alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/528ca147feca179333000002/dari-pada-pada-ribut-yang-ini-patut-dicontoh-selingan
Dari pada pada ribut, yang ini patut dicontoh (selingan)
Dari pada pada ribut, yang ini patut dicontoh (selingan)


Di desa Jasa Ketungau Hulu Sintang berdiri pos Kompi D Yonif 403/Wirasada Paratista Diponegoro, sebagai satuan pengamanan perbatasan. Tentara yang bertugas disana tidak sebatas hadir menjadi prajurit TNI, namun ikut memperkenalkan pembuatan tempe



SUTAMI, Jasa

DESA Jasa kecamatan Ketungau Hulu menjadi wilayah Sintang yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Disana berdiri sebuah pos pamtas TNI. Bercat hijau dengan ornamen loreng membuat bangunannya mudah dikenali.

Melihat sekilas Pos Pamtas ini tak ada perbedaan dengan markas tentara. Namun nuansa langsung terasa begitu masuk ke ruang pos yang tidak terlalu besar itu. Dimana ruang tamu hanya disekat dinding langsung berhadapan dengan dapur.

Kemudian banyak bungkusan tempe disana. Lalu didapur terlihat bekas pengolahannya. Dandang besar berdiri di atas tungku plus tumpukan kayu api bakar. Tak terkecuali, karung berisi kedelai dan ragi.

Puluhan bungkus tempe yang tersusun dengan rapi itu adalah buatan personil Pamtas. Berbekal keahlian dari kampung, membuat tempe menjadi aktifitas tambahan para prajurit Pos Jasa selepas patroli rutin perbatasan. Pencetus pembuatan tempe ini adalah wakil komandan (Wadan) Pos, Sersan satu (Sertu) Khusna L.

Tentara berusia 27 tahun asal Purworejo itu sudah menguasai ilmu pembuatan tempe sebelum menjadi anggota TNI. Kemampuannya tersebut kemudian disampaikan kepada seluruh anggota Pos Jasa untuk dikembangkan. Ternyata respon tinggi diperoleh. Bahkan semua anggota di pos Jasa siap mengeluarkan iuran sebagai modal awal pembuatan tempe.

Dari biaya yang terkumpul langsung dibelanjakan kedelai dan ragi serta peralatan pendukung untuk membuat tempe. Semua bahan baku itu didatangkan dari Balai Karangan Sanggau.

Modal kekompakan menjadikan produksi tempe Pos Jasa berlanjut hingga kini. Setiap hari paling sedikit menghabiskan enam kilogram kedelai. Kedelai sebanyak itu mampu menghasilkan 80 bungkus tempe. Hasilnya selain di konsumsi sendiri juga dijajakan kepada masyarakat setempat.

Cara kerja prajurit Pos Jasa dalam memproduksi tempe saling berbagi peran. Mulai perebusan hingga pembungkusan, setidaknya delapan orang terlibat. Produksi tempe mulai dikerjakan selepas maghrib, dan pada paginya langsung siap edar.

Tempe buatan Pos Jasa sangat dikenali masyarakat setempat. Dengan dihargai Rp 3000 per bungkus, tempenya selalu laris, dengan konsumennya adalah masyarakat Jasa. Kepiawan tentara membuat tempe ini mengundang ketertarikan masyarakat untuk belajar. “Ada lima orang yang datang ke pos langsung untuk melihat kami membuat tempe,” kata Sertu Khusna.

Ia pun merasa ada kebanggaan tersendiri karena bisa mengajarkan cara membuat tempe kepada masyarakat desa Jasa. Harapannya, ilmu tersebut tetap membekas sepulang Prajurit Yonif 403/Wirasada Paratista Diponegoro sebagai Satgas Pamtas RI-Malaysia di Kalimantan Barat. Sertu Khusna bertugas di Jasa sudah menginjak bulan kelima, dari rencana enam bulan tugas.

Respon positif masyarakat membuat arti sendiri bagi prajurit di Pos Jasa. Dimana hubungan emosional antara TNI dan masyarakat terbangun. Dimana saat menjajakan tempe, anggota pos masuk dari rumah ke rumah. Kondisi itu dengan sendirinya menciptakan komunikasi tentara dengan masyarakat.

