alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5258977a3fcb171046000003/novel-bersambung-formil-2-ksatria-pertama
[Novel Bersambung Formil 2] KSATRIA PERTAMA
“Inspired by historical events and characters, this work of fiction is designed, developed, and produced by multicultural team of various religious faiths and beliefs”

Disclaimer:
Novel ini akan bercerita tentang kejadian di masa lalu, dan walau memakai beberapa landmark dan karakter penting dalam sejarah, kisahnya sendiri fiktif dan tidak untuk dipakai sebagai referensi sejarah dengan cara apa pun. Hanya untuk hiburan semata, jadi silakan menikmati.

KSATRIA PERTAMA


Cerita ini akan mengikuti kisah seseorang yang bernama Rusman Suhadi, yang lahir pada tahun 1920-1930-an dan diyakini meninggal pada tahun 1948, tepat sebelum terjadinya Agresi Militer Belanda II.

Tak banyak yang bisa diceritakan dari tokoh ini, karena dia awalnya dianggap prajurit kacangan yang kebetulan tergabung dalam Divisi Siliwangi, dan terpaksa harus melakukan long march dari Jawa Barat ke Jawa Tengah ditengah hujan serangan dari Belanda. Namun, di suatu waktu dalam sejarahnya, ada kejadian yang mengubah nasibnya untuk selamanya.

Apakah yang terjadi padanya? Mengapa dia kemudian dijuluki sebagai "Ksatria Pertama"? Semua akan bisa disaksikan dalam novel yang saya sebut memiliki genre fantasi-alternate historis dengan alur non-linear.

Dan untuk tidak membingungkan pembaca, mohon diingat bahwa cerita ini bukanlah untuk referensi sejarah dan hanya untuk kepentingan hiburan semata. Anggap saja kejadian ini terjadi dalam sejarah Indonesia pada dunia paralel.

Selamat membaca...


"Ksatria Pertama adalah Yudhistira; santun namun pemberani dan penuh wibawa; punya senjata bukan untuk membunuh, namun kekuatannya tak tertandingi."
(Lost Scripture of Jayabaya)
Prologue I: The Ice in the Ocean

Samudera Indonesia.
Lepas pantai Yogyakarta
Masa Kini.


Sebuah kapal riset kelautan dan oceanografi terbaru milik TNI-AL, yaitu KRI Baruna berlayar dengan tenang untuk misi mengadakan riset dan pemetaan bawah air atas perairan di lepas pantai Yogyakarta hingga ke tapal batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dengan perairan bebas di Samudera Indonesia. Pekerjaan pemetaan ini amat penting mengingat lepas pantai selatan pulau Jawa diproyeksikan sebagai salah satu garis pertahanan pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia dari semua penyusupan maupun agresi dari pihak asing.

KRI Baruna merupakan kapal riset yang merupakan hasil produksi bersama antara Norwegia dengan Korea Selatan, dan merupakan salah satu jenis kapal riset terbaik dan termodern di dunia. Indonesia merupakan konsumen keempat dari kapal ini setelah Norwegia, Korea Selatan, dan Belanda. Oleh Korea Selatan, kapal ini dinamakan sebagai dinamakan sebagai kapal riset lepas-pantai kelas Cheomseongdae, dan dipersenjatai secara mandiri dengan CIWS dan ranjau laut, karena kelas Cheomseongdae bertugas juga untuk melakukan antisipasi atas jalur-jalur infiltrasi kapal-kapal selam mini Korea Utara. Dan varian dari Korea Selatan-lah yang dibeli oleh Indonesia sebanyak dua kapal yang lalu diberi nama KRI Baruna dan KRI Jalanidhi, masing-masing akan ditempatkan Armada Barat dan Armada Timur. Memimpin di atas KRI Baruna adalah Laksda. Adiasa Giovanco, yang juga menjabat sebagai kepala bagian riset kelautan TNI-AL.

Seorang kelasi dengan cekatan membawa sebuah nampan berisi sepoci teh hangat lengkap dengan semua pelengkapnya, melalui koridor-koridor sempit kapal dari galley menuju ke teras di depan anjungan. Matahari bersinar dengan cerah pada hari itu dan laut pun sedang dalam keadaan bersahabat, membuat misi pelayaran itu bagaikan pesiar saja. Sebuah meja sudah digelar pada teras anjungan itu, dan Laksda. Adiasa serta nakhoda KRI Baruna, Kolonel Martinus Laina duduk berhadapan pada meja itu dengan sebuah papan catur magnetik digelar di atasnya. Kemudi untuk saat ini dipasrahkan kepada Mualim Satu, Mayor Andoni Zubizarreta Siregar, dan kapal pun melaju mulus di atas ombak ramah. Bahkan saking indahnya hari ini, Laksda. Adiasa memerintahkan semua awak kapal yang tak bertugas jaga untuk bersantai dan menikmati hari ini, walau tanpa mengendurkan kewaspadaan.

Sontak beberapa awak kapal terlihat sudah tersebar di berbagai tempat di geladak kapal. Paling umum adalah memancing atau hanya duduk-duduk saja di dekat haluan atau sisi kapal. Tapi sebagian besar awak terpusat pada geladak helikopter di belakang yang memang berukuran besar, karena entah siapa yang punya ide, awak kapal sepakat untuk mengadakan pertandingan futsal kelas tarkam di sana. Walau jaring pelindung sudah dinaikkan, tetap saja ada satu dua kejadian bola ditendang terlalu keras sehingga jatuh ke laut. Pertandingan futsal ini pun menjadi hiburan bagi para awak kapal riset ini yang jumlahnya hampir mencapai 300 orang.

Kapal KRI Baruna memang kapal yang cukup besar, bahkan kapal ini menjadi kapal terbesar di kalangan Satuan Kapal Bantu. Ini wajar, karena bentuk aslinya, yaitu kapal kelas Cheomseongdae selain dipakai sebagai kapal riset all-for-one juga dipakai sebagai kapal dengan kemampuan kombat terbatas. Buritannya memiliki geladak helikopter yang cukup untuk menampung 2 helikopter dari kelas NBell-412, serta memiliki hanggar untuk menaungi satu helikopter lagi. Aslinya di kelas Cheomseongdae memiliki hanggar yang cukup untuk menaungi dua helikopter, tapi TNI-AL sengaja mengurangi kapasitas hanggar dan menggantinya dengan ruangan penyimpan kapal selam mini. Bergerak ke lambung, kapal Cheomseongdae/Baruna juga dilengkapi dengan berbagai macam laboratorium yang membuatnya bisa melakukan berbagai macam riset, mulai dari pemetaan, oceanologi, geologi, toksikologi, hingga laboratorium untuk biota laut. Selain itu ada beberapa ruang yang digunakan sebagai tempat rekreasi awak kapal yang lebih variatif daripada KRI biasa, karena proyeksi penggunaannya memang bukan eksklusif hanya untuk TNI-AL semata, tapi bisa dipinjamkan kepada instansi sipil lain yang membutuhkan. Perbedaan pun terlihat kembali pada bagian lambung, karena KRI Baruna tak memiliki rel pelepas ranjau serta ruang penyimpan ranjau laut yang dimiliki oleh Cheomseongdae, yang digantikan oleh ruang penyimpan dan pengendali drone selam atau Unmanned Submersible Vehicle (USV), yaitu dari jenis TIRAM-III yang dilengkapi alat seperti las bawah air, tang, dan juga pemotong untuk keperluan penyelidikan reruntuk kapal.

Keistimewaan dari kapal ini adalah adanya stasiun cuaca di aft-structure dan stasiun satelit yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi dan cuaca, membuat kapal ini bisa melaksanakan berbagai macam riset yang bervariasi. Juga satu fitur istimewa lain adalah penggunaan sensor bawah air yang berbasis LIDAR atau Light Detection and Ranging di samping sonar dan ekolokasi yang lebih umum. LIDAR yang berbasis sinar laser ini bisa membuat pemetaan topografi bawah air secara tiga dimensi yang lebih teliti dari sekadar sonar biasa. Oleh Korea Selatan, sensor LIDAR inilah yang diandalkan untuk melacak jalur-jalur infiltrasi kapal selam mini Korea Utara, dan menentukan posisi pemasangan ranjau yang tepat, di samping juga bisa untuk mengetahui posisi-posisi mana saja di perairan yang dipasang ranjau oleh Korea Utara; walau Cheomseongdae sendiri tak punya kapabilitas untuk menyapu ranjau. Satu-satunya yang menegaskan bahwa ini adalah kapal militer adalah dengan adanya dua CIWS Phalanx 20mm yang disuplai oleh beberapa titik sarang kanon otomatis baik dari Oerlikon 20mm atau mitraliur Browning 12,7mm. Penggunaan senjata ini juga berbeda pada KRI Baruna, karena pada Phalanx di bagian haluan, TNI-AL menggantinya dengan senjata FH-2000 yang berbasis kanon otomatis S-60 57mm dan 6 peluncur rudal antipesawat QW-3, dan pada Phalanx bagian buritan menggunakan CIWS buatan lokal, Bramasthra Mark-III 20mm, serta beberapa titik sarang mitraliur SMB-QCB .50 cal.

Satu-satunya awak yang bersiaga di hari yang indah ini hanyalah awak pada bagian anjungan dan bagian pemetaan bawah air. Misi pemetaan bawah air ini memang misi istimewa, karena termasuk dalam Operasi Indonesia Satu yang bertujuan untuk menetapkan perimeter pertahanan terluar Indonesia terhadap serangan dari elemen-elemen asing. KRI Baruna dan KRI Jalanidhi sebagai ujung tombak terbaru tentu dikerahkan untuk Operasi ini bersama dengan KRI yang lainnya. Saat ini juga, KRI Jalanidhi tengah melakukan misi serupa namun di wilayah Laut Sulawesi. Namun keistimewaan untuk KRI Baruna adalah bahwa ini merupakan misi pemetaan bawah air pertamanya, sementara KRI Jalanidhi pernah melakukan hal serupa pada Laut Arafuru dan Selat Ombai. Selama ini, KRI Baruna “baru” mendapatkan misi untuk penelitian atas sesar Mediterania di lepas pantai timur Sumatera, dan penyelidikan aktivitas vulkanis Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda.

