alexa-tracking

[Scary Story] Don't ever Let Them In (Pemberani masup)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5273b7ecffca178674000001/scary-story-dont-ever-let-them-in-pemberani-masup
Peringatan! 
|Don't Ever Let Them In| Horror Short Story
Halo emoticon-Cool
Mau berbagi hasil translatean temen nih emoticon-Cool
Jika suka mohon emoticon-Blue Guy Cendol (L) emoticon-Blue Guy Cendol (L) ya

Langsung aja check bawah emoticon-Takut


Don’t ever let them in

[Scary Story] Don't ever Let Them In (Pemberani masup)

Aku takut sekali gelap, tetapi nenekku sangat bertolak belakang; dia menyukai dan menikmati sekali gelap, bahkan nenek menutup hampir semua jendela di rumahnya dengan tirai berwarna hitam kelam dan menyisakan sedikit celah yang terbuka. Nenek akan membuka tirai-tirai itu pada waktu-waktu tertentu, seperti kunjungan keluarga atau acar-acara penting lainnya.

Ketika masih kecil, aku adalah anak yang hiperaktif. Ibuku sering kesulitan dalam mengatasiku, sementara ayah tak jauh berbeda - beliau sering menakut-nakutiku dengan hukuman kalau aku bertindak nakal. Karna kewalahan, orangtuaku sering menitipkanku di rumah nenek jika mereka sedang menginginkan suasana weekend yang tenang.

Aku sangat menyanyangi kakek dan nenek seperti orang tua ku sendiri, dan aku hanya akan menjadi anak yang manis ketika ada nenekku saja.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana aku bermain-main dengan kakek dan paman Owen dalam gelap. Kami punya permainan spesial, seperti semacam petak umpet - hanya saja permainan ini dapat dilakukan jika rumah dalam keadaan sangat sunyi dan gelap. Jadi, dalam permainan itu, yang kalah akan mencari peserta lainnya dengan cara meraba-raba dan kemudian menerka siapa mereka. Wajah kakek dan Paman Owen bersinar dalam kegelapan - sinarnya tak terlalu terang tapi mata mereka yang juga bersinar redup, selalu dapat menembus tebalnya kegelapan. Walau begitu, aku bisa dengan mudah menemukan mereka. Hal itu pun melatih penglihatanku menjadi sangat baik dalam kegelapan, sampai sekarang.

Seingatku, nenek banyak menghabiskan waktunya di rumah - memasak dan membuatkanku kue, membersihkan rumah, sampai menyiapkan tempat tidur untukku saat malam hari. Ruangan selalu akan terasa lebih hangat jika nenek berada disana. Nenek juga dapat meleburkan semua ketakutan, walau dalam keadaan gelap sekalipun. Makanya aku selalu meminta kakek dan paman Owen bermain permainan spesial kami di ruangan tempat nenek berada. Kakek dan paman Owen selalu setia menemaniku bermain dari usiaku masih sangat kecil sampai menjelang 8 tahun.

Aku sangat takut kalau tidur dalam gelap, tapi hal itu tentu saja tidak jadi masalah jika aku tidur bersama nenek. Dengan memeluk tubuh hangatnya aku tak pernah merasa takut, bahkan aku bisa mengabaikan sosok-sosok asing yang terlihat memenuhi ruanganku dan mengelilingi tempat tidurku.

Sosok-sosok itu hanya datang jika gelap. Mereka tidak akan pernah datang jika ada sedikit saja cahaya dan mereka hanya akan muncul di kegelapan yang pekat tanpa cahaya lampu dan tanpa jendela di suatu ruangan.

Nenek menyebut mereka 'outcast (yang terbuang)'. Kata nenek, mereka adalah teman ataupun keluarga, dan orang-orang terdekat lainnya yang ingin kembali ke dunia mereka sebelumnya, yaitu dunia yang ditempati kita - orang-orang yang masih hidup - sekarang. Nenek selalu mengajarkan dan mengingatkanku terus menerus untuk tidak mengizinkan mereka kembali.

Saat itu, kami sedang berbaring di tempat tidur; kepalaku terbenam di pelukannya yang hangat, ketika nenek memberitahuku tentang mereka. Sementara itu, kakekku mendengkur di belakang kami. Saat aku menoleh pada kakek, ku lihat wajahnya bersinar di kegelapan dengan kulit putihnya yang bahkan terlihat lebih jelas dari punya nenek.

