alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5258f8c418cb175269000000/jangan-sirik-jangan-pitnah-ratu-atut-kekayaanya-kebanyakan-dari-warisan-ayahnya
Jangan Sirik, Jangan Pitnah Ratu Atut. Kekayaanya Kebanyakan dari Warisan Ayahnya
Juru bicara Atut sebut harta bosnya bertambah karena warisan
Sabtu, 12 Oktober 2013 13:19

Jangan Sirik, Jangan Pitnah Ratu Atut. Kekayaanya Kebanyakan dari Warisan Ayahnya
Ratu Atut Chosiyah usai diperiksa KPK

Juru bicara Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Fitron Nur Ikhsan menduga naiknya kekayaan atasannya secara signifikan berasal dari harta warisan. Ayah Atut, TB H Chasan Sochib meninggalkan banyak tanah kepada putrinya. "Kenaikan harta Atut itu kan orang tuanya meninggal. Lalu ada pembagian waris, ada peningkatan harta terutama di tanah. Ada pembagian warisan orang tuanya," terang Fitron dalam diskusi polemik 'Dinasti Atut Cenat Cenut', di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (12/10). Namun untuk memastikan, dia menyarankan agar dicek terlebih dulu ke Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten. "Saya soal LHKP konfirmasi ke Setda. Saya enggak tahu," tutupnya.

Dari data diakses merdeka.com melalui laman situs [url=http://www.accch.kpk.go.id,]www.accch.kpk.go.id,[/url] pada Jumat (4/10), jumlah harta Atut pada 2006 diketahui hampir mencapai Rp 42 miliar, atau tepatnya Rp 41.937.757.80. Laporan itu terdiri 21 halaman. Dalam laporan itu, Atut yang juga kakak kandung tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa pemilihan Bupati Lebak, Banten, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, tercantum memiliki harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan mencapai Rp 19,160 miliar. Aset itu berjumlah sekitar 122 dan tersebar di Bandung, Cirebon, Serang, Pandeglang, dan Jakarta Barat.
http://www.merdeka.com/peristiwa/jur...a-warisan.html

Terakhir Lapor Tahun 2006, Berapa Kekayaan Ratu Atut Sekarang?
Selasa, 08/10/2013 16:25 WIB

Jakarta - Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah tercatat di Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK melapor pada Oktober 2006. Kala itu, dia masih jadi wakil gubernur Banten. Berapa hartanya sekarang? Tak ada informasi di situs LHKPN milik KPK soal kekayaannya saat ini. Yang muncul, hanya laporan Oktober 2006 berjumlah Rp 41,93 miliar dan Oktober 2002 yang jumlahnya Rp 30,63 miliar. Petunjuk soal kekayaannya yang lebih terkini bisa dilihat dari LHKPN sang suami, Hikmat Tomet (58), yang kini duduk di Komisi V DPR. Dia terakhir melaporkan harta pada tahun 2009, saat hendak maju sebagai anggota DPR.

Seorang pejabat dari Direktorat LHKPN KPK mengatakan, harta seorang suami dan istri yang menjadi penyelenggara negara lazimnya sama. Karena, dalam pelaporannya, baik si suami maupun istri, harus juga mencantumkan harta milik pasangan masing-masing dan anak yang masih dalam tanggungan. Artinya, harta Atut dan Hikmat idealnya tak akan berbeda bila dilaporkan dalam waktu yang sama. "Kalau beda itu berarti waktu pelaporannya beda. Selisih sehari saja bisa jadi beda," terang pejabat tersebut.

Lalu, berapa harta Hikmat Tomet pada tahun 2009? Dalam data yang bisa diakses di KPK, nilai total kekayaannya mencapai Rp 33,857 miliar. Nilai itu terdiri dari harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan sebesar Rp 15,675 miliar, lalu harta bergerak berupa mobil, truk dan motor senilai Rp 5,99 miliar. Hikmat juga mempunyai harta bergerak lainnya berupa logam mulia senilai Rp 6,8 miliar dan surat berharga Rp 3,8 miliar. Dia juga memiliki giro setara kas Rp 1,5 miliar
[url]http://news.detik..com/read/2013/10/08/162144/2381546/10/2/terakhir-lapor-tahun-2006-berapa-kekayaan-ratu-atut-sekarang[/url]

Gubernur Banten merasa dirugikan dengan pemberitaan Dinasti Atut
Sabtu, 12 Oktober 2013 10:18

