alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/528ec1e5ffca17843f000000/kutitip-surat-ini-untukmu--tulisan-seorang-ibu-untuk-anaknya
KUTITIP SURAT INI UNTUKMU ( Tulisan Seorang Ibu Untuk Anaknya)
Assalamu'alaikum,
Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta'ala yang
telah memudahkan
Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam
Ibu sampaikan
kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,
keluarga dan para
sahabatnya. Amin.
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung
sengsara. Setelah
berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan
menggoreskan pena,
sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri.
Setiap kali
menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang
oleh tangis, dan
setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati
terluka.
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat
engkau telah menjadi
laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak!
Karenanya engkau
pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau
remas kertas ini
lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya
engkau telah remas hati
dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku.
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan
tahun
kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter
datang menyampaikan
kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat
mengetahui arti kalimat
tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam
diri ini
sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik
dan emosi.
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9
bulan. Tidur, berdiri,
makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu
semua tidak
mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu,
bahkan ia tumbuh bersama
berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku!
Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan
itu aku begitu
gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu
dan balikan badanmu
di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang
diriku, karena
semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti
engkau sehat wal
afiat dalam rahimku. Penderitaan yang berkepanjangan
menderaku,
sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang
aku tidak dapat
tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku
merasakan sakit
yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa
dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak
dapat lagi
menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian
menari-nari di
pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar
ke dunia. Engkau
pun lahir. Tangisku bercampur dengan tangismu, air
mata kebahagiaan.
Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan
kesedihan, hilang semua
sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin
bertambah dengan
bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku
meraih minuman,
aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air
ke
kerongkonganku.
Wahai anakku.
Telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu
dengan hatiku dan
memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku.
Saripati hidupku
kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu,
berletih demi
kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar
aku melihat
senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah
celotehmu dalam meminta
sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu. itulah
kebahagiaanku!
Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan
berganti bulan
dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia
menjadi pelayanmu
yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak
pernah berhenti,
dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal
lelah serta
mendo'akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga
engkau menjadi
dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar,
kumis dan jambang tipis
yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah
ketampananmu. Tatkala itu
aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari
pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkimpoianmu, semakin dekat pula
hari kepergianmu.
saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku
mengalir,
entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur
dengan duka,
tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia
karena engkau
mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau
pelipur hatiku akan
berpisah denganku.
Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan
berat. Kiranya
setelah perkimpoian itu aku tidak lagi mengenal dirimu,
senyummu yang
selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan,
sekarang telah sirna
bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam.
Tawamu yang
selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah
tenggelam seperti
batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening,
dengan dedaunan yang
berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi
karena engkau telah
melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin
melihat rupamu.
Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu.
Akan tetapi
penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri
di pintu hanya
untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali
berderit pintu aku
manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu.
Setiap kali telepon
berdering aku merasa bahwa engkaulah yang
menelepon. Setiap suara
kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah
yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia
dan harapanku
hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang
tersisa hanyalah
kesedihan dari semua keletihan yang selama ini
kurasakan. Sambil
menangisi diri dan nasib yang memang telah
ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku.
Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah
menagih kepadamu yang
bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai
sahabat dalam
kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini
sebagai pembantu di
rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar
Ibu teringat pula
dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Dan Ibu memohon kepadamu, Nak!
Janganlah engkau memasang jerat permusuhan
denganku, jangan engkau
buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang
wajahmu!! Yang Ibu tagih
kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat
persinggahanmu,
agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana
sekalipun hanya satu
detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang
tidak pernah
engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau
datangi sambil engkau
tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar
tanganku, karena
badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh
penyakit. Berdiri
seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong,
sekalipun begitu
