alexa-tracking

[Orific] Eremidia Dungeon

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/528eba72148b46a62d000014/orific-eremidia-dungeon
[Orific] Eremidia Chronicles
[Orific] Eremidia Dungeon



Cerita : Shikami, Oscar, Superkudit.
Konsep : Shikami
Ilustrasi : Superkudit
Musik : Oscar
Genre : Shonen, Fantasy, Adventure
Jadwal Update : Minggu
SINOPSIS
Quote:
Jack Valor, lelaki yang bisa segalanya, namun tak menguasai segalanya alias "Jack of All Trades, mendengar kabar, bahwa sebuah dungeon berada di gurun selatan, di dekat desa Orsha. Jiwa petualang dan hasrat untuk mengisi jurnalnya dengan cerita-cerita hebat baru membuat lelaki itu begitu bersemangat untuk pergi ke dungeon tersebut.

Perjalanan untuk mengeksplorasi menara itu membuat Jack bertemu dengan teman baru, Eri, seorang pemburu harta dari Westerland, Arianne, cucu pandai besi terkenal, serta Leo, seorang tentara bayaran. Mereka berusaha memecahkan misteri anomali-anomali yang terjadi di desa Orsha, yang entah mengapa semuanya terhubung dengan eksistensi dungeon bernama Menara Senja itu.

PROLOG
Spoiler for "Prolog":


[Orific] Eremidia Dungeon

Daftar Episode


[Orific] Eremidia Dungeon
Episode 1 : Para Petualang
Quote:
Seorang pria yang mengenakan rompi bertudung berwarna kecoklatan tengah berdiri di depan gerbang kota. Penampilannya sedikit berantakan akibat terjangan angin gurun yang cukup kencang. Ia sedikit membersihkan debu-debu yang menempel di ranselnya yang tampak berat. sesekali ia merapikan letak kapak tangan bergantung di pinggangnya.

“Jadi ini ya kota perbatasan selatan, Algeus..” gumam pria itu sambil melihat sekeliling.

Algeus adalah kota perbatasan Kerajaan Eremidia di bagian selatan. Tempat bertemunya tanah rerumputan dan gersangnya pasir gurun. kota ini terasa cukup ramai meski boleh dikatakan letaknya sangat jauh dari ibukota, bahkan dari kota-kota lain di sekitarnya.

Pria tadi adalah Jack Valor, seorang petualang yang berambisi menjelajahi seluruh negeri. Sepanjang hidupnya ia habiskan dengan berkelana mencari pengalaman baru serta suasana baru, entah itu di alam liar, desa pedalaman maupun tempat-tempat eksotis lainnya. semua itu untuk memuaskan rasa keingintahuannya yang tinggi.

“Hmm menarik sekali, jadi penasaran Dungeon seperti apa di tengah gurun seperti itu? ” .

Jack berjalan sambil membaca selebaran di tangannya. Selebaran berisi pengumuman itu dibagikan sepanjang jalan menuju pintu masuk Algeus. isi pengumumannya sungguh menarik perhatian.

Jack melewati dua prajurit penjaga yang sedang tegap berdiri layaknya patung di kedua sisi gerbang itu. kedua prajurit itu memegang tombak dan sebuah perisai besar. sebuah pemandangan kota besar mulai terpampang di hadapannya. Rumah-rumah bertingkat yang terbuat dari batu bata berwarna kekuningan berjajar di kanan-kiri jalan. tingginya kira-kira 8 meter, bahkan ada rumah yang tingginya mencapai 15 meter. kebanyakan rumah itu memang milik orang-orang kaya yang tinggal disana.

Permadani berwarna-warni menghiasi daun-daun jendela rumah itu. permadani mahal memang harus sering dijemur agar tidak cepat kotor. Jack medongak ke arah bagian ujung kota, sebuah bukit yang terdapat kastil Silverlance yang berdiri megah..

Setelah melewati dua blok, Jack tiba di pasar agung, pusat keramaian Algeus. banyak pedagang yang menjaga stan-stan di kanan-kiri jalan sehingga terdengar begitu riuh. mereka menawarkan berbagai macam barang dagangannya seperti Senjata, aksesoris, makanan, dan sebagainya. sayangnya Jack tidak ada waktu untuk melihat-lihat lebih jauh. Namun perhatiannya mulai tersita ketika melihat banyaknya pengunjung tempat itu yang berpakaian cukup mencolok. Ia menduga sebagian besar dari mereka adalah petualang.

Ia melihat kejadian menarik saat berjalan ke sebuah kedai minum, dimana ia melihat seorang gadis pirang bersyal merah di leher yang sedang menuntun kudanya.

“Maaf nona, bisakah anda menyuruh kuda anda tidak memakan apel-apelku?”

seru seorang pedagang memohon. gadis itu sedikit terkejut dan menepuk-nepuk leher kudanya cukup keras.

“Dasar kuda bodoh! sudah kubilang jangan makan dagangan orang lain!”

Kuda hitam itu hanya meringkik keras.

Gadis itu menoleh ke arah pedagang buah-buahan itu. Ia tersenyum menyembunyikan rasa takut pada jawaban dari pertanyaan yang akan ditanyakannya.

[Orific] Eremidia Dungeon

“Berapa apel yang sudah dimakannya?”

“Sekitar 30 apel,” jelas pedagang itu.

“Eh?” sebuah hawa aneh berhembus di leher belakang gadis berambut pirang itu. Dia merasa seluruh warna di tubuhnya telah menghilang.

“Kuda bodoh, apa kau mau memerasku ha?... Bagaimana kalau aku kehabisan uang nanti?... Apa kau mau kucincang untuk bekal makanan melintasi gurun, ha?” gerutu gadis itu sambil memelototi dalam-dalam kearah mata kudanya.


Jack hanya tersenyum melihatnya sambil berlalu masuk ke kedai. Kebetulan sekali kedai sedang ramai siang itu, banyak petualang tengah mampir di sana untuk sekedar bersantai dan mungkin saja bertukar informasi.

Jack duduk di bar di samping Lelaki muda berambut merah yang tampak menikmati minuman karena ia berkali-kali mengisi dan meneguknya berulang-ulang. wajahnya tampak kemerahan.

“Tuan Bartender, Ale, satu gelas,” teriak Jack memesan pada bartender yang sedang mengelap gelas.

“Baik tuan”

Sambil menunggu Jack meletakkan selebarannya di meja. ia tampak sibuk meletakkan ranselnya yang berat.

“Ini pesanan anda tuan,” kata bartender itu sambil menyerahkan ale pesanan Jack. perhatiannya lalu terlaihkan pada selebaran di samping Jack.

“Anda mau pergi ke Menara Senja tuan?” Jack mengangguk. Matanya memancarkan rasa tanya yang besar kepada sang bartender.

“Iya, apa anda tahu sesuatu tentang menara itu?”

“Menara itu populer sekali akhir-akhir ini. Banyak orang yang membicarakannya sejak para Agen dari Guardian menemukannya sekitar satu-dua bulan yang lalu.”


Jack mendengarkan lebih lanjut. cerita sang Bartender.

“Dari rumor yang beredar. penjelajahan menara itu masih dalam tahap awal. Aku dengar sampai sekarang belum ada yang bisa menjelajahi sepenuhnya lantai dasar lantai tersebut. oleh karena itu, pihak Guardian mulai merekrut para petualang itu bersama-sama mengeksplorasi tempat itu”

"menurutku, para petualang memang harus bergabung dengan pihak Guardian, selain lebih terjamin keamanannya, banyak keuntungan dalam memiliki lisensi dari Guardian seperti diskon di toko-toko besar yang tergabung dalam serikat dagang, ijin masuk dungeon-dungeon tertentu dan tentu saja, hak milik harta apapun yang kau temukan di dalam Dungeon, asik sekali kan?"


Jack meminum ale-nya lebih cepat. rasa hausnya sepertinya tidak hilang setelah mendengar tawaran seperti itu.
ia lalu menanyakan bagaimana memperoleh lisensi namun bartender kurang begitu paham sistem registrasinya.

Jack menghela nafas kecewa. surat ijin masuk dungeon adalah satu-satunya hal yang ia inginkan karena ia beberapa kali dilarang masuk Dungeon yang dikategorikan "bukan untuk umum". ia penasaran apa yang membuat tempat tersebut begitu ketat penjagaannya.

Selagi berpikir bagaimana memperoleh lisensi. tiba-tiba tiga orang lelaki yang duduk di belakang Jack tertawa meremehkan. tampaknya mereka mendengarkan pembicaraan Jack dan Bartender.

“Hei lihat, penebang kayu ini ingin memperoleh lisensi dari Guardian hahaha...”

“Cobalah berkaca dulu, kawan ! kau ini tidak punya potongan yang meyakinkan sebagai seorang petualang ! ”

“Lihat, dia membawa ransel dan tikar piknik, dia pikir Menara Senja itu wahana wisata, hahaha...”

Dan berbagai ejekan lain ikut membuat seluruh pengunjung tertawa keras. Hanya satu orang yang tidak ikut tertawa. Lelaki berrambut merah yang duduk di samping Jack.

"ya haha, mau bagaimana lagi ?". Jack hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal lalu ikut tertawa. entah kenapa wajahnya terlihat agak bodoh. lelaki di sebelahnya dengan keras meletakkan gelasnya.

“Jika aku jadi kau, sudah kuhajar mereka semua,” gumam lelaki berambut merah itu sambil meletakkan beberapa keping Dnas dan beranjak pergi dari kedai itu.

"Heh, lelaki yang tangguh ! ah,tak perlu kau ambil hati omongan para petualang itu, mereka sudah terlalu mabuk!" komentar Bartender sambil berbisik. Jack hanya tersenyum lebar.

"tidak apa-apa, bukankah hanya perlu kubuktikan saja kalau aku bisa memperoleh lisensi tersebut, benar tidak?"

Bartender merasakan rasa percaya diri dan keyakinan begitu besar pada diri Jack.
Ia yakin lelaki di depannya itu lebih hebat dari kelihatannya.
Episode 2 : Menuju Gurun Pasir
Quote:
Setelah puas menghilangkan dahaga di kedai, Jack kembali ke pasar agung, ia duduk di sekitar monumen jam matahari besar di tengah pasar tersebut. terdapat patung jenderal legendaris Silverlance, pemimpin Algeus yang pernah memimpin pertahanan dari teror makhluk gurun beratus tahun lalu.

ia lalu merencakan untuk membeli semua perbekalan yang ia butuhkan dan berapa dana yang masih ia miliki.

"100 Dnas.. lumayan banyak juga..". sejenak ia teringat pekerjaan sampingan dari kebun tak jauh dari kota ini namun segera teralihkan dengan serombongan petualang yang mendatangi seorang penduduk.

rombongan yang terdiri dari lima orang tersebut tampaknya tengah bernegoisasi dengan penduduk tersebut. setelah berargumen sengit, akhirnya para petualang itu sepakat dan mereka langsung menuju ke arah selatan kota. penduduk itu tampak asyik menghitung uang hasil pembayaran atas suatu hal.

"permisi tuan, boleh saya bertanya? tadi para petualang yang barusan pergi membicarakan apa ya?"

si penduduk berpakaian jubah panjang itu tampak mengamati Jack secara seksama.

