alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/525cda2c17cb17be70000000/pejabat-masuk5contoh-kesederhaan-pemimpin-dan-pejabat
5contoh kesederhaan pemimpin dan pejabat
[pejabat masuk]5contoh kesederhaan pemimpin dan pejabat

Peraturan di trit ane

Spoiler for wajib di buka:


Spoiler for wajib di buka:



Semakin sedikit kita lihat pejabat yang sederhana,panutan,dan berjiwa besar memperjuangkan rakyat.mereka terlihat seperti unjuk kekuatan,kekayaan,dan power!
bahwa masih adakah pejabat yang seperti orang-orang yang saya sebut dibawah ini?
Mungkin ada,!!
Tapi entah yang mana,karena sekarang semua seperti terlihat bias karena pencitraan menjelang pemilu 2014!!!
Anda yang dapat memilih siapakah pemimpin idola anda yang bersih,sederhana,sosok pengayom DLL.

Langsung kedaftarnya.!!!!


Spoiler for bung Hatta:


sumber

3.Pak AR Fachruddin, pemimpin
umat yang tak pernah punya
rumah


Sebagai pemimpin organisasi masyarakat Islam sebesar Muhammadiyah,A.RFachruddin , tentu bisa mendapatkan harta yang diharapkannya dengan mudah. Apakah itu mobil atau rumah tinggal.Tetapi sungguh hebat teladan kesederhanaan dari Pak AR, sapaan akrabnya.

Tidak pernahterpikir oleh Pak AR untuk menumpuk harta.Saat meninggal pun, Pak AR yang memimpin Muhammadiyah dalam kurun lebih dari 20 tahun tidak pernah memiliki rumah.

Begitulah kesederhanaan Pak AR Rumah besar yang ditempatinya sejak 1971 bukan milik pribadi melainkan milik persyarikatan Muhammadiyah. Sebelumnya, Pak AR sekeluarga menghuni rumah sewa sederhana di kawasan Kauman, Yogyakarta.

Pak AR sebenarnya juga ingin punya rumah sendiri. Dia pernah mengangsur rumah pada awal 1960-an ketika masih bertugas di Departemen Agama. Sayang, Pak AR ditipu pengembang yang melarikan uangnya.

Kehilangan harta atas rumah yang diidamkan tidak membuat Pak AR bersedih terlalu lama.Kata Pak AR kepada istrinya Siti Qomariyah,"Sudahlah tak usah dipikirkan kehilangan rumah,nanti akan diganti rumah yang lebih baik disurga."

Bagi Pak AR, harta dunia bukanlah yang utama.Hidupnya diserahkan sepenuhnya untuk dakwah Islam. Seringkali Pak AR mendapat undangan untuk ceramah. Saat pulang, amplop yang diberikan panitia selalu dibagikan kepada karyawan kantor PP Muhammadiyah. Pak AR mengaku senang jika ceramah di kampung-kampung pinggiran Yogyakarta yang banyak berisi rakyat miskin. Menurut dia, itu adalah sunnah Nabi Muhammad SAW.

Pak AR juga dikenal sangat merakyat. Pernah suatu ketika, becak yang dinaikinya dicegat seorang pedagang kaki lima. Pedagang itu ternyata hanya ingin bertanya tentang hukum pinjam-meminjam. Pak AR rela memberi
penjelasan selama lebih dari setengah jam kepada si penanya.

Suatu kali Pak AR didampingi oleh Ahmad Dimyati, seorang tokoh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, menghadiri suatu acara Muhammadiyah di daerah Jawa Tengah. Oleh panitia tempat tidur mereka di ruang kelas di lantai yang diberi kasur. Pak Dimyati ingin
bertanya ke panitia, mengapa seorang ketua PP Muhammadiyah tidurnya hanya di lantai yang diberi kasur. Pak AR dengan santai malah mengatakan: "Sudahlah,dengan begini saya malah enak, tidak mungkin jatuh dari tempat tidur," kata Pak AR dikutip dari transkrip

Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Baitul Arqam Ketua-Ketua PDM se-Indonesia Putaran IV,MPKSDI PP Muhammadiyah, di Kaliurang yang ditranskrip oleh Arief Budi.
Pada 1990, Pak AR sebenarnya masih diharapkan memimpinMuhammadiyah. Namun dia ingin ada alih generasi. Setelah tidak menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, dan menjabat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah, Pak AR masih aktif melaksanakan kegiatan dakwah ke berbagai tempat.

