alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/527db8d7becb17302d000002/lawan-kekerasan-wartawan-ruwat-peralatan-kerja
Lawan Kekerasan, Wartawan Ruwat Peralatan Kerja
Quote:07 November 2013 | 13:28 wib

Lawan Kekerasan, Wartawan Ruwat Peralatan Kerja
RUWAT: Sejumlah wartawan Bantul meruwat peralatan kerja mereka di Cempuri Parangkusumo, Bantul. (suaramerdeka.com/ Sugiarto)

BANTUL, suaramerdeka.com - Bagi orang Jawa bulan Suro merupakan bulan penuh rahmat, sehingga wajar bila setiap bulan Suro banyak orang Jawa yang mencucikan senjata atau pusaka yang mereka miliki.

Hal ini dilakukan agar pusaka atau senjata tersebut, bisa melawan tindak kekerasan yang terjadi dalam masyarakat sekarang ini yang cenderung 'ngawur' dan brutal dalam bertindak.

Untuk mengantisipasi tindak kekerasan yang sering terjadi dialami wartawan, maka belasan jurnalis lintas media Bantul meruwat peralatan kerja mereka di Cempuri Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Kamis (7/11).

Peralatan wartawan yang mereka ruwat atau dibersihkan, berupa kamera, tape recorder, handycamp, ballpoint, block note, dan kartu tanda pengenal wartawan.

Kemudian peralatan kerja wartawan itu, disucikan di Cempuri Parangkusumo, Bantul, atau petilasan pertemuan Ratu Pantai Selatan dengan Panembahan Senopati.

Prosesi meruawat peralatan kerja wartawan ini, sekaligus menandaskan bahwa Muhammad Fuad Syafruddin alis Udin, wartawan Bernas yang tewas dianaya orang tak dikenal sebagai pahlawan pers.

Sehingga wajar bila dalam aksi meruwat peralatan kerja wartawan tersebut, para wartawan yang melakukan ruwatan peralatan wartawan membawa sepanduk warna merah yang bertuliskan 'Udin Pahlawan Pers'.

Setelah semua wartawan masuk ke dalam Cempuri Parangkusumo, Gandung Jatmiko sebagai koordinator ruwatan secara simbolik menyerahkan peralatan wartawan yang akan disucikan kepada Bekel Sepuh Pandiyo, Jurukunci Cepuri.

Setelah peralatan wartawan disucikan, kemudian prosesi dilanjutkan melabuh peralatan wartawan ke Pantai Parangkusumo. Labuhan peralatan wartawan cukup diwakili dengan bunga setaman yang sebelumnya didoakan di cempuri.

Menurut Koordinator aksi, Gandung Jatmiko prosesi ini untuk mengkampanyekan gerakan anti kekerasan kepada wartawan. "Jangan sampai kekerasan kepada wartawan kembali terulang," katanya usai melabuh sesaji.

Dia berharap, dengan acara anti kekerasan terhadap wartawan, juga mendorong pihak kepolisian segera mengusut kasus Udin yang sudah hampir kadaluwarsa. "Ini momentum untuk mendorong pihak kepolisian segera menuntaskan kasus Udin," ujarnya.

Sementara Daru, Yudha, Zakki Mubarok, peserta ruwatan mengatakan, gerakan ini sekaligus untuk semakin mempererat persaudaraan sesama jurnalis dan kedekatan dengan budaya masyarakat.

Dibulan Suro ini, biasanya masyarakat menjamas (membersihkan) pusaka, maka jurnalis meruwat peralatan liputannya. "Agar bisa bekerja lancar dan aman," ujar Markus salah seorang reporter sebuah media nasional.

sumber

Berita Sebelumnya

Quote:Peringati HPN, Wartawan Pasuruan Ruwat Kamera
Minggu, 10 Februari 2013 15:21:37 | Reporter : Aldyth Nelwan Airlangga

Pasuruan (beritajatim.com) - Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kabupaten Pasuruan hari ini berlangsung meriah. Tak hanya dihadiri oleh wartawan dari berbagai media yakni cetak, elektronik dan online. Bupati Pasuruan Dade Angga pun juga tampak hadir dalam peringatan HPN kali ini.

Selain doa bersama dan potong tumpeng, acara yang digelar oleh PWI Pasuruan di kawasan mata air Umbulan Winongan ini, juga diwarnai dengan pelepasan 6 ekor merpati. Pelepasan burung dara ini sebagai simbol kebebasan pers seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Tak ketinggalan pula, dalam peringatan HPN ini para jurnalis juga menggelar ritual tabur kembang. Sejumlah peralatan peliputan yaitu kamera dan handycam ditaburi kembang dengan harapan agar tidak cepat rusak atau pun hilang. Sebab, bagi para jurnalis kedua perlengkapan ini sangatlah urgent.