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah berkeluh kesah kepada juru bicaranya Fitron Nur Ikhsan. Atut merasa teraniaya oleh opini miring terhadap dirinya dan keluarganya. Menurut Atut, tidak salah jika keluarganya masuk ke pemerintahan sebab tidak ada aturan dan undang-undang yang melarang anggota keluarga masuk ke dalam pemerintahan di daerahnya. "Bu Atut bilang kenapa dia tidak diberikan celah secara konstitusional secara adil, konstitusi tidak melarang ini. Tolong berikan lubang kecil kepada saya kalau enggak bisa di kasih pintu," kata Atut seperti yang ditirukan Fitron di diskusi Warung Daun "Dinasti Atut Cenat-Cenut", Jakarta, Sabtu (12/10).

Menurut Fitron, seharusnya Atut tidak disalahkan tetapi aturan politik dinasti. Menurutnya, yang harus dibenahi adalah aturan soal dinasti tersebut. Dia pun menyalahkan DPR yang reaktif menanggapi kasus Atut tersebut. "Kalau menginginkan perubahan serius, kan konstitusi tidak melarang ini, kalau mau merubah alamat perubahan ini fokus kepada konstitusi, sampai hari ini perdebatan enggak selesai di DPR." tutupnya.
http://www.merdeka.com/peristiwa/gub...asti-atut.html

Golkar Tuding SBY Sengaja Mainkan Kasus Atut
Sabtu, 12 Oktober 2013 | 12:30 WIB

inilah..com, Jakarta - Partai Golkar menuding ada upaya menjatuhkan Golkar melalui berbagai kasus. Bahkan, Presiden SBY sempat menyindir dinasti politik Gubernur Ratu Atut. Partai Golkar menilai Presiden SBYsengaja ingin menghancurkan Golkar lewat kasus suap Hakim Konstitusi (MK) nonaktif Akil Mochtar. Hal ini juga diperkuat setelah SBY menyinggung adanya politik dinasti di Provinsi Banten. "Agak aneh kalau Presiden SBY menggiring kasus ini. Terlihat sekali ada kepentingan politik Partai Demokrat yang merugikan Golkar melalui kasus ini," ujar Ketua DPP Partai Golkar, Indra J Piliang dalam sebuah diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (12/10/2013).

Golkar saat ini sedang merintis kejayaannya untuk Pemilu 2014. Hal ini sudah terlihat dari berbagai hasil survei dimana Golkar selalu ditempatkan di dalam tiga besar. Namun kejayaan ini mengusik Partai Demokrat. Indra menjelaskan, SBY ingin mencoba merebutnya lewat kasus suap yang menyeret beberapa kader Golkar. "Dengan sinyalemen presiden itu, seolah memberikan dampak karena Banten basisnya Golkar, kemudian presiden ikut bicara. Ini kenapa," tandasnya. Diberitakan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyindir dinasti politik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

SBY sempat menyinggung dinasti politik yang dibangun oleh kepada daerah diwilayahnya masing-masing. Sindiran ini tentu ditujukan kepada Gubernur Banten Ratu Atut yang secara jelas telah membangun dinasti politiknya. "Meskipun UUD maupun UU tidak pernah membatasi siapa menjadi apa posisi di pemerintahan apakah ayah ibu, anak, adik itu menduduki posisi-posisi di jajaran pemerintahan tetapi saya kira, kitalah yang mesti memiliki norma batas kepatutan. Yang patut itu seperti apa, yang tidak patut juga seperti apa," jelas SBY dalam keterangannya di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (11/10/2013).
[url]http://nasional.inilah..com/read/detail/2037845/golkar-tuding-sby-sengaja-mainkan-kasus-atut#.Ulj1nidU32Q[/url]

Golkar sebut SBY juga lakukan politik dinasti seperti Ratu Atut
Sabtu, 12 Oktober 2013 13:16

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyindir politik dinasti yang dilakukan Ratu Atut di Banten. SBY mengingatkan jajaran pemerintahan khususnya di daerah dan juga masyarakat untuk menghindari monopoli dan konsentrasi kekuasaan yang dapat dibarengi dengan kepentingan ekonomi karena dapat mengakibatkan dampak buruk. Namun pernyataan SBY tersebut segera dibalas oleh Golkar. Bahkan Golkar juga menuding SBY juga melakukan hal yang sama, yakni politik dinasti. "Kita melihat juga keprihatinan presiden, hubungan pusat-daerah harus dilihat. Kontrol pusat seperti apa terhadap daerah, yang dipilih itu kan hanya kepalanya dan wakilnya. Sinyalemen dari presiden memberikan dampak, seolah-olah birokrasi di daerah sama sekali diabaikan, apa kerja presiden mencoba mengiring opini publik," jelas Ketua Balitbang DPP Golkar, Indra J Piliang saat diskusi warung daun diskusi Polemik 'Dinasti Atut Cenat cenut', Warung Daun, Jakarta, Sabtu (12/10).