“Skak,” kata Laksda. Adiasa sambil tersenyum ketika memindahkan kuda putihnya untuk memakan benteng hitam.
“Tidak secepat itu, Laksamana,” kata Kol. Laina balas tersenyum sambil menggerakkan gajah raja-nya dan memakan kuda yang baru melakukan skak tadi.

Senyum Laksda. Adiasa sedikit berkurang karena kini posisi gajah Kol. Laina bisa mengancam kedudukan menteri milik Laksda. Adiasa. Bila ditambah dengan fakta bahwa Kol. Laina masih memiliki satu benteng yang bebas, artinya skema Pembelaan Petroff yang digelar oleh Laksda. Adiasa terancam dilibas oleh permainan Gambit Menteri milik Kol. Laina. Andai hari ini tak begitu indah, mungkin raut muka Laksda. Adiasa akan lebih masam lagi.

Sementara itu, jauh dari keriuhan keceriaan di luar, para awak di bagian pemetaan bekerja dengan amat serius. Mereka tak mau ada satupun bentang alam bawah air yang luput untuk dipetakan. Untuk itu, maka sensor LIDAR dan sonar digunakan secara simultan untuk memberikan gambaran lengkap mengenai keadaan di bawah laut. Semua awak yang bertugas di sini amat yakin dengan kemampuan LIDAR ini, mereka menyamakannya dengan sebuah senjata ampuh yang bisa mengalahkan semua tantangan, keyakinan diri yang juga terdapat pada perwira berwenang di sini, Let. Muhammad Raffido. Sejujurnya bagi awak di bagian pemetaan, ini adalah saat yang menjemukan, karena pada saat semua rekan mereka bisa bersantai, mereka justru dituntut harus serius untuk bekerja. Namun semua melakukan ini dengan penuh dedikasi karena mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan pada hari ini akan berguna untuk hari-hari ke depan. Tak ada yang tahu bahwa sebuah hari yang tenang akan segera dipecahkan oleh kehebohan luar biasa.

Sebuah nada peringatan indikasi tiba-tiba berbunyi, asalnya dari stasiun LIDAR. Ini tentu saja membuat Pratu. Rudy Toruan yang bertugas di sana agak keheranan, lebih tepatnya, ada sesuatu yang tertangkap oleh LIDAR itu yang membuatnya terheran-heran. Untuk memastikannya, dia beberapa kali mengubah setelan LIDAR, tapi hasilnya tetap sama. Adanya nada peringatan ini akhirnya menarik perhatian dari Let. Raffido.

“Ada apa?” tanya Let. Raffido.
“LIDAR menangkap sesuatu yang aneh, Pak,” kata Pratu. Toruan, “mungkin aku salah, tapi seharusnya hal ini mustahil terjadi, apalagi di sini,”
“Apa bagian sonar juga menangkap hal yang sama?” tanya Let. Raffido.
“Kurang lebih, Pak, apa pada sektor Alpha-Sierra-3-2-8?” tanya Pratu. Alvian Prakoso pada stasiun sonar.
“Benar, sektor Alpha-Sierra-3-2-8,” kata Pratu. Toruan.
“Kalau begitu aku setuju, itu memang cukup aneh,” kata Pratu. Prakoso, “mengingat kita bisa menemukan ‘itu’ di sini,”

Penasaran, Let. Raffido kemudian menuju ke stasiun master yang memberi risalah dari semua hasil pengamatan, baik dari LIDAR, sonar, maupun yang lain. Hasil itu, sekali lagi membuat Let. Raffido terdiam dengan pandangan mata tak percaya. Dia pun mengamini pendapat Pratu. Toruan dan Pratu. Prakoso, mustahil hasil pembacaan ini bisa benar karena di titik ini, apa yang ditemukan memang cukup aneh.

“Kunci koordinatnya, lalu berikan laporan tertulisnya,” kata Let. Raffido, “aku akan melapor pada Kapten,”

Dengan cepat laporan tercetak pun diberikan, dan Let. Raffido langsung menyambarnya dan meninggalkan ruangan untuk segera memberikan laporan ini kepada nakhoda kapal, Laksda. Adiasa. Beberapa ABK yang dilewatinya di selasar kapal tampak heran dengan tampang Let. Raffido yang tegang dan langkahnya yang agak terburu-buru, seolah baru saja melihat hantu. Tapi bisa jadi apa yang dia lihat memang hantu, hanya saja hantu apakah?

Laksda. Adiasa, yang sejenak menghentikan permainan caturnya dengan Kol. Laina, tampak mengernyitkan dahi membaca laporan Let. Raffido. Beberapa kali pandangannya beralih dari wajah Let. Raffido ke laporan yang dia baca, seolah berharap bahwa Let. Raffido sedang bercanda, tapi wajah serius dan tegang Let. Raffido justru mengindikasikan hal yang sebaliknya.


“Tapi ini tidak mungkin, Letnan,” kata Laksda. Adiasa, “tidak mungkin bisa ditemukan di sini, kita bahkan belum meninggalkan landas kontinen,”
“Saya tahu, Pak,” kata Let. Raffido, “sudah kami coba mengkalibrasikan berkali-kali dan hasilnya tetap sama, ada gumpalan es yang ditemukan di dasar samudra,”
“Ini adalah perairan hangat, es seharusnya baru bisa ditemukan setelah jauh ke selatan, dan pastinya bukan pada musim sekarang ini, saat belahan bumi selatan sedang mengalami musim panas,” kata Laksda. Adiaksa.
“Bagaimana dengan kemungkinan arus dingin dari Kutub Selatan untuk mencapai tempat ini?” tanya Kol. Laina.
“Terlalu jauh,” kata Laksda. Adiaksa, “lagipula arus dingin dari Kutub Selatan semata tak akan cukup untuk mempertahankan es di dasar samudra dari perairan yang cukup dekat dengan khatulistiwa,”
“Kalau ini bukan sebuah keanehan alami, pasti ada sesuatu yang ganjil,” kata Kol. Laina.
“Aku setuju, Kolonel,” kata Laksda. Adiaksa, “ditambah lagi bila mengingat jaraknya cukup dekat dengan pesisir selatan Jawa,”
“Mungkinkah ini reruntuk dari kapal selam KRI Antasena yang tenggelam beberapa waktu lalu?” tanya Kol. Laina.
“Tidak mungkin, tempat tenggelamnya KRI Antasena masih ribuan mil dari sini,” kata Laksda. Adiasa, “sebaiknya aku melihat langsung, kau tak keberatan kalau permainan ini ditunda sejenak, ‘kan?”
“Tidak, kita bisa lanjutkan kapan saja,” kata Kol. Laina, “lagipula aku akan tetap menang,”
“Baiklah, Kolonel, ayo ikut aku ke ruang pemetaan,” kata Laksda. Adiasa sambil bangkit dan mengenakan kembali topinya.

Saat Laksda. Adiasa bersama Kol. Laina dan Let. Raffido kembali memasuki ruang pemetaan, suasana di sana sudah lumayan ramai karena semua orang kali ini berusaha sebaik-baiknya untuk melacak penemuan bidang es yang tidak seharusnya ada di perairan ini.

“Bagaimana statusnya?” tanya Laksda. Adiasa.
“Lapor, Pak, kami sedang berusaha mengukur luas bidang esnya,” kata Pratu. Toruan.
“Berapa luas wilayah yang ditutup oleh es?” tanya Laksda. Adiasa.
“Untuk ukuran ini lumayan kecil, Pak,” kata Pratu. Toruan, “kami masih menunggu proses pemindaian yang lengkap, tetapi aku bisa memberikan gambaran kasar LIDAR mengenai dimensi bidang es itu,”
“Kalau begitu tampilkan,” kata Laksda. Adiasa.

Pratu. Toruan mengangguk kemudian menekan beberapa tombol untuk memproyeksikan gambaran LIDAR atas bidang es pada layar besar. Perlahan-lahan, di layar itu muncul tampilan mirip synthesizer beraneka warna yang menunjukkan kedalaman dari bidang tersebut. Walau tampak agak ruwet, tapi semua bisa melihat bahwa bidang itu membentuk suatu bidang bulat yang cukup sempurna dengan kedalaman yang tak begitu tinggi. Saat semua orang masih bingung dengan dimensi benda yang terpindai ini, Laksda. Adiasa tampak terbelalak seolah dia baru saja melihat hantu, melihat sesuatu yang seharusnya sudah lama tidak ada dan sekarang muncul begitu saja di hadapan matanya.

“Cepat, hubungi Jakarta,” kata Laksda. Adiasa, “minta perintah dari markas besar TNI AL segera,”

Hari yang semula tenang pun mendadak pecah dan keriuhan melanda seluruh KRI Baruna. Tanpa terlebih dulu memberitahukan alasannya kepada semua awak kapal, KRI Baruna segera buang sauh dan menghentikan misi mereka. Hanya awak di ruang pemetaan saja yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara awak lain tampak bertanya-tanya, apakah tengah terjadi sesuatu yang tak biasa?
Enam jam kemudian

Sebuah helikopter muncul dari balik cakrawala, bersamaan dengan matahari yang sedang tergelincir ke ufuk barat. Sudah enam jam lamanya KRI Baruna berada dalam posisi siaga, dan selama itu pula kebingunan melanda seluruh awak KRI Baruna, karena tak ada satu pun perwira yang mau memberi tahu alasan kenapa mereka berhenti dan bersiaga di sini. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu siapa pula yang akan datang memakai helikopter ini? Pertanyaan yang wajar, karena helikopter yang datang ini tak memakai warna kelabu TNI-AL, hijau TNI-AD, ataupun putih TNI-AU. Alih-alih, helikopter jenis Bell-412 yang muncul ini berwarna hitam legam dan nyaris tanpa tanda pengenal apa pun selain roundel segi lima merah putih.

