alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/529c521bbe29a0c54a8b46c3/surat-terbuka-kepada-hakim-artidjo-dari-dr-patrianef-spbkbv
Surat Terbuka Kepada Hakim Artidjo dari dr. Patrianef, SpB(K)BV
Surat Terbuka Kepada :
Hakim Agung Artijo Alkostar,
Wamenkumham Deni Indrayana,
Wakil Ketua MK Hakim Arif Hidayat dan
Ibu Ribka Ciptaning dkk

Assalamualaikum dan salam hormat Perlu kami sampaikan terlebih dahulu kepada Bapak bapak yang mulia bahwa kami ini adalah anak anak bangsa , dokter Indonesia yang tidak pandai berpolitik, kami tertinggal jauh disaat situasi seperti sekarang ini dimana survive seseorang ditentukan oleh kepiawaiannya berpolitik.

Kami ini hanya anak anak bangsa yang tercerabut dari lingkungannya, diisolasi dari lingkungannya untuk mempelajari dunia kedokteran dengan tujuan yang katanya mulia untuk membantu anak anak bangsa yang lain.

Disaat rekan rekan kami sibuk berdiskusi sesamanya, kami sibuk dengan dunia kami belajar dengan buku buku tebal, yang begitu tergagap kami hadapi saat masuk kedokteran. Tergagap menengok tebal dan banyaknya bukunya. Disaat rekan kami sibuk berpolitik kami masih belajar keras khawatir dengan ancaman drop out. Disaat orang lain tertidur kami sibuk belajar. Akibatnya kami seperti yang anda lihat sekarang begitu bodoh dan tergagap kami menghadapi serangan bertubi tubi dari dunia anda.

Kami bukanlah putra putri terpilih bangsa, orang orang yang mulia. Tetapi kami adalah orang hasil produk yang anda bentuk yang tahunya hanya bagaimana menghadapi pasien, hari hari kami dipenuhi dengan pasien dari pagi sampai ke pagi berikutnya masih bercerita tentang pasien.

Tidak perlu khawatir Bapak Bapak bahwa kami saat ini berpolitik, kami tidak punya waktu, tidak pandai dan terlalu lugu untuk berpolitik. Sesudah jadi dokter hari hari kami diisi dengan menangani pasien . Dan putra putra bangsa yang sudah tidak pandai berpolitik tersebut dilemparkan jauh ketengah daerah terpencil untuk melayani bangsa dengan dalih wajib kerja sarjana. Banyak sarjana di Indonesia kenapa hanya kami yang wajib pergi kedaerah terpencil.

Kami juga bukan orang yang kaya kaya amat. Kami juga tidak punya peluang merugikan negara. Kami tidak berurusan dengan uang dirumah sakit. Ditengah sebagian pernyataan politisi” dokter jangan meminta uang muka di RS”, kami bingung ini ketidak tahuan atau memang sengaja dibentuk untuk menggiring opini masyarakat bahwa dokter berurusan dengan uang dan rakus. Urusan duit urusan manajemen rumah sakit, kami hanya pekerja medis yang berurusan dengan keselamatan pasien. Ada sedikit dokter yang punya uang dan banyak juga yang hidup sederhana. Seperti banyak profesi lain juga. Tetapi lalu karena kami dokter, kami juga tidak boleh punya rumah, kami juga tidak boleh punya mobil. Dan anda bentuk opini masyarakat dengan mengedepankan dokter dokter yang hidup sederhana bergelut dengan pelayanan dasar didaerah kumuh, lalu anda menginginkan semua dokter seperti itu. Inilah dokter yang mulia tidak memerlukan duit dibayar recehan pun boleh.

Pada hari lain anda menampilkan hal yang kontradiksi dengan menampilkan pelayanan kesehatan dinegara tetangga jauh maju dan orang Indonesia yang kaya kaya pergi berobat kesana. Anda meminta tolong tingkatkan layanan kesehatan. Saya punya seorang pasien dokter yang dirawat diruangan kelas tiga dengan kartu JKS dengan segala pernak pernik kemiskinannya.

