alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/526c2acbfcca178058000004/berkunjung-ke-pulau-sebatik-nkri-rasa-malaysia
Berkunjung ke Pulau Sebatik, NKRI Rasa Malaysia.
Tinggal di Negeri Jiran, Jiwa Tetap Merah Putih.

Berkunjung ke Pulau Sebatik, NKRI Rasa Malaysia.

WARGA di kawasan perbatasan tidak selamanya merana. Meski tanpa suplai kebutuhan hidup dan fasilitas dari pemerintah Indonesia, mereka tetap hidup bahagia.

Misalnya, yang dilakoni warga di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus "mengimpor" dari Tawau, Malaysia.
-----------
BAYU PUTRA, Nunukan
-----------
Pulau Sebatik terletak di perbatasan dengan Malaysia. Posisinya cukup terpencil. Sebelah utara pulau itu menjadi wilayah negara bagian Sabah, Malaysia. Sebelah selatan menjadi bagian dari wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Meski begitu, pulau tersebut lebih mudah dijangkau dari Tawau, Malaysia, jika dibanding dari Tarakan, ibu kota Kaltara.

Jalur laut menjadi satu-satunya akses ke pulau berpenduduk sekitar 14 ribu jiwa itu. Butuh waktu dua setengah jam berlayar dengan kapal patroli bea dan cukai berkecepatan rata-rata 18 knot dari Pulau Nunukan di sisi barat ke Pulau Sebatik. Jika berlayar dari Tarakan dengan kecepatan yang sama, butuh waktu 6"7 jam perjalanan. Bergantung kondisi cuaca.

Pulau tersebut memiliki satu perkampungan yang menjadi objek wisata, yakni perkampungan di pos perbatasan Aji Kuning. Ya, pulau seluas 414 kilometer persegi itu memang dibelah menjadi dua wilayah: Indonesia dan Malaysia.

Perkampungan warga di kawasan perbatasan Aji Kuning sekilas tampak sama dengan perkampungan lain di pulau tersebut. Rumah-rumah panggung dari kayu, jalanan kampung yang belum diaspal, ditambah sebuah pos jaga perbatasan yang berisi tiga tentara dari TNI-AD menjadi pemandangan keseharian.

Di kampung tersebut terdapat sungai kecil yang secara alamiah merupakan batas antara Indonesia dan Malaysia. Dengan lebar yang hanya sekitar 6 meter, di tepi sungai yang airnya makin dangkal itu tampak beberapa sampan milik warga setempat. Keberadaan sampan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan di Pulau Sebatik tidak lepas dari hutan dan sungai.

Memang, tidak banyak warga yang menggunakan sampan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Sebagian besar beralih ke transportasi darat. Terlebih, jalan raya di Pulau Sebatik, meski tidak terlalu lebar, terbilang mulus.

"Di pulau ini ada tiga pabrik aspal. Tapi, batu kerikilnya harus mengambil dari Tawau," terang Rudi, sopir yang mengantar Jawa Pos menuju Aji Kuning. Tawau merupakan kota di negara bagian Sabah, Malaysia, yang terletak di ujung timur laut Pulau Kalimantan.

Prajurit Kepala Yopi, salah seorang tentara penjaga di pos perbatasan Sebatik, menunjukkan kepada Jawa Pos patok batas negara yang berada sekitar 10 meter dari bibir sungai. Patok tersebut kini nyaris rata dengan tanah. Terbuat dari beton berukuran 30 x 30 sentimeter, patok nomor tiga di antara total 28 patok perbatasan di Sebatik tersebut hanya muncul 2 sentimeter dari tanah yang sudah mengering.

Lima meter di samping patok tersebut, didirikan patok baru yang sekaligus menjadi alas tiang bendera di pos penjagaan. Di tiang setinggi 3 meter itulah bendera Merah Putih berkibar mengikuti tiupan angin.

