alexa-tracking

Pengakuan Wartawan TEMPO: "Praktik Mafia TEMPO"

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5280e5f3becb17d268000006/pengakuan-wartawan-tempo-quotpraktik-mafia-tempoquot
Pengakuan Wartawan TEMPO: "Praktik Mafia TEMPO"
Pengakuan Wartawan TEMPO: "Praktik Mafia TEMPO"

Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.

“Jelas nggak nih acaranya?”

“Ada kejelasan nggak nih?”

“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”

Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.

Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.

Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.

“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.

Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.

Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.

Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.

Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.

Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?

Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?

Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?

Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.

Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

Siapa bilang TEMPO bersih?

Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.

Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.

Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.

TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.

Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.

Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?

Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?

Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?

Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.

Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?

Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.

Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.

Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.

Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.

Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.

Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.

Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.

Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.

Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.

Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.

“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.

“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.

“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.

“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.

“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabeakibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.

“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.

“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.

“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.

“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalammemeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.

Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.

Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.

Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.

TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.

Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Insya Allah jauh dari dunia hitam. (Jilbab Hitam, mantan wartawan Tempo/ KCM/Kompasiana)

Spoiler for Sumber:
sumbernya rimanews, tapi rimanews copas dari kompasiana emoticon-Cape d...


ada alasan baik, kenapa ada rules wajib cantumkan sumber berita di BP/LN
dan sumbernya pun tidak boleh dari blog/ atau situs pribadi/ golongan.
karena dalam kaidah jurnalistik, penulisan berita yang benar harus berdasarkan fakta,
sementara blog = isinya opini , belum tentu benar

memang mungkin saja blog itu menyajikan fakta/ benar, tapi tetap harus melalui cek dan ricek selayaknya produk jurnalisme yang baik
dan penulis harus bisa mempertanggungjawabkan isi tulisannya itu

nah masalahnya.... gimana mau cek dan ricek kalo penulisnya aja anonim ?
atau mungkin TS mau tanggung jawab ? emoticon-Smilie


ini hal serius lho.
ingat beberapa waktu lalu ada orang yang dipenjara hanya karena menuduh seorang pejabat korupsi di twitter? (google : benhan)




=========
iseng2 cari tau majalah tempo terbaru bahas apa,


oh ternyata.... emoticon-Embarrassment
Pengakuan Wartawan TEMPO: "Praktik Mafia TEMPO"
pantesan tiba-tiba nongol taktik gini emoticon-Big Grin


Spoiler for update:
udah kayak trio meong aja.... bedanya kalo ini ada ceritanya kayak cerpen emoticon-Big Grin

ada yang bermain receh, ada yang bermain koper??

ah yang bener nih????


emoticon-Ngakak
pembelaan gaya pks laknat. emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By comANDRE
sumbernya rimanews, tapi rimanews copas dari kompasiana emoticon-Cape d...


Dibalik sumber mari kita cermati dengan seksama. Tentunya didalam data ini, ko agan telusuri lebih dalam akan mendapatkan data yang lebih mencengangkan lagi. Silahkan ditarik benang merahnya.
Quote:Original Posted By inliv
ini semua karna jokowi yg ga becus urus jakartaemoticon-Bata (S)
Yg bgini mau jadi presidenemoticon-Bata (S)
Balikin bang fauzi bowo jadi gubernur dkiemoticon-Mad (S)


Ngomong opo toh lee..???
wah serem juga ya cerita dibalik berita
Kompasiana kok di-copas rimanews? Udah kehabisan berita ya? emoticon-Big Grin
"Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang."

beneran wartawan kah yg nulis? itu yg ane bold itu typo parah bgt lo bagi wartawan. yg bener "dibayar".
Aneh Kelakuan Para Pendengki FPI (TEMPE)

Berita lama soal penemuan majalah Playboy di rumah Habib Rizieq di ungkit-ungkit kembali bersama pengakuan tanpa bukti Pimred Playboy Erwin Arnada.

FPI Laporkan Bos Playboy ke Polisi

Sebenarnya berita "USANG" tersebut di edit oleh Tempo.co tanpa mau menulis bantahan Tanggapan dari Habib Rizieq bahwa itu majalah tanda bukti untuk melaporkan sembilan orang yang terlibat dalam produksi Playboy Indonesia plus 26 perusahaan yang beriklan di majalah itu ke polisi.

Sembilan orang itu adalah Erwin Arnada (Pemimpin Redaksi), Okke
Gania (Fotografer Editor), Bayu Aditya (Fotografer), Ponty Carolus
(Direktur), Stephen Walangitang (Direktur), Reza Maulana (Direktur), Andara Early (model), Kartika Oktavianus Gunawan (model), Chia (model), Milinko Rasidic, dan Rosandi.

