alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/525f72a71e0bc39840000006/kisah-ironi-operasi-militer-menumpas-gerilyawan-kalimantan-utara
Kisah ironi operasi militer menumpas gerilyawan Kalimantan Utara
Kamis, 17 Oktober 2013 01:30
Merdeka.com - "Think as a soldier, talk as a soldier, walk as a soldier."

Jenderal (Purn) Abdullah Makhmud Hendropriyono meluncurkan buku berjudul Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini menceritakan pengalaman tempur Hendro sebagai perwira pertama Pusat Pasukan Khusus (kini Kopassus) TNI AD di Kalimantan Utara. Banyak hal menarik yang ditulis Hendro dalam buku ini.

Hendro melukiskan kondisi politik setelah Orde Lama runtuh dan digantikan Orde Baru. Banyak kebijakan yang langsung berubah 180 derajat. Termasuk soal konfrontasi dengan Malaysia. Di era Soekarno, Indonesia jor-joran mendukung perlawanan rakyat Serawak dan Kalimantan Utara memerangi Malaysia dan Inggris.

Pemerintah bahkan melatih komandan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) Bong Kee Chok dan adiknya, Bong Hon. Mereka dilatih oleh Badan Pusat Intelijen, RPKAD, Marinir, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara dan Mobile Brigade Polri. Seluruh perhatian pemerintah Indonesia tahun 1964-1965 tercurah pada konfrontasi dengan Malaysia.

Pemerintah juga menyuplai senjata untuk Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Bahkan sejumlah pasukan elite Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dikirim sebagai sukarelawan dan bergabung dengan TNKU. Mereka bertempur dengan pasukan komando Inggris di belantara Kalimantan.

Tapi saat Presiden Soekarno lengser dan digantikan Presiden Soeharto, kebijakan berubah drastis. Orde Baru yang menuding konfrontasi dengan Malaysia disusupi komunis. Pemerintah Indonesia pun kemudian menghentikan dukungan pada PGRS dan TNKU. Mereka meminta gerilyawan PGRS meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan.

"Dari 838 anggota TNKU hanya 99 orang yang taat meletakkan senjatanya dan menyerahkannya pada pos polisi atau pos tentara terdekat. Selebihnya 739 orang membangkang. Jumlah senjata yang tidak dikembalikan sekurang-kurangnya 538 pucuk, terdiri atas bren, stengun, senapan dan pistol. Selain itu ada juga granat-granat tangan buatan Pindad," kata Hendropriyono (hal 64).

Maka ABRI dan Polri dikirim kembali ke Kalimantan Utara, tapi kali ini untuk memerangi para muridnya sendiri yang dulu dilatih untuk berjuang melawan neokolonialisme. Gerilyawan PGRS dan Paraku yang berada di hutan-hutan belum mengetahui hal ini.

Setelah tahu mereka kini harus saling berhadapan, para anggota PGRS, TNKU, ABRI dan Polri itu banyak yang menangis tersedu-sedu dan saling berangkulan sebelum mereka menyatakan perpisahan. Tapi sebagai alat negara, tugas berat itu tetap harus dikerjakan ABRI dan Polri.

"Kenyataan bahwa politik kerap kali membuat alat negara melaksanakan tugas dengan beban mental yang sangat berat. Perubahan haluan politik ini sangat menyakitkan, sehingga rasa kemanusiaan mereka hanyut dalam arus kekecewaan yang sangat dalam," beber Hendro.

PGRS adalah murid para prajurit ABRI. Berjuang bersama melawan Inggris di Kalimantan Utara dan Serawak. Kini guru harus membunuh anak-anak murid sendiri. PGRS harus melawan gurunya sendiri yang sangat dihormati dan dicintai. Itu semua karena perubahan haluan politik Indonesia yang berdamai dengan Malaysia.

Maka walau pahit, guru dan murid saling berhadapan di rimba Kalimantan. Tak mudah memerangi PGRS yang sangat mengenal baik medan gerilya dan mendapat dukungan masyarakat. ABRI melatih mereka dengan baik sehingga pasukan PGRS paham intelijen, konsep gerilya, hingga menyerang dengan senyap dan terkoordinasi.

Tahun 1967 PGRS pimpinan Lim Fo Kui alias Lin Yen Hoa dan Bong Khe Chok mengadakan pertemuan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan S.A Sofyan dam Tan Bu Hiap di Bukit Bara, sebelah Timur Sambas, Kalimantan Barat. Mereka membentuk suatu koalisi perjuangan yang dinamakan BaRA atau Barisan Rakyat. Salah satu poin kesepakatan, PGRS akan mendirikan negara komunis Serawak yang merdeka. Suatu pasukan baru bernama Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) didirikan.