"Garis batas Indonesia dan Malaysia di pulau ini berbentuk garis lurus yang ditandai patok-patok ini," jelasnya sambil menunjukkan patok-patok tersebut. Jarak antarpatok perbatasan sekitar 2 kilometer.

Pemandangan yang tidak biasa bagi sebagian masyarakat Indonesia tampak di belakang pos penjaga perbatasan. Di lahan yang seharusnya sudah masuk wilayah Malaysia itu, tampak deretan rumah panggung yang ditinggali warga Indonesia. Sejumlah rumah lainnya berdiri di seberang sungai kecil yang sudah masuk wilayah Malaysia. Rumah-rumah tersebut juga ditinggali warga Indonesia.

"Ada 15 kepala keluarga di kampung ini yang tinggal di wilayah Malaysia," ujar Anwar, salah seorang warga yang tinggal tepat di belakang pos penjaga perbatasan itu.

Mereka tinggal menyebar hingga radius beberapa puluh meter dari patok perbatasan. Puluhan tahun lamanya mereka bermukim di negeri jiran tanpa gangguan keamanan maupun administrasi keimigrasian. Tentara Diraja Malaysia tidak pernah mempermasalahkan keberadaan warga Indonesia di wilayah mereka.

"Saya sudah 27 tahun tinggal di sini. Tidak pernah sekalipun ditegur, apalagi diusir tentara Diraja Malaysia. Mereka baik-baik," tutur Anwar.

"Kalau mereka berkunjung ke rumah, sering. Tapi biasa saja. Paling cuma mau ngecek patok," tambahnya.

Selebihnya, tentara penjaga perbatasan itu hanya mengajak ngobrol ngalor-ngidul untuk mengusir rasa bosan. Maklum, tidak banyak warga Malaysia yang tinggal di Sebatik. Salah seorang tentara perbatasan menyebutkan, hanya ada dua keluarga sipil Malaysia yang tinggal di Sebatik. Selebihnya adalah tentara Malaysia dan warga Indonesia.

Anwar menyatakan, meski tinggal di wilayah Malaysia, tidak sekalipun dirinya ingin menjadi warga negara tersebut. "Ini negara (Indonesia) tumpah darah saya," tegasnya.

Lagi pula, 12 anak dari lima istrinya juga tinggal di Indonesia. Sudah banyak anaknya yang mentas dan bekerja di provinsi lain di wilayah Indonesia.

Menurut pria 60 tahun itu, hidup di Sebatik tidaklah begitu sulit seperti yang dibayangkan orang. Meskipun, perhatian pemerintah Indonesia sangat minim terhadap warganya di pulau perbatasan tersebut. Kalaupun ada satu hal yang sulit, itu adalah minimnya fasilitas kesehatan di pulau tersebut. Hanya ada dua puskesmas dan beberapa klinik sederhana.

Karena itu, jika ada warga yang sakit parah dan harus berobat ke luar negeri, mereka mesti dibawa ke Tawau, Malaysia. Jaraknya hanya 8 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu sejam pelayaran.

Warga Sebatik tidak pernah mengalami kesulitan untuk pergi ke Tawau. Mereka memiliki kartu pelintas batas yang memungkinkan WNI bepergian ke kota kecil itu kapan pun. Namun, sebatas di Tawau. Di luar itu, mereka harus menunjukkan paspor.

Tentara Diraja Malaysia pun cukup toleran. Jika ada pasien gawat darurat dari Indonesia dan harus dibawa ke Tawau, kartu pelintas batas tidak perlu ditunjukkan.

Warga Sebatik mengakui, layanan RS di Tawau sangat bagus dan biayanya murah. "Kalau di sini (Sebatik), obatnya tidak mempan," tutur Anwar. Tidak jarang anak-anak Pulau Sebatik lahir di RS Tawau, yang berarti mereka dilahirkan di Malaysia.