Pak AR wafat pada Jumat 17 Maret pukul 08.00 di RSIJ Jakarta pada usia 79 tahun. Berita meninggalnya Pak AR menyebar lewat telepon, radio, televisi dan pemberitahuan di mimbar Jumat di seluruh daerah.Ribuan orang melayat ke kediaman Pak AR.

Dalam pidatonya, Ketua Umum PP
Muhammadiyah ketika itu Amien Rais, menyebut tiga kunci hidup Pak AR yang layak dikenang:kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan.


Spoiler for Trimurti:


sumber

5.J Latuharhary, saat meninggal tak
bisa bayar rumah sakit.



Korupsi yang kini merajalela sungguh memprihatinkan.Lebih memprihatinkan ketika seorang pajabat tertinggi yudikatif yaitu Ketua Mahkamah Konstitusi tertangkap tangan KPK atas tuduhan suap.

Perilaku korupsi pejabat di era saat ini seperti bertolak belakang dengan kejujuran dan kesederhanaan yang ditunjukkan para pejabat di masa lalu. Memang, dulu juga ada korupsi tetapi banyak pula pejabat yang menjunjung tinggi integritasnya.

Soal kuatnya integritas, sebut saja misalnya Johannes Latuharhary yang kini diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta Pusat.

Latuharhary yang lahir di Saparua, Ambon itu tercatat hadir pada saat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Dia juga pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili wilayah kepulauan Maluku.

Pada rapat BPUPKI membahas undang-undang dasar, Latuharhary adalah tokoh yang memperjuangkan pluralisme. Dia menyampaikan keberatan khususnya menyangkut anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" pada pembukaan UUD.

Kemudian pada rapat PPKI Agustus 1945,Latuharhary menolak istilah mangkubumen yang diusulkan Soekarno sebagai sebutan pemerintahan daerah. Selain istilah itu dianggap berbau Jawa, istilah yang lazim dipakai adalah gubernemen atau provinsi. Istilah yang dipakai kemudian adalah provinsi.

Latuharhary juga merupakan gubernur Maluku yang pertama. Sungguh besar sumbangsihnya untuk negara. Begitu besar cinta Latuharhary untuk bangsanya sehingga ahli hukum lulusan Leiden ini sama sekali tidak memikirkan untuk memperkaya diri sendiri.

Cerita kesederhanaan Latuharhary diungkap IO Nanulaitta dalam bukunya Mr Johanes Latuharhary: hasil karya dan pengabdiannya terbitan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983.

Saat hendak berangkat ke gereja suatu pagi pada awal November 1959, Latuharhary jatuh pingsan. Dia dibawa ke Rumah Sakit St Carolus dan dirawat selama dua hari. Latuharhary akhirnya meninggal pada 8 November 1959. Satu hal yang sangat mengejutkan pada saat Latuharhary meninggal,dia tidak bisa membayar biaya rumah sakit

Menurut Nanulaitta, dia dirawat di barak rakyat dalam keadaan koma.Setelah meninggal, pukulan berat diterima istrinya Henriette Carolina "Yet" Pattiradjawane dan tujuh putra-putrinya.

Latuharhary tidak meninggalkan banyak kekayaan bagi keluarganya. Latuharhary bahkan tidak memiliki rumah yang bisa ditinggalkan kepada keluarganya.

Di mata Latuharhary perjuangan untuk bangsa dan negara lebih penting dari sekadar materi.


Dari kisah diatas semoga menjadi pembelajaran buat para pemangku kekuasaan.


Sekian terima kasih
×