alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/529ef91120cb17ae4f000074/menangkal-amp-mengobati-sihir-sesuai-petunjuk-rasululloh-muslim-only
Menangkal & Mengobati Sihir Sesuai Petunjuk Rasululloh (Muslim Only)
SEKILAS TENTANG HAKIKAT SIHIR

Secara etimologis, sihir artinya sesuatu yang tersembunyi dan sangat halus penyebabnya. Sedangkan menurut istilah syariat, Abu Muhammad Al Maqdisi menjelaskan, sihir adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau pun buhul-buhul yang bisa memberi pengaruh terhadap hati sekaligus jasad, bisa menyebabkan seseorang menjadi sakit, terbunuh, atau pun memisahkan seorang suami dari istrinya. [1]

Jadi sihir benar-benar ada, memiliki pengaruh dan hakikat yang bisa mencelakakan seseorang dengan taqdir Allah yang bersifat kauni . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَيَتَعَلمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَاهُم بِضَآرينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللهِ

“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang bisa mereka gunakan untuk menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka (ahli sihir) itu tidak dapat memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah” [Al Baqarah : 102].

Demikian juga firman Allah yang memerintahkan kita berlindung dari kejahatan sihir :

وَ مِنْ شَر النفاثاَتِ فْي العُقَدِ

“Dan (aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembuskan pada buhul-buhul”. [Al Falaq : 4].

Seandainya sihir tidak memiliki pengaruh buruk, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memerintahkan kita agar berlindung darinya.[2]

Sihir juga pernah menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu ketika seorang Yahudi bernama Labid bin Al A’sham menyihir Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aisyah rahimahullah menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ سُحِرَ حَتى كَانَ يَرَى أَنهُ يَأْتِي النسَاءَ وَلَا يَأْتِيهِن

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir, sehingga Beliau merasa seolah-olah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak melakukannya”.[3]

Berkaitan dengan hadits ini, Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan: “Sihir adalah salah satu jenis penyakit diantara penyakit-penyakit lainnya yang wajar menimpa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti halnya penyakit lain yang tidak diingkari. Dan sihir ini tidak menodai nubuwah Beliau. Adapun keadaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu, seolah-olah membayangkan melakukan sesuatu, padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya. Hal itu tidak mengurangi kejujuran Beliau. Karena dalil dan ijma’ telah menegaskan tentang kema’shuman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sikap tidak jujur. Terpengaruh sihir perkara yang hanya mungkin terjadi pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah duniawi yang bukan merupakan tujuan risalah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diistimewakan lantaran masalah duniawi pula. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa yang bisa tertimpa penyakit seperti halnya manusia. Maka bisa saja terjadi, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikhayalkan oleh perkara-perkara dunia yang tidak ada hakikatnya. Kemudian perkara itu (pada akhirnya) menjadi jelas sebagaimana yang terjadi pada diri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.[4]

Sihir memiliki bentuk beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Di antara contohnya adalah tiwalah (sihir yang dilakukan oleh seorang istri untuk mendapatkan cinta suaminya/pelet), namimah (adu domba), al ‘athfu (pengasihan), ash sharfu (menjauhkan hati) dan sebagainya. Sebagian besar sihir ini masuk ke dalam perbuatan kufur dan syirik, kecuali sihir dengan membubuhi racun atau obat-obatan serta namimah, maka ini tidak termasuk syirik.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan: “Sihir termasuk perbuatan syirik ditinjau dari dua sisi.

Pertama : Karena dalam sihir itu terdapat unsur meminta pelayanan dan ketergantungan dari setan serta pendekatan diri kepada mereka melalui sesuatu yang mereka sukai, agar setan-setan itu memberi pelayanan yang diinginkan.

Kedua : Karena di dalam sihir terdapat unsur pengakuan (bahwa si pelaku) mengetahui ilmu ghaib dan penyetaraan diri dengan Allah dalam ilmuNya, dan adanya upaya untuk menempuh segala cara yang bisa menyampaikannya kepada hal tersebut. Ini adalah salah satu cabang dari kesyirikan dan kekufuran”.[5]

Hukum mempelajari dan melakukan sihir adalah haram dan kufur. Hukuman bagi para tukang sihir adalah dibunuh, sebagaimana yang diriwayatkan dari beberapa orang sahabat [6]. Dan sihir merupakan perbuatan setan. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَاتبَعُوا مَا تَتْلُوا الشيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَاكَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكن الشيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلمُونَ الناسَ السحْرَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), tetapi setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia”. [Al Baqarah : 102]

PETUNJUK NABI UNTUK MENANGKAL DAN MENGOBATI SIHIR

Seperti telah dijelaskan oleh para ulama, sihir termasuk jenis penyakit yang bisa menimpa manusia dengan izin Allah Azza wa Jalla . Tidaklah Allah Azza wa Jalla menurunkan satu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obat penawarnya. Dan seorang muslim dilarang berobat dengan sesuatu yang diharamkan Allah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda :

مَا أنْزَلَ اللهُ دَاءً إلا أنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah akan menurunkan pula obat penawarnya”.[7]

Seorang muslim dilarang pergi ke dukun untuk mengobati sihir dengan sihir yang sejenis. Karena hukum mendatangi dukun dan mempercayai mereka adalah kufur. Apatah lagi sampai meminta mereka untuk melakukan sihir demi mengusir sihir yang menimpanya, ataupun untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh anak dan sanak saudaranya, atau hubungan suami istri dan keluarga, tentang barang yang hilang, percintaan, perselisihan dan sebagainya. Hal itu merupakan perkara ghaib dan hanya Allah Azza wa Jalla saja yang mengetahui. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أتَى كَاهِنًا أوْ سَاحِرًا فَصَدقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, kemudian ia membenarkan (mempercayai) perkataan mereka, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”.[8]

Para dukun, paranormal, tukang sihir dan peramal itu hanya mengaku-ngaku mengetahui ilmu ghaib berdasarkan kabar yang dibawa setan yang mencuri dengar dari langit. Para dukun itu, tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan kecuali dengan cara berkhidmah, tunduk dan taat serta menyembah tentara iblis tersebut. Ini merupakan perbuatan kufur dan syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

هَلْ أُنَبئُكُمْ عَلَى مَن تَنَزلُ الشيَاطِينُ {212} تَنَزلُ عَلَى كُل أَفاكٍ أَثِيمٍ { 222} يُلْقُونَ السمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”. [Asy Syu’ara`: 221-223].

Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya kepada dugaan dan asumsi bahwa cara yang dilakukan para dukun itu sebagai pengobatan, misalnya tulisan-tulisan azimat, rajah-rajah, menuangkan cairan yang telah dibaca mantra-mantra syirik dan sebagainya. Semua itu adalah praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia. Barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sungguh ia telah ikut tolong-menolong dalam perbuatan bathil dan kufur.[9]

CARA PENECGAHAN DARI SIHIR YANG DIAJARKAN RASULULLAH[10]


1- Dalam setiap keadaan senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan bertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala bentuknya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبهِمْ يَتَوَكلُونَ {99} إِنمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الذِينَ يَتَوَلوْنَهُ وَالذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”. [An Nahl : 99-100].

Ketika Menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata : “Sesungguhnya setan tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi (mengalahkan) orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membela orang-orang mu’min yang bertawakkal kepadaNya dari setiap kejelekan setan, sehingga tidak ada celah sedikitpun bagi setan untuk mencelakakan mereka”[11]. Dan ayat-ayat semisal ini banyak terdapat di dalam Al Qur`an.

2- Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan menjauhi setiap yang dilarang, serta bertaubat dari setiap perbuatan dosa dan kejelekan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu :

يَا غُلاَمُ ! إنِي أُعَلمُكَ كَلِمَاتٍ ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ…

“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…”[12]

Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan menyatakan, makna sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (احْفَظِ اللهَ ) adalah jagalah perintah-perintahNya, larangan-laranganNya, hukum-hukumNya serta hak-hakNya. Caranya, dengan memenuhi apa-apa yang Allah dan RasulNya perintahkan berupa kewajiban-kewajiban, serta menjauhi segala perkara yang dilarang. Sedangkan makna (يَحْفَظْكَ ) ialah, barangsiapa yang menjaga perintah-perintahNya, mengerjakan setiap kewajiban dan menjauhi setiap laranganNya, niscaya Allah k akan menjaganya. Karena balasan suatu amalan, sejenis dengan amal itu sendiri. Penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba meliputi penjagaan terhadap dirinya, anak, keluarga dan hartanya. Juga penjagaan terhadap agama dan imannya dari setiap perkara syubhat yang menyesatkan”.[13]

3. Tidak membiarkan anak-anak berkeliaran saat akan terbenamnya matahari. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jika malam telah masuk -jika kalian berada di sore hari-, maka tahanlah anak-anak kalian. Sesungguhnya setan berkeliaran pada waktu itu. tatkala malam telah datang sejenak, maka lepaskanlah mereka”. [HR Bukhari Muslim].

4- Membersihkan rumah dari salib, patung-patung dan gambar-gambar yang bernyawa serta anjing. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa Malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat hal-hal di atas. Demikian juga dibersihkan dari piranti-piranti yang melalaikan, seruling dan musik.

5. Memperbanyak membaca Al Qur`an dan manjadikannya sebagai dzikir harian. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِن الشيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah”.[14]

6- Membentengi diri dengan doa-doa dan ta’awudz serta dzikir-dzikir yang disyariatkan, seperti dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat fardhu, dzikir sebelum dan sesudah bangun tidur, do’a ketika masuk dan keluar rumah, do’a ketika naik kendaraan, do’a ketika masuk dan keluar masjid, do’a ketika masuk dan keluar kamar mandi, do’a ketika melihat orang yang mandapat musibah, serta dzikir-dzikir lainnya.

Ibnul Qayyim berkata,”Sesungguhnya sihir para penyihir itu akan bekerja secara sempurna bila mengenai hati yang lemah, jiwa-jiwa yang penuh dengan syahwat yang senanantiasa bergantung kepada hal-hal rendahan. Oleh sebab itu, umumnya sihir banyak mengenai para wanita, anak-anak, orang-orang bodoh, orang-orang pedalaman, dan orang-orang yang lemah dalam berpegang teguh kepada agama, sikap tawakkal dan tauhid, serta orang-orang yang tidak memiliki bagian sama sekali dari dzikir-dzikir Ilahi, doa-doa, dan ta’awwudzaat nabawiyah.” [15]

7. Memakan tujuh butir kurma ‘ajwah setiap pagi hari. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَصَبحَ كُل يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُم وَلَا سِحْرٌ

“Barangsiapa yang makan tujuh butir kurma ‘ajwah pada setiap pagi, maka racun dan sihir tidak akan mampu membahayakannya pada hari itu”. [16]

Dan yang lebih utama, jika kurma yang kita makan itu berasal dari kota Madinah (yakni di antara dua kampung di kota Madinah), sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim. Syaikh Abdul ’Aziz bin Baz berpendapat, seluruh jenis kurma Madinah memiliki sifat yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Namun beliau juga berpendapat, bahwa perlindungan ini juga diharapkan bagi orang yang memakan tujuh butir kurma, selain kurma Madinah secara mutlak.[17]

TERAPI PENGOBATAN SETELAH TERKENA SIHIR [18]

1. Metode pertama : Mengeluarkan dan menggagalkan sihir tersebut jika diketahui tempatnya dengan cara yang dibolehkan syariat. Ini merupakan metode paling ampuh untuk mengobati orang yang terkena sihir.[19]

2. Metode kedua : Dengan membaca ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Para ulama telah bersepakat bolehnya menggunakan ruqyah sebagai pengobatan apabila memenuhi tiga syarat [20].

Pertama : Hendaknya ruqyah tersebut dengan menggunakan Kalamullah (ayat-ayat Al Qur`an), atau dengan Asmaul Husna atau dengan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, atau dengan doa-doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua : Ruqyah tersebut dengan menggunakan bahasa Arab, atau dengan bahasa selain Arab yang difahami maknanya.

Ketiga : Hendaknya orang yang meruqyah dan yang diruqyah meyakini, bahwa ruqyah tersebut tidak mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tetapi dengan kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Karena ruqyah hanyalah salah satu sebab di antara sebab-sebab diperolehnya kesembuhan. Dan Allah-lah yang menyembuhkan.

Selain itu, ada hal sangat penting yang juga harus diperhatikan, bahwa ruqyah akan bekerja secara efektif bila orang yang sakit (terkena sihir) dan orang yang mengobati sama-sama memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah Azza wa Jalla, bertawakkal kepadaNya semata, bertakwa dan mentauhidkanNya, serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Al Qur`an adalah penyembuh bagi penyakit dan rahmat bagi orang-orang beriman. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka ruqyah tersebut tidak akan berefek kepada penyakitnya, karena ruqyah itu sendiri merupakan obat mujarab yang diajarkan oleh syari’at. Namun ibarat senjata, setajam apapun ia, jika berada di tangan orang yang tidak lihai menggunakannya, maka senjata itu tidak banyak manfaatnya.[21]

Dikatakan oleh Ibnu At Tiin: “Ruqyah dengan membaca mu’awwidzat atau dengan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan pengobatan rohani, (akan bekerja efektif) bila di baca oleh hambaNya yang shalih; kesembuhan pun akan diperoleh dengan izin Allah Azza wa Jalla “.

Diantara bentuk pengobatan yang termasuk metode kedua ini ialah sebagai berikut:

- Membaca surat Al Fatihah, ayat kursi, dua ayat terakhir surat Al Baqarah, surat Al Ikhlash, An Naas dan Al Falaq sebanyak tiga kali atau lebih dengan mengangkat tangan, tiupkan ke kedua tangan tersebut seusai membaca ayat-ayat tadi, kemudian usapkan ke bagian tubuh yang sakit dengan tangan kanan.[23]

- Membaca ta’awwudz (doa perlindungan diri) dan ruqyah-ruqyah untuk mengobati sihir, di antaranya sebagai berikut:[24]

a. أسْألُ اللهَ العَظِيْمَ رَب العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَشْفِيَكَ

“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Pemilik ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanmu (dibaca sebanyak tujuh kali)”.[25]

b. Orang yang terkena sihir meletakkan tangannya pada bagian tubuh yang terasa sakit, kemudian membaca: (بِسْمِ الله) sebanyak tiga kali lalu membaca :

أعُوذُ بِالله وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَر مَا أجِدُ وَ أحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari setiap kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti”. [26]

c. Mengusap bagian tubuh yang sakit sambil membaca doa :

اللهّمَ رَب الناسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِ أَنْتَ الشافِي لَا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb Pemelihara manusia, hilangkanlah penyakitku dan sembuhkanlah, Engkau-lah Yang Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.[27]

d. Membaca doa:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ مِنْ غَضَبِهِ وَ عِقَابِهِ وَشَر عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemarahanNya, dari kejahatan hamba-hambaNya, dan dari bisikan-bisikan setan dan dari kedatangan mereka kepadaku.