Maka tidak mengherankan dukungan dari komandan Kompi D yang membawahi pos Jasa dengan berkedudukan di Senaning, Kapten Inf Edhi, sangat mendukung langkah kreatif anggotanya. Upaya tersebut dinilai menjadi bagian efektif dalam membangun komunikasi teritorial. Karena itu, dirinya sangat mendukung insiatif Pos Jasa untuk memproduksi tempe.



Menurut Edhi pembuatan tempe itu juga dilakukan secara bergiliran. Anggota Pos Jasa sebanyak 21 orang. Yang berada di Pos hanya delapan orang, karena selebihnya berada di Pos Jaga berjarak agak jauh dari Pos Jasa. Yakni untuk menempuhnya harus berjalan kaki sekitar 3 jam. “Pos Jasa merupakan pos perwakilan. Bergiliran. Gantian regu untuk berada di pos perwakilan. Selebihnya berada di pos jaga,” kata Kapten Edhi. “Kalau lagi berada di Pos Jasa, berarti prajurit akan membuat tempe. Menjalankan tugas operasi saat berada di Pos Jaga,” tambah dia.

Edhi mengatakan, membuat tempe hanya salah satu kegiatan kegiatan prajurit di Pos Jasa. Membaur kepada masyarakat juga dilakukan melalui kegiatan olahraga. Kemudian memberikan sarana prasarana belajar kepada anak-anak setempat dengan membuka rumah pintar. (**)


sumber: http://www.pontianakpost.com/pro-kal...-malaysia.html
siiip ane salut, kreatif, dan simpel tapi amat mengena. walo cuma tempe ada hal yg patut diacungi jempol:
1, mengajarkan mencintai ploduk2 indonesia;
2. memberikan daya dorong usaha sederhana tapi bernilai ekonomi tinggi di area perbatasan;
3. gambaran personil TNI yg mahir baca medan perang dan medan usaha/bisnis
emoticon-Toast
Mantapemoticon-Cendol (S)

Salah satu cara TNI manunggal dg rakyatemoticon-I Love Indonesia (S)
DIPLOMASI TEMPE emoticon-Big Grin
Habis bikin tempe biasa, waktunya dikembangkan jadi tempe mendoan yang tipis2...
Tapi hati-hati, jangan sampai negara sebelah nyolong resepnya...emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By fs169
DIPLOMASI TEMPE emoticon-Big Grin
Habis bikin tempe biasa, waktunya dikembangkan jadi tempe mendoan yang tipis2...
Tapi hati-hati, jangan sampai negara sebelah nyolong resepnya...emoticon-Big Grin


wahh pagi pagi udah ngomong mendoan emoticon-Kaskus Banget

sippp daripada berantem mendingan belajar bikin tempe!
mendoan bakal diklaim sama sonora.....emoticon-Ngakak
Jadi inget pasukan Shinsengumi, biasanya cari informasi tentang pemberontak dan hunting sambil menjajakan jamu gendong emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By fs169
DIPLOMASI TEMPE emoticon-Big Grin
Habis bikin tempe biasa, waktunya dikembangkan jadi tempe mendoan yang tipis2...
Tapi hati-hati, jangan sampai negara sebelah nyolong resepnya...emoticon-Big Grin


emoticon-Ngakak...Awas ada askar hentak2x bumi menyamar sebagai penduduk. Mo belajar bikin tempe emoticon-Stick Out Tongue
kadang dalam penugasan di dalam luar negeri sering dijumpai hal kreatif semacam ini. ada baiknya mabes TNI membuat buku tentang hal semacam ini dan mendistribusikan ke satpur yang akan diterjunkan di daerah penugasan sebagai usaha diplomasi selain perang oleh anggota TNI
Quote:Original Posted By Laksapro
siiip ane salut, kreatif, dan simpel tapi amat mengena. walo cuma tempe ada hal yg patut diacungi jempol:
1, mengajarkan mencintai ploduk2 indonesia;
2. memberikan daya dorong usaha sederhana tapi bernilai ekonomi tinggi di area perbatasan;
3. gambaran personil TNI yg mahir baca medan perang dan medan usaha/bisnis
emoticon-Toast


Bener-bener multyrole emoticon-thumbsup emoticon-Blue Guy Cendol (S)
resep tempenya harus d encrip dulu nih
bahaya kalo jatuh ke tangan musuh emoticon-Ngakak (S)
Wadanpos yang baik, aksi yg multiple effect
a. Nambah duit jajan
b. Bisa ngobrol lebih deket.
c. Informan banyak
d. Pemberdayaan ekonomi masyarakat
e. Pulbaket lebih gampang
f. Nambah sodara
hati-hati resepnya dicolong sama tetangga sebelah emoticon-Smilie
kq gak dapet balas jasa ya....?? kemandirian mereka n kedekatan dengan masyarakat layak dapat apresiasi....

