alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
DAHLAN ISKAN Rapat di Pinggir Jalan, Batu jadi Pulpen
3.86 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5280c61018cb17564d000000/dahlan-iskan-rapat-di-pinggir-jalan-batu-jadi-pulpen

DAHLAN ISKAN Rapat di Pinggir Jalan, Batu jadi Pulpen

DAHLAN ISKAN Rapat di Pinggir Jalan, Batu jadi Pulpen
JONGKOK: Dahlan Iskan membahas rute baru dengan pejabat KAI di Bogor, Sabtu (9/11)

Rapat penting bisa dilakukan di mana saja. Tidak perlu hotel mewah. Tidak perlu ruang ber-AC. Cukup sambil jongkok di pinggir jalan seusai acara peresmian! Gaya jongkok. Itulah salah satu gaya rapat unik Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan pejabat BUMN.

Rapat penting itu berlangsung setelah Dahlan Iskan memberangkatkan kereta api Pangrango di Stasiun Bogor Paledang, Sabtu (9/11). Dahlan sedang menunggu tukang soto yang meracik pesanannya sambil duduk di pembatas jalan. Tak lama berselang, seorang pejabat PT Kereta Api Indonesia mendekatinya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Begitu kata pepatah. Dahlan yang sedang mencari akal untuk membuka jalur baru bertemu dengan pejabat PT KAI. Dahlan pun segera mengajak pejabat tersebut berdiskusi sambil jongkok di samping gerobak soto.

Di tengah rapat dadakan itu, Dahlan butuh kertas dan pulpen. Dia ingin menjelaskan peta jalur baru itu dan kendala yang dihadapi.

Punya pulpen, tapi tidak punya kertas. Dahlan celingukan mencari-cari siapa tahu ada kertas bekas yang bisa dicoret-coret. Ternyata lingkungan Stasiun Bogor Paledang cukup bersih. Hanya sebongkah batu padas yang ditemukan tak jauh dari situ.

Tak ada akar, rotan pun jadi. Dengan batu padas itu, Dahlan mulai menggambar peta: sebuah jalur kereta api yang melintasi jalan raya dan membelah persawahan.

Tak begitu jelas apa yang dibahas Dahlan dengan pejabat KAI itu. Suaranya terlalu lirih untuk saya dengarkan dari jarak dua meter.

Saya hanya melihat Dahlan dan pejabat KAI itu tampak sangat serius mendiskusikan jalur kereta itu. Bergantian keduanya mencorat-coretkan batu padas itu di atas aspal yang masih baru di stasiun mungil itu.

Diskusi sudah berlangsung lima menit. Soto pesanan Dahlan sudah jadi. Tapi diskusi belum ada tanda-tanda akan selesai. ‘’Soto itu diberikan saja kepada Ibu Wurniyati yang sudah mengantre tiket kereta Pangrango dari pukul 05.00 tapi tidak kebagian tiket keberangkatan pagi ke Sukabumi,’’ kata Dahlan kepada tukang soto, sembari meneruskan rapatnya.

Tiga menit berlalu. Tukang soto sudah meracik soto untuk Dahlan. Lagi-lagi Dahlan minta agar soto itu diberikan kepada suami Wurniati. ‘’Saya berikutnya,’’ kata Dahlan.

Sekitar dua menit kemudian, rapat dadakan itu pun selesai. ‘’Usahakan dalam dua bulan selesai ya!’’ pesan Dahlan. Kali ini nadanya tegas dan suaranya cukup jelas terdengar. ‘’Siap Pak!’’ jawab pejabat PT KAI bertubuh subur itu, juga dengan nada yang mantap.

Bersamaan dengan selesainya rapat, soto pesanan Dahlan pun sudah tersaji. Dahlan segera menyantap soto kuning kesukaannya sambil duduk di kursi plastic di samping Wurniati.

‘’Pak Dahlan tidak pakai nasi?’’ tanya suami Wurniati sambil menyodorkan sepiring nasi. ‘’Kita berbagi saja ya, saya makan nasinya sedikit saja,’’ jawab Dahlan.

Jadilah sepiring nasi dibagi tiga. Wurniati dan suaminya bingung. Tapi Dahlan cuek saja, karena berbagi makanan dengan karyawan, kenalan dan teman-temannya adalah hal biasa. ‘’Ayo… jangan tengok kiri-kanan,’’ kata Dahlan sambil tersenyum.

Pemandangan yang tidak lazim dilakukan pejabat itu tak ayal menarik perhatian puluhan wartawan yang meliput peluncuran kereta Pangrango Bogor – Sukabumi itu. Adegan rapat dan makan bersama calon penumpang yang kecewa karena tidak kebagian tiket pagi itu, tak pelak menjadi objek gambar yang istimewa.

Tak berselang lama, Walikota Bogor Diani Budiarto dan pembuat mobil listrik Dasep Ahmadi lewat. ‘’Eh, Pak Dahlan Iskan kok sarapan sotonya di sini…’’ kata Diani. ‘’Ini soto kuning paling enak. Ayo sarapan di sini,’’ ajak Dahlan.

Walikota yang berperawakan besar itu tampak bingung mencari kursi. Tapi Dahlan cepat tanggap situasi. Dahlan segera menawarkan Diani agar duduk di kursi plastik satu-satunya itu dengan cara berbagi. ‘’Pak Walikota duduk di sini,’’ kata Dahlan sambil menggeser bokongnya.

