alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Rahasia Dibalik Keberhasilan AS Roma Di 10 Partai Serie A
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/527395b520cb17281b000007/rahasia-dibalik-keberhasilan-as-roma-di-10-partai-serie-a

Rahasia Dibalik Keberhasilan AS Roma Di 10 Partai Serie A

Rahasia Dibalik Keberhasilan AS Roma Di 10 Partai Serie A


Roma - AS Roma mencatatkan sederet catatan gemilang saat menundukkan Chievo di Stadion Olimpico. Soal prestasi hebat yang didapat I Lupi, Allenatore Rudi Garcia memuji anak asuhnya, yang disebut selayaknya pasukan penyihir.

Roma meraih kemenangan tipis 1-0 saat menjamu Chievo, Jumat (1/11/2013) dinihari WIB tadi. Mesku cuma unggul satu gol, hasil tersebut sudah cukup untuk melanjutkan rangkaian hebat klub ibukota Italia itu di Seri A musim ini.

Kemenangan itu membuat Roma menjadi tim pertama yang mengawali musim dengan memenangkan 10 pertandingan beruntun. Mereka juga menjadi tim pertama yang hanya kebobolan satu gol pada sepuluh pertandingan.

Roma pun kokoh sebagai penguasa klasemen Seri A dengan nilai 30 poin. Unggul lima angka atas Napoli di posisi dua, dan juga Juventus di tangga ketiga.

Dengan belanja besar yang dilakukan di musim panas lalu, Roma memang dijagokan bakal bersaing merebut Scudetto bersama Juventus dan Napoli. Namun 10 laga awal tanpa terkalahkan menunjukkan potensi luar biasa yang dimiliki I Lupi. Soal kemenangan yang terus dipetik, Rudi Garcia menyanjung tinggi skuatnya.

"Publik mengatakan ada unsur magic yang membantu kemenangan kami? Saya mempunyai banyak tukang sihir di sini, dari kiper sampai kapten. Saya mempunyai barisan pemain yang terdiri dari tukang sihir dalam tim ini, dan hari ini kita semua melihat kekuatan tim ini," kata Garcia.

"Setiap pemain di sini ingin menang dan bermain baik di lapangan. Itulah sihir yang sebenarnya," lanjut dia.

Rentetan kemenangan Roma juga didapat atas tim-tim besar Seri A. Lazio dan Napoli mereka kalahkan 2-0, sementara Inter Milan ditundukkan dengan skor telak 3-0. Kemenangan terbesar Roma adalah dengan skor 5-0 yang didapat atas Bologna.

"Kami tidak mendapatkan kedalaman permainan malam ini karena kami kehilangan Gervinho dan kapten (Totti, yang mengalami cedera). Mereka selalu bisa menjalankan tugas dengan sempurna setiap kali membawa rekan-rekan satu tim pada situasi terbaik."

"Tapi tim saya sangatlah cerdas dan memahami bagaimana beradaptasi kepada persoalan itu. Kami mengetahui bagaimana bermain bola-bola pendek setiap kali tidak bisa memberikan umpan-umpan panjang yang berkualitas," tuntas pelatih asal Prancis itu.


[URL="http://sport.detik..com/sepakbola/read/2013/11/01/115810/2401491/71/penyihir-penyihir-as-roma"][B][color=blue]EMBER...[/color][/B][/URL]
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
sayang nih as roma katanya batal kemari emoticon-Mewek

keknya bakal scudeto nih
Roma Awal Musim Mainnya Ganas Banget, Kebobolan Aja Cuma Sekali
emang keren nih tim
hampir nggak ada cacatnye di tiap match
bener2 tim nih!
ane sbagai fans Liverpool salut buat AS Roma!
emoticon-2 Jempol
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
ga nyangka kl roma bisa kayak gini. forza inter
Jumat, 01/11/2013 15:20 WIB
Transformasi Giallorossi

