alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/52843392feca17505b000006/diskusi--menghadapi-militan-dan-gerilyawan-yg-bercampur-dengan-sipil
DISKUSI : Menghadapi militan dan gerilyawan yg bercampur dengan sipil
ane coba bantu bang Ary dengan pertanyaannya ane bikin thread baru mkn kita bisa urun rembuk disini


Quote:Mungkin kalau mau berdiskusi yg baik perspektif pertanyaan anda bisa dirubah : "Kita ada flashbang atau smoke grenade, prajurit kita juga sudah dilatih? kenapa saudara menyatakan bahwa 99% orang yg terdepan (yg dimaksud adalah orang yg pertama kali masuk suatu ruangan) gugur (bukan mati seperti pernyataan sdr kita newmomotaro, tolong hargai rekan2 kita yg sdh mempertaruhkan nyawa di Aceh kmrn). Dan ini banyak terjadi spt yg disampaikan sdr mado, sikat dulu biar rata baru masuk?

Disini kenapa muncul statemen saya sblmnya "perlu dikembangkan tehnik masuk ruangan". Setiap permasalahan pasti ada solusi. Dan collateral damage dalam setiap pertempuran harus diminimalisir. Kenapa flash bang (yg juga tdk dibekali di aceh) maupun granat asap (nah, ini yg byk digunakan di Aceh) tidak terlalu berpengaruh terhadap pertempuran di Aceh. GPK juga manusia. they evolved and they weren't stupid brother, this is not a game with AI. Mereka tahu hal-hal tersebut. Permasalahan pertama kenapa banyak terjadi korban adalah :

1. Kondisi rumah atau bangunan dimana biasa terjadi korban.Rata-rata yg byk memakan korban prajurit adalah rumah (contoh) seperti ini :

Dari gambar diatas dapat dilihat rumah tersebut dindingnya terbuat dari kayu, sehingga sekat antar tiap ruangan di dalam juga dari kayu. Jadi lawan bisa menembak dari blkg kayu tersebut (visibility terbatas). Asap dari granat terkadang tidak secepat mungkin sampai kebelakang kayu tersebut. Jadi yg terjadi sebaliknya, kita tidak bisa melihat musuh dan musuh bisa melihat kita. Flash bang, mungkin efek suara masih berpengaruh, tetapi yg memegang peranan penting adalah efek cahaya. Karen lawan dibelakang dinding kayu, maka tidak berpengaruh terhadap kemampuan pandang lawan.

2. Umumnya korban yang terjadi karena ditembak dari atap rumah. Jadi lawan sembunyi di atap.

3. Yang ketiga, mayoritas rumah yg digunakan adalah rumah penduduk. Sehingga si empunya rumah yg tidak tahu apa2 biasanya ada di dalam rumah tersebut. GPK di aceh tidak beroperasi di kampung halamannya. Dia pasti beroperasi di kampung yang lain. Jadi kecil kemungkinan rumah tersebut adalah rumah kerabat korban. Walaupun masih ada kemungkinan rumah tersebut adalah simpatisan mereka.

Menghadapi berbagai permasalahan diatas, kira2 bagimana pemecahannya?
Saya senang dsini karena saya yakin, kita dapat membangun forum diskusi yang lebih baik melihat intelektualitas dari pernyataan-pernyataan saudara semua. Bisa saja apa yg saudara sampaikan di dengar oleh pemangku kebijakan yang memiliki wewenang untuk merumuskan doktrin atau buku petunjuk tentang tehnik dan taktik yang lebih efektif dan aman utk prajurit kita.