Lebih detailnya, SBY dituding sebagai orang memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan politik. Padahal SBY lewat dinasti politiknya melakukan hal yang serupa. "Bahwa terlihat ada kepentingan Demokrat dengan memarjinalkan partai Golar dengan menggiring opini irasional. Anaknya menjadi sekjen itu bukan sebuah pemilihan itu penunjukan langsung," tutupnya. Sebelumnya, SBY menyebut meski Undang-Undang Dasar atau juga undang-undang tidak pernah membatasi siapa menjadi apa dalam posisi di pemerintahan apakah ayah, ibu, anak, adik segala macam menduduki posisi di jajaran pemerintahan tetapi mesti memiliki norma batas kepatutan. "Yang berbahaya apabila menyatu antara kekuasaan politik dengan kekuasaan untuk melaksanakan bisnis. Godaan besar dan bisa terjadi penyimpangan. Saya ingatkan di era desentralisasi dan otonomi daerah, seolah kekuasaan daerah lebih besar maka sekali lagi berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan yang patut sebab bisa melebihi kepatutan dan godaan akan datang. Kekuasaan di satu orang atau satu keluarga memiliki kecenderungan untuk disalahgunakan," paparnya. Presiden mengajak masyarakat membangun kehidupan bernegara yang baik. "Bila itu wajar dan patut insya Allah tidak membawa keburukan apapun. Masyarakat juga hendaknya lebih aktif," kata Presiden.
http://www.merdeka.com/politik/golka...ratu-atut.html

Harta dan Tahta Dinasti Ratu Atut Chosiyah
Rabu, 9 Oktober 2013, 19:22 wib

VIVAnews - Peluru yang ditembakkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Tubagus Chaeri Wardhana menggoyang dinasti kekuasaan Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten. KPK mencegah bepergian keluar negeri Ratu Atut dan adik iparnya Airin Rachmi Diany yang juga Wali Kota Tangerang Selatan. Tubagus atau yang biasa disapa Wawan adalah adik kandung Ratu Atut, sekaligus suami Airin. Dia ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menyuap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar senilai Rp1 miliar, melalui pengacara Susi Tur Andayani (STA), untuk memuluskan perkara sengketa pilkada di Lebak, Banten.

Juru bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, Rabu 9 Oktober 2013, penyidik akan memeriksa Ratu Atut pada Jumat 11 Oktober mendatang sebagai saksi untuk kasus yang menjerat adiknya itu. "Surat panggilan sudah dikirim kepada Ratu Atut sebagai saksi untuk tersangka STA," kata Johan. Penetapan Wawan sebagai tersangka penyuap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) nonaktif Akil Mochtar, membuat keluarga besar Ratu Atut jadi sorotan media massa. Sebagai turunan 'jawara' Banten Chasan Sochib, Ratu Atut dan anggota keluarga lainnya memang 'dianugerahi' harta melimpah. Tak hanya itu, keluarga ini pun menguasai sejumlah jabatan strategis di Banten.

Ratu Atut yang menjadi Gubernur Banten sejak 2006 itu terakhir kali melaporkan harta kekayaannya ke KPK pada 6 Oktober 2006. Kala itu dia menjadi pelaksana gubernur. Padahal, aturannya setiap pejabat harus melaporkan perubahan harta mereka setiap dua tahun sekali. Di catatan LHKPN KPK 2006 itu, Ratu Atut punya total kekayaan nyaris Rp42 miliar, yakni Rp41,937 miliar. Harta Ratu Atut ini, antara lain, terdiri dari harta tak bergerak berupa tanah dan bangunan. Dia memiliki sejumlah bidang tanah dan bangunan yang tersebar di sejumlah tempat, seperti Serang, Bandung, Cirebon, dan Jakarta. Adapun nilai total harta tak bergerak ini mencapai Rp19.160.418.750.

