alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5270a00f1e0bc3ec1a000003/pengalaman-mengunjungi-kem-markas-tdm-tldm---atm
Pengalaman Mengunjungi Kem (Markas) TDM/TLDM - ATM
Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalang, jauh berjalan luas pemandangan. Berikut dibawah ini ane berbagi sedikit cerita yang ane dapat lihat, dan rasakan ketika mengunjungi kem (markas) TDM di Terendak Melaka, Padang Tembak KL, Jesselton dan Kota Belud, serta Pangkalan TLDM Sepanggar, beberapa tahun lalu:

Quote:
1. Kem (Markas) kebanyakan terletak dipinggiran bahkan diluar kota. Jarang sekali yang terdapat di dalam kota, apalagi pusat kota. Malah Kem Kota Belud (tempat mangkalnya kenderaan lapis baja di Sabah) terletak jauh diluar kota.

2. Kem (Markas) mempunyai banyak tempat perlindungan/bunker, termasuk sarang senapan mesin dan mortar (mortir).

3. Jika Kem tersebut berada di daerah pantai pasti menghadap ke laut, termasuk sarang-sarang SMR dan Mortir tadi.

4. Pegawai Waran ( semacam Bintara Tinggi berpengalaman ) sangat disegani, termasuk dari kalangan perwira.

5. Barak (Perumahan) bersusun bertingkat-tingkat (malah ada yg sampai lebih 10 lantai). Ini bagus menurut saya, bisa menghemat lahan untuk perumahan personil dan keluarganya. Tiap-tiap barak punya nama masing-masing. Misalnya, Kasturi, Lekir, Cemara, Semarak, dan dipisahkan antara barak bujangan dan yang sudah berkeluarga. Mayoritas sih yang bujangan tinggal dalam Kem, karena yang berkeluarga kebanyakan sudah mempunyai rumah sendiri. ( Bantuan Kerajaan/Pemerintah saya akui sangat bagus, membantu mensejahterakan tentaranya. Kemudahan pinjaman dari bank, perumahan, pendidikan, kenderaan, semua bisa didapatkan dengan mudah, tanpa perlu puyeng urus sana sini, pinjam sana sini).

6. Fasilitas sangat lengkap. Termasuk sarana peribadatan, pendidikan, deretan toko, termasuk Supermarket. (Pangkalan TLDM di Sepanggar malah dibangun Giant yang lumayan besar dan banyak deretan toko-toko, pokoknya super lengkap, layaknya sebuah kota kecil).

7. Tidak ada istilah jatah beras, ransum bulanan, ULP, apalagi remunirasi atau gaji 13 seperti di Indonesia. Semuanya langsung didapatkan di gaji tiap bulannya, dan gajinya cukup lumayan.

8. Anggota yang berasal dari Malaysia Timur (Sabah, Sarawak, Labuan) kebanyakannya ditugaskan di Semenanjung. Begitu juga sebaliknya, yang berasal dari Semenanjung kebanyakan ditugaskan di Malaysia Timur. Terlihat disini rotasi yang bagus, kata seorang pegawai (perwira) menjelaskan, “ini dibuat untuk meminimal anggota jadi besar kepala karena bertugas dikampung halamannya sendiri”.

9. Tidak terdapat terdapat tenaga seperti PNS dalam urusan administrasi dan lain-lain. Semua dikerjakan oleh personilnya masing-masing.

10. Untuk anggota Special Force, gaji mereka sama dengan anggota lainnya (menurut kepangkatan). Hanya yang membedakan, anggota SF mendapatkan insentif komando dan spesialisasi. Jadi semakin banyak spesialisasinya, semakin banyak juga insentif yang diterima. Yang sudah tidak “layak” lagi sebagai Komando, ditempatkan sebagai staf dan urusan administrasi.

11. Nama-nama personil SF adalah “rahasia negara”. Tidak boleh diumbar sembarangan, apalagi para perwiranya. Kecuali mungkin untuk hal-hal tertentu.