Terima kasih atas tanggapannya.



jawaban ane

Quote:Original Posted By merkapa
kalo ane bang ary

ngkut cara rusia atau PLA: ancurin dulu karena semboyan kita dan tentara kita dipayungi hukum NKRI harga mati. nah memang untuk hukumnya harus diputuskan oleh para pejabat kita khan mau dicap sebagai apa si GAM itu tentara atau separatis . kalo separatis kayak fretilin udah pasti TNI banyak salahnya. namun kalo tentara ya bisa disikat dengan asumsi yg empunya rumah ya pendukungnya

saya cuman ngutip 10 perintah Fallschirmjager yg dikembangkan hitler, kalo berhadapan ama tentara masih bisa dikasihani tapi kalo untuk gerilyawan GAK ADA AMPUN. memang susah2 gampang menghadapi gerilyawan khan bukan di kita aja Rusia, Israel, Tiongkok mereka kesulitan

namun kalo kita melihat cara Rusia yg cukup simpatik di Checnya yaitu membangun kembali apa yg dihancurkan ya untuk sementara metode ini bisa dilaksanakan

kalo tidak menggunakan metode Inggris saat Malaya emergency, masukin transmigrasi dan menukar penduduk tersebut keluar, jadi jika pendudukn ya 2 juta sekitar 500.000nya dikeluarin dan diganti baru (tapi sapa yg mau krn ini anggaran besar)

makanya cara rusia di Checnya bisa dijadikan patokan, IMHO
kalo teknis bangett mungkin ada SOP tersendiri disetiap AB..tp intinya sihh kalo di hukum humaniter, pembedaannya cukup di seragam atau atribut serta senjata..ada yg bersenjata dan berseragam atauu salah satunya,boleh diserang!

kalo ada human shield,sebaiknya ditahan dulu serangannya..intinya sebisa mungkin meminimalkan korban jiwa sipil..

cmiiw.
Dalam berbagai pertempuran, misalnya Taliban di Afghan atau Al-Qaida di Irak melakukan tindakan pengecut dengan menjadikan warga sipil sebagai human shield dan rumah-rumah mereka sebagai base atau tempat perlindungan bagi milisinya. Terus apakah US Marines dan Army gentar dengan hal itu? Tidak, yang namanya musuh harus dihabisi terlebih dahulu dan masalah collateral damage memang tidak bisa dihindarkan tapi yang penting diminimalisir.

Sekarang dalam home front war atau perang propaganda di pihak kita terutama bagi pembentukan opini masyarakat biasa pendukung NKRI, kita harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa TNI itu jauh lebih superior dari lawan-lawannya sebagai bentuk jaminan kalau rakyat Indonesia dilindungi oleh entitas yang lebih superior daripada peer-nya bahkan untuk kawasan regional. Masalahnya, kalau jumlah korban TNI ketika berhadapan dengan separatis saja bisa besar begitu, bagaimana masyarakat bisa percaya kalau saat ini program modernisasi dan restrukturisasi TNI sedang dalam progress dan on track yang benar. Bisa-bisa malah rakyat yang kecewa kemudian menuntut program modernisasi dihentikan karena tidak ada hasilnya dilapangan.

Ai setuju dengan pendapat Newmomotaro, kalau nyawa prajurit TNI itu harus didahulukan ketimbang rumah-rumah penduduk atau segala bentuk harta benda lainnya yang mungkin bisa rusak dalam pertempuran. Tinggal kita meyakinkan dan memberikan jaminan kalau pemerintah bersedia memberikan ganti rugi kepada setiap kerusakan yang ada dan tidak lepas tanggung jawab setelah pertempuran berakhir.
ada juga cara PLA yg ekstrim di Vietnam 1979 printahnya 1 KILL EVERYTHING LIVE (bukan org lagi) namun semua yg hidup mulai tumbuhan hewan dan manusia diancurin, itulah sebabnya sampe sekrang org Vietnam utara rada ngeri2 sedap kalo mau bentrok ama PLA lagi semenbtara org selatan mutusin lawan aja

untuk Israel dalam ops Peace of Galilee mereka juga kesu.itan membedakan tentara PLO ama sipil sampe akhirnya komandan darat frustrasi dan mutusin hancurin semua yg melawan (tapi bagusnya kalo mereka saat itu gak ada satupun HAM yg koar2 demikian juga dengan RRT)

RRT juga di tahun 1997 juga menghancurin 1 kota di xinjiang kalo gak salah krn memberontak tapi ya abis itu dibangun lagi, pemberontak digirng keluar kota baru dibom ama pesawat Q-5
1. sebarin pamflet untuk menyerah dan tidak memberikan bantuan atau simpati terhadap gerilyawan.