3. Metode ketiga : Mengeluarkan sihir tersebut dengan melakukan pembekaman pada bagian tubuh yang terlihat bekas sihir, jika hal itu memang memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, maka ruqyah-ruqyah di atas telah mencukupi untuk mengobati sihir.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan rahasia pembekaman di bagian yang terkena sihir ini. Bahwa sihir itu tersusun dari pengaruh ruh-ruh jahat dan adanya respon kekuatan alami yang lahir dari ruh jahat tersebut. Inilah jenis sihir yang paling kuat, terutama pada bagian tubuh yang menjadi pusat persemayaman sihir tadi. Maka pembekaman pada bagian tersebut merupakan metode pengobatan yang sangat efektif bila dilakukan sesuai dengan cara yang tepat.[29]

4. Metode keempat : Dengan menggunakan obat-obatan alami sebagaimana disebutkan Al Qur’an dan As Sunnah, dengan disertai keyakinan penuh terhadap kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkannya. Di antaranya dengan menggunakan madu, habbahtus sauda` (jinten hitam), air zam-zam, minyak zaitun dan obat-obatan lainnya yang dibenarkan syara’ sebagai obat. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الشفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيةِ نَارٍ وَأَنْهَى أُمتِي عَنْ الْكَي

“Pengobatan itu ada dalam tiga hal. (Yaitu): berbekam, minum madu dan pengobatan dengan kay (besi panas). Sedangkan aku melarang umatku menggunakan pengobatan dengan kay”.[30

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِن هَذِهِ الْحَبةَ السوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُل دَاءٍ إِلا مِنْ السامِ قُلْتُ وَمَا السامُ قَالَ الْمَوْتُ

“Sesungguhnya habbah sauda’ ini merupakan obat bagi segala jenis penyakit, kecuali as saam”. Aku (‘Aisyah) bertanya,”Apakah as saam itu?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Kematian." [31]

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ماَءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Air zam-zam itu tergantung niat orang yang meminumnya”. [32]

Dari Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُوا الزيْتَ وَادهِنُوا بِهِ فَإِنهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Makanlah minyak zaitun dan minyakilah rambut kalian dengannya, karena sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi”.[33]

Demikianlah sekilas pembahasan tentang sihir berikut cara mencegah dan mengobatinya. Selayaknya bagi setiap pribadi muslim, terutama para pemimpin keluarga, untuk mengetahui hal ini dan mengajarkan kepada keluarganya. Agar anggota keluarga mampu membentengi diri dari kejahatan sihir. Selayaknya pula bagi pemimpin keluarga, untuk mengkondisikan keluarganya agar senantiasa taat kepada Allah Sang Pemelihara manusia. Membersihkan rumahnya serta menyingkirkan sejauh-jauhnya dari segala sarana yang mengundang kemaksiatan, seperti musik, majalah-majalah porno, gambar makhluk hidup dan sebagainya. Agar keluarganya mendapat curahan rahmat dan perlindungan dari Allah, terjauhkan dari gangguan iblis dan bala tentaranya. Wallahu waliyyut taufiiq. (Hanin Ummu Abdillah)

Maraji :
1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Zaadul Ma’ad, tahqiq dan takhrij Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arnauth, Mu’assasah Ar Risaalah, Cet. III, Th. 1421H/200M.
2. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Ad Du’a Min Al Kitab Wa As Sunnah Wa Yalihi Al ‘Ilaj Bi Ar Ruqaa Min Al Kitab Wa As Sunnah.
3. Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, tahqiq Muhammad Hamid Al Faqi, ta’liq Abdullah bin Baz, dan takhrij Ali bin Sinan, Darul Fikr, Th. 1412H/1992M.
4. Shahih Al Bukhari bersama Fathul Bari.
5. Shahih Muslim.
6. Sunan Abu Dawud.
7. Jami’ At Tirmidzi.
8. Sunan Ibnu Majah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber : almanhaj.or.id

Bolehkah Mengobati Sihir Dengan Sihir?

Allah Yuhayyika (memuliakanmu). Akhi penanya, semoga Allah segera memberi kesembuhan kepada saudari antum,memang buhul ( ikatan ) sihir kalau bisa didapatkan dan dimusnahkan maka itu lebih baik dan lebih cepat kesembuhannya, sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersihir. Namun kalau tidak didapatkan, maka cukup dengan ruqyah dari bacaan Al-Quran dan dzikir-dzikir yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun datang kepada dukun dengan tujuan supaya mencarikan buhul (ikatan) tersebut maka tetap tidak diperbolehkan. Karena dukun tersebut tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan bantuan jin pula. Dan jin tidak akan mau membantu manusia kecuali setelah manusia itu mau kufur kepada Allah. Allah ta’ala berfirman , mengabarkan ucapan para jin:

(وَأَنهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِن فَزَادُوهُمْ رَهَقاً) (الجـن:6)

Artinya: Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. 72:6)

Dan di dalam hadist barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah mengingkari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرافًا فَصَدقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ

Artinya: “Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun atau tukang ramal , kemudian membenarkan apa yang dia katakan , maka dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR . Ahmad , dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany di dalam Shahih Al-jami’ no: 5939)

Perlu antum ketahui akhi, bahwa sebagian kyai – yang kita anggap berpegang teguh dengan agama – namun amalan yang dilakukan sama dengan amalan-amalan para dukun. Jadi yang kita lihat bukan namanya akan tetapi hakikatnya, karena racun tetap berbahaya meskipun kita namakan susu.

Jangan tertipu dengan sebagian mereka yang berusaha menutupi mantra-mantra syetan mereka dengan bacaan Al-Quran atau dengan lafadz-lafadz bahasa arab. Karena ini adalah cara mereka untuk menipu konsumen .

Nasehat saya berusahalah mencari buhul ( ikatan ) tersebut di tempat-tempat yang diperkirakan digunakan untuk menyimpannya seperti di atas lemari atau di bawah kasur , atau di pohon sekitar rumah dll , dan memohonlah kepada Allah supaya dipermudah mendapatkan tempat buhulnya. Sambil terus membacakan ruqyah yang syar’iyyah. Dan bertakwalah kepada Allah, seringlah memohon ampun kepadaNya, karena Allah menjanjikan jalan keluar bagi orang-orang yang bertakwa, Allah berfirman:

(وَمَنْ يَتقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً) (الطلاق: من الآية2)

Artinya: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (Qs. 65:2)

(وَمَنْ يَتقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً) (الطلاق: من الآية4)

Artinya: “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Qs. 65:4)

Jika ditemukan buhul tersebut alhamdulillah, kalau belum maka jangan putus asa, terus dibacakan ruqyah syar’iyyah entah secara langsung atau dengan kaset .

Seandainya Allah menakdirkan kesembuhan maka ini merupakan rahmat dan anugerah Allah, kalau tidak maka itu sudah Allah kehendaki dengan hikmah yang Allah ketahui. Kewajiban kita hanya berusaha, sementara hasilnya hanya di tangan Allah.

Dan musibah yang menimpa seorang mukmin kalau dia bersabar maka akan menjadi penebus dosa atau pengangkat derajatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتى الْهَم يُهَمهُ إِلا كُفرَ بِهِ مِنْ سَيئَاتِهِ

Artinya: “Tidaklah menimpa seorang mu’min sakit yang berkelanjutan, kelelahan, penyakit, dan kesedihan sampai rasa resah gelisahnya kecuali Allah akan menghapuskan dengannya sebagian kejelekkan-kejelekkannya.” (HR. Al-Bukhary Muslim)

Lebih baik kita bersabar sebentar untuk mendapatkan kebahagian yang kekal, dari pada bahagia sebentar namun harus mengorbankan aqidah kita.

Kita berdoa kepada Allah dengan nama-namaNya yang paling baik dan sifat-sifatNya yang paling tinggi, untuk menyembuhkan saudara-saudara kita yang sakit. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.

Wa billahit taufiq.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.
nunggu kelanjutannya dulu emoticon-Malu

Cara Meruqyah Diri Sendiri

Untuk lebih lengkapnya silakan dibaca didonlod bukunya [URL="http://www.4*shared.com/rar/RkM9BcgB/mengobati_guna-guna_dan_sihir_.html"]Mengobati Guna-guna dan Sihir[/URL]
nunggu selesai dulu.....