12.Tidak ada penetapan jangka waktu tertentu untuk kenaikan pangkat. Kalau kita di Indonesia bisa dihitung antara 3 s/d 4 tahun seseorang personil akan naik pangkat, disana tidak ada. Kenaikan pangkat berdasarkan prestasi si prajurit, juga tidak lupa referensi dari perwiranya. Jangan heran kalau ada personil yang sudah berumur 35 tahun masih berpangkat Prebet (Prajurit).

13. Anggota yang melanggar peraturan, indisipliner di dalam Kem ditangani oleh PM. Sedangkan yang berbuat kriminal diluar ditangani oleh PDRM. Hukumnya sama dengan yang diterima oleh warga sipil. Pernah kejadian tentara kedapatan mengutil di Supermarket ditangkap oleh Satpam, hukumannya tetap sama, diproses di Balai (Kantor) Polisi. Jadi sama sekali tidak ada pengecualian. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Antrian di supermarket, antrian di SPBU, antrian dikantor pemerintah, tidak ada yang diistimewakan, meskipun berpakaian uniform lengkap. Kedudukannya mereka tetap sama dengan warga sipil.

14. Berita-berita tentang ATM jarang sekali diliput oleh media. Apalagi menyangkut aspek personil, bahkan nama-nama pejabat selevel danyon, atau chart organisation saja kadang masuk dalam “Top Secret”. Kecuali mungkin memang sengaja di publikasikan, itupun jarang sekali kita dapatkan di Koran-koran, hanya melalui media khusus, semisal majalah internal, majalah Tempur atau Perajurit.

15. Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD) berisikan pribumi melayu semenanjung, melayu Sabah dan Sarawak, dan bisa dipastikan 100 persen muslim. Untuk yang non muslim masuk dalam Rejimen Renjer Diraja (RRD) dan korps lainnya.




Foto/Dokumentasi akan menyusul






Tidak ada salahnya kita meniru jika itu untuk kebaikanemoticon-I Love Indonesia (S)
Kepangkatan dalam TDM
Quote:
Prebet
Koperal
Lans Koperal
Sarjan
Staf Sarjan
Pegawai Waran II (Biasanya jadi Pelatih dan sangat disegani)
Pegawai Waran I (Tingkatan terakhir sebelum naik jadi perwira)
Leftenan Muda (Sumber Perwira dari Bintara, PALAPES, dan Sarjana Muda)
Leftenan (Sumber perwira dari Bintara, dan Sarjana)
Kapten (Sumber perwira dari ATMA dan Leftenan yang naik pangkat)
Mejar
Leftenan Kolonel
Kolonel
Brigadier Jeneral ( Mulai mendapatkan gelar Datuk )
Mejar Jeneral
Leftenan Jeneral ( Mulai mendapatkan gelar Tan Sri )
Jeneral
Fil Marsyal ( Bintang Lima )


Kepangkatan dalam TLDM
Quote:
Laskar Muda
Laskar Kelas II
Laskar Kelas I
Laskar Kanan
Bintara Muda
Bintara Kanan
Pegawai Waran II
Pegawai Waran I
Kadet ( sejenis Taruna AAL )
Pegawai Kadet Kanan ( Sermatar AAL )
Leftenan Muda
Leftenan Madya
Leftenan
Leftenan Komander
Komander
Kapten
Laksamana Pertama
Laksamana Muda
Laksamana Madya
Laksamana
Laksamana Armada ( Bintang Lima )


Kepangkatan dalam TUDM
Quote:
Prajurit Muda ( Rekrut )
Laskar Udara Kelas II
Laskar Udara Kelas I
Laskar Udara Kanan
Sarjan Udara
Flight Sarjan
Pegawai Waran II
Pegawai Waran I
Leftenan Muda TUDM
Leftenan TUDM
Kapten TUDM
Mejar TUDM
Leftenan Kolonel TUDM
Kolonel TUDM
Brigadier Jeneral TUDM
Mejar Jeneral TUDM
Leftenan Jeneral TUDM
Jeneral TUDM
Marsyal TUDM ( Bintang Lima )

kalau yang saya tangkap organisasi mereka terkesan efisien, seperti tidak adanya PNS di militer mereka, jadi semua bisa diberdayakan.