Di luar persoalan fasilitas kesehatan, tidak banyak hal yang dikeluhkan warga. Semua kebutuhan sehari-hari tercukupi dengan membelinya di Malaysia. Mulai gas elpiji, beras, minyak, dan komoditas-komoditas penting lainnya. Para pedagang menggunakan kartu pelintas batas untuk kulakan di Tawau.

Anwar sehari-hari bekerja sebagai petani. Buah-buahan yang dihasilkan di kebun dia jual ke Malaysia dan ditukar dengan barang kebutuhan pokok. "Kalau ada barang dari Indonesia, pasti sudah habis dulu di Tarakan," lanjutnya. Karena itu, dia sudah tidak berharap ada suplai dari Indonesia.

Bagi Anwar, dan juga warga Sebatik lainnya, yang terpenting jangan sampai suatu saat muncul larangan membeli kebutuhan pokok dari Malaysia seperti yang selama ini mereka lakukan. Kecuali, pemerintah bisa menjamin ketersediaan komoditas Indonesia di pulau itu.

Anwar berkisah, sekitar lima tahun lalu ada salah seorang pejabat dari Jakarta yang datang ke Sebatik. Lalu, pejabat tersebut mewacanakan larangan membeli barang dari Malaysia. Tentu saja wacana itu ditolak warga. Setelah dijelaskan, pejabat tersebut mencabut kata-katanya. "Kalau dilarang masuk, mau makan apa di sini" Semua dari sana," ucapnya.

Menurut dia, pemerintah tidak seharusnya melarang mereka berdagang dengan warga Tawau. Sebagian besar warga Tawau adalah orang Indonesia. Rata-rata berasal dari Sulawesi Selatan. Bahkan, pemimpin kota tersebut, ujar Anwar, merupakan keturunan Gowa, Sulsel.

"Pada zaman pemerintahan Soekarno dulu, Tawau merupakan bagian dari Indonesia. Sekarang sudah jadi wilayah Malaysia."

Anwar berharap pemerintah mau membantu memperbaiki rumah warga Sebatik yang kebanyakan semipermanen.

"Harapan kami tidak tinggi-tinggi. Kami hanya ingin pemerintah Indonesia lebih memperhatikan nasib warganya di perbatasan. Khususnya soal permukiman yang kurang layak ini," tegasnya. (*/c5/ari)

========================================================

Sumber = http://www.jpnn.com/index.php?mib=be...detail&id=1958

Semoga...
masyarakat sebatik sudah sgt nyaman bertetangga dgn Tawau, jgn dibuat aturan macam2 yg malah menyulitkan kehidupan masyarakat dsana. kecuali pemerintah sudah bisa menjamin ketersediaan kbutuhan sandang pangan n ksehatan masyarakat sebatik. jgn ragukan nasionalisme mereka, sejak dulu mereka adalah pejuang.....
ironis?yg letaknya cuma beberapa puluh kilo dri ibukota saja masih miris, gimana yg di pinggir indonesia...emoticon-Embarrassment
btw tahun depan babeh sibuk pemilu, jadi yg di pinggir indonesia harap maklum, kami harus pencitraan dulu buat yg di sekitar ibukota biar kalo diliput media nilainya bagus emoticon-Smilie
nanti setalh 2014, kalo partai babeh berikutnya uda kuat doain bisa mampir ya, tpi kayaknya tetap mampir doank dengan janji saja kok emoticon-Big Grin

negara ini ngurus data penduduk aja masih amburadul (ktp) gimana mau ngurus perut penduduk emoticon-Bingung
Untuk mereka yang tinggal diperbatasan yang semuanya serba terbatas...kebutuhan hidup didapat dari negeri jiran itu wajar...jangan dipermasalahkan...diriau pesisir aja seperti siak,bengkalis dan dumai...produk2 negeri jiran masih membanjiri pasar.untuk masalah berobat yang punya uang lebih memilih ke malaka dari pada pekanbaru....alasannya ya layanan rumah sakit yang jauh lebih baik dan biay yang murah.
Quote:Lagi pula, 12 anak dari lima istrinya juga tinggal di Indonesia. Sudah banyak anaknya yang mentas dan bekerja di provinsi lain di wilayah Indonesia.
wow emoticon-Big Grin
*tinggal dibatas negeri tapi tetep merah putih ditengah keterbatasan???
Quote:Original Posted By kabei
wow emoticon-Big Grin
*tinggal dibatas negeri tapi tetep merah putih ditengah keterbatasan???
....
apa ini yg dinamakan simbol warga yg nasionalisme mbah...emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By kabei