"Ah urusannya apa denganmu? tapi kalau kau ingin tahu, mereka hendak menyewa pemandu dan beberapa Orzard untuk pergi ke Orsha !"

Orzard adalah binatang reptil mirip dengan burung dimana memiliki paruh dan berjalan dengan dua kaki. terdapat bulu di sekitar kepala hingga punggungnya. Sayapnya kecil tidak digunakan untuk terbang akan tetapi untuk menyeimbangkan tubuh mereka saat berlari. Binatang itu sedikit lebih besar dari kuda dan bisa membawa banyak barang-barang dan tahan minum sampai 3 hari.

“Orsha?”

" Ya, Desa tengah gurun. Aku perhatikan kau ini tampak seperti seorang petualang juga tapi lusuh sekali ckck.."

Jack hanya tersenyum tipis. Ia terbiasa dianggap seperti itu. ia bertanya lebih lanjut tanpa menanggapi ucapan penduduk itu.

" Desa tengah gurun itu ada hubungannya dengan menara senja ?"

" ya, tentu saja! Pihak Guardian membangun pos disana untuk mengawasi keadaan dan mengatur ekspedisi resmi"

" Wah, jadi begitu. hmm jadi berapa jauh jaraknya Orsha dari kota ini ?

Penduduk itu tampak kesal. ia memandang tajam ke arah Jack.

“Kau ini terlalu banyak tanya!, yang jelas akan sangat lama jika menempuh dengan jalan kaki karena itu kau harus menyewa Orzard dan seorang pemandu jalan!”

Pria itu langsung hendak pergi namun Jack mencegahnya.

"ayolah maafkan aku tuan, tapi aku bertanya begini karena barangkali saja aku berminat menyewa Orzard. bukankah anda pengusaha yang bijak ? jadi mohon terangkan lebih lanjut." bujuk Jack. sejak awal,ia tahu orang ini bukanlah penduduk biasa melainkan seorang saudagar.

Pria itu berhenti sambil berdehem.

“Ya aku memang memiliki penyewaan Orzard, tentang para pemandu jalan. Jika kau ingin selamat melewati gurun pasir besar kau harus menyewa mereka. Hanya mereka yang paham rute-rute aman untuk melintasi padang pasir itu. Tapi tentu saja tarifnya.. ehmm sesuai dengan keahlian mereka.”

“memangnya berapa kira-kira ?”

“Sebentar, Jika kau menghitung dengan orzardnya, kira-kira sekitar 250 dnas.!”

“HEEEH!?" Jack membelakkan mata. ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. "MAHAL!!"

"bisnis ini berat, banyak pesaing di sini..jadi aku tidak bisa menurunkan harga lebih murah dari ini. Jadi apa kau masih berminat?" tanya saudagar itu. ekspresinya menunjukan kesinisan setelah melihat reaksi Jack tadi.

Jack menggeleng dan mengucapkan terima kasih. ia pun berlalu dari tempat itu, namun ia mendengar umpatan si saudagar itu. mungkin dia marah karena merasa Jack menghabiskan waktunya yang berharga. Jack memutuskan kembali ke Kedai dan berharap memperoleh kawan perjalanan.

Ia melihat sekelompok orang berdiskusi, serombongan petualang yang tampak meyakinkan. ia mencoba mendekat dan mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku sudah menanyakannya, memang mahal sekali! ” kata seorang pria yang memakai ikat kepala merah.

“Jika harga sewanya semahal itu, uang kita bisa habis sebelum sampai ke sana,” timpal pria yang membawa busur bersilang di punggungnya.

“Tenang kita tidak perlu menyewa pemandu jalan, aku akan ajak orang itu saja” seru seseorang yang memakai rompi kulit sambil menunjuk ke arah pria berjenggot putih dan berjubah coklat.

“Apa kau yakin dia bisa menuntun kita kesana?”

“Tentu saja, tadi aku berbincang-bincang dengan pelayan. dia mengatakan orang itu sudah biasa berkeliling area gurun pasir besar"

"Baiklah, aku percaya padamu! jadi kita bisa berangkat segera!"

“Boleh aku ikut?” celetuk Jack. orang berikat kepala merah berdiri dari menatap tajam Jack.

“Hoh ! rupanya si penebang kayu! hei kawan, apa ibumu tidak pernah mengajarimu untuk tidak menguping pembicaraan orang lain!” kata pria itu garang.

"Lagipula, keberadaanmu hanya menghambat kami saja ! memang mau apa kau dengan kapakmu itu? "

“hehe, jangan remehkan kapakku, benda ini bisa memotong apapun!"

“ya! terutama memotong batang pohon hahahaha!!" ejek pria satunya.

"kembali saja ke desa asalmu, tempat ini terlalu keras untukmu, bung!"

"Ayolah kawan, aku tak akan merepotkan kok!" kata Jack santai sambil bersandar di meja.

ketiga orang itu sepertinya tidak memperdulikan lagi ucapan Jack. mereka menuju ke arah petualang berjenggot putih yang asik membaca. tampaknya si petualang itu tidak keberatan. keempat orang tersebut langsung pergi.

Jack berusaha mencari rombongan lain tapi tidak ada hasil.

Jack terduduk lemas di meja bartender. kepalanya ia sandarkan di atas meja.

" menyebalkan sekali hah,.. tuan bartender, Ale satu gelas"

Bartender itu tampak iba dengan Jack.

"hoh, tidak bisa menemukan kawan seperjalanan?".

Jack mengangguk, "habisnya sewa orzard plus pemandu jalan mahal sih.."


Bartender tidak berkata apa-apa, ia berjongkok seperti mengambil sesuatu.

"Aku menemukan buku peta panduan ini sudah lama, ini mungkin milik seorang tamu kedai yang mabuk dan meninggalkannya disini. ambillah!"

Jack langsung semangat kembali saat menerima buku itu. "terima kasih,tuan bartender!"

"tidak masalah, aku suka orang yang tidak pantang menyerah seperti kau! jadi berusahalah terus..emm"

"Jack! Jack Valor!" ujar Jack sambil menjabat tangan erat.


setelah semalaman mempersiapkan perbekalan, Jack berpamitan dengan bartender , Ia memutuskan akan berangkat sendiri ke Orsha pada pagi harinya. ia memperoleh hadiah sebuah poncho dari sang pelayan.


Saat melewati gerbang selatan kota, ia melihat lagi si gadis kuda yang kemarin. Dia tampak itu sedang membantu seseorang menaikan barang bawaannya keatas seekor orzard. karena matahari masih belum terbit, tidak begitu jelas siapa yang ia bantu.

“Terima kasih Eri,” kata orang itu yang tampaknya seorang anak perempuan.“Berkat bantuanmu, semua jadi lebih cepat”

“Ini memang seharusnya dikerjaan oleh orang dewasa, Anne.” balas Eri sambil mengacungkan jempolnya

[Orific] Eremidia Dungeon

"Kau mengatakan itu dengan sengaja, ya?" Balas anak yang dipanggilnya Anne. Sepertinya seorang kenalan dari Eri.

“Hehe, aku hanya bercanda, hanya bercanda."

"Hei, kalian jangan main-main terus ! Ayo cepat kita akan berangkat!" seru orang lainnya yang membuat kedua gadis itu segera bergegas menaiki tunggangan mereka. tak lama kemudian, rombongan itu berangkat meninggalkan gerbang selatan menuju ke arah gurun.

Jack lalu menunduk sejenak membaca buku peta tersebut. ia menutupnya dan memasukan di saku.

“baiklah, kenapa harus khawatir, Sejauh apapun tempatnya, tidak ada tempat yang tidak bisa dijelajahi !” katanya dengan bersemangat.

Ia melihat matahari yang sudah mulai mengintip dari ufuk timur. Ia menunjuk ke angkasa lalu beberapa saat lalu menurunkan tangannya dan menunjuk ke suatu arah di selatan.

“Heh, tunggu saja! aku akan menjelajahi menara senja!!”

Angin berdebu mulai bertiup dan Jack melangkahkan kaki dengan pasti menuju ketidakpastian dari lautan pasir.
Episode 3 : Kedatangan
Quote:
Sengatan matahari begitu panas hingga membuat sosok yang berdiri di pintu masuk desa bermandikan keringat.

Angin yang berhembus kencang hanya menebarkan debu semata, sosok itu kemudian mulai terlihat berjalan tertatih-tatih. Nafas panjang terhembus dari mulutnya dan terlihat sesekali ia menutupi matanya dari paparan kilau cahaya siang hari dengan punggung tangannya. Ia lalu membuka tudung poncho-nya karena gerah yang tak tertahankan.

Sosok itu tidak lain tidak bukan adalah Jack Valor, yang entah bagimana sukses menempuh perjalanan "mustahil" selama empat hari tiga malam di gurun besar, meski harus melewati berbagai macam hambatan ia akhirnya sampai di tujuannya. Walaupun dia sampai dengan keadaan mengenaskan, seperti pria yang sekarat.

[Orific] Eremidia Dungeon

“Panasnyaaa.”

Keluh Jack yang langsung ambruk tanpa daya. terkapar di atas tanah pasir yang panas. Serasa matahari membenci desa itu, atau mungkin hanya Jack. Ya, sepertinya memang hanya Jack yang terlihat begitu mengenaskan dibandingkan petualang lainnya.

"Ah, haus sekali.. aku butuh minum, aku belum mandi, es krim.. kalau bisa yang gratis," igaunya.

Banyak orang berlalu lalang tidak begitu memperdulikan Jack yang seperti cumi yang sedang dijemur, melewati badannya yang mengenaskan begitu saja. Walau begitu Jack memang tak berniat mendapatkan simpati dari orang lain.

"Ini.. tak jauh berbeda.. seperti.. saat di... pegunungan Centrum," Jack mulai meracau, memberi sugesti pada diri untuk mengumpulkan kembali tenaganya

Perlahan, tangannya diseret kedepan, diikuti dengan lututnya, merayap bagaikan kadal menuju ke wadah air tidak jauh dari situ. Begitu bersusah payah namun api optimis dan masih belum padam dari sorot matanya. Sampai akhirnya dia berhasil mencapai wadah air itu, wajahnya memancarkan kesenangan yang teramat sangat, segera ia melepas dahaganya, bahkan tak lupa ia mencelupkan kepala sedalam mungkin untuk mengusir hawa panas.

"Hei nak, kau tak apa-apa?" tanya seseorang disertai tawa terkekeh.

Jack bangkit dan menoleh. Seorang pria tua bertubuh pendek, hidungnya sedikit kemerahan dan tercium bau alkohol dari mulutnya.

"Eh, ya kurasa."

"Ini pertamakalinya aku melihat ada orang yang begitu bernafsu minum air jatah Orzard," ujar si kakek disertai gelak tawa.

Jack terdiam sejenak. Mungkin saja pikirannya belum sepenuhnya sadar akibat terlalu lelah.

Segera saja ia memuntahkan sedikit air tersebut.

"ahaha, maaf aku sangat kehausan sekali!" ujar Jack pelan.

"Minum ini saja.. "

Kakek itu melemparkan sebuah wadah minuman dari kulit kearah Jack, secara refleks ia menangkapnya,

"Err.. Apa ini alkohol?" tanya Jack

"Khekhekhe! Kau bercanda? kau masih terlalu sekarat untuk menegak alkohol," ejek pria tua,"Itu adalah sari daun mint, yang terbaik di tempat seperti ini!"