Dalam persidangan yang mendudukkan Habib Rizieq sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (8/9). Penyidik Polda Metro Sumarjono yang membeberkan temuan tersebut ketika ditanyai JPU
Purnama Wahyudi.

Kata Habib Rizieq saat itu yang tidak dikupas oleh Tempo.co :

"Di antara barang- barang yang disita, baik foto maupun majalah, terdapat foto bugil Putri Indonesia yang ikut pada Miss Universe. Dan itu yang kita kirim ke Presiden sebagai bentuk protes FPI terhadap pornografi,"

Kemudian Habib Rizieq membeberkan tentang FPI yang selama 10 tahun terakhir ini perang terhadap pornografi dan pornoaksi. Dia juga menceritakan
telah menyeret pihak majalah penerbit Playboy ke PN Jaksel yang saat kasus monas masih di tingkat kasasi.

PROPAGANDA TEMPO

FPI Jualan Majalah Porno
http://www.tempo.co/read/news/2007/0...-Majalah-Porno

_____________________________________________

DIBAYAR BERAPA DAN OLEH SIAPA
TEMPE UNTUK MENJATUHKAN FPI ?


_______________________________________________________

Munarman: Dana Bubarkan FPI Rp 62 Miliar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman menengarai, upaya pembubaran FPI sekedar pengalihan isu agar masyarakat tak terpaku di isu Partai Demokrat.
"Isu ini kemudian dialihkan membubarkan FPI supaya pemberitaan tak selalu memojokkan Demokrat," kata Munarman kepada tribun, Sabtu (18/2/2012).
Ia menjelaskan, upaya pembubaran FPI ini telah didukung dana senilai Rp 62 miliar. Pertemuan untuk membubarkan FPI berlangsung di Taman Ismail Marzuki.
"Videonya ada, dan ini valid. Ada beberapa tokoh yang hadir dalam pertemuan itu. Dana yang didapat dari donatur-donatur, termasuk donatur dari luar negeri," urainya.

http://www.tribunnews.com/nasional/2...i-rp-62-miliar

------------------------------------------------------
Tak Heran kenapa pemberitaan FPI selalu negative, Karena memang media media sudah dikontrak dalam jangka waktu yang panjang untuk memberikan image negative, Logikanya 99% kegiatan sosial lenyap digantikan dengan 1 % kegiatan FPI menegakan mar Maruf nahi munkar dan terjadi bentrokan
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

Oooooo... tidakkkkk....

Sumber aslinya dibredel http://politik.kompasiana.com/2013/11/11/tempo-dan-katadata-memeras-bank-mandiri-dalam-kasus-skk-migas-608439.html

Kompas pasti ada konspirasi sama tempo emoticon-Matabelo




*btw kok kebiasaan yak di Indonesia ini,
kalo lagi tersudut atau lagi menyudutkan suka bawa2 simbol agama. emoticon-Confused:
Quote:Original Posted By ozombie
Kompasiana kok di-copas rimanews? Udah kehabisan berita ya? emoticon-Big Grin


Media ga mungkin kehabisan berita gan, malah media bisa ciptain berita sendiri..justru hal ini yang menarik, knp rimanews begitu tertarik dengan artikel ini….
Quote:Original Posted By testudo
"Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang."

beneran wartawan kah yg nulis? itu yg ane bold itu typo parah bgt lo bagi wartawan. yg bener "dibayar".


Cerdas!!! Terlepas dari dugaan agan, hal ini menarik untuk dikupas dan ditelaah lebih dalam.
Quote:Original Posted By widya poetra
emoticon-Blue Guy Peaceemoticon-Hi

Oooooo... tidakkkkk....

Sumber aslinya dibredel http://politik.kompasiana.com/2013/1...as-608439.html

Kompas pasti ada konspirasi sama tempo emoticon-Matabelo




*btw kok kebiasaan yak di Indonesia ini,
kalo lagi tersudut atau lagi menyudutkan suka bawa2 simbol agama. emoticon-Confused:


Sebagai org bijak, jgn kita terpengaruh sama hal kyk gtu. Terlepas ada unsur kesengajaan atau tidak, lebih baik memandang dengan positif dan objektif.
Quote:Original Posted By antikritik.
Bukti Tempe menghajar FPI


Maksudnya apa gan? Yg jelas lah klo ngomong.
kompasiana? emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

ada yg terguncang rupanya emoticon-Matabelo
sumbernya geje,
jangan jangan ada mafia antar media beritaemoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By spike10


Sebagai org bijak, jgn kita terpengaruh sama hal kyk gtu. Terlepas ada unsur kesengajaan atau tidak, lebih baik memandang dengan positif dan objektif.


kompasiana objektif ?? emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
menyimak gan emoticon-linux2
btw, disini bakal dibredel kah? emoticon-Big Grin