alexa-tracking

Gubernur Jokowi Lebih Superior dari Presiden SBY

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/528186f040cb17121f000004/gubernur-jokowi-lebih-superior-dari-presiden-sby
Gubernur Jokowi Lebih Superior dari Presiden SBY
Sumbernya dulu Gan



“The Rise of City Mayor and The Fall of National President” review buku Benjamin Barber

Menanggapi silih pendapat soal SBY yang bilang soal macet Jakarta tanya Djokowi maka sebetulnya bagi yang faham dinamika urban governning ini adalah tanda bahwa SBY sedang melempar handuk putih tanda kalah.

Minggu lalu saya beli buku yang cukup menarik dengan judul fantastik: Bagaimana bila Gubernur/Walikota memimpin dunia? (If Mayors Ruled The World) dari Benjamin R. Barber.

Kajian dari Ben bukan baru, tetapi sudah dibahas orang sejak 1970-an sejak era Frederich Jamesan, sampai Edward Soja. Ini terjadi ketika pelan-pelan terjadi transformasi seragam di seluruh dunia; dimana desa-desa berubah menjadi kota-kota akibat perubahan konsep dalam memahami wilayah.

Kota yang awalnya hanyalah bagian daripada satu unititas bernama nasion atau negara pelan-pelan mengeluarkan dirinya sendiri untuk menjadi lepas dan merdeka. Semenjak terjadinya akumulasi modal-modal dan bergerakknya financial flight ke negara-negara di seluruh dunia, maka kota dari sekedar tempat tinggal bergerak menjadi model utama dari sistem kontrol. Dimana di dalamnya duit, kebijakan, dan kekuasaan di negosiasikan dan dimediasikan melebih apa yang dapat dilakukan oleh sebuah negara.

Ambil contoh, Kota negara Singapura yang disebut Habibie -only a red dot- kenyataannya memutar separuh ekonomi Asia. Kota yang hanya seluas 350 km2 (750km dengan lautnya) hampir seluas Jakarta ternyata menguasai lebih dari 12 juta hektar lahan sawit dan kebun2 tanaman industri lainnya di seluruh dunia.

Kota juga mengandung di dalamnya hampir seluruh problematika yang dihadapi oleh sebuah negara. Yaitu over population, unemployment, kemiskinan, ketimpangan, penyisihan sosial, kriminalitas, korupsi, kesehatan, gelandangan, kemacetan, premanisme sampai terorisme.

Dengan persoalan yang hampir seragam di seluruh kota-kota dalam satu negara ini lah yang kemudian membuat pemerintah pusat (presiden) kehilangan kontrol dan kemampuan mengelola masalahnya. Terjadi apa yang ditulis Ben sebagai disfungsi nasion, mis manajemen pemerintahan, dan inefektif government.

Pemerintah pusat kemudian kehilangan legitimasi dan jumawanya, partai juga tidak lagi efektif menggerakkan mesin politik-sosialnya. Pada kondisi ini, kemudian muncul patriotik kota yang akhirnya membawa harapan besar bagi perubahan di tingkal yang lebih kecil dari negara tetapi berdampak lebih luas. Kelahiran politik para Major (walikota/bupati) atau Gubernur.

Di kota ini kemudian sosok gubernur/walikota pun diproyeksikan melampaui batasan-batasan yang dibuat seperti wilayah, asal, budaya, partai, dan akhirnya kekuasaan itu sendiri. Sebaliknya presiden sebagai supra pemerintahan pelan-pelan kehilangan popularitasnya karena apa yang didefinisikan sebagai rakyat sekarang adalah penduduk di kota-kota, yang umumnya memiliki informasi dan nalar kritis lebih dibanding mereka yang di desa.

Nalar kritis ini yang memunculkan Fenomena Jokowi The Mayor of Solo. Salah satu penyebabnya adalah rakyat kota yang muak dengan konsep dan janji2 politisi dan pemerintah pusat. Orang suka dengan cara “can do policy”, tanpa banyak bicara dan prosedur masalah yang harusnya bisa selesai ya segera diselesaikan.

Di sini kekuatan sosok sang Mayor/gubernur/bupati adalah contoh dari bagaimana suatu kota dapat menghancurkan struktur hirarki nasion seperti hirarki Pusat-daerah, pusat-provinsi-kabupaten-kecamatan-desa-kota,. Ia juga memandulkan institusi2 kekuasaan mapan seperti aparatus tentara, pemerintahan, parlemen, partai, komunitas agama, dan main stream media.

Sosok mayor Jokowi van Solo kemudian terproyeksikan ke level Kota besar seperti Jakarta. Sebagaimana faham, kemenangan Jokowi di Jakarta adalah identifikasi bahwa Jakarta selalu berkorelasi dengan “kedudukan” kekuasaan, popularitas, dan akhirnya kontrol itu sendiri.

Sehingga, Ben menulis trend penguasa kota akan menjadi lebih populer daripada penguasa negeri itu akan menjadi hal-hal lumrah saja dalam waktu-waktu dekat in selama pemerintah pusat seperti presiden gagal menjalankan fungsi pemerintahannya dan menarik maju nasion.

Jadi waktu SBY menyalahkan Djokowi untuk hal-hal seperti macet, banjir, polusi kota….ia sadar atau tidak telah menurunkan dirinya ke struktur yang lebih rendah daripada seorang kepala pemerintahan.

Namun pada saat yang sama ia menjadikan perihal “kota” dan “gubernurnya” sebagai sesuatu yang lebih tinggi dan penting untuk dikomentari. Sekaligus membuktikan jika ia sudah gagal menjalankan pemerintahanya yang semakin disfugnsional dan mismanajemen.