Apakah anda menginginkan begitulah wajah dokter Indonesia. Selanjutnya anda akan masukkan dokter dari luar negeri karena dokter Indonesia kalah kwalitas. Kami memang tidak punya banyak uang, kami bekerja siang malam 24 jam, siap dipanggil dan bekerja 7 X 24 jam seminggu, kami bekerja dengan nanah, feses, urine, dahak, darah. Kami terkena sinar radiasi yang merusak. Kami mungkin menghadapi anda dengan wajah letih, tahukah anda bahwa kami tidak punya jam kerja, ditengah profesi lain yang bekerja 37.5 jam seminggu kami bekerja 7 x 24 jam. Kami dihargai dengan hanya kalimat profesi mulia, dan kami ditekan dengan sebutan tersebut untuk tidak menuntut banyak Opini masyarakat juga digiring dengan pernyataan dokter sering melalaikan pasie.

Ya Allah, pasien yang mana yang kami lalaikan. Jika ada pasien yang terlantar di UGD karena tidak punya kartu dan tidak punya uang , sehingga tidak dilayani , apakah kami yang disalahkan. Jika pemeriksaan laboratorium lama kami juga yang dianggap lalai. Karena kamar operasi penuh kami juga yang lalai.karena kamar rawat tidak ada kami juga yang salah. Kami tidak mengurus tetek bengek administrasi, itu urusan manajemen. Ada banyak profesi lain dalam menangani pasien, ada perawat, ada apoteker, ada radiografer, ada perawat laboratorium, ada perawat anestesi, ada akuntan, ada juru kereta dorong, ada kasir semuanya melayani pasien.

Kelalaian bisa terjadi dimana saja. Keinginan seorang dokter pasien harus segera dilayani itu yang mungkin tidak anda ketahui. Kami sangat terkejut dengan hukuman yang anda timpakan kepada salah seorang anggota profesi kami. Sangat tidak mungkin sebagai sesama profesional anda tidak tahu bagaimana menetapkan seseorang dalam lingkungan profesional.

Sebagaimana Bapak hakim Agung Yang Mulia, anda juga seorang profesional, anda tidak bisa dihukum karena anda menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah. Mungkin seseorang sudah dihukum oleh hakim, Ingat Bapak kasus Sengkon dan Karta. Lalu apakah hakim dihukum pidana karena itu. Untuk menentukan seorang hakim bersalah harus terlebih dahulu ditetapkan oleh Profesinya mungkin dengan membentuk majelis kehormatan, jika majelis kehormatan menentukan bersalah akan ditetapkan hukumannya. Bahkan sebagaimana Bapak ketahui, jelas jelas persoalan korupsi seperti hakim konstitusi, masih dibawa ke Majelis Kehormatan, yang ini tidak saya komentari mungkin itu karena kami tidak mngerti makna mejelis kehormatan, atau memang ada proses pembodohan pada rakyat indonesia dari profesi yang katanya terhormat.

Kami saat ini benar benar lelah Bapak hakim, anda tuduh kami minta keistimewaan dari sisi hukum, anda tuduh kami meminta kekebalan hukum. Saya betul betul ingin tahu apakah itu pernyataan politik anda atau pernyataan karena ketidak tahuan anda. Jika anda tidak tahu, saya meragukan profesionalitas anda dari sisi hukum. Jika kami berbuat pidana korupsi, mencuri, membunuh, memperkosa lalu kami minta tidak dihukum karena kami dokter, itu baru namanya kami minta kekebalan hukum.

Hakim Artijo Alkostar dan kawan kawan yang saya hormati, jika ada hakim yang membebaskan seseorang pada pengadilan negeri dan pengadilan tinggi , kemudian hakim lain menghukum pada mahkamah agung, artinya hakim pada pengadilan negeri dan tinggi salah menghakimi apakah hakim tersebut akan anda hukum karena salah mengambil keputusan, tidak, kenapa? Bapak bapak yang kami muliakan. Anda diberi kehormatan sebagai wakil Tuhan untuk menghukum seseorang bahkan mencabut nyawa seorang dengan hukuman mati. Oleh karena itu anda sangat dimuliakan dan dihormati, tidak ada yang lain yang mempunyai hak mencabut nyawa seseorang selain profesi hakim. Kami ditugasi sebaliknya yaitu mempertahankan nyawa seseorang semaksimal mungkin. Apakah dengan mempunyai tugas sebaliknya tersebut kami kehilangan kemuliaan? . Apakah dinegeri ini yang mulia itu adalah yang bisa merusak atau menghukum. Kami tidak menuntut kemuliaan dengan bisa memperbaiki, menyembuhkan karena itu semua adalah kuasa Allah SWT, kami hanya makhluk sama seperrti anda sekalian yang mempunyai sedikit ilmu yang bisa digunakan untuk menolong sesama.