TNI boleh tuh meniru
Quote:2. Kem (Markas) mempunyai banyak tempat perlindungan/bunker, termasuk sarang senapan mesin dan mortar (mortir).

3. Jika Kem tersebut berada di daerah pantai pasti menghadap ke laut, termasuk sarang-sarang SMR dan Mortir tadi.

kita ga ada
Quote:
4. Pegawai Waran ( semacam Bintara Tinggi berpengalaman ) sangat disegani, termasuk dari kalangan perwira.

disini lebih takut ke perwira emoticon-Big Grin
Quote:
5. Barak (Perumahan) bersusun bertingkat-tingkat (malah ada yg sampai lebih 10 lantai). Ini bagus menurut saya, bisa menghemat lahan untuk perumahan personil dan keluarganya. Tiap-tiap barak punya nama masing-masing. Misalnya, Kasturi, Lekir, Cemara, Semarak, dan dipisahkan antara barak bujangan dan yang sudah berkeluarga. Mayoritas sih yang bujangan tinggal dalam Kem, karena yang berkeluarga kebanyakan sudah mempunyai rumah sendiri. ( Bantuan Kerajaan/Pemerintah saya akui sangat bagus, membantu mensejahterakan tentaranya. Kemudahan pinjaman dari bank, perumahan, pendidikan, kenderaan, semua bisa didapatkan dengan mudah, tanpa perlu puyeng urus sana sini, pinjam sana sini).

indonesia sangat luas, baru jekardah n sulabaya yang ditingkat/susun. rumah dan kendaraan??bagai langit n bumi. disini KPR KKB aja maksimal 15 taon (rumah) dan 5 taon (mubil) mana bunga tinggi amat, sono rumah bisa 20 taon lebih dan mubil 8 taonan (proton) serta bunga murah kalee emoticon-Frown
Quote:
6. Fasilitas sangat lengkap. Termasuk sarana peribadatan, pendidikan, deretan toko, termasuk Supermarket. (Pangkalan TLDM di Sepanggar malah dibangun Giant yang lumayan besar dan banyak deretan toko-toko, pokoknya super lengkap, layaknya sebuah kota kecil).

kalo disini ada celetukan, tentara itu orang bodo anak turunnya juga bodo karena di asrama minim fasilitas emoticon-Big Grin apalagi dipedalaman emoticon-Ngacir
Quote:
7. Tidak ada istilah jatah beras, ransum bulanan, ULP, apalagi remunirasi atau gaji 13 seperti di Indonesia. Semuanya langsung didapatkan di gaji tiap bulannya, dan gajinya cukup lumayan.

sedang disusun konsep single salary....
Quote:
8. Anggota yang berasal dari Malaysia Timur (Sabah, Sarawak, Labuan) kebanyakannya ditugaskan di Semenanjung. Begitu juga sebaliknya, yang berasal dari Semenanjung kebanyakan ditugaskan di Malaysia Timur. Terlihat disini rotasi yang bagus, kata seorang pegawai (perwira) menjelaskan, “ini dibuat untuk meminimal anggota jadi besar kepala karena bertugas dikampung halamannya sendiri”.

ga ada duit
Quote:
9. Tidak terdapat terdapat tenaga seperti PNS dalam urusan administrasi dan lain-lain. Semua dikerjakan oleh personilnya masing-masing.

politis
Quote:
10. Untuk anggota Special Force, gaji mereka sama dengan anggota lainnya (menurut kepangkatan). Hanya yang membedakan, anggota SF mendapatkan insentif komando dan spesialisasi. Jadi semakin banyak spesialisasinya, semakin banyak juga insentif yang diterima. Yang sudah tidak “layak” lagi sebagai Komando, ditempatkan sebagai staf dan urusan administrasi.

