alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/525babcf18cb177d2600000b/ketika-pelayan-pengayom-dan-pelindung-itu-berubah-menjadi-teroris
Ketika Pelayan, Pengayom, dan Pelindung Itu Berubah Menjadi Teroris
Kompolnas: Ungkap Identitas Oknum Polisi Penembak Robin

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendesak agar Kapolsek Tanjung Duren, Ajun Komisaris Khori, mengungkap identitas oknum anggotanya yang menembak Robin Napitupulu (25) ke publik.

Pengungkapan identitas pelaku guna menghindari kecurigaan publik atas upaya hukum yang akan dilakukan Polsek Tanjung Duren terhadap pelaku. “Kalau diungkap akan lebih bagus, supaya ada langkah preventif bagi yang lain saat menangani kasus,” kata anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman kepada Kompas.com, Minggu (13/10/2013).

Hamidah menilai, dalam kasus salah tembak tersebut ada kelalaian yang dilakukan oknum polisi yang bertindak sebagai penyidik atas penanganan pengungkapan kasus gembong pencuri. Penyidik dianggap tidak cermat dalam mendalami kasus yang ditangani, sehingga terjadi tindakan salah tembak.

Hamidah menambahkan, tindakan yang telah dilakukan oknum polisi tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan penganiayaan berat. Polisi harus bertanggungjawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan yang akan dikeluarkan korban.

“Saya berharap, Kapolsek dapat segera menindak anggota yang bersalah tersebut. Jika tidak ada sanksi bagi anggota, maka kasus serupa akan terus terjadi. Hal ini akan memperburuk citra polisi,” tegasnya.

Sebelumnya, Robin menjadi korban salah tembak oleh dua oknum anggota Reserse Kriminal Polsek Tanjung Duren, Sabtu (12/10/2013) malam.

Saat itu, korban yang baru menyalakan mobil Toyota Rush bernomor polisi B 1946 KOR miliknya tiba-tiba diberondong empat tembakan oleh kedua oknum polisi tersebut. Beruntung, peluru hanya mengenai badan mobil, tidak sampai menembus tubuhnya.

Spontan, pria yang bekerja di salah satu perusahaan penyalur alat kesehatan di Kuningan, Jakarta Selatan, itu menginjak gasnya dan kabur dari tempat kejadian perkara. Dua orang yang tidak dikenalnya itu meneriakkan kata maling sehingga warga mengejarnya dan melempar kendaraannya dengan batu hingga mengalami rusak.

Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Robin memilih kembali ke tempat kejadian perkara. Warga sekitar sempat ingin mengeroyoknya begitu Robin keluar dari mobilnya. Beruntung, ada tukang tambal ban yang mengenalinya sehingga amuk massa pun bisa dihindarkan.

Warga pun membawanya ke pos RW setempat. Robin pun mengaku baru mengetahui bahwa dua orang yang menembaki mobil pribadinya itu dengan peluru adalah aparat dari Polsek Tanjung Duren.

Tidak beberapa lama, kedua orang polisi itu pun kembali datang dan menemuinya di pos RW setempat. "Enggak ngomong apa-apa, salah satu dari dua polisi itu masuk terus mukul kepala saya dengan pistol berulang kali sampai kepala saya luka. Saya sudah ngomong, saya bukan maling, tapi polisi itu teriak 'diam kamu!'," kata Robin.

Setelah diinterogasi sekitar satu jam, dua polisi itu pun memastikan bahwa Robin bukan target yang dimaksud. Dibantu warga dan aparat dari Polsek Koja, Robin akhirnya dibawa ke RS Pelabuhan di Jakarta Utara untuk mendapatkan perawatan intensif pada Minggu sekitar pukul 01.30 WIB.

Dua Polisi tersebut diketahui pergi begitu saja tanpa meminta maaf atau membantunya ke RS. Korban mengalami trauma disertai luka sobek di tempurung kepala dan pelipis sebanyak 20 jahitan. Tidak hanya itu, lengan tangan kanan dan pinggangnya memar akibat terkena serpihan peluru, jari telunjuk kanan pun mengalami retak.

sumber

Quote:Polisi Koboi Balik Meneror
JAKARTA, KOMPAS.com — Deretan peristiwa penembakan polisi di Tangerang dan Jakarta, beberapa waktu lalu, membuat publik mengelus dada. Polisi diteror. Namun, peristiwa salah target polisi atas warga sipil di Koja, Jakarta Utara, Sabtu (12/10/2013) malam kemarin, kembali membuat publik mengelus dada. Bukan lagi diteror, polisi meneror.