Selain itu, kekayaan Ratu Atut juga tersimpan dalam bentuk harta bergerak, yakni mobil dan motor. Total nilai mobil dan motornya adalah Rp3,93 miliar. Harta bergerak lainnya--logam mulia dan batu mulia--senilai Rp8,22 miliar. Surat berharga Rp7,85 miliar dan giro Rp2,77 miliar. Jumlah harta adik Ratu Atut, Wawan lebih mencengangkan. Dalam penggelahan Kamis 3 Oktober lalu, penyidik KPK menyegel sejumlah mobil mewah di kediamannya, Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta. Di garasi rumah yang berdiri di atas lahan nyaris 1 hektare itu, berderet dua unit Ferrari warna merah dengan pelat nomor B 888 CNW dan B 888 GES, Rolls Royce warna hitam B 888

CHW, Lamborghini Aventandor warna putih B 888 WHN, Nissan GTR warna putih, satu Bentley warna hitam B 888 GIF, sedan Lexus hitam, Toyota Kijang Innova B 1558 RSY, Toyota Land Cruiser Prado B 1978 RF, Toyota Land Cruiser hitam B 888 TCW, dan Toyota Camry. Selain itu, penyidik pun menemukan sekitar 200 sertifikat tanah. Jumlah sertifikat ini lebih banyak dibandingkan tanah yang dilaporkan Airin, istri Wawan, ke KPK 24 Agustus 2010. Sebagai wali kota, Airin memang termasuk daftar pejabat yang wajib melaporkan hartanya.

Data yang diperoleh, Airin baru melaporkan 102 tanah miliknya ke KPK. Total nilai harta Airin dari tanah-tanah tersebut--berdasarkan data LHKPN-- mencapai Rp59,810 miliar. Sementara total kekayaannya yang dia laporkan ke KPK adalah Rp103, 944 miliar. Lihat daftar tanah Airin di tautan ini. KPK juga punya catatan harta suami Ratu Atut, Hikmat Tomet. Anggota DPR itu memiliki harta yang lebih sedikit dari istrinya. Pada LHKPN 30 Oktober 2009, Hikmat punya harta Rp33,856 miliar. Kepada KPK, dia melaporkan juga harta berupa tanah dan bangunan di 43 lokasi.

Sementara itu, anak Ratu Atut yang juga anggota DPD, Andika Hazrumy pun memiliki 25 koleksi tanah. Berdasarkan LHKPN tanggal 1 Desember 2009, Andika punya harta sekitar Rp19,6 miliar. Selain itu, KPK juga mencatat harta milik anggota dinasti Atut lain, yakni Heryani. Ibu tiri Ratu Atut ini menjabat sebagai Wakil Bupati Pandeglang. Dalam LHKPN 15 Juli 2010, Heryani memiliki total harta kekayaan sebesar Rp26,512 miliar dengan koleksi tanah mencapai 25 lokasi.

Dinasti Ratu Atut
Bukan rahasia lagi bahwa anggota keluarga besar Ratu Atut menduduki jabatan-jabatan penting di jajaran eksekutif dan legislatif Provinsi Banten dikuasai dinasti Atut, mulai dari suami, adik, ipar, anak, dan menantunya. Bahkan cengkeram dinasti Atut juga sampai ke tingkat pusat.

Jabatan Eksekutif
1. Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah
2. Walikota Serang Tubagus Haerul Jaman (adik Atut)
3. Wakil Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah (adik Atut)
4. Wakil Bupati Pandeglang Heryani (ibu tiri Atut)
5. Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany (adik ipar Atut)

Jabatan Legislatif
1. Anggota DPR RI Hikmat Tomet (suami Atut)
2. Anggota DPD RI Andika Hazrumy (anak Atut)
3. Anggota DPRD Banten Aden Absul Khaliq (adik ipar Atut)
4. Anggota DPRD Kota Serang Ratna Komalasari (ibu tiri Atut)
5. Wakil Ketua DPRD Kota Serang Ade Rossi Chairunnisa (menantu Atut)

Partai Golkar
1. Ketua DPD II Provinsi Banten Hikmat Tomet (suami Atut)
2. Ketua DPD II Kota Serang Ratu Lilis Kadarwati (adik tiri Atut)
3. Ketua DPD Kabupaten Pandeglang Ratu Tatu (adik Atut)
4. Angkatan Muda Partai Golkar Tubagus Chaeri Wardhana (adik Atut)

