak kecil di ujung meja

Orang-orang itu pun segera berhambur keluar, meninggalkan kami bertiga di ruangan ini.

“Duduklah” anak kecil itu kini memangku dagu nya diatas tangan kanannya

Aku pun duduk di dekatnya, sedangkan lelaki itu tetap berdiri disampingku

“Carza sudah pergi lagi, ia memang suka terburu-buru dan tidak mau menunggu” anak kecil itu berbicara
“jangan khawatir, kau aman disini. Kini Carza menggantikan tempatmu,” Lanjutnya

“hei, tunggu. Bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku aman disini? Kemarin kepalaku baru saja ditendang, dan wajahku diludahi. Aku diculik saat sedang mandi! Apa-apaan semua ini? Kembalikan aku ke rumah ku detik ini juga!” aku berteriak dengan penuh amarah

Aku menggebrak meja dengan keras
Namun anak kecil ini tidak bergeming sedikitpun
Mata ku memerah, aku sangat bingung , aku marah
Aku ingin memukulnya, saat tanganku sudah melayang diudara
Tepat didepan wajahnya
Lelaki tinggi yang tadi menahan tanganku
Aku memberontak, namun ia terlalu kuat
Aku menangis sejadi-jadinya dan terduduk di kursi
Menutup wajahku dengan telapak tangan agar mereka tidak melihat air mataku, aku jatuh dalam lubang yang disebut depresi
Aku hanya ingin pulang dan melupakan semua ini

“Kau tidak mungkin pulang, apabila kau kembali sekarang. Kau akan mati” jawabnya

Mataku terbelalak, nafasku sedikit sesak
Apa sebetulnya yang sedang terjadi
Tangisku makin menjadi
Seminggu yang lalu hidupku sangat tenang di dalam kamarku
Aku sangat menyesal pernah mengutuki kehidupanku dulu
Tolong bawa aku kembali
Aku sangat tidak mengerti
Apa yang sebetulnya terjadi
Aku ingin seseorang menjelaskannya dengan rinci
Tentang ini semua, tentang semua ini

“Kau sedang berada di masa depan, kau tidak bisa kembali sekarang. Ada seseorang yang menginginkan kematianmu. Kini Carza sedang menggantikan tempatmu di masa lalu, bersabarlah.”

Kepalaku semakin sakit
Aku memegangi kepalaku dengan erat, memastikan ia masih ada dan tidak berpindah tempat
Aku memegang dadaku karna sesak
Memastikan jantungku masih berdetak
btw, untuk teks percakapan
enaknya dipisah dari narasi deskriptif atau enggak ya? saya masih nyari2 yg enak dan nyaman untuk dibaca
soalnya klo disambung kayanya kurang enak diliat gitu...
mohon masukannya
Quote:


lebih baik dipisah aja gan, takutnya narasi nanti bergabung sama percakapan, end hasil akhir cerita jauh lebih sulit dimengerti.

"Tuhan" yang Menghilang



Aku berjalan menuju sekolah seperti gadis-gadis lain seusiaku
Sesuatu yang tidak aku rasakan dan lakukan di masa itu
Aku tersenyum dengan penuh kehati-hatian
Bersenang-senang ditengah sebuah pertempuran
Aku terus berjalan lalu menyebrang diatas sebuah jembatan penyebrangan
Jembatan itu sepi, entah kenapa mereka lebih senang menyebrang dibawah selangkangannya
Ditengah serbuan kendaraan dari kiri dan kanan, mempertaruhkan nyawa
Aku berhenti di tengah jembatan untuk sekedar melihat-lihat gedung-gedung disekelilingku
Aku memangku dagu ku dengan telapak tangan, seperti sedang menunggu sesuatu
Seketika aku mendengar teriakan Elang Gurun yang seperti sedang berburu mangsa
Dua peluru yang meluncur bersiap-siap menghancurkan isi kepala
Aku pun menutup mata dan berusaha menghentikannya


“sial, dimana dia?” si pemilik Elang terlihat kebingungan

“kau butuh lebih dari sekedar ini untuk membunuhku”