MAKAN TUJUH BUTIR KURMA AJWAH DAPAT MENANGKAL RACUN DAN SIHIR

Oleh
Zaki Rakhmawan


Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan hadits dari Shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda.

مَنْ تَصَبحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُم وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir” [1]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullaah menukilkan perkataan Imam Al-Khathabi tentang keistimewaan kurma Ajwah : “Kurma Ajwah bermanfaat untuk mencegah racun dan sihir dikarenakan do'a keberkahan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap kurma Madinah bukan karena dzat kurma itu sendiri” [2]

Hadits ini mempunyai banyak sekali kandungan faedahnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah dalam kitabnya 'Ath-Thibb An-Nabawi' [3] : “Al-Maf'uud adalah sakit yang menyerang bagian liver (hati)[4]”. Dan kurma memiliki khasiat yang menakjubkan untuk menyembuhkan penyakit ini (dengan izin Allah), terutama sekali kurma dari Madinah, khususnya jenis Ajwah. (Pembatasan pada) jumlah tujuh itu juga mengandung khasiat yang hanya diketahui rahasianya oleh Allah.

Kurma adalah jenis nutrisi yang baik, terutama bagi orang yang makanan sehari-harinya mengandung kurma seperti penduduk Madinah. Begitu juga kurma adalah makanan yang baik bagi orang-orang yang tinggal di daerah panas dan agak hangat namun memiliki temperatur tubuh yang lebih dingin.

Bagi penduduk Madinah, tamr (kurma yang kering) merupakan makanan pokok sebagaimana gandum bagi bangsa-bangsa lain. Juga, kurma kering dari daerah Aliyah di Madinah merupakan salah satu jenis kurma terbaik sebab rasanya gurih, lezat dan manis. Kurma termasuk jenis makanan, obat dan buah-buahan, kurma cocok dikonsumsi oleh hampir seluruh manusia. Dapat berguna untuk memperkuat suhu tubuh alami, tidak menimbulkan reduksi timbunan ampas yang merusak tubuh seperti yang ditimbulkan oleh berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Bahkan bagi yang sudah terbiasa makan kurma, kurma dapat mencegah pembusukan dan kerusakan makanan yang berefek negatif terhadap tubuh.

KURMA AJWAH BERASAL DARI SURGA DAN DAPAT MENGOBATI RACUN
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

اَلْعَجْوَةُ مِنَ الْجَنةِ، وَهِيَ شِفَاءٌ مِنَ السم

“Kurma Ajwah itu berasal dari Surga, ia adalah obat dari racun” [4]

Imam Ibnul Qayyim memberikan komentar terhadap hadits tersebut, “Yang dimaksud dengan kurma Ajwah disini adalah kurma Ajwah Al-Madinah, yakni salah satu jenis kurma di kota itu, dikenal sebagai kurma Hijaz yang terbaik dari seluruh jenisnya. Betuknya amat bagus, padat, agak keras dan kuat, namun termasuk kurma yang paling lezat, paling harum dan paling empuk” [5]

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِن فِي عَجْوَةِ الْعَالِيَةِ شِفَاءً، اَوْإنهَا تِرْيَاقٌ، أَولَ الْبُكْرَةِ

“Sesungguhnya dalam kurma Ajwah yang berasal dari Aliyah arah kota Madinah di dataran tinggi dekat Nejed itu mengandung obat penawar atau ia merupakan obat penawar, dan ia merupakan obat penawar racun apabila dikonsumsi pada pagi hari” [6]

PENYEBUTAN ANGKA TUJUH DALAM AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH
Adapun khasiat dari tujuh butir kurma memiliki makna spiritual maupun material sebagaimana yang terdapat dalam syari'at Islam.

Allah menciptakan langit dan bumi masing-masing tujuh lapis. Jumlah hari dalam sepekan adalah tujuh. Manusia mencapai tahapan kesempurnaan penciptaan dirinya ketika telah mencapai tujuh fase. Allah mensyariatkan kepada para hamba-Nya untuk berthawaf tujuh putaran. Sa'i antara Shafa dan Marwah juga sebanyak tujuh putaran. Melempar jumrah masing-masing tujuh kali. Takbir shalat Ied di raka'at pertama juga tujuh kali.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

مُروْ هُمْ بِالصلاَةِ لِسَبْعٍ

“Perintahkanlah mereka (anak-anak kalian) untuk shalat pada usia tujuh tahun” [7]

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sakit, beliau memerintahkan agar kepalanya disiram dengan air sebanyak tujuh qirbah. [8]

Allah pernah memberi kuasa kepada angin untuk mengadzab kaum 'Aad selama tujuh malam.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdo'a kepada Allah agar memberikan pertolongan kepada kaumnya dengan tujuh masa sebagaimana yang diminta oleh nabi Yusuf.[9]

Allah menggambarkan sedekah seseorang dilipatgandakan pahalanya seperti tujuh batang pokok padi yang masing-masing berisi seratus butir padi. [10]

Batang padi yang dilihat oleh sahabat nabi Yusuf dalam mimpinya jumlahnya juga tujuh buah. Jumlah tahun saat mereka bercocok tanam juga tujuh.

Pelipatgandaan pahala hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih

Yang masuk surga dikalangan ummat ini tanpa hisab ada tujuh puluh ribu orang.[11]

Disamping itu ada pula lafzh angka tujuh yang lain dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yaitu, Allah berfirman.

وَلَوْ أَنمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللهِ ۗ إِن اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [Luqman ; 27]

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ ۚ ذلِكَ بِأَنهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“ Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja) kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka, yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” [At-Taubah : 80]

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

اَلْمُؤْمِنُ يَأكُلُ فِي مِعً وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِيْ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

“orang mukmin makan dengan satu usus manakala orang kafir makan dengan tujuh usus” [12]

[Disalin dengan sedikit penyesuaian dari buku Kupas Tuntas Khasiat Kurma Berdasarkan Al-Qur'an Al-Karim, As-Sunnah Ash-Shahihah dan Tinjauan Medis Modern, Penulis Zaki Rahmawan, Pengantar Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426H]
emoticon-Smilie
sudah pernah dipraktekkan pak ustadz TS?
emoticon-Salaman





*btw.. postingan sebelumnya koq ga muncul d hapeku yo? emoticon-Bingung
Quote:Original Posted By TheJapemethe
emoticon-Smilie
sudah pernah dipraktekkan pak ustadz TS?
emoticon-Salaman





*btw.. ane pertamax emoticon-Cool


emoticon-Ngakak

pertamax darimana mbah?
Quote:Original Posted By cruts


emoticon-Ngakak

pertamax darimana mbah?


ngaskus dari hape muncule pertamax emoticon-Frown emoticon-Frown emoticon-Frown

postingan sebelumnya gk muncul je.. emoticon-Cape d...

maap ta edit ntar.. emoticon-Mewek
Ane pernah baca hadits ustadz TS , tntang azimat (tp ane lupa n gak hafal hadits'y) , dan kata'y di "boleh"kan . Selama niat'y tidak menyekutukan allah dan isi azimat itu bacaan al'quran . Para sahabat pun pernah melakukan'y . .
Gimana tuh ?
lanjut gaaan..

panjang juga bacanya ye..
emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By hbday
Ane pernah baca hadits ustadz TS , tntang azimat (tp ane lupa n gak hafal hadits'y) , dan kata'y di "boleh"kan . Selama niat'y tidak menyekutukan allah dan isi azimat itu bacaan al'quran . Para sahabat pun pernah melakukan'y . .
Gimana tuh ?