sama aja cuma namanya tunjangan brevet dimari. masalahnya tunjangan brevet sejak jaman dolo sampe sekarang besarannya ga pernah naik emoticon-Big Grin
Quote:
11. Nama-nama personil SF adalah “rahasia negara”. Tidak boleh diumbar sembarangan, apalagi para perwiranya. Kecuali mungkin untuk hal-hal tertentu.

di fb banyak kalo dimari emoticon-Big Grin
Quote:
12.Tidak ada penetapan jangka waktu tertentu untuk kenaikan pangkat. Kalau kita di Indonesia bisa dihitung antara 3 s/d 4 tahun seseorang personil akan naik pangkat, disana tidak ada. Kenaikan pangkat berdasarkan prestasi si prajurit, juga tidak lupa referensi dari perwiranya. Jangan heran kalau ada personil yang sudah berumur 35 tahun masih berpangkat Prebet (Prajurit).

sama aja disini juga kalo bermasalah udah pasti ga naik pangkat emoticon-Embarrassment
Quote:
13. Anggota yang melanggar peraturan, indisipliner di dalam Kem ditangani oleh PM. Sedangkan yang berbuat kriminal diluar ditangani oleh PDRM. Hukumnya sama dengan yang diterima oleh warga sipil. Pernah kejadian tentara kedapatan mengutil di Supermarket ditangkap oleh Satpam, hukumannya tetap sama, diproses di Balai (Kantor) Polisi. Jadi sama sekali tidak ada pengecualian. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Antrian di supermarket, antrian di SPBU, antrian dikantor pemerintah, tidak ada yang diistimewakan, meskipun berpakaian uniform lengkap. Kedudukannya mereka tetap sama dengan warga sipil.

no komeng
Quote:
14. Berita-berita tentang ATM jarang sekali diliput oleh media. Apalagi menyangkut aspek personil, bahkan nama-nama pejabat selevel danyon, atau chart organisation saja kadang masuk dalam “Top Secret”. Kecuali mungkin memang sengaja di publikasikan, itupun jarang sekali kita dapatkan di Koran-koran, hanya melalui media khusus, semisal majalah internal, majalah Tempur atau Perajurit.

well, gw pernah denger gini, "indonesia kalo ga ada chart/poto pejabat di website mah ga seru....."
Quote:
15. Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD) berisikan pribumi melayu semenanjung, melayu Sabah dan Sarawak, dan bisa dipastikan 100 persen muslim. Untuk yang non muslim masuk dalam Rejimen Renjer Diraja (RRD) dan korps lainnya.

no komeng juga emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By binbin1979
kalau yang saya tangkap organisasi mereka terkesan efisien, seperti tidak adanya PNS di militer mereka, jadi semua bisa diberdayakan.

TNI boleh tuh meniru


Saya malah menggaris bawahi perlakuan public kepada militernya. Tidak ada kesan-kesan arogan, atau mungkin memang sudah doktrinya begitu ya?. Perlakuan untuk fasilitas umum sama dengan sipil, tidak terkesan mau didulukan, malah terkesan "dicuekin" oleh sipilnya.

Soal kriminalitas dan pelanggaran juga menjadi perhatian ane. Jika terjadi didalam, PM yang menangani. Jika diluar komplek, itu jadi tanggungjawab PDRM. Hukumannya juga sama dengan yang diterima sipil, malah ada tambahan lagi lagi Pengadilan Militer.