Ketangguhan PGRS/Paraku terbukti saat mereka menyerang Pangkalan Singkawang II Angkatan Udara RI di Sangau Ledo. Operasi ini berjalan sangat baik. Mereka berhasil merampas 153 pucuk senjata AURI dari berbagai jenis. Serangan direncanakan dengan baik, terkoordinasi dan rapi. Mereka mempraktikkan apa yang diajarkan ABRI pada mereka.

"Ini merupakan suatu hal yang hanya lazim dapat dilakukan oleh pasukan komando regular yang terlatih sangat baik. Tidak seperti oleh pasukan gerilya yang tidak teratur," puji Hendro.

Pemerintah Indonesia pun terkejut atas keberhasilan tersebut. Sebagai balasan, Mabes ABRI menggelar Operasi Bersih II. Pasukan Kodam XII Tanjungpura kini diperkuat satuan Puspassus TNI AD.

Peperangan guru melawan murid pun berkobar. Pedih, tapi harus dilakukan.

http://www.merdeka.com/peristiwa/kis...tan-utara.html

ternyata sempet terjadi perang antara guru dan murid saat Orde Baru mulai mendamaikan hubungan Indonesia dan Malaysia

PARAKU-PGRS : KAMBING HITAM PASKA KONFRONTASI RI - MALAYSIA

PARAKU-PGRS : KAMBING HITAM PASKA KONFRONTASI RI - MALAYSIA
sumber

Habis manis sepah dibuang. Itulah nasib tragis ratusan gerilyawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara atau Paraku-Pasukan Gerakan Rakyat sarawak atau PGRS dukungan intelijen militer Indonesia semasa Presiden Soekarno mencanangkan konfrontasi menentang pembentukan Malaysia tahun 1963. Ketika Soekarno menyatakan "Ganyang Malaysia" tanggal 27 Juli 1963, relawan Indonesia dan gerilyawan Paraku-PGRS menjadi Pahlawan Indonesia. Paraku-PGRS menjadi momok menghantui pasukan Malaysia, Brunei, Inggris, dan Australia saat bergerilya di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak. Ketika Soeharto tampil sebagai penguasa yang berdamai dengan Malaysia, Paraku-PGRS pun digempur habis dan disertai kerusuhan anti Tionghoa di Kalimantan Barat tahun 1967 sebagai harga rekonsiliasi Jakarta - Kuala Lumpur.
Paraku-PGRS terlupakan dalam lembaran sejarah seiring kukuhnya Orde Baru dan baru muncul kembali dalam pembicaraan Indonesia-Malaysia dalam Joint Border Comitee (JBC) di Kuala Lumpur awal Desember 2007.
Peneliti kekerasan terhadap Tionghoa, Benny Subianto, menjelaskan, ada benang merah dalam pemberantasan Paraku-PGRS dan kekerasan terhadap penduduk Tionghoa di Kalimantan Barat yang dikenal sebagai peristiwa "Mangkok Merah"
"Demi menghabisi Paraku-PGRS akhirnya dikondisikan kerusuhan anti Tionghoa. Sebelumnya Dayak, Melayu, dan Tionghoa hidup bersama secara damai di Kalimantan Barat," kata Benny.
Keberadaan Paraku-PGRS diakui sebagai buah karya kebijakan militer Indonesia. Buku Sejarah TNI Jilid IV (1966-1983) halaman 116-125 mencatat embrio Paraku-PGRS adalah 850 pemuda Cina Serawak yang menyeberang ke daerah RI saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia.