wow emoticon-Big Grin
*tinggal dibatas negeri tapi tetep merah putih ditengah keterbatasan???


Keterbatasan ekonomi tidak mengurangi nafsu birahi ya mbah bei emoticon-Big Grin
mirisemoticon-Malu (S)
Anwar berkisah, sekitar lima tahun lalu ada salah seorang pejabat dari Jakarta yang datang ke Sebatik. Lalu, pejabat tersebut mewacanakan larangan membeli barang dari Malaysia. Tentu saja wacana itu ditolak warga. Setelah dijelaskan, pejabat tersebut mencabut kata-katanya. "Kalau dilarang masuk, mau makan apa di sini" Semua dari sana," ucapnya.

Yang dibutuhkan adalah perhatian dari Pemerintah.

Ngakak 

Quote:Original Posted By bendo.123
Anwar berkisah, sekitar lima tahun lalu ada salah seorang pejabat dari Jakarta yang datang ke Sebatik. Lalu, pejabat tersebut mewacanakan larangan membeli barang dari Malaysia. Tentu saja wacana itu ditolak warga. Setelah dijelaskan, pejabat tersebut mencabut kata-katanya. "Kalau dilarang masuk, mau makan apa di sini" Semua dari sana," ucapnya.

Yang dibutuhkan adalah perhatian dari Pemerintah.


Gula Pasir Malay Yang DiSubsidi Kerajaannya ,..Kualitasnya Jauh Lebih Bagus dan Harga Lebih Murah Dari Gula Lampung Yang Berwarna Kuning Kemerah2an.

Itu Baru 1 Contoh Perbandingan Kualitas Barang , Belum Yang Lain.

Sama Dgn Omongan Nafsiah Emboy (MenKes) : Triliunan Devisa Lari Ke Malay & S'Pore , Krn Masyarakat Lebih Memilih Berobat Ke Malay & S'Pore.

DariPada Elu Mewek Gak Karuan2 ,...Hadirkan Saja Rumah Sakit Terpadu Dgn Pelayanan Yang Bagus , Serta Kualitas Dokter Yang Mumpuni.

Pertanyaannya : Bisa Gak ?emoticon-Ngakak



Dulu pernah 6 bulan disini nih.
Pos Pamtas TNI ga begitu jauh dari Pos Polis Marin/ATM. Malam lebaran pernah kita "perang" meriam bambu heheemoticon-I Love Indonesia (S)

Pulau Sebatik ini memang terbagi dua, wilayah Indonesia dan Malaysia. Hampir 90 persen kebutuhan sehari-hari penduduk dapat supply dari Tawau. Disamping kualitas bahan pokok dari seberang lebih bagus, juga faktor kondisi geografis yang lebih dekat. Mau beli barang, nawar harga, bisa rupiah dan ringgit. Malah banyak rumah-rumah penduduk yang berada digaris perbatasan, seperti teras/ruang tamu di Indonesia, dapur di wilayah malaysia. Itu sudah jadi biasa disana. Ironis? mungkin, tapi taraf kehidupan penduduk perbatasan disana rata-rata menengah. Malah banyak yang bekerja di Tawau, pergi pagi pulang sore. Meski kehidupan mereka layak disana, yang perlu diperhatikan pemerintah terutamanya adalah infrastruktur. Desa/Kampung di wilayah Malaysia lengkap. PAM, Listrik, Klinik, RS, Sekolah, jalan raya yang mulus semua tersedia. Kenapa wilayah jiran bisa di wilayah kita tidak bisa?