Daftar Caleg 2014
1. Hikmat Tomet (suami Atut)
2. Andika Hazrumy (anak Atut), caleg nomor urut , Dapil Banten 1 (Pandeglang dan Lebak)
3. Ade Rossi Chairunnisa (menantu Atut, caleg DPRD Banten, Dapil Serang
4. Andiara Aprilia Hikmat (anak perempuan Atut), caleg DPD asal Banten
5. Tanto Warsini Arban (menantu Atut), caleg DPRD nomor urut 1, Dapil Banten 7
6. Aden Abdul Khaliq (adik Airin Rachmi Diani, adik ipar Atut), caleg DPRD Banten, Dapil Banten

Awal mula 'musibah'
Setelah adiknya ditangkap, Ratu Atut langsung menggelar rapat besar dengan mengundang semua keluarga besar, Senin 7 Oktober lalu. Di hari yang sama, Ratu Atut juga menggelar istigasah di Masjid Baitussolihin, Kota Serang. Dalam sambutannya, wanita kelahiran Ciomas, Serang, Banten, 16 Mei 1962 itu meminta para jemaah untuk mendoakan adiknya, Wawan yang sudah berada di balik bui Rumah Tahanan KPK. "Istigasah ini dalam rangka peringatan HUT Banten ke-13 dan meminta doa dan keikhlasannya atas musibah yang menimpa keluarga besar, khususnya adik saya Tubagus Chaeri Wardana agar diberikan ketabahan dan kemudahan dalam proses hukumnya" kata Ratu Atut. Sebelum itu, keluarga besar Ratu Atut pun menggelar pengajian di rumah Wawan-Airin, di Jalan Denpasar, Jumat 4 Oktober lalu.

Kasus suap yang disebut 'musibah' oleh Ratu Atut itu berawal dari operasi tangkap tangan KPK terhadap Ketua MK Akil Mochtar Rabu malam, 2 Oktober lalu. Akil ditangkap di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra III nomor 7, Jakarta karena diduga menerima uang Rp3 miliar dari pengusaha Cornelis Nalau. Pengusaha yang datang ke rumah Akil itu ikut diciduk KPK bersama anggota Komisi II DPR dari Fraksi Golkar Chairun Nisa. KPK menduga, uang suap itu terkait dengan perkara sengkata pilkada di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Penyidik juga menangkap Bupati Gunung Mas Hambit Bintih di Hotel Red Top Jakarta.

Rupanya di hari yang sama, Akil pun diduga menerima suap dari perkara sengketa pilkada lain, yaitu pilkada di Lebak, Banten. Akil diduga menerima uang dari pengusaha Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan. Namun, Wawan tidak menyerahkan langsung kepada Akil. KPK menduga, uang tersebut diserahkan melalui Susi, pengacara yang dikenal Akil. "Uang itu dimasukkan dalam travel bag warna biru yang kemudian dibawa STA," jelas Ketua KPK Abraham Samad, pekan lalu.

Susi sempat menyimpan uang itu di kediaman orangtuanya di Tebet, Jakarta. Semula, uang ini akan diserahkan ke Akil. "Tapi, sekitar pukul 15.00 WIB, STA pergi ke Lebak. Tim penyidik megikutinya dan menangkap STA di sana." Setelah itu, penyidik kemudian menangkap Wawan di rumahnya di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan. Tim penyidik juga mendatangi kediaman orangtua susi di Tebet dan menyita uang Rp1 miliar dalam pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
http://fokus.news.viva.co.id/news/re...-atut-chosiyah

KPK Pastikan Akan Telusuri Harta Ratu Atut
Jum'at, 11 Oktober 2013 , 22:18:00

JAKARTA--Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad memastikan pihaknya akan menelusuri sumber kekayaan Gubernur Banten Ratu Atut. Hal ini disampaikan Abraham saat ditemui di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, (11/10). "Kita telusuri semua apa yang berkembang dalam penyidikan," kata Abraham. Ratu Atut diperiksa KPK sebagai saksi terkait kasus dugaan suap di Mahkamah Konstitusi (MK) yang melibatkan adiknya Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan. Abraham menyatakan Atut tidak ditahan KPK karena masih berstatus saksi. "Enggak (ditahan). Kan itu masih saksi. Saya rasa pulang," kata Abraham.