Contoh ane lihat di Center Point (Mall terbesar di Kota Kinabalu). Tentara (berpakaian sipil) masing kongkow-kongkow (malam minggu) hingga larut malam di di trotoar, padahal mall dah tutup. Lantas siapa yang bubabrin mereka? Polisi/Polisi Bantuan! Semua menurut, tidak ada bantahan. Ya paling mungkin cuma ngedumel, lantas balik kanan ke Kem.
Oalah Kem itu mksdnya camp toh...
jadi intinya komplek militer disana lebih bagus dr kita terutama dr tata letak yg jauh dr hunian warga sipil...
Sebetulnya dulu sih disini komplek2 militernya bener steril dr sipil cmn karena prtambahan pnduduk bnyak yg jadi mepet dgn rumah warga, malah skrg ada mall yg dbngun di dkt komplek militer, contoh kodam V deket S*tos...
Trus contoh yg laen komplek marinir gunungsari dulu pas ane masih kecil paling takut lewat situ malem,selain gelap,rada2 serem (karena rada mistis jg banyak personel yg masang muka angker emoticon-Peace ) tp skrg uda brubah smnjak dijadiin jalan tmbusan ke kmplek prumahan mewah n mall... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By kabei

sama aja disini juga kalo bermasalah udah pasti ga naik pangkat emoticon-Embarrassment


Tapi bisa tanpa prestasi naik pangkat. Yang lulusan Akmil, jalanin saja perintah sesuai job nya, jangan macem2, jangan buat masalah, nanti jika sampai waktunya, pangkat akan naik sendiri, meski tanpa prestasi dan kerjanya cuma "makan tidur di batalyon". Ini banyak terjadi.

Quote:1. Kem (Markas) kebanyakan terletak dipinggiran bahkan diluar kota. Jarang sekali yang terdapat di dalam kota, apalagi pusat kota. Malah Kem Kota Belud (tempat mangkalnya kenderaan lapis baja di Sabah) terletak jauh diluar kota.

naahhh ini dia yg saya amati belakangan ini..di Indonesia kebanyakan markas/barak tentara dekat dengan pemukiman penduduk,pemukiman padat lagi (apalagi Jakarta dan Bandung dan Cimahi)..padahal kalau terjadi perang, markas militer itu adalah target yang sah..kebayang kan collateral damage-nya kalo markas tsb dibom dr udara?? emoticon-Hammer
Quote:Original Posted By samuel.tirta

Tapi bisa tanpa prestasi naik pangkat. Yang lulusan Akmil, jalanin saja perintah sesuai job nya, jangan macem2, jangan buat masalah, nanti jika sampai waktunya, pangkat akan naik sendiri, meski tanpa prestasi dan kerjanya cuma "makan tidur di batalyon". Ini banyak terjadi.



tetep aja ga semua lulusan akmil jadi jendral kan?
yang pengsiun letkol juga seabreg, yang dipecat juga ga dikit emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By samuel.tirta


Saya malah menggaris bawahi perlakuan public kepada militernya. Tidak ada kesan-kesan arogan, atau mungkin memang sudah doktrinya begitu ya?. Perlakuan untuk fasilitas umum sama dengan sipil, tidak terkesan mau didulukan, malah terkesan "dicuekin" oleh sipilnya.

Soal kriminalitas dan pelanggaran juga menjadi perhatian ane. Jika terjadi didalam, PM yang menangani. Jika diluar komplek, itu jadi tanggungjawab PDRM. Hukumannya juga sama dengan yang diterima sipil, malah ada tambahan lagi lagi Pengadilan Militer.

Contoh ane lihat di Center Point (Mall terbesar di Kota Kinabalu). Tentara (berpakaian sipil) masing kongkow-kongkow (malam minggu) hingga larut malam di di trotoar, padahal mall dah tutup. Lantas siapa yang bubabrin mereka? Polisi/Polisi Bantuan! Semua menurut, tidak ada bantahan. Ya paling mungkin cuma ngedumel, lantas balik kanan ke Kem.