Jack mengerti lalu mengucapkan terimakasih banyak. Dengan penuh nafsu, ia menegaknya dengan cepat. Segera saja, ia merasakan kesejukan luar biasa.

"Selamat datang di Desa Orsha, anak muda!" Kata kakek itu melihat bagaimana pemuda dihadapannya tampak begitu bersemangat.

Jack tersenyum, lalu menoleh kesekitar dataran kering berangin ini. Sebuah desa yang begitu hidup, diisi oleh para petualang yang berlalu lalang, pedagang dari luar kota, serta penduduk aslinya. Setahu Jack, Orsha bukanlah desa yang populer, atau seramai ini. Tapi apa yang dilihatnya menepis semua bayangan yang dipercaya oleh otaknya.

"Kau terkejut?" Kata kakek tua itu.

"Ah, ya sejujurnya," jawab Jack, "Aku dulunya berpikir Orsha adalah desa remot yang cukup sepi.

""Kau tak sepenuhnya salah, Orsha memang desa yang sepi dan kehidupan kami begitu suram. Tapi kini, berkat benda itu, setidaknya kami mulai mendapat kesempatan untuk membangun desa ini kearah yg lebih baik," gumam kakek itu sembari mengangguk ke arah benda besar yang menjulang di kejauhan."Kau juga kesini karena itu, bukan?" tambah sang kakek.

Jack mengangguk mantap, sepertinya itu membuatnya cukup disukai oleh si kakek. Terlihat dari bagaimana orang tua itu tersenyum kepadanya.

"Bagaimana aku harus memanggilmu, anak muda?" tanyanya.

"Huh? Aku Jack Valor, panggil saja Jack"

"Baiklah, semoga hari mu menyenangkan, Jack," pria tua itu melemparkan satu lagi botol minuman kearah Jack, "Anggap saja itu hadiah selamat datang di desa kami."

"Terimakasih banyak, Tuan.. Errr.."

"Anak-anak disini memanggilku si tua Muro, aku seorang pandai besi disini," gumamnya seraya menunjuk bengkel yang tak jauh dari tempat mereka duduk, "Jika kau ada kesulitan, mampirlah sebentar, anak-anak disini sering ketempatku jika ada masalah."

Jack tersenyum, pria tua bernama Muro itu terlihat begitu ramah kepadanya, berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang terlihat keras. Jack bertanya macam-macam tentang desa ini, dan Muro menjawab semua pertanyaan Jack, terlihat begitu paham seluk beluk kota ini, tiap-tiap sudutnya. Wajar jika dia tahu segalanya, Muro adalah salah satu sesepuh desa, Jack merasa begitu beruntung karena orang pertama yang ditemuinya adalah Muro.

Ketika seseorang pelanggan tampak masuk ke bengkelnya, si tua Muro berpamitan kepada Jack untuk bekerja.

Setelah kesegarannya pulih, Jack pun beranjak. Berkat petunjuk Muro tadi, ia akhirnya sampai di sebuah penginapan. Bangunannya tidak terlalu besar bahkan ada kesan,penginapan ini hanyalah semacam pengalihan fungsi rumah penduduk saja karena bentuknya tidak ada bedanya dengan bangunan di sekitarnya. Rata-rata rumah di desa Orsha terbuat dari batu bata kuning dan lumpur namun ada juga bangunan dari kayu yang digunakan untuk sebagai kandang kambing atau lainnya.

Sesampai di dalam, ternyata interior penginapan itu cukup lusuh dan mengenaskan, ia melihat beberapa hewan kecil seperti tikus dan kadal berkeliaran di dalam rumah.Udaranya pun terasa pengap sekali.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?" sapa penerima tamu.

Dia seorang pria separuh baya yang tak kalah lusuhnya dari bangunan itu. Berkali-kali ia terbatuk-batuk dan membuang ludah ke sembarang tempat. Jack memandang sedikit jijik.

"Masih adakah kamar kosong disini?"

"Oh tentu tuan, jika berminat. Kami juga menyediakan paket makan pagi dan malam!"

"Sepertinya menarik , kalau begitu saya memesan satu kamar atas nama Jack Valor."

Si pria penerima tamu tampak begitu lamban ketika menulis nama Jack, begitu canggung dan terkesan . Jack merasa pria itu tidak terbiasa melakukan tulis menulis. Jack melihat sejenak dan matanya langsung melotot melihat total pembayarannya.

"Err..Maksudnya lima Dnas bukan?” Tanya Jack memastikan angka yang dilihatnya.

Pria tua itu menggeleng keras.

"Tidak, seluruh paket tersebut 50 Dnas, Tuan! Jika hanya memesan kamar, harganya jadi 20 Dnas,"

Jack merasa lemas, tempat sebobrok itu tarif menginapnya mahal sekali. Umumnya penginapan sewajarnya hanya 10 Dnas per paket. Tapi ini..

"Err..,maaf saya tidak jadi saja.." Jack dengan sopannya membatalkan pemesanan.

Pria penerima tamu itu langsung mendengus kesal. Merasa tidak enak hati, Jack segera meninggalkan penginapan tersebut.

Tak ada tujuan akan kemana, Jack berjalan-jalan sejenak hingga sampai di Oase. Ukurannya sangat luas dan ada lima mata air di area tersebut. Jack menyandarkan diri di pohon palem besar tak jauh dari sana untuk melepas lelah, lalu memakan bekal terakhirnya, sebuah roti berisi selai. Tidak terlalu mengenyangkan memang tapi cukup untuk mengganjal perut.

Pikirannya mulai melayang kesana kemari. Mulai dari ingatan akan derita selama perjalanan di gurun, uang saku yang semakin menipis dan kekhawatiran lainnya. Lamunannya buyar ketika mendengar langkah-langkah kaki di sekitarnya. Seorang gadis kecil tampak kebingungan mencari sesuatu atau seseorang.

Melihat dari penampilannya, gadis itu tampaknya penduduk asli Orsha. hal itu terlihat dari penutup kepalanya yang unik. penduduk Orsha suka memakai penutup kepala yang melindungi rambut mereka dari panas dan debu.

Jack melihat gadis itu tampak panik sekali, sesekali terdengar ucapan-ucapan tidak jelas dari mulutnya.

"Eh.. anu.tuan petualang.. apakah tuan melihat kambingku?"

Tanya gadis itu malu-malu.

"Wah, maaf aku tidak tahu..dari tadi aku tertidur saja disini," jawab Jack.

Gadis itu terlihat kecewa, langkah kakinya terasa lemah saat meninggalkan tempat itu membuat Jack menjadi tidak tega.

"Mau Aku bantu mencarinya?"

Gadis itu menoleh dan tertegun sejenak. ia lalu mengangguk keras, "Terima kasih sekali, tuan!!"

Jack bangun dan membersihkan debu yang menempel di celananya. tangannya menggapai ranselnya yang tak jauh dari situ.

"Baiklah, sebelumnya aku perlu tahu dimana kau mengembalakan kambingmu itu,umm..nona..?"

"Reylin! namaku Reylin..tuan petualang.." jawab gadis itu.

"Oh Panggil saja aku Jack, Reylin. jadi dimana kau mengembalakannya?"

Anak itu menjulurkan jarinya, membuat Jack melihat ke arah sebelah timur Oasis yang ditunjuk Reylin. Memang cukup unik oasis di Orsha, di tengah lautan pasir seperti ini ternyata masih ada ruang hijau yang subur.

"Baiklah! Ayo kita cari lagi disana, siapa tahu ada yang terlewatkan"

Gadis itu mengangguk lagi. Ia merasa petualang yang baru ia kenal ini dapat diandalkan.
Yg paling aku suka dri fic ini adalah.....artworknya

Sisanya masih belum ada sesuatu yg berbeda....masih pembukaan sih emag

Beberapa note dri saya:
1.entah kenapa bahasa penulisan, gaya dialognya masih terkesan agak kaku...kurang ada ekspresi yg mengena
2. Cepet amat plotnya, tau2 dah lewat padang pasir....pdhl dikutip itu perlu pemandu, dan perjalanan impossible...dan hebatnya imposible itu cuman buth 4 hrinperjalanan manusia jalan kaki....hmmm kalau naik kadal itu jdie 1 hri? Atau stgh hari? Dan peta itu keliatannya kok gampang banget untuk digunakan org "awam" ya
sori dopost.
Wogh.. sip2 bang, tq feedback e.
Keknya emang kudu di polish untuk dialog ini.

btw masalah plot gurun kecepetan saya mohon maaf ye, kemaren niatnya 2 episode awal itu cuman pengenalan awal char e sih, gimana dan darimana si MC nongol emoticon-Ngakak

Tapi thx banget buat catatan e, lumayan buat benah2 kedepannya nanti emoticon-Big Grin
Episode 4 : Gadis dan Kambing Kecilnya
Quote:
Jack dan Reylin, gadis kecil yang sedang dalam masalah tampak semakin menjauh dari desa, berjalan menuju ke sebuah area hijau yang kontras dengan suasana gurun, berada disisi selatan luar desa. Matahari tampak semakin condong ke ufuk barat, sebentar lagi hari menjelang sore, jadi Jack sebaiknya menemukan si kambing sebelum suasana menjadi gelap.

Jack mengamati sekitar, Oasis yang begitu luas, bahkan sepertinya lebih Luas dari desa Orsha itu sendiri.

Wajar jika ada satu atau dua orang yang akan tersesat di rimbunnya hutan palem disini, apalagi seekor kambing.

selama perjalanan ke tempat tersebut, Jack telah mengumpulkan informasi yang iaperlukan dari Reylin.

"Kambingmu ada berapa?"

"Sepuluh ekor," jawab Reylin.

"Yang hilang ini kambing besar atau kambing kecil?" tanya Jack lagi, "Cirinya?"

"Kambingnya masih kecil, warnanya putih ada garis hitam di perut dan wajahnya"

Jack manggut-manggut, menoleh kesekitar namun tak melihat kambing yang dibicarakan Reylin. Anak itu tampak sedikit murung, rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya.

Sementara kambing lainnya tampak asyik merumput di tempat itu. Tidak ada tanda-tanda bahaya disana, suasananya begitu tenang dan damai. Tak tampak pula bekas-bekas luka seolah mereka sempat diserang sesuatu atau seseorang.

Jack hanya berpikir bahwa kambing kecil itu pergi meninggalkan kumpulannya. Sekarang yang ia perlukan hanyalah menyusuri jejaknya.

Ini cukup sulit, kambing itu masih kecil sehingga jejaknya tidak terlalu jelas bagi Jack. Namun ia tidak menyerah, Jack berusaha mencari petunjuk sekecil apapun berbekal kemampuan mencari orang hilang yang setengah-setengah.

"Kambing, dimana kau?" teriak Jack. "kurasa kambingnya tidak bakal mendengar panggilan kakak Jack," gumam Reylin sambil ternsenyum simpul, "Kambingnya kan tidak mengerti bahasa manusia."

Jack tertegun, terlihat bodoh karena digurui oleh seorang anak kecil, dan parahnya anak itu benar. Jack kini mencari dengan lebih tenang, walau sesekali dia tak tahan untuk memanggil kambing itu, walaupun ia tahu kalau tak akan mendapat jawaban. Semak, tumpukan batu, lubang-lubang air, semuanya yang berada disekitar oasis sudah diperiksa Jack.