Giliran Dasep yang bingung mencari tempat duduk. Sekali lagi, Dahlan membagi ruangan. Dahlan segera menggeser kakinya yang semula nangkring di pembatas jalan. ‘’Duduk di sini saja,’’ kata Dahlan sambil melebarkan kakinya.

Dasep yang berjasa memprovokasi Dahlan untuk mengoperasikan KA Pangrango Bogor – Sukabumi itu kemudian duduk di dekat Dahlan. Sambil makan, Dahlan menanyakan kemajuan proyek mobil listrik yang dikembangkan Dasep.

Cukup lama keduanya berdiskusi dengan akrabnya. Sesekali Dahlan tertawa. Sesekali Dahlan mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Dasep. Sesekali pula Dahlan mengangguk-anggukan kepala sambil senyum. Rapat proyek mobil listrik yang sangat penting itu lebih mirip obrolan antara ayah dengan anak.

Kedatangan Walikota Bogor membuat Wurniati curiga dan bertanya-tanya. Sepertinya, sosok yang duduk di dekatnya itu tokoh penting. Wurniati betul-betul terkejut setelah tahu bahwa pria berbaju putih-hitam dan bersepatu ket itu ternyata Dahlan Iskan. ‘’Masya Allah… ternyata saya ditraktir Pak Dahlan…’’ kata Wurniati dengan polosnya.

‘’Tidak menyangka saya akan bertemu Pak Dahlan di sini… Tadinya saya mau protes karena sudah antre dari pukul 05.00 tapi tidak kebagian tiket keberangkatan pagi. Kan bajunya putih seperti seragam pegawai kereta api. Ternyata ini Pak Menteri. Ya Allah Pak…’’ Wurniati tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

Air mata haru dan bahagia meleleh di pipinya. ‘’Saya malah nangis ini bagaimana?’’ kata Wurniati kepada suaminya.

‘’Jangan memotret terus. Wartawan juga harus sarapan. Ayo makan soto. Saya yang traktir,’’ kata Dahlan kepada para jurnalis yang terus-menerus memotret.

‘’Saya boleh minta foto Pak? Buat kenang-kenangan,’’ pinta Wurniati dengan suara tertahan, sembari menyeka air mata di pipinya. ‘’Boleh, boleh,’’ jawab Dahlan.

Wurniati kemudian mengulurkan handphone jadulnya kepada saya. Setelah mengambil dua jepretan, saya pun mengembalikan handphone itu. ‘’Matur nuwun Pak Dahlan. Ngimpi apa saya semalam ya, bertemu Pak Dahlan, ditraktir makan pula,’’ kata Wurniati dengan wajah sumringah.

Begitulan keseharian Dahlan Iskan. Sebagai pejabat negara, gaya penampilan Dahlan yang spontan itu melawan kelaziman. Bagi yang belum kenal, gaya itu dinilai hanya akal-akalan Dahlan untuk pencitraan. Bagi saya yang telah mengenalnya 23 tahun, memang seperti itulah Dahlan!

Joko Intarto

Follow me @IntartoJoko

DAHLAN ISKAN

Semoga Menjadi Inspirasi Kita Semua..
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 10
sumber nya

gak nahan emoticon-Frown
Mantaff Lanjutkan Pak..
serasa baca romance of the three kingdom
onani otak
Quote:


trus DI nya siapa?? Cao Cao, Liu Bei atau Sun Quan


Ini mah asli pencitraan .... masak segitu banyak org gk ada yg bawa bulpen dengan kertas. Ada bulpen kalo perlu bisa tulis diatas uang, kertas pembungkus nasi ato apa aja juga bisa.
coba semua pejabat seperti itu emoticon-Stick Out Tongue
Ini yg menteri tamat SMU..
kata Panastak :

INI PENCITRAAN !
PENCITRAAN ! emoticon-Malu (S)



pokoknya selain Jokowi = Pencitraan !
Diubah oleh ngakakngikik
Quote:


baru ngeh ane ama sumbernya emoticon-Ngakak
Quote:


tergantung dari versi yg mana loe baca emoticon-Stick Out Tongue..

tapi biasanya garis besar nya sih sama,, liu bei emoticon-Big Grin
Kok ane jadi keinget jaman sd ya emoticon-Ngakak
Quote:


jangan jangan mereka berdua lagi main kaya gini
DAHLAN ISKAN Rapat di Pinggir Jalan, Batu jadi Pulpen

sambil nunggu soto


............................................emoticon-Ngaciremoticon-Ngacir
membumi banget liat gayanya DI
Quote:


bisa jadi tuh gan emoticon-Ngakak
Post ini telah dihapus oleh hansip
Quote:


hehe.. ente bs aja gan..emoticon-Ngakak
wedeh.. wedeh...
sempet agak terharu juga pas bacanya..
tapi pas lihat sumbernya... jadi agak mikir mo agak terharu apa kagak..
wekekkekee

yaweslah, yg penting selama itu baik buat rakyat,,, lanjutgannn



I'm just a puppet on a lonely string
Mudah2an yang lainnya bisa mengikuti....jangan cuma gedein perut aja lu di kantor.....atau di hotel2 mewah...
selama tujuannya demi kebaikan hajat hidup orang banyak ya lanjutkan
mau pencitraan kaga ngaruh , ga pencitraan malah lebih baik
Halaman 1 dari 10


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di