Jimat bahasa ‘Arabnya adalah tamiimah (التمِيْمَةُ), yaitu sesuatu yang digantungkan pada orang sakit, anak-anak, atau hewan ternak untuk menolak ‘ain[1], atau penyakit-penyakit lainnya, dengan segala macam hal [An-Nihaayah oleh Ibnul-Atsiir 1/197, Tafsiir Al-Qurthubiy 10/319, dan Taisiirul-‘Aziizil-Hamiid hal. 136 & 137].
Hukum menggantungkan jimat – jika bukan berasal dari Al-Qur’an atau dzikir-dzikir ma’tsuur – adalah haram, bahkan termasuk di antara macam-macam kesyirikan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ عَلقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang menggantungkan jimat (tamiimah) sungguh ia telah berbuat syirik” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/156, Al-Haakim 4/219, Ibnu Hibbaan 13/450 no. 6086, Al-Haakim 4/216, Al-Baihaqiy 9/350, dan yang lainnya dari ‘Uqbah bin ‘Aamir radliyallaahu ‘anhu; shahih].
إِن الرقَى وَالتمَائِمَ وَالتوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya mantera-mantera, jimat, dan tiwalah[2] adalah kesyirikan” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/381, Abu Daawud no. 3883, Ibnu Maajah no. 3530, Ibnu Hiibbaan no. 6090, dan yang lainnya dari ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu; shahih].
Adapun jimat yang berasal dari Al-Qur’an dan dzikir-dzikir ma’tsur, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama membolehkan, dan sebagian yang lain melarang.
1. Membolehkan.
Ini adalah pendapat sebagian salaf dan jumhur fuqahaa’ dari kalangan Hanafiyyah[3], Maalikiyyah[4], Syaafi’iyyah[5], dan Hanaabilah[6].
Dalil yang mereka pakai adalah :
a. Firman Allah ta’ala :
وَنُنَزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [QS. Al-Israa’ : 82].
b. Perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa :
لَيْسَ التمِيمَةُ مَا يُعَلقُ قَبْلَ الْبَلاءِ، إِنمَا التمِيمَةُ مَا يُعَلقُ بَعْدَ الْبَلاءِ لِيُدْفَعَ بِهِ الْمَقَادِيرُ
“Bukan termasuk jimat (yang diharamkan) sesuatu yang digantungkan sebelum musibah/bencana tiba. Yang termasuk jimat itu hanyalah sesuatu yang digantungkan setelah musibah/bencana untuk menolak ketentuan/taqdir” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 9/350 (9/589) no. 19606].[7]
c. Perbuatan ‘Abdullah bin ‘Amru yang menuliskan dan menggantungkan doa pada anak-anaknya yang belum baligh :
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التامةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَر عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
“Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari bisikan-bisikan syaithaan serta kedatangannya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3893, At-Tirmidziy no. 3528, dan yang lainnya[8]].
d. Atsar sebagian salaf (taabi’iin).
أَخْبَرَنَا أَبُو زَكَرِيا بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَسَنِ، قَالا: ثنا أَبُو الْعَباسِ الأَصَم، ثنا بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ، ثنا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي نَافِعُ بْنُ يَزِيدَ، " أَنهُ سَأَلَ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ عَنِ الرقَى وَتَعْلِيقِ الْكُتُبِ، فَقَالَ: كَانَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيبِ يَأْمُرُ بِتَعْلِيقِ الْقُرْآنِ، وَقَالَ: لا بَأْسَ بِهِ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Zakariyyaa bin Abi Ishaaq dan Abu Bakr bin Al-Hasan, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Al-Ashamm : Telah menceritakan kepada kami Bahr bin Nashr : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : Telah mengkhabarkan kepadaku Naafi’ bin Yaziid : Bahwasannya ia pernah bertanya kepada Yahyaa bin Sa’iid tentang ruqyah dan menggantungkan tulisan. Ia menjawab : “Dulu Sa’iid bin Al-Musayyib memerintahkan untuk menggantungkan Al-Qur’an, dan ia berkata : ‘Tidak mengapa dengannya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy (9/590) no. 19612; sanadnya shahih].
2. Melarang.
Ini adalah pendapat jumhur shahabat dan taabi’iin, Ahmad dalam satu riwayat[9], Ibnul-‘Arabiy[10] dari madzhab Maalikiyyah, dan sebagian ulama Hanaabilah.
Dalil yang mereka pakai adalah :
a. Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لَا يَبْقَيَن فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلَادَةٌ مِنْ وَتَرٍ أَوْ قِلَادَةٌ إِلا قُطِعَتْ
“Jangan sampai ada lagi tali busur panah atau tali apapun di leher onta, kecuali mesti diputuskan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3005, Muslim no. 2115, Abu Daawud no. 2552, dan yang lainnya dari Ruwaifi’ bin Tsaabit radliyallaahu ‘anhu].
عَنْ عِيسَى، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمٍ أَبِي مَعْبَدِ الْجُهَنِي أَعُودُهُ وَبِهِ حُمْرَةٌ، فَقُلْنَا: أَلَا تُعَلقُ شَيْئًا، قَالَ: الْمَوْتُ أَقْرَبُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَ النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ: " مَنْ تَعَلقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
Dari ‘Iisaa, ia berkata : Aku pernah datang menengok ‘Abdullah bin ‘Ukaim Abu Ma’bad Al-Juhhaniy yang sedang sakit humrah. Kami berkata : “Tidakkah engkau menggantung sesuatu ?”. Ia berkata : “Kematian lebih dekat dari hal itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu, maka ia akan senantiasa tergantung kepadanya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2072, Ahmad 3/411, Ibnu Abi Syaibah 7/371 (12/39-4) no. 23923, Al-Haakim 4/216, dan yang lainnya; hasan lighairihi].
Larangan menggantungkan jimat dalam dua hadits di atas umum, tidak membedakan antara yang berasal dari Al-Qur’an ataupun tidak.
b. Madzhab yang berlaku pada jumhur shahabat radliyallaahu ‘anhum dan taabi’iin.
حَدثَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: حَدثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ أَخْبَرَنَا مُغِيرَةُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: كَانُوا يَكْرَهُونَ التمَائِمَ كُلهَا، مِنَ الْقُرْآنِ وَغَيْرِ الْقُرْآنِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Mughiirah, dari Ibraahiim (An-Nakhaa’iy), ia berkata : “Mereka (yaitu : para shahabat dan taabi’iin) membenci semua jimat, baik yang berasal dari Al-Qur’aan maupun selain Al-Qur’aan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 7/374 (12/42) no. 23933. Diriwayatkan juga oleh Al-Qaasim bin Salaam dalam Fadlaailul-Qur’aan no. 860; sanadnya shahih].
حَدثَنَا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ، قَالَ: سَأَلْتُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ رَجُلٍ كَانَ بِالْكُوفَةِ يَكْتُبُ مِنَ الْفَزَعِ آيَاتٍ، فَيَسْقِي الْمَرِيضَ، فَكَرِهَ ذَلِكَ
Telah menceritakan kepada kami Husyaim : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu ‘Aun, ia berkata : “Aku pernah bertanya kepada Ibraahiim tentang seseorang di Kuufah yang menulis ayat-ayat untuk perlindungan dari rasa takut, lalu memberikan minum kepada orang yang sakit; maka ia membenci hal tersebut “ [Diriwayatkan oleh Al-Qaasim bin Sallaam dalam Fadlaailul-Qur’aan no. 862; sanadnya shahih].
حَدثَنَا هُشَيْمٌ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا يُونُسُ ، عَنِ الْحَسَنِ ؛ أَنهُ كَانَ يَكْرَهُ ذَلِكَ
Telah menceritakan kepada kami Husyaim, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus, dari Al-Hasan : Bahwasannya ia membenci hal tersebut (yaitu : semua jimat, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun selainnya)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 7/374 (12/42) no. 23934; sanadnya shahih].
c. Mengikuti kaedah saddudz-dzarii’ah.
Haafidh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullah berkata :
ولا شك أن منع ذلك أسد لذريعة الاعتقاد المحظور ، لا سيما في زماننا هذا ، فإنه إذا كرهه أكثر الصحابة والتابعين في تلك العصور الشريفة المقدسة والإيمان في قلوبهم أكبر من الجبال ، فلأن يكره في وقتنا هذا وقت الفتن والمحن أولى وأجدر بذلك ، كيف وهم قد توصلوا بهذه الرخص إلى محض المحرمات وجعلوها حيلة ووسيلة إليها ، فمن ذلك أنهم يكتبون في التعاويذ آية أو سورة أو بسملة أو نحو ذلك ثم يضعون تحتها من الطلاسم الشيطانية ما لا يعرفه إلا من اطلع على كتبهم......
“Dan tidak diragukan bahwa pelarangan hal tersebut dapat lebih mencegah sarana timbulnya keyakinan yang terlarang, khususnya pada jaman kita ini. Sesungguhnya jika perbuatan itu dibenci oleh kebanyakan shahabat dan taabi’iin pada waktu yang mulia lagi diberkahi, padahal keimanan yang ada pada hati-hati mereka lebih besar dibandingkan gunung, maka kebencian pada waktu kita sekarang – yaitu waktu yang penuh dengan fitnah dan cobaan – lebih layak dan pantas. Bagaimana tidak, (jika perbuatan itu diperbolehkan), maka mereka akan mempergunakan rukhshah (keringanan) ini pada hal-hal yang murni diharamkan. Mereka pun menjadikannya sebagai tipu daya dan sarana untuk menujunya (sesuatu yang diharamkan). Diantaranya, mereka menuliskan ayat, surat, atau basmalah, lalu meletakkan di atasnya mantera-mantera syaithaniyyah yang tidak akan diketahui kecuali oleh orang yang menelaah kitab-kitab mereka......” [Ma’aarijul-Qabuul, 1/382].
Memperbolehkan menuliskan ayat atau dzikir-dzikir ma’tsuur dalam jimat yang selalu dibawa manusia akan menyebabkan terbawa ke tempat-tempat yang tidak layak.
حَدثَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: حَدثَنَا وَكِيعٌ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ أَنهُ كَانَ يَكْرَهُ الْمَعَاذَةَ لِلصبْيَانِ، وَيَقُولُ: إِنهُمْ يَدْخُلُونَ بِهِ الْخَلاءَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ibnu ‘Aun, dari Ibraahiim : Bahwasannya ia membenci menuliskan doa perlindungan untuk anak-anak. Ia berkata : “Sesungguhnya mereka masuk ke kakus dengan tulisan doa tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 23823; sanadnya shahih].
Tarjih
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang melarangnya. Dalil QS. Al-Israa’ : 82 adalah umum, dan ia mesti dibawa pada semua hal yang diperbolehkan oleh syari’at melalui nash. Menggantungkan jimat dari Al-Qur’an, doa, atau dzikir sama sekali tidak ternukil dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Seandainya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkannya, niscaya beliau akan menjelaskannya sebagaimana beliau mengecualikan larangan ruqyah jika tidak mengandung kesyirikan.[11]
Atsar 'Abdullah bin 'Amru adalah lemah sehingga tidak bisa dipakai dalam pendalilan. Adapun atsar ‘Aaisyah, maka yang mahfudh adalah dengan lafadh :
التمَائِمُ: مَا عُلقَ قَبْلَ نُزُولِ الْبَلاءِ، وَمَا عُلقَ بَعْدَهُ، فَلَيْسَ بِتَمِيمَةٍ
“Jimat adalah sesuatu yang digantungkan sebelum musibah/bencana. Sedangkan sesuatu yang digantungkan setelahnya bukan termasuk jimat (yang diharamkan)”.
Atsar ini dapat dibawa pada pemahaman untuk pengobatan ruqyah, karena ia ada setelah adanya musibah (sakit atau semisalnya). Yaitu, ayat, doa, atau dzikir tersebut ditulis kemudian dibaca sebagaimana orang yang meruqyah (syar’iyyah).[12]
Apa yang dikhawatirkan ulama memang benar-benar terjadi bahwa banyak orang ‘memanfaatkan’ pendapat jumhur fuqahaa’ yang memperbolehkannya untuk melakukan praktek-praktek bid’ah dan kesyirikan. Ayat Al-Qur’an, doa, atau dzikir yang ma’tsuur hanyalah dipakai sebagai kedok, yang penulisannya dicampurkan dengan simbol, huruf, atau kalimat yang tidak dimengerti. Yang terakhir inilah yang membuat jimat berfungsi sebagai alat sihir para dukun (meski di antara mereka ada yang mengaku ustadz, kiyai, atau habib). Contohnya sebagai berikut :