Buku Sejarah TNI menyebut mereka adalah orang-orang Cina pro Komunis. Pemerintah RI melatih dan mempersenjatai mereka secara militer dalam rangka Konfrontasi Indonesia-Malaysia.
Lebih lanjut dijelaskan, mereka dibagi menjadi dua kesatuan, yaitu Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Kedua pasukan dikoordinir oleh Brigadir Jendral TNI Suparjo, pejabat Panglima Komando Tempur IV Mandau, berpusat di Bengkayan, Kalimantan Barat.
Bersama relawan dari Indonesia, Paraku-PGRS yang juga menghimpun Suku Melayu dan Dayak berulangkali menyusup wilayah Serawak dan bahkan Brunei. Salah satu tokoh Revolusi Brunei tahun 1962, Doktor Azhari, yang juga pimpinan Partai Rakyat Brunei diketahui dekat dengan kubu gerilyawan ini.
Benny Subianto dalam laporan ilmiah itu menjelaskan, banyak pemuda Tionghoa di Sabah, Serawak, dan Brunei menolak pendirian Malaysia karena takut dominasi Melayu terhadap wilayah Sabah, Serawak, dan Brunei. Gerilyawan Paraku-PGRS dalam laporan Herbert Feith di Far Eastern Economic Review (FEER) edisi 59 tanggal 21-27 Januari 1968 dilukiskan hidup bagai ikan di tengah air terutama di antara masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat yang waktu itu hidup tersebar di pedalaman.
Benny Subianto menambahkan betapa gerilyawan Paraku-PGRS dan relawan Indonesia menghantui wilayah perbatasan. Bahkan, mereka nyaris menghancurkan garnisun 1/2 British Gurkha Rifles (1/2 GR) dalam serangan terhadap distrik Long Jawi (sekitar 120 kilometer sebelah barat Long Nawang, Kalimantan Timur). Selama berbulan-bulan mereka juga menghantui jalan darat Tebedu-Serian-Kuching (dekat pos perbatasan Darat Entikong) selama berbulan-bulan pada paruh pertama tahun 1964.
JP Cross dalam buku A face Like A Chicken Backside-An Unconventional Soldier In Malaya and Borneo 1948-1971 halaman 150-151 mencatat betapa serangan relawan Indonesia di Long Jawi tanggal 28 September 1963 menewaskan operator radio, beberapa prajurit Gurkha, dan Pandu Perbatasan (Border Scout). Long Jawi sempat dikuasai sebelum akhirnya Pasukan Gurkha menyerang balik setelah mendapat bala bantuan. Di balik perjuangan Paraku-PGRS dan relawan Indonesia, sebagian besar operasi militer selama konfrontasi tidak mencapai hasil memuaskan. Mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Tanjung Pura Soeharyo alias Haryo Kecik dalam memoirnya mencatat, gerakan pasukan dan gerilyawan di wilayah Kalimantan selalu bocor dan diketahui lawan. Menurut Soeharyo, kebocoran justru terjadi di tubuh militer dari Jakarta.
Adapun dalam laporan ilmiah Benny Subianto disebutkan operasi Paraku-PGRS dan relawan tidak mendapat dukungan penuh dari Angkatan Darat (AD) yang dikenal sebagai kubu anti komunis semasa konfrontasi.
Setelah Jakarta-Kuala Lumpur berdamai melalui diplomasi di Bangkok, Paraku-PGRS harus diberantas sebagai musuh bersama. Itulah ironi sejarah yang terlupakan ketika kawan harus berubah menjadi kambing hitam/lawan (Disadur dari tulisan Iwan Santosa).