"Hei, itu Hutan apa?" tanya Jack ketika melihat tanaman yang rimbun di sisi lain oase "Kau sudah pernah masuk ke dalam?"

"Kata Kepala Desa kami tidak boleh ke sana. Banyak hewan liar dan berbahaya," jawab Reylin pelan.

Jack menepuk wajahnya, sepertinya dia mulai menyadari ke arah mana si kambing ini kabur. Wajah Reylin terlihat begitu cemas, seakan kecemasannya menembus rimbunnya pepohonan palem.

"Oh jadi begitu, oke, kau tunggu di sini saja ya? Aku akan masuk ke dalam dan mencari kambingnya," gumam Jack sambil menepuk kepala Reylin.

"Tapi..."

"Tenang saja, akan kubawa kambingmu kembali," ujar Jack mengerti, tentu saja dia tidak akan membiarkan Reylin mengikutinya kedalam tempat yang berbahaya itu.

Jack pun sampai di pepohonan palem, rerumputan di tempat itu sedikit lebih banyak dari daerah sekitarnya, pohon-pohonnya rindang, dan cukup sepi dari pengunjung. Beberapa hewan seperti rubah gurun juga tampak berlalu lalang dengan bebasnya tanpa beban. Sebenarnya rubah gurun tidak pernah menyerang manusia, namun kadang hewan tidak bisa ditebak perilakunya.

Dengan hati-hati, Jack berjalan semakin dalam. Tak lama kemudian ia menemukan bercak darah yang menempel di deaunan, perkiraan Jack menjadi lebih buruk. Ia berjongkok dan memeriksa ceceran darah yang tidak begitu banyak.

Baru sebentar dia membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, tiba-tiba terdengar suara mengembik cukup keras. Jack pun segera berlari menuju ke arah suara. Dan ia mendapat semacam altar persembahan yang tampak tua, yang sudah dipenuhi tumbuhan merambat, entah apa fungsinya namun Jack tidak punya waktu untuk mengamatinya lebih lanjut karena suara embikan itu terus mengalihkan perhatiannya dari bangunan itu, membuatnya menoleh ke atas.

Benar saja, si kambing yang dicarinya sedang terjebak di atas sana, kambing kecil berwarna putih, dengan garis hitam di perut dan wajahnya. Disana ada beberapa ekor rubah yang berputar-putar di bawahnya dan berusaha memanjat ke atas ingin memakan kambing itu.

Segera ia menoleh ke sekeliling dan memungut beberapa batu. Lalu Jack mulai melempari rubah-rubah kelaparan itu, membuat mereka kaget dan lari terbirit-birit. Jack pun naik ke atas altar dan mendekati kambing yang tampaknya sangat ketakutan. Benar saja, perutnya terluka akibat serangan rubah hutan.

"Baiklah kambing kecil, aku tak tau bagaimana kau bisa memanjat kesini, tapi sekarang pemilikmu sangat khawatir." gumam Jack berusaha mendekati kambing itu.

Cukup sulit mendekatinya, terlebih karena Jack terlihat begitu asing baginya, ditambah kondisi si kambing yang terluka, wajar jika hewan itu tak percaya dengan Jack. Dengan susah payah, akhirnya lelaki itu berhasil menangkapnya, menggendongnya dan turun dari altar.

Di dekat oasis, Reylin menunggu sambil duduk tertelungkup. Tangannya memain-mainkan pasir. Beberapa kambingnya sedikit berjalan kesana-kemari. Ketika mendengar suara yang memanggil namanya, Reylin menoleh, mata lesu nya langsung berubah binar ketika melihat Jack datang menggendong kambingnya. Ada sebuah daun palem membalut perut kambing itu.

"Meke!!" Reylin berlari menghampiri.

[Orific] Eremidia Dungeon

"Oh jadi namanya Meke ya? Hati-hati perutnya terluka, tapi sudah kucoba mengobatinya sedikit..."

"Terimakasih, kakak Jack! " Seru Reylin sambil mengusap-usapkan wajahnya ke kepala si Meke, kambing kecil itu.

"Sedikit saran," sela Jack. "Sebaiknya kau jangan memberinya nama."

"Memang kenapa kakak Jack?"

"Nanti kau jadi tidak tega saat ingin menyembelihnya,"

"Meke tidak boleh disembelih!" sahut Reylin cemberut.

Jack hanya tersenyum menggoda

"Ya sudah, jaga kambingmu baik-baik.." katanya, lalu ia bergegas pergi.

"Aduh sepertinya aku terpaksa berkemah lagi nih..." keluhnya. Ia mulai membayangkan dinginnya malam di gurun.

"Anu, apa kakak sedang mencari tempat menginap? Jika mau, kakak bisa menginap di tempatku.."

Jack terdiam, "Tidak apa-apa kah?"

"Tidak apa-apa, kak! Anggap saja aku membalas budi baik kakak yang tadi!" Seru Reylin seraya menarik tangan Jack.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat yang dimaksud. Sebuah rumah kecil dipinggiran desa,

"Ini rumahku! Kakak tinggal saja di dalam!"

Melihat keadaan rumah yang cukup sepi, Jack pun mulai heran.

"Kau tinggal sendiri?"

"Ya ,begitulah..ayo masuk,"

"Reylin, kurasa tidak pantas jika orang asing tinggal seatap dengan seorang gadis yang tinggal sendirian" ujar Jack, ia merasa tak enak dengan warga sekitar yang mengenal Reylin.

"Eh? Kenapa? Kakak kan orang baik,"

"Aduh..bukan itu masalahnya.." ujar Jack bingung, tiba-tiba pandangannya beralih ke sebuah bangunan dekat rumah Reylin.

"Umm...apa itu?"

"Eh? itu.."

Jack dan Reylin menghampiri tempat itu. Udara hangat yang aneh langsung menerpa wajah Jack, membuat wajahnya terlihat seperti orang bodoh. Aromanya pun tak mengenakkan, wajar saja, tempat yang dimaksud Jack adalah sebuah kandang kambing. Tapi ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, setidaknya tumpukan jerami itu akan membuatnya terasa hangat.

"Kurasa aku tidur disini saja.." ujar Jack.

"Eh tidak apa-apa kah? Disini agak bau."

"Tak masalah, lagipula disini gratis kan?" kata Jack menenangkan Reylin.

Reylin sedikit terheran namun ia mengangguk pelan. Setelah hari gelap, Jack membantu Reylin memasukkan kambing-kambingnya. Reylin lalu membantu Jack mempersiapkan tempat itu senyaman mungkin sebelum ia berpamitandan kembali ke rumahnya.

Jack menaruh perlengkapannya di sudut tembok dan menghempaskan tubuhnya, bersantai di tumpukan jerami. Sedikit tiduran di atas benda ini terasa begitu nikmat, iapun menuliskan jurnal yang mencatat segala perjalanannya. Di temani lampu minyak, Jack mencoba mengingat hal-hal yang ia temui selama perjalanan. Ias udah menyusun bermacam-macam rencana untuk beberapa hari ke depan.

Namun tetap saja, rasa tidak sabarnya lebih berfokus kepada ide untuk mengunjungi menara senja. Sejak tiba di desa, ia sudah melihat dari jauh seberapa tinggi dan luar biasanya menara tersebut. Keinginannya untuk menjelajahi tempat itu semakin menggebu-gebu, namun rasa lelah mengalahkan semangatnya tersebut. Matanya terasa berat, jerami yang cukup empuk ini seolah menarik tubuhnya jauh lebih dalam lagi, dan akhirnya Jack pun tenggelam di alam mimpi.
kek magi yak....dungeon2 menara gt....tp crita nya asik gan...ijin nendaaaaaa
Iya, yang ini mirip magi dungeonnya, menara.
Tapi dungeon-dungeon disini gak cuman menara doank sih bentuknya, ada kastil, ada semacam terowongan ada ruang bawah tanah dll. (walo secara literal harusnya penjara bawah tanah emoticon-Ngakak )

Thx sudah menyimak Gan.
seru nih gan tema nya, save ke hard disk dulu yaemoticon-Matabelo
Sip.. orific baru emoticon-Big Grin

Izin ngaso sambil ngopi di mari ya gan emoticon-coffee

Quote:Original Posted By noprirf
seru nih gan tema nya, save ke hard disk dulu yaemoticon-Matabelo


Monggo bray emoticon-thumbsup:

Quote:Original Posted By Twinmarch
Sip.. orific baru emoticon-Big Grin

Izin ngaso sambil ngopi di mari ya gan emoticon-coffee



Silahkan bray emoticon-coffee
Episode 5 : Jack dan Pondok Reylin
Quote:
Lima hari telah berlalu semenjak Jack menjejakan kakinya di Orsha, kehidupannya di sini tidak seperti yang dibayangkan Jack, ia tidak dapat segera melakukan petualangan begitu saja ke dalam menara karena sulitnya urusan administrasi untuk dapat memasuki menara, bahkan Jack belum mengurus satupun surat-surat yang diperlukan sebagai relawan dari Guardian, agar mendapat ijin kedalam menara.

Ini memang sudah sewajarnya, semenjak peristiwa pulau Grace setahun lalu, kerajaan Eremidia dan badan intelejensi Guardian mendapat pelajaran yang berharga. Itulah yang menjadi alasan kenapa Guardian melakukan seleksi yang ketat bagi mereka yang ingin menjadi penjelajah menara.

Tak hanya ujian ketangkasan di sebuah lahan pelatihan oleh instruktur berpengalaman dari Guardian, tapi juga tes tertulis, bahkan IQ dan tingkat kewarasan orang yang ingin memasuki setiap dungeon pun diuji dan akan lolos jika semuanya berada di atas nilai minimum. Setelah lulus ujian fisik dan tulis, mereka biasanya akan menjalani sebuah misi uji coba yang akan menilai kemampuan mereka di lapangan. Umumnya berupa penyelidikan yang menuntut petualang menggunakan kemampuan fisik dan pikiran mereka, biasanya Guardian bekerja sama dengan penduduk lokal, sehingga secara tidak langsung wilayah sekitar yang didukung oleh Guardian akan berkembang, sedikit demi sedikit.

Hari-hari Jack begitu membosankan jika dilihat dari mata petualang, hanya diisi dengan membantu Reylin mengurus kambing dan kebun kecil di belakang rumahnya, pergi ke kantor administrasi untuk mengikuti tes agar mendapatkan ijin khusus namun selalu tak mendapat kesempatan karena tempat itu dijejali petualang lain, yang bahkan membuatnya tak kebagian formulir untuk sekedar mengisi data diri. Sisa waktunya hanya dihabiskan untuk nongkrong di kedai dan berbincang-bincang dengan bartender sebelum akhirnya kembali ke rumah Reylin.

Malam itu dingin seperti biasanya, Jack dan Reylin duduk di sebuah meja kayu kecil kotak. Di depan mereka ada semangkok sup yang berwarna kemerahan. Menyantap sup yang dibuat dari kacang merah, kentang manis, dan gandum yang diseduh dengan susu kambing hangat.