Bapak Bapak sekalian , selama kami berprofesi, kami sangat sering menemui kegagalan, kami sering menemui kematian. Lalu apakah akibat kematian tersebut kami akan dihukum. Apakah hanya akibat selembar surat izin operasi kami akan dihukum. Lalu jika ada diantara bapak atau kerabatnya yang mengalami kecelakaan diantar datang ke UGD dalam keadaan emergensi apakah kami harus menunggu izin keluarga. Akan banyak kematian kematian diruangan emergensi, dan mungkin nanti sebaliknya lagi kami akan dihukum karena kami melalaikan pasien

Memang kami tidak sehebat montir yang menangani mobil mobil mewah, pasien kami sebagian besar rakyat miskin, yang mungkin hanya akan dihitung harganya jika akan ada pemilihan umum atau Pilkada atau Pilpres dan harganya paling juga berapa.Kami sangat sedih dengan pernyataan Bapak bapak, saat kami sudah jatuh, anda purukkan semakin dalam.

Tolong jangan hina profesi kami apapun argumennya. Apa kami juga bisa menyatakan bahwa profesi montir lebih baik dari Hakim, pasti bapak akan tersinggung. Saat ini anda bentuk opini bahwa kami tidak boleh demo untuk menyatakan pendapat kami , lalu dimana kami harus menyatakan pembelaan diri kami. Disaat semua saluran tertutup, kami menggunakan hak konstitusional kami, hak yang diakui secara internasional.

Kami memang tidak punya kekuatan politis, secara politis kami lemah, kami tidak punya wakil yang benar benar mewakili profesi kami. Dari mahasiswa kami sudah tidak pandai berpolitik. Kami menangis didepan istana Negara minta perhatian, kami menangis didepah Mahkamah Agung minta keadilan, kenapa kami dihujat karena melakukan hal tersebut. Lalu kepada siapa lagi kami memohon. Kami tidak punya kekuatan, jumlah kami tidak cukup besar, kami juga tidak mampu dan tidak ingin membongkar pagar MA, kami tidak demo dengan kekerasan. Kami hanya berteriak “ Oh Bapak kami tolong dengar suara kami”. Lalu apakah kami salah karena ini. Apakah hak konstitusional kami juga akan dihabisi.

Kami hanya ingin minta diselamatkan, selamatkan kami selamatkan dokter Indonesia, selamatkan bangsa ini , selamatkan negara ini. Ya Allah selamatkan kami , selamatkan bangsa kami selamatkan negara kami.
ijin nyimak aja ya kak
berat nih isi suraTNYA emoticon-Ngacir
Puanjang bener isiinya






Tigel
I Love Indonesia
Quote:Original Posted By simpananfatanah
ijin nyimak aja ya kak


Silakan disimak Gan...emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By kak***forbidden***edy
berat nih isi suraTNYA emoticon-Ngacir


Emang panjang gan... tapi nggak berat kok

ninggalin jejak aja lahemoticon-Smilie
Quote:Original Posted By simpananfatanah
ijin nyimak aja ya kak


mantap pic simpanan fatanah, berapaan gan?
Jadi objektif masalahnya emoticon-I Love Indonesia (S)
semoga bisa diselesaikan dengan kepala dingin emoticon-Belo
Ayo bantu komen gan... mudah2an ahli hukum itu terbuka matanya
bantu up aja
kagak ngerti ane
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
ane akan salut ke para Dokter jika mereka tidak demo melainkan mengadakan kegiatan pengobatan gratis emoticon-Smilie
males baca ane.sedang pusing,isinya protes gara2 vonis dokter siapalah itu ya?emg berlebihan jga sih vonisnya.
kasian juga sih jadinya klo dah begini,,
sang pencabut nyawa VS sang penyelamat nyawa
hhhh emoticon-No Hope emoticon-No Hope
Quote:Original Posted By boulevardoutlet
ane akan salut ke para Dokter jika mereka tidak demo melainkan mengadakan kegiatan pengobatan gratis emoticon-Smilie