“Kau bisa melihat perbedaan pada wajah mereka,” kata nenek. “Kebanyakan dari mereka mempunyai wajah yang berwarna lebih gelap, tapi itu tidak bisa selamanya jadi jaminan benar. Jika kau ingin meyakinkannya, maka kau harus melihat mata mereka. Jika mata mereka sama gelapnya dengan wajah mereka, dengan kata lain bersinar redup, itu tandanya mereka berada di sisi yang salah; mereka sudah meninggal dan kau seharusnya tidak mengizinkan mereka kembali seberapapun kau merindukan mereka.”

“Jadi mereka tak bisa masuk?”

“Mereka tak bisa masuk, kecuali kau yang mengizinkannya.”

“Apa yang akan terjadi jika aku membiarkan mereka masuk?”

“Pokoknya jangan pernah membiarkan mereka masuk!!”

Ketika gelap sangat pekat sekalipun, aku masih bisa melihat mereka sejelas garis pensil yang di tulis menekan pada selembar kertas, yang tidak hanya mewarnai kertas tapi guratnya terlihat sangat menonjol.

Malam itu, nenekku tidur lebih cepat dari biasanya. Aku yang berbaring aman di pelukan nenek, melihat sosok-sosok itu lagi. Mereka bergerak dan berpindah-pindah, mengeluarkan suara, dan kadang berkelahi; saling mendorong dan menyiku satu sama lain demi mendapatkan tempat di garis batas kehidupan.

Sosok mereka tidak asing bagiku; aku hafal ukuran badan dan gaya rambut mereka, bahkan sering kali aku mengenali pakaian yang mereka pakai. Tetapi aku tidak pernah menanyakan pada nenek tentang semua itu.

Sayangnya, nenek terlalu cepat pergi dariku. Beliau meninggal ketika aku berusia 8 tahun. Kepergian nenek membuatku kehilangan sosok penyelamat dari rasa takut.

Bersama nenek aku merasa sangat aman. Sebaliknya, tanpa nenek malam-malamku tak ubahnya bagai rentetan teror. Mereka datang semakin dekat dan kelihatannya lebih enerjik, lebih kasar, dan mungkin akan lebih mudah menembus dinding pembatas antara dunia mereka dengan dunia manusia. Mungkin aku lah yang memberikan mereka celah untuk bisa lebih mendekat melalui separuh rasa takut dan separuh rasa penasaranku.

Kini cahaya malam adalah satu-satunya penyelamatku. Pernah suatu malam orang tuaku lupa menyalakan lampu kamar, sehingga aku 'tak terselamatkan'. Mereka berdiri mengelilingiku berusaha menembus kegelapan. Mata mereka sangat gelap dan terlihat semakin melebar.

Barulah saat berumur 16 tahun, aku dapat menyimpulkan kelihaianku melihat dalam gelap dikarnakan ketakutanku yang berlebihan akan gelap itu sendiri. Akupun berusaha menyembuhkannya dengan “shock therapy”; membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan pada suatu malam dan melihat bagaimana aku bisa mengalahkan ketakutanku, tapi hal itu malah membuat situasi semakin parah.

Ada satu sosok yang menurutku paling menonjol dan sangat atraktif ; sosok yang lebih kecil tetapi liar, berambut keriting, dan mempunyai mata yang lebih gelap diantara yang lain. Aku sudah hafal sosok itu karna dia sudah berada disana semenjak aku berusia 8 tahun.

Pertahananku mulai runtuh dan berusaha membiarkan ketakutanku menang, mungkin memang sudah takdirku harus bergantung pada cahaya ketika hari mulai gelap untuk menyelamatkan diri dari mereka.

Ketika sudah menjadi mahasiswa pun, aku memilih apartemen dengan lampu jalan yang terang benderang, sehingga cahaya lampunya dapat menembus jendela kamarku dan membuatku aman dari sosok-sosok itu; mereka akhirnya memilih pergi ke teluk di pinggiran kota.

Ketika usiaku menginjak 23 tahun, aku mempelajari makna dan fakta dari ketakutanku selama ini. Aku sedang berada di rumah ibuku saat itu, kami sedang menikmati botol anggur kedua kami dengan diiringi musik melankolis. Kami berbincang banyak hal malam itu, sampai pembicaraan kami menjurus tentang nenek.
“Ibu sangat merindukannya,” kata ibuku.
“Aku juga,” jawabku.“Kadang aku masih sering bermimipi nenek membuatkanku kue dan ketika terbangun aku seperti benar-benar mencium aroma vanila.”
“Oh, kakekmu sangat menyukainya.” Sambung ibu.
“Oh, ya? Aku malah tak ingat kalau kakek begitu.”