Di sini menariknya membaca buku Benjamin mengenai fenomena mayor (bupati dan gubernur) sebagai pemimpin dunia.

Dan kepada pecinta Jokowi, perilaku suka nyalahin gubernur seperti dilakukan Menteri mobil murah, Menteri broker dagang, para petinggi partai pemerintah, anggota dewan, sampai Presiden SBY sendiri adalah bukti bahwa yang demikian adalah pernyatan kekalahan awal politik mereka atas Djokowi.
Jadi kalau anak kuliah berantem sama anak sd, anak kuliah itu sudah menurunkan derajatnya sendiri.
image-url-apps
itu sumbernya blog bukan y gan?

walikota, bupati, atau gubernur kalo di jakarta (karena walikota dan bupati di jakarta dipilih oleh gubernur jakarta) memang lebih berpengaruh gan di daerah masing"
KASKUS Ads
Sumbernya Curhatan Pribadi emoticon-Ngakak

Joko mau dibandingkan ama SBY.??

Joko itu IQ nya gak lebih tinggi dari Megawati emoticon-Malu (S)
image-url-apps
Quote:


hahaha, ketika si anak kuliah sadar, ternyata si anak SD yang belajar dan melaksanakan tugas dengan cara yang berbeda bisa lebih mengembangkan dirinya dan membuat si anak SD di sayang guru dan teman2nya. instead of support si anak SD or merubah diri dengan cara yang baru, si anak kuliah memilih untuk mengintimidasi si anak SD supaya berpikir dan bekerja sesuai si anak Kuliah...

hahaha
image-url-apps
Jokowi mmg fenomenal, mrk yg membnci keknya bukan tulus dari hati tp krn kepentingan diri,,,
emoticon-I Love Indonesia (S)
bakalan banyak yg panas nih emoticon-Ngakak
image-url-apps
seperti sedang menonton premier 2014... emoticon-Big Grin
image-url-apps
Hewan vs manusia
sby menyerahkan masalah kemacetan ke gubernur DKI, eh si gubernur ga mau nanggung sendirian.
Begitulah kira2 gambarannya.
Padahal waktu kampanye, jokowi merasa sanggup membenahi kemacetan di jakarta krn DKI penya anggaran yang besar.
Skr jokowi merasa ga sanggup kalau pemda nya menangani sendiri.
Jadi yang lempar handuk siapa?

emoticon-Ngakak

btw...dulu kalo macet selalau menyalahkan guebernur nya.
kalo skr panastak mana berani nyalahin jokowi, tokh jokowi justru ga mau disalahin sendirian kaya gubernur dulu.
image-url-apps
suatu saat kita butuh pemimpin seperti jokowi
Quote:


Lah, kan katanya sudah diambil alih pemerintah pusat. Ini linknya bro.
http://www.tempo.co/read/news/2010/0...anan-Kemacetan
Lagi pula, siapa yang ngga mau disalahin? Ada gitu Jokowi lepas tanggung jawab. Kan Jokowi cuma bilang kemacetan itu tanggung jawab daerah dan pusat. Make sense emoticon-Smilie

Sudah.. Sudah, ini koq malah ada kesan ada dikotomi antara bapak presiden dengan saya. Itu ndak seperti itu lah, kita bareng-bareng kordinasi untuk nyari solusi terbaik buat ibukota. Ini kan hanya kerjaan oknum wartawan aja, sengaja manas-manasin keadaan.
image-url-apps
kayanya hal ini udah terlalu di besar2kan, ini sama aja seorang ayah yg mengatakan anaknya belum menegrjakan PR a? itu hal biasa, mereka berdua biasa aja, koq malah di sini berlomba membela, yg penting bersama membangun bangsa berdasar kapabilitas masing2
Quote:


Kalo sumbernya blog yang emang tempat onani nya panastak bro.

Joko itu jelas2 udah sadar diri akan kemampuannya sekarang, tapi kadung janji setinggi langit, begitu ada celah kritikan dari SBY langsung memanfaatkan pasukan2 media dan panastaknya untuk mengalihkan kegagalannya

emoticon-Ngakak
intinya kalau ingin maju jangan saling menyalahkan

bagaimana bangsa ini bisa maju kalau pemerintahnya sibuk mencari kelemahan orang lain

semoga Indonesia bisa maju
Quote:


tolong diperjelas bro... yang hewan yang mana, yang manusia yang mana? emoticon-Ngakak (S)

Setau ane Si jokowi kemaren baru aja razia topeng monyet... jadi hewan2 sudah diamankan donk...
image-url-apps
Gubernur lebih taktis dalam penyelesaian masalah yg sifatnya teknis, jd macet di jakarta emg urusannya jokwi. Tp ya presiden sbg orang nomer 1 jgn tutupmmata ngeliat macet di jakarta yg makin parah, dgn kebijakan mobil murah. Dan presiden jhn begok2 amat jwb nya kalo ditanyain orang asingntamu negara. Msa yg nanya suruh nanya lsg ama gubernur, lha emg presiden ga tau penyebab macetnya jakarta
Quote:


Kalo ane ngga setuju malah dengan razia topeng monyet. Istilahnya, mengambil kail dan memberi ikan. Alat untuk nyari uangnya diambil, tapi uangnya dikasih. Dikasih cuma sekali. Setelah duit habis, gimana nyari uangnya lagi? Nangkep monyet lagi gitu?
Quote:


setau ane kalo mereka mau wiraswasta jadi pedagang pemda bantu kok semisal gerobaknya, dan itu duit jg tujuannya utk modal mereka usaha, tinggal mereka bisa manfaatin apa nggak CMIIW