“Jika tak ada aku, apa setiap malam selalu seperti ini, Reylin?” tanya Jack memecah keheningan, "Menyantap makan malam sendirian, apa kau tak kesepian?"

"Huh? Apa aku terlihat seperti itu?" kata Reylin sambil menggaruk bibir dengan jarinya. Matanya melihat ke arah langit-langit.

[Orific] Eremidia Dungeon

Jack merasa tak enak hati telah menanyakan hal seperti itu, Reylin adalah gadis yang kuat, bahkan hidup ditempat sekeras ini, sendirian, tak membuatnya merasa seperti kesepian atau ditinggalkan.

“Sebelumnya ada kakek yang mengasuhku,” ujar Reylin, "Beliau sudah meninggal sejak tiga tahun lalu," tambahnya.


Reylin menghentikan kata-katanya sejenak, mengambil cangkir kecil di dekat tangannya lalu meminum cairan di dalamnya.


"Yahh.. awalnya aku sering menangis karena beliau sudah tak bersamaku lagi, tapi aku tak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan, kan?" gumamnya, "Lagipula tetangga disini baik-baik."

Jack terkejut mendengarnya. Senyum tipis mengembang di bibir lelaki itu ketika melihat bagaimana sikap optimis Reylin. Jack juga seorang yatim piatu, namun ia tumbuh di panti asuhan, setidaknya tiap malam ia selalu bersama teman-teman dan pengasuhnya, ketika melihat bagaimana Reylin menjalani hidupnya, ia sempat merasa kasihan. Tapi kini ia merasa berdosa telah memiliki perasaan itu terhadap Reylin. Anak ini kuat, bahkan lebih kuat dari dirinya saat masih kanak-kanak.

"Jadi, bagaimana dengan urusan Guardiannya?" tanya Reylin, membuat Jack kembali tersadar dari kenangan masa lalunya

Jack hanya meringis, "Yah, mereka memang badan independen, tapi kurasa birokrasi kerajaan yang berbelit juga menular kedalam sistem administrasi Guardian."

"Birokrasi? Administrasi?" Tanya Reylin bingung ketika mendengar kata-kata sulit.

"Yahh.. yahh.. lupakan saja soal itu, aku sendiri tak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepadamu." jawab Jack sembari menyeruput minumannya

Jack menoleh kearah jendela, masih cukup banyak petualang yang berkeliaran walau hari sudah gelap. Bahkan Jack bisa melihat sekelompok petualang yang sedang berkelahi dijalanan.

“Mereka orang-orang barbar," gumam Reylin "Bibi di kedai sebelah mengatakan kalau beberapa meja dan perabot miliknya dirusak, sungguh mengerikan!”

“Begitulah, mereka hanya orang-orang egois yang sok jago,” ujar Jack tak suka, "Sedikit menjadi lebih kuat, mereka merasa dunia adalah miliknya."

Reylin mengangguk-angguk sambil menghabiskan sup merahnya. Lahap sekali seolah-olah ia akan menghabiskan sup itu bersamaan dengan mangkuk supnya.

“Tapi kakak berbeda, kau bahkan mau membantuku mencari Meke, bahkan jika aku hanya orang asing." kata Reylin, sebuah biji kacang merah tersangkut di pipinya.

“Yah.. ibu panti mengatakan, orang asing hanyalah teman yang belum kita temui.” jawab Jack sambil membersihkan pipi Reylin dengan sapu tangan, membuat gadis itu tersipu malu.


Akhirnya mereka menyelesaikan makan malamnya, Reylin mencuci perabotan, sementara Jack membersihkan meja. Beberapa kali mereka berbincang ringan.

"Apa rencanamu selanjutnya jika urusanmu di Orsha selesai, kak?"

“Entah, yang jelas aku pasti akan ketempat menyenangkan lainnya, mencari petualangan baru supaya aku bisa mengisi ini dengan cerita-cerita hebat,” sahut Jack sambil memperlihatkan jurnal yang selalu dibawanya.

“Oooh... pasti akan sepi disini” ujar Reylin murung, membuat Jack mengerutkan kening ketika melihat ekspresi anak itu. “Aku juga ingin punya sesuatu yang hebat, seperti apa yang kakak lakukan!”.

“Ahahaha.. Aku tak bisa membayangkan gadis penggembala kambing bertualang keliling dunia." goda Jack.

“Kau kejam!” Serunya sebal, pipinya mengembung lucu, "Aku tak bilang akan menjadi petualang sepertimu."

"Lalu?"

"Ini kampung halamanku, setidaknya aku tetap ingin mencurahkan perhatian dan tenagaku untuk Orsha dan mereka yang telah baik padaku" gumam Reylin lirih.

“Mungkin aku bisa jadi peternak kambing kelas satu, lalu membuat Orsha menjadi desa penghasil susu kambing terbesar seantero kerajaan!”

“Impian yang hebat, dan kuharap aku mendapat susu kambing kualitas terbaik secara gratis, dan tiap bulannya dikirimi persediaan yoghurt susu kambing," ujar Jack santai, mendukung ambisi gadis muda itu.

"Tentu, selama kakak juga membantuku promosi."

Malam ini suasana rumah itu terasa ramai dan lebih ceria dari biasanya, dipenuhi gelak tawa dan obrolan-obrolan yang menyenangkan. Ya, kedatangan Jack telah memberikan kehangatan dan kebahagiaan di tempat itu.

Reylin sangat merindukan suasana seperti ini di pondoknya, suasana yang sama seperti ketika dia bersama kakeknya.

"Akankah hari-hari seperti ini akan berlanjut?... Haruskah aku mencegah kak Jack pergi?...""

"Entahlah, aku hanya bisa bersabar... sungguh egois bagiku jika membiarkannya tinggal dalam sangkar kecil ini,"

"Aku tahu hari itu pasti akan datang... di hari saat aku harus berpisah dengan Jack,"

Reylin mengentikan tawanya, dia terdiam sejenak dan wajahnya sedikit murung.

"Ada apa Reylin?" tanya Jack.

Reylin hanya termenung, kedua tangannya mendekap di dada, seolah sedang mencegah sesuatu yang ingin keluar dari sana. Lalu ia memandang Jack dengam senyum manisnya. Ia sangat ingin Jack tinggal bersamanya, tapi dia berfikir itu tidak adil bagi Jack yang sudah memberinya hari-hari cerah meski hanya sebentar.

"Tidak ada, semoga hari-harimu besok menyenangkan, kak Jack..."


Episode 6 : Masalah kecil di Kedai (Bagian I)
Quote:
Matahari belum tampak dan angin kering gurun terasa dingin menusuk tulang. Jack yang telah belajar dari pengalamannya beberapa hari di Orsha sudah bersiap untuk pergi ke kantor administrasi Guardian. Letaknya memang tak jauh, di selatan, masih dalam wilayah desa Orsha, jadi bukan jarak yang menjadi masalahnya.Jack telah melihat betapa panjangnya antrian petualang yang ingin mengikuti uji kelayakan untuk memasuki menara senja, itulah yang jadi masalahnya.

"Kuharap kau bisa lolos kali ini kak Jack," hibur Reylin.

Jack hanya meringis, "Aku bahkan tak kebagian formulir pendaftarannya kemarin , jadi setidaknya aku harus ikut hari ini,"

Reylin tersenyum, lalu menghidangkan sarapan diatas meja kayu, mereka pun menikmatinya dengan lahap, walau bagi sebagian orang, saat ini masih terlalu pagi untuk sarapan. Begitu selesai, ia berpamitan kepada Reylin dan berjalan kearah selatan.

Seperti yang sudah diduga, kantor administrasi baru saja buka namun sudah ada belasan orang yang memohon untuk diberikan formulir oleh petugas. Jack yang tak ingin ketinggalan mempercepat langkahnya, meminta formulir berisi data diri kepada petugas Guardian yang nantinya akan diserahkan ke resepsionis jika sudah lengkap terisi.

Akhirnya dia mengisi semua data yang diminta, lalu menyerahkan formulir kepada seseorang di meja resepsionis. Jack dipersilahkan menunggu, hingga namanya dipanggil. Sekitar lima belas menit kemudian, seorang pemuda yang mengenakan topi keluar sambil membawa beberapa lembar kertas. Pemuda itu menyebutkan nama-nama dan menyuruhnya masuk kedalam ruangan di belakangnya.

"Jack..."

Ketika nama panggilannya disebut, Jack terlihat kegirangan, segera dia berdiri, namun pemuda itu menghentikan kalimatnya, seperti menahan tawa.

"Huh? Ada yang lucu?" gumam Jack.

"Jack siapa tepatnya?" celetuk suara di belakang Jack, membuat lelaki itu berbalik untuk melihat asal suara.

Tak kurang dari lima orang berdiri, penampilan mereka tampaknya biasa saja, tak ada yang spesial. Tapi Jack masih belum mengerti kenapa semuanya berdiri.

"Ehm.. Jack Alexander, Jack Highman, Jack Knight, Jack Russel dan Jack Valor, silahkan masuk," kata pemuda itu sambil membalik formulir-formulir di tangannya, sesekali suara tawa tertahan terdengar dari mulutnya.

Dengan rasa canggung, semua "Jack" itu masuk kedalam ruangan untuk mengikuti tes tulis. Tentu saja diiringi oleh gelak tawa orang-orang lain yang tersadar betapa pasarannya nama "Jack" itu.

Sekitar 90 menit waktu diberikan untuk menyelesaikan 60 soal, sebagian besar adalah tes seperti tes IQ, sepuluh diantaranya adalah soal contoh kasus yang memerlukan analisa. Walau cukup kerepotan, Jack mampu menyelesaikannya tepat waktu. Setelah itu semua yang berada di ruang tes diwawancarai satu persatu.

Mereka diberitahukan kalau hasil dari tes tertulis akan diberikan paling cepat sore nanti, sehingga Jack, lebih tepatnya Jack Valor memutuskan untuk beristirahat di bar, sambil menunggu hasil ujian.

Jack tiba di kedai langganannya. Berbeda dari beberapa hari kemarin, kedai itu cukup penuh dengan orang-orang, mulai dari yang sekedar ingin istirahat karena baru tiba di Orsha, ataupun yang menunggu agar kantor administrasi Guardian sepi. Jack lalu menuju ke bartender yang tengah sibuk melayani tamu-tamulainnya.

“Tuan, aku pesan yang seperti biasa.”

“Oh rupanya kau, Jack! Tunggu ya, istriku sedang sakit jadi aku bekerja sendiri sekarang,” jawab si bartender.

Jack tersenyum, “Tak apa, aku tidak tergesa-gesa kok.”

Semenjak tinggal di tempat Reylin, Jack dan pegawai-pegawai kedai ini sudah cukup akrab. Mereka adalah pasangan suami istri yang ramah, Reylin memang cukup terkenal di desa, sering membantu tetangga dan warga-warga desa, sehingga secara otomatis, penduduk asli yang sering bergaul dengan Reylin juga mengenal Jack.

Jack melihat sekeliling, kedai itu penuh dengan petualang, ia tidak mengenal baik tapi ia tahu bagaimana reputasi sebagian dari mereka. Ia melihat sekelompok orang di pojokan, Itu adalah kelompok petualang yang terkenal cukup brutal, dipimpin oleh pria bernama bernama Bronx. Jack mendengar bahwa Bronx dan kelompoknya sangat arogan, rumornya mereka sering berselisih dengan petualang lain. Bahkan ada banyak komplain dari warga biasa yang pernah berurusan dengan komplotan itu.