Dengan suasana yang penuh misteri, helikopter Bell-412 ini pun mendarat di helipad KRI Baruna. Bahkan petugas taxi pun bingung dengan apa yang dilakukan oleh helikopter tanpa tanda pengenal ini. Pendek kata, semua orang masih bertanya-tanya dengan semua kejadian yang terasa amat aneh ini. Tanpa menunggu rotor berhenti sempurna, pintu di helikopter terbuka, dan dua orang pun turun dari sana, yang pertama turun adalah seorang pria, dan setelah itu diikuti oleh seorang wanita. Si pria ini dikenali sebagai kepala badan intelijen, Hafryn Rahman, sementara wanita di belakangnya, tampak berusaha untuk tetap low-profile dengan pakaian biasa, kacamata lebar, dan rambut ikalnya, dikenali sebagai Maria Elizabeth Aresti, salah satu wakil dari Hafryn Rahman. Laksda. Adiasa pun segera menyambut kehadiran dua orang tamu penting ini.

“Laksamana, aku ingin melihat temuanmu,” kata Hafryn tanpa basa-basi.
“Sekarang, Pak?” tanya Laksda. Adiasa.
“Ya, aku terbang langsung dari Jakarta karena mendengar soal ini,” kata Hafryn.
“Saya tak menyangka bahwa kepala badan intelijen langsung yang datang,” kata Laksda. Adiasa, “kenapa tidak ada perintah dari Mabes AL?”
“Sampai ada kejelasan dari status kasus ini, aku sudah minta kepada semua Angkatan untuk menyerahkan semua ini kepada Intelijen, jadi untuk saat ini, kapal KRI Baruna ada di bawah komandoku langsung, kuharap kau tak keberatan,” kata Hafryn, “Presiden, Panglima TNI, dan kepala staf TNI-AL sudah setuju untuk ini,”
“Tentu saja, Pak,” kata Laksda. Adiasa, “hanya saja saya tak menyangka masalah ini bisa menjadi seserius ini,”
“Bila memang benar, maka ini lebih serius daripada yang kita duga,” tanya Hafryn, “sekarang di mana ruang pemetaannya?”
“Ikut saya, Pak,” kata Laksda. Adiasa.

Laksda. Adiasa pun memimpin jalan, sementara Hafryn berbalik pada Maria.

“Perhatikan ini baik-baik, Maria, bila memang benar, ini akan menjadi tanggung jawabmu,” kata Hafryn.

Maria tidak menjawab, hanya mengangguk saja. Entahlah antara pembawaannya memang sependiam itu, atau dia memang harus diam atas perintah.

Tak beberapa lama, mereka pun sampai di ruang pemetaan. Pemindaian lengkap sudah selesai dilakukan, dan kini wujud grafis bidang es misterius itu tampak lebih jelas dan detail. Mirip sebuah kubah cakram kecil, dan cukup aneh karena hanya bagian kubah itu saja yang diliputi es, sementara sekitar-sekitarnya tidak terpengaruh.

“Saya sudah meluncurkan TIRAM untuk pengamatan langsung di bawah laut,” kata Laksda. Adiasa, “terlalu dalam untuk mengirimkan penyelam, dan sebentar lagi kamera TIRAM akan bisa menangkap gumpalan es misterius itu,”
“Usahakan jangan merusak kecuali kuperintahkan,” kata Hafryn, “saat ini juga KRI Sangkuriang telah dipersiapkan, seandainya kita harus mengangkat benda itu,”
“KRI Sangkuriang juga turut serta?” tanya Laksda. Adiasa dengan heran.
“Hanya bila diperlukan,” kata Hafryn.

KRI Sangkuriang adalah kapal jenis salvager yang memiliki kemampuan untuk mengangkat reruntuk kapal di bawah laut. Seperti halnya KRI Baruna, kapal ini pun buatan Korea Selatan, tepatnya masih satu kelas dengan kapal marine-rescue milik Daehanminguk Haegun (Angkatan Laut Korea Selatan), yaitu ROKS Cheonghaejin, namun dengan spek yang khusus sebagai permintaan TNI-AL. Dikerahkannya juga KRI Sangkuriang, bagi Laksda. Adiasa sudah menjadi tanda jelas bahwa apa pun yang ada di bawah sana pastilah amat penting, setidaknya bagi Intelijen yang tampaknya amat menginginkannya.

“Kita sudah sampai di gumpalan es itu!” teriak operator TIRAM.
“Tampilkan di layar,” kata Laksda. Adiasa.

Layar utama pun berganti dari gambaran detail LIDAR menjadi feed langsung yang dilihat oleh TIRAM. Dengan kamera resolusi tinggi yang dimilikinya, TIRAM bisa menampilkan gambar dengan tingkat kecerahan dan kontras yang bagus dari bidang es misterius itu. Dalam samar-samar beningnya es, terlihat bahwa di dalam es itu terdapat sebuah benda ellipsis berwarna gelap, dan tampaknya bentuk bidang es ini mengikuti bentuk benda yang ditutupinya. Sayangnya dari balik tudung es terlalu kabur untuk bisa dilihat dengan lebih jelas benda apa yang sebenarnya ada di sana.

“Laskamana, TIRAM ini punya sejenis alat pemotong, bukan?” tanya Hafryn.
“Ya, Pak, semacam las laser untuk pekerjaan bawah air,” kata Laksda. Adiasa.

Hafryn mengangguk kemudian berjalan mendekati layar utama. Maria masih terus mengamati semua gerak-gerik Hafryn, dalam otaknya dia mencatat segala sesuatunya. Sambil mengamati, Hafryn menunjuk satu titik pada layar.

“Tolong potong pada bagian ini, tak perlu besar-besar, cukup sampai kita bisa melihat apa yang ada di baliknya,” kata Hafryn.

Operator TIRAM melihat ke arah Laksda. Adiasa. Tampaknya ide bahwa dia mendapat perintah dari Hafryn, seseorang di luar AL, masih cukup asing baginya. Laksda. Adiasa hanya mengangguk saja, secara halus meminta supaya perintah Hafryn dituruti. Lagi pula seperti dikatakan, saat ini KRI Baruna berada di bawah komandonya.

Dengan cekatan, operator TIRAM menggerakkan TIRAM untuk melakukan pemotongan pada bagian yang ditunjuk oleh Hafryn. Sementara Hafryn sendiri mengawasi dengan ketat, dia sepertinya ingin potongan itu dilakukan sesempurna mungkin sebagaimana yang dia inginkan. Butuh satu jam sebelum akhirnya Hafryn memerintahkan pemotongan dihentikan, dan saat itu TIRAM sudah berhasil mempenetrasi setidaknya hingga 30 cm masuk ke dalam es. Es itu sendiri di luar dugaan cukup sulit untuk dipotong, sehingga tak begitu mirip memotong es, lebih seperti memotong logam ringan. Kamera TIRAM pun segera diarahkan untuk melihat melalui lubang yang dibuat, tempat di mana es yang tipis membuat bayangan yang ada di baliknya lebih jelas. Ditambah lagi, TIRAM menyalakan semua lampu sorotnya sehingga bagian di balik es lebih jelas terlihat.

“Astaga,” kata Hafryn begitu mengenali apa yang ada di balik es itu. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sambil berdecak mendesah.

“Maria, segera hubungi Presiden,” kata Hafryn, “minta otorisasi atas ‘Inisiatif K’, dengan rekomendasi pengaktifan dengan segera,”
“Baik, Pak,” kata Maria, kata pertama yang dia ucapkan semenjak naik ke kapal ini.
“Dan seperti kubilang sebelumnya, mulai sekarang ini adalah tanggung jawabmu,” kata Hafryn.
“Baik, Pak, tapi apa yang harus kukatakan pada Presiden?” tanya Maria.
“Katakan bahwa ‘Yang Pertama’ telah ditemukan,” kata Hafryn.


Maria mengangguk dengan agak gemetaran. Sementara itu di layar utama memperlihatkan apa yang baru saja dilihat oleh Hafryn. Pada dinding benda yang cukup besar itu, sebuah lambang yang telah lama tak dilihat oleh dunia: Swastika raksasa! Namun bukan hanya lambang itu yang ada di sana. Tampak ada semacam struktur mirip jendela di sana, tapi bukan seperti jendela bangunan, lebih mirip jendela kendaraan. Yang agak mencolok adalah di balik jendela itu, walau agak kurang jelas, ada benda bundar warna merah dan putih dengan lambang matahari bersegi delapan warna emas di atasnya. Dan mata Maria, kini memandang lekat pada benda berlambang matahari itu.

Bagaskara manjing kawuryan,” gumam Maria Aresti nyaris tak kentara.
Prologue II: Night Before Market Garden

16 September 1944
Luar kota Arnhem, Belanda
Daerah Pendudukan Jerman
23:29 GMT


Malam yang sepi di Belanda terobek oleh suara satu wing pesawat pembom malam Avro Lancaster milik Grup Bomber ke-3 Royal Air Force. Semua pesawat memakai warna cokelat kehitaman dengan strip hitam putih Normandia pada kedua sayap masing-masing, dan roundel lingkaran merah di dalam lingkaran biru. Cuaca malam itu cerah, sedikit banyak memberi harapan bahwa penerbangan akan berlangsung secara mulus, ditambah lagi dengan fakta bahwa pengeboman Sekutu yang bertubi-tubi telah melemahkan kekuatan pertahanan udara Jerman di Belanda. Plus kekuatan pesawat tempur malam Luftwaffe yang pada awal perang menjadi momok bagi bomber-bomber malam Inggris kini telah berhasil dipatahkan seiring dengan semakin melemahnya penguasaan Luftwaffe atas langit Eropa pasca pendaratan di Normandia. Terbukti, semenjak meninggalkan Inggris beberapa jam lalu, belum ada sambutan dari pihak musuh, baik yang berupa serangan flak maupun cegatan pesawat pemburu.

Malam ini cukup istimewa, karena besok paginya, pada tanggal 17 September 1944, Sekutu akan mengadakan salah satu operasi lintas udara terbesar sepanjang perang setelah Operasi Mercury yang digelar oleh pasukan Fallschrimjager Jerman dalam merebut Kreta pada tahun 1941 silam. Nama operasi ini adalah Market Garden, yang merupakan buah pikiran dari commander-in-chief pasukan Inggris, Field Marshall Bernard Law Montgomery, orang yang sama yang pada 2 tahun lalu telah mengalahkan salah satu jenderal terbesar Jerman, Erwin Rommel, di El Alamein, Mesir. Market Garden juga akan menjadi operasi lintas udara terbesar Sekutu pasca pendaratan di Normandia, dengan tujuan ambisius untuk memenangkan perang sebelum Natal 1944. Bila berhasil, maka akan terbuka jalur langsung menembus Rhein dan mengepung wilayah industri Jerman di lembah sungai Ruhr, mematikan pasokan logistik perang Jerman, dan membuka pintu langsung menuju Berlin tanpa harus menabrakkan diri ke Siegfried Line Jerman yang membentang dari Kleve di perbatasan Belanda hingga ke Weil Am Rhein di perbatasan Swiss.