Ntar abis ada pengobatan gratis resiko nya mati kak,maka mungkin sementara waktu ngobatin batuk pilek aja dulu drpd resiko nanganin pasien yang berbahaya (berresiko tinggi)
Breaking News! Akhirnya Menkes mulai menarik para dokter residen yang bertugas di daerah2
Keadilan tidak selalu dilihat dari kacamata hukum. Pertanyaannya : orang bunuh diri karena takdir atau kemauannya ? Karena mati adalah takdir, tapi bunuh diri adalah dosa.
Ada yg bisa menjelaskan ?

Menkes Akan Tarik Dokter PPDS Kepri
SENIN, 02 DECEMBER 2013 00:00
FKUI Mengecek SIP Pendidikan Dokter

TANJUNGPINANG (HK) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dikabarkan akan menarik seluruh dokter spesialis yang ditempatkan di pulau terpencil termasuk di Kepulauan Riau. Keputusan ini setelah Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman penjara enam bulan kepada tiga dokter di Manado, Sulawesi Utara yang dinilai lalai dan mengakibatkan pasien meninggal.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau (Kepri) dr Jusrizal, Minggu (1/12) kemarin. "Yang sudah pasti ditarik itu adalah dokter spesialis yang ada di Lingga dan Natuna. Saya belum dapat informasi jelas dari kabupaten lainnya. Tapi jika sudah jadi keputusan Menkes, saya pikir semuanya akan mengikuti," ujar Jusrizal.

Menurutnya, keputusan yang diambil hakim Mahkamah Agung (MA) merupakan keputusan yang keliru karena dampaknya meluas hingga masyarakat kecil menjadi korban.

"Kenapa masyarakat yang saya bilang jadi korban? Nah, apabila para dokter ini sudah tidak bertugas lagi di daerah terpencil seperti Anambas, Lingga dan Natuna, siapa yang mau (bertugas) ke sana," ucapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri dr Tengku Afrizal Dahlan. Menurutnya, putusan hakim MA membawa dampak negatif yang cukup luas bagi masyarakat yang tinggal di daerah kepulauan dan terpencil.

"Kami sangat menyayangkan adanya keputusan (hakim) itu, sehingga muncul kebijakan menteri untuk menarik semua PPDS atau calon dokter spesialis senior yang ditempatkan di seluruh daerah termasuk Kepri," ujarnya.

Menurutnya, hal itu juga menjadi salah satu tujuan para dokter di seluruh nusantara melakukan aksi mogok dan membela rekan-rekan profesinya yang terkena masalah pidana.

"Kami hanya ingin mengingatkan, jangan sampai putusan hakim menimbulkan efek yang luas. Dan ternyata keputusan (Menkes) benar-benar keluar dan membawa dampak tidak baik ke daerah," jelasnya.

Menurut Afrizal, penempatan dokter PPDS di daerah terpencil merupakan kebijakan Menkes yang didasari pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 535 Tahun 2008 tentang Pemberian Bantuan Bagi Peserta Program PPDS. Menteri Kesehatan juga berwenang menarik dokter PPDS dari daerah terpencil di seluruh Indonesia.

Dokter PPDS atau dokter residen adalah dokter yang kompeten di bidang tertentu tetapi belum sepenuhnya lulus pendidikan. Mereka dikirim ke tempat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan bekerja atas pengawasan dinas kesehatan setempat. Di daerah yang tidak memiliki dokter spesialis, keberadaan dokter residen atau PPDS menjadi penting karena dibutuhkan.

Dengan adanya kasus yang menimpa tiga dokter yakni Dewa Ayu Sasiary Prawani, Hendry Simanjuntak, dan Hendy Siagian di Manado, lanjut Afrizal, baik Menkes maupun PPDS tidak akan mau mengambil risiko sehingga ujungnya berakhir dengan penarikan dokter PPDS.