Bronx berpenampilan mirip seorang barbar, memakai aksesoris tengkorak dan memiliki rambut panjang dan tidak teratur. Tubuhnya besar dan memancarkan aura intimidasi yang kuat. Kawan-kawan Bronx juga tidak kalah mengerikan, tampaknya mereka seperti mantan-mantan bandit yang beralih jadi petualang.

Di bagian lain, ada juga seorang pemuda berambut merah mencolok dengan pedang di punggung, tengah asyik membaca sebuah selebaran. Sepertinya lebih muda dari Jack. Ia memicingkan matanya, memperhatikan si rambut merah karena sepertinya ia pernah melihatnya.

Rambut yang berdiri seperti kobaran api, memperlihatkan alisnya yang bercabang. Matanya tajam seperti pemburu, mungkin orang itu cocok jika digambarkan sebagai seekor singa. Jack menepuk telapak tangannya, akhirnya bisa mengingat siapa lelaki itu.

Dia pemuda yang ditemuinya di Algeus, ketika Jack diledek oleh petualang-petualang lain. Rasanya ia ingin menyapa orang itu, namun entah kenapa wajahnya yang terlihat buas membuat Jack sedikit ragu.

“Ini minumanmu, Jack," kata bartender itu sambil menyodorkan minuman sari daun mint seperti yang diberikan Muro saat pertama kali Jack tiba di Orsha, "Jadi bagaimana, ada perkembangan?"

Jack sedikit terkejut karena masih memperhatikan laki-laki singa itu. Lalu ia menoleh sambil tersenyum simpul. “Ah, kurasa ada sedikit perkembangan, Tuan Mondo”

“Ayolah, jangan panggil aku tuan! Sudah kukatakan berkali-kali, Mondo saja cukup!” gerutu si bartender,

Jack hanya meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Mondo menghelanafas sejenak, “Kau ini orang baik,Jack. Yah, salah satu petualang baik yang kutahu di sini.”

“Tempat ini memang banyak berubah, sebenarnya aku suka jika Orsha menjadi ramai seperti ini,” kata Mondo. “Tapi para petualang itu…ya kau tahu sendiri lah, mereka terkadang bertindak sesukanya?”

Jack meminum sedikit untuk menghilangkan haus yang sudah mulai terasa di tenggorokannya. Segera saja, hawa dingin memenuhi seluruh rongga tubuh. Minuman seperti itumemang sangat sempurna untuk daerah gurun seperti di Orsha.

“Tak kau laporkan ke Guardian? Bukankah mereka bertanggung jawab dengan apa yang berhubungan dengan dungeon? Termasuk petualang yang ingin memasukinya,” saran Jack.

“Ya, aku dan beberapa pemilik toko lain sudah melaporkan ini kepada kepala desa, dan kepala desa telah melaporkannya kepada Guardian,” sahut Mondo, "Kurasa itulah sebabnya akhir-akhir ini cukup sering terlihat agen-agen mereka berpatroli disekitar desa."

Jack langsung tersenyum mendengarnya. “Haha, tampaknya kepala desa benar-benar menjaga kenyamanan warganya.”

“Omong-omong tentang kepala desa, itu cucu kesayangan beliau,” tunjuk Mondo kearah pintu masuk.

Jack menoleh ke arah yang ditunjukan. Tampak seorang gadis kecil berbandana, melangkah santai sambil menyeret benda besar, mungkin lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Benda itu dibalut kain berkali-kali, namun masih cukup terlihat dari bentuknya kalau itu adalah sebuah palu. Martil paling besar yang pernah dilihat Jack seumur hidupnya, bahkan ia membayangkan ukuran paku yang nantinya akan dihantam palu itu, mungkin sebesar paha manusia dewasa.

Umurnya mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih tua dari Reylin, namun ia tak canggung samasekali ketika masuk ketempat penuh orang-orang tak jelas ini.

Beberapa detik menatapnya, Jack mengerutkan kening, bukankah itu gadis kecil yang dilihatnya saat berada di Algeus, kalau tak salah ia kawan dari si wanita penunggang kuda.

"Hey, apa tidak masalah anak kecil masuk ke kedai yang isinya orang-orang menyeramkan seperti ini?" bisik Jack.

Mondo tersenyum miris, tangannya mengibas-ngibas, pertanda agar Jack tidak mengatakan hal seperti itu lagi.

"Paman Mondo, aku ingin es serut, untuk dibawa pulang yaa, kami mau membuat pesta kecil-kecilan" gumam anak itu, seperti anak manis pada umumnya."Untuk kakek mu ya, adik kecil?" gumam Jack berusaha ramah ketika anak itu menunggu di sampingnya.

Anak itu menatap mata Jack dengan tajam, wajahnya terlihat sebal, membuat lelaki itu sempat bergidik. Sepertinya ada yg salah dengan gadis itu.

Suara langkah berat terdengar dari belakang, sepertinya tidak hanya satu orang. Jack mendapat firasat tak mengenakkan tentang ini.

"Ini bukan tempat untuk bocah ingusan, pergilah!" seru suara berat dari belakang.

Ternyata itu Bronx, entah apa alasannya, tapi sepertinya dia merasa kesal ketika tongkrongannya di datangi oleh anak kecil.

"Anu, maaf Tuan, tolong jangan kasar kepada nona Arianne, dia adalah cucu kepala desa," gumam Mondo ragu, sementara anak bernama Arianne itu diam, masih menatap Bronx dengan tatapan tak suka.

“Huh? Apa peduliku? Mau dia anak kepala desa, mau dia anak raja, selama Bronx masih menjejakan kaki di kedai ini, maka ini adalah tempat bagi daging dan bir, bukan gulali dan es loli!” balas Bronx dengan angkuhnya

"Aku memesan es serut, bukan es loli," celetuk Arianne datar.

Tampaknya Bronx tersulut emosi karena kata-kata Arianne, “ Lancang sekali kau berani mengejek Bronx yang hebat ini! “

Bronx menarik kepalan tangannya, hendak meninju si gadis itu, terlalu berlebihan memang untuk ukuran orang dewasa yang tersulut emosi karena perkataan anak-anak, tapi tetap saja Arianne dalam bahaya.

Jack mendorong badannya kesamping, berusaha menjadi perisai untuk Arianne namun sesuatu menghentikan gerakan Bronx.

“Kau sentuh dia, maka isi kepalamu akan berserakan!”

[Orific] Eremidia Dungeon

Jack menoleh kearah sumber suara, seseorang berdiri tepat di belakang pria besar itu. Seorang wanita, menodongkan benda logam berwarna coklat dengan hiasan keemasan.

Itu si gadis penunggang kuda, Eri. Kawan Arianne yang juga dilihat Jack saat berada di Algeus. Kebetulan yang aneh memang, orang-orang yang menarik perhatiannya di tempat berbeda, berkumpul dalam satu tempat. Seolah benang takdir ada untuk menyatukan mereka semua.

Suasana yang sudah sepi semenjak Bronx berulah, kini malah semakin sunyi karena dipenuhi rasa terkejut. Bronx tak bergerak, matanya berusaha melihat wajah Eri namun tampak kesulitan karena diancam dengan sebuah senjata api.

Bronx mengangkat tangannya dan perlahan mundur. Eri menggiring pria itu menjauh dari Arianne, namun ketika Eri sedikit lengah, Bronx berbalik. Menarik tangan Eri kebelakang dan membekap tubuhnya. Mengunci pergerakan gadis itu sehingga pistolnya terjatuh dari tangan.

"Lepaskan Eri!"

Arianne mengambil kuda-kuda mantap, lalu mengayunkan palu yang masih terbungkus rapi kearah Bronx. Suara hantaman keras menggema, disertai ambruknya tubuh pria yang mengaku perkasa itu, Eri memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari bekapan Bronx.

Jack melongo tak percaya, tempat nongkrongnya, waktu santainya dikacaukan oleh dua orang gadis belia, walau ia tau mereka hanya membela diri, itu sukses membuat Jack memegangi gelasnya erat-erat walau tak meminum isinya, tertegun memperhatikan mereka dengan mulut menganga karena tak tahu harus merasa prihatin, takut, kesal atau khawatir.

"Dasar bocah tengik!" gumam Bronx penuh amarah, masih berusaha berdiri setelah serangan mengejutkan Arianne. "Habisi mereka!"

Kawan-kawan Bronx segera bertindak, satu orang membantu Bronx berdiri. Sementara dua orang lainnya segera mengepung Eri. Gadis itu segera menarik satu lagi pistol serupa yang menggantung di pinggang sebelah kirinya, namun anak buah Bronx yang bertubuh kurus dengan sigap meraih pergelangan tangan Eri dan menjatuhkan senjatanya.

“Kau ini tipeku, bagaimana jika kau pergi denganku?” Goda lelaki itu

“Ibuku bilang jangan ikut dengan orang asing!”

Eri menginjak kaki lelaki itu, lalu mendorong tubuhnya kedepan. Membuat keseimbangan mereka goyah dan akhirnya sama-sama terjatuh. Rekan si kurus bergegas membantu, menarik kerah jaket Eri, namun gadis itu meronta. Menendang dan memukul secara acak dan membuat pria itu melepaskan genggamannya.

"Maafkan aku Anne, aku akan membantumu jika mereka sudah ku urus!" seru Eri, tangannya mengepal kuat pertanda siap bertarung, walau Jack sangat meragukan kemampuan bertarung gadis itu.

"Aku.. bisa.. mengatasinya.. tenang.. saja!" sahut Arianne, yang masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terbebani oleh palu besar miliknya.

Jack tak mampu berkata apa-apa lagi, mereka benar-benar gila. Satunya wanita berkelahi seperti kucing kesetanan ketika tak memegang pistol, dan satunya lagi hanya bocah kemarin sore yang bahkan tak bisa berjalan lurus.

Sepertinya kejadian hebat beberapa detik sebelumnya hanya kebetulan semata. Jack mulai tak tahan ketika Bronx mulai mendekati Arianne, ia meremas leher botol di hadapannya, bersiap melemparnya kearah orang itu jika mulai macam-macam.
Episode 7 : Masalah Kecil di Kedai (Bagian II)
Quote:
Suasana menegangkan merebak di dalam kedai. Eri mengepalkan tinjunya, mengangkatnya sejajar dengan hidung, siap menonjok siapapun yang berusaha mendekat.

"Jangan bunuh dia, Kir!" gumam pria bertubuh besar kepada pria kurus yang dipanggilnya Kir.

Lelaki bernama Kir itu hanya tertawa cekikikan, "Aku tak akan membaginya denganmu Roy, perempuan ini tipe ku!"

Kata-kata Kir sempat membuat rambut di tengkuk Eri berdiri, namun itu juga membuat telinganya makin panas. Rasa kesal dan bencinya semua siap dialirkan melalui kedua tinjunya. Kir terlihat berjalan terhuyung kekiri dan kekanan, tatapannya terarah pada bola mata Eri, membuat gadis itu merasa tak nyaman, dan tanpa disadarinya, Kir telah lenyap dari hadapannya.

"Akh!!"