Tapi dalam grup pembom ini, ada satu bomber yang istimewa, karena di belakangnya, dia menarik sebuah pesawat layang Waco CG-4A dengan roundel Army Air Force Amerika Serikat. Walau beberapa tahun belakangan ini Inggris dan Amerika Serikat sudah bertempur bersama melawan Jerman, namun ditariknya sebuah glider Amerika Serikat oleh bomber Inggris jelas merupakan sesuatu yang baru. Antara 8th Air Force Amerika Serikat pimpinan Carl Spaatz dan Bomber Command Inggris pimpinan Arthur Harris memang memiliki rantai komando yang terpisah. Namun, Waco CG-4S ini tidak ikut dalam rangka “memeriahkan” Operasi Market Garden, karena misi mereka sendiri amat lain dan tak kalah penting.

15 orang yang dibawa oleh pesawat CG-4A bernomor X-044 dipimpin oleh seorang veteran sekaligus pilot, yaitu Letnan Kirk Hammett, dari 323rd Glider Infantry Regiment 82nd Airborne. Lt. Hammet mungkin adalah satu-satunya orang dalam peleton kecil ini yang tahu ke mana mereka akan dibawa. Disebut veteran karena Lt. Hammett sudah pernah melaksanakan misi serupa ketika di Anzio dan Palermo. Dan datangnya misi ini juga bukan dari komando 82nd Airborne, melainkan dari OSS, badan yang menjalankan peran intelijen sepanjang Perang.

Dari 14 belas orang yang bersama Let. Hammett, hanya 4 orang saja yang juga pernah terjun bersamanya di Anzio dan Palermo, yaitu wakilnya merangkap kopilot, Technical Sergeant John D “Johnny” Kowalski, gunner Sergeant James McClusky, medik T4C Herman Welsh, dan penembak jitu PFC George Running Black Steed yang juga seorang berdarah Lakota. Lima orang lagi ikut hanya di Anzio, yaitu PFC Alfred Rizzotti, PFC Santino Marquez, PFC William “Billy” Jackson, PFC Anthony “Ratty” Herzog, dan PFC Ira Carlton. Sisanya adalah rekrutan baru yang dia dapatkan di Inggris, PSC Patrick Willis, PSC Tommy Loomis, PSC Jason Slime, PSC Carlos de Santis dan seorang liaison dari British 1st Para, Lance Corporal Lionel Casterman. Adanya LCp. Casterman yang berdarah Belgia ini cukup penting karena dia adalah satu-satunya personel di regu ini yang bisa berbahasa Belanda, dan beberapa bulan terakhir telah menjalin kontak dengan pihak Gerakan Perlawanan Belanda.

Tak ada suara celotehan dari orang-orang di sini, hanya deru mesin pesawat yang terdengar Cumiakkan. Memang Waco CG-4A, sebagai sebuah pesawat layang, tidak memiliki mesin. Namun bunyi Cumiakkan ini terdengar dari grup Lancaster yang terbang di kiri dan kanan mereka. Dengan masing-masing pesawat memiliki 4 mesin, tentu terbang di antara formasi ini menjadi pengalaman yang cukup bising, bahkan mendengar orang di sebelah berbicara pun susah. Oleh karena itu, orang-orang di sana, kecuali pilot dan kopilot memilih untuk tidur, walau di tengah kebisingan rasanya seperti tidur di bawah rel yang terus menerus dilewati oleh kereta api.

“Mereka sudah memberi sinyal, LT,” kata Sgt. Kowalski.
“Di mana posisi kita?” tanya Lt. Hammett.
“Di luar kota antara Arnhem dan Nijmegen,” kata Sgt. Kowalski, “sasaran kita ada di sepanjang Sungai Rhine,”

Lt. Hammett pun melongok ke bawah ke arah lansekap yang gelap dan monoton. Namun dia masih bisa melihat bayangan sungai Rhine yang memantulkan cahaya bintang.

“Bersiap untuk melepaskan diri, beri sinyal,” kata Lt. Hammett.
“Roger that, memberi sinyal,” kata Sgt. Kowalski.

Sgt. Kowalski pun menekan tombol dan lampu merah di dalam kabin pun menyala, membuat semua orang terbangun dan saling membangunkan rekan mereka. Kemudian mereka segera memakai sabuk pengaman dan menyiapkan senjata. Rata-rata semua memakai senapan standar infanteri jenis M-1 Garand terutama yang rekrutan baru. Lt. Hammett, Sgt. Kowalski, T4C Welsh, PFC Rizzotti, PFC Marquez, dan PFC Carlton sendiri lebih nyaman memakai mitraliur M1A1 Thompson. Yang berbeda adalah milik Sgt. McClusky yang memakai M1918 B.A.R, PFC Black Steed yang menggunakan M1903A4 Springfield dilengkapi teleskop Unertl, dan satu-satunya Englishman, LCp. Casterman yang memilih memakai Sten Mk. III buatan negaranya sendiri, karena dia tak begitu terlatih menggunakan senjata Amerika. Sebagai akibatnya, LCp. Casterman harus membawa sendiri semua peluru 9mm yang dia butuhkan. Tapi ini tak masalah, karena kontaknya di Gerakan Perlawanan Belanda memiliki stok peluru 9mm yang nanti dia butuhkan. Sebagai catatan, Sten menggunakan peluru 9x19mm Parabellum yang juga digunakan oleh mitraliur Jerman. Semua senjata pun diletakkan pada posisi di mana tak akan membahayakan walau terjadi benturan keras dalam pendaratan.

“Bersiap untuk melepas,” kata Lt. Hammett.

Sgt. Kowalski segera mengatur posisi flaps dan aileron kemudian tangannya bersiap di kemudi. Begitu dia memberikan aba-aba siap, Lt. Hammett segera menekan sebuah tombol dan pesawat layang itu pun terlepas dari kabel yang mengaitkannya pada Lancaster di depannya. Di dalam pesawat, rasanya seperti layangan yang tiba-tiba terputus. Efek recoil saat kabel dilepas pun membuat semua di dalam CG-4A limbung. Tapi keadaan masih kritis, karena mereka kini terhembus oleh angin yang ditimbulkan oleh baling-baling pesawat Lancaster, bukan Cuma yang di depan, tapi seluruh Lancaster dalam formasi. Dengan empat mesin, Lancaster memang menghasilkan daya dorong amat besar bila dibandingkan dengan C-47 Skytrain yang hanya memakai 2 mesin saja. Vortex yang dihasilkan di dalam formasi itu membuat CG-4A bergetar bagai mobil yang mengebut di jalanan kasar. Bila tak segera ditangani, angin akan mengembuskan CG-4A hingga menghantam pesawat Lancaster di belakangnya, yang mana ini berbahaya terlebih bila menghantam baling-baling, atau vortex yang terjadi akan merobek struktur kanvas CG-4A, di mana ini lebih berbahaya lagi.

Tapi dengan ketenangan luar biasa, Lt. Hammett dan Sgt. Kowalski mengemudikan CG-4A itu melalui arus angin tenang yang ada di tengah-tengah vortex, sedikit demi sedikit melepaskan diri dari kawanan Lancaster yang bergerak lebih cepat. Lt. Hammett sempat melihat salah seorang turret-gunner Lancaster geleng-geleng kepala melihat pesawat layang yang terlihat rapuh di antara para raksasa ini. Begitu sudah keluar dari area berbahaya, si CG-4A segera menjauh dan terbang menuju tujuannya sendiri, meninggalkan kawanan Lancaster yang akan bergerak untuk mengebom suatu tempat di tanah Jerman.

Tanpa suara, dengan hanya mengendarai angin, Lt. Hammett mengendalikan si CG-4A menuju titik objektif yang telah ditaklimatkan sebelumnya. Sasarannya adalah sebuah lapangan terbuka yang sebenarnya cukup sempit di bantaran sungai Rhine, atau oleh orang Belanda disebut sebagai sungai Rijn. Gerakan Perlawanan Belanda sudah memastikan bahwa tempat itu cukup aman dan cukup dekat dari tujuan yang sebenarnya. Lebih dipaksakan lagi, mereka akan masuk jarak pandang sebuah baterai meriam antipesawat FlaK 38 Flakvierling yang letaknya relatif tersembunyi. FlaK 38 ini tidak menembaki kawanan Lancaster karena jarak terbangnya terlalu tinggi. Mereka akan lebih suka menyerahkannya pada baterai FlaK 18 yang jarak jangkaunya lebih tinggi. Namun peluru 20mm FlaK 38 jelas lebih dari cukup untuk mengoyak sebuah pesawat layang yang terbang rendah, yang mulai kehilangan dukungan angin. Permasalahan lainnya adalah pihak Inggris sudah mewanti-wanti supaya jangan sampai regu kecil ini tertangkap atau tertembak jatuh, karena sebuah pesawat layang yang ditemukan akan menyiagakan seluruh kekuatan Jerman di Belanda akan kemungkinan terjadinya invasi, dan ini jelas akan sangat merugikan pelaksanaan Operasi Market Garden, yang sudah menjadi obsesi bagi pihak Inggris, terutama Marsekal Montgomery.

Langit pun tiba-tiba menyala, namun bukan karena guntur atau halilintar, melainkan karena peluru. Artileri antipesawat jarak jauh Jerman telah menangkap adanya kawanan Lancaster dan kini menembaki buruan mereka dengan gencar untuk mencegah kawanan pengganggu itu menjatuhkan bomnya ke tanah Jerman. Langit yang menyala-nyala ini jelas membuat semua orang was-was, karena dengan begini, siluet mereka akan mudah ketahuan, dan jika satu saja elemen Jerman di sini ada yang melihatnya, maka alamat kegagalan bagi misi mereka, dan juga Operasi Market Garden yang akan dilaksanakan esok hari.