KALIMANTAN BARAT : KERUSUHAN ANTI TIONGHOA

KALIMANTAN BARAT : KERUSUHAN ANTI TIONGHOA
sumber

Pemberantasan Paraku-PGRS ternyata terkait dengan konflik horizontal antara Dayak dan Tionghoa bulan Oktober-November 1967. Setelah Soekarno turun dari kekuasaan dan pemerintahan Soeharto berdamai dengan Malaysia usai Konferensi Bangkok 28 Mei 1966, Paraku-PGRS dijadikan musuh bersama.
Setelah perdamaian tanggal 11 Agustus 1966, Paraku-PGRS oleh militer Indonesia disebut gerombolan Tjina Komunis (GTK). Anggota Paraku-PGRS melawan dan terjadi perebutan senjata di Pangkalan Udara Sanggau Ledo. Paraku-PGRS merebut 150 pucuk senjata dan menewaskan tiga anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).
Pemerintahan Soeharto pro Washington yang anti komunis pun bertindak keras. Operasi Sapu Bersih (Saber) I, II, dan III digelar sejak April 1967 hingga Desember 1969 dipimpin oleh Brigadir Jendral A.J. Witono.
Operasi pemberantasan Paraku-PGRS diwarnai peristiwa "Mangkok Mera" bulan Oktober-November 1967 ketika terjadi kekerasan antara Dayak terhadap Tionghoa yang menurut Majalah Far Eastern Economic Review (FEER) volume 100 tanggal 30 Juni 1978, menelan korban jiwa 3000 orang Tionghoa.
Peristiwa itu dipicu kekerasan terhadap sejumlah Tumenggung Dayak yang menurut militer diculik di Taum, Sanggau Ledo oleh GTK. Selang beberapa hari, RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) menemukan sembilan mayat yang disebut sebagai tokoh Dayak.
Benny Subianto mencatat, juru bicara militer di Harian Angkatan Bersenjata menyatakan orang Dayak harus membalas.
Kekerasanpun terjadi secara masif di wilayah operasi militer menumpas Paraku-PGRS. Strategi yang digunakan militer dicatat Herbert Feith adalah mengeringkan kolam (masyarakat Tionghoa Kalimantan Barat) tempat ikan (gerilyawan) hidup.
"Pengeringan Kolam" dilakukan melalui peristiwa "Mangkok Merah" sehingga warga Tionghoa hijrah dari pedalaman ke perkotaan, seperti Pontianak dan Singkawang.
Bahkan, ada warga Tionghoa yang lari ke Serawak, Malaysia. Chong, seorang warga Sambas mengaku hijrah ke Serawak paska kerusuhan tersebut. Kini, ia hidup bersama keluarga di pinggiran Kuching, ibukota Serawak.
Kekerasan yang terjadi dalam ingatan rohaniawan Herman Josef Van Hulten berlangsung sangat cepat dan terorganisir. Rohaniawan Monsinyur Isak Doera, yang berada di Pontianak tahun 1967-1971, mengakui pembunuhan para tokoh Dayak adalah rekayasa militer demi memicu konflik horizontal.
Para tokoh Dayak yang diwawancarai Benny tahun 2000 mengaku heran mengapa persaudaraan Melayu-Dayak dan Tionghoa bisa koyak saat itu. Singkat cerita, Paraku-PGRS tumpas dengan meninggalkan luka sejarah di Kalimantan Barat. (ONG)
jadi pemberantasan PGRS yang bekas muridnya TNI itu membuat konflik antara Melayu, Dayak dengan Tionghoa ya. sayang tadinya 3 etnis itu hidup harmonis tapi hubungan melayu dan Dayak jadi buruk dengan Tionghoa gara2 upaya damai Indonesia dan Malaysia
Hehehe... masih enak hidup di jamanku kan emoticon-Big Grin
Prajurit yang malaksanakan misi pertempuran
Arah peperangan ditentukan oleh politisi yang memegang kekuasaan
Quote:Original Posted By Adsenser
Prajurit yang malaksanakan misi pertempuran
Arah peperangan ditentukan oleh politisi yang memegang kekuasaan


politik memang kejam, ga ada teman ga ada kawan, yg ada kepentingan sejati...


btw...sumbernya dari blogspot yaaaa.... emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By jokogudel


politik memang kejam, ga ada teman ga ada kawan, yg ada kepentingan sejati...


btw...sumbernya dari blogspot yaaaa.... emoticon-Big Grin


kejamnya politik dan tentara kerap menjadi korban dari kebijakan penguasa
penguasa berganti, ideologi politik pun berubah, otomatis pasti akan ada yang dikorbankan

dimana-mana selalu seperti itu......
Quote:Original Posted By alexander hagal
penguasa berganti, ideologi politik pun berubah, otomatis pasti akan ada yang dikorbankan

dimana-mana selalu seperti itu......


seperti timles emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By chibiyabi


seperti timles emoticon-Malu (S)


kalau timles yaaah semua sudah pada tahu lah emoticon-Big Grin
semua ada hikmahnya
Quote:Original Posted By chibiyabi


seperti timles emoticon-Malu (S)

Quote:Original Posted By alexander hagal


kalau timles yaaah semua sudah pada tahu lah emoticon-Big Grin
semua ada hikmahnya

opsi terbaik saat itu sichemoticon-Berduka (S)
Turut berduka cita bagi patriot2 bangsa dan pahlawan Sabah Sarawak, semoga tidak ada kejadian terulang lgi dmana guru harus menumpas muridnya sendiri

Ane takut kejadian ke depan binaan kopasus d kamboja harus ditumpas oleh gurunya sendiri

Ane takut guru dpaksa dan dhadapkan untk mlawan muridnya

Ksihan tntara d lapangan...
Quote:Original Posted By kampret gantenk
Turut berduka cita bagi patriot2 bangsa dan pahlawan Sabah Sarawak, semoga tidak ada kejadian terulang lgi dmana guru harus menumpas muridnya sendiri

Ane takut kejadian ke depan binaan kopasus d kamboja harus ditumpas oleh gurunya sendiri

Ane takut guru dpaksa dan dhadapkan untk mlawan muridnya

Ksihan tntara d lapangan...
wow.. kejadian luarbiasa dong Kopassus urusin SF Kamboja, krn nyerbu Thai.. mungkin gak mungkin.. apaan ye? ikutan mendarat d serawak ? hmmf.. liar..emoticon-Thinking
Quote:Original Posted By kiperkalong
wow.. kejadian luarbiasa dong Kopassus urusin SF Kamboja, krn nyerbu Thai.. mungkin gak mungkin.. apaan ye? ikutan mendarat d serawak ? hmmf.. liar..emoticon-Thinking


