alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/527f1ccdfdca17d52a000002/10-november-aku-akan-tetap-dengan-rakyat-indonesia-kalah-atau-menang
(10 November) Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang.
Tulisan Anies Baswedan di kompas sabtu kemarin, yang diawali dengan deskripsi tentang seorang penyiar radio yg bersama bung Tomo mengudara pada 10 November.
aniesbaswedan.com

Penerobos Batas dan Kelumrahan

Muriel Pearson atau K’tut Tantri tergetar.
Pertempuran hebat sejak 10 November 1945 di
Surabaya merupakan titik balik buat dirinya. “Aku
akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau
menang
. Sebagai perempuan Inggris barangkali aku
dapat mengimbangi perbuatan sewenang-wenang
yang dilakukan kaum sebangsaku dengan berbagai
jalan yang bisa kukerjakan,” tulisnya dalam Revolt in
Paradise .
Ia menjadi penyiar Radio Pemberontakan, bahu-
membahu dengan Sutomo atau Bung Tomo. Jika
Bung Tomo melakukan siaran untuk terus menjaga
api semangat rakyat Surabaya dan sekitarnya, Tantri
mengudara dengan bahasa Inggris untuk menyiarkan
cerita dari sudut pandang Indonesia.
“Mereka yang berbahasa Inggris harus mendengarkan
kebenaran dari perjuangan kita… Dan harus diberi
pengertian bahwa perjuangan ini bukanlah revolusi
sosial, pemerintahannya pun bukan boneka Jepang…
Kau hendaknya mengisahkan sejarah Indonesia dan
perjuangan kami selama 40 tahun terakhir,” kata
Bung Tomo kepadanya.
Tantri dikenal sebagai perempuan
berkewarganegaraan Amerika Serikat. Tapi, ia lahir di
Skotlandia—bagian dari Inggris Raya. Tantri baru
pergi ke Negeri Paman Sam menjelang dewasa. Pada
1932, sebuah film berjudul Bali, The Last Paradise
mengubah jalan hidupnya. Ia menuju Hindia Beland
Saya teringat kisah K’tut Tantri itu ketika November
tiba, sebuah bulan saat kita memperingati Hari
Pahlawan. Di benak tentu saja juga teringat pahala
yang ditorehkan puluhan ribu pejuang lain di
Surabaya ketika itu. Ribuan jumlahnya. Mereka iuran
darah, iuran nyawa untuk tegaknya Merah Putih.
Sebagai orang asing, sebenarnya Tantri bisa saja
pergi saat kekacauan itu menerjang. Risikonya bukan
main-main: nyawa. Dalam pengantar untuk Revolt in
Paradise , Bung Tomo menuli
s, “Saya tidak akan
melupakan detik-detik di kala Tantri dengan tenang
mengucapkan pidato di muka mikropon, sedangkan
bom-bom dan peluru-peluru mortir berjatuhan

dengan dahsyatnya di keliling pemencar Radio
Pemberontakan…

Tantri memilih terlibat, turun tangan. Hal yang lebih
penting: ia melampaui sekat-sekat primordial. Ia
memang kelahiran Skotlandia. Namun, kenyataan
tersebut tak menghalanginya untuk ikut melawan
Inggris.
Keluasan cakrawala berpikir semacam ini yang
relevan dan akan terus relevan dalam masyarakat
yang plural seperti Indonesia. Kebhinekaan rentan
menjadi sumber konflik ketika hukum yang menjadi
penjaganya tak ditegakkan secara adil dan imparsial.
Dalam menegakkan hukum, negara semestinya
memosisikan semua pihak semata sebagai warga
negara dan tak melihat asal-usul mereka. Aparat
keamanan hadir melindungi ”warga negara,” bukan
memproteksi ”pengikut” keyakinan atau “anggota”
suku/etnis tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan,
aparat mencokok ”warga negara” pelaku kekerasan,
bukan menangkap ”pengikut” keyakinan tertentu yang
melakukan kekerasan.
Indonesia selama ini banyak dicemari fakta bahwa
imparsialitas hanya slogan. Tak diwujudkan dalam
kenyataan di lapangan. Hal ini yang membuat
wibawa hamba hukum merosot, lalu pelanggaran-
pelanggaran lain kian gampang ditemukan.
Bukan cuma keyakinan atau suku/etnis yang
membuat pikiran cupet. Afiliasi politik juga bisa
membuat kejumudan di kepala. Pertarungan politik,
secara alamiah, pasti membuat setiap politisi
membela partainya—dalam situasi apa pun. Buat
saya, meski bisa sulit, pembelaan itu tak serta merta
harus mengorbankan akal waras dan integritas diri.
Kita harus belajar pada sosok Haji Agus Salim saat ia
diserahi tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi
Hindia Baroe. Pada saat itu, Agus Salim juga petinggi
di Sarekat Islam. Toh, ia mampu menarik garis batas.
“…saya tidak berbuat seperti pemimpin Sarekat Islam
dan kalau menulis tajuk rencana saya tidak berpikir
seperti dalam rapat partai. Saya melihat di hadapan
saya rakyat Indonesia pada umumnya,” kata Agus
Salim (Roem, 1977).
Ujian semacam ini yang juga bakal memilah: mana
negarawan dan mana bukan negarawan. Maka,
terngiang lagi ucapan John F. Kennedy: My loyalty to
my party ends where my loyalty to my country
begins .