"Kami dari IDI Kepri sangat prihatin dan menyayangkan penarikan ini. Sekarang siapa lagi yang mau turun atau ditempatkan di daerah-daerah terpencil?" tanyanya.

Seperti dilansir dari laman Metrotvnews, Menkes khawatir dokter akan ragu dalam bertindak karena takut dipidana. "Kalau begini, bagaimana bisa. Dokter spesialis kalau tidak mau ke daerah kan susah. Kalau takut setiap pasien yang meninggal dokter disalahkan, kan susah. Nanti kalau ada pasien gawat bagaimana," kata Nafsiah, beberapa waktu lalu.

Sementara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), seperti dikutip dari laman Kompas Health, kemarin, menegaskan tidak akan menarik dokter PPDS yang berasal dari kampus tersebut.

"FKUI tidak menarik residen karena dokter residen (PPDS,red) dibutuhkan di berbagai daerah, dan ada perjanjian kerjasama dengan daerah. Kami memberikan tenaga yang kompetensinya sudah tercapai untuk memberikan pelayanan kesehatan di tempat yang tidak memiliki dokter spesialis atau di daerah terpencil," ungkap Dekan FKUI Ratna Sitompul, Sabtu (30/11).

Hal senada disampaikan Manajer Akademik dan Kemahasiswaan FKUI Pradana Soewondo, "Perlu kami sampaikan bahwa FKUI tidak menarik PPDS dari daerah. Yang ada kami meminta agar segera mengecek SIP pendidikannya sudah dikeluarkan oleh dinas kesehatan masing-masing sesuai dengan peraturan," terangnya melalui pesan singkat. (rul)

sumber

LEBAY

Quote:Original Posted By coconut.field
Menkes Akan Tarik Dokter PPDS Kepri
SENIN, 02 DECEMBER 2013 00:00
FKUI Mengecek SIP Pendidikan Dokter

TANJUNGPINANG (HK) - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dikabarkan akan menarik seluruh dokter spesialis yang ditempatkan di pulau terpencil termasuk di Kepulauan Riau. Keputusan ini setelah Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman penjara enam bulan kepada tiga dokter di Manado, Sulawesi Utara yang dinilai lalai dan mengakibatkan pasien meninggal.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau (Kepri) dr Jusrizal, Minggu (1/12) kemarin. "Yang sudah pasti ditarik itu adalah dokter spesialis yang ada di Lingga dan Natuna. Saya belum dapat informasi jelas dari kabupaten lainnya. Tapi jika sudah jadi keputusan Menkes, saya pikir semuanya akan mengikuti," ujar Jusrizal.

Menurutnya, keputusan yang diambil hakim Mahkamah Agung (MA) merupakan keputusan yang keliru karena dampaknya meluas hingga masyarakat kecil menjadi korban.

"Kenapa masyarakat yang saya bilang jadi korban? Nah, apabila para dokter ini sudah tidak bertugas lagi di daerah terpencil seperti Anambas, Lingga dan Natuna, siapa yang mau (bertugas) ke sana," ucapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri dr Tengku Afrizal Dahlan. Menurutnya, putusan hakim MA membawa dampak negatif yang cukup luas bagi masyarakat yang tinggal di daerah kepulauan dan terpencil.

"Kami sangat menyayangkan adanya keputusan (hakim) itu, sehingga muncul kebijakan menteri untuk menarik semua PPDS atau calon dokter spesialis senior yang ditempatkan di seluruh daerah termasuk Kepri," ujarnya.

Menurutnya, hal itu juga menjadi salah satu tujuan para dokter di seluruh nusantara melakukan aksi mogok dan membela rekan-rekan profesinya yang terkena masalah pidana.

"Kami hanya ingin mengingatkan, jangan sampai putusan hakim menimbulkan efek yang luas. Dan ternyata keputusan (Menkes) benar-benar keluar dan membawa dampak tidak baik ke daerah," jelasnya.

Menurut Afrizal, penempatan dokter PPDS di daerah terpencil merupakan kebijakan Menkes yang didasari pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 535 Tahun 2008 tentang Pemberian Bantuan Bagi Peserta Program PPDS. Menteri Kesehatan juga berwenang menarik dokter PPDS dari daerah terpencil di seluruh Indonesia.