Walau penduduk disana bergantung hidup kepada negara jiran, tapi soal nasionalisme tidak perlu dipertanyakan lagi. Jiwa mereka tetap Merah Putihemoticon-I Love Indonesia (S)

Ngakak 

Quote:Original Posted By samuel.tirta
Dulu pernah 6 bulan disini nih.
Pos Pamtas TNI ga begitu jauh dari Pos Polis Marin/ATM. Malam lebaran pernah kita "perang" meriam bambu heheemoticon-I Love Indonesia (S)

Pulau Sebatik ini memang terbagi dua, wilayah Indonesia dan Malaysia. Hampir 90 persen kebutuhan sehari-hari penduduk dapat supply dari Tawau. Disamping kualitas bahan pokok dari seberang lebih bagus, juga faktor kondisi geografis yang lebih dekat. Mau beli barang, nawar harga, bisa rupiah dan ringgit. Malah banyak rumah-rumah penduduk yang berada digaris perbatasan, seperti teras/ruang tamu di Indonesia, dapur di wilayah malaysia. Itu sudah jadi biasa disana. Ironis? mungkin, tapi taraf kehidupan penduduk perbatasan disana rata-rata menengah. Malah banyak yang bekerja di Tawau, pergi pagi pulang sore. Meski kehidupan mereka layak disana, yang perlu diperhatikan pemerintah terutamanya adalah infrastruktur. Desa/Kampung di wilayah Malaysia lengkap. PAM, Listrik, Klinik, RS, Sekolah, jalan raya yang mulus semua tersedia. Kenapa wilayah jiran bisa di wilayah kita tidak bisa?

Walau penduduk disana bergantung hidup kepada negara jiran, tapi soal nasionalisme tidak perlu dipertanyakan lagi. Jiwa mereka tetap Merah Putihemoticon-I Love Indonesia (S)


Saya Bukan Bermaksud Manas2in Yaa.

Di Beberapa Wilayah Di Sumatera Yang Berbatasan Langsung Dgn Kota2 Di Negara Bagian Malay ,....Kalau DiTanya / DiAdakan Jajak Pendpt ,...Pasti Lebih Milih Bergabung Ke Malay.

Ambil 1 Contoh Saja : Bengkalis (Riau) ,...Tahun2 Kemaren Sempat Ada Demo Besar2an ,...Yang Inti Pesannya : Ingin Bergabung Ke Wilayah Malay ,...Akibat Tidak Adanya Perhatian Dari Pemerintah Pusat.

Siaran2 TV Indo Saja , Disana Harus Pake Antena Parabola ,...Jika Ingin Menangkap Siarannya ,....Bandingkan Dgn : Cukup Memakai Antena TV Biasa Saja Di Sana ,....Siaran2 TV Malay ,..Sudah Bisa DiNikmati Dgn Kualitas Bagus.

Quote:Original Posted By the.richest


Saya Bukan Bermaksud Manas2in Yaa.

Di Beberapa Wilayah Di Sumatera Yang Berbatasan Langsung Dgn Kota2 Di Negara Bagian Malay ,....Kalau DiTanya / DiAdakan Jajak Pendpt ,...Pasti Lebih Milih Bergabung Ke Malay.

Ambil 1 Contoh Saja : Bengkalis (Riau) ,...Tahun2 Kemaren Sempat Ada Demo Besar2an ,...Yang Inti Pesannya : Ingin Bergabung Ke Wilayah Malay ,...Akibat Tidak Adanya Perhatian Dari Pemerintah Pusat.

Siaran2 TV Indo Saja , Disana Harus Pake Antena Parabola ,...Jika Ingin Menangkap Siarannya ,....Bandingkan Dgn : Cukup Memakai Antena TV Biasa Saja Di Sana ,....Siaran2 TV Malay ,..Sudah Bisa DiNikmati Dgn Kualitas Bagus.