Tak Terlena Zona Nyaman
Dari K’tut Tantri juga kita menghikmati hal berikut:
tindakan kepahlawanan niscaya melampaui
kelumrahan, menerabas kebiasaan. Seorang pahlawan
pasti bukan seorang medioker, ia pemberani.
Baca lagi biografi Sukarno, Hatta, atau Sjahrir.
Mereka bukan tipikal individu yang terlena dengan
zona nyaman. Mereka tipe penjelajah, pemberani
yang selalu “memelihara” kegelisahan.

Prinsip ini, saya kira, tetap berlaku sepanjang zaman.
Tak hanya pada masa ketika kepahlawanan identik
dengan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah.
Hari ini dari anak-anak muda kita dapat harapan.
Mereka sejatinya pahlawan-pahlawan masa kini, yaitu
jiwa-jiwa muda yang menolak mediokritas. Adagium
lawas “sebaik-baik manusia adalah mereka yang
berguna bagi sesama” tak pernah usang. Sampai
kapan pun. Dan kita semua menjadi saksi bahwa
bumi Indonesia tak pernah berhenti melahirkan
pahlawan-pahlawan muda yang memilih untuk
bermakna bagi sesama
, bukan yang menjadikan
keropos tapi justru yang mengokohkan Republik.
Kesaksian ini menguat saat hadir deretan anak-anak
muda yang pilih turun tangan untuk melunasi Janji
Kemerdekaan. Anak-muda bergerak langsung: mereka
mendidik anak-anak jalanan, mereka turun tangan
menginspirasi adik-adik sebangsa, mereka merawat
kehidupan yang terlantar dengan segenggam nasi
bungkus tiap malam, mereka datang ke pelosok
negeri jadi pendidik atau jadi tenaga medis demi
saudara sebangsa, atau mereka yang bertarung
melawan dan meringkus koruptor. Daftar perbuatan
berpahala yang sedang ditorehkan oleh anak-anak
muda hari ini amat panjang. Mereka pilih jalan
perjuangan. Mereka tidak tinggal diam atau sekadar
urun angan tapi pilih turun tangan.

Bahkan beberapa hari yang lalu, 5 November 2013,
seorang Pengajar Muda, Aditya Prasetya namanya,
dari Gerakan Indonesia Mengajar berpulang saat
berjuang. Lulus dari Pendidikan Fisika di Universitas
Lampung, Aditya memilih jadi guru SD dan mengabdi
di Desa Wunlah yang tak ada aliran listrik dan sinyal
telepon. Di sisi timur Pulau Yamdena, di Kepulauan
Tanimbar, batas terdepan Indonesia yang berhadapan
dengan Darwin, Australia, Adit mengabdi. Di tengah
kesibukannya mempersiapkan pelatihan guru-guru di
Kabupaten Maluku Tenggara Barat, ia berpulang. Dia
dan ribuan guru lain, baik yang mengabdi lewat
program pemerintah atau lewat gerakan masyarakat,
memilih jalur terhormat dan mewakili kita semua
untuk melunasi salah satu Janji Kemerdekaan:
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.
Seperti Bung Tomo dan juga pejuang tak bernama
lainnya dulu. Kita boleh yakin bahwa masih ada
begitu banyak pejuang muda lain yang tengah bekerja
di berbagai penjuru negeri, berjuang untuk lunasi
Janji Kemerdekaannya. Mereka ini adalah bagian dari
warga negara biasa yang mengerjakan hal-hal luar
biasa. Dengan tindak teladan semacam itu, kita
makin optimis dengan masa depan Indonesia. Para
durjana pencuri uang rakyat selalu ada, namun para
penyala cahaya juga tak pernah sirna.
Mereka inilah
yang jadi bukti bahwa dari rahim ibu-ibu kita di
Republik ini tetap lahir pejuang dan pahlawan.

*dimuat dalam Harian Kompas 9 November 2013
untuk menyambut Hari Pahlawan*
menghayat banget . berani ambil jalur lain untuk membela sebuah bangsa yg haus kemerdekaan emoticon-Smilie tahu mana yg benar

tentang muriel pearson

Petualangan seorang wanita di bali yang cukup berwarna, buku autobiografi karyanya pada saat itu kepopulerannya setara dengan Eat,Pray,Love. Sempat akan dibuat film, tetapi karena kepribadiannya yang keras, sampai akhir hayatnya tidak ada produser yang bisa menyodorkan skenario yang cocok dengan keinginan beliau.
http://mommyharits.wordpress.com/201...e-ktut-tantri/
(10 November) Aku akan tetap dengan rakyat Indonesia, kalah atau menang.

Spoiler for ringkasan dari buku muriel:
kalah menang tetap bersama

tapi kalo susah senang bijimane ?? emoticon-Big Grin
ane terharu ganemoticon-Belomatabelo

emoticon-I Love Indonesia (S)