detiksport

Getty Images
Jakarta - Sejarah kota Roma tak bisa
dipisahkan dengan cerita para gladiator
nan gagah perkasa di arena bertarung
bernama colosseum, yang menjadi hiburan
paling menarik di zaman itu.
Berabad-abad kemudian stadion sepakbola
menjadi semacam penjelmaan colosseum
tersebut, dengan tetap menghadirkan
puluhan ribu orang yang datang untuk
menyaksikan sebuah hiburan bernama
sepakbola.
Jika dulu ada seorang gladiator terkenal
bernama Maximum --dalam film besutan
Ridley Scott (2000) diperankan oleh Russell
Crowe--, maka kini gladitor-gladiator itu
adalah 11 pemain yang ada di lapangan
hijau. Mereka ada di tengah arena
dengan "misi" yang kurang lebih samaa:
memperjuangkan harga diri, merebut
kekuasaan, meraih cinta.
Sepakbola, yang sudah dianggap sebagai
sebuah agama bagi masyarakat Italia, juga
tidak bisa dilepaskan dari kota Roma, yang
terdapat dua klub besar di dalamnya: AS
Roma dan Lazio. Dalam hal titel scudetto,
Lazio pernah dua kali merengkuhnya
(1974, 2000), sedangkan Roma tiga kali
(1942, 1983, 2001).
Tentang Roma, adalah pelatih asal
Hongaria, Alfred Schaeffer, yang pertama
kali mempersembahkan gelar Serie A
pertama untuk klub berlogo serigala itu.
Setelah dia, gelar kedua diberikan oleh
legenda Swedia bernama Nils Liedholm. Di
era milenium, Fabio Capello adalah orang
ketiga yang memberikan titel itu di tahun
2001. Dimotori trio Gabriel Batistuta,
Francesco Totti, dan Vincenzo Montella,
Stadion Olimpico dan seisi kota bertabur
warna merah marun, merayakan pesta
kemenangan Il Lupi yang sudah lama
dinanti-nantikan.
Ironisnya, setelah itu Roma seakan-akan
tenggelam. Selama satu dekade kemudian
Italia dikuasai oleh Juventus, AC Milan, dan
Inter Milan. Dinasti Sensi perlahan-lahan
redup. Setelah era Franco Sensi berakhir,
dan lalu dilanjutkan oleh anaknya Rosella
Sensi, penurunan aspek bisnis dan juga
beberapa gejolak di tubuh tim membuat
Roma menurun pula prestasinya. Jika
sampai ada 5 pelatih dalam dua musim
(2004-2005) --Capello, Cesare Prandelli,
Rudi Voeller, dan Luigi del Neri sebelum
membaik di tangan Luciano Spalletti--, tak
aneh jika di benak tifosi bermunculan
pertanyaan: ada apa dengan tim kami?
Pascakepergian keluarga Sensi, masuklah
pebinis Amerika bernama Thomas Richard
DiBenedetto di tahun 2011. Sejumlah
perubahan besar terjadi di dalam klub
termasuk ketika secara mengejutkan
merekrut Luis Enrique sebagai pelatih
baru. Di Benedetto juga menunjuk Walter
Sabattini sebagai Director of Football yang
baru. Langkah paling "berani" yang diambil
manajemen baru itu adalah menghilangkan
fasilitas VIP Room bagi Il Capitano
Francesco Totti di camp latihan Trigoria.
Selama era Sensi, fasilitas istimewa itu tak
pernah terjamah oleh siapapun. Totti tentu
saja seorang hero, simbol tim, tapi dia
juga seorang pemain, sama seperti
pemain-pemain lain.
Perubahan yang signifikan itu membuat
Totti dan banyak pemain bintang mulai
gerah. Sejumlah pemain minta minta dijual
dan akhirnya dilepaslah beberapa pilar
penting di musim-musim sebelumnya seperti
Alexander Doni, Philippe Mexes, John
Arne Riise, Jeremy Menez dan
MirkoVucinic. Sebagai gantinya Enrique
yang lebih suka bekerja dengan "anak-
anak muda" mengontrak Miralem Pjanic,
Bojan Krkic, Jose Angel, Erik Lamela serta
dua pemain senior Maarten Stekelenburg
dan Gabriel Heinze, kala itu yang
rencananya akan dikolaborasikan dengan
Totti, Simone Perrotta, Daniel de Rossi,
Rodrigue Taddei dan Juan untuk
membangun tim yang kuat.
Apakah reformasi dengan gelontoran dana
hampir 100 juta euro itu berhasil?
Ternyata tidak. Menggantikan Vincenzo
Montella, awalnya Enrique direkrut
dengan harapan dapat menularkan
kesuksesan Pep Guardiola dan tiki-taka
Barcelona-nya. Tapi transformasi itu tidak
semudah yang dibayangkan. Di akhir musim
Roma hanya berada di peringkat ketujuh
dan tidak tampil di Eropa. Meski begitu,
ada sebuah perubahan dan budaya baru
yang coba diperlihatkan Roma pada publik
Italia, yaitu sepakbola yang lebih moderen.
Di sisi bisnis, keuangan Roma jauh
membaik. Sebuah laporan menyebutkan, di
musim 2010/2011 Roma menempati ranking
15 dalam daftar klub berpenghasilan
tertinggi di dunia, dengan estimasi revenue
sekitar 143,5 juta euro. Asal tahu saja,
Roma adalah satu dari tiga klub Italia yang
ada di bursa saham Italia selain Lazio dan
Juventus.