Nama Dinasti Ratu Atut dan kekayaan bisnisnya yang menggurita telah terkenal sejak lama. Pada tahun 2002, nama Ratu Atut termasuk dalam daftar 25 gubernur terkaya di Indonesia dengan kekayaan Rp 17 miliar. Sedangkan pada 2006, kekayaannya bertambah hampir mencapai Rp 42 miliar atau sekitar Rp 41,9 miliar. Kekayaan Atut itu tertera di laman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di KPK. Hingga saat ini, Atut belum melaporkan kembali jumlah kekayaannya.
http://www.jpnn.com/read/2013/10/11/...rta-Ratu-Atut-

-----------------------------

Jangan pitnah Ratu atut, nanti ente kualat ... atau kena santet!


emoticon-Takut:
tetep aja bakal habis kalo gak diolah duitnya emoticon-siul
ya bapanya juga koruptor ...
kalo bantahannya dari hasil NGEPET baru bisa jadi bahan pertimbangan
Suka malak proyek jg salah satu warisan bokapnya gak gan?

Tau sama tau

Yg pasti halal darahnya atut cs ini gan... Udah pasti korupsi berjamaah atw kolusi n nepotisme berjamaah gan, jadi udah pasti halal darahnya atut cs buat Banten gan... Go Banten revolusi... Gan... emoticon-2 Jempol
Jangan salah Ayah si atut itu juga miskin ... cuman bisa kaya karena maen Proyek

baca disini gan:

Quote:Chasan Sochib terlahir bukan dari keluarga kaya atau keluarga priyayi/bangsawan. Ia terlahir dari keluarga pedagang beras biasa di Pabuaran. Pendidikannya di sekolah rakyatnya tidak as tamatkan, kemudian Chasan Sochib melanjutkan ke pesantren. dan berakhir tidak tamat juga.

Menurut Sl, mantan aktivis LIRA Banten yang mendengar cerita dari jawara sepuh di Pabuaran, Kabupaten Serang, nama asli Chasan Sochib adalah Kasan. Sering disebut dengan nama Kasan Petromaks. Kata terakhir, karena tingkah laku Kasan yang suka mengamankan petromaks mushala ke pasar. Maklum, karena belum ada listrik, harga petromaks lumayan berarti.
Entah kenapa, Sl tidak menceritakan secara detail, Kasan terlibat perkelahian yang berujung kematian lawannya. Kasan pun dipaksa mengenyam pendidikan di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Selepas dari Nusakambangan, Kasan dikabarkan sering mengumpulkan pelaku kejahatan, seperti maling dan rampok. Di daerah Pabuaran, Ciomas dan Padarincang, namanya cukup ditakuti. Saat itu Kabupaten Serang dipimpin Bupati Kaking. Karena hobi dari sang bupati yang suka beburu babi hutan di daerah paburuan, Ciomas dan Padarincang

Kaking membutuhkan petunjuk jalan yang handal. Kasan lah yang sering dipilih Kaking.Terkesan oleh kecakapan dan kehandalan kerja Kasan, Kaking memboyongnya ke Kota Serang. Kasan dijadikan penjaga kandang kuda dan perawat binatang piaraan Kaking, seperti buaya, beruang, harimau dan lainnya. Lama-lama, nama Kasan berubah menjadi Hasan. Ternyata hasil kerja Hasan sangat memuaskan Kaking. Karirnya meningkat menjadi perwakilan Kaking dalam berdagang beras dari/ke Lampung. Tak lama dipromosikan kembali jadi tukang jingjing tas Kaking. Seperti buntut anjing, kemana Kaking pergi, tampak dibelakangnya Hasan menjingjing tas dan map.

Seiring berjalanya waktu. Lingkup kerjanya bertambah menjadi seorang yang mengurusi dokumen kontrak hingga ke pencairan dana proyek. dengan jabatanya tersebut Hasan jadi hapal seluk beluk bermain proyek. Kepercayaan pun datang. Hasan dipercaya Kaking memimpin proyek pembangunan pasar Anyer.

Di sini kecerdasan Hasan terlihat. Luas dan jumlah kios ia naikan, walau laporan ke Kaking tidak berubah masih sesuai rencana. Kios-kios di tempat strategis dikatakan sudah di beli orang, padahal dibeli sendiri. Keuntungan Hasan jadi berlipat-lipat, dari selisih penjualan kios antara laporan dan fakta di lapangan dan penjualan kios-kios strategis yang dibelinya dengan harga standar.

dari keuntungan itu Hasan mendirikan CV Sinar Ciomas dan mulai bermain proyek. Proyek pertamanya membangun jembatan di Anyer senilai kurang lebih Rp1 miliar. Jembatan dengan teknologi baru peninggalan nenek moyang, dibuat dari gelondongan batang pohon kelapa. Tak terbayangkan berapa untungnya.
Nama Hasan semakin tersohor di dunia proyek. Bukan saja terkenal karena teknik membangunnya yang sering mencontoh peninggalan nenek moyang, tapi lebih terkenal karena gaya penawaran proyek yang sangat berbeda. Jika perusahaan lain memberikan penawaran dalam amplop tertutup, Hasan memberikan penawaran berbentuk minimal 2 orang berseragam hitam-hitam dan bersenjatakan golok.