Tubuhnya pun seketika kaku tak bergerak
Aku mengeluarkan pisau lipat ku, dan menusuk lehernya dari belakang
Aku bisa merasakan mata pisau ku bergesekan dengan sebaris tulang
Aku mencabutnya perlahan, merasakan gesekan pisauku yang merobek dagingnya
Aku kembali menghunusnya dari leher sebelah kanan
Menembus dan menyobek isi kerongkongan
Aku bisa melihat ujung mata pisau ku menyembul sedikir di leher kiri pria ini
Aku bisa merasakan aliran darahnya berhenti
Lubang di leher depan dan kiri hanya mengeluarkan sedikit darah
Yang terdorong oleh tenaga ku saat menghunuskan pisau ini
Aku mengambil senjata dari tangannya dan bersiap mengucapkan perpisahan
Saat aku turun dari jembatan, aku menjentikan jariku
Membuka kurungan yang kubuat disekeliling pria itu
Darah segar pun langsung mengalir deras dari empat sisi lehernya, membuatnya kesulitan bersuara
Sebuah pemandangan yang mencekam dan menakutkan
Aku beruntung tidak perlu melihat darah sebanyak itu
Apabila aku melihatnya mungkin aku akan mengeluarkan isi perutku
Dan seragam sekolahku pun akan penuh darah
Tentu aku tidak mungkin pergi ke sekolah seperti itu
Dari jauh aku bisa mendengar teriakan seseorang dari sana
Namun apa artinya satu buah jiwa dibanding seluruh isi dunia?


--*-*--


Aku tiba di sekolah, dan duduk di meja paling belakang tepat di samping jendela
Tiba-tiba saja ada seorang pria menegurku

“Hei Lia, ini kan meja ku” katanya

“Oh, maaf. Aku lupa. Heheee “

“Cepat, kembali ke mejamu sana” sembari menunjuk dua meja didepannya

Aku pun duduk disana, menunggu pelajaran mulai.

“Hei Lia, sabtu kemarin kamu ke rumah Norman gak??” tanya seorang perempuan didepanku

“Enggak, sabtu kemarin aku gak enak badan. Hehee, memangnya ada apa?”

“Norman hilang dari rumahnya, katanya sih diculik”

“Hah, masa sih? Serius nih?” aku berusaha memperlihatkan wajah kaget

“Iya, kata ibunya sih terakhir si Norman itu bukain pintu untuk tamu, setelah itu dia gak kelihatan lagi”

“Ya, ampun. Terus gimana, orang tuanya udah lapor polisi?” kali ini aku serius

“Udah, makanya aku juga pusing nih. Tugas kelompok kita bagaimana ya, biasanya kan si Norman yang ngerjain semuanya”

“Duh, teman lagi hilang masa mikirin tugas kelompok sih?” celetuk perempuan yang baru saja datang dan langsung duduk disampingku

“Ya, terus gimana donk?” tanya perempuan yang pertama

“Itu kan dikumpulin hari Jum’at, jadi kita tunggu sampai hari rabu. Siapa tahu Norman udah ketemu.” jawab perempuan yang kedua

“Kalau masih belum ketemu bagaimana?” tanyaku

“Begini saja, kita coba tanya mama nya Norman apa yang bisa kita bantu. Semakin cepat ketemu kan semakin baik.” Tiba-tiba perempuan berkacamata yang duduk disamping perempuan pertama ikut berbicara

Akhirnya kami pun memutuskan untuk mencoba menawarkan bantuan. Sebuah bantuan untuk mencari seseorang yang seharusnya tidak kami cari.


--*-*--


Sekolah pun usai, kami pun bergegas pergi ke rumah Norman
Seseorang yang di masa depan nanti akan menjadi besar
Satu dari beberapa orang yang nantinya akan bermain-main menjadi “Tuhan”

Kami semua ada tujuh orang, empat perempuan dan tiga laki-laki. Menurut mereka memang biasanya Norman yang hampir mengerjakan semua tugas kelompok, yang lain tinggal melakukan tugas-tugas kecil seperti fotocopy atau menjadi mediator saat presentasi tugas.