2. beri kesempatan untuk non combatan mengungsi.

3. pake cara spetnaz hujani dengan artilery&MLRS lalu lindas mayat dan yg masih hidup dengan tank atau pake cara us dengan precision bombing lalu kavaleri udara dengan apache

4. profit

kalo mau clearin dari gedung ke gedung atau rumah ke rumah, kelamaan dan resiko musuh kabur atau regrup dan nyerang balik kaya di vietnam


HAM? cuma negara lemah yg peduli HAM, perancis yg dikenal sbg cheese eating surrender monkey aja ga peduli HAM di mali.

nah gan ary ane pernah baca kejadian di aceh kalo linud malahan menghadapi penduduk sipil dengan cara dikarungin sebagai balas dendam terhada temen mereka yg tewas. kok aneh pake cara gitu jadi ceritanya mereka melakukan razia kemuadian milih acak 10 org untuk dibantai ? lah cara gini khan bukannya tambah tidak simpatik? sementara yg nembak lari kita malah kehilangan simpati di masyarakat

di majalah komando sering bahas kalo di caeh itu memang GAM sering sembunyi di rumah penduduk dan sukanya nembak dr belakang setelah tentara lewat. nah penduuduk kalo ditanya juga suka men jebak khan jadi enaknya diselesaikan di saat itu juga bukan nunggu untuk balas dendam saat razia khan

Baren towns insident

http://en.wikipedia.org/wiki/Baren_Township_riot

HAM itu cuman berlaku buat negara asia gak berlaku buat Sing, malysia ama thailand so kenapa kita mesti takut???
Quote:Original Posted By madokafc


Di hajar pake RPG atau dibakar pake flame thrower kelar masalah kalau rumah-rumah kayu kek begonoan dijadiin base lawan emoticon-Big Grin


Quote:Original Posted By ravager


Asem .... gara2 mado clans ane jd gatel mo ikutan komeng emoticon-Cape d... (S)

dlm term practility .... soo pasti RPG families adalah jawabannya

yg jd mslh adalah kolateral damagenya .... ini hanya akan menciptakan endless cycle of hatred dlm komunitas "potential" swinger insurgent ... jika posisi anda adlh komandan lapangan sdh jelas pilihan pertama adalah RPG...( ane jg sih ) emoticon-Big Grin

pertanyaan adalah bagaimana pilihan komandan SIPIL yg membawahi komandan lapangan ?? dengan asumsi pemimpin sipil stil trying desperately on winning hearts n minds .... your calls emoticon-Smilie


klo ada insurgence yg kita tau dia sembunyi di tempat yg dicurigai

opsinya bisa ditambah.. pake obat bius/bom tidur. yg susah itu bikin dosisnya, kita musti bisa ngitung volume udara yg diihisap manusia, ngitung lama waktunya si zat aktif masih terkonsentrasi di area tersebut. soale klo dosisnya berlebihan ya mokat-mokat jg.. bangunannya shi utuh emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
1.Not efficient....coz time is essential
2. Too risky
Quote:Original Posted By chibiyabi




klo ada insurgence yg kita tau dia sembunyi di tempat yg dicurigai

opsinya bisa ditambah.. pake obat bius/bom tidur. yg susah itu bikin dosisnya, kita musti bisa ngitung volume udara yg diihisap manusia, ngitung lama waktunya si zat aktif masih terkonsentrasi di area tersebut. soale klo dosisnya berlebihan ya mokat-mokat jg.. bangunannya shi utuh emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin


Quote:Berkaitan dengan hal itu, sedikit ulasan kita tulis untuk mengenang sembilan tahun darurat militer. Saat itu Jum'at 2003 lalu, langit cerah masih menerangi pusat pemberlanjaan di Kota Lhoksukon, Aceh Utara yang jarum jam menunjukkan pukul 10:30 wib. Masyarakat disana tampak disibukkan dengan berbagai aktivitas, tapi mereka tak tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Kendaraan tak henti-hentinya berlalu lalang, masyarakat waktu itu dikejar waktu deadline untuk shalat Jum'at.