bukan kq anggota hewan udah korup dipenjara masih juga dapet pensiunan, mnding dialihkan dimari....emoticon-I Love Indonesia (S)
emoticon-Belo sebungkus cuman 3000, murah bener yak.. ditempat ane aja 4000 emoticon-Cape d... (S)
salut ane emoticon-Smilie...

Smile 
Sangat se-delapan

Quote:Original Posted By semarang city
Dari pada pada ribut, yang ini patut dicontoh (selingan)


Di desa Jasa Ketungau Hulu Sintang berdiri pos Kompi D Yonif 403/Wirasada Paratista Diponegoro, sebagai satuan pengamanan perbatasan. Tentara yang bertugas disana tidak sebatas hadir menjadi prajurit TNI, namun ikut memperkenalkan pembuatan tempe



SUTAMI, Jasa

DESA Jasa kecamatan Ketungau Hulu menjadi wilayah Sintang yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Disana berdiri sebuah pos pamtas TNI. Bercat hijau dengan ornamen loreng membuat bangunannya mudah dikenali.

Melihat sekilas Pos Pamtas ini tak ada perbedaan dengan markas tentara. Namun nuansa langsung terasa begitu masuk ke ruang pos yang tidak terlalu besar itu. Dimana ruang tamu hanya disekat dinding langsung berhadapan dengan dapur.

Kemudian banyak bungkusan tempe disana. Lalu didapur terlihat bekas pengolahannya. Dandang besar berdiri di atas tungku plus tumpukan kayu api bakar. Tak terkecuali, karung berisi kedelai dan ragi.

Puluhan bungkus tempe yang tersusun dengan rapi itu adalah buatan personil Pamtas. Berbekal keahlian dari kampung, membuat tempe menjadi aktifitas tambahan para prajurit Pos Jasa selepas patroli rutin perbatasan. Pencetus pembuatan tempe ini adalah wakil komandan (Wadan) Pos, Sersan satu (Sertu) Khusna L.

Tentara berusia 27 tahun asal Purworejo itu sudah menguasai ilmu pembuatan tempe sebelum menjadi anggota TNI. Kemampuannya tersebut kemudian disampaikan kepada seluruh anggota Pos Jasa untuk dikembangkan. Ternyata respon tinggi diperoleh. Bahkan semua anggota di pos Jasa siap mengeluarkan iuran sebagai modal awal pembuatan tempe.

Dari biaya yang terkumpul langsung dibelanjakan kedelai dan ragi serta peralatan pendukung untuk membuat tempe. Semua bahan baku itu didatangkan dari Balai Karangan Sanggau.

Modal kekompakan menjadikan produksi tempe Pos Jasa berlanjut hingga kini. Setiap hari paling sedikit menghabiskan enam kilogram kedelai. Kedelai sebanyak itu mampu menghasilkan 80 bungkus tempe. Hasilnya selain di konsumsi sendiri juga dijajakan kepada masyarakat setempat.

Cara kerja prajurit Pos Jasa dalam memproduksi tempe saling berbagi peran. Mulai perebusan hingga pembungkusan, setidaknya delapan orang terlibat. Produksi tempe mulai dikerjakan selepas maghrib, dan pada paginya langsung siap edar.

Tempe buatan Pos Jasa sangat dikenali masyarakat setempat. Dengan dihargai Rp 3000 per bungkus, tempenya selalu laris, dengan konsumennya adalah masyarakat Jasa. Kepiawan tentara membuat tempe ini mengundang ketertarikan masyarakat untuk belajar. “Ada lima orang yang datang ke pos langsung untuk melihat kami membuat tempe,” kata Sertu Khusna.

Ia pun merasa ada kebanggaan tersendiri karena bisa mengajarkan cara membuat tempe kepada masyarakat desa Jasa. Harapannya, ilmu tersebut tetap membekas sepulang Prajurit Yonif 403/Wirasada Paratista Diponegoro sebagai Satgas Pamtas RI-Malaysia di Kalimantan Barat. Sertu Khusna bertugas di Jasa sudah menginjak bulan kelima, dari rencana enam bulan tugas.