Namun langit yang menyala juga memberikan keuntungan bagi Lt. Hammett, karena kini dia bisa sedikit melihat lansekap di bawahnya, dan terlebih adalah zona pendaratannya. Pesawat itu dibawanya sejenak menyusur sungai Rijn, memanfaatkan ground-effect untuk mempertahankan ketinggiannya, lalu setelah memastikan zona pendaratan, Lt. Hammett segera masuk dan mendaratkan pesawat itu. Kali ini tanah yang tak rata membuat pendaratan sedikit kasar, namun pada akhirnya pesawat itu berhasil mendarat tepat di tepi sungai Rijn. Orang-orang di dalamnya, dalam komando yang berupa bisikan, langsung berloncatan turun dan segera menyiagakan senjata mereka untuk membuat perimeter. Langit yang menyala dan berkilat-kilat menerpa wajah mereka bagaikan suasana kembang api perayaan 4 Juli.

Mereka menunggu dulu beberapa saat dengan senjata siap tembak sebelum akhirnya memutuskan keadaan aman dan Jerman hanya melihat kawanan Lancaster, tidak lebih. Lt. Hammett, Sgt. Kowalski, dibantu Sgt. McClusky dan PFC Rizzotti dengan segera “merusak” pesawat layang yang tadi membawa mereka dan menjatuhkannya hingga tenggelam ke dalam sungai Rijn. Seperti telah tadi dikatakan, tak boleh ada bukti yang akan membuat Jerman berpikir bahwa akan ada invasi skala besar dari Sekutu. Tentu saja semua perbekalan sudah terlebih dulu dikeluarkan sebelum pesawat itu ditenggelamkan. Dengan membawa itu, ke-15 orang ini bergerak ke dalam lindungan semak-semak di tepi sungai.

Lt. Hammett mengambil sebuah senter hijau, kemudian menggelar sebuah peta kecil di tanah, dan semua mengerumuninya kecuali beberapa orang yang berjaga.

“Seharusnya kita ada di sini, dan target kita di sini, 2 klik ke arah timur,” kata Lt. Hammett.
“Apakah OSS masih menyuruh kita melakukan hal sama yang kita lakukan di biara Palermo atau Anzio?” tanya Sgt. Kowalski.
“Benar, Kowalski, misinya sama,” kata Lt. Hammett.
“Tapi apa kali ini benar? Dua kali kita menyerbu biara di Anzio dan Palermo, dan dua kali kita gagal menemukan artefak yang disebutkan oleh OSS,” kata Sgt. Kowalski, “kalau yang ini meleset juga, seharusnya tadi kita bergabung saja dengan rekan-rekan Divisi 82nd yang akan menyerbu Nijmegen besok,”
“OSS mengatakan kali ini informasi mereka valid,” kata Lt. Hammett, “mereka telah menganalisa laporan yang diberikan oleh Gerakan Perlawanan Belanda; akan ada pengiriman barang yang tak diketahui di sini malam ini, tempat itu jauh dari konsentrasi kekuatan Jerman di Utara dan Tenggara, jadi OSS menduga tak akan ada banyak orang,”
“Sepertinya Himmler menyembunyikannya, bahkan dari bangsanya sendiri,” kata Sgt. Kowalski.
“Ada rumor bahwa Himmler meminta perintah khusus dari Hitler untuk melakukan ini di luar sepengetahuan Wehrmacht atau pimpinan Waffen SS lain,” kata Lt. Hammett, “laporan Gerakan Perlawanan Belanda menyatakan bahwa keseluruhan operasi kecil ini berada sepenuhnya di tangan Ahnenerbe, dan tak ada elemen SS lain yang terlibat,”
“Kalau sudah menyebut Ahnenerbe biasanya valid,” kata Sgt. Kowalski, “tapi menyebut soal orang Belanda, kapan kontak kita akan menemui kita?”
“Bagaimana, Lance Corporal Casterman?” tanya Lt. Hammett.
“Mereka akan menemui kita dengan sandi yang telah disepakati sebentar lagi,” kata LCp. Casterman dengan logat Inggrisnya yang kental.
“Bagus, karena bila tidak, maka kita tamat,” kata Lt. Hammett.
“Ada orang!” bisik PFC George Running Black Steed.

Dengan cepat lampu pun dimatikan kemudian semua senjata disiapkan dan diarahkan ke tempat datangnya si orang itu. Tak ada yang bergerak atau berbicara, hanya mata dan jari yang waspada, siap untuk menyerang andai keadaan mengharuskan begitu.
Dan dari tengah keheningan malam, terdengar suara berderit seperti sebuah roda gigi yang berputar. Ini tentu membuat semua semakin tegang, karena roda gigi bisa berarti ada sebuah kendaraan lapis baja yang mendekat. Namun setelah didengar dengan saksama, tak ada suara geraman mesin diesel, sehingga kemungkinannya hanya tinggal satu: sebuah sepeda. Tapi itu tetap tak mengendurkan kewaspadaan, karena patroli Jerman pun bisa saja naik sepeda.

Dalam ketegangan, akhirnya tampaklah si empunya sepeda, yaitu seorang yang terhitung masih bocah. Lt. Hammett pun memberi tanda agar jangan terburu-buru menembak.

“Corporal, apa dia kontak kita?” tanya Lt. Hammett.
“Kodenya adalah bunga tulip,” kata LCp. Casterman, “jika dia membawa bunga tulip, maka dia adalah kontak kita,”

Semua mata pun menatap dengan liar ke arah bocah itu. Sebagian melihatnya dari balik aperture pejera, dan pada jarak ini, mereka yakin tak akan meleset. SI bocah sendiri tampak tak takut walau bersepeda malam-malam di tempat seperti ini, meski ini pun sudah cukup mengkhawatirkan, karena bila dia bertemu patroli Jerman, dia pasti langsung ditembak. Jerman sudah cukup menderita dengan aksi-aksi sabotase dan pembunuhan yang dilakukan oleh Gerakan Perlawanan Belanda, cukup untuk membuat mereka bersikap “tembak dulu tanya kemudian”.

Bocah yang tampak tanggung itu berhenti, kemudian dari keranjang yang dia bawa di depan sepeda, dia mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti tunas bunga tulip. Tulip adalah bunga yang cukup mahal, dan tak semua orang, bahkan di Belanda sekalipun bisa memilikinya. Dan di bawah cahaya pelita yang ada di sepeda, si bocah dengan jelas membawa tiga jenis tunas tulip, satu warna merah, satu putih, dan satunya biru. Warna-warna ini bila digabungkan adalah warna dari bendera Amerika Serikat, Inggris Raya, dan juga Belanda, dan membawa bunga tulip dengan warna-warna ini jelas sesuatu yang subversif di mata Jerman. Hanya orang pemberani saja yang mau membawa warna-warna ini malam-malam begini di tengah-tengah wilayah Jerman.

“Dia kontak kita, Letnan,” kata LCp. Casterman.
“Baik, mari temui dia, Corporal,” kata Lt. Hammett, “tapi ingat, di depan orang-orang Belanda itu, jangan sekali-kali menyebut soal artefak; kita di sini untuk mengambil dokumen,”
“Siap, Pak,” kata semua orang.

Dengan hati-hati, LCp. Casterman menurunkan Sten yang dibawanya, kemudian keluar dari persembunyiannya. Si bocah tentu saja terkejut dengan munculnya LCp. Casterman yang tiba-tiba entah dari mana.

Duitse vlag is zwart, Jongen,” kata LCp. Casterman.

Si bocah tampak takut dan menelan ludah saat LCp. Casterman mendekat. LCp. Casterman sendiri tetap menyiagakan Sten-nya untuk menjaga semua kemungkinan.

Rood, wit, en blauw is mijn vlag,” kata si bocah.
Niederlander?” tanya LCp. Casterman.
Ja, Engelsman?” kata si bocah balik bertanya.
En Amerikaanse,” jawab LCp. Casterman sambil memberi isyarat kepada semua di persembunyian untuk keluar, “spreken English?
“Sedikit,” kata si bocah.
“Bagus, aku Lance Corporal Casterman, bersama rekan-rekan Yankee,” kata LCp. Casterman.
“Emil Zandt,” kata si bocah memperkenalkan diri, “cepat ikut aku, walau wilayah ini berada di bawah pengawasan Gerakan Perlawanan Belanda, tapi patroli Jerman masih sesekali melewati jalan ini,”

Tanpa buang waktu, semua pun segera berjalan mengikuti si bocah yang bernama Emil Zandt ini. Senjata tetap disiagakan, karena seperti dikatakan oleh Emil Zandt, patroli Jerman masih sesekali melewati area ini. Tapi dengan semakin intensifnya aksi dari Gerakan Perlawanan Belanda, Jerman tak berani ambil risiko mengirim patroli kecil ke wilayah panas. Bila ada patroli, tentulah dilakukan setidaknya dengan dukungan kendaraan dan senapan mesin ringan.

“Di mana titik pertemuannya?” tanya Lt. Hammett pada Emil Zandt.
“Dekat sini, di rumah pertanian blok berikutnya,” kata Emil Zandt, “komandan kami adalah orang dari K.N.B.P.I (Koninklijke Nederlandse Brigade Prinses Irene), namanya Kapitein Piet Kontermans,”
“Apa Captain Kontermans sudah mempersiapkan semua yang kami perlukan?” tanya Lt. Hammett.
“Ya, dan kalian bisa bicara dengannya nanti,” kata Emil Zandt.
“Bagus, karena waktu kita sempit,” kata Lt. Hammett.

Tak beberapa lama, mereka pun sampai di rumah pertanian yang disebutkan oleh Emil Zandt, dan bertindak sebagai pembuka langkah, Emil Zandt mengetuk pintu salah satu rumah pertanian dengan nada tertentu. Pintu dibuka dan seseorang di dalamnya menyuruh semua orang untuk segera masuk. Seperti yang lain, rumah itu cukup gelap karena lampu sengaja dimatikan, dan orang yang tadi menyambut mereka segera meminta semua untuk turun ke ruang bawah tanah yang biasa dipakai sebagai gudang penyimpanan. Di sana, suasana cukup terang karena ada satu bohlam yang menyala. Di dalam ruang itu ada seorang pria berkumis tipis yang berdiri tegap di dekat sebuah meja di bawah lampu. Dari sikapnya, Lt. Hammett menduga pria ini orang militer juga.