Ditengah - tengah masyarakat yang sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas, sejumlah personil Brimob tampak bersiaga di pusat kota Lhoksukon itu. Namun disela-sela kesibukan, tiba-tiba... Door..!! Door..!! Terdengar dua kali letusan senjata ntah dari arah mana. Akibatnya, dua anggota Brimob yang sedang berjaga tewas seketika dan bersimbah darah tepatnya di salah satu warung unggas di pusat kota Lhoksukon.

Suasana kota Lhoksukon waktu itu yang merupakan kota perdagangan di Aceh Utara berubah menjadi sepi dan mencekam. Tembakan balasan dari aparat semakin membuat masyarakat ketakutan dan panik. Beberapa toko yang semula masih buka, juga buru-buru ditutup oleh pemiliknya.

Masyarakat yang tadi sibuk berlalu lalang, malah kocar-kacir meninggalkan lokasi mencari perlindungan dari peluru nyasar. Baku tembak terus terjadi antara pihak Brimob dan GAM yang diiringi dengan letusan-letusan bom.. Door..door.., Pun ibadah shalat Jum'at waktu itu terpaksa di gagalkan akibat kontak tembak ini.

Tak hanya itu, pasukan bersenjata dari Brimob itu juga nyaris membakar rumah penduduk di Kompleks Hasbi Mawar, yang terletak di Desa Pante AB, Lhoksukon. Daerah itu di duga basis GAM. Baku tembak berlangsung sudah dua jam membuat masyarakat trauma memilih sembunyi dirumah.

Dua jam berlalu, rentetan suara tembakan terus terjadi tiada henti. Mereka menembaki apa yang ada di depan mereka. Kambing, sapi, kaca rumah, mereka tembak dengan membabi buta karena mereka sangat marah bahwa dua orang teman mereka tadi tewas dengan peluru menembus kepalanya. Sesekali mereka mencaci maki musuhnya sambil menembaki apa yang dilihat dari mata mereka. Door...door...door....

Letusan senjata yang saling bersahutan terus berlanjut. "Dimana kau GAM...! Ayo lawan kami...!" Kata-kata itu diucapkan oleh pasukan Brimob yang marah bagaikan kerasukan syetan.

Setelah tiga jam kemudian, akhirnya mereka pun memutuskan untuk berhenti baku tembak. Aksi kemarahan mereka lalu diarahkan ke puluhan toko yang ada di pusat kota Lhoksukon. Tanpa pikir panjang, pasukan Brimob ini membakar puluhan toko dengan lengkap isi barangnya. Semuanya hangus tanpa sisa seperti elektronik, emas, kelontong, uang, dan lainnya. "Semuanya musnah terbakar, hidup kita saat ini bagaikan hidup diujung peluru. Merekalah yang berkuasa untuk saat ini, bukan kita." Ucapan itu yang masih saya ingat sampai sekarang, diucapkan oleh salah seorang pemilik toko yang hangus dibakar.

........................