Sebuah pukulan keras menderat di pinggang Eri, membuat gadis itu terjatuh ke samping. Seolah muncul dari dimensi lain, Kir menyerangnya dari arah yang tak dapat diprediksi.

"Ayolah cantik, tunjukan apa yang kau miliki kepada calon kekasihmu ini!" ujarnya.

Masih meringis, Eri berusaha berdiri. Dia memperhatikan bagaimana Kir bergerak, posisi dan kuda-kudanya. Cukup aneh baginya, posisi tubuh Kir cenderung rendah, kakinya agak ditekuk dan jaraknya cukup lebar, tangannya pun merentang. Eri sedikit mengerti, ini artinya gaya bertarung Kir didesain untuk menyerang bagian bawah musuh, tak terfokus pada satu titik, melainkan mengandalkan ruang lingkup yg lebih luas. Tapi itu tak menjelaskan kenapa ia bisa menghilang.

Perempuan itu kembali mempersiapkan tinjunya, masih belum melancarkan serangan. Eri memang tak mempelajari ilmu beladiri secara mendalam, ia juga tak cukup kuat jika hanya mengandalkan kemampuannya dalam berkelahi. Tapi ada satu hal yang membuatnya sangat yakin kalau ia bisa mengalahkan Kir, ia yakin dengan kemampuan koordinasi mata dan otaknya. Bukan pistol dan senapan yang menjadi senjata andalannya, melainkan pengamatannya terhadap hal-hal secara mendetail.

Eri ahli dalam mengumpulkan informasi, bahkan dalam keadaan terdesak dengan tempo cepat seperti pertarungan. Kemampuannya dalam menganalisa sesuatu, lalu menarik kesimpulan secara garis besar berdasarkan apa yang telah diamatinya adalah cara yang paling sering digunakan untuk mendapatkan informasi, terutama dalam keadaan seperti ini. Tak selalu akurat memang, tapi setidaknya cukup berguna ketika situasi seperti ini terjadi.

Kir kembali terhuyung, sedikit aneh bagi Eri ketika melihat bagaimana Kir bergerak. Dia seperti menarik perhatian Eri agar terus memperhatikan tubuhnya sebelum dia menghilang. Dan benar saja, Eri kembali kehilangan Kir. Tak sampai sepersekian detik, sebuah pukulan telak diayunkan ke arah perut gadis itu. Eri memegangi perutnya, terasa sakit dan mual. Seolah makanan yang dilahapnya saat sarapan dipaksa keluar dari mulut.

Kir dan Gibson menyeringai puas ketika menyiksa gadis itu. Bahkan Arianne yang dijaga oleh Bronx dan satu lagi temannya tampak tak bisa berkata-kata melihat sahabatnya itu dihajar habis-habisan. Namun sebuah senyum mengembang di bibir Eri, terdengar suara tawa kecil, seolah ada yang lucu dari siksaan itu.

"Jadi begitu ya, sekarang aku mengerti trik murahanmu, dasar kadal busuk!" gumam Eri pelan.

Kir mengerutkan kening, namun tak gentar dengan gertakan Eri. Seperti biasa, dia melancarkan serangan menghilangnya.Dengan sigap Eri, mencondongkan tubuhnya kebelakang, matanya melirik ke kanan tepat sebelum Kir menyerangnya. Diraihnya tangan lelaki tersebut, menjepit diantara ketiaknya lalu memutar tubuh dan mendorong Kir ke tembok. Tangannya menekan kepala Kir, mengunci pergerakannya.

"Berhentilah memperhatikan mataku, itu menjijikan," bisik Eri di telinga Kir.

Lelaki itu terkejut bercampur geram, terlihat rasa tak percaya dari sorot matanya karena tekniknya dipatahkan oleh seorang wanita.

"K-kau! Bagaimana mungkin?!"

"Membuat pandangan seseorang kearah yang kau inginkan, membiarkannya fokus pada ritme gerakanmu tentu mudah buatmu untuk memecah konsentrasi seseorang, " terang Eri, "Aku tahu trik sulap mu, kau membuatku fokus pada gerakan aneh itu, kau memperhatikan kearah mana pandangan mataku, dengan timing yang tepat kau hanya tinggal bergerak kearah yang berlawanan dan bingo! Sebuah trik teleportasi."

Kir berdecak kesal, berusaha berontak namun Eri menguatkan bekapannya.

"Tadi kau bilang aku ini tipe mu,bukan?" bisik Eri menggoda, "Bagaimana kalau sedikit ciuman sebelum semua ini berakhir?"

Lelaki terkejut, sorot matanya berubah aneh dan nafasnya memburu cepat. Perempuan itu membalik tubuh Kir, membuat mereka berhadap-hadapan. Kir tampak pasrah dan tak melakukan perlawanan, ia memejamkan mata lalu memanyunkan bibirnya. Tanpa basa-basi lagi, Eri mengayunkan lututnya kearah selangkangan lelaki yang dipenuhi harapan itu. Begitu keras, sehingga terdengar suara mengerikan yang membuat tiap lelaki merinding. Mata Kir seperti akan terbalik dan mulutnya mulai mengeluarkan busa, tubuhnya gemetaran, lalu terkulai lemas.

"Bukan hanya kau yang ahli memecah fokus dan pertahanan seseorang disini," gumam Eri puas, matanya menoleh ke bawah, ke arah Kir yang tak sadarkan diri.

Suasana kedai itu kembali sepi, semuanya melongo kearah gadis itu. Bahkan beberapa lelaki yang tak tahan melihatnya sampai merapatkan kedua pahanya karena ikut merasa ngilu.

"Menyerahlah gorila! Otak anak buahmu itu sebesar kacang, sebaiknya kalian bersekolah dulu sebelum melawanku!" teriak Eri sambil berkacak pinggang.

“Woah, hebat... tapi mengerikan” bisik Jack kagum melihat bagaimana Eri bertarung.

"Jangan sombong kau wanita jalang!, Roy! Gibson! Habisi dia!" Bronx mulai geram dan menyuruh dua orang lainnya untuk mengurus Eri.

Baru selesai Bronx memberikan perintah, Arianne mengayunkan palunya, namun berhasil ditangkap oleh Bronx.

"Akan kuajari kau sedikit sopan santun terhadap orang dewasa, bocah kecil!" geram Bronx dengan tatapan penuh amarah.

Bronx mencengkeram pipi tembem Arianne, wajahnya semakin merapat kearah wajah kecil anak itu. Aroma alkohol tercium begitu kuat, membuat gadis itu memalingkan wajahnya. Jack mulai tak tahan dengan apa yang dilihatnya, dan tanpa disadarinya.

Tung!

Sebuah botol kaca dilemparkan kearah kepala Bronx, botol itu tak pecah lalu jatuh ke lantai dan menggelinding begitu saja.

"Err.. Itu bukan lemparan terbaik ku," gumam Jack bodoh.

Bronx sedikit terkejut, perlahan, dia menoleh kearah Jack. Matanya yang mengerikan membuat Jack sedikit was-was.

"Kau, bajingan jabrik... Kau pikir dirimu pahlawan, he?" gumam Bronx lalu melepaskan tangannya dari Arianne, berdiri dan berusaha mengintimidasi Jack.

Tiba-tiba terdengar suara botol pecah, dua kali, lalu diikuti rintihan kesakitan dua anak buah Bronx. Tentu saja itu membuat semua mata menoleh kearah suara, termasuk Bronx, Jack dan Arianne.

"Cih, kau bertindak sok pahlawan, tapi melempar sebuah botol saja tak becus!" gumam si pelaku.

Itu si rambut merah, Jack memang telah memiliki firasat kalau lelaki itu juga tak tahan melihat bagaimana dua wanita sedang mendapat masalah di hadapan mereka. Setidaknya Jack tahu kalau dia memiliki rasa keadilan.

"Bajingan busuk! Jangan ikut campur kau! Habisi dia Roy!" teriak Gibson, darah segar mengucur dari kepalanya karena serangan pria itu.

“Mengeroyok wanita tak berdaya, kalian sebut diri kalian laki-laki?” teriak si rambut merah.

“Siapa yang kau bilang tak berdaya!” balas Eri gusar.

Lelaki itu menoleh kearah Eri dengan tatapan remeh, meregangkan sendi-sendi lehernya lalu menatap Roy dengan tajam. Pria berambut merah itu berjalan melewati Eri, berjalan kearah Roy dan Gibson yang mulai bersiap melancarkan serangan. Sepintas, Eri melihat sesuatu tercetak di kalung yang dikenakannya. Kalung yang biasa dikenakan sebagai penanda nama seekor anjing. Ukiran yang samar, namun cukup jelas terlihat bagi mata tajam Eri.

"LEO"

Tiga huruf yang tercetak di kalung itu, membentuk sebuah kata yang bisa merujuk sebagai sebuah nama, atau simbolis seekor singa. Sebuah pedang besar menggantung di punggungnya, pedang dengan sarung yang terikat kuat, bahkan bisa dibilang tersegel. Umumnya sebuah pedang tak pernah dikunci dalam sarungnya agar memudahkan pengguna untuk menariknya sewaktu-waktu, namun sepertinya pria ini justru tidak ingin pedangnya bisa ditarik lepas dari sarungnya. Lalu untuk apa dia membawa pedang? Eri hanya memperhatikan dengan heran.

Bisikan-bisikan dari pengunjung lain yang menonton pertarungan menemani tiap langkah lelaki berjaket hitam itu.

Membuat Eri, serta Jack yang sedang bermasalah dengan Bronx mencuri dengar dari suara-suara itu.

"Itu Si Taring Api, tak salah lagi!" seru seseorang.

"Ku dengar ia baru saja mengalahkan komplotan bandit penunggang Orzard di Algeus!" timpal orang lainnya diikuti gumaman-gumaman takjub yang muncul silih berganti.

Gibson dan Bronx semakin merasa kesal mendengar ocehan pengunjung kedai, merasa disepelekan di depan pria berjuluk Taring Api ini.

“Aku tak peduli jika kau adalah Leo si Taring Api, tempat ini akan menjadi kuburanmu, sialan!" teriak Gibson dan langsung dibuka oleh serangan Roy terhadap Leo.

[Orific] Eremidia Dungeon

Dengan tangan kanannya, Leo menepis tinju Roy kearah atas, menarik kepalan di tangan kiri lalu meninju tubuh pria yang lebih besar darinya itu. Wajah Roy dipenuhi dengan ekspresi syok, matanya melotot dan mulutnya menganga, tubuhnya terdorong kebelakang. Namun serangan Leo tak berhenti disitu saja, ditariknya kerah baju rambut Roy hingga wajahnya menghadap ke bawah dan bersamaan dengan itu, Leo mengayunkan lututnya dan menendang wajah Roy. Lelaki besar itu terhuyung, tertunduk lalu menyeka darah segar yang menetes dari hidungnya.

Gibson yang melihat itu mulai geram, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil lalu menyerang dengan membabi buta. Namun Leo menepis serangannya, sayatan dan tusukan yang dilancarkan Gibson dihindari Leo dengan sempurna. Matanya yang keemasan tak berkedip sedikitpun, menatap tajam langsung ke mata Gibson.

Sebuah serangan yang ditujukan ke leher Leo, membuat lelaki itu membungkuk. Tanpa membuang kesempatan, Gibson memutar pisaunya, lalu mengayunkannya kebawah.