Ini kan yang jadi acuan agan sylvia rafael di trit apa gitu. lupa gw. dimana sipil yang pegang kendali (supremasi sipil) ya harusnya seperti itu. tengtara tunduk pada sipil (pulisi). kalo indonesia menurut agan sylvia kan masih negara "rada" militeristik (atau sipil banci emoticon-Big Grin ). Dimana tengtara masih dianggap dewa dan sipil "menjura" kepadanya. emoticon-Big Grin

Pembahasan menarik kalo ditarik studi kasus negara sipil Malaysia vs negara "sipil" Indonesia emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By nylekamin
naahhh ini dia yg saya amati belakangan ini..di Indonesia kebanyakan markas/barak tentara dekat dengan pemukiman penduduk,pemukiman padat lagi (apalagi Jakarta dan Bandung dan Cimahi)..padahal kalau terjadi perang, markas militer itu adalah target yang sah..kebayang kan collateral damage-nya kalo markas tsb dibom dr udara?? emoticon-Hammer


justru bisa menjadi alasan pelanggaran HAM kalo musuh salah menyasar perkampungan sipil, shg akhirnya musuh dpt tekanan dari dunia internasional emoticon-Big Grin

menarik soal adanya bunker di kem TLDM, di Indonesia markas tdk perlu bunker, bunker just for noob emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By nylekamin


naahhh ini dia yg saya amati belakangan ini..di Indonesia kebanyakan markas/barak tentara dekat dengan pemukiman penduduk,pemukiman padat lagi (apalagi Jakarta dan Bandung dan Cimahi)..padahal kalau terjadi perang, markas militer itu adalah target yang sah..kebayang kan collateral damage-nya kalo markas tsb dibom dr udara?? emoticon-Hammer


Sekitar tahun 2007 pernah ada master plan untuk memindahkan semua markas tentara (kecuali Kodam Jaya dan Garnisun) di Jakarta ke kawasan Jaktim. Jadi ceritanya disatuin dan dipusatkan.Entah sekarang tidak terealisasi, mungkin terbentur masalah klasik...dana.

Quote:Original Posted By kabei


tetep aja ga semua lulusan akmil jadi jendral kan?
yang pengsiun letkol juga seabreg, yang dipecat juga ga dikit emoticon-Big Grin


Saya malah menyoroti "jalan tol" dari Letda ke Kapten. Kalau sudah diatasnya, jelas prestasi dan kompetensi di kedepankan.

thanks komenya. mantabemoticon-I Love Indonesia (S)

kalo masalah non teknis , malon layak di tiru emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By nylekamin


naahhh ini dia yg saya amati belakangan ini..di Indonesia kebanyakan markas/barak tentara dekat dengan pemukiman penduduk,pemukiman padat lagi (apalagi Jakarta dan Bandung dan Cimahi)..padahal kalau terjadi perang, markas militer itu adalah target yang sah..kebayang kan collateral damage-nya kalo markas tsb dibom dr udara?? emoticon-Hammer


Mungkin di sini kebanyakan kasusnya kebalik .... pemukimannya yg justru dibangun terlalu dekat dg markas/barak tentara. Spt kasus lanud/bandara2 yg sekarang dikelilingi pemukiman padat ... lanudnya yg diprotes kan?
Quote:Original Posted By samuel.tirta


Sekitar tahun 2007 pernah ada master plan untuk memindahkan semua markas tentara (kecuali Kodam Jaya dan Garnisun) di Jakarta ke kawasan Jaktim. Jadi ceritanya disatuin dan dipusatkan.Entah sekarang tidak terealisasi, mungkin terbentur masalah klasik...dana.


kalo lahan markas tentara yg akan dipindahkan tsb dijual lalu uangnya digunakan untuk membangun markas baru,kira2 bisa nutup biayanya ga mas?? kan lahan ditengah kota tinggi tuh harganya..

meskipun yg lama belum dipindahkan,moga aja pembuatan markas baru bisa lebih memperhatikan aspek ini...emoticon-I Love Indonesia (S)

Quote:Original Posted By gomud13


Mungkin di sini kebanyakan kasusnya kebalik .... pemukimannya yg justru dibangun terlalu dekat dg markas/barak tentara. Spt kasus lanud/bandara2 yg sekarang dikelilingi pemukiman padat ... lanudnya yg diprotes kan?


