alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5259177341cb17884d000002/ekonomi-metro-mini
Ekonomi Metro Mini
DENGAN bahasa dan istilah yang rumit-rumit, para pengusaha kakap yang wangi dan berdasi, membincangkan usaha kecil dan menengah di forum megah, hotel bintang lima. Kali ini pada APEC Business Advisory Council (ABAC) di Bali, yang menjadi rangkaian pertemuan 21 negara anggota APEC. Bermanfaat?

Coba saja simak yang dituturkan oleh Erwin Aksa, anggota ABAC, seperti dipublikasikan sejumlah media nasional. “Usaha kecil dan menengah Indonesia perlu accelerate center yang harus ada di 21 negara anggota APEC.” Untuk mengembangkan usaha kecil, juga diperlukan “all in one e-commerce yang akan diadopsi dari Cina, Taiwan, dan Taipei.”

Begitulah kalau pengusaha besar yang berbicara. Istilahnya muluk-muluk. Tapi kalau usaha kecil yang ditanya, kebutuhan mereka sebenarnya sederhana. Akses pasar dan modal. Setidaknya, itu muncul di lingkungan yang saya tahu tentang usaha kecil, yaitu pengusaha bunga hias di Rawa Belong, Jakarta Barat..

Ini hanya satu contoh. Sudah lebih dari tiga generasi masyarakat di sana melakoni usaha kecil berdagang bunga. Dari mereka, usaha kebun bunga seperti jenis sedap malam atau anggrek di Jawa Barat, dari Bogor hingga Sukabumi, ikut hidup subur.

Namun sejak lebih dari satu dekade belakangan, perdagangannya lesu. Bukan karena permintaan yang turun, melainkan ada pergeseran pemasok. Istri, anak, sampai kenalan para pejabat dan pengusaha besar atau para pesohor – biasanya jadi pelanggan bunga hias – mulai masuk ke bisnis ini. Para pedagang tradisional tergeser, akhirnya jadi sub-kontraktor.

Akibatnya, mau tidak mau, mereka menjual barang di harga dasar, yang berarti selisih (margin) keuntungannya sangat tipis. Ini terpaksa ditempuh, ketimbang bunga layu dan membusuk dalam pajangan di toko.

Itu karena akses pasar mereka tertutup. Para pemilik modal dan jejaring pasar mengambil-alih ladang rejeki mereka.

Atau contoh lain. Cobalah para pengusaha besar itu sekali-kali, misalnya berkunjung ke kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Lihat, bagaimana saat lepas maghrib, para pedagang lesehan menggelar lapak di pinggiran, salah satunya beranda dan lintasan pinggir Blok M Square.

Lagi-lagi, pengusaha kecil yang jumlahnya lebih dari 50 juta di Indonesia ini mengalami kesulitan menembus pasar. “Lapak liar” jadi solusi. Fenomena serupa pun banyak terjadi di pusat perbelanjaan lain.

Mereka tak punya kuasa mendatangkan kerumunan. Beda dengan pengusaha besar yang bisa beriklan dengan harga ratusan juta atau miliaran untuk mengundang calon pembeli datang.

Sejatinya, masalah akses pasar inilah yang jadi masalah penting bagi usaha kecil. Tentu pendanaan tak kalah pentingnya, walaupun kalau mau ditempatkan dalam skala prioritas, ada di urutan kedua. Bertahan dulu, berkembang kemudian.

Jadi, apa yang ada di benak para pengusaha besar yang seolah-olah mewakili usaha kecil dan mengusulkan kebijakan, belum tentu sama dengan keinginan usaha yang “diatasnamakan” itu. Mungkin ada baiknya jika mereka belajar juga dari fenomena di Metro Mini, angkutan umum yang banyak dihujat.

Walaupun kerap menimbulkan masalah, angkutan sekelas Metro Mini ternyata memberikan ruang kehidupan bagi usaha kecil perorangan. Sambil berjalan menelusuri rutenya, sesekali pedagang pulpen dan tisu masuk menawarkan barang. Kondektur tidak minta bayaran pada mereka, walaupun ada juga penumpang yang belanja.

Bahkan sejurus kemudian, ada pengaman yang masuk. Tidak menawarkan barang, melainkan jasa hiburan. Para penumpang boleh memberi, boleh juga tidak. Namun yang pasti, kehidupan ekonomi kecil menggeliat di atas Metro Mini yang melaju terseok-seok itu, sambil sekali-kali melanggar aturan lalu lintas.

Kalau sedang berada di atas Metro Mini, saya kerap mengkhayal para pengusaha besar berperilaku seperti angkutan berwarna oranye itu. Sambil mereka melaju, usaha kecil yang sejalan ikut terangkut sedikit demi sedikit.

Kalau sudah begitu, mungkin Forum ABAC yang wangi dan berdasi, seperti disuarakan Erwin Aksa, tak perlu repot-repot mengadopsi “all in one e-commerce” dari Cina. Entah ini istilah apa.

Jika ada niat baik, sementara ini cukuplah mengadopsi kearifan Metro Mini yang ada di depan mata.