"Saya setuju jika kasus penembakan aparat itu disebut aksi teror. Tapi tindakan polisi seperti koboi mabuk di Koja itu juga teror atas publik," ujar Kriminolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, kepada Kompas.com, Senin (14/10/2013) pagi.

Pria yang juga salah satu dosen di PTIK atau Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian tersebut menjelaskan, aksi polisi yang tanpa tedeng aling-aling menembaki mobil warga biasa merupakan bentuk brutalitas yang termanifestasikan ke dalam perilaku di luar standar prosedur yang ada.

Pertanyaannya, mengapa polisi berlaku demikian?
Reza meninjau dari aspek waktu kejadian, yakni di malam hari. Kerja polisi yang tak kenal waktu mengakibatkan keletihan dan ketegangan dengan intensitas tinggi.

Apa hasilnya?
Analisis terhadap perilaku kejahatan di masyarakat tidak maksimal sehingga dugaan berpotensi meleset. Ditarik ke persoalan yang lebih mendasar, lanjut Reza, merujuk pada seserius apa sesungguhnya institusi Polri melakukan evaluasi para personel di lapangan yang telah diputuskan dibekali senjata.

"Itu kaitannya pada program pengelolaan stres personel. Jangan pura-puralah, saya tahu ada permainan di Biro SDM (untuk mendapatkan izin penggunaan senjata api di Kepolisian)," ujarnya.

Yang menjadi ketakutan, brutalitas kepolisian itu mengirimkan pesan hebat kepada publik untuk meniru perbuatan serupa. Kendati demikian, Reza mengatakan, Polri masih punya harapan untuk memperbaiki diri. Kedepankan sanksi hukum pidana bagi para personel "rusak", tak cukup hanya dengan sanksi administrasi saja. Di masyarakat juga harus diimbangi dengan ketidaktakutan melaporkan tindakan brutal kepolisian.

"Meski kebanyakan masyarakat tidak mau lapor karena mereka sudah menjadi korban tindakan tak prosedural polisi, tapi harus lapor," ujarnya.

Sebelumnya, petugas Reskrim Polsek Tanjung Duren mengejar salah satu pelaku pencurian kendaraan bermotor di wilayahnya, Sabtu malam. Petugas menemukan mobil Toyota Rush B1946KOR yang mirip dngan mobil pelaku.

Polisi Tanjung Duren melepaskan empat peluru ke mobil itu. Pemilik mobil juga sempat dianiaya oleh polisi.

Setelah dipastikan, rupanya polisi itu salah sasaran. Mobil malang tersebut diketahui milik warga Bekasi bernama Robin Napitupulu (25). Pihak Polsek Tanjung Duren pun mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. Menurut Kanit Reskrim Polsek Tanjung Duren, AKP Khoiri, apa yang dilakukan anak buahnya sesuai prosedur.

Kini, korban dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara. Meski tak tertembus peluru, korban cukup trauma dengan luka sobek di tempurung kepala dan pelipis sebanyak 20 jahitan. Tidak hanya itu, lengan tangan kanan dan pinggangnya memar akibat terkena serpihan peluru. Jari telunjuk kanan pun mengalami retak.

sumber


Orang atau Kelompok yang melakukan serangkaian aksi teror adalah........
gila gila....

jaman carut marut.....

kira2 gmn nasib si polisi koplo tersebut

paling cuma tunda kenaikan pangkat 3 tahun

harusnya dihukum dimasukin ke mobil trus ditembakin.....

kalo dia masih hidup ya harus bersyukur
udah jelas itu aksi terror terhadap publik!
usut tuntas dan kalo bisa itu para penembak polisi drpd nembak yang ga bersalah, tembak aja yang dua itu emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)
Sudah saatnya militer kembali berjaya seperti jaman Pak Harto emoticon-Angkat Beer

Semoga pemimpin kita tahun depan punya jiwa militeristik seperti Pak Harto, biar orang orang minoritas nggak sesongong sekarang + preman ditumpas hingga keakar-akarnya!!

NB:
Comment gue ini pasti bikin PANASTAK kejang-kejang emoticon-shakehand

==

Quote:Original Posted By rsryodongok...


Ketika Pelayan, Pengayom, dan Pelindung Itu Berubah Menjadi Teroris

emoticon-Ngakak


Quote:Original Posted By rsryodongok...