Dokter PPDS atau dokter residen adalah dokter yang kompeten di bidang tertentu tetapi belum sepenuhnya lulus pendidikan. Mereka dikirim ke tempat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan bekerja atas pengawasan dinas kesehatan setempat. Di daerah yang tidak memiliki dokter spesialis, keberadaan dokter residen atau PPDS menjadi penting karena dibutuhkan.

Dengan adanya kasus yang menimpa tiga dokter yakni Dewa Ayu Sasiary Prawani, Hendry Simanjuntak, dan Hendy Siagian di Manado, lanjut Afrizal, baik Menkes maupun PPDS tidak akan mau mengambil risiko sehingga ujungnya berakhir dengan penarikan dokter PPDS.

"Kami dari IDI Kepri sangat prihatin dan menyayangkan penarikan ini. Sekarang siapa lagi yang mau turun atau ditempatkan di daerah-daerah terpencil?" tanyanya.

Seperti dilansir dari laman Metrotvnews, Menkes khawatir dokter akan ragu dalam bertindak karena takut dipidana. "Kalau begini, bagaimana bisa. Dokter spesialis kalau tidak mau ke daerah kan susah. Kalau takut setiap pasien yang meninggal dokter disalahkan, kan susah. Nanti kalau ada pasien gawat bagaimana," kata Nafsiah, beberapa waktu lalu.

Sementara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), seperti dikutip dari laman Kompas Health, kemarin, menegaskan tidak akan menarik dokter PPDS yang berasal dari kampus tersebut.

"FKUI tidak menarik residen karena dokter residen (PPDS,red) dibutuhkan di berbagai daerah, dan ada perjanjian kerjasama dengan daerah. Kami memberikan tenaga yang kompetensinya sudah tercapai untuk memberikan pelayanan kesehatan di tempat yang tidak memiliki dokter spesialis atau di daerah terpencil," ungkap Dekan FKUI Ratna Sitompul, Sabtu (30/11).

Hal senada disampaikan Manajer Akademik dan Kemahasiswaan FKUI Pradana Soewondo, "Perlu kami sampaikan bahwa FKUI tidak menarik PPDS dari daerah. Yang ada kami meminta agar segera mengecek SIP pendidikannya sudah dikeluarkan oleh dinas kesehatan masing-masing sesuai dengan peraturan," terangnya melalui pesan singkat. (rul)

sumber


SIKAPI PUTUSAN HAKIM DENGAN DEWASA. JANGAN JUSTRU MENGAMBIL TINDAKAN YANG MERUGIKAN MASYARAKAT
SEHARUSNYA MENKES BISA MENDINGINKAN HATI PARA DOKTER YANG SEDANG PANAS DAN MEMOTIVASI MEREKA UNTUK TETAP MENGUTAMAKAN PELAYANAN MASYARAKAT. JAWAB PUTUSAN KASASI DENGAN PENINJAUAN KEMBALI DAN TETAP BEKERJA.
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)

Banyak dokter yang baik, tp tdk sedikit yg jelek

Quote:Original Posted By coconut.field
Surat Terbuka Kepada :
Hakim Agung Artijo Alkostar,
Wamenkumham Deni Indrayana,
Wakil Ketua MK Hakim Arif Hidayat dan
Ibu Ribka Ciptaning dkk

Assalamualaikum dan salam hormat Perlu kami sampaikan terlebih dahulu kepada Bapak bapak yang mulia bahwa kami ini adalah anak anak bangsa , dokter Indonesia yang tidak pandai berpolitik, kami tertinggal jauh disaat situasi seperti sekarang ini dimana survive seseorang ditentukan oleh kepiawaiannya berpolitik.

........

Kami hanya ingin minta diselamatkan, selamatkan kami selamatkan dokter Indonesia, selamatkan bangsa ini , selamatkan negara ini. Ya Allah selamatkan kami , selamatkan bangsa kami selamatkan negara kami.


Semua profesi pasti ada yang baik dan yang buruk. Kita harus salut terhadap dokter yang mengabdi dengan tulus untuk membantu pasien. Namun kita juga miris melihat dokter yang mata duitan.
Btw, masalah dr. ayu bersifat kasuistik, tidak bisa digenaralisir. hrs dilihat case by case.
emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)