Respon positif masyarakat membuat arti sendiri bagi prajurit di Pos Jasa. Dimana hubungan emosional antara TNI dan masyarakat terbangun. Dimana saat menjajakan tempe, anggota pos masuk dari rumah ke rumah. Kondisi itu dengan sendirinya menciptakan komunikasi tentara dengan masyarakat.

Maka tidak mengherankan dukungan dari komandan Kompi D yang membawahi pos Jasa dengan berkedudukan di Senaning, Kapten Inf Edhi, sangat mendukung langkah kreatif anggotanya. Upaya tersebut dinilai menjadi bagian efektif dalam membangun komunikasi teritorial. Karena itu, dirinya sangat mendukung insiatif Pos Jasa untuk memproduksi tempe.



Menurut Edhi pembuatan tempe itu juga dilakukan secara bergiliran. Anggota Pos Jasa sebanyak 21 orang. Yang berada di Pos hanya delapan orang, karena selebihnya berada di Pos Jaga berjarak agak jauh dari Pos Jasa. Yakni untuk menempuhnya harus berjalan kaki sekitar 3 jam. “Pos Jasa merupakan pos perwakilan. Bergiliran. Gantian regu untuk berada di pos perwakilan. Selebihnya berada di pos jaga,” kata Kapten Edhi. “Kalau lagi berada di Pos Jasa, berarti prajurit akan membuat tempe. Menjalankan tugas operasi saat berada di Pos Jaga,” tambah dia.

Edhi mengatakan, membuat tempe hanya salah satu kegiatan kegiatan prajurit di Pos Jasa. Membaur kepada masyarakat juga dilakukan melalui kegiatan olahraga. Kemudian memberikan sarana prasarana belajar kepada anak-anak setempat dengan membuka rumah pintar. (**)


sumber: http://www.pontianakpost.com/pro-kal...-malaysia.html


Sepertinya inilah cara paling tepat membangun citra TNI...jadi TNI yang akan tugas di perbatasan atau kawasan terpencil selain dibekali kemampuan tempur yang ciamik...juga harus memiliki kepiawaian dalam bidang yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat...cara buat tempe, tahu dan beragam keterampilan lainnya. cara menanam cabe yang baik, dan sebagainya. Mungkin para sarjana ITB dan IPB belum sampai di perbatasan, tapi jika TNI mampu memberikan hal sederhana yang bermanfaat, pastilah rakyat akan berpihak pada TNI.emoticon-Blue Guy Cendol (L)

Thumbs up 

diplomasi tempe sepertinya menarik untuk dijadikan kosa kata baru gan emoticon-Ngakak ya setidaknya kalau ada anggota yang suka ndableg kirim aja ke perbatsan yang terpencil biar gak tengil emoticon-Big Grin rakyat udah capek liat liat keributan seperti yang udah-udah emoticon-I Love Indonesia (S)d
Quote:Original Posted By semarang city
diplomasi tempe sepertinya menarik untuk dijadikan kosa kata baru gan emoticon-Ngakak ya setidaknya kalau ada anggota yang suka ndableg kirim aja ke perbatsan yang terpencil biar gak tengil emoticon-Big Grin rakyat udah capek liat liat keributan seperti yang udah-udah emoticon-I Love Indonesia (S)d

menurut ane mrk sebenarnya tdk tengil, tapi kurang diberdayakan, kurang diberi kesempatan dan kurang dibangun sesuai karakternya. shg mrk cari pelampiasan di luar camp.

bangga sama anggota TNI yang satu ini, dan patut di contoh untuk anggota yang laen agar citra TNI semakin bagus di mata publik emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia emoticon-I Love Indonesia
sory gan, numpang promo yaas
buat agan-agan yang suka sama suasana kota Semarang. anr jual rumah nui...
alamatnya di Jalan Selomoyo mukti blok F kel. Tlogomulyo kec. Pedurungan Semarang.
Luas Tanah 100m2
rumah baru di bangun tahun 2011
kondisi masih bagus
dekat dengan jalan raya (sekitar 300 meter)
akses kebutuhan bahan pokok sangat mudah
Jalan menuju rumah sudah aspal
terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar mandi serta dua kamar tidur. yang minat silakan bisa hubungi ane di 081901160182 an Bang Yeka (lebih baik sms dulu ya gan)