Di tahun 2012, pengusaha Amerika lain,
James Pallotta, menggantikan DiBenedetto
sebagai presiden klub. Hanya saja, krisis
prestasi masih dialami Roma. Setelah
Enrique didepak mereka mencoba
mengulang cerita indah di masa lalu
dengan mengontrak lagi allenatore gaek
asal Republik Ceko, Zdenek Zeman.
Perjudian itu bernasib tragis. Zeman
dengan gaya kepelatihannya yang kuno
tak bertahan lama di kursinya. Tim semakin
terpuruk, sering kalah, banyak kebobolan.
Zeman dipecat di tengah musim, digantikan
oleh caretaker Aurelio Andreazzoli. Prestasi
Roma di musim itu tak lebih baik: hanya finis
nomor enam dan kembali absen di Eropa.
Memasuki musim 2013/2014, Pallotta
tampaknya sudah mampu beradaptasi
dengan iklim persaingan sepakbola di Italia,
belajar dari kegagalan tahun sebelumnya.
Manajemen mengambil langkah
mengontrak pelatih baru dan merombak
total materi pemain. Pilihan untuk pelatih
jatuh kepada Rudi Garcia, figur asal
Perancis berusia 49 tahun yang pernah
membawa Lille menjadi juara Ligue 1
tahun 2011.
Hal pertama yang dilakukan oleh Garcia di
Roma adalah melakukan pendekatan
personel. Sejumlah pemain penting seperti
Totti, De Rossi dan Pjanic ia undang
secara pribadi untuk santap malam
bersama. Melalui mereka Garcia
memberikan keyakinan kepada seluruh
pemain tentang apa saja rencana-
rencana yang akan dilakukannya musim ini.
Langkah berikutnya adalah dengan
menjual Marquinhos, Lamela dan Pablo
Osvaldo dengan harga yang tinggi ke PSG,
Tottenham Hotspur dan Southampton. Dari
tiga orang itu Roma mendapatkan 75 juta
euro, sedangkan sebagai penggantinya
Garcia berhasil mendatangkan Kevin
Strootman, Mehdi Benatia, Maicon, Adem
Ljajic, Morgan De Sanctis dan Gervinho
hanya dengan total sekitar 60 juta euro!
Sebuah operasi transfer pemain yang
cerdas dan tepat.
Dalam hal taktik, Garcia menerapkan gaya
kepelatihan baru di Trigoria. Yang paling
kentara adalah ia mengubah skema
permainan 4-3-3 dengan tidak
mengandalkan peran seorang striker
murni, serta menempatkan De Rossi
sebagai gelandang bertahan di depan 4
pemain belakang. Peran Totti sebagai
playmaker juga dilakoni secara bergantian
dengan Pjanic. Hal lain, Garcia
memaksimalkan kecepatan serangan balik
melalui sayap. Inilah yang membuat Roma
sulit dikalahkan dan sampai giornata 10
bercokol di puncak klasemen. Yang
sensasional adalah, dengan pertandingan
tadi malam (melawan Verona), Roma
berhasil memenangi 10 pertandingan
berturut-turut, dan itu melampaui rekor 9
kemenangan beruntun Juventus di musim
2005/2006. Sensasi itu ditambah dengan
catatan fantastis lain, yaitu mencetak 24
gol dan cuma kebobolan satu kali.
Dengan apa yang sedang terjadi itu,
Romanisti mulai percaya pada Garcia dan
mulai kembali memenuhi Olimpico. Dan tentu
saja mereka boleh mulai percaya juga
bahwa scudetto keempat adalah sebuah
keniscayaan. Pertanyaan paling mudah
sekarang adalah, mampukah Roma tampil
konsisten hingga akhir musim?
Untuk sampai pada jawabannya tentu
butuh waktu karena kompetisi masihlah
panjang. Meski demikian, paling tidak
Garcia telah membangkitkan gairah baru
pada Roma, termasuk bahwa Roma juga
bukanlah Totti seorang. Sejauh ini harus
diakui bahwa transformasi yang
dikomandoi Garcia adalah sebuah
kebahagiaan tersendiri buat fans
Giallorossi.
Diubah oleh axysweaty
kembali ke masa jaya gan
gimana kalo roma sampe menang 19 x gan.. emoticon-Cool
tunggu ketemu sama juventus.....emoticon-Blue Guy Cendol (S)

forza juve....
wkwk...
bisa aja argument nya...
pake penyihir...
emoticon-Ngakak (S)
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
Sayang bgt gan totti cidera...padahal ane ngefans ama roma karna ada totti emoticon-Frown

Kira2 tanggal 14 nanti totti dateng ga ya :d
Quote:


Hmmm ROMA sedang dalam tren positif gan..jadi kunjungan roma di tunda..mungkin tahun depan roma ke indonesia...
serigalanya lagi ganas nih..
Quote:


Walah ga jadinya roma ke jkt,padahal udah siaap2 mau nntn ane emoticon-Frown
Forza Roma... Scudetto musim .. Insyaallah...emoticon-Bola
Quote:



We'll see gan... serigala ibukota ato nyonya tua yg berjaya emoticon-Peace
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03
klub paling konsisten... mantap gann.. calon scudeto..
Walaupun ane bukan fans ROMA, mudah2an performanya bisa tetep konsisten sampe akhir musim nanti
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di