Barang-barang inilah yang membonceng fatwa ulama madzhab. Banyak orang yang tertipu oleh para penipu karena keberadaan huruf atau kalimat Arabnya. Adakah orang yang bisa membaca dan memahami tulisan dan simbol dalam jimat-jimat di atas ?. Ya, ada, yaitu si dukun sendiri. Jimat-jimat yang seperti ini dibuat dan dipergunakan bukan seperti yang dijelaskan para fuqahaa’ Ahlus-Sunnah, akan tetapi dipergunakan untuk sarana bid’ah dan kesyirikan (ilmu kebal, pelet, anti tenung, tenaga dalam, dan lain-lain).[13]
Wallaahul-musta’aan.
Semoga artikel singkat ini ada manfaatnya.
selengkapnya disini

Mengusir Jin Pengganggu dari Rumah

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz saya mau bertanya beberapa mengenai hal gaib

1. Seandainya Ustadz diminta mengusir makhluk gaib yang mengganggu suatu rumah, apa yang dapat dilakukan? Selain memperbaiki keislaman di rumah tersebut, misal hal aneh yang dilakukan orang: menabur garam, memasang penangkal baik dari dukun ataupun menempelkan ayat di dinding, membakar kemenyan, memanggil dukun, dsb.

2. Kalau Menyetel Mp3 Alquran dengan sengaja bagaimana?

3. Apakah bisa setan membawa manusia ke alamnya? Karena pernah ada anak-anak bermain -yang satu orang mencari teman lain yang bersembunyi- pada malam dan salah satunya hilang, dan kata “orang pintar” dia dibawa setan ke alamnya, kemudian dengan bantuannya bisa diambil lagi orang tadi, cerita ini dari ibu saya yang mengetahui kejadian ini.

4. Jadi hal apa yang dibenarkan Islam untuk menyelamatkan orang itu? Sedangkan kalau orang yang agamanya benar tidak akan mengetahui tentang ilmu seperti itu. Sama saja kalau mau minta diurut karena salah urat, biasanya kebanyakan tukang urut memiliki ilmu -yang saya tahu mungkin berbau syirik-. Jadi apa yang seharusnya dilakukan.

5. Apakah pasti perbuatan syirik, jika orang Islam, mempunyai kemampuan yang aneh walaupun tujuannya baik dan tidak untuk berbuat kejahatan, seperti kebal atau bisa melihat, melawan, sampai memasukkan jin ke dalam botol -seperti acara “ustadz-ustadz” pemburu jin di TV-, atau menyembuhkan orang sakit dengan memindahkan penyakit ke ayam, kambing, atau hal-hal yang lainnya. Tetapi amalan mereka seperti orang Islam biasa, shalat, puasa, dsb.

Sekian dulu Ustadz, Jazakallahu khairan

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dari: Ahmad

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu

Untuk kasus semacam ini, ada dua tindakan yang bisa Anda lakukan;

Pertama, pengobatan

Maksud kami adalah mengusir jin itu dengan segera.

Cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surat penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan:

إِن الشيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ، خَرَجَ مِنْهُ

“Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).