Ibu tertawa.
“Kau mungkin terlalu kecil untuk mengingat semua itu.”
“Tidak juga, bu. Karna aku masih ingat ketika kami bermain-main dulu.”
“Masa?”
“Iya. Aku bermain dengannya setiap waktu.”
“Sungguh kau mengingat itu?”

“Tentu.”

“Wow,” ibu terlihat gembira. “Aku senang sekali mendengarnya.”

“Aku juga.”

“Ibu kira kau tak akan punya memori tentang kakekmu karna kau masih sangat kecil waktu itu.”

Aku menenggak anggur dari gelasku dan menikmati kepahitannya melebur di mulutku.

“Aku malah tak punya memori tentang hari pemakamannya.”

“Tentu saja kau tidak ingat,” jawab ibu. “Kami menitipkanmu di rumah teman ketika pemakamannya berlangsung.”

“Apa? Kenapa memangnya, bu?”

“Kami khawatir kau tidak akan mengerti hari itu. Kau baru berusia 2 tahun saat kakek dan paman Owen meninggal karna kecelakaan.”

Aku tertegun mendengar penuturan ibu. Bagaimana bisa kakek dan paman bisa bermain denganku sampai aku berusia 8 tahun jika mereka saja meninggal disaat aku umur 2 tahun? Atau.. Ah, entahlah. Aku tak ingin membahasnya lagi. Biarlah semua itu menjadi rahasiaku sendiri saja.

Dulu aku mengira kalau ketakutanku akan gelap disebabkan oleh kemampuanku melihat sosok yang berdiri di ambang garis batas antara dunia mereka dan dunia manusia. Tapi sekarang aku baru mengerti kalau aku sebenarnya bukan takut pada gelap ataupun sosok bermata gelap itu, melainkan takut dan heran mengingat banyaknya jumlah mereka yang telah dibiarkan masuk kembali.
[Scary Story] Don't ever Let Them In (Pemberani masup)
Source : Creepypasta emoticon-Takut


[CENTER]|Blood Stain|Horror Short Story[/CENTER]
Lagi dikamar sendirian
makin terbawa suasana ane gan
jd merinding gan emoticon-Takut emoticon-Takut
ane masih bingung gan. emoticon-Bingung
jadi intinya dia ditemenin sama roh kakek sama paman owen dari umur 2-8 tahun ya?
trus itu dia sendiri yang ngijinin masuk?

ane belom nangkep seremnya gan kalo cuma si aku ternyata ditemenin sama kakek sama pamannya yang udah meninggal. emoticon-Takut
seru gan....
ane doyan nih cerita begini ...
emoticon-Matabelo
Quote:


bagus ceritanya, bahasanya indah walau membahas cerita seram emoticon-Matabelo
Asik gan ceritanya
Quote:


ane juga gan emoticon-Takut

Quote:


Iya dai ditemenin roh kakek ama pamanya karena dia kan senang dgn kedua orang itu emoticon-Takut

Quote:


Oke makasih emoticon-Cool
ane cuman translate lho

Quote:


Woho iye gan asik emoticon-Ngakak
baca di tempat gelap gan emoticon-Big Grin
Quote:


Baca malem" gan biar sensasinya dapet emoticon-Takut
mayan storynya seru kok emoticon-Smilie
Quote:


Ane cuman translate gan emoticon-Cool
jadi sebenernya.... emoticon-Takut
dopost emoticon-Hammer2
Quote:


Walah do Post gan emoticon-Ngakak
Iya gan sebenernya emoticon-Takut
emoticon-Hammer2 masih bingung emoticon-Ngakak (S)
sampe ketiduran gw bacanya emoticon-Cape d... (S)
emoticon-Takut gan
Quote:


Baca lagi emoticon-Ngakak (S)

Quote:


Ane mpe pingsan gan emoticon-No Hope

Quote:


emoticon-Takut emoticon-Takut emoticon-Takut
emoticon-Takut serem gan
tapi seru juga
si tokoh ditemenin roh kakek ama pamannya pas dia masu umur 8 taun