Tak hanya itu, sang jawara juga menjadi penyedia kebutuhan logistik bagi Kodam VI Siliwangi (Gandung Ismanto, Asasi, Nov-Des, 2010). Kodam Siliwangi juga berkepentingan atas kestabilan politik di Banten. Mereka membutuhkan orang lokal untuk menjadi perpanjangan tangan di daerah. Di mata para komandan Ko­dam IV Siliwangi, Banten adalah daerah yang rawan dipengaruhi oleh kekuatan komunis baik sebelum dan sesudah tragedi 1965 (Agus Sutisna (ed.), 2001).

Atas dalih kepentingan politik keamanan dan ekonomi di Banten, Chasan Sochib men­dapat­kan banyak keistimewaan dari Kodam VI Siliwangi dan Peme­rintah Jawa Barat. Sebagian besar proyek pemerintah khususnya di bi­dang konstruksi banyak diberi­kan kepada Chasan Sochib. Tahun 1967, Chasan Sochib mendirikan PT. Sinar Ciomas Raya yang sampai saat ini merupa­kan perusahaan terbesar di Banten, khususnya di bidang konstruksi jalan dan bangunan fisik lainnya (van Zorge Report, Januari 21, 2010). Untuk me­man­tap­­kan bisnisnya, Chasan Sochib menguasai sejumlah organisasi bisnis seperti Kamar Dagang dan Industri Daerah Banten, Ga­bung­an Pengusaha Konstruksi Nasio­nal Indonesia Banten, dan Lem­baga Pengembangan Jasa Kon­struk­si Nasional Indonesia Banten.

Ketika terjadi reformasi, Chasan Sochib mampu mentransformasi diri ke dalam struktur politik dan ekonomi yang baru. Meminjam kerangka teoritis Richard Robison dan Vedi Hadiz (2004), Chasan Sochib adalah the old predator yang mampu mereor­gani­sir kekuasaannya sehingga dia tak lenyap digerus arus perubah­an. Chasan Sochib mampu menjelma menjadi the new predator yang menguasai arena politik, ekonomi, sosial-budaya di Banten. Bahkan, dalam kasus Banten, Chasan Sochib jauh lebih ber­kuasa saat ini dibandingkan dengan­ era Orde Baru.

Pada awal perubahan di Banten, Chasan Sochib sinis melihat gerakan dari sejumlah pihak yang menuntut Banten menjadi provinsi baru. Chasan Sochib khawatir bahwa perubahan ini akan mengancam keberlangsung­an relasi bisnis dan politiknya dengan­ pejabat di Provinsi Jawa Barat. Namun seiring dengan makin membesarnya arus gerakan pembentukan Provinsi Banten, Chasan Sochib segera berbalik dan berperan aktif.

Perpindahan posisi ini menyelamatkan masa depan bisnis dan politiknya di Banten. Dengan kekuatan finansialnya, Chasan Sochib membantu gerakan peme­kar­an dan mendapatkan peng­akuan sebagai tokoh pembentuk­an Provinsi Banten. Setelah Banten menjadi provinsi, Chasan Sochib mulai lebih agresif me­nyusun kekuatan politiknya. Dulu pada masa Orde Baru, Chasan Sochib hanya bertindak sebagai client capitalism (meminjam istilah Richard Robison, 1990) yang sangat bergantung pada koneksi dengan pejabat sipil dan militer, tetapi tidak aktif dalam merancang siapa yang berkuasa atas politik Jawa Barat. Dengan adanya struktur politik yang baru, Chasan Sochib bertindak secara aktif menentukan siapa yang menjadi penguasa di Banten.