Kapitein, dit is de Englesman en Amerikaanse,” kata Emil Zandt, “zijn naam is Luitenant Hammett en Korporaal Casterman uit Royal Army,”
Dank u, Emil,” kata orang itu, “nu zitten,

Emil Zandt mengangguk kemudian duduk di dekat tembok, sementara Lt. Hammett dan si orang berkumis itu saling berhadapan.

“Namaku adalah Piet Kontermans, Kapitein Piet Kontermans dari Prinses Irene Brigade, ” kata si pria berkumis, “aku di sini mengkoordinasikan Gerakan Perlawanan Belanda di wilayah tepian Rijn dekat Arnhem,”
“Lieutenant Kirk Hammett, 82nd Airborne,” kata Lt. Hammett, “aku yakin pihak OSS sudah memberi tahu alasan kami ada di sini,”
“Ya, Luitenant, meski aku ingin tahu ada urusan apa sampai OSS repot-repot mengirim Airborne untuk mengambil sebuah dokumen,” kata Kpt. Kontermans.
“Dokumen itu penting bagi Hitler untuk bisa memenangkan perang, dan apa pun yang penting bagi Hitler, kurasa penting juga bagi Sekutu,” kata Lt. Hammett, “dan semakin kuat alasan kita untuk mengambilnya dari Hitler,”
“Ya, tapi kurasa kita cukup bisa memusnahkannya,” kata Kpt. Kontermans, “beberapa hari belakangan pemboman dari Inggris cukup intens, banyak Lancaster dan Mosquito; salah satunya bisa diperintahkan untuk menghancurkan dokumen itu dari udara,”
“Karena isi dokumen itu juga penting bagi kita, Captain,” kata LCp. Casterman, “kabarnya Hitler membutuhkan itu untuk memenangkan perang, jadi bila kita mendapatkannya lebih dulu, kita bisa memenangi perang ini sebelum Hitler,”
“Baiklah, cukup adil, dan di mana peran kami orang Belanda dalam rencana ini?” tanya Kpt. Kontermans.
“Seperti yang telah disepakati sebelumnya,” kata Lt. Hammett, “bantu kami dalam persiapan dan ekstraksi serta menyediakan transportasi aman ke Antwerp; sisanya serahkan pada kami,”
“Baiklah, maka sebaiknya kita segera menuju ke sasaran kalian,” kata Kpt. Kontermans, “semua ada di peta ini,”

Kpt. Kontermans menunjuk peta supaya Lt. Hammett bisa melihatnya.

“Target kalian adalah ini, sebuah bekas gereja yang hancur pada pemboman pertama Jerman saat menguasai Belanda, 4 tahun silam,” kata Kpt. Kontermans, “dan sejak saat itu, gereja ini dipakai Jerman utamanya sebagai tempat penumpukan logistik serta hasil rampasan atau jarahan mereka dari desa-desa sekitar; sempat dikosongkan saat menjadi sasaran tembak dari pesawat Mosquito Inggris, namun baru kemarin ada elemen Jerman yang kembali ke sana dan mengubahnya menjadi tempat berpenjagaan ketat,”
“Bagaimana penjagaannya?” tanya Lt. Hammett.
“Laporan kemarin menunjukkan tiga sarang mesin di sini, sini, dan sini, kemungkinan MG-42, dan beberapa orang prajurit bersenjata lengkap, mungkin sekitar 50 orang; kebanyakan memakai Karabiner 98 dan MP40,” kata Kpt. Kontermans, “tapi yang agak aneh adalah mereka tidak memakai simbol kesatuan Wehrmacht atau pun Waffen SS, melainkan simbol pedang yang dibalut pita,”
“Ahnenerbe,” kata Lt. Hammett, “apa ada simbol lain?”
“Ya, beberapa perwira juga memasang emblem tengkorak yang dihunus oleh dua pedang,” kata Kpt. Kontermans.

Lt. Hammett terhenyak sejenak mendengar keterangan itu.

“Apa mereka perwira Totenkopf?” tanya LCp. Casterman.
“Bukan, itu perwira dari salah satu pimpinan Ahnenerbe,” kata Lt. Hammett, “dia dikenal sebagai ‘Silberneschadel’, atau ‘Tengkorak Perak’ karena dia selalu menggunakan topeng perak berbentuk tengkorak,”
“Siapa dia?” tanya LCp. Casterman.
“Wajah aslinya tak ada yang tahu, bahkan jabatannya di Ahnenerbe sendiri masih misteri,” kata Lt. Hammett, “menurut data dari OSS nama aslinya adalah Johann Schlosser, dan dipercaya bahwa di Ahnenerbe, dia adalah tangan kanan langsung dari Himmler,”
“Apa urusan Ahnenerbe di sini, kukira mereka hanya mengurusi masalah benda-benda purbakala,” kata Kpt. Kontermans.
“Itu bukan untuk kau ketahui, Captain, pastinya OSS sudah mengatakan bahwa dokumen yang kita inginkan dipegang oleh orang ini,” kata Lt. Hammett, “maka target kita adalah orang ini, seandainya dia di sini,”
“Kalau pun benar, LT, kita masih harus menghadapi 50 orang bersenjata lengkap di sana,” kata Sgt. Kowalski, “dan jujur saja, peluang 15 lawan 50 tak begitu bagus,”
“Ya, aku juga memikirkan soal itu,” kata Lt. Hammett, “akan amat berbahaya bila kita tertahan, seberapa dekat posisi Jerman dari target?”
“Ada beberapa elemen dari Fallschrimjager di jarak beberapa kilometer, tapi yang paling berbahaya adalah ini, konsentrasi dari 2nd SS Panzer Corps di bawah Wilhelm Bittrich, yang isinya adalah elemen dari 9th Panzer Division Hohenstaufen dan 10th SS Panzer Division Frundsberg yang masih memiliki kekuatan lapis baja yang utuh,” kata Kpt. Kontermans, “semua di bawah komando dari Marsekal Model yang bermarkas di sini, Oosterbek, 10 kilometer dari sasaran,”
“Astaga, itu kekuatan yang besar sekali, dan terlalu dekat dengan Arnhem,” kata LCp. Casterman, “Leftenant, bila Korps Lapis Baja XXX terhambat perjalanannya di Selatan, maka posisi 1st Parachute Brigade yang akan terjun di Arnhem akan amat berbahaya; mereka tak memiliki senjata untuk menghadapi Korps Lapis Baja Jerman,”
“Apakah di sini ada radio, Captain?” tanya Lt. Hammett.
“Bukan di sini, tapi di markas lain,” kata Kpt. Kontermans, “ada yang ingin kau kabarkan?”
“Ya, tolong berikan pesan kepada Royal Air Force dan sebutkan posisi dari 2nd SS Panzer Corps supaya mereka waspada,” kata Lt. Hammett.
“Baik, aku akan menyuruh kurir,” kata Kpt. Kontermans.
“Dan aku ingin minta setidaknya 10 orang darimu untuk membantuku,” kata Lt. Hammett, “bila kami terlalu lama dalam menguasai target, maka kamilah yang akan tamat,”
“Baik, aku akan siapkan 10 orang, tapi berhubung beberapa pasukan kami tersebar, maka terpaksa kami hanya bisa memberikan seadanya,” kata Kpt. Kontermans.
“Tak masalah, setidaknya bisa membantu kami menjaga perimeter,” kata Lt. Hammett.

Kpt. Kontermans mengangguk kemudian memberi isyarat pada Emil Zandt.

Emil, bijeenroepen van Kloop, Wisel, IJsendorf, de Jong, Boer, Witt, van der Hoeven, en Fahrenhoof,” kata Kpt. Kontermans, “zal toetreden tot de strijd,
Ik ook?” tanya Emil Zandt berbinar-binar.
Ons allemaal,” kata Kpt. Kontermans.

Dengan segera Emil Zandt segera beranjak dan keluar ruangan.

“Kau akan mengajaknya juga?” tanya LCp. Casterman.
“Dia adalah salah satu penembak terbaik kami,” kata Kpt. Kontermans, “kau harus melihatnya saat dia menembak salah satu kapten Jerman itu dari jarak 1 kilometer,”
“Kita tak punya banyak pilihan juga, Corporal,” kata Lt. Hammett.
“Kurasa kau benar,” kata LCp. Casterman.
“Captain, bagaimana dengan ekstraksinya?” tanya Lt. Hammett.
“Soal itu sebaiknya kau bicara dengan Heer Smitt,” kata Kpt. Kontermans.

Dan entah datang dari mana, seorang yang sudah separuh baya dan rambutnya sudah memerak sudah ada di ruangan itu. Dia berjalan dengan sedikit agak pincang dan tangannya gemetaran, namun entah kenapa Lt. Hammett merasa penampilan pria ini tak seperti yang terlihat.

“Johannes Smitt, dari Binnenlandse Strijdkrachten,” kata pria itu memperkenalkan diri, “atau kalian lebih suka menyebutnya dengan Gerakan Perlawanan Belanda,”

Dia menjabat tangan Lt. Hammett dan terasa sekali walau gemetaran, namun jabat tangannya mantap, menunjukkan masih ada kekuatan yang cukup besar di dalam tangannya. Mata si pria yang bernama Johannes Smitt ini juga tajam, mirip mata seorang pemburu. Dan yang paling menarik perhatian Lt. Hammett adalah bahwa Kpt. Kontermans sepertinya takzim dengan si van Smit ini, menunjukkan bahwa orang ini pastilah tidak main-main.

“John Smith?” tanya Lt. Hammett.

Memang Johannes Smitt dalam bahasa Inggris bisa disebut sebagai John Smith. Dan John Smith adalah nama yang cukup umum dipakai sehingga Lt. Hammett ragu bahwa mungkin nama itu bukanlah nama aslinya.