Bisa jadi.
Soal siaran TV, hal yg sama juga terjadi di Sebatik, wajib Parabola kalau mau lihat TV lokal, tapi RTM, TV3, NTV7 Malaysia clear bukan main.

Justru itu, diperlukan pembangunan merata, terutama daerah-daerah perbatasan, biar mereka tidak lagi merasa di anak tirikan.

emoticon-I Love Indonesia (S)
Kalo kata dansatgas mar ambalat XIV/2012.
Dari yonif 5 sby (yg kbtln masih kerabat).
Sebatik tinggal nunggu waktunya aja gan.. emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By XgreenlineX
Kalo kata dansatgas mar ambalat XIV/2012.
Dari yonif 5 sby (yg kbtln masih kerabat).
Sebatik tinggal nunggu waktunya aja gan.. emoticon-Embarrassment


Nunggu waktunya apa?Direbut?
Quote:Original Posted By XgreenlineX
Kalo kata dansatgas mar ambalat XIV/2012.
Dari yonif 5 sby (yg kbtln masih kerabat).
Sebatik tinggal nunggu waktunya aja gan.. emoticon-Embarrassment


Maksudnya ???

"Pada zaman pemerintahan Soekarno dulu, Tawau merupakan bagian dari Indonesia. Sekarang sudah jadi wilayah Malaysia."


???




Quote:sekitar lima tahun lalu ada salah seorang pejabat dari Jakarta yang datang ke Sebatik. Lalu, pejabat tersebut mewacanakan larangan membeli barang dari Malaysia. Tentu saja wacana itu ditolak warga. Setelah dijelaskan, pejabat tersebut mencabut kata-katanya. "Kalau dilarang masuk, mau makan apa di sini" Semua dari sana," ucapnya


tipikal pejabat tolol bin goblokemoticon-Ngakak

mak,,,,,,sumpah ay baru tau kalo ada propinsi Kaltara dengan ibukota tarakan,,,,,
Quote:Original Posted By the.richest


Saya Bukan Bermaksud Manas2in Yaa.

Di Beberapa Wilayah Di Sumatera Yang Berbatasan Langsung Dgn Kota2 Di Negara Bagian Malay ,....Kalau DiTanya / DiAdakan Jajak Pendpt ,...Pasti Lebih Milih Bergabung Ke Malay.

Ambil 1 Contoh Saja : Bengkalis (Riau) ,...Tahun2 Kemaren Sempat Ada Demo Besar2an ,...Yang Inti Pesannya : Ingin Bergabung Ke Wilayah Malay ,...Akibat Tidak Adanya Perhatian Dari Pemerintah Pusat.

Siaran2 TV Indo Saja , Disana Harus Pake Antena Parabola ,...Jika Ingin Menangkap Siarannya ,....Bandingkan Dgn : Cukup Memakai Antena TV Biasa Saja Di Sana ,....Siaran2 TV Malay ,..Sudah Bisa DiNikmati Dgn Kualitas Bagus.



Nyebar HOAX jangan dimari , emoticon-Stick Out Tongue ASBUN lagi,..mana ada wilayah sumatera yang berbatasan LANGSUNG dgn kota2 Malay..? Emang sumatera nyatu ama Malay ?emoticon-Ngakak
LEBAY banget ente emoticon-Big Grin gw berpuluh tahun dimari saja ga pernah denger yg kek gituan,..

sampeyan paham apa yg di demoin ga ? TV Malay ??? ASTRO aja mampus di Pku emoticon-Ngakak

dah lah,..mending lu cuci muka sana biar sadar
saya bertahun2 tinggal di wilayah paling miskin di sumatera belom pernah ada cerita ada yg mau gabung ke malay..jangan jadi jamaah asbuniyah ya mas..emoticon-I Love Kaskus (S)