Pertempuran seakan didikte oleh pasukan GAM yang bisa memilih kapan waktu untuk menyerang dan mundur, rumah dan toko justru dibakar aparat setelah konflik usai. Benar seperti kata Mista, inteligent perlu ditingkatkan lagi kualitasnya, cuman di Aceh pada saat itu setiap orang lokal bagai ular berlidah dua, susah untuk dijadikan patokan.
Quote:Original Posted By Mistaravim
1.Not efficient....coz time is essential
2. Too risky



soal efisien kan tergantung delivery system n kemampuan zatnya emoticon-Smilie

klo soal resiko...dari pada langsung dobrak resiko gedean mana..
mana klo rumah panggung/dari kayu pintu dijebol, insurgence diam di kamar lain trus nembak pake AK ya jebol juga tu papan kayu n kita ga tau posisi musuh emoticon-Smilie

soal waktu kan termnya udah saya sebut om emoticon-Smilie

ini situasinya gimana ya? ada sipil di rumah tersebut ato ngga?

kalo ga ada yaaa lebih mudah. pernah terjadi tank AMX VCI langsunf dobrak masuk dan muter2 pivot di dalam rumah, sampe itu GAM tewas kelindes... emoticon-Big Grin

rumah rusak.. yaa tinggal ganti...
Sedikit OOT soal politik,
IMHO yang namanya konflik mau itu melawan negara lain maupun separatis domestik, yg namanya HAM itu udah sulit dikontrol. Kalo ga mau melanggar HAM ya jangan perang skalian. makanya mmg mending skalian klo mau beresin masalah separatisme segera dituntaskan secepat mungkin ya dgn mengusahakan seminim mungkin collateral damage.
Soal tekanan masalah HAM luar negeri jelas itu merupakan simbol lemahnya diplomasi di luar negeri sehingg negara2 lain bisa dibilang ikut campur urusan dalam negeri kita dgn coba2 menekan n mengatur kebijakan kita. Bener spt yg dibilang om merkapa, itu russia, cina, israel ga da yg protes melakukan pelanggaran HAM berat. Ga usah jauh2 sampe skr apa dikira AS dan konco2 NATOnya ga melanggar HAM tapi ga ada yg bisa ngomong apa2 emoticon-Big Grin
Inteligen bisa kerja, itu butuh peran serta dari penduduk lokal juga (local talents) dan benar apa yg dikatakan oleh Rasuna...PROVIT. Jadi ingat alm.Ali Murtopo waktu jaman Dwikora.....beliau ngirim beberapa org anggotanya utk "profiling" Papua. Dari situ didapat mereka punya masalah dlm hal ekonomi (suply bahan pangan etc) mulailah dikirim banyak bahan pangan ke sana....sampe minuman keras spt biremoticon-Ngakak Uang utk operasi ini aja didapat dari cara gelap emoticon-Big Grin
Alhasil.......Papua milik RI emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By madokafc


Pertempuran seakan didikte oleh pasukan GAM yang bisa memilih kapan waktu untuk menyerang dan mundur, rumah dan toko justru dibakar aparat setelah konflik usai. Benar seperti kata Mista, inteligent perlu ditingkatkan lagi kualitasnya, cuman di Aceh pada saat itu setiap orang lokal bagai ular berlidah dua, susah untuk dijadikan patokan.


emoticon-Ngakak
Russian did that, and they failed!!
semua ada resiko....makanya banyak penemuan² baru spt taktik,equipment etc emoticon-Stick Out Tongue
Quote:Original Posted By chibiyabi


soal efisien kan tergantung delivery system n kemampuan zatnya emoticon-Smilie

klo soal resiko...dari pada langsung dobrak resiko gedean mana..
mana klo rumah panggung/dari kayu pintu dijebol, insurgence diam di kamar lain trus nembak pake AK ya jebol juga tu papan kayu n kita ga tau posisi musuh emoticon-Smilie