Sebagai penghargaan dari insan pers, Bupati Pasuruan Dade Angga pun diberi hadiah potongan tumpeng. "Saya selaku bupati mengucapkan terima kasih dan kebanggaan setinggi-tingginya. Ya tentunya hari ini berkaitan dengan peringatan Hari Pers Nasional," ujar Dade Angga, Bupati Pasuruan, Minggu (10/2/2013).

Bupati juga berharap, kedepannya perkembangan pers di Kabupaten Pasuruan kian maju dan lebih dewasa. "Mudah-mudahan rekan-rekan dari PWI semakin maju, semakin jaya dan semakin sukses," ungkap Dade Angga. [bec/kun]

sumber


Quote:Wartawan Magelang Ruwat Alat Peliputan
Penulis : Kontributor Magelang, Ika Fitriana
Sabtu, 9 Februari 2013 | 23:40 WIB

Lawan Kekerasan, Wartawan Ruwat Peralatan Kerja
MAGELANG, KOMPAS.com - Puluhan wartawan Magelang, yang tergabung dalam Forum Jurnalis Magelang, menggelar upacara unik pada puncak peringatan Hari Pers Nasional ke-67 yang tepat jatuh pada Sabtu (9/2/2013). Mereka menggelar ritual jamasan atau ruwatan peralatan peliputan, seperti kamera video, kamera foto, tape recorder hingga kartu pers.

Peralatan itu disusun menjadi satu gunungan bersama aneka buah-buahan, sayuran, tumpeng dan bendara merah putih. "Ritual ini dimaksudkan untuk membersihkan jiwa jurnalis serta alat peliputan, agar mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa," ujar Muhtar Lutfi, Ketua Forum Jurnalis Magelang di sela kegiatan, Sabtu (9/2).

Nuansa sakral terlihat di setiap rangkaian acara yang digelar di Hotel Pondok Tingal tidak jauh dari Candi Borobudur itu. Tidak hanya wartawan, seniman dan budayawan Kabupaten Magelang turut memeriahkan kegiatan.

Dengan berpakain unik yang terbuat dari koran bekas dan beberapa di antaranya memakai pakaian adat Jawa, mereka mengusung gunungan dari Lapangan Kecamatan Borobudur menuju Pendopo Hotel Pondok Tingal. Di sepanjang perjalanan mereka juga melakukan performance art yang mengkisahkan perjalanan seorang wartawan dalam melakukan tugas peliputan.

Tugas mulia yang penuh tantangan dan perjuangan. Lazimnya sebuah jamasan pusaka kuno, alat-alat kerja para jurnalis itu terlebih dahulu dilakukan proses ritual dengan memerciki air dan menaburi bunga. Ritual terasa khidmat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.

"Ritual ini sebagai simbol pembersihan jiwa para jurnalis berserta alat-alat liputannya. Selepas diruwat dan dijamas diharapkan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa sehingga para jurnalis dapat mengemban tugas dengan baik," imbuh Lutfi.

Selain ritual itu, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional khas Magelang, seperti jathilan dan pembacaan puisi oleh sejumlah wartawan.

Sementara itu, Bupati Magelang Singgih Sanyoto dalam sambutannya, menilai para jurnalis yang bertugas di wilayah Kabupaten Magelang sudah cukup baik. Pihaknya juga mengapresiasi para jurnalis karena telah bekerjasama dan berkomitmen baik dengan pemerintah Kabupaten Magelang.

Tak bisa dipungkiri, katanya, hal itu menjadi salah satu bagian pendukung berjalannya roda pemerintahan yang baik. "Kalau pun ada gesekan di antara kita, namun hendaknya kita sikapi dengan dewasa dan menjadi pembelajaran ke depan untuk kinerja yang lebih baik ," tuturnya.

Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh ulama setempat, KH Yusuf Chudlori. Tampak hadir pula Kapolres Magelang, AKBP Guritno Wibowo, jajaran Muspida Kabupaten Magelang, tokoh masyarakat, seniman dan masyarakat setempat.

sumber


Quote:Tolak Kekerasan Pers, Wartawan Malang Ruwat ID Card
Senin, 26 November 2012 11:07 WIB

Lawan Kekerasan, Wartawan Ruwat Peralatan Kerja
TRIBUNNEWS.COM,MALANG - Aksi solidaritas untuk menolak kekerasan terhadap pers, siang ini (26/11/2012)kembali dilakukan oleh para Jurnalis di Malang Raya.