cintaku kepadamu masih seperti dulu. Masih seperti
lautan yang tidak
pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah
berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh
seseorang, niscaya
engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan
setimpal. Sedangkan
kepada ibumu. Mana balas budimu, nak!? Mana balasan
baikmu! Bukankah
air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?!
Akan tetapi
kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas
dengan tuba. Bukankah
Allah ta'ala telah berfirman, "Bukankah balasan
kebaikan kecuali
dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60) Sampai
begitu keraskah
hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah
berlalunya hari dan
berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa
engkau bahagia dengan
hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku.
Bagaimana tidak,
engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah
hasil dari
keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku!
Kiranya dosa apa yang
telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh
bebuyutanmu?!
Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu
selama bergaul
denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam
melayanimu?
Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan
statusku
sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari
sekian banyak
pembantumu. Semua mereka telah mendapatkan
upahnya!? Mana upah yang
layak untukku wahai anakku!
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan
kepadaku di bawah naungan
kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan
sedikit kasih sayangmu
demi mengobati derita orang tua yang malang ini?
Sedangkan Allah
ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku!!
Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak
menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir,
sedangkan engkau
sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa
engkau seorang
laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku. Tidak
tersentuhkah
hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak
terenyuhkah
jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa
dimakan oleh
rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian
kedukaan!? Bukan karena
apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah
berhasil mengalirkan
air matanya. Hanya karena engkau telah membalasnya
dengan luka di
hatinya. hanya karena engkau telah pandai menikam
dirinya dengan
belati durhakamu tepat menghujam jantungnya. hanya
karena engkau telah
berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga
bagimu. Maka titilah
jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan
senyuman yang manis,
pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku
bertemu denganmu di sana
dengan kasih sayang Allah ta'ala, sebagaimana dalam
hadits: "Orang tua
adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau
mau, maka sia-
siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)
Anakku.
Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu.
Semenjak engkau telah
beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu
kepada pahala dan surga
begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang
keutamaan shalat
berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat
untuk berinfak dan
bersedekah.
Akan tetapi, anakku!
Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu
keutamaan besar
yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia
shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas'ud
radhiallahu 'anhu
berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam,
"Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau
bersabda:
"Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa,
wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda: "Berbakti kepada kedua orang tua",
dan aku berkata:
"Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad
di jalan Allah",
lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya
beliau akan
menjawabnya. (Muttafaqun 'alaih)
Wahai anakku!!
Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk
memerdekakan
budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau
mendengar cerita
seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan
anak-anaknya dan
berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang
emas?! Setelah
tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia
bawa pulang hanya
tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam
usahanya. Setibanya
di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk
reotnya, tetapi yang
dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas
yang besar. Berletih
mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk
reotnya orang
mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau
berletih mencari
pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah
lupa bahwa di
dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu
ada orang yang dapat
menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah
ridhoku adalah keridhoan
Allah ta'ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku
takutkan bahwa jangan-
jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam
dalam sabdanya: "Merugilah seseorang, merugilah
seseorang, merugilah
seseorang", dikatakan, "Siapa dia,wahai Rasulullah?,
Rasulullah
menjawab, "Orang yang mendapatkan kedua ayah
ibunya ketika tua, dan
tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)
Anakku.
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku
tidak adukan duka
ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah
membumbung
menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka
akan menimpamu
kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya
dan tidak ada
dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan
melakukannya, Nak!
Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau
adalah jantung
hatiku. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan
tangannya ke langit
sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana
Ibu tega melihatmu
merana terkena do'a mustajab, padahal engkau bagiku
adalah kebahagiaan
hidupku.
Bangunlah Nak!
Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu
masa hingga engkau
akan menjadi tua pula, dan al jaza' min jinsil amal.
"Engkau akan
memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam." Aku
tidak ingin engkau
nantinya menulis surat yang sama kepada anak-
anakmu, engkau tulis
dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya
dengan air mata itu pula
kepadamu.
Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah, dan kepada
ibumu, peganglah
kakinya!!
Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya,
balurlah
kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan
kokohkan badannya yang
telah lapuk.
Anakku.
Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu!
Apakah engkau sadar
dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu

diambil dari buku 'Kutitip Surat Ini Untukmu'
karya Ustadz Armen
Halim Naro, Lc rahimahullah.
aduh jereng bacanya emoticon-Nohope
---
sedih.. emoticon-Frown
Selamat hari Ibu emoticon-army

Quote:Original Posted By Cygnus.Hyoga
Selamat hari Ibu emoticon-army



bukannya 22 desember ya emoticon-Bingung
cuma sanggup scroll down lgsg.... banyak bgt hurupnya....emoticon-Matabelo
Jadi kangen emak dikampung..emoticon-Mewek

emak...............emoticon-Mewek
oh please..

bisa ga c klo copas dirapiin dulu, ga sanggup bacanya langsung scroll2 aja emoticon-Frown
Maaf jika berantakan...
Quote:Original Posted By hazelnutty
oh please..

bisa ga c klo copas dirapiin dulu, ga sanggup bacanya langsung scroll2 aja emoticon-Frown


Maap gan... Sekedar share aja...! Ane lg pake hp... Ribet juga ngrapiin nye!! Gimana klo baca tulisan asli tangan ibu ente gan? Beneran langsung diremeg kali ya emoticon-Big Grin sabar gannn... Lihat isinya
Quote:Original Posted By toew


bukannya 22 desember ya emoticon-Bingung


sekarang udah direvisi, jadi dimajuin satu bulan gan emoticon-army

Quote:Original Posted By akh_zaki
Yang tidak nangis baca ini... Periksa hati ente gan....! Heheee


kenapa gw harus nangis utk bacaan gini ? gak ada alesan utk gw nangis setelah baca tulisan ini karena gw gak perlakuin ortu gw seperti tulisan di atas...

just a common story....nothing special...

emg knp hub lu dgn ibu lu....? klo mw mewek ya udah ceritain masalah lu apa...
Quote:Original Posted By pasti_klonengan


kenapa gw harus nangis utk bacaan gini ? gak ada alesan utk gw nangis setelah baca tulisan ini karena gw gak perlakuin ortu gw seperti tulisan di atas...

just a common story....nothing special...

emg knp hub lu dgn ibu lu....? klo mw mewek ya udah ceritain masalah lu apa...

kaga memperlakukan
apa emang kaga baca gan..? emoticon-Ngakak (S)

jujur aja nih, ane baca seperempat juga ga abis.,..emoticon-Hammer (S)
Quote:Original Posted By pasti_klonengan


kenapa gw harus nangis utk bacaan gini ? gak ada alesan utk gw nangis setelah baca tulisan ini karena gw gak perlakuin ortu gw seperti tulisan di atas...

just a common story....nothing special...

emg knp hub lu dgn ibu lu....? klo mw mewek ya udah ceritain masalah lu apa...


tadi katanya cuma scroll down doank emoticon-EEK!
Quote:Original Posted By bhethoro.kolo

kaga memperlakukan
apa emang kaga baca gan..? emoticon-Ngakak (S)

jujur aja nih, ane baca seperempat juga ga abis.,..emoticon-Hammer (S)


keknya sih karena ibunya kurang dianggep gitu ceritanya....gw nanggkepnya gitu...emoticon-Ngakak

apa gw gagal paham....gila panjang bgt.....emoticon-Busa
Quote:Original Posted By pasti_klonengan


kenapa gw harus nangis utk bacaan gini ? gak ada alesan utk gw nangis setelah baca tulisan ini karena gw gak perlakuin ortu gw seperti tulisan di atas...

just a common story....nothing special...

emg knp hub lu dgn ibu lu....? klo mw mewek ya udah ceritain
masalah lu apa...


Semoga bener gan...!


Quote:Original Posted By hazelnutty


tadi katanya cuma scroll down doank emoticon-EEK!


penasaran sih gw baca abis jadinya...ya itu gw nangkepnya karena si ibu ngerasa gak diperhatiin sama anaknya...berasa perjuangannya gk dihargain... FTV storylah....

Quote:Original Posted By akh_zaki


Maap gan... Sekedar share aja...! Ane lg pake hp... Ribet juga ngrapiin nye!! Gimana klo baca tulisan asli tangan ibu ente gan? Beneran langsung diremeg kali ya emoticon-Big Grin sabar gannn... Lihat isinya


alesan aja lo, klo lo bertanggung jawab ma isi postingan lo, lo pasti bakal susah payah ngerapiin itu demi yg baca enak liatnya, banyak koq yg posting dari hp tapi masi jauh lebih rapi dari lo.

sori ya tulisan nyokap gw mah rapi emoticon-Cool
Quote:Original Posted By akh_zaki


Semoga bener gan...! Tapi biasanya anak baik ngomongnya ga lu... Gw ...! O iya udah biasa itu mah ya gan... Orang kota



pikirannya sempit amat ye....emoticon-Cape d...

gak ada hubungannya antara panggilan sama baik ngak orgnya....apa panggilan gw elu itu salah ? jgn berpikiran sempit lah ... emoticon-Cape d... (S)

gw harus manggil lu apa jadinya...? ndoro ? raden ? emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By akh_zaki


Semoga bener gan...! Tapi biasanya anak baik ngomongnya ga lu... Gw ...! O iya udah biasa itu mah ya gan... Orang kota



sejak kapan anak baik ditentukan dengan gw-lo aku-kmu emoticon-Ngakak

yampuun TS, dangkal banget c pikiran lo.

lo pikir koruptor2 membahasakan dirinya apa? gw rasa kebanyakan saya-anda, sopan kan menurut lo? tapi tetep aja bejat kelakuannya.
Gak berani komen emoticon-Frown

gw biasa ngomong gw-elo-koen-cuk emoticon-Frown

emoticon-Ngacir
×