nahh maka itu harusnya ada perencanaan yg matang sebelum bikin markas..kira2 akan seperti apa lingkungan apa sekitar, kalo diprediksi akan bakalann jauhhh lebih padat yaaa mending gausah bangun disitu..
Quote:Original Posted By gomud13
Mungkin di sini kebanyakan kasusnya kebalik .... pemukimannya yg justru dibangun terlalu dekat dg markas/barak tentara. Spt kasus lanud/bandara2 yg sekarang dikelilingi pemukiman padat ... lanudnya yg diprotes kan?


sejauh yang saya perhatikan juga begitu... sama halnya dengan penjara, kilang minyak, dan fasilitas2 lainnya yg emang sepantasnya jauh dari pemukiman...
Quote:Original Posted By morokembang


Ini kan yang jadi acuan agan sylvia rafael di trit apa gitu. lupa gw. dimana sipil yang pegang kendali (supremasi sipil) ya harusnya seperti itu. tengtara tunduk pada sipil (pulisi). kalo indonesia menurut agan sylvia kan masih negara "rada" militeristik (atau sipil banci emoticon-Big Grin ). Dimana tengtara masih dianggap dewa dan sipil "menjura" kepadanya. emoticon-Big Grin

Pembahasan menarik kalo ditarik studi kasus negara sipil Malaysia vs negara "sipil" Indonesia emoticon-Big Grin


Setelah melihat itu semua, ane langsung berpikir ke "proses kelahiran" tentara negara masing2 dan doktrin yang dianut. TNI lahir dari rakyat, dengan proses mula-mula"asal jadi", ini dimaklumkan karena situasi ketika itu, dimana tuntutan perang kemerdekaan dan mengusir penjajah dikedepankan. Sedangkan ATM lahir dari proses yang teratur, melalui tes, seleksi dan tingkat-tingkat pemantauan oleh Inggris yang menjajah mereka.

Quote:Original Posted By jokogudel


justru bisa menjadi alasan pelanggaran HAM kalo musuh salah menyasar perkampungan sipil, shg akhirnya musuh dpt tekanan dari dunia internasional emoticon-Big Grin

menarik soal adanya bunker di kem TLDM, di Indonesia markas tdk perlu bunker, bunker just for noob emoticon-Embarrassment


Bungker lengkap dengan tabung pemadam kebakaran, first aid kit dan tentunya senapan mesin.

Quote:Original Posted By gomud13


Mungkin di sini kebanyakan kasusnya kebalik .... pemukimannya yg justru dibangun terlalu dekat dg markas/barak tentara. Spt kasus lanud/bandara2 yg sekarang dikelilingi pemukiman padat ... lanudnya yg diprotes kan?


Seharusnya, area lanud dan markas-markas militer beberapa radius steril dari penempatan sipil, kalau mengikut aturan tuntutan profesionalisme kemiliteran.

Quote:Original Posted By nylekamin


kalo lahan markas tentara yg akan dipindahkan tsb dijual lalu uangnya digunakan untuk membangun markas baru,kira2 bisa nutup biayanya ga mas?? kan lahan ditengah kota tinggi tuh harganya..

meskipun yg lama belum dipindahkan,moga aja pembuatan markas baru bisa lebih memperhatikan aspek ini...emoticon-I Love Indonesia (S)

Pendapat ini juga pernah diusulkan dulu, cukup logis memang. Tapi di dikalahkan oleh argumen tentang keberadaan markas-markas lama yang bernilai sejarah tinggi, sayang katany kalau harus di jual, sisi hostorisnya tinggi.

nahh maka itu harusnya ada perencanaan yg matang sebelum bikin markas..kira2 akan seperti apa lingkungan apa sekitar, kalo diprediksi akan bakalann jauhhh lebih padat yaaa mending gausah bangun disitu..