Aksi solidaritas yang disertai aksi teatrikal ini, lagi-lagi digelar menyusul meninggalnya jurnalis Harian Metro, Aryono Linggoto, alias Ryo, setelah mendapat 14 tusukan senjata tajam di Manado, beberapa hari lalu.

Wartawan dari berbagai media cetak, online dan elektronik yang tergabung dalam AJAK (Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan), menggelar aksi unjuk rasa di Jl Basuki Rachmat, Kota Malang.

Selain berorasi dan membentangkan aneka poster di tepi jalan raya, mereka juga membagikan selebaran pada pengguna jalan yang melintas.

Selain itu, sebagai simbol doa dan harapan agar profesi wartawan selalu dilindungi, mereka juga menggelar aksi teatrikal dengan meruwat kartu pers masing-masing, menggunakan air kembang.

Dalam orasinya, wartawan menuntut enam hal. Yakni penghentian praktek impunitas atau membiarkan kejahatan tanpa hukuman, penegakan hukum dan perlindungan profesi jurnalis sesuai UU Pers, pengusutan kasus-kasus kekerasan jurnalis dengan transparan, pemberlakuan UU Pers terkait sengketa pemberitaan, serta mendesak perusahaan pers agar proaktif melindungi jurnalisnya.

“Kami juga meminta rekan-rekan jurnalis agar menjalankan profesi jurnalismenya secara profesional dan mematuhi kode etik,” terang Hari Istiwan, koordinator aksi tersebut.

sumber


Quote:Berharap Pemilu Lancar, Wartawan Jateng Gelar Ruwatan
Sabtu, 07/02/2004 20:17 WIB | Triono Wahyu Sudibyo

Di tengah suasana mendung, sejumlah wartawan Jawa Tengah (Jateng) yang tergabung dalam Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng menggelar upacara ruwatan pemilu di halaman Hotel Santika Semarang, Jl. Ahmad Yani, Sabtu (7/2/2004).

Tujuannya, untuk menghilangkan "sukerto" atau penghalang dalam pemilu 2004. Acara ruwatan itu dimulai sekitar pukul 09.30 WIB. Diawali dengan liukan lima penari dari Yayasan Greget Semarang yang dibalut dengan kain bertuliskan panwaslu, pemilu, magis, parpol, dan wartawan, ruwatan itu berjalan menarik.

Para wartawan dan tamu undangan berkerumun melingkar. Beberapa saat kemudian kelima penari itu memercik-mercikan air kembang kepada kerumunan. Wakil Gubernur Jateng Ali Mufiz, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Jateng Nur Hidayat Sardini, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng Ari Pradanawati, yang ada dalam kerumunan itu langsung mundur beberapa langkah.

Namun mereka tetap kecipratan air kembang. Menurut sutradara upacara, Yoyok Priambodo, percikan air kembang itu dimaksudkan untuk menyucikan diri dari "sukerto". "Sukerto" Panwaslu, parpol, magis, pemilu, dan wartawan diharapkan hilang dengan siraman air kembang itu. Juga "sukerto" para tamu undangan," katanya seusai acara. "Sukerto" atau penghalang pemilu bisa dari mana saja. Durian yang kami gunakan dalam upacara ruwatan ini juga bermakna seperti itu. Duri-duri yang berada di seluruh kulit durian melambangkan itu," jelas lelaki, yang juga berprofesi sebagai fotografer ini. Masturi, koordinator acara ruwatan, mengatakan hal yang sama. "Untuk wartawan, paling tidak ruwatan ini bisa menambah inspirasi dan kekuatan menjelang pemilu 2004. Tantangan dalam pemilu 2004 kan tidak kecil," ungkapnya. Menurut wartawan RCTI Semarang ini, selama pemilu konflik akan bertebaran. Sebagai salah satu stakeholders pemilu, wartawan berada dalam arus konflik itu.

Dalam kondisi seperti itulah "sukerto" itu muncul. Atau, bisa dalam bentuk lainnya yang lebih nyata. Kekerasan fisik misalnya," jelas dia. Selesai ruwatan, acara dilajutkan dengan dialog interaktif bertema "Peran Pers dalam Pemilu 2004". Hadir sebagai pembicara Wakil Gubernur Jateng Ali Mufiz, Ketua Panwaslu Jateng Nur Hidayat Sardini, anggota KPU Jateng Ari Pradanawati dan Kahumas Polda Jateng Kombes Pol Imam YS.

[URL="http://news.detik..com/read/2004/02/07/201700/85796/10/berharap-pemilu-lancar-wartawan-jateng-gelar-ruwatan"]sumber[/URL]