Hanya 3 hari?

Terdapat keterangan bahwa setan meninggalkan rumah itu selama 3 hari. Ini berdasarkan hadis dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فِي بَيْتِهِ لَيْلًا لَمْ يَدْخُلِ الشيْطَانُ بَيْتَهُ ثَلَاثَ لَيَالٍ

“Siapa yang membaca surat Al-Baqarah di malam hari maka setan tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari..” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 780).

Hanya saja, keterangan tambahan tiga hari dalam riwayat tersebut dinilai lemah oleh al-Albani, sebagaimana keterangan beliau di Silsilah Ad-Dhaifah no. 1349.
Hanya Setan yang Mengganggu

Setan yang lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah adalah setan yang mengganggu secara zahir. Sebagaimana keterangan yang dinukil Ibnu Hibban, dari Imam Abu Hatim:

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: قَوْلُهُ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ: «لَمْ يَدْخُلِ الشيْطَانُ بَيْتَهُ»، أَرَادَ بِهِ مَرَدَةَ الشيَاطِينِ دُونَ غَيْرِهِمْ

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “setan tidak akan memasuki rumahnya” maksudnya adalah setan yang membangkang (mengganggu) bukan yang lainnya. (Shahih Ibnu Hibban, 3:59)

Siapa yang Membaca?

Siapa saja, tidak harus tuan rumah. Lebih-lebih, jika tuan rumah sendiri tidak bisa membaca Alquran. Karena lafal dalam hadis: “yang dibacakan surat Al-Baqarah” dengan bentuk kalimat pasif. Artinya siapapun yang membaca, selama dilakukan di dalam rumah, telah memenuhi syarat untuk mengusir setan.

Hanya saja tidak boleh menggunakan rekaman Mp3 atau sejenisnya. Karena membaca butuh niat, dan audio player atau komputer tidak bisa berniat.

Kedua, tindakan pencegahan

Tindakan ini merupakan upaya berkelanjutan selama menempati rumah tersebut. Karena berkelanjutan, upaya ini hanya bisa dilakukan oleh tuan rumah atau orang yang menempatinya. Dia tidak lagi bisa bergantung atau meminta bantuan orang lain. Karena itu, upaya ini lebih menekankan pada mental keagamaan penghuni rumah.

Ada beberapa rutinitas yang selayaknya dilakukan, agar rumah kita selalu dijauhi setan yang suka mengganggu:

1. Rajin baca Alquran dan ibadah apapun di dalam rumah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam men-kontras-kan antara rumah dengan kuburan. Beliau memerintahkan agar rumah kita tidak dijadikan seperti kuburan. Salah satu sifat yang mencolok dari kuburan adalah itu bukan tempat ibadah. Agar rumah kita tidak seperi kuburan yang bisa jadi banyak setan pengganggu, gunakan rumah kita untuk ibadah.

Hadis ini sekaligus menuntut Anda yang belum bisa membaca Alquran agar segera dan serius dalam belajar Alquran. Untuk menjadikan rumah Anda sebagai taman bacaan Alquran, tidak mungkin setiap hari Anda harus mengundang orang lain.

Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah bagian shalat kalian di rumah kalian. Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari 432, Muslim 777, dan yang lainnya).

Maksud shalat di sini adalah shalat sunah yang dikerjakan sendiri dan tidak berjamaah. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إِن أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلا الصلاَةَ المَكْتُوبَةَ

“Susungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari 7290 dan yang lainnya).

2. Jangan pedulikan segala bentuk gangguan.

Sikap cuek, tidak peduli, ternyata menjadi cara ampuh untuk mengusir setan. Setan sebagaimana manusia, ketika dia mengganggu, kemudian tidak digubris, bisa jadi dia akan bosan untuk mengganggu Anda.

Berbeda ketika Anda merasa ada yang mengganggu, kemudian Anda cari-cari di mana tempatnya, atau bahkan Anda ajak bicara, atau Anda siram dengan garam dan semacamnya, dia akan semakin menjadi-jadi dalam menggoda Anda.

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Aku pun mengatakan, “Celakalah setan”. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشيْطَانُ فَإِنكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللهِ فَإِنكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتى يَكُونَ مِثْلَ الذبَابِ

“Janganlah kamu ucapkan ‘celakalah setan”, karena jika kamu mengucapkan demikian, setan akan semakin besar seperti rumah. Lalu setan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.” (HR. Ahmad 5:95 dan Abu Daud 4982 dan dishahihkan al-Albani)

Ketika Anda mendengar atau melihat ada sesuatu yang mengganggu, jangan diajak bicara, tapi mintalah perlindungan kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.

3. Baca doa ketika masuk rumah

Hal kecil yang mungkin perlu dibiasakan adalah memulai segala yang penting dengan doa atau dzikir. Salah satunya, ketika kita masuk rumah. Meskipun kelihatanya remeh, namun hasilnya luar biasa.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ

“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka setan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

Ada doa khusus ketika masuk rumah, akan tetapi doa ini dinilai dhaif oleh al-Albani. Karena itu, makna dzikir kepada Allah adalah membaca basmalah.

4. Baca doa ketika hendak makan

Membaca basmalah ketika hendak makan, menjadi penghalang setan untuk ikut makan bersama Anda. Hadis dari Jabir di atas menegaskan hal ini,

وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، فَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Tapi apabila dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’. Dan jika dia tidak mengingat Allah ketika makan maka setan akan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

5. Baca doa ketika tutup pintu

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak saran agar kita tidak terganggu setan. Salah satunya:

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، فَإِن الشيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Tutuplah pintu, dan sebutlah nama Allah. Karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup (yang disebut nama Allah).” (HR. Bukhari 3304, Muslim 2012 dan yang lainnya)

Sekali lagi, hanya dengan membaca: Bismillah..

6. Berdoa ketika keluar rumah

Satu doa ketika keluar rumah. Ringkas, mudah dihafal, tapi khasiatnya besar:

بِسْمِ اللهِ تَوَكلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوةَ إِلا بِاللهِ

BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Dalam hadis dinyatakan, siapa yang keluar rumah kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: Kamu diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi. Maka setan kemudian berteriak:

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana kalian bisa mengganggu orang yang sudah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426 dan dishahihkan al-Albani)

7. Jauhkan rumah Anda dari gambar makhluk bernyawa

Siapa sangka, ternyata gambar makhluk bernyawa bisa membuat jin dan setan nakal itu semakin betah di rumah kita.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَن المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR. Bukhari 3224, Nasai 5348 dan yang lainnya).

Ketika malaikat penebar rahmat tidak memasuki rumah Anda, di saat itulah makhluk lain, yang juga tidak kelihatan, akan menggantikan posisi mereka. Foto keluarga, gambar binatang dan seterusnya bisa jadi membuat rumah Anda makin indah bagi setan.

8. Jauhkan rumah Anda dari musik

Banyak orang tidak sadar, ternyata suara ini berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mizmarus syaithan (musik setan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan salah satunya, lonceng. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

فِي الْجَرَسِ مِزْمَارُ الشيْطَانِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang lonceng: musik setan. (HR. Abu Daud 2556)

Di kesempatan yang sama, malaikat penebar rahmat menghindari rumah yang dipenuhi denngan musik. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِن الْمَلَائِكَةَ لَا تَصْحَبُ رُفْقَةً فِيهَا جَرَسٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di sana ada loncengnya.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 1001).

Kita telah memahami, terjadi sikap kontradiktif antara malaikat penebar rahmat dengan setan pembangkang. Ketika salah satunya menghindar, di saat itulah satunya menggantikan.