Pernah ada yang mengusulkan seperti ini, cukup logis memang jika dipikir. Namun dikalahkan oleh argumen tentang markas-markas lama yang bernilai sejarah tinggi. Sayang katanya jika harus di hilangkan dan dijual lahannya. Sisi historis dikedepankan daripada efisiensi.
Quote:Original Posted By samuel.tirta

Tapi bisa tanpa prestasi naik pangkat. Yang lulusan Akmil, jalanin saja perintah sesuai job nya, jangan macem2, jangan buat masalah, nanti jika sampai waktunya, pangkat akan naik sendiri, meski tanpa prestasi dan kerjanya cuma "makan tidur di batalyon". Ini banyak terjadi.

so damn true emoticon-Big Grin

Quote:Original Posted By nylekamin


naahhh ini dia yg saya amati belakangan ini..di Indonesia kebanyakan markas/barak tentara dekat dengan pemukiman penduduk,pemukiman padat lagi (apalagi Jakarta dan Bandung dan Cimahi)..padahal kalau terjadi perang, markas militer itu adalah target yang sah..kebayang kan collateral damage-nya kalo markas tsb dibom dr udara?? emoticon-Hammer


sebenarnya dulunya ya pinggiran, cuma karena pengembangan pemukiman & kota ya akhirnya masuk Kota juga, persoalan lain adalah 'warisan" orba di mana militer berpolitik praktis sehingga harus dekat kota emoticon-Big Grin sekarang mau mindahin misalnya markas Kodam ke pinggiran lagi juga duite sopo?
Satuan Radar kita juga banyak yg di pinggiran-pinggiran

Quote:Original Posted By morokembang

Pembahasan menarik kalo ditarik studi kasus negara sipil Malaysia vs negara "sipil" Indonesia emoticon-Big Grin


Kita ini diwarisi sejarah dimana dwifungsi ABRI berlangsung sejak era Soekarno....dwifungsi sekarang "tidak ada" lagi, tapi merubah kultur itu butuh proses yg cukup panjang, apalagi sipil sendiri juga kerap menarik-narik militer utk naik gelanggang emoticon-Cape d... (S)

di luar kejaguhannya, malay juga punya sisi positif yg harus kita contoh...cerita teman yg pernah main ke pangkaan udaranya, di tiap lanud juga disediakan titik-titik penempatan senjata hanud...di kita?

nice threat anyway, apalagi kalau ada foto nya emoticon-Cendol (S)
Quote:Original Posted By airmaniac
so damn true emoticon-Big Grin



sebenarnya dulunya ya pinggiran, cuma karena pengembangan pemukiman & kota ya akhirnya masuk Kota juga, persoalan lain adalah 'warisan" orba di mana militer berpolitik praktis sehingga harus dekat kota emoticon-Big Grin sekarang mau mindahin misalnya markas Kodam ke pinggiran lagi juga duite sopo?
Satuan Radar kita juga banyak yg di pinggiran-pinggiran



Kita ini diwarisi sejarah dimana dwifungsi ABRI berlangsung sejak era Soekarno....dwifungsi sekarang "tidak ada" lagi, tapi merubah kultur itu butuh proses yg cukup panjang, apalagi sipil sendiri juga kerap menarik-narik militer utk naik gelanggang emoticon-Cape d... (S)

di luar kejaguhannya, malay juga punya sisi positif yg harus kita contoh...cerita teman yg pernah main ke pangkaan udaranya, di tiap lanud juga disediakan titik-titik penempatan senjata hanud...di kita?

nice threat anyway, apalagi kalau ada foto nya emoticon-Cendol (S)


Sayang, ane tidak berkesempatan berkunjung ke pangkalan lanud nya. Satu lagi yang ane lihat, markas-markas militer disana tidak asal buat lokasinya. Pembangunannya mengikut sertakan juga plan melindungi aset-aset ekonomi dan fasilitas bernilai tinggi.

Contohnya Pangkalan TLDM di Sepanggar. Disamping cover area Malaysia Timur, juga melindungi aset-aset minyak, PLTU Sepanggar, serta pulau-pulau pariwisata yang banyak tersebar diperairannya.

Foto nanti menyusul, mau diedit seperlunya duluemoticon-I Love Indonesia (S)
terima kasih komenya ganemoticon-I Love Indonesia (S)