Bermula dari upaya memaju­kan Ratu Atut sebagai calon wakil gubernur dan sukses memenang­kan­nya, Chasan Sochib me­ran­cang anggota keluarga besar­nya untuk aktif terlibat di bidang politik, ekonomi, sosial dan bu­daya. Hasil­nya sangat sukses (lihat ilustrasi di atas). Chasan Sochib memang tak me­megang jabatan publik, tetapi sebagaimana pengakuan dirinya bahwa dia adalah “gubernur jenderal” menunjukkan bahwa dia adalah penguasa sesungguhnya di Banten.
Ayo warga Banten, semangatttt

Gila itu mah sekeluarga jd caleg smua
Jangan-jangan sekeluarga itu gan emoticon-Takut
Proyeknya dr ladang basah bisa 10x lipet!
wajar klo disebut dinasti, lha keluarganya pejabat semua...

ntu duit yakin dapet nyolong, klo ngandelin gaji gubernur gak mungkin duitnya numpuk.. lha bisnisman aja nyari duit setengah mati, ini modal pantat doang duit ngalir? hiks
yg masalah sih dinastinya doank
Keluarga yang sungguh...t..e..r..l..a..l..u emoticon-Najis
Quote:Original Posted By gaexdv
Suka malak proyek jg salah satu warisan bokapnya gak gan?


bokapnya kan jawara banten gan.. emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut

ente simpulkan sendiri ye emoticon-Takut (S) barusan ada bola api lewat emoticon-Takut
ICW: Ada 10 Perusahaan Terafiliasi ke Dinasti Atut, Proyek Capai Triliunan
Jumat, 11/10/2013 21:13 WIB

Jakarta - Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Masyarakat Transparansi (Mata) Banten mengungkap 10 perusahaan yang diduga dikendalikan langsung oleh dinasti Ratu Atut Chosiyah dan selalu memenangkan tender-tender milik pemerintah. Tender tersebut rata-rata untuk tahun anggaran 2011 hingga 2013. "Ada 10 perusahaan yang kami ungkap atas nama Atut, Tatu, Andika dan Wawan," ujar peneliti ICW, Firdaus Ilyas dalam konferensi pers bertajuk 'mengungkap gurita bisnis perusahaan dinasti Banten' di kantor ICW, Jl Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Jumat (11/10/2013).

Menurut Firdaus, penelusuran ini baru dilakukan di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Pemprov Banten. Dari hasil penelitian di Kementerian PU selama tahun 2008-2013, setidaknya tercatat 33 proyek yang dimenangkan oleh dinasti Atut. "Total nilai proyek yang dimenangkan di Kementerian PU sebanyak Rp 478,728 miliar," ungkap Firdaus.

Sementara dari hasil penelusuran di Pemprov Banten dari tahun 2011-2013 tercatat ada 19 proyek yang mereka menangkan. Total nilai proyek tersebut senilai Rp 244,604 miliar. "Secara keseluruhan diduga ada 52 proyek yang dikendalikan langsung oleh Atut dengan total nilai Rp 723,333 miliar," katanya.

Firdaus menambahkan, total ada 175 proyek yang dimenangkan dinasti Atut selama kurun waktu 2008-2013. Total nilai 175 proyek tersebut mencapai Rp 1,148 triliun. Dari 175 proyek tersebut, 52 diantaranya dikendalikan langsung oleh Atut cs, sementara 123 proyek lainnya dikendalikan oleh perusahaan yang diduga bagian dari kartel dinasti Atut. Berikut nama 10 perusahaan yang diduga dikendalikan langsung oleh keluarga Atut :

1. PT Sinar Ciomas Wahana Putra
2. PT Ginding Mas Wahana Nusa
3. PT Unifikasi Profesional Media Consultant
4. PT Profesional Indonesia Lantera Raga
5. PT Andika Pradana Utama
6. PT Pelayaran Sinar Ciomas Pratama
7. PT Ratu Hotel
8. PT Putra Perdana Jaya
9. PT Bali Pacific Pragama
10. PT Buana Wardana Utama

Pihak KPK saat dikonfirmasi soal ini, mengatakan sedang melakukan penelusuran. Sementara Juru Bicara Keluarga Atut, Fitron Nur Ikhsan, tidak bisa berkomentar soal ini karena persoalan hukum.
[url]http://news.detik..com/read/2013/10/11/211319/2385066/10/icw-ada-10-perusahaan-terafiliasi-ke-dinasti-atut-proyek-capai-triliunan?nd771104bcj[/url]


emoticon-Sorry
ayahnya atut itu siapa sih??
centeng tukang gorok dan maling...
bangga gitu punya ayah kaya dari hasil rampok...
emoticon-Ngakak ada juga yang bela ya.. di bayar berapa tuh..?
titipin aja ke ane hahaha
Nunggu berita dari kpk langsunhg deh. Ente terlibat ato kagak tut.
paur ahhh....