Bukan gan...mksdnya bukan bgtu, ane gak bilang bgtu, ane cuman takut kjdian paraku hrus trjadi lagi ke depan, kt tahu kamboja itu dah jdi proxy nya china skarang dan kita juga gak tau kan kbijakan china d masa depan gmana, apalagi mnyangkut lcs sm natuna, gk ada yg tau masa depan
ane jadi ingat cerita adiknya nenek ane (berarti trmsk kakek ane juga)..lulus AKABRI (taun ane lupa)...langsung ikut ini operasi...bukan infanteri tapi di inteljen..sering nyebrang antara singapura dan malaysia (katanya biar ga ketauan)..nyamar jadi orang sipil....banyak cerita seru termasuk ikut blusukan ke kampung sasaaran..

klo gak salah..beliau sempet eksekusi pengkhianat yang suka kasih info pergerakan TNI...diajak naek boat trus dicemplungin ke lautemoticon-Cape d... (S)....

klo ane lagi maen k rumahnya paling demen denger cerita operasinya...seru banget..apalagi yang operasi di papua sampe jadi Dandim di papua....sebelum ditarik ke kemmenhan..
saya pernah baca
memang oleh sang rezim di skenariokan terjadinya konflik horizontal antara keturunan china dengan dayak dimana dilakukan pembunuhan dan perkosaan terhadap putri dari ketua dayak yang rumornya seolah olah dilakukan oleh orang keturunan china hingga terjadi peristiwa mangkuk merah. Gerakan tersebut berhasil karena di sadari PAKARU bergerak bergerilya di hutan lebat kalimantan. Dan mendapat supply logistik dari etnis china. Sehingga jalur logistik terputus dan banjir puluhan ribu pengungsi etnis china yang lari dari pedalaman ke daerah pesisir.
Pak Hendropriyono dan pasukan Kopasandha ke KalBar sekitar tahun 74-76..................

Tahun2 itu soal nya, begitu pagi mau sekolah atau kerja, tau2 tiba2 heboh karena bendera di sekolah, rumah sakit atau pemda sudah berganti dari merah putih menjadi bendera palu arit....................emoticon-Bingung (S)
jadi batal lah kegiatan dimana bendera palu arit berkibar, dikarenakan dicurigai sedang "tidak aman".............

kadang2 rombongan dari kodim yg sedang pulang/berangkat tugas dicegat oleh PGRS/PARAKU..................
dan terkadang di tangsi militer Singkawang Sang Saka berkibar setengah tiang, karena ada prajurit gugur sedang disemayamkan........

sore hari jam 1-3 an di Singkawang terkadang lewat tengah kota 2 - 5 truk penuh pemuda dengan bambu runcing dengan diikat bendera merah putih ke arah Pemangkat dan Sambas..............

bagi yg sudah dewasa saat2 itu adalah cukup menegangkan suasana nya.........

sempat dengar bahwa salah satu perwira Kodim di Singkawang ditangkap karena simpatisan PGRS/PARAKU, padahal sering terlihat bermain tenis di lapangan tengah kota.............
wah, dari dulu ane penasaran nasibnya pasukan insurjen ini. karena dulunya dilatih sama Indonesia, lalu malahan ditumpas sendiri ama Indonesia. pastinya itu pada galaulah tentara.

tapi politik memang kejam gan. hanya ada kepentingan abadi dalam politik emoticon-norose


soal pembantaian itu, yaah, jaman eyang memang apa-apa murah, termasuk nyawamu emoticon-Ngacir2
Quote:Original Posted By pandu saksono
wah, dari dulu ane penasaran nasibnya pasukan insurjen ini. karena dulunya dilatih sama Indonesia, lalu malahan ditumpas sendiri ama Indonesia. pastinya itu pada galaulah tentara.

tapi politik memang kejam gan. hanya ada kepentingan abadi dalam politik emoticon-norose


soal pembantaian itu, yaah, jaman eyang memang apa-apa murah, termasuk nyawamu emoticon-Ngacir2


Semoga saja ke depan tidak terulang apalagi ke innocent people. Padhal ngga cuman di tanah borneo di tanah jawa dan bali juga terjadi killing field.

Ya bingung juga jadi insurgent itu akibat pergolakan pergantian di pusat pemerintahan yg drastis.
Bener gan yang bener ya yang menang