Pisau tertancap di lantai, Gibson yang setengah berjongkok tampak begitu berkeringat karena panik, ia mendongakan kepalanya dan melihat tubuh Leo yang masih berputar karena menghindari tusukan Gibson barusan. Kakinya berputar di udara, sementara kedua tangannya yang menopang tubuh lelaki itu didorongnya, membuatnya melompat kebelakang dan kembali ke posisi siap bertarung.

Gibson, langsung merangsek kearah Leo, tanpa pisau lagi karena tertancap begitu kuat di lantai kayu. Serangan putus asa yang menyedihkan, sepintas Leo tampak berdecak kesal karena melihat lawannya itu. Kepalan tangan Gibson hanya beberapa sentimeter dari wajah Leo, namun lelaki itu memutar tubuhnya searah dengan jarum jam. Menghindari serangan Gibson, lalu memukul pelipis Gibson dengan sikunya. Leo kembali berputar, kini berlawanan arah dari sebelumnya, lalu tangan kananya diayunkan dari bawah, memukul rahang Gibson dan membuatnya terlempar keudara.

Belasan pasang mata melihat bagaimana tubuh Gibson melayang di udara sebelum akhirnya jatuh ke kursi dan meja yang tak mampu menopang tekanan itu dan akhirnya patah. Semua orang di ruangan itu menahan nafas mereka ketika melihat pertarungan cepat yang mungkin tak sampai tujuh detik itu.

Roy mungkin bisa bertahan karena memiliki daya tahan yang cukup baik, walau begitu, ia tahu kalau dirinya tak'kan menang melawan Leo. Sedangkan Gibson langsung tak sadarkan diri setelah menerima serangan Leo.

"Lemah... Lemah sekali..." gumam Leo kecewa, "Sekarang giliranmu, majulah kau bajingan!!" teriak Leo menantang Bronx.

Jack kembali melongo, Leo Redfang si taring api, dia pernah mendengar gosip yang menurutnya sedikit berlebihan. Katanya ia adalah seorang pemburu buronan yang sangat buas, pembangkang, dan seenaknya sendiri. Seringkali ia berselisih dengan kesatuan militer, bahkan ada yang bilang satu-satunya hukum yang berlaku baginya hanyalah hukum rimba.

Walau begitu, Leo bukanlah seorang kriminal, ia tak pernah membunuh mangsanya, hanya saja mereka pasti berakhir dengan babak belur dan seringkali dalam kondisi menyedihkan. Menggantung korban-korbannya yang telanjang di tengah kota, mengembalikan hasil kejahatan si pelaku kepada korban, atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan hanyalah sebagian aksi nyentriknya. Itu membuat beberapa orang menganggapnya sebagai sosok pahlawan, sementara orang lain beranggapan ia hanyalah pria yang suka cari sensasi.

Hal lainnya tentang pria yang selalu mengenakan setelan hitam-merah ini adalah kalau dia seorang serigala penyendiri. Beberapa kali agensi pemburu buronan dan Manhunter berusaha merekrutnya, namun tak pernah berhasil.

Setelah melihatnya secara langsung, melihat bagaimana ia bertarung, kabar-kabar itu tidaklah berlebihan samasekali bagi Jack. Leo si taring api benar-benar seperti seekor singa. Gerakannya, tiap langkahnya, tentu saja jauh dari kemampuan Jack, atau mungkin petualang kebanyakan. Tak seperti dirinya yang memilih untuk bisa segala hal, namun hanya sekedarnya. Leo adalah seorang spesialis pertarungan jarak dekat. Seolah-olah setiap inci ddari tubuhnya memang dirancang untuk bertarung.

"Bedebah! Jangan sombong baru bisa mengalahkan mereka!" seru Bronx seraya mendorong tubuh Jack.

Jack tersadar dari lamunannya, melihat Bronx mulai menjauhinya dan Arianne, berjalan kearah Leo dan Eri. Leo juga berjalan kearah Bronx, keduanya berdiri berhadapan seperti awal pertarungan dua orang gladiator. Bronx mengayunkan tinjunya, namun berhasil dihindari Leo. Dengan cepat, ia membalas serangan Bronx, sebuah senyum licik merekah di bibirnya. Ditangkapnya tangan Leo, dan dengan mudahnya ia melempar tubuh lelaki berjaket hitam itu kearah Eri.

"Akh!!"

Eri tak sempat menghindar, membuatnya terhimpit tubuh Leo dan tembok yang berada di belakangnya.

"Heh, usaha yang bagus," gumam Leo sambil menyeka keringat di pipinya.

Lelaki itu berdiri tanpa mempedulikan Eri yang telah menjadi bantalan baginya sebelum menghantam tembok, tentu saja membuat gadis itu makin kesal terhadap orang di hadapannya ini. Ia bahkan tak mendengar kata maaf terlontar dari mulutnya.

"Kau menyakiti Eri!" teriak Arianne tiba-tiba, membuat Jack terkejut dan tak sempat mencegah anak itu berlari ke arah Bronx.

Anne berlari sambil menenteng palu besarnya, berusaha mengayunkannya kearah Bronx. Namun, posisi kakinya yang tak berpijak dengan kuat membuatnya terpeleset kedepan, wajahnya langsung menabrak punggung Bronx yang makin murka karena diganggu. Ia melihat Arianne seperti menatap seekor serangga pengganggu.

"Mati saja, kau anak kecil!" Teriak Bronx seraya membalikan tubuhnya, berusaha memukul wajah Arianne.

Arianne memejamkan matanya, tangannya terangkat berusaha melindungi wajah kecilnya. suara hantaman terdengar, namun Arianne tak merasakan apapun, perlahan ia membuka kelopak matanya. Jack tampak melindungi dirinya dari pukulan Bronx, tangan orang brutal itu mendarat di pipi Jack. Arianne yang melihat itu mundur beberapa langkah karena terkejut, apalagi setelah melihat Jack masih sempat tersenyum kearahnya.

"Jabrik sok pahlawan! Kenapa kalian semua ini?! Kenapa banyak sekali pengganggu di sini?!" geram Bronx.

"Yahh.. Mungkin karena anda berlaku kasar terhadap anak-anak, tuan," gumam Jack, masih disertai tawa kecil dan santai.

"Jangan mengejekku, dasar kau anjing kampung!"

Dengan cepat, Bronx meraih rompi Jack, berencana untuk membantingnya, namun secara refleks, Jack meluruskan kedua tangannya lalu menarik tubuhnya keluar dari rompi yang dikenakannya itu. Begitu tubuhnya terbebas, Jack mengambil ujung rompinya, memutarnya dan membelit kedua telapak tangan Bronx sehingga tangannya terikat. Bronx makin murka, dia mengayunkan kedua tangannya yang telah menyatu kuat-kuat.

"Ouch!"

Jack terjatuh, tepat dibawah kaki Bronx. Tanpa membuang waktu, Bronx mengangkat tangannya, lalu menjatuhkan dua tinjunya kearah lantai, seolah ingin menghancurkan kepala lelaki yang membuat ulah kepadanya itu. Jack segera menendang lantai begitu bisa memegang pakaiannya yang masih membelit tangan Bronx, membuatnya meluncur melewati kaki-kaki besar Bronx.

Lelaki berdiri sambil terus menahan tangan Bronx, otomatis itu mengunci gerakan pria besar itu dalam posisi jatuh tertelungkup, agak menungging dengan tangan tertahan diantara kedua pahanya. Jack memang tak memiliki kemampuan bertarung yang hebat, namun ia cukup cerdas untuk memanfaatkan apapun yang ada di sekitar untuk membantu dalam pertarungan, terlebih Jack memiliki senjata andalan, yaitu keberuntungan.

"Cih, dasar pengganggu, aku bisa menghadapi orang itu sendirian!" gerutu Leo ketika melihat Bronx berhasil ditumbangkan Jack.

“Ahahaha.. maaf-maaf, aku hanya bertindak secara spontan,” balas Jack santai.

"Eri kau tak apa-apa?” teriak Arianne, lalu berlari kearah Eri yang masih terduduk memegangi perutnya di belakang Leo.

Anne tampak begitu khawatir, bertanya macam-macam dan memeriksa tubuh temannya itu. Membuat Eri hanya tersenyum kecut melihat bagaimana kawan kecilnya itu. Ia melihat kearah Leo, orang itu tampak tak berniat meminta maaf, apalagi menolongnya berdiri. Jack pun tampak mengerti, Leo Redfang, pria yang berpedoman pada hukum rimba, dan karena itu tampaknya ia juga tak mengerti yang namanya sopan santun dan etika.

Eri dan Jack bertemu pandang, membuat gadis itu teringat akan sesuatu. Ia menyenggol Arianne dan mendongakkan kepalanya kearah Jack yang masih menahan tubuh besar Bronx yang terus berontak. Mengerti apa maksud sahabatnya itu, Arianne menganggukan kepalanya kearah Jack. Wajahnya datar dan tak seekspresif ketika menghampiri Eri yang terluka, tapi Jack mengerti dari bahasa tubuhnya kalau Arianne bermaksud mengucapkan terimakasih kepadanya.

"Ada apa ini?!"

Sebuah suara lantang dan tegas membuat semua orang menoleh kearah pintu masuk, Guardian! Mereka yang bertanggung jawab atas petualang-petualang dan daerah eksplorasi dungeon akhirnya datang, namun sudah terlambat karena masalah sudah terkendali. Benar-benar seperti cerita yang klise, dimana pihak berwajib selalu datang di akhir cerita, cukup membuat Jack menghela nafas kecewa, tapi sedikit lega karena tak harus menahan Bronx terus-terusan.

Jack memperhatikan lelaki yang berdiri paling depan, kulitnya gelap dengan rambut berwarna perak, pakaiannya cukup berbeda dengan agen Guardian biasanya. Ia mengenakan pelindung bahu yang cukup besar, mantel dan beberapa lencana yang tertempel di mantel tersebut, sepertinya salah satu petinggi Guardian.

“Tangkap mereka!" perintah lelaki itu.

Beberapa agen Guardian masuk kedalam kedai, menggeledah senjata dan memeriksa mereka yang terluka. Tak lama kemudian, Jack, Arianne, Eri, si rambut merah, serta Bronx dan kawanannya digiring menuju kantor administrasi Guardian. Tampaknya Jack telah mendapat masalah cukup serius kali ini.
keren ada artworknya emoticon-Matabelo

Ane baca dulu aaah~

mampir juga ya ke orific ane.
NEW WORLD
si jack kyk jackie chan yak??? mengandalkan segala sesuatu emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By HikArU AoZorA
keren ada artworknya emoticon-Matabelo

Ane baca dulu aaah~

mampir juga ya ke orific ane.
NEW WORLD


Monggo bray.. oke nanti saya mampir emoticon-Jempol

Quote:Original Posted By Mr.Mushroom
si jack kyk jackie chan yak??? mengandalkan segala sesuatu emoticon-Big Grin


Iyo Gan, gaya berantem Jack emang kek Jackie Chan. emoticon-Big Grin
artworknya keren emoticon-Smilie
kayanya klo dijadiin doujin gitu bisa nih... XD
untuk cerita masih skimming sih, belum bisa komentar banyak... emoticon-Malu (S)