soal waktu kan termnya udah saya sebut om emoticon-Smilie



didalam pertempuran melawan insurgen....entah itu mau pakai cara persuasif atau represif, yang namanya collateral damage nggak bisa dihindari, pasti akan selalu ada korban sipil
karena insurgen sendiri metode perlawanannya pake unconvensional warfare, mereka nggak akan bertempur secara frontal, terkadang mereka tak segan menggunakan penduduk sipil sebagai "tameng" untuk menyamarkan keberadaanya
kita belajar dari perang vietnam aja, awalnya US menggunakan cara mencari VC secara konvensional dengan cara door to door, village to village, jungle to jungle...nyatanya apa?? justru korban yang jatuh dari US sangat besar
lama-lama setelah dirasa cara itu sudah nggak efektif...mulailah US menggunakan pesawat-pesawat dan jet untuk membombardir lokasi-lokasi yang di curigai sebagai basis komunis...nggak peduli itu desa, kampung, sawah ataupun hutan, so otomatis korban sipil pun membengkak tajam

di timles juga pernah seperti demikian, ketika pasukan ABRI sudah mulai frustasi dengan taktik hit and run-nya fretilin...pernah ada sebuah batalyon yang personelnya membakar habis 1 kampung dan menembak beberapa lelaki yang dicurigai sebagai informan fretilin (maaf, nggak ane sebutkan batalyonnya).....mungkin di Aceh juga pernah terjadi seperti demikian

so artinya apa...untuk menghadapi insurgen, memang ada tahapannya...itupun terkadang juga di sertai dengan operasi yang lain (operasi kemanusiaan mungkin), di sini pihak pemerintah harus pintar-pintar mengendalikan media...agar ekses yang di timbulkan oleh operasi melawan gerilyawan tidak terlalu merugikan pasukan pemerintah, tetapi juga bisa menekan sentimen negatif terhadap pasukan pemerintah...untung-untung bisa membalikkan kondisi, yang tadinya mungkin gerilyawan dianggap pembela kaum lemah, good guys, representasi dari perlawanan terhadap otoritas yang dianggap "lalim"...menjadi hanyalah sekumpulan kriminal yang menganggu stabilitas nasional, dan kriminal harus di basmi (nah disinilah titik kelemahan yang dimiliki TNI, kurang bersinergi dengan media)
Quote:Original Posted By Mistaravim
Inteligen bisa kerja, itu butuh peran serta dari penduduk lokal juga (local talents) dan benar apa yg dikatakan oleh Rasuna...PROVIT. Jadi ingat alm.Ali Murtopo waktu jaman Dwikora.....beliau ngirim beberapa org anggotanya utk "profiling" Papua. Dari situ didapat mereka punya masalah dlm hal ekonomi (suply bahan pangan etc) mulailah dikirim banyak bahan pangan ke sana....sampe minuman keras spt biremoticon-Ngakak Uang utk operasi ini aja didapat dari cara gelap emoticon-Big Grin
Alhasil.......Papua milik RI emoticon-Embarrassment


emoticon-Ngakak


Kebanyakan dari mereka ambil duit sebagai lidah RI dan mereka juga ambil bagian jadi mata GAM, nyebelin banget kan emoticon-Mad (S)
IMHO...orang yg terdepan 99% punya kemungkinan besar utk mati jika masup didalam suatu ruangan itu masuk akal jg. dlm 1 grup patroli didaerah konflik yg notabene nya bukan didalam ruang, orang yang paling depan jg punya kemungkinan untuk terkena tembak/mati yg paling besar.

informasi dan pengetahuan akan daerah, layout ruangan/bangunan, material bahan bangunan, informasi org yg berada didalam ruang atau daerah dan etc diluar skill individu dan persenjataan akan menambah survabilitas.

untuk meminimalisir korban dan kerugian material yg tidak diperlukan dlm suatu peperangan agar dapat "winning heart and minds" memang sulit.

contoh kasus di kenya kemarin....wkwkwk hancurin aja pake rpg biar ambrol semua emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By Mistaravim
Russian did that, and they failed!!
semua ada resiko....makanya banyak penemuan² baru spt taktik,equipment etc emoticon-Stick Out Tongue




yup.. they failed

ruang tertutup, agent -resipient contact time tidak diperhitungkan, plus gaya rusky yg overkill emoticon-Smilie
pakai tsar bomba saja . tuntas sudah. emoticon-Cendol (S)