“Dalam posisiku, kau tak ingin namamu diketahui, Luitenant,” kata Johannes Smitt.
“Heer Smitt ini adalah kepala sektor di Arnhem dan Oosterbek,” kata Kpt. Kontermans, “seluruh wilayah ini di bawah kepemimpinannya,”
“Kukira kaulah pemimpinnya, Captain Kontermans?” tanya Lt. Hammett.
“Aku hanyalah orang yang ditugaskan oleh P.I.B untuk mengampu pasukan di sini, melatih mereka supaya memiliki kemampuan tempur yang mumpuni untuk melawan Jerman,” kata Kpt. Kontermans.
“Dan dia melakukannya dengan amat baik,” kata Johannes Smitt, “pasukanku adalah salah satu yang terbaik, dan di wilayah ini kami memberi mimpi buruk bagi Jerman,”
“Baiklah, Heer Smitt, bagaimana rencanamu untuk ekstraksi?” tanya Lt. Hammett.
“Kami akan siapkan sebuah truk yang bisa disamarkan sebagai truk Jerman,” kata Johannes Smitt, “aku sendiri yang akan mengemudikan truk itu,”
“Melewati pos Jerman?” tanya Lt. Hammett.
“Bahasa Jerman-ku cukup baik,” kata Johannes Smitt, “lagi pula kita akan melewati wilayah yang akan dijaga oleh 13th Batallion dari 23rd SS Panzergrenadier Nederland; seluruh batalion itu berpihak kepada kita, hanya saja mereka belum berani memberontak karena kehadiran 2nd SS Panzer Corps. Itu adalah sisa-sisa batalion yang tak dibawa oleh Seyffardt ke Front Timur, ditambah ada lagi Resimen Grenadier ke-85 dari 34th SS Friwilligen Landstorm Nederland, yang juga berpihak pada kita,”
“Tenanglah, masa bersembunyi sudah hampir usai,” kata LCp. Casterman, “setelah Sekutu menyerang, maka batalion kalian boleh membuang senjata dan bergabung dengan Sekutu,”
“Aku senang kalau begitu, dan kurasa mereka pun akan senang,” kata Johannes Smitt, “tapi kita bicarakan itu nanti, sekarang aku akan menyiapkan transportasi kalian, dan kurasa kalian harus pergi bersama Kpt. Kontermans,”
“Baiklah, terima kasih atas bantuannya, Heer Smitt,” kata Lt. Hammett.
“Tak masalah, Luitenant, cukup usir saja para babi Jerman itu dari tanah ini,” kata Johannes Smitt, “veel succes,”

Johannes Smitt pun segera meninggalkan tempat itu, sementara Lt. Hammett beserta regunya naik bersama Kpt. Kontermans. Di luar rumah, 8 orang yang diminta oleh Kpt. Kontermans sudah berkumpul, dan masing-masing membawa senjata. Rata-rata senjata yang dibawa adalah Lee-Enfield No. 4 yang memang banyak sekali dipasok oleh Inggris kepada Gerakan Perlawanan Belanda. Turut juga adalah Emil Zandt yang tengah mengisi magasin pada Lee-Enfield yang dia pegang. Satu-satunya yang berbeda adalah Kpt. Kontermans, karena dia membawa Sten Mk. III, sama seperti LCp. Casterman. Bahkan Kpt. Kontermans memberi ekstra magasin Sten pada LCp. Casterman. Selain para infanteri, tak ada yang memakai seragam, karena sifat mereka yang merupakan partisan, bukan tentara reguler.

“Waktu semakin sempit, ayo kita berangkat,” kata Lt. Hammett, “kalian berada di bawah komandoku sekarang, tolong tunjukkan jalannya,”
“Emil, pimpin jalannya, kau yang paling mengerti wilayah ini,” kata Kpt. Kontermans.
“Siap, Pak,” kata Emil Zandt tersenyum senang.

Keduapuluhlima orang itu pun segera bergerak sambil berjalan kaki berlindungkan keheningan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi dan mereka harus sudah menyelesaikan misi tepat pada pukul 05.00 nanti, artinya tak boleh ada hambatan dalam misi kali ini atau akibatnya akan fatal. Dalam perjalanan, mereka tetap harus berhati-hati siapa tahu bertemu dengan patroli Jerman, namun hingga setengah jalan lebih, tak ada tanda-tanda Jerman melakukan patroli. Ini sedikit banyak membuat Lt. Hammett merasa agak aneh, meski Kpt. Kontermans menegaskan bahwa di wilayah ini, aksi dari Gerakan Perlawanan Belanda cukup intens sehingga Jerman hanya berani berdiam di pos-nya saja.

Kekhawatiran Lt. Hammett yang kedua adalah keberadaan 2nd SS Panzer Corps yang berada tak jauh dari Arnhem di bawah pimpinan Wilhelm Bittrich yang menginduk pada Feldmarschall Walther Model, salah satu jenderal top di Jerman. Kali ini lebih pada nasib pasukan invasi Sekutu yang besok akan terjun dalam Operasi Market Garden. 2nd SS Panzer Corps terdiri dari dua divisi elite, yaitu 9th SS Hohenstaufen dan 10th SS Frundsberg, yang meskipun kekuatannya sudah berkurang semenjak petaka di Falaise Pocket, namun masih menjanjikan perlawanan yang cukup hebat. Apalagi seperti tadi disebutkan oleh LCp. Casterman, 1st Parachute Brigade yang akan diturunkan di Arnhem, dan akan langsung beradu otot dengan 2nd SS Panzer Corps tidak memiliki senjata antitank yang memadai. Bila Army Corps XXX tidak bisa sampai di Arnhem tepat waktu, maka alamat buruk bagi 1st Parachute Brigade, karena mereka yang akan paling lama harus menahan serangan Jerman.

Harapan satu-satunya adalah Royal Air Force akan menerima laporan mereka mengenai keberadaan 2nd SS Panzer Corps, dan mengirimkan pesawat-pesawat serang-nya untuk menghabisi tank-tank 2nd SS Panzer Corps yang memang amat berbahaya. Bila RAF bisa turut campur tepat pada waktunya, maka situasi akan lebih ringan, karena RAF punya pesawat-pesawat penghancur tank semacam Blenheim, Mosquito, dan Typhoon. Ditambah lagi perlawanan dari Luftwaffe diperkirakan akan minimum, itu pun mereka harus terlebih dulu menghadapi pesawat pemburu kawal semacam Spitfire yang jelas akan melindungi pesawat-pesawat serang mereka.
wah diluncurkan sebelum potong kambing ini emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

tak tunggu ...emoticon-Smilie
Satu setengah jam kemudian, mereka pun sampai pada target mereka, gereja yang sebagian bangunannya sudah tak utuh, katanya akibat terkena bom Jerman saat Jerman menjajah Belanda pada tahun 1940 lalu. Lt. Hammett dengan saksama melihat gereja yang besar itu dengan teropongnya, Bila tidak hancur atau compang-camping di sana sini, tentulah itu gereja yang besar dan bagus, dengan tembok setinggi 1,5 meter mengelilinginya. Tapi kini hanya berupa bangunan yang sudah tidak utuh dan bolong di sana-sini, bahkan tembok yang semula mungkin mengelilingi gereja itu dengan indah kini sudah tinggal beberapa segmen saja yang masih tersisa di tempatnya. Tapi di reruntuhan itulah pasukan Jerman, yang dikenali sebagai Ahnenerbe membuat pertahanannya.

Ada empat sarang senapan mesin MG-42 dengan posisi tiga di bawah membentuk segitiga yang melindungi bangunan utama, dan satu di atas atap bangunan. Dari personel yang masih bersiap-siap, terlihat bahwa pertahanan itu belum lama dibangun. Semua masih sibuk di luar membuat defilade, yang anehnya, bila dilihat sepintas bentuknya mengelilingi gereja. Memang aneh, karena biasanya pasti ada jalan belakang yang dibiarkan tak dijaga, tapi ini rapat, menandakan bahwa siapa pun yang ada di sini mengharapkan terjadinya serangan dari semua sisi, yang mana ini aneh karena pada sisi seberang adalah wilayah yang dijaga oleh Jerman, jarang sekali ada serangan yang akan muncul dari sana, pun satu sarang senapan mesin mengarahkan moncongnya ke arah kuadran itu. Padahal sebenarnya mereka bisa mengkonsentrasikan sarang senapan mesin ke kuadran yang paling berbahaya saja. Siapa pun yang menatanya, tentulah orang bodoh, atau jangan-jangan mereka juga takut akan diserang dari garis Jerman juga? Tentunya itu ketakutan yang tak beralasan. Untuk apa Jerman saling membunuh pada saat tengah terdesak oleh Sekutu seperti sekarang ini?

“Ada tiga truk di bagian depan,” kata Sgt. Kowalski yang juga melihat memakai teropong, “kalau dilihat dari gelagatnya sepertinya mereka siap untuk berpindah,”
“Tapi mereka baru saja sampai, untuk apa mereka berpindah lagi?” tanya Kpt. Kontermans.
“Entahlah, tapi itu artinya waktu kita yang sedikit sudah semakin sempit,” kata Lt. Hammett, “George, kau di mana?”

PFC George Black Steed pun maju sambil membawa senapan M1903A4-nya yang dilengkapi teleskop Unertl.

“George, kau lihat yang di atas atap itu?” tanya Lt. Hammett.
“Ya, LT,” jawab George Black Steed, “aku melihatnya dengan jelas,”
“Bagus, itu harus kaulenyapkan dulu karena paling berbahaya, selanjutnya mulai bersihkan sarang senapan mesin dari kiri ke kanan,” kata Lt. Hammett, “kami akan mulai menyerang dari tembakan pertamamu,”
“Siap, LT,” kata George Black Steed.
“Bentuk 4 tim, masing-masing menangani dua sarang senapan mesin, buat gerakan mengapit,” kata Lt. Hammett, “siapkan granat, pada jarak lempar segera habisi dengan granat,”

Lt. Hammett pun membagi pasukannya menjadi 5 regu, masing-masing 3 orang. Satu regu, yaitu Sgt. McClusky, PFC Black Steed, dan PSC Willis akan menjadi base-of-fire, bersama dengan rekan-rekan mereka dari Belanda. Total ada dua base-of-fire, dengan masing-masing memiliki penembak jitu, yaitu PFC Black Steed dan si pemuda Emil Zandt. Sisanya akan menyerbu perkubuan Jerman itu habis-habisan dengan mengandalkan perlindungan dari base-of-fire. Terlebih dahulu Lt. Hammett memberi instruksi siapa-siapa saja yang harus ditembak dulu, sehingga saat tiba saatnya, setidaknya 30% musuh sudah berhasil dieliminasi sebelum regu Lt. Hammett menyerbu.