Ketika Pelayan, Pengayom, dan Pelindung Itu Berubah Menjadi Teroris


Anjrettttt, ada PANASTAK yang ngefans ama gue emoticon-Ngakak

rsryodongok.... dgn 3 titik = PANASTAK, jangan terprovokasi!! emoticon-Big Grin
ya gitu... kalo bekerja juga makan dari duit haram... pasti kerja nya gak bener...
Quote:Original Posted By Apotoxin
udah jelas itu aksi terror terhadap publik!
usut tuntas dan kalo bisa itu para penembak polisi drpd nembak yang ga bersalah, tembak aja yang dua itu emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)


ga pernah membanggakan, selalu bikin malu, penembakan, pemalakan, permainan kasus, pelecehan seksual...apalagi ? emoticon-Matabelo
emoticon-Cape d... polisi seenaknya sendiri nih emoticon-Cape d... jangan-jangan lagi miras emoticon-Bingung
benarkah mereka bertugas ketika dalam pengaruh narkoba, miras oplosan dan ganja??

emoticon-Malu (S)
Wereng coklat lagi lagi...
emoticon-Cape d... (S)
^
^
ava ganti nih om





sudah lazim
polisi yg baik cuma patung polisi,polisi tidur sama oknum

Pelindung dan pengayom masyarakat hanya tulisan dan slogan...

Miris
ini polisi apa mafia emoticon-Ngakak
kenapa dunia ini semakin terbalik dengan adanya orang2 seperti ini...
Mungkinkah bisa diperbaiki.
Quote:Original Posted By leyhendra
benarkah mereka bertugas ketika dalam pengaruh narkoba, miras oplosan dan ganja??

emoticon-Malu (S)


bisa jadi....polkis dijadiin hansip aja , biar yg lebih prof yg mengayomi masyarakat
Namanya juga polisi, pasti belagak songong. Soalnya dia tau kalo kebal hukum, paling cuma "diparkir" doang emoticon-Cape d... (S)
POLISI,,hari gini mau memperbaiki citra,sampai lebaran monyet jg g bakal bisa klo kek gini terus,,preeet,polshetemoticon-Hammer (S)
Di tunggu sanksinya apa buat oknum ini... emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo
Saya cuma warga negara biasa gan,saya miris melihat berita2 belakangan ini mengenai Kepolisian Negara Republik Indonesia yang dicoreng citra dengan kelakuan oknum2 yang bertindak diluar kaidah hukum di negeri ini,mulai dari kasus Korupsi,Pungli,Pemerasan,Kekerasan dan lainnya.

Saya ada sedikit solusi untuk POLRI gan yang bisa menyelamatkan citra POLRI di Indonesia.

1. STOP LINDUNGI OKNUM YANG BERBUAT KEJAHATAN.

Sudah jadi rahasia umum gan kalau oknum polisi bertindak melanggar hukum pasti dilindungi oleh korps (atasan dan rekan2 sejawat). Ini budaya yang sangat salah gan,seringkali ada kasus dimana atasan selalu melidungi keslahan anak buahnya,edan bener gan,keenakan anak buahnya jadi manja nanti,ada kasus oknum Polri ditangkap Provoost dan saksi dari rekan sejawat,bilamana saksi tersebut memberatkan si tersangka sang saksi tersebut langsung dimusuhi oleh sesama anggota Polri di lingkungannya,dicap PENGKHHIANAT lah dll. Kalau mau dipikir ini tradisi yg sangat SALAH dan NGACO gan,harusnya oknum Polri yg melakukan tindakan melawan hukum tersebut yg dimusuhi karena telah mencoreng nama baik korps.


2. Jangan Tutupi Kasus Kejahatan Yang Melibatkan Oknum POLRI

Kalau perlu diblow up besar2an oleh Korpsnya sendiri supaya menjadi shock terapi buat oknum2 lainnya yang akan melakukan tindakan melawan hukum juga,baik Korupsi,Pemerasan,Pungli,Kekerasan,dll.

3. DPR Harus Duduk Bersama Kapolri & Kompolnas Membahas Perubahan Sistem Pendidikan di Sekolah2 Calon Polisi
Rubah sistem pendidikan di Sekolah2 Polri gan,baik yg untuk Bintara,Tamtama maupun Perwira. Jangan lagi ada penamaman budaya SESAMA KORPS HARUS SALING LINDUNGI,salah sekali tradisi itu gan.

4. Ingat & Tanamkanlah Bahwa Gaji POLRI Dari Uang Rakyat
Banyaknya oknum POLRI yang arogan di lapangan mungkin karena mereka lupa gaji mereka dibayar dari uang pajak rakyat Indonesia.

5. Tanamkan ideologi KARMA.
Tanamkan ideologi KARMA mulai dari Taruna Polri gan,supaya mereka tau apa yg mereka perbuat baik jahat atau baik akan berbalik kepada mereka.

yah semoga kelima langkah ini bisa memperbaiki citra POLRI,karena biar bagaimanapun diluar sana masih ada beberapa oknum Polisi yang tidak jahat kok gan,semoga POLRI jadi lebih baik ya emoticon-Kiss
haaaaah