Aku pun kembali berdiri didepan pintu itu


--*-*--


“Ahhh, gimana donk nih?” gadis pertama yang duduk didepanku itu bertanya. Ia sedikit gemuk, rambutnya hitam panjang terurai.

“Ya, gak ada pilihan lagi Cha. Kita harus nyelesain tugas itu tanpa Norman” timpal gadis yang di kelas tadi duduk disamping ku.

“Ahh, perempuan ini Cha” gumamku dalam hati

“Padahal kalo ibu nya Norman mau nerima bantuan kita, mungkin dia akan ketemu lebih cepat ya.” Cha berujar kecewa

“Ya, toh kita juga sebetulnya gak bisa apa-apa kan. Yang penting kita udah kesana dan niat untuk ngebantu, itu udah cukup. Tinggal serahin semua ke polisi” kata si gadis cantik yang duduk disampingku saat di kelas.

“Jadi kita ngerjain tugasnya dimana nih?” lanjutnya

“Ya udah, kita kerjain di rumahmu aja Rin” kata gadis gemuk itu

“Ahh, gadis cantik ini Rin” aku kembali mencatat nama mereka dalam ingatanku

“Waduhh, gak bisa. Rumah ku sempit” jawab Rin

“Alesan aja kamu” sergah gadis berkacamata

“Huh, ya udah di rumah kamu aja gimana?” Timpal Rin

“Boleh-boleh aja.” Jawab gadis berkacamata itu

“Ahhh, tapi rumah Lidya kan jauh” protes seorang lelaki dengan gesture agak feminism

“Oh, jadi si kacamata ini Lidya” aku menghafal nama mereka

Ahh ya, dua lelaki lain yang seharusnya ada disini untuk membicarakan masalah tugas kelompok pulang lebih dahulu. Meninggalkan kami berlima disini.
Aku meminum frosty ku yang berwarna-warni, lalu menawarkan diri

“Ya sudah, dirumah ku saja” usul ku

Mereka semua terdiam dan seperti melihat aneh ke arahku, kecuali Lidya.

“Oh ya sudah, kalau begitu kita ngerjain tugas nya di rumah Lia. Besok aja ya, gimana?” kata Lidya.

“Oke deh. Wah, jarang2 nih” kata Cha sembari senyum-senyum kearah Rin dan lelaki feminim itu.


--*-*--


Aku pun segera pulang ke rumah
Ditemani cahaya jingga matahari yang lelah
Didalam mobil biru langit yang berjalan tergesa-gesa
Sesekali seorang penumpang memprotes si supir tua
“pelan-pelan aja pak” katanya
Namun, sepertinya si supir tua tidak mendengarnya
Atau mungkin tidak memperdulikannya
Yang aku tahu, aku hanya ingin tiba di rumah secepatnya
Untuk menyusun langkah selanjutnya


Aku pun tiba dirumah

"aku pulang nek"

"aaa, Carza" sahutnya

Kami pun melempar senyum satu sama lain


--*-*--


Di sisi lain kota ini
Disebuah ruangan persegi
Yang dipenuhi laki-laki berseragam
Yang di pinggangnya terdapat senapan
Mereka bercakap-cakap ditemani gelas-gelas hitam
DItengah ketegangan malam yang semakin kelam


“Hartono sudah mati dibom oleh mereka” kata seorang pria berkumis

“Tapi bagaimana mungkin? Bukankah mesin waktunya sudah kita hancurkan? Dan hanya tersisa satu di Illinois?”

“Aku tidak tahu detilnya, tapi yang pasti kita sudah terlambat untuk membunuh “ratu”” kara pria berkumis itu lagi

“Balthashar juga ditemukan tewas pagi ini, lehernya ditusuk dua kali”

Pria berkumis itu pun terlihat memutar otaknya, menghentak-hentakkan jarinya ke atas meja. Lalu menggebraknya sekuat tenaga.

“Kita harus lebih berhati-hati. Jangan ada pion yang terbuang percuma” Teriaknya
×