“Untuk para runner, bawa magasin dan senjata saja, sisanya tinggalkan di sini,” kata Lt. Hammett, “Jackson, pasang granat M7-mu, kita akan membutuhkannya,”
“Aye, LT,” kata PFC Jackson yang langsung memasang spigot peluncur granat M7 pada M1 Garand-nya.
“Bagus, George, kapan pun kau siap,” kata Lt. Hammett.

George tidak menjawab, matanya kini sudah sepenuhnya berfokus pada sasarannya yang terlihat dari teleskop Unertl-nya. Orang Lakota memang sejak dulu dikenal memiliki mata yang tajam, bahkan kepiawaian mereka dalam menembak diakui oleh Pasukan Amerika Serikat pada masa Manifest Destiny. Sasaran George Black Steed kali ini terkunci pada operator senapan mesin MG-42 di atas atap. Posisi itu amat strategis karena bisa menembak ke semua arah sekaligus. Dan malam ini, tanpa adanya angin dan cuaca yang relative cerah, seolah alam pun membantu George Black Steed untuk melaksanakan misinya. Dan…

“DOOR!!”

Bunyi letusan senapan M1903A4 memecah keheningan malam dan si operator MG-42 di atap langsung jatuh ke bawah dengan kepala berlubang. Masih kaget, rekannya pun langsung mengalami nasib serupa sebelum sempat berpikir. Letusan itu segera disusul letusan lain, baik dari M1 Garand, maupun dari Lee-Enfield, dan para prajurit Jerman yang memang tidak siap langsung bertumbangan satu per satu. Lainnya dengan panik segera menuju pada posisi pertahanan masing-masing, santapan empuk bagi George dan juga Emil Zandt.

Para runner pun segera maju ke posisi sasaran mereka, dan berlindung di balik gundukan tanah ketika senapan mesin Jerman akhirnya menyalak. Tidak beberapa lama, suara tembakan senapan Kar98K pun menyusul bertalu-talu. Sgt. McClusky segera membalas dengan memberondongkan B.A.R-nya ke salah satu posisi sarang senapan mesin. Dia bekerja amat rancak dengan PSC Willis yang menjadi loader. Apiknya kerjasama ini membuat kelemahan B.A.R yang hanya memakai magasin 20 peluru, alih-alih rantai peluru seperti milik MG-42, tidak begitu terasa. Di sisi lain, para pejuang Belanda menghujani posisi senapan mesin Jerman lainnya dengan tembakan beruntun yang dilakukan oleh 5 pemegang Lee-Enfield. Orkestrasi penembakan ini begitu tanpa cela sehingga seolah-olah mereka memiliki senapan mesin alih-alih senapan kokang.

Peluru-peluru Jerman pun berjatuhan di tanah, melemparkan butiran-butiran tanah tempat Lt. Hammett dan sub-regu-nya berlindung. Gundukan tanah itu terasa amat rapuh diterjang peluru senapan mesin MG-42, membuat Lt. Hammett tidak bisa bergerak lebih maju lagi.

“Jackson, gunakan granat senapan-mu!” kata Lt. Hammett.

Jackson pun segera memasukkan granat M7 pada spigot di ujung laras M1 Garand-nya, kemudian memasukkan peluru balistite tanpa proyektil, dan menyiagakannya dalam sudut 45 derajat dan popor ditahankan ke tanah. Lt. Hammett segera memberi komando lewat isyarat tangan dan pelatuk pun ditekan. Letusan peluru balistite segera meluncurkan granat M7 bagai mortir, dan meledak tepat ketika menghantam di posisi belakang sarang senapan mesin. Tentara Jerman yang berada di jarak dekat ledakan langsung tewas seketika, dan MG-42 itu berhenti menembak.

“Maju! Maju!” kata Lt. Hammett.

Dua tim yang ditugaskan merangsek ke arah senapan mesin itu langsung saja beranjak dan menyerbu sebelum ada orang lain yang menggantikan posisi penembak MG-42. Tanpa dukungan tembakan di atas, lumpuhnya satu sarang ini benar-benar menjadi lubang yang menganga. Lt. Hammett yang sampai terlebih dahulu di mulut defilade segera menembakkan Thompson-nya ke arah tentara Jerman yang baru saja tiba untuk mengambil alih posisi senapan mesin yang kosong.

Dua hingga tiga ledakan lagi terdengar, dan kali ini tim Sgt. Kowalski telah melemparkan granat ke sarang senapan mesin satunya. Dua debuman granat lagi bahkan melemparkan MG-42-nya hingga terlihat jelas di udara. Dengan cepat tembak menembak jarak jauh pun menjadi jarak dekat setelah baik tim Lt. Hammett dan Sgt. Kowalski masuk ke garis Jerman.

“George, aku dan Willis akan maju!” kata Sgt. McClusky.
“Majulah, Sarge, aku akan berjaga di sini,” kata George Black Steed.
“Baik, George, lindungi kami,” kata Sgt. McClusky yang langsung mengambil B.A.R-nya dan langsung ikut menyerbu bersama PSC Willis.

Jerman langsung memberi perlawanan sengit pada penyerbu yang masuk ke perimeter mereka, namun hasilnya sudah jelas. Tembakan sana sini dan ditambah kegigihan para penyerang, akhirnya dalam tempo hanya 15 menit semenjak George pertama kali menembak, seluruh gereja itu sudah berhasil dilumpuhkan. Tim Sgt. Kowalski bahkan berhasil masuk ke dalam gereja dan menawan semua perwira yang ada di dalamnya. Beberapa Jerman yang tidak mati pun di luar kini sudah meringkuk berkumpul di bawah todongan senjata para prajurit Amerika maupun orang-orang Belanda. Setelah situasi aman, Kpt. Piet Kontermans pun mendekati Lt. Hammett yang sedang memeriksa situasi pasca-serangan.

“Bagaimana laporan korban, Captain?” tanya Lt. Hammett.
“Di pihak kami hanya beberapa yang luka ringan,” kata Kpt. Kontermans, “dan satu orang gugur,”
“Gugur? Siapa?” tanya Lt. Hammett.
“Emil Zandt,” kata Kpt. Kontermans lirih, “sepertinya dia terkena peluru nyasar,”
“Ya ampun,” kata Lt. Hammett sambil menarik napas panjang.
“Sudahlah, dia mati dengan gagah berani,” kata Kpt. Kontermans.

Dari nada bicaranya, sepertinya Kpt. Kontermans juga sering mengalami peristiwa anak buahnya mati, sehingga dia cenderung bisa menerima satu lagi kematian.

“Bagaimana denganmu, Luitenant,” kata Kpt. Kontermans.
“Casterman tertembak di kaki, dia yang paling parah,” kata Lt Hammett, “lainnya hanya luka ringan, dan medis-ku sedang merawatnya,”
“Baguslah kalau begitu,” kata Kpt. Kontermans.

Pembicaraan mereka terhenti ketika PFC Loomis, yang ikut dalam tim Sgt. Kowalski yang menyerbu ke dalam gereja, melapor pada Lt. Hammett.

“Pak, Sgt. Kowalski meminta Anda untuk segera ke dalam,” kata PFC Loomis, “mungkin Anda ingin menanyai tawanan,”
“Baiklah,” kata Lt. Hammett, “Maaf, Captain, aku harus masuk, bisa tolong jaga situasi di luar?”
“Ya, tentu saja, aku sekalian memberi tahu Heer Smitt untuk memulai prosedur ekstraksi,”
“Terima kasih, Captain,” kata Lt. Hammett.

Lt. Hammett menghormat pada Kpt. Kontermans, kemudian dia bersama dengan PFC Loomis segera masuk ke dalam gereja. Semua itu tak luput dari pandangan retikula teleskop Unertl George Black Steed yang memang belum beranjak, mengawasi andai ada masalah. Untuk menenangkan diri, George pun mengambil sebatang rokok yang ada di sakunya. Dalam keadaan tempur, tak mungkin dia bisa merokok sebebas ini. Dia pun mulai menyalakan pemantiknya.

“Hati-hati kalau merokok, George,” kata Sgt. McClusky dari jauh di dekat gereja, “kami bisa melihat apimu dari sini, dan jika aku tak tahu kau ada di sana, aku pasti sudah menembakmu,”
“Kau tak akan bisa menembakku, Sarge,” balas George, “tidak bila aku bisa menembakmu dulu,”
“Aku tak akan mendebat itu,” kata Sgt. McClusky sambil tertawa, “sudahlah, nikmati saja rokokmu, tapi waspadalah,”
“Tentu saja, Sarge,” kata George.

George segera mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya sambil menenangkan diri. Dia tak sadar ada orang yang tengah mengendap-endap di belakangnya sambil membawa sebuah pisau terhunus. Dan dengan sekali tebas, George pun langsung ambruk tak bernyawa, tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
sayang judulnya bukan sate ria bergitar emoticon-Berduka (S)
Ane kira tadi udah mulai...baru iklan ternyata.....jd g sabar ne....
booking tempat aja dulu.............emoticon-linux2
Asiikkk .. layar tancep mau di mulai lagi..bookmark dulu ah..

nyari.tukang kupi sama kacang rebus emoticon-Ngacir
akhirnya ada jadwal rilis nya....
Boking tempat dulu.... emoticon-army
nungguin di pojokan emoticon-army
Uah.. emoticon-Matabelo
Cerita baru..
kirain sudah dimulai novelnya ternyata baru iklan
pesan tempat dulu gan stuka
yg tinggal upload udah brapa chapter ya? Semoga ga kelamaan nunggu tiap update nya.
bukan novel maho lagi khan?? emoticon-Hammer
swmogo keren kayak indonesia membara...
mantap
JEBBREEEETTT.... ini novel yg ane gagal lulus casting semalam yak? emoticon-Matabelo