Jadikan rumah Anda seperti taman-taman malaikat penebar rahmat, bukan tempat peristirahatan yang nyaman bagi setan. Hiasi rumah Anda dengan berbagai ketaatan dan amal shaleh. Agar yang menemani Anda juga makhluk yang sholeh. Hiasi rumah Anda dengan bacaan Alquran, shalat, kajian mengupas halal-haram, dan lantunan suara langit lainnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
kalau kata ki gendeng pamungkas, menangkal ilmu sihir dengan tidur di lantai, minimal maksimal tinggi tidur tidak lebih dari batas lutut (berdiri)
uahemmmm, ane klo baca panjang banget sering ngantuk ganemoticon-Ngakak

Cara Pengobatan Dengan Ruqyah Syar’iyyah

Membentengi diri dengan dzikir dan do’a harian yang diajarkan oleh Rosulullah SAW, membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardu dan ketika akan tidur, membaca s. Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas, setiap selesai shalat fardu dan di waktu pagi dan petang sebanyak tiga kali, dan begitu juga ketika akan tidur, serta membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh di awal malam.

Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang membaca ayat kursi di waktu malam, maka Allah akan menjaganya, dan setan tidak mendekatinya sampai pagi.” Dan di dalam hadits yang lain: “Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh di waktu malam, maka Allah akan menjaganya.”

Demikian juga dengan memperbanyak berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dengan do’a:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التاماتِ مِنْ شَر مَاخَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah diciptakan.”

Dibaca di waktu siang dan malam, dan ketika menempati suatu tempat, baik itu rumah, padang pasir, hutan ataupun laut dan udara, karena Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menempati suatu tempat, kemudian ia mengatakan: (A’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa khalaq), maka ia tidak akan ditimpa oleh suatu bahaya apapun sehingga ia meninggalkan tempat itu.”


Demikian juga dengan memperbanyak bacaan:

بِسْمِ اللهِ الذِي لاَيَضُر مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فيِ الأَرْضِ وَلاَ فِي السمَاءِ وَهُوَ السمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dengan nama Allah, tidak ada yang membahayakan bersama namaNya sesuatupun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha mendengar dan Maha mengetahui.”

Dibaca di awal waktu siang dan awal waktu malam, sebanyak 3 x sebagaimana telah disebutkan oleh Rosulullah SAW karena hal itu sebab terjaganya dari segala kejelekan.

Dzikir-dzikir dan wirid ini adalah salah satu sebab terbesar yang dapat menjaga dari kejahatan ilmu sihir dan kejahatan lainnya bagi orang yang selalu menjaganya dengan penuh ketulusan yang didasari oleh keimanan kepada Allah dan menyandarkan diri kepadaNya serta ketundukan hati dalam menerima segala konsekwensi dan tuntutannya. Dan demikian pula ia merupakan senjata terampuh dalam menghilangkan sihir setelah menimpanya, bila disertai dengan ketundukan kepada Allah dan permohonan kepadaNya agar Ia menyingkapkan bahaya dan penyakitnya.

Dzikir

Salah satu cara yg paling mudah menangkal sihir adalah dengan dzikir, seperti dzikir pagi & petang. Insya Allah kita akan terjaga dari sihir

Manfaat Air Zam-zam untuk Pengobatan

Pertanyaan:

Assalammu’alaikum.
Teman saya semasa kuliah dulu sekitar tahun 2008 saat bawa motor pernah kemasukan kumbang ke ujung matanya tapi gak sampai kena bisanya cuman kebentur. Dulu waktu pertama kali kejadian dia merasakan gatal dan sering dikucek. Akan tetapi saat ini efek dari kejadian itu membuat saraf matanya jadi rusak dan mata sebelah kiri yang terbentur sama kumbang itu sekarang sudah hampir buta dan kata dokternya akan menjalar ke mata sebelah kanannya, memang mata kanannya jadi kabur dalam penglihatan.

Teman saya ini sudah beberapa kali operasi mata, terakhir bulan april kemaren, akan tetapi operasi itu bertujuan menanamkan cincin kecil di dalam saluran air mata kanannya agar mata kanan tersebut bisa bertahan. Dokter sudah memvonis kalau nanti matanya akan buta keduanya. Saya pernah membaca sebuah hadis Nabi kalau air Zam-zam mengobati semua penyakit dengan Izin Allah. Saya minta tolong bagaimana cara-cara menggunakannya ke mata dan dengan doa yang diucapkan? Atau kalau ada pengobatan maupun obat yang bisa menyembuhkan penyakit itu?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam,

Air zam-zam bisa menyambuhkan penyakit, bahkan sesuai dengan apa yang diniatkan orang yang meminumnya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya.” [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya 2/1018 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghaliil fii Takhriiji Ahaadiitsi Manaaris-Sabiil, 4/320]

Tabi’in Ahli tafsir, Mujaahid rahimahullah berkata,

ماء زمزم لما شرب له، إن شربته تريد شفاء شفاك الله، وإن شربته لظمأ أرواك الله، وإن شربته لجوع أشبعك الله، هي هَزْمة جبريل وسُقيا الله إسماعيل.

“Air zamzam sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya. Jika engkau meminumnya untuk kesembuhan, maka Allah akan menyembuhkanmu. Apabila engkau meminumnya karena kehausan, maka Allah akan memuaskanmu. Dan apabila engkau meminumnya karena kelaparan, maka Allah akan mengenyangkanmu. Ia adalah usaha Jibril dan pemberian (air minum) Allah kepada Isma’il.” [HR. ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 5/118]

Ibnul-Qayyim rahimahullah, seorang ulama dan dokter telah membuktikan mujarrabnya air zam-zam menyembuhkan berbagai penyakit, beliau berkata,

وقد جرّبت أنا وغيري من الاستشفاء بماء زمزم أمورا عجيبة، واستشفيت به من عدة أمراض، فبرأت بإذن الله

“Sesungguhnya aku telah mencobanya, begitu juga orang lain, berobat dengan air zamzam adalah hal yang menakjubkan. Dan aku sembuh dari berbagai macam penyakit dengan ijin Allah Ta’ala.” [Zaadul-Ma’ad 4/393].

Akan tetapi yang perlu diperhatikan bahwa air Zam-zam juga sesuai denga kadar keimanan dan amal shalih orang yang menjadikannya sebagai obat. Jika ada yang berkata,

“saya sudah minum beberapa liter tapi panyakit saya kok ga’ sembuh-sembuh?”

Maka yang disalahkan adalah orang tersebut bukan Air Zam-zam. Mari kita lihat contohnya, Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengobati sengatan kalajengking hanya dengan dibacakan (ruqyah) Al-Fatihah saja. Kemudian sembuh seperti tidak pernah tersengat.

Berikut kisahnya.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِى أَن نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَروا بِحَى مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِن سَيدَ الْحَى لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنبِى -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النبِى -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ وَاللهِ مَا رَقَيْتُ إِلا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنهَا رُقْيَةٌ ». ثُم قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” [HR. Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201]

Jika ada orang yang terkena penyakit yang sama disengat kalajengking atau yang lebih ringan misalnya disengat tawon, kemudian ada yang membacakan Al-fatihah ternyata tidak sembuh. Maka jangan salahkan Al-Fatihah jika tidak sembuh tetapi salahkan tangan yang tidak mahir serta kuat memegang pedang yang tajam. Jika iman, amal dan tawakkal sebaik Abu Sa’id al-Khudri maka kita bisa berharap penyakit tersebut sembuh.

Dan juga tidak ada dalil bahwa caranya diteteskan ke mata, yang benar caranya adalah diminum sebagaimana hadits. Saran kami hendaknya tetap konsultasi dan memeriksakan diri secara rutin ke dokter mata. Karena terkadang pengobatan butuh beberapa tahap dan butuk kontrol juga. Beberapa pasien tidak sabar, belum melihat hasil akhirnya tidak kontrol lanjut.

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen (Alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh spesialis patologi klinik di Fakultas Kedokteran UGM)
konsultasisyariah.com